Hikayat Wajit Cililin, Simbol Perlawanan Kaum Perempuan terhadap Kolonialisme

4 menit baca
Restu Nugraha Sauqi
Ditulis oleh Restu Nugraha Sauqi diterbitkan
Wajit Cililin. (Sumber: Freepik)
Wajit Cililin. (Sumber: Freepik)

AYOBANDUNG.ID - Bandung Barat bukan hanya urusan pegunungan, teh, atau jalanan kecil berkelok dengan udara dingin. Di ujung barat daerah itu, ada sepotong cerita manis yang nyaris terlupakan. Bukan tentang cinta, tapi tentang wajit—panganan berbahan ketan yang pernah dianggap mewah, lalu jadi simbol perlawanan diam-diam terhadap kolonialisme Belanda. Siapa sangka, kudapan manis itu dulu sempat dilarang untuk rakyat biasa?

Hari ini wajit Cililin bisa dibeli di toko oleh-oleh sepanjang jalan menuju Cianjur atau dari para pedagang keliling di Bandung—meskipun eksistensinya makin tergerus oleh gempuran tren kuliner kekinian. Bungkusnya khas: kertas minyak cokelat, diikat tali rafia, dan bagian ujungnya dilinting seperti lilin. Tapi sekitar satu abad yang lalu, wajit tidak seramah itu. Ia sempat jadi barang eksklusif, hanya untuk kaum menak dan pejabat kolonial.

Di tahun 1920-an, pemerintah kolonial Belanda melarang wajit untuk dikonsumsi oleh rakyat kebanyakan. Bukan karena rasanya yang berbahaya atau mengandung racun, tapi karena bahan dasarnya: beras ketan. Di masa itu, ketan bukan sekadar bahan pangan. Ia adalah simbol status. Hanya golongan elite yang boleh menikmatinya. Ketan adalah emas putih Priangan, dan wajit adalah bentuk manis dari ketimpangan sosial.

Bermula dari Juwita dan Uti

Sejarah lisan di Cililin menyebut dua nama penting di balik lahirnya wajit: Juwita dan Uti. Menurut Syamsul Ma’arif, penerus usaha wajit Cap Potret yang kini berusia 50 tahun, wajit pertama kali dibuat sekitar tahun 1916. Resep aslinya mirip wajik, makanan khas dari Jawa. Tapi karena lidah orang Cililin keliru menyebutnya, wajik berubah nama jadi wajit.

“Juwita dan Uti adalah orang pertama kali membuat sekaligus memperkenalkan wajit di Cililin pada sekitar tahun 1916,” kata Syamsul dalam wawancara dengan Ayobandung.

Pada mulanya, wajit buatan Juwita dan Uti hanya dikonsumsi untuk hajatan keluarga. Tapi, seperti biasa, makanan enak cepat menyebar. Apalagi jika sering muncul di acara pernikahan dan khitanan. Tak butuh waktu lama, kerabat dari luar daerah ikut mencicipi dan menyukainya. Wajit pun naik kelas, dan itu jadi masalah.

Kolonial Belanda mulai mencium aroma popularitas wajit. Bukan karena selera, tapi karena kekuasaan. Wajit dianggap terlalu mewah untuk dikonsumsi rakyat biasa. Sebab itu, pada 1920-an keluar larangan tidak resmi: wajit hanya boleh dibuat dan dikonsumsi oleh kaum menak dan pejabat tinggi.

Kaum menak, sebagaimana digambarkan Nina Lubis dalam Kehidupan Kaum Menak Priangan 1800–1942, adalah elit lokal hasil pemeliharaan kolonial. Mereka bukan bangsawan dalam arti feodal, melainkan kelas elite yang loyal kepada Belanda. Di bawah mereka ada kaum santana, dan di bawahnya lagi: rakyat biasa, yang disebut cacah atau somah.

Wajit pun berubah nasib. Ia tidak hanya menjadi makanan, tetapi juga alat pembatas kelas sosial. Di tangan kolonialisme, kue manis berubah jadi simbol ketimpangan.

Syamsul menyebut bahwa wajit sempat “dimonopoli oleh kalangan menak dan pejabat kolonial.” Juwita dan Uti tak punya banyak pilihan. Mereka tetap membuat wajit, tapi tidak bisa menjualnya secara bebas. Pada akhirnya, perlawanan tak datang dari Juwita, tapi dari putrinya: Irah.

Siti Romlah (tengah, berkerudung) generasi penerus wajit Cililin. (Foto: Restu Nugraha)
Siti Romlah (tengah, berkerudung) generasi penerus wajit Cililin. (Foto: Restu Nugraha)

Jadi Simbol Perlawanan di Tangan Irah

Tahun 1926, Juwita mulai menurunkan ilmu membuat wajit kepada putrinya. Irah belajar dari ibunya, tapi tak mewarisi sikap tunduk pada larangan. Baginya, makanan dari tanah rakyat, dari sawah rakyat, harusnya kembali ke rakyat.

Irah menjual wajit secara sembunyi-sembunyi pada mulanya. Tapi lama-lama, diamnya jadi nyaring. Tahun 1936, ia memutuskan untuk berdagang wajit secara terang-terangan. Penjualannya bukan lagi hanya di kampung-kampung sekitar Cililin, tapi sampai ke Bandung. Keputusan ini membuat pemerintah kolonial naik pitam.

“Ia tahu bahwa bahan dasar wajit itu hasil dari sawah rakyat. Jadi tak salah jika dimakan semua kalangan,” terang Syamsul.

Irah sempat diintimidasi oleh pejabat kolonial. Ia ditegur, diminta berhenti. Tapi perempuan Priangan ini bergeming. Ia tetap membuat, membungkus, dan menjual wajit dengan semangat membela hak rakyat kecil. Dalam setiap potong wajit, tersimpan pesan: kami berhak atas manisnya hasil bumi kami sendiri.

Perjuangan Irah tak sia-sia. Wajit semakin dikenal, dan larangan tak bisa membendung arus. Setelah kemerdekaan, pada tahun 1950, Irah bahkan bisa menunaikan ibadah haji dari hasil berjualan wajit. “Dulu masih menggunakan kapal laut, perjalanan ke Makkah bisa tiga bulan lamanya,” ujar Syamsul mengenang cerita keluarga.

Keturunan Irah, Siti Romlah, melanjutkan usaha ini dan memberi nama merek dagang: “Wajit Asli Cap Potret Hj. Siti Romlah.” Sampai hari ini, usaha tersebut tetap bertahan, menjual manisnya perjuangan leluhur yang disimpan dalam plastik bening dan kertas minyak sederhana.

Di masa kini, wajit Cililin hanyalah salah satu dari ratusan makanan khas daerah yang dijual sebagai oleh-oleh. Tapi sejarahnya tak bisa diremehkan. Di balik setiap gigitan wajit, ada sejarah panjang tentang ketimpangan, monopoli makanan, dan perjuangan perempuan desa melawan sistem kolonial yang menindas.

Belanda pernah melarang rakyat kecil makan wajit, karena ia dianggap terlalu mewah. Tapi sejarah menunjukkan: rakyat selalu tahu apa yang pantas mereka makan. Dan dari dapur kecil di Cililin, sebuah perlawanan lahir dalam bentuk paling sederhana: sepotong makanan manis berbahan ketan, kelapa, dan gula aren.

Kalau hari ini kamu membeli wajit Cililin di pinggir jalan atau toko oleh-oleh, ingatlah: ini bukan sekadar makanan. Ini warisan keberanian perempuan-perempuan kampung yang percaya bahwa keadilan bisa dimulai dari dapur, dan revolusi bisa berawal dari kudapan.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)