Selamat Hari Raya Idul Fitri
1446 Hijriah • Mohon Maaf Lahir & Batin

Jejak Bandung Baheula: Dari Dusun Sunyi hingga Kota yang Heurin Ku Tangtung

Redaksi
Ditulis oleh Redaksi diterbitkan Senin 02 Jun 2025, 11:21 WIB
Suasana Bandung tahun 1968. (Sumber: Flickr | Foto: Frank Stamford)

Suasana Bandung tahun 1968. (Sumber: Flickr | Foto: Frank Stamford)

AYOBANDUNG.ID - Bandung pada abad ke-17 berawal dari dusun sunyi berisi 30 keluarga. Bagaimana kota ini berubah jadi pusat urbanisasi yang heurin ku tangtung?

Jauh sebelum dikenal sebagai “Parijs van Java” atau kota kreatif seperti sekarang, Bandung hanyalah permukiman kecil yang bahkan belum pantas disebut desa. Pada 1641, catatan Julian de Silva menyebut hanya terdapat 25 hingga 30 keluarga yang mendiami kawasan ini. Informasi ini diangkat oleh Haryoto Kunto dalam bukunya Wajah Bandoeng Tempo Doeloe. Haryoto menduga, Julian bisa jadi adalah orang Eropa pertama yang menjelajah wilayah ini.

Tanpa jalan utama dan jauh dari pusat kekuasaan kolonial di Batavia, Bandung hidup dalam kesunyian. Segala perubahan baru terjadi lebih dari satu setengah abad kemudian, saat Gubernur Jenderal Daendels membangun Jalan Raya Pos pada awal 1800-an. Meski begitu, jalan raya itu belum langsung membuat Bandung ramai.

Di tahun 1852, luas wilayah Bandung kurang dari 5 kilometer persegi. Untuk melihat keseluruhan “desa”, pengunjung perlu naik ke perbukitan terlebih dahulu. Dari ketinggian, terlihat hamparan kebun kopi yang rapi, dipisahkan oleh pagar alami berupa tanaman kembang sepatu. Gambaran ini datang dari Charles Walter Kinloch, warga Inggris keturunan Bengal yang singgah ke Bandung pada pertengahan abad ke-19.

Kegiatan utama masyarakat Bandung kala itu adalah berkebun kopi. Hampir seluruh wilayah ditanami pohon kopi, menjadikan tanaman ini bukan hanya komoditas, tetapi juga bagian dari lanskap sehari-hari.

Ilustrasi orang sedang menyeberangkan penduduk dengan rakit di Sungai Citarum zaman Bandoeng baheula. (Sumber: Buku Jawa Tempo Doeloe)
Ilustrasi orang sedang menyeberangkan penduduk dengan rakit di Sungai Citarum zaman Bandoeng baheula. (Sumber: Buku Jawa Tempo Doeloe)

Tapi, bukan hanya kopi yang mendominasi hidup orang Bandung tempo dulu. Kawasan ini juga menjadi arena perburuan hewan liar. Pada 1858, hanya dalam waktu empat jam, 49 rusa diburu dalam satu sesi. Ukurannya tak main-main, disebut setara dengan rusa merah Skotlandia. Ketika musim berburu tiba, yakni September hingga Oktober, hasil tangkapan bisa mencapai ratusan ekor per hari.

Walau hidup di lingkungan yang masih liar, catatan kolonial menyebut masyarakat Bandung hidup cukup layak. Dalam pengamatan James William Bayley Money dalam bukunya Java, or How to Manage a Colony, tak tampak adanya pengemis di jalanan. “Kami tidak melihat satu pun pengemis selama tinggal di pulau ini,” tulisnya. Entah karena alasan sosial, budaya, atau keseimbangan ekonomi lokal, yang jelas kemiskinan ekstrem tampak absen dari wilayah ini.

Transformasi Bandung: Dari Dusun ke Ibu Kota Keresidenan

Perubahan besar bagi Bandung terjadi pada 1864, ketika pemerintah kolonial memindahkan ibu kota Keresidenan Priangan dari Cianjur ke Bandung. Pemindahan ini menandai dimulainya transformasi Bandung menjadi pusat administrasi, yang perlahan mengundang infrastruktur baru dan meningkatkan statusnya dalam peta Hindia Belanda.

Sejak itu, pembangunan mulai menggeliat. Pertokoan dan perkantoran bermunculan di sekitar Jalan Braga dan Jalan Raya Pos. Lalu, pada 17 Mei 1884, jalur kereta api Batavia–Bandung diresmikan. Jalur ini menjadi kunci penting mobilitas, memudahkan masuknya pendatang dan investasi.

Tak lama kemudian, nama Bandung masuk dalam panduan wisata internasional. Buku Guide Through Netherlands India yang terbit pada 1911 bahkan merekomendasikan penginapan di Hotel Homann dan kunjungan ke tempat-tempat seperti Curug Dago, Kawah Putih, hingga Telaga Patengan. Bandung resmi masuk radar pelancong asing.

Hanya dalam beberapa dekade, Bandung berubah dari dusun sunyi menjadi kota tujuan. Tahun 1901, jumlah penduduknya baru sekitar 29 ribu jiwa. Lima tahun kemudian, naik menjadi lebih dari 38 ribu. Pada 1930, populasinya sudah melewati angka 1,2 juta.

Pergerakan manusia ke Bandung menjadi fenomena urbanisasi awal di Pulau Jawa. Menurut Edi S. Ekadjati, Bandung bersama Jakarta, Jatinegara, Karawang, dan Sukabumi menjadi titik utama perpindahan penduduk dari desa ke kota. Kota yang dulu dihuni puluhan keluarga ini, kini mulai heurin ku tangtung.

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Redaksi
Redaksi
Editor

News Update

Ayo Netizen 21 Mar 2026, 20:26

Islam Kita dan Islam Mereka: Sebuah Ilusi Pascakolonial

Menjadi muslim di Indonesia adalah bagian dari perjalanan sejarah yang panjang dan sarat kontradiksi.

Ada banyak kisah yang lazim dialami oleh para jamaah haji selama menunaikan rukun Islam kelima tersebut. (Sumber: Pexels/Mutahir Jamil)
Ayo Netizen 21 Mar 2026, 18:20

Idulfitri 1447 H

Hikmah Ramadan itu menjaga dan merawat silaturahmi. Puncaknya hadir saat Idulfitri, momentum kemenangan sejati dalam menundukkan hawa nafsu, termasuk nafsu (angkara murka) untuk merasa paling benar.

Salat berjamaah di Masjid Pusdai, Kota Bandung, Jumat 20 Februari 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejarah 21 Mar 2026, 06:30

Hikayat Lebaran Seabad Lalu di Bandung, Open House Bupati untuk Pribumi dan Eropa

Laporan majalah kolonial tahun 1926 menunjukkan bagaimana masyarakat Bandung merayakan Idulfitri dengan berbagai tradisi unik.

Lebaran di kediaman Bupati Bandung 1926. (Sumber: Majalah Indie)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 19:10

Yang Gak Mudik, Yuk Wisata Bandung Dilirik

Warga Bandung yang gak mudik, yuk ramaikan wisata di Bandung! Manfaatnya menggerakkan perekonomian lokal di Bandung.

Sarae Hills destinasi wisata yang tidak hanya indah, tapi juga Instagrammable. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 17:24

Idulfitri, Syawal dan Lebaran: Jalan Pulang dan Lima Tahap Pemaafan

Idulfitri, syawal dan lebaran bukan sebatas perayaan, tetapi sejuta lapisan makna yang mengantarkan manusia pada kesadaran dan peningkatan diri.

Ilustrasi suasana Idulfitri, Syawal dan Lebaran. (Sumber: Ozgar Jan dari Pixabay)
Beranda 20 Mar 2026, 16:54

Tradisi Potong Rambut Lebaran di Kota Bandung: Antrean Panjang di Barbershop dan Lapak DPR yang Makin Sepi

Tradisi potong rambut menjelang Lebaran di Kota Bandung menunjukkan kontras yang mencolok. Barbershop dipadati pelanggan, sementara lapak cukur DPR kian sepi.

Yana Mulyana dengan ruang ala kadarnya tetap bertahan di bawah rindang pohon Jalan Malabar, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 15:48

Memupuk Persaudaraan, Merawat Harmoni

Nyepi mengajarkan kita sikap memperkuat persaudaraan, persatuan, semangat toleransi, perdamaian untuk meraih kehidupan rukun, harmoni, bahagia dan sejahtera dapat terus terjaga di tengah perbedaan.

Ilustrasi perayaan Nyepi di Bali (Sumber: Freepik)
Linimasa 20 Mar 2026, 01:03

Kemacetan dan Sumber Rezeki Pedagang Oleh-oleh Nagreg

Kondisi lalu lintas di Nagreg sangat memengaruhi penjualan oleh-oleh. Saat ramai lancar pembeli meningkat, namun kemacetan justru membuat pemudik enggan berhenti.

Lalu lintas Nagreg saat mudik lebaran 2026. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 20 Mar 2026, 00:53

Beda Hari Lebaran di Indonesia, Bikin Orang Eropa Kebingungan

Jelang akhir Ramadan, satu pertanyaan hampir selalu muncul di Indonesia: Lebaran jatuh hari apa? Akar sejarahnya panjang. Sudah ada sejak zaman dulu.

Suasana pasca salat id Bandung 1926 (Sumber: Majalah Indie)
Beranda 19 Mar 2026, 21:21

Menitip Rindu pada Takbir: Cerita Perantau yang Menghadapi Lebaran dalam Sepi

Pemerintah menetapkan Idulfitri 1447 H jatuh pada 21 Maret 2026. Di balik momen kemenangan itu, tersimpan kisah warga perantauan yang menjalani malam takbiran tanpa pulang kampung dan menahan rindu.

Mutiara Indah Lestari tetap tegar merayakan Lebaran di perantauan, menyimpan rindu untuk keluarganya di Padang (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 20:00

Idulfitri sebagai Komunikasi Hati

Tulisan ini membahas Idul Fitri sebagai momen memulihkan komunikasi hati di tengah kebisingan digital, menekankan pentingnya ketulusan, kehadiran, dan relasi yang lebih manusiawi.

Ribuan umat muslim melaksanakan shalat Idul Fitri 1446 H di Lapangan Gasibu, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Senin 31 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Bandung 19 Mar 2026, 19:46

Jersey Lokal Bandung RZQ Actv Buktikan Taring, Sukses Curi Perhatian di Tengah Hiruk-Pikuk Jelang Idul Fitri

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya.

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 19:09

Dijajah Tanpa Penjajah: Ketika Kemerdekaan Kehilangan Makna

Kemerdekaan fisik belum menjamin kemerdekaan berpikir.

ilustrasi buku sebagai sumber ilmu. (Sumber; Pixabay)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 18:59

Mudik dan Kelanjutan Ramadan: Menguji Ketakwaan di Jalan Kehidupan

Mudik Lebaran selalu menghadirkan suasana yang hangat dan penuh makna.

Sejumlah pemudik sepeda motor melintas di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Sabtu 14 Maret 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 13:12

Petani Menua dan Anak Muda Menjauh: Siapa yang Akan Menjaga Ketahanan Pangan Indonesia?

Indonesia dikenal sebagai negara agraris, namun mengalami krisis regenerasi petani. Mampukah program Petani Milenial menjadi solusi bagi masa depan pangan Indonesia?

Petani membajak sawah menggunakan traktor di Gedebage, Kota Bandung, Kamis 4 Januari 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Linimasa 19 Mar 2026, 12:49

Harap Cemas Pedagang Oleh-oleh Nagreg di Tengah Rencana Pembangunan Tol Cigatas

Pedagang oleh-oleh di Nagreg mulai kehilangan pembeli sejak hadirnya jalan tol. Rencana Tol Getaci memicu kekhawatiran baru soal masa depan usaha mereka.

Penjual oleh-oleh di Nagreg. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 19 Mar 2026, 12:49

Sejarah Kue Kering Lebaran, Sajian Idulfitri yang Berakar dari Dapur Belanda

Tradisi menyajikan kue kering saat lebaran memiliki jejak sejarah kolonial. Resep kue kecil dari Eropa yang disebut koekje berkembang di Hindia Belanda dan berubah menjadi nastar hingga kastengel.

Ilustrasi kue kering lebaran.
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 10:59

Kakaretaan, Yuk!

Di atas rel, kita belajar soal hidup, seperti kereta, akan terus berjalan.

Calon penumpang Kereta Api Pasundan tambahan berjalan menuju gerbong di Stasiun Kiaracondong, Kota Bandung, Selasa 17 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 20:29

Kisah Kue-Kue Kering Hari Raya

Tahukah kalian, bahwa kue alias “cookies” itu berasal dari bahasa Belanda yaitu “koekje”.

Sebuah mural karya harijadi sumodidjojo yang berjudul "kehidupan batavia". (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 17:21

Menata Arah Pendidikan Tinggi Keagamaan di Era Serba Cepat

Pepen Supendi, Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)