Jejak Bandung Baheula: Dari Dusun Sunyi hingga Kota yang Heurin Ku Tangtung

3 menit baca
Redaksi
Ditulis oleh Redaksi diterbitkan
Suasana Bandung tahun 1968. (Sumber: Flickr | Foto: Frank Stamford)
Suasana Bandung tahun 1968. (Sumber: Flickr | Foto: Frank Stamford)

AYOBANDUNG.ID - Bandung pada abad ke-17 berawal dari dusun sunyi berisi 30 keluarga. Bagaimana kota ini berubah jadi pusat urbanisasi yang heurin ku tangtung?

Jauh sebelum dikenal sebagai “Parijs van Java” atau kota kreatif seperti sekarang, Bandung hanyalah permukiman kecil yang bahkan belum pantas disebut desa. Pada 1641, catatan Julian de Silva menyebut hanya terdapat 25 hingga 30 keluarga yang mendiami kawasan ini. Informasi ini diangkat oleh Haryoto Kunto dalam bukunya Wajah Bandoeng Tempo Doeloe. Haryoto menduga, Julian bisa jadi adalah orang Eropa pertama yang menjelajah wilayah ini.

Tanpa jalan utama dan jauh dari pusat kekuasaan kolonial di Batavia, Bandung hidup dalam kesunyian. Segala perubahan baru terjadi lebih dari satu setengah abad kemudian, saat Gubernur Jenderal Daendels membangun Jalan Raya Pos pada awal 1800-an. Meski begitu, jalan raya itu belum langsung membuat Bandung ramai.

Di tahun 1852, luas wilayah Bandung kurang dari 5 kilometer persegi. Untuk melihat keseluruhan “desa”, pengunjung perlu naik ke perbukitan terlebih dahulu. Dari ketinggian, terlihat hamparan kebun kopi yang rapi, dipisahkan oleh pagar alami berupa tanaman kembang sepatu. Gambaran ini datang dari Charles Walter Kinloch, warga Inggris keturunan Bengal yang singgah ke Bandung pada pertengahan abad ke-19.

Kegiatan utama masyarakat Bandung kala itu adalah berkebun kopi. Hampir seluruh wilayah ditanami pohon kopi, menjadikan tanaman ini bukan hanya komoditas, tetapi juga bagian dari lanskap sehari-hari.

Ilustrasi orang sedang menyeberangkan penduduk dengan rakit di Sungai Citarum zaman Bandoeng baheula. (Sumber: Buku Jawa Tempo Doeloe)
Ilustrasi orang sedang menyeberangkan penduduk dengan rakit di Sungai Citarum zaman Bandoeng baheula. (Sumber: Buku Jawa Tempo Doeloe)

Tapi, bukan hanya kopi yang mendominasi hidup orang Bandung tempo dulu. Kawasan ini juga menjadi arena perburuan hewan liar. Pada 1858, hanya dalam waktu empat jam, 49 rusa diburu dalam satu sesi. Ukurannya tak main-main, disebut setara dengan rusa merah Skotlandia. Ketika musim berburu tiba, yakni September hingga Oktober, hasil tangkapan bisa mencapai ratusan ekor per hari.

Walau hidup di lingkungan yang masih liar, catatan kolonial menyebut masyarakat Bandung hidup cukup layak. Dalam pengamatan James William Bayley Money dalam bukunya Java, or How to Manage a Colony, tak tampak adanya pengemis di jalanan. “Kami tidak melihat satu pun pengemis selama tinggal di pulau ini,” tulisnya. Entah karena alasan sosial, budaya, atau keseimbangan ekonomi lokal, yang jelas kemiskinan ekstrem tampak absen dari wilayah ini.

Transformasi Bandung: Dari Dusun ke Ibu Kota Keresidenan

Perubahan besar bagi Bandung terjadi pada 1864, ketika pemerintah kolonial memindahkan ibu kota Keresidenan Priangan dari Cianjur ke Bandung. Pemindahan ini menandai dimulainya transformasi Bandung menjadi pusat administrasi, yang perlahan mengundang infrastruktur baru dan meningkatkan statusnya dalam peta Hindia Belanda.

Sejak itu, pembangunan mulai menggeliat. Pertokoan dan perkantoran bermunculan di sekitar Jalan Braga dan Jalan Raya Pos. Lalu, pada 17 Mei 1884, jalur kereta api Batavia–Bandung diresmikan. Jalur ini menjadi kunci penting mobilitas, memudahkan masuknya pendatang dan investasi.

Tak lama kemudian, nama Bandung masuk dalam panduan wisata internasional. Buku Guide Through Netherlands India yang terbit pada 1911 bahkan merekomendasikan penginapan di Hotel Homann dan kunjungan ke tempat-tempat seperti Curug Dago, Kawah Putih, hingga Telaga Patengan. Bandung resmi masuk radar pelancong asing.

Hanya dalam beberapa dekade, Bandung berubah dari dusun sunyi menjadi kota tujuan. Tahun 1901, jumlah penduduknya baru sekitar 29 ribu jiwa. Lima tahun kemudian, naik menjadi lebih dari 38 ribu. Pada 1930, populasinya sudah melewati angka 1,2 juta.

Pergerakan manusia ke Bandung menjadi fenomena urbanisasi awal di Pulau Jawa. Menurut Edi S. Ekadjati, Bandung bersama Jakarta, Jatinegara, Karawang, dan Sukabumi menjadi titik utama perpindahan penduduk dari desa ke kota. Kota yang dulu dihuni puluhan keluarga ini, kini mulai heurin ku tangtung.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)