Sejarah Terowongan Kereta Sasaksaat, Terpanjang di Indonesia

4 menit baca
Redaksi
Ditulis oleh Redaksi diterbitkan
Terowongan Kereta Sasaksaat. (Sumber: Ayobandung)
Terowongan Kereta Sasaksaat. (Sumber: Ayobandung)

AYOBANDUNG.ID - Di balik hijaunya perbukitan Cipatat, Bandung Barat, ada lubang menganga sepanjang 949 meter di perut Bukit Cidepok. Tapi jangan salah, ini bukan bekas galian tambang liar, melainkan Terowongan Sasaksaat, terowongan kereta aktif terpanjang dan salah satu yang tertua di Indonesia. Lubangnya sah, panjangnya legal, dan setiap hari dilintasi kereta jarak jauh tanpa drama.

Terowongan ini bukan terowongan sembarangan. Ia dibangun jauh sebelum bangsa ini bisa membedakan suara peluit kereta dengan suara kampanye caleg. Tepatnya pada tahun 1902, zaman ketika manusia Indonesia masih dijajah, dan rel masih jadi alat ekspor hasil bumi.

Kalau kamu kebetulan lewat jalur kereta antara Stasiun Maswati dan Stasiun Sasaksaat, bersiaplah masuk ke perut bumi selama beberapa menit. Di situlah Terowongan Sasaksaat berada, tepatnya di KM 143+144. Panjangnya 949 meter, cukup buat kamu merenung soal hidup sambil menonton cahaya kereta makin jauh di ujung sana. Tingginya 4,31 meter, lebarnya 3,92 meter, dan sudah berdiri sejak tahun 1902. Tidak main-main, ini proyek era kolonial yang masih jalan terus, bahkan ketika banyak proyek era sekarang malah mangkrak.

Terletak di Desa Sumurbandung, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, Terowongan Sasaksaat membelah bukit bak pisau mentega. Panjangnya hampir satu kilometer, lebarnya nyaris empat meter, cukup untuk satu gerbong lewat sambil melambai.

Yang bikin takjub (atau prihatin, tergantung sudut pandang) adalah cara pembuatannya. Teknologi? Jauh. Yang ada cuma balincong, linggis, dan semangat kerja rodi. Negara yang kelak bernama Indonesia belum lahir, tapi tangan-tangan pribumi dan Tionghoa sudah menggali tanah dengan tenaga sendiri. Yang duduk manis memegang peta? Sudah bisa ditebak: orang Eropa.

"Kalau dari cerita sesepuh di sini, pembuatan Terowongan Sasaksaat dikerjakan manual, uniknya bisa presisi," kata Krisna Budirohman, penjaga terowongan yang tahu betul kapan kereta akan datang meski tanpa aplikasi jadwal.

Staatsspoorwegen (SS), perusahaan kereta milik pemerintah kolonial, memulai pembangunan dengan cara yang cukup ekstrem: menggali dari dua arah sekaligus, dari utara dan selatan. Sebagian besar pekerja adalah pribumi dan Tionghoa yang jadi kuli, sementara orang Eropa jadi teknisi dan mandor yang mengawasi sambil mungkin sesekali menyeruput kopi. Ajaibnya, setelah digali dari dua arah, lubang itu bertemu tepat di tengah. Lurus, mulus, tanpa GPS atau drone pemetaan.

Baca Juga: Reaktivasi Rel Kereta Bandung-Ciwidey: Dulu Belanda Bisa, Kini Hanya Bisa Berwacana

Kalau zaman sekarang fondasi rumah saja bisa bocor seminggu setelah selesai, Terowongan Sasaksaat malah masih kokoh meski sudah dikoyak waktu lebih dari seabad.

Tak hanya soal struktur, urusan teknisnya pun rapi. Jalur rel dibuat agak menanjak di tengah agar air dari bukit bisa mengalir ke samping dan tidak menggenangi bantalan rel. Rembesan air? Diantisipasi dengan lapisan semen setebal 0,85 meter di atap terowongan. Bukan sulap, bukan sihir, tapi teknik sipil era kolonial yang dihitung matang.

Suasana di dalam terowongan ini bukan hanya soal gelap dan gema langkah kaki. Di dalamnya, ada sleko—semacam ceruk kecil tempat orang bisa berlindung kalau kereta tiba-tiba melintas. Ada 35 sleko di sana, 17 di sisi kiri dan 18 di sisi kanan. Fungsinya? Vital. Apalagi bagi penjaga seperti Krisna yang harus jalan bolak-balik memeriksa kondisi rel tiap tiga jam.

“Jalan dari ujung sini ke ujung satunya lagi dan bolak-balik. Kadang ada bantalan yang bautnya longgar atau ada kerusakan apa ya langsung diperbaiki. Kalau di tengah tiba-tiba ada kereta ya kita langsung masuk ke sleko,” ujar Krisna santai, seolah masuk sleko adalah hal seremeh masuk kamar mandi.

Terowongan Kereta Sasaksaat dibangun 1902, masih aktif hingga kini. (Sumber: Leiden University Libraries Digital Collections)
Terowongan Kereta Sasaksaat dibangun 1902, masih aktif hingga kini. (Sumber: Leiden University Libraries Digital Collections)

Sasaksaat bukan terowongan sembarangan. Dulu, ia dilalui kereta pengangkut komoditas ekspor: kopi, teh, beras, bahkan hasil bumi lainnya. Sekarang, ia tetap melayani kereta api jarak jauh dan lokal: Argo Parahyangan, Harina, Ciremai, Serayu, dan KA Cibatu-Purwakarta. Artinya, dari zaman penjajahan hingga zaman gempita TikTok, ia tetap setia jadi jalur lintas.

Krisna sendiri mengaku betah menjaga terowongan. Bukan hanya karena tugas mulia itu, tapi juga karena suasananya. “Kalau saya pribadi sudah betah jaga terowongan ini, ya enak aja suasananya. Kadang ada yang ke sini untuk tugas kuliah atau foto-foto, bisa menjelaskan juga sedikit-sedikit,” katanya, seperti promosi tempat wisata sambil jaga lintasan.

Baca Juga: Sabotase Kereta Rancaekek, Bumbu Jimat dan Konspirasi Kiri

Terowongan Sasaksaat adalah contoh bagaimana warisan kolonial bisa bertahan lebih lama dari janji-janji pembangunan modern. Tak banyak infrastruktur tua yang tetap berfungsi penuh tanpa perlu direnovasi besar-besaran. Ia tidak viral, tidak masuk daftar destinasi Instagramable, tapi ia hidup. Diam-diam, tiap hari, membantu ribuan orang bergerak antar kota.

Dan yang paling penting: ia masih lurus, masih kokoh, dan masih setia. Sesuatu yang langka di tengah zaman yang penuh liku dan mudah goyah.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)