Peuyeum Bandung: Kuliner Sunda, Nikmat, dan Melegenda

3 menit baca
Dias Ashari
Ditulis oleh Dias Ashari diterbitkan
Butter Coffe & Gorengan Pisang, Peuyeum, Warung Ngonah Braga (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Butter Coffe & Gorengan Pisang, Peuyeum, Warung Ngonah Braga (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)

Sarapan tak harus selalu dengan nasi, minum kopi sambil melahap gorengan pun bisa jadi alternatif mengisi perut sebelum beraktivitas. Seperti pagi ini, satu cangkir kopi susu dengan lelehan butter, memiliki rasa dan aroma agak berbeda dari kopi pada umumnya.

Manis, gurih, sedikit pahit berpadu dalam satu cangkir, menemani pagi itu. Tak lupa goreng pisang yang lembut dan sedikit asam manis di dalam, menambah keharmonisan sarapan pagi itu. Menariknya pagi itu, tak hanya pisang yang tersaji tapi ada goreng peuyeum yang menghiasi.

Dulu peuyeum biasanya di konsumsi secara langsung atau bisa dipadukan dengan ice cream, namun kali ini pengalaman yang berbeda justru bisa merasakan lain dari olahan peuyeum. Rasa asam manis juga lembut diselimuti oleh adonan tepung yang cruchy, dicelup ke dalam Butter Coffe jadi perpaduan yang saling melengkapi.

Bicara soal peuyeum ,masih terlintas dalam ingatan penulis, dulu peuyeum menjadi salah satu ikon oleh-oleh khas Jawa Barat, khususnya Bandung. Waktu masih sekolah Tsanawiyah, sepanjang jalan Cibaduyut hingga Leuwi Panjang, makanan ini terpampang nyata, menggantung dilapisi plastik bening dan diikat dengan tali rapia berwarna merah.

Kemudian pembeli bisa membungkusnya dengan menggunakan wadah yang terbuat dari anyaman bambu (bongsang) yang terkadang dilapisi daun pisang.

Sepanjang jalan, penjual menjajakan peuyeum di depan Toko Sepatu Cibaduyut . Seperti makin sepi dan banyak toko sepatu yang tutup, semakin menghilang juga penjual peuyeum di area Cibaduyut.

Merujuk pada KBBI , peuyeum adalah sejenis tapai, yaitu pangan yang berbahan dasar ubi kayu yang direbus dan setelah dingin ditaburi ragi, kemudian dibiarkan atau di peuyeum hingga semalaman atau sampai rasa dan aromanya berubah menjadi manis dan harum.

Alam Jawa Barat yang dikenal dengan kesuburannya membuat sebagai masyarakat memanfaatkan atau bahkan bertopang pada kegiatan pertanian dan perkebunan. Sebagai komoditas yang banyak menghasilkan hasil panen tersebut, membuat masyarakat harus memutar otak untuk membuat atau mengolah hasil tani agar bisa bertahan lama. Salah satunya dengan memanfaatkan singkong dengan pengolahan fermentasi yaitu peuyeum.

Kondisi lingkungan alam di tataran Sunda inilah yang membentuk konteks ekologi orang Sunda sebagai urang gunung ( manusia gunung) yang secara sadar dapat memanfaatkan kekayaan alam pemberian Tuhan secara fungsional.

Singkong sendiri masuk ke dalam komoditas utama sebagai penghasil produksi bahan pangan khususnya bagi masyarakat Jawa Barat. Data BPS menyebutkan bahwa singkong yang termasuk ke dalam kelompok ubi kayu pada posisi ke 7, menghasilkan produksi 2.000.224 ton dengan luas panen seluas 85.288 hektar pada 2015.

Komoditas Utama Produksi Pertanian di Jawa Barat Tahun 2015 (Sumber: BPS Jabar (2017))
Komoditas Utama Produksi Pertanian di Jawa Barat Tahun 2015 (Sumber: BPS Jabar (2017))

Berdasarkan buku yang penulis sempat baca dengan judul Kuliner Sunda Nikmat, Sedap, Melegenda karya Murdijati Gardjito dkk, menyebutkan bahwa perkembangan kuliner di Jawa Barat yang pesat terdapat beberapa peran urbanisasi masyarakat dari berbagai macam daerah. Selain itu beberapa varian kuliner di Jawa Barat dipengaruhi oleh akulturasi budaya Eropa dan masyarakat Sunda.

Selain itu beberapa makanan khas Bandung juga dipengaruhi oleh budaya Tionghoa, menciptakan kuliner yang tidak kalah untuk menggugah selera.

Bicara soal peuyeum, menariknya kuliner ini tidak hanya ada di Jawa Barat tapi juga meluas hingga Jawa Timur.

Ada sedikit perbedaan dalam cara mengolahnya, jika peuyeum di Jawa Timur, singkong terlebih dahulu di potong kecil-kecil dan memanjang, lalu dibungkus dengan daun pisang dalam proses pemberian ragi. Sementara peuyeum khas Sunda, singkong cukup langsung ditaburkan ragi tanpa perlu dipotong dan dibungkus dengan daun pisang.

Selain dijadikan gorengan, olahan peuyeum lain yang menarik adalah colenak, yang diolah dengan cara dibakar dan ditambah gula kelapa yang sudah dicairkan atau biasa disebut dengan kinca. Sayangnya di Bandung sendiri kuliner ini sudah sedikit sulit ditemukan.

Peuyeum lebih dari sekedar makanan, peuyeum sudah menjadi simbolis oleh-oleh bagi masyarakat di luar Bandung. Semoga ditengah maraknya olahan makanan yang menjamur. Peuyeum dan segala jenis olahannya bisa kembali eksis dan menjadi salah satu kuliner kebanggaan Jawa Barat. Semoga selain lokal, di kemudian hari peuyeum juga bisa terkenal di kancah internasional. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 06 Okt 2026, 19:22

Ruang Kreatif Revitalisasi Bahasa Ibu

Sering kali orang tua jarang menggunakan bahasa daerah di rumah karena memilih membiasakan anak berbahasa Indonesia. Terkait ini ketika orang tua berlatar beda suku dan beda bahasa.

Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 18:23

Mengenang Peristiwa G30S Melalui Lembaran Berita Yudha

Membuka kembali Berita Yudha edisi 30 Oktober 1965, berarti membuka sebuah jendela menuju Indonesia beberapa pekan setelah G30S.

Halaman Muka surat kabar Berita Yudha edisi Oktober 1965, yang merekam pemberitaan mengenai situasi dan peristiwa penting di Indonesia pasca-G30S. (Foto: Kin Sanubary)
Bandung 06 Okt 2026, 17:53

Mengintip Potensi Ekonomi Kreatif Kota Bandung Lewat Layar Perfilman dan Kolaborasi Komunitas

Tren pemutaran film independen, festival sinema alternatif, hingga pertumbuhan ruang pemutaran komunitas di Kota Kembang membuktikan tingginya dahaga publik terhadap ragam narasi visual.

Bandung World Cinema (BWC) 2026 dinilai menjadi bagian penting dalam memperkuat ekosistem perfilman sekaligus mendorong pertumbuhan subsektor ekonomi kreatif di Kota Bandung.
Sejarah 06 Okt 2026, 17:16

Sejarah Naturalisasi Pemain Timnas Indonesia

Jejak naturalisasi Timnas Indonesia bukan fenomena baru. Perjalanan dari Van der Vin pada era 1950-an hingga gelombang diaspora saat ini.

Pemain Timnas Indonesia dalam laga kontra Thailand dalam Asean Cup 2026. (Sumber: Vidio)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 17:03

Bandung, Banjir, dan Rutinitas Tahunan yang Tak Pernah Ada Solusi

Banjir di Bandung kerap kali menjadi event tahunan yang tidak pernah menemukan solusi yang pasti.

Banjir Tahunan di Kab. Bandung (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 16:29

Pesona Garut: 'Surga dari Timur', Rekam Sejarah, dan Mahakarya Gastronomi Pasundan

Lanskap alam Kabupaten Garut menyajikan kekayaan vegetasi dan topografi yang memikat.

Situ Cangkuang, Leles, Garut. (Sumber: Wikimedia Commons/Lisensi CC | Foto: Mssetiadi)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 15:33

Cagar Budaya dan Ragam Gaya Bangunannya di Kota Bandung

Jelajahi pesona sejarah Kota Bandung melalui jejak Cagar Budaya. Temukan kisah unik di balik arsitektur ikonis Art Deco, situs kolonial dan warisan legendaris yang tetap lestari hingga kini.

Gedung Sate, Bandung, 2024 (Sumber: Wikipedia | Foto: Rahmat Denas)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 13:08

RT/RW di Bandung Tidak Perlu Jadi Densus 88 Kecil-kecilan

Teror adalah peristiwa langka. Pergantian penghuni kontrakan adalah peristiwa sehari-hari.

Tim Densus 88. (Sumber: ayobandung.com | Foto: suara.com via ayobandung.com)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 10:49

Membincangkan Hujan di Musim Kemarau

Membicarakan hujan dalam kacamata kesadaran lingkungan dan seni.

Ilustrasi musim hujan. (Sumber: GeminiAi)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 06:30

PHBS Sebagai Modalitas Kesehatan Warga Kota Bandung

Tahun 2026 ini, influenza tipe A ini menjadi gambaran yang sama, meski oleh pemerintah tidak lagi di-covidkan. Namun kekhawatiran masyarakat tetap trauma dan ketakutan berlebihan.

Ilustrasi penderita influenza.
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 20:09

Ruang Terbuka Hijau di 30 Kecamatan di Kota Bandung

Artikel ini mengulas kondisi Ruang Terbuka Hijau di 30 kecamatan Kota Bandung. Temukan sebaran, fasilitas publik, keasrian lingkungan dan upaya pelestarian taman kota demi Bandung yang lebih asri.

Aktivitas warga di taman Alun-Alun Cicendo, Kota Bandung, Sabtu, 9 Juli 2022. (Sumber: Ayobandung | Foto: Magang Foto/Algifari Tohaga Abdillah)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 19:22

Ketika Wajah-Wajah Populer Mengisi Halaman Majalah Selecta Edisi Oktober 1970

Membuka kembali majalah lawas selalu menghadirkan sensasi tersendiri. Begitu pula ketika kembali membaca Majalah Selecta edisi Oktober 1970.

Hastarita Abdullah, fotomodel 17 tahun, tampil di sampul depan Majalah Selecta edisi Oktober 1970. Sementara Trio Nindya Sisters, tiga bersaudari asal Solo, tampil di sampul belakang, 56 tahun silam. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 17:03

10 Netizen Terpilih September 2026, Menangkap Ragam Isu Bandung dan Jawa Barat

Redaksi Ayobandung.id mengumumkan 10 penulis terbaik kanal "Ayo Netizen" untuk periode September 2026, dengan total hadiah tetap Rp1,5 juta.

Simulasi penanganan bencana gempa bumi akibat Sesar Lembang. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 16:16

Ronda Malam: Mereka yang Berjaga saat Warga Terlelap

Ketika warga terlelap, petugas ronda tetap terjaga. Di RW 10 Kelurahan Karang Mekar, Kota Cimahi, ronda malam menjadi ikhtiar keamanan sekaligus bukti bahwa semangat gotong royong masih menyala.

Ilustrasi warga Indonesia sedang ronda. (Sumber: Ilustrasi dibuat dengan Gemini AI)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 15:02

Ruang Terbuka Hijau di Kota Bandung

Kota Bandung kini terus berbenah menambah Ruang Terbuka Hijau (RTH). Selain berfungsi menjaga keseimbangan alam dan menekan polusi, kehadiran taman kota ini juga menjadi sarana rekreasi warga.

Taman di Jl. Tongkeng No.46, Merdeka, Kec. Sumur Bandung, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 13:41

Mencegah KBGO di Kampus: Bukan Lagi Soal Perempuan Menjaga Diri

Seruan agar perempuan "pandai menjaga diri" di ruang digital tak lagi cukup. Kampus harus hadir secara sistemik menjamin ekosistem belajar yang aman bagi mahasiswi.

Pembukaan Latsar CPNS Tahun 2022 (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SkTAN)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 11:04

Kesehatan Mental Kita di Hari Sumpah Pemuda

Refleksi peringatas Sumpah Pemuda dengan isu keshatan mental.

Sumpah Pemuda & Kesehatan Mental. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 10:14

Amit-Amit, Jangan sampai Keranda Jadi Alat Ukur Tata Kota

Keranda seharusnya hanya mengantar manusia ke tempat peristirahatan terakhir. Ia jangan sampai berubah menjadi alat ukur apakah sebuah kota bekerja dengan baik atau tidak.

Lahan pekuburan di salah satu sudut Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 19:10

Batik dari Warisan Budaya Tradisional Menuju Fashion Internasional

Tahun 2009, UNESCO telah telah memasukkan batik Indonesia sebagai warisan budaya dunia. Batik perlu bergerak dari craft based economy menuju creative fashion industry. Dan dari produk menjadi nilai.

Koleksi batik Retno Mulyo. (Sumber: Batik Retno Mulyo)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 16:38

Memikirkan Kembali Sumber Daya Energi Baru: Terbarukan Berbiaya Murah dan Ramah Lingkungan

Mengulas solusi energi baru dan terbarukan yang murah serta ramah lingkungan.

Pengelola Waduk Jatiluhur menyebutkan kemarau panjang pada Juli 2023 menyebabkan tinggi muka air waduk mengalami penyusutan hingga 10 meter atau 2 meter diambang batas kritis. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)