Dulu Menyerang, Kini Membela: Jangan Larut Drama Komunikasi Politik Indonesia!

3 menit baca
Muhammad Sufyan Abdurrahman
Ditulis oleh Muhammad Sufyan Abdurrahman diterbitkan
Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto. (Sumber: pdiperjuangan-jatim)
Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto. (Sumber: pdiperjuangan-jatim)

Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto, dua hari lalu berdiri lantang membacakan pleidoi sepanjang 108 halaman dari ruang sidangnya. Ia bicara tentang ketidakadilan, tentang persekusi terhadap oposisi, tentang ancaman demokrasi.

Suaranya bergetar, nadanya tinggi. Sekilas terdengar seperti aktivis yang baru lepas dari penjara Orde Baru. Tapi siapa pun yang ingat perjalanan politik Hasto tahu, ia tak selalu berada di posisi “dizalimi”.

Beberapa tahun lalu, Hasto justru berada di garda depan pembela kekuasaan. Ia mendukung langkah Polri saat menetapkan Habib Bahar sebagai tersangka. Ia memuji pemerintah atas kepulangan Habib Rizieq, menyebutnya sebagai bukti kehadiran negara.

Ia juga selalu berdiri bersama Presiden Jokowi dalam setiap pernyataan resmi partai. Tapi sekarang, ketika dirinya tersudut, narasinya berubah. Hukum disebut tajam ke oposisi, demokrasi dikatakan sedang terancam, dan dirinya diposisikan sebagai korban rezim.

Inilah wajah politik kita: penuh peran, penuh drama, dan yang paling menyedihkan—penuh lupa. Lupa pada pernyataan lama, pada posisi kemarin, pada apa yang dulu dibenarkan dengan semangat.

Hasto tidak sendirian. Lihat saja Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Dulu partai ini dikenal keras terhadap Prabowo Subianto. Di media sosial mereka, Prabowo dituduh sebagai simbol masa lalu, pemimpin yang tidak layak diberi ruang dalam demokrasi pascareformasi.

Tapi hari ini, setelah Pilpres usai dan kursi kekuasaan dibagi, PSI berubah haluan secepat ganti baju. Kini mereka memuji Prabowo sebagai negarawan. Bergandengan tangan dengan Gibran. Menerima jabatan menteri. Bahkan tak sedikit kader mereka yang dulu menyerang Prabowo dengan kata-kata tajam, kini berebut tampil di acara resmi dan mengabarkan kebanggaan karena “diberi kepercayaan.”

Apakah salah berubah sikap? Tidak selalu. Tapi jika perubahan itu tanpa penjelasan, tanpa pertanggungjawaban atas kata-kata masa lalu, maka yang tersisa hanyalah oportunisme politik.

Mereka lupa bahwa publik tidak buta ingatan. Jejak digital terlalu jelas. Kata-kata lama mereka masih bisa dicari, masih bisa diputar ulang. Yang membuat rakyat muak bukan perubahan arah, tapi keberanian bersandiwara seolah tidak pernah berkata sebaliknya.

Baca Juga: 10 Tulisan Terbaik AYO NETIZEN Juni 2025, Total Hadiah Rp1,5 Juta

Jangan Terbawa Suasana

Politik memang bukan dunia hitam putih. Tapi ketika abu-abu terlalu dipoles jadi emas, rakyat punya hak untuk curiga. Hari ini seseorang bisa menyebut dirinya oposisi sejati. Besok ia bisa duduk nyaman di kursi kabinet. Hari ini bisa mengaku korban penguasa. Besok ia bisa ikut rapat dengan para pejabat yang dulu ia kritik.

Pertanyaannya: mengapa rakyat masih mau terbawa suasana? Mengapa masih ada yang rela ribut dengan saudara, bertengkar di grup keluarga, bahkan memutus silaturahmi hanya demi membela tokoh yang tak pernah tahu nama kita?

Padahal para politikus itu bisa berbalik arah dalam satu malam. Saling peluk di belakang layar. Saling bagi kursi, sambil tersenyum dalam jumpa pers.

Di sinilah pentingnya menjaga jarak sehat dengan politik. Tak perlu jadi fans garis keras. Tak perlu mengidolakan tokoh seperti mengidolakan penyanyi. Apalagi sampai membenci lawan politiknya seolah sedang menonton drama sinetron. Suka boleh. Benci juga boleh. Tapi secukupnya saja. Jangan sampai kita terbakar, sementara mereka hanya sedang berakting.

Karena pada akhirnya, rakyat bukan penonton pasif. Kita bukan penggembira. Kita adalah pemilik suara. Maka, jangan mudah terbius orasi. Jangan mudah percaya air mata. Bacalah naskahnya, bukan ekspresinya. Dan tetap sadar: dalam politik, yang paling cepat berubah bukan sikap rakyat, tapi niat para elite. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Muhammad Sufyan Abdurrahman
Peminat komunikasi publik & digital religion (Comm&Researcher di CDICS). Berkhidmat di Digital PR Telkom University serta MUI/IPHI/Pemuda ICMI Jawa Barat

News Update

Ayo Netizen 22 Sep 2026, 18:33

Jika Ada Lagi Taman Nasional atau Taman Hutan Raya Baru di Jawa Barat

Menelusuri peluang hadirnya taman nasional atau taman hutan raya (tahura) baru sebagai benteng keanekaragaman hayati, pelindung ekosistem (flora dan fauna) serta oasis hijau masa depan Bumi Pasundan.

Bagas Aji Prakoso saat menjajal Tahura Djuanda. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 16:50

Ketika Idealisme Pengabdian Gen-Z Membentur Tembok Kaku Birokrasi

Artikel opini ini membahas paradoks antara idealisme pengabdian ASN Generasi Z dan budaya birokrasi yang masih dianggap kaku.

Tumpukan Berkas. (Sumber: Chat GPT | Foto: AI Chat GPT)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 15:05

Jalur FM: Ketika Suara dari Udara Menjadi Lebih Jernih

Sebelum gelombang FM semakin ramai di Bandung, perubahan serupa lebih dahulu terasa di Jakarta.

Studio Radio OZ Bandung di Jl. Setrasari II No. 14, Bandung. Radio OZ menjadi salah satu stasiun radio di Bandung yang termasuk awal bermigrasi dari jalur AM ke FM. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 14:42

216 Tahun Kota Bandung: Merawat Warisan dan Membangun Masa Depan Gastronomi Berkelanjutan

Lebih dari sekadar destinasi tempat orang mencari tempat makan yang estetis atau makanan lezat, Bandung pada hakikatnya adalah laboratorium budaya.

Kudapan tradisional khas Kota Kembang yang sangat populer antara lain cireng, cilok, seblak, dan telur gulung. (Sumber: Shutterstock | Foto: Hanifah Kurniati)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 12:21

Momentum Mahasiswa Meraih Prestasi

Mahasiswa sering menyalahkan diri dan keadaannya dalam situasi yang sulit. Menurut mahasiswa, bahwa keberadaannya belum tentu berprestasi. 

Sejumlah mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPRD Jawa Barat, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Jumat, 1 Mei 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Buruh Internasional (May Day). (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 22 Sep 2026, 10:40

Media Lokal Cari Model Bisnis Baru di Local Media Summit 2026

Media lokal tidak lagi hanya dituntut menjadi penerbit berita, tetapi juga dapat berkembang menjadi agensi lokal, pengelola komunitas.

Local Media Summit (LMS) akan kembali hadir di pada 22-23 Oktober 2026 di Hotel Manhattan Jakarta.
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 10:15

Jika Benzema Datang, Persib Sebenarnya Membeli Apa?

Status bebas transfer Benzema saat ini membuat sebuah pintu terbuka untuk Persib.

Karim Benzema (Sumber: ayobandung.com | Foto: Wikimedia Commons (Lisensi CC) via ayobandung.com)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 10:00

Urap: Jejak Mahakarya Kuliner Tertua dan Filosofi Kehidupan dalam Sepiring Sayuran Nusantara

Dalam khazanah gastronomi Indonesia, urap bukan sekadar komposisi sayuran dan kelapa parut.

Urap merupakan sajian sayuran tertua di tanah Jawa yang tercatat secara formal dalam literatur sejarah. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 19:31

Demokrasi yang Berakar: Ketika Politik Bertemu  Budaya dan Kepercayaan

Sebelum seseorang menjatuhkan pilihan politiknya, ada proses komunikasi yang panjang. Sebelum sebuah kekuasaan dianggap sah, ada proses pembentukan makna.

Diah Fatma Sjoraida merupakan Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran. (Sumber: Gemini | Foto: Ilustrasi oleh AI)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 19:01

Urgensi Kota Bandung: Persolan Sampah dan Kemacetan

Sampah dan kemacetan adalah dua persoalan besar yang dihadapi Bandung. Harus diatasi dengan membangun kesadaran bersama, yang akhirnya demi kenyamanan bagi warga Bandung, sebagai rumah bersama.

Pengendara melintas di dekat tumpukan sampah yang menggunung di TPS Jalan Makam Caringin, Kota Bandung, Kamis, 9 April 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 18:17

Imaji Papua Bersilaturahmi dengan Caraka Sundanologi Bandung

Imaji Papua membawa cerita tentang manusia, budaya, dan kehidupan Tanah Papua ke Bandung melalui film dan dialog lintas komunitas.

Caraka Sundanologi bersilaturahmi dengan komunitas Imaji Papua melalui pemutaran film dokumenter sebagai ruang berbagi cerita, budaya, dan pengalaman tentang Papua. (Sumber: Nonon Rachnaya)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 17:20

Bandung dan Terbentuknya Karyawan 'Flourish'

Ketika Pemkot Bandung berhasil memangkas hambatan birokrasi,sektor industri harus siapkan sistem rekrutmen yang presisi.

Bandung dan urgensi karyawan "Flourish" (Sumber: dokpri dengan kreasi chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 16:22

Tugu Proklamasi Cirebon: Jejak Pembacaan Proklamasi 15 Agustus 1945

Sebuah tugu berwarna putih di perempatan Jalan Siliwangi, Kecamatan Kejaksan, Kota Cirebon, itu menjadi saksi bahwa kemerdekaan Indonesia pernah diproklamirkan sebelum 17 Agustus 1945.

Tugu Proklamasi Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Wahyu)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 15:58

Menimbang Dampak Pajak Otomatis di Tengah Melejitnya Lokapasar Kota Bandung

Proses perpajakan digital menuntut UMKM agar merapikan pembukuan mereka

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan (Kanan). (Sumber: Humas Pemkot Bandung)
Ikon 21 Sep 2026, 15:33

Stasiun Cicalengka, dari Stasiun Bersejarah jadi Tinggal Sejarah

Stasiun Cicalengka berusia lebih dari seabad. Bangunan lamanya telah dibongkar, sementara tinggalan sejarahnya masih tersisa.

Stasiun Cicalengka, Bandung, antara tahun 1900-1920-an. (Sumber: Tropenmuseum)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 13:41

Akar Historis dan Evolusi Gastronomi Sunda: Meneroka Budaya Pangan Tatar Parahyangan

Gastronomi bukan sekadar urusan pemuasan kebutuhan fisiologis manusia melalui asupan nutrisi, melainkan sebuah disiplin ilmu yang membedah korelasi intrinsik antara makanan dan kebudayaan.

Penjual makanan keliling di Jawa Barat sekitar tahun 1910. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 11:21

Bioskop sebagai Ruang Refleksi Diri

Bioskop di era modern tidak sekedar ajang hiburan tapi ruang refleksi yang membuat nyaman.

Ilustrasi bioskop. (Sumber: Pexels | Foto: cottonbro studio)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 09:09

Ketika Fikom Harus Mengajarkan Cara Berkomunikasi dengan Mesin

Sekarang mulai terbentuk pola baru komunikasi, yakni manusia berbicara kepada mesin, mesin menghasilkan pesan, mesin memilih pesan, lalu manusia menerima dan menafsirkannya.

Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran. (Sumber: ayobandung.com | Foto: fikom.unpad.ac.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 20 Sep 2026, 17:07

930 Pecatur di Bandung Dapat Wejangan dari Legenda Utut Adianto

Open Tournament Catur Piala Panglima TNI 2026 menjadi ajang kompetisi sekaligus ruang pembinaan dan pencarian talenta catur baru.

Open Tournament Catur Piala Panglima TNI 2026 menjadi ajang kompetisi sekaligus ruang pembinaan dan pencarian talenta catur baru. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 20 Sep 2026, 16:57

Istilah Bahasa Jawa untuk Besar Guncangan Gempa Bumi

Mengenal istilah lokal Bahasa Jawa untuk menggambarkan kekuatan guncangan gempa bumi, dari Lir hingga Lindhu Kiamat/Jagad Obah. Kaya makna dan kearifan lokal suu bangsa Jawa.

Ilustrasi bangunan yang rusak akibat gempa bumi. (Sumber: Pexels | Foto: Ahmed akacha)