Tapak Sejarah Reak, Seni Kesurupan yang Selalu Bikin Riweuh di Bandung Timur

5 menit baca
Redaksi
Ditulis oleh Redaksi diterbitkan
Penampil Reak dalam salah satu helatan di Bandung. (Sumber: Wikimedia)
Penampil Reak dalam salah satu helatan di Bandung. (Sumber: Wikimedia)

AYOBANDUNG.ID - Pada suatu sore yang biasa di Bandung Timur, seorang pemuda menari sambil mencabik ayam mentah. Sambil sesekali merunduk, menggoyangkan tubuh, dan matanya kosong. Bukan lantaran kalap setelah puasa 40 hari, tapi karena sedang kesurupan dalam sebuah pertunjukan reak. Namanya Dado, lengkapnya Aldo Ravael, seorang malim reak dari Lingkungan Seni Lugay Ciba.

Dado bukan aktor sinetron religi. Ia tak sedang syuting reality show mistis. Tapi ia betulan sedang menjalani ritual kesenian rakyat Sunda yang penuh gerakan, tabuhan, dan trans: reak. Dalam kondisi kesurupan itu, Dado pernah makan beling. Tidak salah dengar. Pecahan beling. Tapi tubuhnya baik-baik saja. “Buang air besar juga biasa, enggak ada pecahan kaca,” katanya enteng, seolah yang dimakan bukan beling, melainkan keripik kaca.

Reak memang seperti itu. Suara dogdog bertalu, suling meliuk, dan penari bertopeng menari dengan gerakan liar. Kadang pakai kuda lumping, kadang bangbarongan. Tapi intinya, gaduh. Reak bukan tontonan santai. Ia seperti parade antara mistik dan musik, antara trance dan tradisi.

Sejarah yang Tak Kalah Ramai dari Helarannya

Kata "reak" sendiri punya banyak versi asal usul. Versi pertama menyebut kesenian ini muncul pada masa Kerajaan Pajajaran sebagai satire terhadap Majapahit. Versi kedua bilang, reak adalah adaptasi dari reog Ponorogo, dibawa ke tanah Sunda sekitar abad ke-17 saat zaman Kesultanan Cirebon. Versi lain menyebut reak muncul dari wilayah Pantura seperti Indramayu dan Cirebon, lalu menyebar ke Sumedang hingga Cibiru pada 1930-an.

Tak puas dengan sejarah ala kerajaan dan jalur dagang, ada juga yang bilang kata reak berasal dari bahasa Arab: riyyuq, yang berarti sempurna. Ada juga yang mengaitkan dengan “leak” dari Bali. Tapi para seniman reak Bandung Timur sepakat bahwa asal katanya adalah “reang”, bahasa Sunda yang berarti gaduh. Dan memang, kalau sedang helaran reak di kampung-kampung, yang muncul pertama adalah suara gaduh dari kejauhan. Riweuh. Ramai. Meriah.

Baca Juga: Benjang dari Ujungberung, Jejak Gulat Sakral di Tanah Sunda

Dado punya versi sendiri. Katanya, reak dibawa langsung oleh Prabu Kiansantang, putra Prabu Siliwangi. “Awalnya reak dibawa oleh Prabu Kiansantang. Sejarahnya terkait Kerajaan Pajajaran,” ujar Dado serius.

Kalau soal fungsi, awalnya reak adalah bagian dari ritual syukur: ketika panen berhasil, ketika anak disunat, ketika seseorang sudah akil baligh. Reak jadi sarana suka cita kampung. Tapi seiring zaman bergeser, reak tampil juga di festival, hajatan, hingga pertunjukan seni di kota besar. Bahkan pernah sampai ke Australia.

Di balik popularitas reak modern, ada nama Abah Enjoem. Lelaki berambut putih dan selalu mengenakan iket Sunda ini adalah pendiri Sanggar Seni Tibelat sekaligus anggota Komite Tradisi di Dewan Kesenian Kota Bandung. Bukan hanya mendalami reak, ia juga membawa reak terbang ke luar negeri. Pada 2017, Abah Enjoem tampil di Melbourne bersama para seniman Indonesia lain. Ia membawa bangbarongan dan dogdog. Bukan buat menyembur api, tapi buat tampil di panggung budaya.

“Sudah ada beberapa turis yang datang untuk mengenal atau bahkan mempelajari kesenian reak. Mulai dari New York, Australia, Lebanon, Denhaag, Jepang, dan Amerika,” ujarnya.

Peralatan seni reak kuda lumping grup Juarta Putra. (Sumber: Wikimedia)
Peralatan seni reak kuda lumping grup Juarta Putra. (Sumber: Wikimedia)

Tapi jalan yang dilalui Abah Enjoem tidak mudah. Pada dekade 1990-an, reak sempat mengalami masa sulit. Dituduh sebagai warisan mistik yang tidak modern, dianggap ketinggalan zaman. Namun tahun 2000, ia mulai merangkul anak-anak muda untuk membentuk sanggar Tibelat. Perlahan, reak kembali hidup.

Tak hanya soal gerakan dan musik, Abah Enjoem memberi tafsir mendalam pada bunyi-bunyian dalam reak. Ia menjelaskan bahwa ada lima jenis dogdog dalam reak: tilingtit, tong, brung, bangplak, dan bedug. Jika dimainkan bersama, dogdog tersebut akan menghasilkan irama yang ditafsirkan sebagai kalimat dakwah: “Gera indit tong embung gera tumamprak lamun bedug engges datang.” Artinya kira-kira: jangan malas, cepat berangkat, sebelum azan selesai.

Reak adalah pertunjukan gaduh. Tapi gaduh yang punya arti. Ia bukan sekadar hiburan, tapi juga penyampai pesan. Dalam topeng merah bangbarongan, dalam tarian kuda lumping, tersembunyi simbol tentang kekuatan yang bisa dikendalikan oleh manusia. Tentang energi yang bisa dijinakkan jadi keindahan. Tentang pertarungan abadi antara kebaikan dan keburukan, dibalut dogdog dan debu jalanan.

Kini, reak tak hanya hidup di pinggir kampung. Ia telah masuk ke panggung kota, festival nasional, hingga kancah internasional. Tapi tetap saja, di pangkalnya, reak adalah milik rakyat. Milik kampung-kampung yang masih percaya bahwa budaya bukan sekadar peninggalan, tapi juga pegangan.

Seniman Reak Tenggalam di Sungai Citarum

Tak semua pertunjukan reak berakhir dengan tepuk tangan. Hari itu, Minggu sore, tanggal 5 Mei 2023, langit Bojongjati, Solokanjeruk, tidak sedang muram. Tapi siapa sangka, sore yang biasa itu berubah jadi kisah yang kelak diceritakan dari warung kopi hingga grup WhatsApp. Semua bermula dari suara gemuruh gamelan dan denting angklung, mengiringi latihan reak kuda lumping dan kuda renggong di tanah lapang Desa Bojongemas, Kabupaten Bandung.

Reak memang bukan pertunjukan biasa. Tapi tak seorang pun menyangka, Hanoman yang sore itu menari-nari lincah di antara debu lapangan, akan menghilang ditelan Sungai Citarum.

Hanoman itu bernama Jajang Paijan Jaman. Usianya baru 22 tahun. Sore itu, bukan cuma peran yang ia mainkan. Konon, Jajang kesurupan. Dan dalam keadaan tak sadar penuh, dia lompat ke Sungai Citarum.

Baca Juga: Sungai Citarum Diterjang Banjir Sampah, Hanyut dalam Tumpukan Program

Bukan sekali, tapi dua kali. Lompat pertama masih balik ke darat, entah karena naluri atau karena "roh"-nya belum kuat. Tapi lompat kedua jadi babak akhir. Citarum yang arusnya deras menelan tubuh Jajang begitu saja. Tanpa permisi. Tanpa aba-aba. Tanpa jeda gamelan.

Kawan yang melihat sempat coba menolong. Tapi, arus deras membawa Jajang entah ke mana. Reak bubar, suasana mencekam. Hanoman hilang.

Tim SAR datang tak pakai banyak kata. Mereka tahu ini bukan sekadar perkara mencari Jajang. Ini urusan dengan sungai yang kadang menyembunyikan apa yang ia telan. Hari berganti. Kabar belum juga datang. Warga mulai bertanya-tanya: apa benar Jajang hilang karena kesurupan? Atau ada sesuatu yang lain?

Lima hari kemudian, jasad Jajang ditemukan. Jauh. sekitar 34 kilometer dari tempat dia melompat. Bukan lagi dalam wujud Hanoman, tapi sebagai pemuda yang dikabarkan hilang saat reak.

Orang bilang, kadang roh-roh dalam pertunjukan tradisional suka main-main. Tapi sungai tidak main-main. Apalagi Citarum. Sungai itu mungkin sudah bosan menampung limbah, lalu tiba-tiba diberi tontonan: Hanoman nyemplung tanpa aba-aba.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)