Transportasi Umum dan Permasalahan Kota Bandung yang Tak Ada Habisnya

5 menit baca
Salsabilla Putri Cantika
Ditulis oleh Salsabilla Putri Cantika diterbitkan
Bus Damri di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Bus Damri di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)

Kini, hiruk pikuk Kota Bandung sudah hampir menyaingi Ibu Kota Jakarta. Kota dengan usia lebih dari dua abad ini memiliki suasana kota yang  semakin riuh oleh manusia yang sibuk dengan dunianya.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Kota Bandung, pada 2024, penduduk Kota Bandung mencapai 2,5 juta jiwa dan 40% dari itu merupakan jumlah kendaraan yang menjejali kota ini yaitu sekitar 1,52 juta armada.

Semua berkegiatan ke pasar, sekolah, kantor, tempat perbelanjaan, hingga hanya sekedar ingin menikmati angin Kota Bandung. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan tersebut banyak bergantung pada transportasi hingga akhirnya menyebabkan kemacetan karena menumpuknya kendaraan di jalanan.

Namun sayangnya, jalanan Kota Kembang ini masih jauh lebih didominasi oleh transportasi pribadi. 

Rata-rata akumulasi transportasi pribadi dalam kurun waktu 2019-2024 mencapai 1,5 juta sedangkan transportasi umum hanya 11 ribu. Hal ini menunjukkan bahwa jika dibandingkan dengan rata-rata transportasi pribadi, transportasi umum hanya menguasai 0.8% jalanan di Kota Bandung.

Perbandingan tersebut sudah sangat terjun bebas ketimpangannya. Jalanan Kota Bandung semakin dipenuhi oleh lautan transportasi pribadi memperbesar kemungkinan terjadi kemacetan. Bayangkan saja mobil yang harusnya dapat ditumpangi oleh empat orang, tak jarang hanya ditumpangi oleh satu atau dua orang.

Belum lagi para pengendara roda dua yang juga berlomba memadati jalan raya. Sedangkan dalam transportasi umum, para penumpang berdesak-desakkan juga tetap memiliki harapan yang sama untuk tiba secepatnya.

Alih-alih setiap tahun bertambah umur, jumlah armada angkutan umum di Kota Bandung ini alami fluktuasi selama 2019-2024. Bahkan, jumlah transportasi umum pada 2024 mengalami penurunan sebesar 18,66% daripada 2019, yang awalnya berjumlah 13.6 ribu  menjadi hanya 11 ribu.

Hal ini justru semakin memperburuk keadaan dan seolah mendorong masyarakat menggunakan kendaraan pribadi. Di tengah penduduk yang terus semakin meningkat,  transportasi umumnya malah sebaliknya

Eksistensi Transportasi Umum 

Angkot di Kota Bandung. (Sumber: a | Foto: Kavin Faza)
Angkot di Kota Bandung. (Sumber: a | Foto: Kavin Faza)

Masyarakat kota Bandung tampaknya sulit untuk terlepas dari kendaraan pribadinya. Hal itu terlihat dari survei kepada 100 warga oleh Dinas Perhubungan melalui laporan kajian rasionya dapat disimpulkan  bahwa  kendaraan pribadi, khususnya kendaraan roda dua dinilai lebih efektif. 

Bagaimana tidak, di tengah kemacetan seringkali para pengendara motor masih bisa bergerak lincah menyalip kendaraan lain sehingga dapat lebih cepat sampai.

Selain itu, kendaraan pribadi juga dinilai lebih hemat karena kita hanya mengeluarkan biaya bensin yang dapat digunakan untuk beberapa kali jalan serta tingkat fleksibilitas yang lebih tinggi karena dapat digunakan kapanpun. 

Semua itu memang fakta yang tak dapat terelakkan. Pasalnya, transportasi umum di Kota Bandung masih memiliki banyak permasalahan mulai dari akses, kualitas pelayanan, hingga infrastrukturnya.

Transportasi umum di Kota Bandung ini lebih cocok digunakan ketika kita sedang santai. Biasanya kita harus menunggu kapasitas penumpang penuh terlebih dahulu baru angkutan tersebut akan berangkat. 

Selain itu, tak ada waktu pasti kapan kendaraan tersebut akan datang dan berangkat serta seringnya angkutan yang “ngetem” menjadi salah satu alasan masyarakat berpikir dua kali.

Masalah lain juga datang dari tarif angkot yang tak jelas membuat penumpang malas. Sehingga tak heran jika daya tarik transportasi umum masih kurang.

Kota ini memiliki beberapa opsi transportasi umum mulai dari angkutan kota atau angkot dan Bus DAMRI yang telah menemani warga Bandung sejak 1970-an hingga Trans Metro Bandung yang menyusul muncul pada 2009. Kemudian pada 2019 muncul sebuah armada baru yaitu Trans Metro Pasundan atau kini berganti nama menjadi Metro Jabar Trans. 

Meskipun Kota Bandung masih memiliki lebih dari satu jenis transportasi umum yang dapat dijadikan pilihan. Hal tersebut pun nyatanya masih tetap belum optimal.

Tak semua transportasi umum dapat menjangkau seluruh area penjuru Kota Bandung sehingga penumpang harus berpindah armada serta membayar lagi dan lagi. 

Tak hanya soal kemacetannya, seharusnya Kota Bandung sudah bisa seperti Jakarta yang memiliki beragam transportasi yang terintegrasi, terlebih dengan banyak pendatang yang berkunjung kota ini.

Kebijakan Belaka

Ojol di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ojol di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Infrastruktur dan kebijakan yang dibuat pemerintah masih jadi permasalahan yang cukup kompleks. Dinas Perhubungan Kota Bandung masih berusaha mencari solusi dan alternatif yang pas untuk mengatasi hal tersebut.

Sejauh ini, mereka baru memberikan tarif pajak progresif bagi pengendara yang memiliki lebih dari satu kendaraan dengan harapan dapat mengurangi penggunaan kendaraan pribadi serta adanya tarif parkir progresif.

“Misalkan di jam pertama kita bayar Rp3.000, jam selanjutnya Rp5.000. Nah itu salah satu kebijakan sebetulnya yang dikeluarkan oleh pemerintah agar masyarakat beralih menggunakan kendaraan anggota umum.

Nah, tapi balik lagi, strategi Push n Pull-nya harus seimbang. Nah kita membuat strategi seperti itu tapi kita perlu memberikan alternatif,” ungkap Heru.

Namun adanya kebijakan tersebut masih belum terlihat berjalan maksimal terlebih masih banyak masyarakat yang masih menyepelekan bayar pajak dan tetap melihat pada efisiensi dari transportasi pribadi sendiri. 

Konektivitas transportasi umum yang lebih terintegrasi bisa menjadi salah satu solusi yang dapat diprioritaskan. Jika seperti itu, masyarakat yang akan bepergian akan lebih mudah dan praktis karena langsung dapat terintegrasi satu transportasi dengan transportasi lain.

Setiap tahunnya, Dishub Kota Bandung melakukan pelaporan kajian rasio guna melihat gambaran kondisi lalu lintas di Kota Bandung. Di sana selalu tercantum saran-saran dari masalah transportasi yang ada.

Saran tersebut tak jauh dari  pengintegrasian, sosialisasi, hingga penambahan trayek. Namun, saran itu masih belum menyentuh akar permasalahan.

Baca Juga: 10 Tulisan Terbaik AYO NETIZEN Juni 2025, Total Hadiah Rp1,5 Juta

Berdasarkan hasil survey wawancara oleh Dishub Kota Bandung juga dipaparkan bahwa sebenarnya masyarakat berpotensi menggunakan transportasi umum jika dilakukan perbaikan dan peningkatan layanan.

Lebih bagus lagi jika adanya pembangunan Light Rail Transit (LRT) atau moda transportasi berbasis rel. Dalam hal ini terlihat bahwa sebenarnya masyarakat masih memiliki minat untuk menaiki transportasi umum, hanya saja bagaimana keadaan transportasi umumnya itu?

Timpangnya jumlah pengguna transportasi umum dan pribadi, belum meratanya akses transportasi umum,  serta preferensi masyarakat yang lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi menjadi masalah yang tak pernah hilang dan terus berulang dari 2020 hingga 2024. 

Dikutip dari laman Bandung Bergerak, Pakar transportasi Institut Teknologi Bandung (ITB) Sony Sulaksono pun menyoroti konsistensi pemerintah dalam memprioritaskan pengembangan angkutan publik. Meskipun sudah ada banyak program dan kajian, tetapi hal itu masih belum terlihat dampaknya. 

Jika membuat akses baru memang perlu waktu yang cukup lama dan tak mudah , setidaknya pemerintah bisa memulai dari meningkatkan kualitas dan kejelasan dari moda yang sudah ada. Jika tidak begitu, sampai kapan permasalahan ini akan terus jadi cerita lama dan hanya sebatas wacana belaka? (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)