Menanti PJ yang Komunikatif, Evaluasi Menjelang 2031

3 menit baca
Muhammad Sufyan Abdurrahman
Ditulis oleh Muhammad Sufyan Abdurrahman diterbitkan
Mantan PJ Gubernur Jabar Bey Machmudin (Sumber: Unpar.ac.id | Foto: Unpar)
Mantan PJ Gubernur Jabar Bey Machmudin (Sumber: Unpar.ac.id | Foto: Unpar)

Putusan Mahkamah Konstitusi yang menetapkan Pilkada Serentak dilaksanakan dua tahun setelah Pilpres 2029, langsung mengingatkan kita pada pengalaman masa lalu bersama para Penjabat Kepala Daerah periode 2022 hingga 2024.

Bagi yang sehari-hari bergelut di bidang komunikasi publik, hal ini bukan sekadar isu administratif, tetapi menyangkut kredibilitas demokrasi lokal di hadapan jutaan warga yang dipimpin oleh figur sementara.

Tidak kurang dari 551 daerah kemungkinan besar akan kembali dipimpin oleh Penjabat atau PJ, mencakup 38 provinsi dan 513 kabupaten serta kota. Ini berarti lebih dari 250 juta rakyat Indonesia akan kembali merasakan gaya kepemimpinan yang diisi bukan melalui pemilihan langsung, melainkan lewat penunjukan pusat.

Pengalaman sebelumnya memberi banyak pelajaran. Penjabat Gubernur DKI Jakarta, Heru Budi Hartono, misalnya, mengganti slogan “Jakarta Kota Kolaborasi” menjadi “Sukses Jakarta untuk Indonesia” tanpa proses dialog publik yang layak.

Kebijakan sepihak lainnya juga muncul, seperti penghapusan anggaran jalur sepeda dan pemangkasan layanan JakWifi. Bahkan rencana infak 50 persen dari masjid untuk bantuan bencana memicu reaksi keras dari masyarakat Betawi karena miskin komunikasi awal.

Di Aceh, Penjabat Gubernur Achmad Marzuki menerbitkan surat edaran penutupan warung kopi pada pukul 12 malam. Meski niatnya mendukung pelaksanaan syariat Islam, pendekatan yang kaku ini dianggap memberangus ruang publik malam hari dan menekan ekonomi rakyat kecil. Pendekatan yang cenderung komando dan minim pelibatan warga sipil memperburuk kesan kepemimpinan elitis.

Contoh lain muncul di daerah seperti Indragiri Hilir, Pati, Pulau Morotai, dan beberapa kabupaten di Sulawesi Tenggara. Penunjukan PJ dilakukan secara tergesa, minim transparansi, bahkan tanpa melibatkan usulan pemerintah provinsi.

Protes terbuka dari DPRD dan Gubernur terjadi karena proses penunjukan dianggap sarat politisasi dan kurang legitimasi sosial. Ketika seorang kepala daerah hadir tanpa basis dukungan lokal, komunikasi publik menjadi canggung, kaku, dan tidak otentik.

Komunikasi dan Kinerja

Mantan Penjabat Gubernur DKI Jakarta, Heru Budi Hartono (Sumber: Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia)
Mantan Penjabat Gubernur DKI Jakarta, Heru Budi Hartono (Sumber: Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia)

Apakah buruknya komunikasi mereka sejalan dengan lemahnya kinerja pemerintahan secara umum? Laporan dari Transparency International Indonesia pada 2023 berjudul “Dampak Kinerja PJ Gubernur Terhadap Demokrasi dan Hak Asasi Manusia” memberikan gambaran gamblang.

Penelitian terhadap 25 provinsi menunjukkan bahwa skor rata-rata nasional hanya 2,92 dari skala maksimal 9. Artinya, kinerja para PJ Gubernur hanya mencapai sepertiga dari ideal.

Evaluasi ini meliputi tiga klaster: perencanaan dan penganggaran, pelayanan publik, serta pengawasan. Di semua klaster, masalah komunikasi dan keterlibatan publik menjadi titik lemah. Dalam hal perencanaan, dokumen memang tersedia secara daring, tapi hanya bersifat umum.

Rakyat tidak tahu dengan jelas ke mana anggaran dialokasikan dan apakah aspirasi mereka benar-benar masuk dalam kebijakan.

Dalam pelayanan publik, fasilitas dasar untuk kelompok rentan seperti jalur disabilitas atau ruang laktasi masih absen di banyak kantor layanan. SOP tersedia, tapi tidak disosialisasikan secara luas. Ini memperlihatkan kegagalan komunikasi dan kurangnya empati kelembagaan.

Lebih memprihatinkan lagi adalah bidang pengawasan. Kanal pengaduan publik ada, tetapi sulit diakses, minim tanggapan, dan hanya aktif bila isu telah viral di media sosial. Laporan audit pun tidak dibuka ke publik. Transparansi berjalan normatif, bukan budaya yang tumbuh alami.

Putusan MK memang final dan mengikat. Tapi kita masih punya waktu untuk belajar dari pengalaman. Jangan sampai pada 2031 mendatang, ketika gelombang PJ kembali datang, kita hanya bisa mengeluh, “Lagi-lagi begini.”

Saatnya dari sekarang kita menuntut PJ yang bukan sekadar pelaksana administratif, tetapi pemimpin komunikatif yang mengerti rakyatnya dan berani membuka ruang partisipasi secara utuh. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)