Batavia jadi Sarang Penyakit, Bandung Ibu Kota Pilihan Hindia Belanda

7 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Alun-alun Bandung sebelum tahun 1930-an. (Sumber: KITLV)
Alun-alun Bandung sebelum tahun 1930-an. (Sumber: KITLV)

AYOBANDUNG.ID - Pernah ada masa ketika Bandung nyaris menggantikan Batavia sebagai ibu kota Hindia Belanda. Sebuah rencana besar yang lahir bukan karena ilham politik atau perhitungan ekonomi yang jenius, melainkan karena orang-orang Belanda kepanasan dan digigit nyamuk terlalu sering di Batavia.

Di kota itu, udara lembap, bau rawa bercampur sampah, dan penyakit tropis jadi hidangan sehari-hari. Maka muncullah ide eksotis dari kalangan pejabat kolonial: pindahkan saja pusat pemerintahan ke dataran tinggi yang sejuk, supaya kulit tetap putih dan napas tetap lega.

Bandung kala itu masih kampung besar dengan kebun teh dan sawah di sekelilingnya. Tapi bagi mata orang Belanda, tempat itu tampak seperti potongan Eropa yang tersesat di antara gunung dan kabut. Sejak awal abad ke-20, kota kecil itu sudah menarik perhatian karena udaranya kering, tanahnya stabil, dan pemandangannya indah.

Dalam risalah Peneliti Balai Arkeologi Jawa Barat, Iwan Hermawan, disebutkan bahwa Batavia, kota yang dirancang dengan peta indah ala Simon Stevin itu ternyata dibangun di rawa. Kanal-kanalnya bukan cuma mengalirkan air, tapi juga kotoran. Warga Batavia menjadikan kanal sebagai tempat mandi, cuci, bahkan buang hajat. Pemerintah sempat membuat aturan aneh: dilarang buang air di siang hari, hanya boleh malam-malam menjelang pagi. Akibatnya, Batavia punya pertunjukan rutin: parade kotoran tengah malam.

Baca Juga: Warga Bandung Kena Kibul Charlie Chaplin: Si Eon Hollywood dari Loteng Hotel

Ketika Gunung Salak meletus tahun 1699 dan mengirim longsoran ke utara, nasib Batavia makin sial. Sungai-sungai yang bermuara di sana tersedak lumpur, kanal-kanal meluap, rawa-rawa tumbuh subur, dan nyamuk-nyamuk pun berpesta. Malaria, kolera, pes, semua jadi penghuni tetap. Tak heran Batavia dijuluki Het Graf der Hollanders, Kuburan Orang Belanda.

Permasalahan kesehatan bukan satu-satunya mimpi buruk. Dari arah Laut Jawa, Inggris mulai mengancam. Batavia terlalu mudah diserang, terlalu terbuka, terlalu datar. Maka datanglah Herman Willem Daendels pada awal abad ke-19 dengan mandat mempertahankan Pulau Jawa dari serangan Inggris. Ia menatap peta, menatap rawa, lalu memutuskan Weltevreden menjadi Batavia Baru.

Pusat administrasi kolonial pindah ke sana, sementara penduduk bumiputra tetap di pinggiran, masuk ke kota tiap pagi sebagai pekerja dan pulang sore membawa lelah. Tata ruangnya meniru kota-kota lama di Jawa: satu alun-alun besar dikelilingi bangunan-bangunan megah milik orang Eropa. Urat nadinya adalah Jalan Raya Pos, jalur Anyer–Panarukan yang dibangun oleh Daendels sendiri dengan tenaga ribuan pekerja pribumi yang konon banyak mati di sepanjang jalan.

Tapi penyakit tak mengenal alamat baru. Sekalipun sudah pindah ke Weltevreden. Beberapa kali antara tahun 1892 hingga 1909, air Ciliwung menelan rumah-rumah di Weltevreden (Jakarta Pusat sekarang). Surat kabar De Locomotief bahkan menulis berita dengan judul menyindir: Batavia Onder Water. Orang Belanda akhirnya sadar, tinggal di Batavia itu seperti menabung maut.

Karena itu, mulai muncul wacana “pindah rumah”. Dari Coen ke Daendels, dari Daendels ke pejabat-pejabat sesudahnya, semua sadar Batavia bukan tempat ideal untuk hidup lama, apalagi untuk memerintah. Daendels sempat berencana pindah ke Semarang atau Surabaya, tapi ia terlalu sibuk membangun jalan pos dari Anyer ke Panarukan dengan cara paling hemat biaya: kerja paksa. Akhirnya, ia memilih Weltevreden, hanya lima kilometer dari Batavia lama.

Baca Juga: Reaktivasi Rel Kereta Bandung-Ciwidey: Dulu Belanda Bisa, Kini Hanya Bisa Berwacana

Lukisan Batavia tahun 1770-an. (Sumber: KITLV)
Lukisan Batavia tahun 1770-an. (Sumber: KITLV)

Bandung Cuma jadi Ibu Kota Cadangan

Bandung sejak lama punya reputasi baik di mata pejabat Belanda. Udaranya sejuk, airnya jernih, pemandangannya indah. Letaknya strategis di tengah jalur kereta Batavia–Cilacap, dikelilingi pegunungan yang bisa menjadi benteng alami. Di sebelah barat, ada Cimahi, kota garnisun yang sejak 1885 menjadi markas militer Hindia Belanda. Di sinilah Daendels mungkin akan tersenyum puas dari alam baka: jalannya yang dulu dibangun dengan darah rakyat kini menjadi nadi logistik militer dan pemerintahan.

Situasi abad ke-20 membawa wacana baru. Rencana pemindahan ibu kota Hindia Belanda itu mulai dibahas serius oleh Gubernur Jenderal J.B. van Heutsz pada tahun 1906. Kala itu, ia bosan dengan Batavia yang basah, jenuh, dan penuh penyakit. Bandung tampak seperti janji keselamatan tropis: dingin, tertata, dan masih kosong. Pemerintah kolonial kemudian mengirim para insinyur dan perencana kota dari Departement van Openbare Werken untuk menggambar rancangan kota baru.

Kemudian, seorang peneliti bernama H.F. Tillema pada 1916 menulis laporan yang bikin pejabat kolonial geleng kepala: semua kota pelabuhan di Jawa, termasuk Batavia, “tidak sehat dan berbahaya bagi moral.” Udara panas bikin semangat kerja turun, wabah tak pernah reda, dan banjir seperti kalender tahunan. Solusinya? Pindahkan ibu kota ke dataran tinggi.

Bandung muncul sebagai pilihan paling logis. Udaranya sejuk, tanahnya tinggi, dan posisinya strategis di tengah Jawa Barat. Professor J. Klopper dari Technische Hoogeschool te Bandoeng (sekarang ITB) ikut mendukung: “Bandung cocok untuk jadi pusat pemerintahan,” katanya. Orang-orang Belanda tentu cepat jatuh cinta. Setelah seabad berkeringat di Batavia, mereka menemukan surga kecil di Priangan, dengan pemandangan gunung dan hawa seperti Swiss (minus sapi cokelat dan keju).

Sebelum pindah resmi direncanakan, militer sudah lebih dulu menandai kawasan itu. Cimahi dijadikan garnisun utama sejak 1896, menampung infanteri, artileri, dan zeni. Tahun 1908, Bandung ditetapkan sebagai pusat garnisun Hindia Belanda. Jalan kereta Batavia–Bandung–Cilacap dan Jalan Raya Pos memudahkan mobilisasi pasukan, seolah seluruh infrastruktur Daendels dulu memang disiapkan untuk pelarian kolonial ke Priangan.

Rencana besar akhirnya dirumuskan sekitar 1920-an. Pemerintah Kotapraja Bandung menyiapkan 27 hektare tanah untuk kompleks pusat pemerintahan baru bernama Gouvernements Bedrijven. Di atas tanah itu akan berdiri 14 gedung kementerian, dirancang oleh arsitek J. Gerber dengan simbol kemegahan: Gedung Sate. Bangunan itu dibuat dengan biaya 6 juta gulden, angka yang cukup untuk bikin bendahara kolonial kehilangan selera makan siang.

Pemerintah mulai mencicil kepindahan. Kantor Jawatan Kereta Api Negara (Staatsspoorwagen), Pos dan Telepon, serta Dinas Pekerjaan Umum pindah lebih dulu. Departemen Perdagangan ikut menyusul, disusul lembaga kesehatan seperti Institut Pasteur. Bandung menjelma jadi Den Haag tropis. Di sepanjang Jalan Braga berdiri toko-toko dan kafe bergaya art deco, sementara rumah-rumah pejabat Eropa menyebar di Dago dan Riau. Kota itu kemudian dijuluki Parijs van Java, percampuran antara kolonialisme dan gaya hidup bohemian.

Baca Juga: Sejarah Dago, Hutan Bandung yang Berubah jadi Kawasan Elit Belanda Era Kolonial

Tapi takdir selalu punya selera humor. Krisis ekonomi global atau Malaise pada 1930-an membuat kas kolonial menipis. Pembangunan kompleks pemerintahan berhenti di tengah jalan. Sebagian bangunan belum selesai, sebagian lagi mangkrak. Rencana pemindahan ibu kota pun melambat, seperti lokomotif tua yang kehabisan batu bara di tengah tanjakan Lembang.

Tapi Bandung sudah terlanjur berubah. Dari kota sejuk di pegunungan, ia menjelma jadi kota modern dengan hotel-hotel, rumah peristirahatan, dan kantor pemerintahan. Kaum elit Eropa betah tinggal di sini, jauh dari panas dan penyakit Batavia. Jalan Braga menjadi etalase gaya hidup kolonial: bioskop, butik, dan toko roti berderet rapi, seolah-olah potongan kecil Eropa jatuh di tanah Priangan.

Ketika Jepang mulai menekan Belanda pada awal 1942, Bandung benar-benar menjalankan fungsi daruratnya: menjadi tempat perlindungan terakhir.

Gubernur Jenderal Tjarda van Starkenborgh Stachouwer memindahkan aktivitas pemerintahannya ke Bandung. Batavia diserahkan begitu saja tanpa perlawanan. Para pejabat sipil dan militer Belanda berbondong-bondong menuju selatan, mengungsi ke kota yang dulu mereka cita-citakan sebagai ibu kota baru. Bandung menjadi tempat penampungan orang-orang Eropa dari Batavia dan Bogor. Dari sini pula mereka diterbangkan atau dikirim ke Cilacap, lalu menyeberang ke Australia.

Pada 8 Maret 1942, pipnan pasukan Belanda Letnan Jenderal H.W. van Mook dan Mayor S.H. Spoor terbang dari Bandung menggunakan pesawat Dakota menuju Australia, tepat saat pesawat Jepang mulai membombardir Lapangan Udara Andir. Mereka meninggalkan kota yang seharusnya menjadi ibu kota Hindia Belanda.

Bandung memang tak pernah resmi menjadi ibu kota Hindia Belanda. Tapi segala tanda-tanda menuju ke sana sudah nyata. Jalan Raya Pos yang menghubungkan Anyer hingga Panarukan memberi koneksi darat strategis, sementara jalur kereta api Batavia–Bandung–Cilacap memudahkan mobilisasi. Pertahanan militer terkonsentrasi di Cimahi, dan udara sejuk Priangan menjanjikan kehidupan yang lebih sehat bagi birokrat yang alergi pada malaria.

Tapi sejarah berkata lain. Jepang keburu datang, Belanda keburu kalah, dan Indonesia keburu merdeka. Rencana besar itu terkubur bersama berakhirnya kekuasaan kolonial. Gedung-gedung yang sempat dirancang untuk pemerintahan kolonial kini menjadi milik Republik. Gedung Sate, yang semula dirancang untuk memerintah atas nama Ratu Belanda, kini berdiri sebagai simbol Jawa Barat yang merdeka.

Baca Juga: Riwayat Gedung Sate dan Jejak Para Insinyur Kolonial

Jika saja rencana itu terlaksana, sejarah Indonesia akan mencatat Bandung sebagai ibu kota Hindia Belanda, dan kelak mungkin juga ibu kota Indonesia. Tapi takdir lebih suka bermain-main. Batavia yang dulu dikutuk sebagai kuburan orang Belanda kini menjelma jadi Jakarta, kota megapolitan yang menelan semuanya.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 21 Jun 2026, 12:17

Jembatan Cirahong, Warisan Belanda dengan Akses Lantai Ganda

Jembatan Cirahong, warisan dari Belanda yang memiliki dua jalur akses. Berfungsi sebagai rel kereta dan jalan bagi warga.

Jembatan Cirahong masa sekarang. (Sumber: Dokumen Pribadi)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 10:48

Meraih Impian dari Sekolah Terbaik

Menentukan sekolah terbaik pun harus dianggap sebagai langkah yang menentukan impian murid baru terwujud.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels/Agung Pandit Wiguna)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 10:36

Risiko Kecil dari USG yang Berlebihan

Pentingnya membatasi frekuensi USG kehamilan sesuai indikasi medis guna mencegah potensi risiko efek termal dan paparan ultrasonik berlebihan pada janin.

Ilustrasi pemeriksaan USG kandungan pada ibu hamil. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 09:32

Tidak Hanya Judol, Blind Box Juga Dapat Memicu Kecanduan

Blind box justru mendorong perilaku konsumtif dan impulsif pada konsumen Generasi Z.

Ilustrasi blind box. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 09:25

Bukan Sekadar Paspor: Makna Nasionalisme Dalam Skuad Timnas Modern

Performa baik Timnas Indonesia ikut dipengaruhi pemain diaspora.

Ole Romeny (10) bersama Ramadhan Sananta (9) di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Jumat (27/3). (Sumber: kemenpora.go.id | Foto: Herry)
Beranda 20 Jun 2026, 13:46

Mengayuh dengan Cemas di Kota yang Mengaku Ramah Pesepeda

Komunitas pesepeda Bandung memasang Ghost Bike di Jalan Soekarno-Hatta usai tewasnya seorang remaja pesepeda, sekaligus mendesak pemerintah memperbaiki keselamatan infrastruktur jalan.

Komunitas sepeda dan pejalan kaki memasang memorial Ghost Bike di Jalan Soekarno-Hatta sebagai simbol duka atas tewasnya seorang remaja saat bersepeda. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Beranda 20 Jun 2026, 05:35

Membongkar Operasi Informasi yang Tak Kasat Mata di Ruang Digital

Jurnalis diajak mengenali operasi manipulasi informasi di ruang digital, mulai dari disinformasi, narasi terkoordinasi, hingga rekayasa tren di media sosial.

Ika Ningtyas, Koordinator Cek Fakta Tempo, memaparkan cara mengenali operasi manipulasi informasi yang bekerja secara terorganisasi di ruang digital kepada para jurnalis di Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Bandung 19 Jun 2026, 20:59

Dobrak Batas Sinema Remaja, Film ‘Dan Bandung’ Garapan Rudi Soedjarwo Angkat Isu Strict Parents

Peta sinema romansa tanah air bersiap menyambut angin segar lewat manuver terbaru Verona Films yang resmi mengumumkan proyek layar lebar Dan Bandung.

Peta sinema romansa tanah air bersiap menyambut angin segar lewat manuver terbaru Verona Films yang resmi mengumumkan proyek layar lebar Dan Bandung. (Sumber: Ist)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 20:00

Ciparay: Lumbung Padi Jawa Barat dari Dulu sampai Kini

Kecamatan Ciparay merupakan sentra produksi beras terbesar di wilayah Jawa Barat.

 (Sumber: KITLV, Diakses tangal 3 Juni 2026)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 18:45

Memahami Cara Ngiklan Game Digital, Bagaimana Valorant Memperkenalkan Skin Senjata agar Tak Biasa

Valorant resmi merilis skin terbarunya yang berjudul “Kuronami 2.0”, sebuah koleksi skin premium yang hadir untuk senjata Phantom, Operator, Guardian, Ghost, dan Melee.

Gambar Skin Senjata Kuronami 2.0
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 17:43

Naik Kereta Sambil Ketemu Karakter Favorit? Ternyata Ada Strategi Besar di Baliknya

Bagaimana sebuah kolaborasi karakter animasi lokal berhasil membuat audiens connect di berbagai platform dengan pendekatan yang disesuaikan, tanpa kehilangan benang merahnya.

Transportasi publik yang digunakan masyarakat Indonesia setiap harinya. (Sumber: Pexels | Foto: Noel Snpr)
Wisata & Kuliner 19 Jun 2026, 17:09

Hutan Pinus Rahong Pangalengan, Destinasi Sejuk dengan Sungai dan Camping Ground

Hutan Pinus Rahong menawarkan suasana teduh, camping, rafting, hingga glamping. Kenali 6 klaster wisata dan daya tarik alamnya sebelum berkunjung.

Hutan Pinus Rahong, Pangalengan.
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 17:00

Toponimi Lembang (bagian 3 – Habis)

Di Lembang terdapat sebuah bukit yang berada di selatan observatorium Bosscha, yang dahulunya hanya merupakan bukit biasa yang ditumbuhi ilalang.

Kampung Lapang, Cikole, Lembang, pada saat pendudukan Jepang. Dapat terlihat Gunung Putri di belakang sebagai latar. (Sumber: wereledculturn.nl)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 16:18

Jari, Kata, dan Hati

Sentuhan jari di atas gawai, dapat mengirim kabar baik, berbagi ilmu, menguatkan persaudaraan, sebaliknya bisa menyebarkan hoaks, ujaran kebencian, dan fitnah.

Saatnya menulis di Ayo Bandung (Sumber: Pexels/Ron Lach)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 15:46

Wewenang Kekuasaan Adityawarman di Kerajaan Malayu

Membahas mengenai peran Raja Adityawarman selama memimpin Kerajaaan Malayu.

Candi Muaro Jambi (Sumber: Pemerintah Provinsi Jambi (jambiprov.go.id))
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 15:09

Mengapa SNI Gempa Masih Jadi Formalitas di Indonesia

Esai ini membahas lemahnya penerapan SNI 1726:2019 sebagai standar ketahanan gempa pada bangunan rumah tinggal di Indonesia, yang saya telaah dari sudut pandang keilmuan teknik sipil.

Ilustrasi kerusakan akibat gempa.
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 13:39

Strategi Penyampaian Pesan dalam Publikasi Film melalui Website dan Media Sosial

Website resmi menyajikan informasi yang lebih lengkap mengenai film, pemeran, dan jadwal penayangannya.

Ilustrasi menonton film. (Sumber: Pexels | Foto: Pavel Danilyuk)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 11:44

Menelusuri Jejak dan Pola Aktivitas Manusia Masa Lampau di Situs Gua Batu

Daerah Pegunungan Meratus adalah surga bagi kehidupan ribuan tahun silam.

Kondisi Gua Batu dari Luar (Sumber: Geopark Meratus)
Wisata & Kuliner 19 Jun 2026, 11:06

Wisata Kawasan Tunjungan Surabaya: Sejarah, Kuliner, dan Walking Tour Heritage

Jelajahi Kawasan Tunjungan Surabaya yang memadukan sejarah perjuangan, bangunan kolonial, wisata kuliner, hingga walking tour heritage yang sedang populer.

Kawasan Tunjungan Surabaya. (Sumber: Pemkot Surabaya)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 10:47

Siapa yang Menceritakan Indonesia? Perpektif dalam 'Semua untuk Hindia' dan 'Indonesia Calling'

Mengupas dilema orang Eropa hingga solidaritas buruh internasional demi melihat kemerdekaan dari sisi kemanusiaan.

Cover buku Kumpulan Carpen Semua Untuk Hindia dan Tangkapan Layar Pribadi Film Indonesia Calling (Sumber: Indonesiana.id dan channel youtube @pcasmilus)