Jejak Kabupaten Batulayang, Lumbung Kopi Belanda di Era Preangerstelsel

5 menit baca
Atep Kurnia Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Atep Kurnia , Hengky Sulaksono diterbitkan
Salinan peta pada 1790 oleh Midderhof yang menggambarkan daerah gudang penyimpanan kopi dari Bandung dan Batulayang. (Sumber: sejarah-nusantara.anri.go.id)
Salinan peta pada 1790 oleh Midderhof yang menggambarkan daerah gudang penyimpanan kopi dari Bandung dan Batulayang. (Sumber: sejarah-nusantara.anri.go.id)

AYOBANDUNG.ID – Di masa lampau, sebelum kopi jadi komoditas gaya hidup dan simbol eksistensi di kafe-kafe urban, Batulayang sudah lebih dulu mencium aromanya yang harum. Pada pertengahan abad ke-18, Batulayang bukan sekadar kabupaten kecil di pelosok Priangan. Ia adalah salah satu penghasil kopi terkemuka Hindia Belanda.

Bersama Bandung dan Parakanmuncang, nama Batulayang tercatat dalam statistik Kompeni sebagai penyumbang biji kopi terbaik untuk pasar Eropa. Harumnya menyeberangi lautan, sementara rakyatnya memanggul pikul-pikul kopi menuruni bukit dan menyeberangi sungai.

Dalam artikel Kopi dari Batulayang, 1777–1802 di Ayobandung, pemerhati sejarah Atep Kurnia menulis nama Batulayang disebut secara mandiri dalam laporan kebun kopi tanggal 15 April 1766. Sekitar 70 tahun setelah kopi pertama kali ditanam di Priangan, wilayah ini mulai dipandang sebagai kekuatan tersendiri. Tahun 1777, produksi Batulayang dilaporkan mencapai 800 pikul kopi.

Jumlah tersebut tidak bisa disebut main-main untuk ukuran kabupaten baru, cukup untuk membuat VOC menetapkan komisi dua dolar Spanyol per pikul bagi bupatinya, setara dengan yang diterima bupati Bandung dan Sumedang. Sebuah pengakuan kelas yang tidak datang begitu saja.

Kabupaten lain seperti Parakanmuncang dan Cianjur hanya dapat dua dolar. Terlihat, Batulayang kala itu punya pamor. Bahkan dalam laporan 20 September 1785, tercatat 200 ribu batang kopi tumbuh di Batulayang, jauh dari kecil jika dibanding Bogor (1 juta) atau Cianjur (2 juta).

Kebun-kebun kopi Batulayang menjalar di lereng-lereng, ditanam dengan disiplin dan diangkut dengan susah payah ke titik-titik pengumpulan. Dari Batulayang ke pelabuhan darat Cikao, kopi mesti menempuh perjalanan berhari-hari, ditarik oleh kerbau dan pedati. Tahun 1790, tercatat dari Bandung dan Batulayang saja terkirim 500 pedati dengan 1.000 kerbau. Kopi memang emas hitam, tapi emas yang berat dan melelahkan.

Tapi seperti kopi yang terlalu lama dibiarkan dalam cangkir, kejayaan Batulayang perlahan mendingin. Penanaman besar-besaran justru membuat perawatan kewalahan. Dalam laporan tahun 1798, Batulayang hanya menyumbang pendapatan 2.624 dolar Spanyol, sangat kecil dibanding Bandung yang mencapai 21.844. Kompeni mulai gelisah, dan suara ancaman pun muncul.

Permasalahannya bukan hanya kopi. Bupatinya, Tumenggung Rangga Adikusumah, lebih sibuk dengan opium dan minuman keras daripada dengan tanam paksa. Laporan dari kumitir pribumi kala itu menyebut bupati Batulayang sangat suka minum dan opium. Laporan sebelumnya bahkan sudah menyebut perilaku buruk ini sejak 1797, tapi Kompeni masih berharap setoran kopi bisa menebus dosa.

Baca Juga: Batulayang Dua Kali Hilang, Direbus Raja Jawa dan Dihapus Kompeni Belanda

Sayangnya, itu tidak terjadi. Produksi makin merosot, sawah tak ada, dan rakyat kelaparan. Pada 1802, VOC mengambil keputusan tegas: Batulayang dibubarkan dan digabungkan ke Bandung. Sang bupati dipecat dan diasingkan ke Mangga Dua, Batavia.

Yang tersisa dari kejayaannya hanyalah daftar harta yang lebih menyedihkan ketimbang membanggakan: enam baju berkancing emas, satu keris berlapis emas, dan 150 kuda betina. Produksi kopi terakhirnya hanya tinggal 1.489 pikul. Jauh dari masa ketika Batulayang pernah disejajarkan dengan penghasil kopi terbaik di Jawa.

Kini, Batulayang tinggal nama dalam lembaran arsip kolonial. Ia pernah harum, pernah jaya, tapi kemudian tenggelam oleh kelalaian dan kerakusan. Seperti kopi basi yang tak lagi layak diseruput, kisah Batulayang adalah pengingat bahwa kejayaan, bila tak dijaga, bisa cepat menjadi kisah kehilangan.

Proses pemilahan bijih kopi di Subang pada era kolonial. (Sumber: Wikimedia)
Proses pemilahan bijih kopi di Subang pada era kolonial. (Sumber: Wikimedia)

Jejak Preangerstelsel di Tanah Priangan

Wilayah pegunungan di Tatar Sunda itu pernah menjadi lokasi eksploitasi pertanian paling sistematis yang pernah dijalankan pemerintah kolonial Belanda. Sistem itu dikenal sebagai Preangerstelsel.

Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran (Unpad), Mumuh Muhsin Z., dalam Produksi Kopi di Priangan pada Abad ke-19 menyebut tanah Priangan dijadikan sentra penanaman kopi oleh Belanda pada masa itu.

Preangerstelsel secara harfiah berarti “sistem Priangan”. Ia mulai diterapkan sejak VOC menguasai wilayah ini pada tahun 1677, dan terus berlangsung hingga tahun 1870, ketika pemerintah kolonial Belanda mengubah haluan ekonomi melalui sistem liberal. Artinya, selama hampir dua abad, Priangan dijadikan laboratorium pemaksaan tanam kopi yang hasilnya sepenuhnya dimonopoli pemerintah kolonial.

Sistem ini pada dasarnya mewajibkan penduduk desa di Priangan untuk menanam kopi di lahan mereka sendiri. Pemerintah kolonial tidak turun langsung dalam pengelolaan, melainkan menyerahkan segala urusan kepada struktur birokrasi lokal—dari bupati, demang, hingga kepala desa. Para pejabat pribumi ini diberi tanggung jawab mengorganisasi produksi, distribusi, dan pemungutan hasil panen kopi. Kompeni hanya mengatur kuota dan pengiriman, serta menetapkan harga beli yang jauh di bawah nilai pasar dunia.

Dalam praktiknya, Preangerstelsel menjelma menjadi bentuk tanam paksa terselubung yang berlangsung jauh sebelum diberlakukannya Cultuurstelsel secara nasional pada 1830. Bahkan, sistem inilah yang kemudian dijadikan model bagi pelaksanaan tanam paksa di daerah lain. Preangerstelsel juga tidak benar-benar dihapus ketika sistem liberal diterapkan, terutama untuk komoditas yang masih dianggap menguntungkan seperti kopi.

Kopi sendiri mulai ditanam di Priangan sejak 1707. VOC yang semula mengimpor kopi dari Yaman, beralih ke produksi lokal setelah harga kopi dari Timur Tengah melambung akibat persaingan dagang internasional. Priangan dipilih karena kondisi geografisnya cocok, dan karena pemerintah kolonial dapat mengendalikan penduduknya secara administratif.

Baca Juga: Gunung Selacau, Jejak Dipati Ukur dan Letusan Zaman yang Kini Digilas Tambang

Hasilnya cukup mencengangkan. Pada 1723, tercatat lebih dari dua juta pohon kopi tumbuh di wilayah ini, sebagian besar sudah berbuah. Hanya dua tahun berselang, kopi Priangan mulai mengungguli Yaman dalam produksi global. Bahkan, pada 1726, VOC menguasai 50% hingga 75% perdagangan kopi dunia, dengan 75% di antaranya berasal dari Priangan.

Keresidenan Priangan tak cuma dijadikan kebun pemerintah. Sejak awal abad ke-19, muncul pula perkebunan kopi swasta. Di Ujungberung, Ciputri, Gunung Parang, kopi ditanam di tanah pribadi. Tahun 1813, kopi swasta sudah ikut panen, meski baru menyumbang 7% dari total produksi.

Puncak kejayaan kopi Priangan berlangsung hingga pertengahan abad ke-19. Antara tahun 1840 hingga 1849 saja, pemerintah kolonial memperoleh keuntungan sebesar 65 juta gulden dari kopi. Sebagian besar dihasilkan dari tangan petani di wilayah pegunungan ini. Namun, pada 1860-an, posisi Priangan sebagai penghasil utama mulai digeser oleh wilayah lain seperti Keresidenan Pasuruan.

Priangan yang hari ini dikenal sebagai penghasil kopi berkualitas, dulunya adalah ladang pemaksaan yang panjang dan melelahkan. Sejarah Preangerstelsel menjadi pengingat bahwa wangi kopi tak selalu berasal dari proses yang adil, kadang juga dari peluh yang dipaksa mengalir.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 19 Sep 2026, 20:19

Mengenang Wa Kepoh Maestro Dongeng Sunda di Gelombang Radio

Sandiwara Radio Saur Sepuh, yang pernah membuat pendengarnya di berbagai daerah larut dalam cerita.

H. Ahmad Sutisna alias Wa Kepoh, maestro dongeng Sunda dan salah satu tokoh penting dalam dunia penyiaran radio di Jawa Barat. (Sumber: Tabloid Nova, September 1996.)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 19:40

Tantangan Literasi Antara Menulis dan Kepunahan Bahasa Daerah

Begitu miris ketika kita membaca judul "Benarkah Indonesia mengalami Darurat Literasi?" Ada banyak penulis yang hanya sekadar menulis, tetapi tidak ada visi menjaga literasi terutama bahasa lokal.

Ilustrasi orang Sunda. (Sumber: Unsplash/Mahmur Marganti)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 18:17

Mengenal Bahaya Letusan Gunung Berapi di Bandung Raya dan Sekitarnya

Temukan ulasan mendalam mengenai potensi bahaya vulkanik di Bandung Raya. Pelajari langkah mitigasi yang tepat dan tingkatkan kesiapsiagaan Anda demi keselamatan bersama dari ancaman bencana alam.

Hoogvlakte van Bandoeng autowegenkaart, D E 29,1. Bandoeng: HOVIC, ca. 1920 (Peta jalan Dataran Tinggi Bandung, D E 29.1. Bandung: HOVIC, ca. 1920). (Sumber: Digital Collections Universteit Leiden | Foto: Anonim)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 17:46

Optimis atau Oportunis

Dari aktivis pro–demokrasi yang berujung menjadi elit rezim yang selalu mereka tentang selama masa nya menjadi mahasiswa.

Budiman Sudjatmiko bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mendeklarasikan kelompok relawan Prabowo-Budiman Bersatu (Prabu) di Semarang, Jawa Tengah pada Jumat (18/08/2023). (Sumber: Gerindra.id)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 20:09

Sejarah dan Transformasi Nahdlatul Ulama di Bumi Pasundan (1926–1967)

Kehadiran Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah ini bukanlah sebuah kebetulan sejarah, melainkan kebutuhan strategis untuk menjaga keseimbangan antara tradisi pesantren yang mengakar dan gelombang modernism

Gedung Dakwah PWNU Jawa Barat. (Sumber: Tangkapan layar YT: Kang inoe)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 17:52

Hebatnya Kreatifitas Dasa Warsa 1980-an

Bernostaldia dengan kehidupan remaja tahun 1980-an.

Motor klasik vespa. (Sumber: Pexels | Foto: setengah lima sore)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 15:17

Ketika Anak Bangsa Kehilangan Kesempatan Menjadi Cerdas dan Kritis

Sebetulnya apa yang menjadi akar persoalan dalam pendidikan kita. Pendidikan seharusnya tidak hanya butuh jawaban benar, tetapi bagaimana anak bisa bertanya secara kritis dan berpikir cerdas.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels | Foto: Ida Rizkha)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 14:01

Jejak Rasa dan Budaya Kuliner Arab di Tatar Sunda

Kuliner Arab di Jawa Barat tumbuh dari jejak migrasi menjadi bagian dari keragaman rasa dan budaya Tatar Sunda.

Nasi kebuli, hidangan khas Timur Tengah yang populer di kalangan masyarakat Arab di Indonesia, termasuk di Jawa Barat. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 12:26

Ketika Layar Perak Menjadi Denyut Hiburan Bandung Tempo Doeloe

Jejak bioskop Bandung tempo dulu merekam bagaimana hiburan, kehidupan sosial, dan perkembangan kota pernah berpadu di balik layar perak.

Iklan ucapan selamat hari jadi Kota Bandung dari perusahaan film N.V. Sirna Galih Ind. Ltd.. Iklan tersebut memuat daftar bioskop yang dikelolanya. (Sumber: Dimuat dalam Pikiran Rakjat, 31 Maret 1956 | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 09:59

200 Ikon Bandung #7: Karmaka Surjaudaja

Kisah Karmaka Surjaudaja menjadi teladan tentang perjuangan, kejujuran, dan ketekunan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Adegan dalam film Love and Faith pada 2015, yang menceritakan kisah kehidupan Karmaka. (Sumber: Love and Faith)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 08:23

Bukan Macan yang Salah Cari Alamat, tapi Kita yang Mengubah Alamat Mereka

Macan yang masuk kampung atau kera yang turun ke permukiman bukan sekadar kisah tentang satwa yang “nakal”.

Seekor macan terdampar di rumah warga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Istimewa via ayobandung.com)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 18:03

Menelusuri Jejak 216 Tahun Kota Bandung dalam Surat Kabar Lawas

Bandung adalah kota yang tumbuh dari perjalanan sejarah yang panjang.

Beberapa surat kabar yang pernah menjadi bagian dari kehidupan dan kebanggaan warga Bandung pada era 1970–1990-an. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 17:34

Jejak Gunung Api Purba di Kabupaten Bandung Barat

Singkapan batuan dan ignimbrit di Kabupaten Bandung Barat menjadi bukti keberadaan aktivitas gunungapi purba yang dapat dipelajari melalui geowisata.

Hasil kerajin patung kuyabatok dari batu di Kampung Ciawitali, Desa Cipangeran, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, memenuhi pesanan dari Jepara, Jawa Tengah, untuk diekspor ke Korea. (Sumber: T Bachtiar)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 16:05

Badut, Mimpi, dan Rizki

Mimpi tidak pernah benar-benar sendirian. Ya selalu ditemani ikhtiar, doa, dan keberanian untuk terus mencoba. Kendati, di antara semua itu, ada satu yang sering kita lupakan. Pekerjaan yang halal

Riasan badut yang dikenakannya saat merayakan wisuda bukan sekadar untuk tampil berbeda, (Sumber: Dokumentasi istimewa/ Kak Hakim (@badutbandung_kakhakim12))
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 15:09

Merdeka Berdaya, Merdeka Berkarya: Kaum Marginal Membangun Masa Depan

Setiap goresan tinta yang tercurahkan melalui hati, merupakan ketegaran dalam setiap halaman.

Bedah Buku "Prajurit Yang Tenggelam" Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas II B Majalengka. (Foto: Ayu Maimun)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 13:49

Rp7.000 dan Masa Depan Supir dan Angkot Bandung

Angkot berseliweran, penumpang naik-turun, uang masuk. Sopir mengejar setoran. Calon penumpang dicari. Angkot ngetem ketika dianggap perlu. 

Warga hendak turun dari angkot. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 12:08

200 Ikon Bandung #6: Raden Adipati Wiranatakusumah II, Dalem Kaum Bukan Hanya Nama Jalan

Di balik nama Dalem Kaum, tersimpan jejak Wiranatakusumah II sebagai salah satu tokoh penting dalam lahirnya Kota Bandung.

Alun-Alun Bandung pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 09:38

Belajarlah Mencintai Bandung Seperti Haryoto Kunto Sang Kuncen Bandung

Selami kisah Haryoto Kunto, sang Kuncen Bandung dan temukan cara terbaik mencintai Kota Kembang (Paris van Java) lewat sejarah, romantisme dan sudut pandang mendalam.

Ilustrasi buku karya Haryoto Kunto. (Sumber: Istimewa)
Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)