Apa yang Mereka Takutkan dari Keberadaan Buku dan Perempuan?

5 menit baca
Dias Ashari
Ditulis oleh Dias Ashari diterbitkan
Perempuan, Ide dan Gagasannya (Sumber: Gemini AI)
Perempuan, Ide dan Gagasannya (Sumber: Gemini AI)

Dalam Islam, perintah pertama yang turun ke muka bumi adalah iqra yang artinya membaca. Membaca adalah perintah dari langit yang Tuhan ajarkan kepada manusia. Lewat perintah ini Tuhan memberikan pesan bahwa pengetahuan itu sangat penting. Maka sudah sepatutnya ketika diciptakan menjadi seorang manusia, harus mengupayakan dan mempelajari ilmu yang terbentang luas di muka bumi.

Perintah membaca bukan sekedar kitab suci yang di imani tapi maknanya lebih luas dari itu. Bagaimana manusia seharusnya bisa membaca buku para pemikir hebat, membaca fenomena yang terjadi di lingkungan sekitar, membaca alam semesta dan segala Ciptaan-Nya, bahkan manusia harus bisa membaca dirinya sendiri untuk tahu apa tujuannya dilahirkan ke muka bumi ini.

Lewat buku Laut Bercerita karya Leila S. Chudori, saya sempat bersyukur bisa hidup di zaman masyarakat yang membebaskan membaca buku. Tidak seperti yang dialami para mahasiswa dan aktivis yang hidup di tahun 1998-an yang diculik, dibunuh dan dipenjara hanya karena membaca dan memiliki buku.

Namun setelah pemberitaan aksi demo di Bandung pada tanggal 29 Agustus hingga 3 September 2025 mengingatkan saya pada cerita dalam novel tersebut. Di mana para demonstran ditangkap dan dijadikan tersangka. Tak hanya itu polisi turut menyita puluhan buku yang dianggap sebagai bahan bacaan yang merujuk ideologi anarkisme.

Ternyata bukan senjata api yang ditakutkan oleh para pemangku kebijakan tapi buku. Fenomena ini membuat saya berpikir bahwa memang sebesar itu peran buku untuk bangsa ini.

Buku selama ini menjadi salah satu sumber ilmu pengetahuan yang menurut saya bisa merubah pola pikir masyarakat, selain pendidikan dan pengalaman hidup.

Buku menjadi jendela dunia bagi siapa saja yang menyelami isinya. Sesederhana kita bisa mengetahui keindahan dan kemegahan negara lain lewat tulisan-tulisan yang memperkenalkannya.

Melalui buku bahkan kita bisa merasakan pengalaman mengunjungi suatu tempat tanpa harus hadir secara nyata. Misalnya dalam buku Perempuan yang Menunggu di Lorong Menuju Laut kita bisa tau dibalik indahnya Pulau tersebut terdapat kondisi masyarakat yang memperlakukan perempuan tanah Sumba dengan tidak adil.

Lewat Buku Perawan Remaja dalam Cengkraman Militer kita bisa tahu sejarah yang pernah terjadi di Pulau Buru saat masa penjajahan.

Lewat buku juga kita bisa mengetahui bagaimana kondisi sosial-ekonomi yang terjadi di belahan dunia lain. Misalnya dari buku Kim Ji-yeong Born 1982 kita bisa mengetahui bagaimana kehidupan perempuan yang menghadapi praktik misoginis dan penindasan institusional sepanjang hidupnya. Serta bagaimana dampak feminisme terhadap perempuan di Korea.

Dan masih banyak lagi dari buku yang bisa kita ambil hikmah dan pelajarannya.

Melalui buku juga bisa mengembangkan keterampilan kognitif seseorang sehingga punya daya nalar dan interpretasi informasi yang baik.

Tak hanya di Indonesia, penyitaan buku juga dilakukan di negara Afganistan. Baru-baru ini melalui BBC News melaporkan bahwa kelompok Taliban melarang buku-buku karya perempuan di seluruh Universitas yang ada di Afghanistan.

Pelarangan tersebut terjadi karena Taliban memang gerakan politik yang fundamental terhadap syariat. Sehingga tersebarnya buku-buku tersebut dianggap menodai dan menghalangi pergerakannya.

Bahkan berdasarkan kebijakan baru yang dibuat oleh pemerintah-- pengajaran tentang HAM dan pelecehan seksual tidak diperbolehkan.

Menurut Zakia Aseli mantan wakil menteri kehakiman Afghanistan hal tersebut bisa terjadi karena pola pikir dan kebijakan misoginis.

Mengingat pola pikir dan kebijakan misoginis Taliban, sudah barang tentu ketika perempuan tidak diizinkan belajar, pandangan, ide, dan tulisan mereka juga ditekan.

Pertanyaannya lantas kenapa keberadaan buku sangat ditakuti oleh mereka yang duduk di bangku kekuasaan?

Perjuangan memang bukan suatu hal yang mudah untuk dijalani, terlebih jika kamu adalah seorang perempuan. (Sumber: Pexels/Min An)
Perjuangan memang bukan suatu hal yang mudah untuk dijalani, terlebih jika kamu adalah seorang perempuan. (Sumber: Pexels/Min An)

Pertama, buku adalah ancaman kekuasaan. Suatu negara yang memiliki kontrol penuh terhadap masyarakat biasanya punya kekuasaan yang rapuh, karena yang bisa dilakukannya hanya menekan masyarakat kecil. Sementara buku memungkinkan masyarakat untuk berpikir kritis dan bisa mengobrak-abrik kebijakan yang menyengsarakan masyarakat. Dengan berpikir kritis masyarakat akan mempertanyakan kekuasaan dan mencari kebenaran yang ada di luar narasi resmi.

Kedua, Pemicu perubahan dan sistem demokrasi. Buku layaknya seperti katalisator kimia dalam otak yang menghasilkan hormon dopamin, glutamat dan serotonin. Sementara buku adalah katalisator perubahan sosial dan politik yang ada di suatu negara. Ide-ide yang didapatkan dari buku bisa memicu kesadaran masyarakat untuk melakukan diskusi. Berujung pada sikap menentang kebijakan yang dianggap meresahkan.

Ketiga, Menghindari terjadinya debat dan mencegah pemikiran kritis. Seperti beberapa kasus ke belakang bahwasannya beberapa anggota DPR dan pemimpin negara justru kabur dan menghindari debat saat rakyat melakukan aksi demo. Bahkan aksi demo kali ini tidak lepas dari ucapan mereka yang sembrono, yang tidak mencerminkan seorang pemimpin. Para penguasa takut untuk berdebat dengan masyarakat yang dekat dengan buku, karena pada faktanya saat penjarahan terjadi hampir semua anggota dewan tidak memiliki buku, yang ada hanya barang mewah dan fasilitas rumah yang megah.

Keempat, Paranoid terhadap teks dan ideologi. Penyitaan buku yang dilakukan oleh negara mencerminkan ketakutan penguasa terhadap teks yang dianggap berbahaya. Bahkan sebelum menyatakan buku itu berbahaya mereka belum pernah mencoba membacanya sama sekali. Teks yang ada dalam buku dan setiap halaman kertas yang ada seolah lebih menakutkan dibandingkan dengan senjata.

Lantas bagaimana dengan perempuan ?

Apa yang begitu mereka takutkan dari perempuan yang mereka anggap lemah ? Fisiknya? Tentu bukan.

Apa yang begitu mereka takutkan dari perempuan yang mereka anggap bisa dikendalikan ? Kecantikannya ? Tentu bukan.

Bukan kemolekan tubuhnya tapi ide dan gagasannya.

Perempuan yang diberikan kesempatan untuk mengakses pendidikan membuat laki-laki takut kalau perempuan bisa be-reformasi melalui pola pikirnya.

Perempuan yang diberikan kesempatan untuk belajar membuat laki-laki takut kalau perempuan itu pintar.

Lewat buku, laki-laki takut jika perempuan mulai berpikir. Laki-laki takut melalui pola pikirnya-- perempuan bisa membuat pergerakan dan perubahan. Laki-laki takut kalau perempuan mulai punya kesadaran.

Karena perempuan yang punya kesadaran untuk berpikir tidak mudah untuk dimanipulasi. Perempuan yang berpikir tidak mudah diperalat. Dan yang paling penting perempuan yang berpikir tidak akan mudah dijadikan objek seksualitas semata.

Lalu laki-laki takut jika perempuan mulai menuangkan ide dan pemikiran kritisnya lewat buku. Karena lewat tulisan, perempuan bisa menyebarkan pemikirannya kepada perempuan lain untuk berani "BERKESADARAN". (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)