ASN Belajar dari Genggaman, dari Layar Kecil Menuju Perubahan Besar

Nurhaniyah Muharani
Ditulis oleh Nurhaniyah Muharani diterbitkan Rabu 01 Okt 2025, 17:00 WIB
 (Sumber: ChatGPT | Foto: Ilustrasi)

(Sumber: ChatGPT | Foto: Ilustrasi)

Pernahkah Anda melihat seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) sibuk menatap layar ponselnya saat istirahat makan siang?

Bukan sekadar scroll media sosial, tapi ternyata ia sedang mengikuti microlearning berdurasi lima menit. Inilah wajah baru pembelajaran ASN hari ini, lebih fleksibel, ringkas, dan selalu ada di genggaman.

Namun, di balik peluang besar itu, masih ada sejumlah masalah yang membuat transformasi digital ASN belum sepenuhnya mulus.

***

Meski konsep pembelajaran digital bagi ASN semakin populer, realitanya masih banyak tantangan yang harus dihadapi. Pertama, dari sisi konten, masih minimnya jumlah pengembang media pembelajaran menyebabkan materi digital yang tersedia terasa “jadul”.

Banyak program pelatihan hanya sekadar mengubah modul cetak menjadi file PDF panjang, tanpa ada upaya mendesain ulang agar lebih interaktif. Misalnya, dalam beberapa pelatihan teknis di BPSDM daerah, peserta hanya diberikan akses file PDF setebal ratusan halaman yang harus dibaca melalui LMS.

Tidak heran, sebagian ASN mengaku lebih memilih mencetak modul ketimbang membaca di layar ponsel. Kondisi ini membuat pembelajaran digital berisiko kehilangan daya tarik dan hanya menjadi formalitas administratif.

Kedua, tantangan datang dari literasi digital ASN yang belum merata. Generasi ASN muda umumnya lebih cepat beradaptasi dengan penggunaan LMS, aplikasi mobile, atau video pembelajaran. Namun, tidak sedikit ASN senior yang merasa canggung menggunakan teknologi.

Dalam pelaksanaan e-learning di LAN, misalnya, masih sering ditemukan peserta yang kesulitan login ke sistem atau bingung mengunggah tugas, hingga akhirnya membutuhkan pendampingan teknis secara intensif. Kesenjangan literasi ini menciptakan pengalaman belajar yang timpang, padahal kebutuhan untuk meningkatkan kompetensi berlaku sama bagi seluruh ASN, tanpa memandang usia atau latar belakang.

Ketiga, persoalan akses internet dan infrastruktur masih menjadi hambatan besar. ASN yang bertugas di kota besar dengan jaringan stabil dapat dengan mudah mengikuti kelas online, sementara rekan mereka di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, terluar) sering kali harus berjuang mencari sinyal untuk sekadar membuka materi.

Contohnya, dalam program diklat daring yang diikuti ASN dari daerah wilayah 3T, sejumlah peserta melaporkan harus berjalan ke bukit atau menunggu tengah malam agar jaringan lebih lancar. Situasi ini menimbulkan ketidaksetaraan kesempatan belajar dan pada akhirnya berlawanan dengan semangat pemerataan pengembangan kompetensi ASN di seluruh Indonesia.

Mengapa Masalah Ini Terjadi?

Kalau ditelusuri, masalah ini bukan karena ketiadaan aturan. Justru regulasi sudah cukup jelas. UU No. 20 Tahun 2023 tentang ASN menegaskan bahwa setiap ASN wajib mengembangkan kompetensinya sepanjang karier. PP No. 17 Tahun 2020 mendorong inovasi metode pembelajaran. Bahkan, Peraturan LAN No. 10 Tahun 2018 sudah menggariskan pemanfaatan teknologi dalam pelatihan jarak jauh.

Sayangnya, implementasi di lapangan masih terbatas. Banyak instansi masih menganggap pelatihan berarti tatap muka di kelas, bukan di layar ponsel. Budaya belajar ASN juga belum sepenuhnya berubah. Sebagian ASN merasa cukup ikut diklat tahunan tanpa merasa perlu belajar secara mandiri.

Di sisi lain, Perpres No. 95 Tahun 2018 tentang SPBE memang menekankan digitalisasi birokrasi, tetapi pembangunan infrastruktur masih berjalan bertahap. Dengan kata lain, masalah utama bukan pada kebijakan, melainkan pada kesenjangan sumber daya, budaya belajar, dan kesiapan teknologi.

Ilustrasi Aparatur Negeri Sipil (ASN). (Sumber: Pexels/Brett Jordan)
Ilustrasi Aparatur Negeri Sipil (ASN). (Sumber: Pexels/Brett Jordan)

Lalu, apa jalan keluarnya? Jawaban sederhana: kembangkan media pembelajaran yang benar-benar ramah gawai. Hampir semua ASN punya smartphone. Maka, tugas instansi adalah menjadikan smartphone sebagai “kelas mini” yang selalu siap digunakan.

Media pembelajaran perlu dikemas lebih menarik: microlearning 3–5 menit, video pembelajaran, hingga podcast pembelajaran bagi ASN yang bisa didengar sambil bekerja. Dengan cara ini, belajar terasa ringan, fleksibel, dan tidak mengganggu rutinitas.

Dengan menghadirkan terobosan nyata berupa program pembelajaran yang dikemas dalam aplikasi khusus bagi ASN. Aplikasi tersebut dirancang sederhana, ringan, dan mudah diakses melalui smartphone, sehingga setiap ASN, baik di kota maupun pelosok, bisa belajar kapan saja tanpa terkendala perangkat.

Dengan fitur microlearning, video singkat, hingga podcast pembelajaran, aplikasi ini bukan hanya menjadi media belajar, tetapi juga membentuk budaya belajar baru yang lebih fleksibel dan berkelanjutan. Kehadiran inovasi ini akan menjadi kontribusi nyata Pengembang Teknologi Pembelajaran dalam memastikan transformasi digital ASN berjalan lebih merata dan inklusif.

Beberapa instansi sebenarnya sudah mulai menunjukkan terobosan nyata dalam menghadirkan pembelajaran ASN berbasis gawai. Kementerian PANRB, misalnya, mengembangkan aplikasi SmartASN yang menyediakan modul pembelajaran digital dalam versi mobile sehingga bisa diakses ASN kapan saja. LAN juga menghadirkan fitur “ASN Berpijar” di dalam aplikasi SIPKA, berisi puluhan topik microlearning interaktif lengkap dengan sertifikat dan konversi jam pelajaran.

Di tingkat daerah, Pemerintah Aceh melalui BPSDM meluncurkan aplikasi SIKULA untuk mengelola proses tugas belajar ASN secara transparan dan efisien. Selain itu, beberapa BPSDM, seperti Jawa Barat, telah menginisiasi webinar dan workshop literasi digital agar ASN terbiasa membuat dan memanfaatkan konten pembelajaran modern. Berbagai contoh ini membuktikan bahwa transformasi belajar dari genggaman bukan sekadar wacana, tetapi sudah berjalan dan tinggal diperluas cakupannya.

Namun, keberhasilan aplikasi-aplikasi ini tidak hanya ditentukan oleh peluncurannya saja, melainkan juga oleh pengelolaan yang berkelanjutan, baik dari sisi pengembangan materi yang relevan dan up-to-date, maupun penyempurnaan tampilan aplikasi agar semakin ramah pengguna dan menarik bagi ASN.

Selain itu, literasi digital ASN juga harus ditingkatkan. Pelatihan bukan hanya soal materi, tetapi juga pembiasaan menggunakan aplikasi, mengunduh materi, atau memanfaatkan fitur offline. ASN generasi senior pun bisa terbantu jika diberi pendampingan yang sabar.

Tentu, semua ini harus ditopang oleh infrastruktur digital yang lebih merata. Pemerintah perlu memastikan akses internet stabil hingga pelosok, menyediakan kuota belajar, dan mengembangkan aplikasi pembelajaran yang ringan. Dengan begitu, setiap ASN, baik di kota maupun daerah terpencil, punya peluang yang sama untuk belajar.

Baca Juga: Learning Agility: Panduan Survival di Era Perubahan

Fenomena belajar lewat gawai membuktikan bahwa budaya belajar ASN sedang berubah. Smartphone bukan lagi sekadar alat komunikasi, melainkan ruang belajar yang bisa diakses kapan saja. Regulasi sudah memberi landasan kuat, mulai dari UU ASN 2023 hingga Perpres SPBE 2018. Kini tinggal bagaimana ASN dan instansi mau memanfaatkannya secara maksimal.

Saatnya birokrasi melompat, bukan merangkak. Kalau belajar bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja, tak ada alasan lagi bagi ASN untuk berhenti berkembang. Layar kecil di genggaman ini bisa membawa dampak besar bagi kualitas birokrasi Indonesia. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 25 Feb 2026, 10:24

Bukan Sekadar Bangun Pagi, 5 Tradisi Sahur Penuh Cinta

Ini bukan sekadar rutinitas tahunan. Tradisi, iya. Cari amal, iya. Hiburan juga iya. Tapi yang paling terasa itu silaturahmi. Karena di luar Ramadan jarang sekali bisa kumpul seramai ini.

Tradisi membangunkan sahur di kota dan pedesaan. (Sumber: Instagram | Foto: @sekeloaselatann)
Beranda 25 Feb 2026, 06:39

Makhluk Kecil Ini Ungkap Kondisi Sebenarnya Air Sungai di Teras Cikapundung

Penelitian terbaru di Teras Sungai Cikapundung menunjukkan bahwa kualitas air di hulu sungai Bandung kini berada dalam status tercemar sedang akibat limbah domestik dan aktivitas peternakan

Petugas bersama masyarakat melakukan bersih-bersih Teras Cikapundung, Kota Bandung, Kamis 16 Mei 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Beranda 24 Feb 2026, 18:47

Di Simpul Kredit dan Hunian: Transformasi Pembiayaan Perumahan dalam Lanskap Stabilitas Perbankan

Di simpul antara kebijakan makro dan kebutuhan rumah tangga, pembiayaan perumahan berdiri sebagai jembatan.

Warga beraktivitas di salah satu komplek perumahan bersubsidi di Kabupaten Bandung (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Beranda 24 Feb 2026, 15:31

Ramadan di Masjid Lautze 2: Saling Berbagi dan Tak Pernah Bertanya Latar Belakang

Pengemis, pengemudi ojek online, pekerja harian, musafir, hingga warga sekitar yang sekadar ingin mampir, duduk dalam barisan yang sama. Tak ada kursi khusus, tak ada sekat sosial.

Suasana ramadan di Masjid Lauetze 2 di Jalan Tamblong, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 24 Feb 2026, 15:01

Miskin di Ruang yang Rusak: Menggugat Politik Kemiskinan Ekologis di Indonesia

Mengkritik politik kemiskinan ekologis: warga miskin hidup di ruang rusak, sementara bansos hanya jadi solusi tambal sulam struktural.

Gundukan sampah. (Sumber: Pexels | Foto: Mumtahina Tanni)
Ayo Netizen 24 Feb 2026, 13:37

Ramadan yang Bukan Sekadar Fasting dalam Bahasa Inggris

Untuk memahami Ramadan di Indonesia, seseorang tidak cukup hanya memahami konsep fasting.

Umat Muslim beribadah di Bulan Ramadan. (Sumber: Unsplash | Foto: Annas Arfnahri)
Ayo Netizen 24 Feb 2026, 11:58

15 Istilah Penting Ramadan yang Mudah Dipahami WNA Nonmuslim di Indonesia

Untuk memahami Ramadan di Indonesia, memahami istilah-istilah kuncinya adalah langkah awal yang penting.

Pedagang takjil di bulan Ramadan. (Sumber: Unsplash | Foto: Umar ben)
Beranda 24 Feb 2026, 11:52

RW 15 Tembus FYP, Bangunin Sahur Jadi Wadah Berkarya Anak Sekeloa Selatan

Tradisi bangunin sahur anak-anak muda Sekelo Selatan sudah berjalan sejak 2007. Bukan sekadar keliling kampung, kegiatan ini menjadi ajang silaturahmi lintas generasi yang kini viral di media sosial.

Anak-anak muda Sekeloa Selatan pelaku tradisi bangunin sahur. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 24 Feb 2026, 08:09

Puasa Perisai Konsumtif

Jangan sampai nilai-nilai Ramadan ini tereduksi menjadi sekadar simbol dan rutinitas di tengah derasnya arus budaya konsumtif.

Pengunjung belanja pada Gelar Produk Pasar Tani di Bale Asri Pusdai, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Selasa 18 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 20:20

Reforma Agraria di Punclut: Negara Hadir atau Abai?

Di lereng yang menjadi bagian dari Kawasan Bandung Utara (KBU) itu, warga telah puluhan tahun menggarap lahan ex-erfpacht verponding.

Pertemuan warga Punclut (Foto: Dokumen Mang Aqli)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 16:20

Kumpulan Kata yang Mendadak Ramai Diucap Pas Ramadan

Berikut kumpulan kata khas Ramadan yang sering digunakan beserta maknanya.

Ilustrasi santri. (Sumber: Pixabay)
Bandung 23 Feb 2026, 15:25

Strategi Bertahan Gado Gado Gerobakan Cibadak Menembus Batas Zaman dan Pandemi

Merintis bisnis bukanlah wacana yang mudah. Perencanaan yang matang hingga eksekusi bisnis sampai di tahap mempunyai pelanggan setia, bukanlah proses yang mudah.

Kuliner tradisional yakni gado-gado gerobakan di kawasan Cibadak milik Efendi Wahyudin. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 14:18

Di Balik Kumpulan Kata Khas Ramadan, Memahami Bahasa dan Makna Sosial

Memahami istilah-istilah khas Ramadan berarti memahami bagaimana bahasa berfungsi sebagai medium pengalaman kolektif.

Seorang anak sedang mengaji. (Sumber: Pixabay | Foto: Joko_Narimo)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 12:13

Bahasa yang Menjadi Kontrol Sosial Kala Ramadan

Di Bulan Suci ini, bahasa menjaga puasa kita tetap tuntas dengan baik.

Ilustrasi orang Indonesia berkumpul di sebuah warung. (Sumber: Pexels | Foto: Noval Gani)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 09:07

Mendadak Pasar Takjil Ramadan

Yang membuat Pasar Takjil menarik, di antaranya adalah suasananya yang meriah dan penuh kejutan.

Pasar Takjil dadakan di Jalan Gading Tutuka, Kabupaten Bandung. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 22 Feb 2026, 18:04

Sejarah Es Cendol Elizabeth yang Selalu Menjadi Minuman 'Bintang' di Saat Ramadan

Kisah Es Cendol Elizabeth berawal dari cerita Haji Rohman pada 1972 yang ditinggal pergi ayahnya.

Es Cendol Elizabeth. (Sumber: Instagram @escendolelizabethofficial)
Bandung 22 Feb 2026, 15:08

Manisnya Berkah Ramadan di Jalan Cibadak, Kisah Pak Heri Merawat Tradisi Es Goyobod di Tengah Gempuran Zaman

Eksistensi pedagang Es Goyobod di kota kembang membuktikan bagaimana peran kuliner tradisional tetap hidup di zaman yang terus berkembang dan tak terbatas ini.

Eksistensi pedagang Es Goyobod di kota kembang membuktikan bagaimana peran kuliner tradisional tetap hidup di zaman yang terus berkembang dan tak terbatas ini. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 22 Feb 2026, 15:02

Ngabuburead: Menemukan Ketenangan di Tengah Riuh Ramadan Jawa Barat

Inilah tren 'Ngabuburead', cara baru menepi lewat konten digital yang lebih intim dan berisi.

Media digital. (Sumber: Unsplash | Foto: @felirbe)
Ayo Netizen 22 Feb 2026, 11:43

Lembang Tempo Dulu

Dahulu Lembang adalah sebuah kawasan hijau yang pada masa VOC memiliki sebuah upeti istimewa.

Alun alun Lembang tahun 1902. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 22 Feb 2026, 09:36

Miéling Poé Basa Indung: Jejak Panjang Pers Sunda

Denyut pers Sunda sebenarnya telah terdengar sejak akhir abad ke-19 melalui penerbitan seperti Sunda Almanak (1894) dan Panemu Guru (1906).

Wajah baru Majalah Mangle dalam manajemen Pusat Budaya Sunda Unpad. (Sumber: Dokumentasi Penulis)