ASN Belajar dari Genggaman, dari Layar Kecil Menuju Perubahan Besar

5 menit baca
Nurhaniyah Muharani
Ditulis oleh Nurhaniyah Muharani diterbitkan
 (Sumber: ChatGPT | Foto: Ilustrasi)
(Sumber: ChatGPT | Foto: Ilustrasi)

Pernahkah Anda melihat seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) sibuk menatap layar ponselnya saat istirahat makan siang?

Bukan sekadar scroll media sosial, tapi ternyata ia sedang mengikuti microlearning berdurasi lima menit. Inilah wajah baru pembelajaran ASN hari ini, lebih fleksibel, ringkas, dan selalu ada di genggaman.

Namun, di balik peluang besar itu, masih ada sejumlah masalah yang membuat transformasi digital ASN belum sepenuhnya mulus.

***

Meski konsep pembelajaran digital bagi ASN semakin populer, realitanya masih banyak tantangan yang harus dihadapi. Pertama, dari sisi konten, masih minimnya jumlah pengembang media pembelajaran menyebabkan materi digital yang tersedia terasa “jadul”.

Banyak program pelatihan hanya sekadar mengubah modul cetak menjadi file PDF panjang, tanpa ada upaya mendesain ulang agar lebih interaktif. Misalnya, dalam beberapa pelatihan teknis di BPSDM daerah, peserta hanya diberikan akses file PDF setebal ratusan halaman yang harus dibaca melalui LMS.

Tidak heran, sebagian ASN mengaku lebih memilih mencetak modul ketimbang membaca di layar ponsel. Kondisi ini membuat pembelajaran digital berisiko kehilangan daya tarik dan hanya menjadi formalitas administratif.

Kedua, tantangan datang dari literasi digital ASN yang belum merata. Generasi ASN muda umumnya lebih cepat beradaptasi dengan penggunaan LMS, aplikasi mobile, atau video pembelajaran. Namun, tidak sedikit ASN senior yang merasa canggung menggunakan teknologi.

Dalam pelaksanaan e-learning di LAN, misalnya, masih sering ditemukan peserta yang kesulitan login ke sistem atau bingung mengunggah tugas, hingga akhirnya membutuhkan pendampingan teknis secara intensif. Kesenjangan literasi ini menciptakan pengalaman belajar yang timpang, padahal kebutuhan untuk meningkatkan kompetensi berlaku sama bagi seluruh ASN, tanpa memandang usia atau latar belakang.

Ketiga, persoalan akses internet dan infrastruktur masih menjadi hambatan besar. ASN yang bertugas di kota besar dengan jaringan stabil dapat dengan mudah mengikuti kelas online, sementara rekan mereka di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, terluar) sering kali harus berjuang mencari sinyal untuk sekadar membuka materi.

Contohnya, dalam program diklat daring yang diikuti ASN dari daerah wilayah 3T, sejumlah peserta melaporkan harus berjalan ke bukit atau menunggu tengah malam agar jaringan lebih lancar. Situasi ini menimbulkan ketidaksetaraan kesempatan belajar dan pada akhirnya berlawanan dengan semangat pemerataan pengembangan kompetensi ASN di seluruh Indonesia.

Mengapa Masalah Ini Terjadi?

Kalau ditelusuri, masalah ini bukan karena ketiadaan aturan. Justru regulasi sudah cukup jelas. UU No. 20 Tahun 2023 tentang ASN menegaskan bahwa setiap ASN wajib mengembangkan kompetensinya sepanjang karier. PP No. 17 Tahun 2020 mendorong inovasi metode pembelajaran. Bahkan, Peraturan LAN No. 10 Tahun 2018 sudah menggariskan pemanfaatan teknologi dalam pelatihan jarak jauh.

Sayangnya, implementasi di lapangan masih terbatas. Banyak instansi masih menganggap pelatihan berarti tatap muka di kelas, bukan di layar ponsel. Budaya belajar ASN juga belum sepenuhnya berubah. Sebagian ASN merasa cukup ikut diklat tahunan tanpa merasa perlu belajar secara mandiri.

Di sisi lain, Perpres No. 95 Tahun 2018 tentang SPBE memang menekankan digitalisasi birokrasi, tetapi pembangunan infrastruktur masih berjalan bertahap. Dengan kata lain, masalah utama bukan pada kebijakan, melainkan pada kesenjangan sumber daya, budaya belajar, dan kesiapan teknologi.

Ilustrasi Aparatur Negeri Sipil (ASN). (Sumber: Pexels/Brett Jordan)
Ilustrasi Aparatur Negeri Sipil (ASN). (Sumber: Pexels/Brett Jordan)

Lalu, apa jalan keluarnya? Jawaban sederhana: kembangkan media pembelajaran yang benar-benar ramah gawai. Hampir semua ASN punya smartphone. Maka, tugas instansi adalah menjadikan smartphone sebagai “kelas mini” yang selalu siap digunakan.

Media pembelajaran perlu dikemas lebih menarik: microlearning 3–5 menit, video pembelajaran, hingga podcast pembelajaran bagi ASN yang bisa didengar sambil bekerja. Dengan cara ini, belajar terasa ringan, fleksibel, dan tidak mengganggu rutinitas.

Dengan menghadirkan terobosan nyata berupa program pembelajaran yang dikemas dalam aplikasi khusus bagi ASN. Aplikasi tersebut dirancang sederhana, ringan, dan mudah diakses melalui smartphone, sehingga setiap ASN, baik di kota maupun pelosok, bisa belajar kapan saja tanpa terkendala perangkat.

Dengan fitur microlearning, video singkat, hingga podcast pembelajaran, aplikasi ini bukan hanya menjadi media belajar, tetapi juga membentuk budaya belajar baru yang lebih fleksibel dan berkelanjutan. Kehadiran inovasi ini akan menjadi kontribusi nyata Pengembang Teknologi Pembelajaran dalam memastikan transformasi digital ASN berjalan lebih merata dan inklusif.

Beberapa instansi sebenarnya sudah mulai menunjukkan terobosan nyata dalam menghadirkan pembelajaran ASN berbasis gawai. Kementerian PANRB, misalnya, mengembangkan aplikasi SmartASN yang menyediakan modul pembelajaran digital dalam versi mobile sehingga bisa diakses ASN kapan saja. LAN juga menghadirkan fitur “ASN Berpijar” di dalam aplikasi SIPKA, berisi puluhan topik microlearning interaktif lengkap dengan sertifikat dan konversi jam pelajaran.

Di tingkat daerah, Pemerintah Aceh melalui BPSDM meluncurkan aplikasi SIKULA untuk mengelola proses tugas belajar ASN secara transparan dan efisien. Selain itu, beberapa BPSDM, seperti Jawa Barat, telah menginisiasi webinar dan workshop literasi digital agar ASN terbiasa membuat dan memanfaatkan konten pembelajaran modern. Berbagai contoh ini membuktikan bahwa transformasi belajar dari genggaman bukan sekadar wacana, tetapi sudah berjalan dan tinggal diperluas cakupannya.

Namun, keberhasilan aplikasi-aplikasi ini tidak hanya ditentukan oleh peluncurannya saja, melainkan juga oleh pengelolaan yang berkelanjutan, baik dari sisi pengembangan materi yang relevan dan up-to-date, maupun penyempurnaan tampilan aplikasi agar semakin ramah pengguna dan menarik bagi ASN.

Selain itu, literasi digital ASN juga harus ditingkatkan. Pelatihan bukan hanya soal materi, tetapi juga pembiasaan menggunakan aplikasi, mengunduh materi, atau memanfaatkan fitur offline. ASN generasi senior pun bisa terbantu jika diberi pendampingan yang sabar.

Tentu, semua ini harus ditopang oleh infrastruktur digital yang lebih merata. Pemerintah perlu memastikan akses internet stabil hingga pelosok, menyediakan kuota belajar, dan mengembangkan aplikasi pembelajaran yang ringan. Dengan begitu, setiap ASN, baik di kota maupun daerah terpencil, punya peluang yang sama untuk belajar.

Baca Juga: Learning Agility: Panduan Survival di Era Perubahan

Fenomena belajar lewat gawai membuktikan bahwa budaya belajar ASN sedang berubah. Smartphone bukan lagi sekadar alat komunikasi, melainkan ruang belajar yang bisa diakses kapan saja. Regulasi sudah memberi landasan kuat, mulai dari UU ASN 2023 hingga Perpres SPBE 2018. Kini tinggal bagaimana ASN dan instansi mau memanfaatkannya secara maksimal.

Saatnya birokrasi melompat, bukan merangkak. Kalau belajar bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja, tak ada alasan lagi bagi ASN untuk berhenti berkembang. Layar kecil di genggaman ini bisa membawa dampak besar bagi kualitas birokrasi Indonesia. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)