Laju Perjalanan Haikal, Petinju Pelajar yang Bersinar di Popda Jabar 2025

6 menit baca
Yogi  Esa Sukma Nugraha
Ditulis oleh Yogi Esa Sukma Nugraha diterbitkan
Bersama kedua lawannya yang tangguh, Haikal naik podium. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Yogi Esa Sukma N.)
Bersama kedua lawannya yang tangguh, Haikal naik podium. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Yogi Esa Sukma N.)

Langit Bandung cukup cerah siang itu. Belum tampak mendung yang biasa hadir di kota ini pada hari Minggu, 28 September 2025. Sorot lampu GOR Sasakawa Pajajaran memancarkan cahaya terang. Menyapa dengan kehangatan maksimal, diiringi gemuruh penonton, melengkapi suasana semarak yang merangkul kesan banyak orang.

Haikal Hilmi Achmad. Ia mulai pemanasan. Menatap tajam pada mereka yang ada di palagan. Sebentar lagi gilirannya. Ia berjalan. Memasuki ring secara perlahan. Lalu berdiri tegak, dan bersiap menghadapi lawan tangguh yang datang dari daerah lain, yang memakai kaus tanding berwarna biru.

Sekilas Haikal tampak tenang. Setidaknya begitu yang mampu dijangkau dari tribun. Dan memang cukup jelas, ditilik dari sudut mana pun. Ia memberi gestur meyakinkan, juga terlihat berbeda dari yang lainnya.

Tubuhnya relatif ramping. Bertinggi badan sekitar 165 cm dan berbobot 54 kg. Pertandingan baru saja dimulai. Tapi waktu terasa lambat. Suasana tegang. Lawan yang ada di hadapannya, Melkias Madrid Gonzales, atlet dari Kota Bogor, tiba-tiba melemparkan jab cepat. Cukup tangguh memang. Ia punya pukulan keras dan penguasaan ruang yang cermat.

Haikal menghindar. Sigap. Gerakannya penuh perhitungan. Ronde ketiga selesai. Satu pukulan hook kanan mendarat tepat di rahang. Wasit memberi aba-aba. Menghentikan pertarungan. Haikal tercatat sebagai pemenang.

Medali emas kelas 54-57 kg putra Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) Jawa Barat XIV 2025 melingkar di lehernya. Mungkin inilah hasil dari persiapan Haikal dalam menghadapi Popda Jabar. Ia telah menjalani latihan intensif. Setiap pagi di komplek Batununggal, ia berlatih fisik: interval, sprint, hingga shadow boxing.

Ada peran pelatih di sana, yang sabar mengasah teknik, mengajarkannya memanfaatkan jarak untuk mengambil poin, lalu mempertajam pukulan straight dan hook kiri. Haikal sungguh-sungguh; menjalani latihan setiap waktu, menjaga pola hidup sehat; tidak makan sembarangan selama satu bulan.

Bahkan ia juga mengatakan satu kejujuran. Rasa gugup yang sempat hinggap. Itu wajar. Sebab, nyaris selalu ada ketika ia hendak bertanding. Untungnya Haikal mampu mengatasi hal itu dengan optimis.

"Saya gak mau usaha latihan dibalas dengan kekalahan," kata Haikal, pada satu percakapan, nadanya penuh tekad.

Setelah pertandingan, Haikal bergerak ke arah tribun. Sarung tinjunya masih memenuhi kedua tangan. Keringat menetes dari dahi. Menetes ke lantai GOR yang dingin. Sorot matanya sayu. Ia tak lagi tenang seperti di tengah ring tadi.

Ada keharuan bercampur kebanggaan. Mungkin juga bayang-bayang keraguan yang hanya ia sendiri yang memahaminya. Mungkin dihinggapi perasaan tak menentu. Ia setengah berlari. Lalu tiba di atas. Memeluk satu persatu keluarga, kerabat, pelatih, dan teman-temannya yang hadir.

Baginya, pelukan orang-orang terdekat lebih berarti dibanding gemuruh apa pun saat itu. Ada perjalanan cukup panjang yang dimulai dari salah satu wilayah di sekitar Rancaekek. Ia sempat pula ragu apakah tinju bisa membuatnya maju.

Namun semua itu sirna tatkala dukungan keluarga menguatkan pondasi keyakinan dalam diri. Ia menolak menyerah, mengubah keraguan menjadi api.

Dukungan Keluarga dan Pelatih

Haikal Hilmi Achmad, akrab disapa Haikal. Ia merupakan atlet sekaligus siswa kelas XII di SMAS Bina Dharma 2 Kota Bandung. Predikat itu yang kini melekat dengannya: petinju muda berusia 18 tahun. Ia lahir, tumbuh, dan berkembang, di Rancaekek, Kabupaten Bandung. Mulai jatuh cinta pada tinju sejak SMP. Kabarnya, inspirasi awal muncul dari foto ayahnya, yang dulu juga sempat menjadi atlet tinju.

"Dari sana Haikal tertarik. Keren, ya, jadi pengen juga," pikirnya saat itu.

Awalnya banyak orang ragu. Keluarga khawatir. Sebab tinju dianggap riskan, juga memberatkan. Namun Haikal terus memaksa hingga ayahnya luluh. Menyerah. Membawanya ke Paldam Boxing Camp untuk mengikuti latihan.

Ayahnya seorang pegawai kereta api. Mempunyai rutinitas yang harus menyita perhatian lebih. Namun di tengah waktu yang sibuk, ia tetap mendukung penuh. Haikal bercerita ihwal kenangan dibelikan sepatu tinju pertama, suplemen, dan alat latihan. Ini membuatnya kian membara. Membakar semangatnya untuk serius menekuni olahraga ini. Begitulah.

Keluarga kerap memberi dukungan melimpah saat Haikal mulai goyah. Ia meraih berbagai macam bentuk keistimewaan yang tak mudah didapat remaja lainnya. Bukan hanya moral. Tetapi kekuatan yang membuatnya bangkit setiap kali tenggelam.

Namun langkah Haikal tak selalu mulus. Tentu saja. Ia berkisah mengenai sejumlah tantangan yang kerap dihadapi. Ada suatu masa ketika ia mulai tidak percaya diri. Berat sekali. Ia berupaya mengatasinya secara perlahan. Tapi pasti.

Adalah dukungan dari pelatih yang tak kalah penting. Ia selalu hadir setiap hari, pagi dan sore. Bukan hanya sekadar memberi penjelasan dan arahan soal teknis dan taktis, tapi juga motivasi. Bagi Haikal, sosok Nanang Komarudin, seperti ayah kedua.

Nanang rela mengorbankan waktunya untuk melatih anak-anak didiknya, termasuk Haikal. Ia nyaris tidak pernah mengeluh, walau sedang tersandung masalah. Ia selalu memberi motivasi yang membuat anak-anak didiknya semangat, ditambah dengan candaannya yang bikin suasana latihan jadi dekat dan hangat, seperti hubungan ayah dengan anak.

Kenyataan semacam ini mengingatkan pada apa yang para ahli sebut sebagai "relatedness", kebutuhan akan hubungan emosional yang memperkuat motivasi seorang remaja. Barangkali Haikal juga telah mengerti (dan menyadari) bahwa kemenangan dimulai dari kebutuhan emosional yang terpenuhi, dari rumah.

Ketika ditanya pertandingan yang paling berkesan baginya, ia menjawab lugas: semifinal melawan Kota Bekasi. Sebab, lawannya itu dikenal dengan footwork bagus dan lincah. Haikal menerapkan strategi yang diberikan pelatih Nanang: mendaratkan jab kiri panjang berulang kali. Membuat lawan terkena pukulan telak.

"Kuncinya sabar, jangan emosi, dan dengar instruksi pelatih," ujarnya, mengenang diskusi malam hari sebelum pertandingan.

Haikal, bersama kedua orang tua. Meraih perunggu di Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) Jawa Barat 2023. (Sumber: Narasumber | Foto: Istimewa)
Haikal, bersama kedua orang tua. Meraih perunggu di Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) Jawa Barat 2023. (Sumber: Narasumber | Foto: Istimewa)

Di Balik Kemenangan

Popda Jabar bukan kompetisi biasa. Sebab diikuti 27 kota dan kabupaten yang membuat persaingan begitu ketat. Haikal sadar bahwa setiap lawan punya cerita dan usaha yang keras seperti dirinya.

“Saya respek sama mereka,” katanya. Kita tahu belaka bahwa di ring, hanya ada satu pemenang. Haikal bilang, kemenangan itu butuh lebih dari sekadar energi yang bisa ia kerahkan.

Tantangan terbesarnya juga bukan hanya lawan, tetapi juga rutinitas sehari-hari. Ia terpaksa membagi waktu sekolah dan latihan. Setelah menunaikan kewajibannya di sekolah, ia kadang langsung ke tempat latihannya itu.

"Kadang bersih-bersih dulu tempat latihan. Lalu mulai dari jam 4 sore. Selesai jam 6. Haikal pulang ke rumah jam 8, langsung istirahat. Kadang capek sama tugas-tugas sekolah yang numpuk," ungkapnya.

Ada hari-hari ketika ia bangun pagi dengan tubuh lelah. Pikirannya penuh tekanan dari sekolah. Ikhtiar keras ia coba bagi dengan kewajibannya selaku pelajar. Itu bukti tekad yang kuat, dan juga ditopang oleh dukungan keluarga dan guru-gurunya.

"Sejak awal masuk sekolah, ia juga cerita. Mengenai keseimbangan akademik dan perjalanan karirnya sebagai atlet," kata Nuran Hefta, selaku guru Haikal di sekolah.

Dorongan ini serupa mindfulness yang kerap digunakan atlet dunia untuk mengelola stres. Haikal mulai menerapkannya, dan perlahan, keraguan itu memudar. Risiko tinju juga terlihat nyata. Ia tahu, dan sadar, bahwa setiap pukulan bisa membawa dampak cedera.

"Ibu sering bilang, 'kalau ada orang yang ngajak ribut mending menghindar jangan diladeni'," ungkap Haikal.

Inilah yang sekaligus menunjukkan bukti dukungan orang-orang terdekatnya. Ia dianjurkan untuk fokus menjadi atlet muda. Memahami bahwa tinju bukan hanya soal menghadapi lawan. Ia harus bertahan. Menaruh perhatian ke depan.

***

Medali emas Popda Jabar adalah bentuk dari ikhtiar seorang pelajar bernama Haikal yang berupaya menggapai suatu impian lewat tinju dan buku. Ia pun enggan terlena dengan pencapaian saat ini. Berkehendak merengkuh kesuksesan serupa.

Target selanjutnya: medali emas di Pekan Olahraga Pelajar Nasional. Dengan penuh harap, ke depannya, ia ingin lebih banyak turnamen lokal di Kota Bandung. Menurutnya, itu mutlak perlu.

Demi jam terbang yang optimal. Demi masa depan yang gemilang.[*]

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Sejarah 14 Okt 2026, 11:58

Jejak LASWI Maung Bikang Asal Bandung

Di Bandung pernah ada satu pasukan perempuan yang terjun dalam medan perang di garis depan. Pasukan ini bernama LASWI

Patung LASWI di Kebonjukut, Kota Bandung (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 11:12

Sunyi yang Tidak Selalu Puitik

Refleksi peringatan hari kesehatan mental di lingkungan pendidikan di Indonesia.

Kesehatan Mental Remaja (Sumber: GeminiAI)
Ayo Biz 14 Okt 2026, 10:41

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kepedulian terhadap Akses Jalan di Sekitar Wilayah Operasi

PLN Nusantara Power UP Cirata memperkuat infrastruktur jalan demi mendukung kelancaran mobilisasi dan keselamatan masyarakat sekitar.

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kepedulian terhadap Akses Jalan di Sekitar Wilayah Operasi
Beranda 14 Okt 2026, 09:38

Data Center AI Jatiluhur Butuh 33 Juta Liter Air per Hari, Walhi Soroti Hak Warga dan Petani

Selain kebutuhan air yang besar, WALHI Jabar menyoroti transparansi dokumen lingkungan, potensi dampak terhadap pertanian, serta kebutuhan energi untuk operasional pusat data.

Pemandangan Waduk Jatiluhur pada 10 Oktober 2023. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 09:04

Persib Sudah Juara, Mengapa Fasilitas Pemain Perlu Disoal?

Thom Haye melayangkan kritikan terhadap fasilitas pemulihan yang disediakan Persib Bandung. Kritikan Haye dibarengi keluhan soal padatnya jadwal dan perjalanan yang melelahkan,

Thom Haye dalam sebuah pertandingan. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 08:00

Sampah Itu Pasti, Bersih Itu Pilihan: Belajar dari Kota Bandung

Sampah adalah konsekuensi kehidupan sehari-hari, tetapi kota yang dipenuhi sampah bukanlah takdir.

Launching GASLAH Tahun 2026 dalam Rangkaian kegiatan Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) Tahun 2026 Tingkat Kota Bandung. (Sumber: prokopim.bandung.go.id | Foto: Protokol Komunikasi Pimpinan)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 20:52

KDM, 'Bakakak Hayam', 'Bakekok', dan Investasi Rp7,4 Triliun

Bagi urang Sunda -- atau setidaknya mereka yang akrab dengan budaya dan tradisi Sunda pastilah tahu -- dan mungkin juga suka -- bakakak hayam.

Ilustrasi bakakak hayam. (Sumber: Dok pribadi | Foto: AI Gemini)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 19:14

Pegunungan Sanggabuana Akan Menjadi Taman Hutan Raya

Pegunungan Sanggabuana bersiap beralih status menjadi Taman Hutan Raya (Tahura). Langkah strategis ini diambil demi menjaga kelestarian keanekaragaman hayati dan melindungi ekosistem hutan Jawa.

Peta Pegunungan Sanggabuana (Sumber Peta:  Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde), 1923 (Sumber: Digital Collections Universiteit Leiden)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 18:25

Paradigma Kereta Api Menjadi Wajah Baru Mobilitas Indonesia

Kereta api telah menjadi bagian dari denyut kehidupan sehari-hari. Dari alat transportasi menjadi ekosistem mobilitas. Wajah baru ini harus mampu menghubungkan berbagai aktivitas manusia.

Pekerja melakukan perawatan lokomotif di Depo Lokomotif Daop 2, Kota Bandung, Selasa 19 Maret 2024. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 18:06

Ketika Hak Pejalan Kaki Terampas dan Jalanan Terjebak Macet di Kawasan SPOrT Jabar

Ulasan kritis trotoar SPOrT Jabar yang tersita PKL hingga picu kemacetan. Mengajak Pemda bertindak nyata demi hak pedestrian dan keadilan ruang publik.

Trotoar depan pagar SPOrT Jabar, Pacuan Kuda di penuhi pedagang kaki lima. (Sumber: Pribadi | Foto: Marsya Laura Humaira)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 17:02

Dualisme Mahasiswa Bandung: Di Antara Barisan Soekarno dan Gelombang Aksi Massa

Ketika demonstrasi mahasiswa mengguncang pemerintahan Soekarno, muncul pertanyaan yang membelah mahasiswa: apakah membela Indonesia berarti harus menjatuhkan Soekarno, atau justru mempertahankannya?

Pawai ITB Tahun 1966 di Jl. Asia Afrika Bandung (Sumber: Buku Mereka Dari Bandung: Pergerakan Mahasiswa Bandung 1960-1967)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 16:14

Janji Manis Negara Lindungi Berita, Angin Segar atau Alarm Waspada?

Saat pembaca beralih dari mesin pencari ke AI, industri media kian tertekan. Menkum Supratman Andi Agtas janji lindungi karya pers, apakah ini angin segar atau alarm waspada?

Industri media kian tertekan akibat pergeseran pola konsumsi informasi usai kehadiran AI yang menggeser mesin pencari. (Sumber: Pexels | Foto: Markus Winkler)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 15:13

Investasi Jawa Barat, SIO, dan Perlindungan Pekerja

Banyak pekerjaan di sektor industri dan konstruksi memerlukan keterampilan khusus, terutama pengoperasian forklift, crane, alat berat, serta pesawat angkat dan angkut lainnya.

Ilustrasi Investasi dan ketenagakerjaan di Jawa Barat mesti maju bersama (Sumber: dokpri | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 11:11

Nostalgia Era 90-an sambil Menikmati Sejuknya Gelatopedia Cirebon

Berkunjung ke Gelatopedia Cirebon tak hanya sekedar menikmati dinginnya es krim tapi juga nostalgia ke tahun 90-an di tempat yang sangat sejuk.

Desain Dinding Gelatopedia Cirebon (11/10/26). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 08:56

Jalan A.H. Nasution UIN 1 Bandung: Ramai Laju Kendaraan, Sepi Hak Pejalan Kaki

Setiap hari mahasiswa dan warga terpaksa berjalan di bahu Jalan A.H. Nasution karena trotoar yang rusak.

Mahasiswa terpaksa berjalan di bahu jalan,karena trotoar yang tidak layak digunakan disekitar gerbang UIN Bandung Kampus 1. (Foto: Risa Aulia Rahma)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 07:44

Persib U18 dan Anak-Anak yang Menanggung Dosa Rivalitas Orang Dewasa

Langkah manajemen Persib membawa kasus penyerangan terhadap rombongan Persib U18 ke jalur hukum memiliki arti penting.

Bobotoh cilik Persib. (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 20:24

Soto-Soto Populer Nusantara: Mozaik Rasa, Pemetaan, Tipologi, dan Teknik Gastronomi Soto Indonesia

Dalam lanskap kuliner Nusantara, soto merupakan representasi konkret dari akulturasi dan adaptasi seni dapur tradisional Indonesia.

Soto Bandung, soto khas Bandung berbahan dasar daging sapi tanpa santan yang disajikan unik dengan lobak dan kedelai goreng. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 19:05

Mungkinkah Tiket Murah dari Bandara Husein?

Bandara perlu model bisnis yang mampu menarik maskapai, mendatangkan penumpang, dan menciptakan aktivitas ekonomi di sekitarnya.

Bandara Husein Sastranegara di Kota Bandung. (Sumber: bandung,go.id)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 18:16

PWI Jabar dan Tantangan Baru Menjaga Kepercayaan Publik di Era AI

PWI Jawa Barat juga dapat mendorong penguatan disiplin verifikasi di kalangan anggotanya. Misal, dengan membahas prosedur pemeriksaan video yang viral dan penggunaan gambar hasil AI.

Logo Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 17:31

Terlalu Dekat untuk Dikenal: Mengapa Situs Candi Bojong Menje perlu Diceritakan Kembali?

Situs Candi Bojong Menje menyimpan jejak sejarah yang penting, tetapi masih kurang mendapat perhatian layak. Sudah saatnya masyarakat, generasi muda, mengenal dan menjaga warisan sejarah ini.

Kondisi Situs Candi Bojong Menje di Desa Cangkuang, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi Jailani Abdul Rosyid | Foto: Jailani Abdul Rosyid)