Upayakan Sekerasnya

7 menit baca
Dias Ashari
Ditulis oleh Dias Ashari diterbitkan
Ketika dunia tidak ramah dengan Perempuan. Maka tidak ada jalan lain selain kamu harus mengupayakan sekerasnya, mengubah nasib melalui pendidikan dan karier. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ketika dunia tidak ramah dengan Perempuan. Maka tidak ada jalan lain selain kamu harus mengupayakan sekerasnya, mengubah nasib melalui pendidikan dan karier. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)

Upayakan Sekerasnya, sebuah judul lagu dari Imron Hassan yang menginspirasi saya untuk membuat tulisan ini. Mendengarkan setiap liriknya mengingatkan pada perjalanan saya menempuh pendidikan.

Bagaimana upaya yang penuh halang-rintang itu saya hadapi dengan upaya sekerasanya-semaksimal yang saya bisa. Tentang keyakinan saya untuk merubah nasib diri saya sebagai perempuan juga sebagai anak yang terlahir dari keluarga sederhana lewat sebuah pendidikan.

Dan saat semua terasa berat
Saat terjebak tangis dan isak
Sanggupkah kau mengingat ?

Masih ada sejuta cinta
Yang bahkan tak pernah kau sangka
Masih ada sejuta doa
Baik, dan kan menjelma nyata

Saya selalu mengamini sebuah keyakinan dalam agama yang saya pegang melalui Firman Allah SWT yang berbunyi:

Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Qs. Ar-Rad ayat 11.

Saya terlahir dari kedua orang tua yang sederhana dan membuat saya harus tinggal bersama kaka pertama menjelang SMP. Bagi remaja seusia saya--ini bukan hal yang mudah karena saya harus bisa "Membawa diri" terlebih kaka saya sudah memiliki keluarga kecil ketika saya dititipkan.

Saat itu saya bersekolah di daerah Cibolerang Bandung, dari tempat tinggal kaka, saya harus naik 3 kali angkot yang berbeda menuju sekolah. Segalanya terbatas mulai dari uang jajan dan waktu bermain bersama teman-teman. Namun saya harus menguatkan diri dan menjalani takdir dengan terus belajar makna ikhlas dan sabar.

Tentu bukan hal yang mudah karena saat itu sesekali saya pernah mengutuk Tuhan. Pertanyaan seperti "Kenapa Tuhan kau memberikan ujian ini padaku? Kenapa semuanya selalu terasa sulit? Kenapa harus aku Tuhan?". Kata terlarang ini sering muncul ketika rasa lelah datang menerjang.

Suatu hari saat jam istirahat tiba, saya selalu pergi ke mushola untuk melaksanakan shalat duha. Bukan karena saya sholehah tapi karena saya tidak mau ikut teman-teman yang bergerombol untuk jajan, lalu makan bersama--sementara saya hanya diam membisu melihat mereka makan.

Di pelataran masjid saya selalu memperhatikan teman saya dari jauh saat tertawa sambil memilih jajanan yang mereka inginkan. Sementara saya berusaha menahan keinginan otak--sambil sesekali membayangkan bisa membeli baso ikan yang aromanya tercium hingga pelataran masjid.

Lucunya baso ikan punya keterikatan emosi yang kuat bagi saya-- menjadi sebuah memori yang selalu mengingatkan saya untuk tidak pernah melupakan masa paling sulit dalam hidup. Sebagai adik yang ikut menumpang hidup--saya tidak pernah mau merepotkan mereka-- untuk diizinkan bernaung di bawah hujan dan teriknya matahari, diberi ongkos untuk pergi ke sekolah juga diberi makan 2x sehari--sudah menjadi bentuk syukur yang luar biasa bagi saya.

Suatu hari saya membutuhkan uang untuk keperluan foto copy tapi saya enggan merepotkan. Di tengah macetnya Rancamanyar--di dalam angkot tercipta sebuah ide untuk melakukan jalan kaki dari rumah menuju sekolah. Total perjalanan saya menuju sekolah adalah 10 km dengan jarak tempuh 2 jam 1 menit. Jalan kaki yang saya lakukan bertahap mulai dari 2 km dan terus meningkat setiap harinya hingga 10 km.

Awalnya jalan kaki hanya sekedar alternatif saya mengumpulkan pundi uang untuk keperluan sekolah. Namun pada akhirnya menjadi kebiasaan karena dengan berjalan kaki saya bisa jajan baso ikan di jam istirahat, saya bisa membayar keperluan perintilan sekolah tanpa harus meminta dan bisa menyisihkan sedikit uang untuk ditabung.

Meski senang tentu saya harus menahan banyak kesakitan, mulai dari sepatu yang solnya menipis akibat perjalanan jauh--kaki yang lecet karena sepatu berlubang dan air hujan yang masuk mengenai sayatan-sayatan kecil luka itu. Perih? tentu, bahkan saya pernah menangis di bawah hujan deras--meratapi nasib yang cukup berat bagi saya.

Setelah SMK ternyata kegiatan jalan kaki masih terus menjadi aktivitas harian. Kali ini membawa beban yang lebih berat karena saya harus berjualan makanan untuk menambah biaya sekolah-- di tengah ekonomi keluarga kaka saya sedang tidak stabil. Sebagai anak farmasi tangan kanan membawa tumpukan buku farmakope, iso, fornas dan sejumlah alat praktikum. Sementara tangan kiri membawa sejumlah makanan yang harus dijual.

Menjelang lulus SMK--saya mengutarakan kepada kaka beserta orang tua untuk ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang perkuliahan. Saya selalu punya keyakinan bahwa pendidikan tidak hanya merubah mindset tapi juga memperbaiki kondisi kehidupan.

Di luar dugaan--tidak ada satu pun yang mendukung saya melanjutkan pendidikan-- alasannya karena terhalangnya kondisi ekonomi. Keluarga menyarankan saya untuk bekerja terlebih dahulu dan mengumpulkan sejumlah uang untuk biaya kuliah.

Saya sempat menolak dan mengurung diri-- sampai akhirnya saya berdamai dengan kondisi dan mencoba mencari pekerjaan. Dua tahun lamanya uang hasil bekerja tidak terkumpul dengan baik karena biaya farmasi bagi saya sangat mahal. Hingga 2 tahun setelah bekerja saya memilih berkuliah di jurusan lain yaitu KPI.

Bukan hal yang mudah bagi saya untuk beradaptasi dari lingkungan yang didominasi oleh sains lalu berubah menjadi lingkungan akademik yang dekat dengan ilmu sosial. Sempat ada drama dan berpikir salah jurusan. Tapi perkuliahan ini membawa saya untuk berkenalan dengan seorang dosen yang membawa kepada mimpi saya untuk kuliah di jurusan farmasi.

Singkat cerita saya menjalani kuliah di dua jurusan secara bersamaan sambil bekerja juga. Memang sangat sulit mengatur waktu dan banyak problem yang saya temui. Mulai dari keluarnya saya dari jurusan farmasi karena sempat ada masalah dengan pengaturan jam kuliah dan jadwal kerja.

Pihak kampus sangat adil karena tidak mau memberikan hak istimewa kepada mahasiswa hanya karena saya kuliah sambil bekerja. Sementara di tempat kerja pun tidak berjalan lancar karena jarak yang ditempuh kampus menuju tempat kerja perlu waktu 2 jam. Sementara saya masih menggunakan transportasi umum dan seringkali terjebak macet.

Sampai pada akhirnya saya selesai menamatkan kuliah di jurusan KPI sambil tetap bekerja dan mencari kampus lain yang menyediakan jurusan farmasi dengan waktu yang bisa fleksibel untuk karyawan. Masih dari perantara dosen yang sama--saya ditunjukkan beliau untuk mendaftar di kampus lain dengan jurusan farmasi. Meski kampus ini penuh dengan drama --alhamdulillah saya bisa menyelesaikan perkuliahan itu dengan baik.

Selama kuliah juga saya sempat berjalan kaki dari kosan menuju kampus karena uang gaji sudah habis untuk membayar kos, memberi uang kepada orang tua dan biaya makan sehari-hari. Saya pernah berjalan kaki dari Cibereum menuju Jendral Sudirman--Pasar Ciroyom--Alun-Alun Bandung--Dalem Kaum--Pangarang--Lengkong Besar--Cikawao--Buah Batu--Ahmad Dahlan hingga Palasari.

Perjalanan yang tidak hanya membuat kaki terasa sakit tapi sebuah harga yang harus dibayar untuk rasa lelah dan keterlambatan masuk jam kuliah. Bahkan saya pernah tidak boleh mengikuti perkuliahan karena telat 3 menit. Kemudian saya pulang lagi sambil berjalan kaki dan menangis sepanjang jalan-- beruntungnya saya menggunakan masker jadi tidak begitu menjadi pusat perhatian orang-orang di jalan.

Rasa lelah terus bertambah ketika saya harus bekerja di bidang pelayanan jasa. Seberapa pun saya lelah dengan masalah hidup saya-- saya harus tetap profesional ketika bertemu dengan para pasien, terlebih mereka sedang dalam kondisi sakit. Keramahan menjadi kunci telak dalam pelayanan. Pergolakan batin terjadi ketika wajah harus menunjukkan bahagia dan ramah tapi kondisi hati sedang tidak baik-baik saja.

Pendidikan yang saya yakini bisa mengubah kehidupan menjadi lebih baik, nyata adanya-- terjadi dalam hidup saya. Bagaimana saya bisa keluar dari jerat kemiskinan struktural yang menjadi masalah terbesar di negara ini. Melalui pendidikan saya selalu membawa dan menggenggam mimpi-mimpi saya untuk punya perusahaan yang bisa menyerap banyak pekerja. Melalui mimpi-mimpi yang selalu saya ulang dalam doa--perlahan berwujud nyata.

Perjuangan ini tentu tidak lepas dari doa orang tua, keluarga, sahabat dan profesi mulia lainnya seperti guru, dosen, supir angkot serta orang-orang baik yang saya temui dalam perjalanan mencapai semua mimpi dan harapan untuk kehidupan yang lebih baik.

Fenomena overworked alias bekerja melebihi jam kerja normal kian marak, terutama di kalangan milenial dan Gen Z yang mendominasi industri kreatif dan digital. (Sumber: Freepik)
Fenomena overworked alias bekerja melebihi jam kerja normal kian marak, terutama di kalangan milenial dan Gen Z yang mendominasi industri kreatif dan digital. (Sumber: Freepik)

Pendidikan memang tidak selalu membawa pada nasib yang sama untuk setiap orang. Tapi saya selalu meyakini selama kita mau mengupayakan sekerasnya perjuangan ini-- yakin dan percaya kita akan memetik manisnya di kemudian hari. Maka seburuk apapun sistem pendidikannya, seterjal apapun jalan melewatinya kita selalu bisa menemukan cahaya terang dari sebuah ilmu yang pernah kita pelajari.

Kuncinya tekad yang kuat, doa serta harapan dari orang sekitar dan jangan pernah bandingkan prosesmu dengan orang lain. Karena manusia hidup pada jalurnya masing-masing, tidak ada yang terlalu cepat atau terlalu lambat--semua berjalan sesuai dengan porsi dan waktu yang tepat.

Yakinlah bahwa ilmu adalah teman setia untuk perempuan, perempuan yang ingin menciptakan perubahan, meski bermula dari hal kecil tapi saya sebagai perempuan punya kepercayaan bahwa niat yang mulia pasti akan menemukan jalannya.

Ketika dunia tidak ramah dengan Perempuan. Maka tidak ada jalan lain selain kamu harus berpikir realistis untuk mengupayakan sekerasnya, mengubah nasib melalui pendidikan dan karir. Keduanya adalah jalan bagi kamu untuk mulai berdaya dan melakukan perubahan, setidaknya bagi diri kamu sendiri. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)