Selamat Hari Raya Idul Adha
1447 H • Hari Raya Kurban & Kebajikan

Belajar Birokrasi dari Prabu Siliwangi

Guruh Muamar Khadafi
Ditulis oleh Guruh Muamar Khadafi diterbitkan Jumat 03 Okt 2025, 16:14 WIB
Sri Baduga Maharaja, nama resmi Prabu Siliwangi yang bertakhta di Pakuan Pajajaran pada abad ke-15. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Lukisan karya Ridho dari Desa Sancang, Cibalong, Garut.)

Sri Baduga Maharaja, nama resmi Prabu Siliwangi yang bertakhta di Pakuan Pajajaran pada abad ke-15. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Lukisan karya Ridho dari Desa Sancang, Cibalong, Garut.)

Dalam ingatan kolektif masyarakat Sunda, nama Prabu Siliwangi menempati ruang istimewa. Ia bukan hanya seorang penguasa Pajajaran, tetapi juga sosok yang diwariskan sebagai simbol kepemimpinan arif, penjaga harmoni, dan penata kerajaan dengan visi panjang.

Sejarah dan legenda tentangnya hidup dalam prasasti, naskah, hingga cerita rakyat, menyisakan jejak yang bisa ditafsirkan ulang sebagai sumber inspirasi tata kelola birokrasi modern.

Sri Baduga Maharaja, nama resmi Prabu Siliwangi yang bertakhta di Pakuan Pajajaran pada abad ke-15. Dari prasasti Batutulis di Bogor kita mengetahui beberapa kebijakan pentingnya: pembangunan parit untuk irigasi dan pertahanan, pendirian balai pertemuan rakyat, serta penetapan hutan larangan sebagai kawasan konservasi.

Catatan sederhana ini sesungguhnya merekam prinsip pengelolaan pemerintahan yang sistematis. Bagi masyarakat modern, langkah-langkah tersebut adalah bentuk awal birokrasi, yakni sistem aturan, struktur, dan kebijakan yang memastikan keteraturan hidup bersama.

Birokrasi sebagai Harmoni

Jika kita menengok filsafat Sunda kuna, ada sebuah ungkapan yang terus bergema yaitu tata titi tentrem kerta raharja. Ungkapan ini bermakna kehidupan yang tertata rapi, damai, dan sejahtera. Inilah visi yang mendasari pemerintahan Prabu Siliwangi. Birokrasi dalam kerangka itu bukan semata-mata soal administrasi, melainkan instrumen untuk menjaga keseimbanganantara manusia dengan sesamanya, manusia dengan alam, dan manusia dengan kekuasaan.

Di masa kini, kita sering memandang birokrasi hanya dalam kacamata efisiensi atau efektivitas. Padahal, warisan Siliwangi menunjukkan bahwa birokrasi juga harus berjiwa. Birokrasi hadir untuk mengayomi, bukan sekadar mengatur. Dengan cara pandang ini, kita diingatkan bahwa tata kelola pemerintahan tidak bisa dilepaskan dari nilai-nilai budaya yang membentuk karakter masyarakatnya.

Prabu Siliwangi dikenal sebagai raja yang menegakkan aturan tertulis. Prasasti yang ia tinggalkan bukan sekadar batu berukir kata, tetapi instrumen legitimasi dan administrasi. Di sana tercatat kebijakan, perintah, serta nilai-nilai yang ingin ditegakkan. Jika diibaratkan, prasasti adalah regulasi formal birokrasi saat itu.

Bagi rakyat Pajajaran, keberadaan aturan tertulis memberikan kepastian. Mereka tahu hak dan kewajibannya, mereka mengenali batas wilayah yang harus dijaga, dan mereka memahami apa yang dianggap larangan atau anjuran. Kepastian ini menjadikan birokrasi tidak semata bayangan kuasa raja, melainkan sistem yang bisa diprediksi. Dalam bahasa modern, Siliwangi sedang membangun rule of law, sesuatu yang hingga kini menjadi tantangan serius birokrasi Indonesia.

Salah satu kebijakan penting Siliwangi adalah pembangunan bale-bale pertemuan di pusat kerajaan. Bale bukan hanya bangunan fisik, tetapi institusi sosial. Di tempat itulah rakyat bertemu, bangsawan berdiskusi, dan keputusan kerajaan disosialisasikan. Dengan kata lain, bale adalah ruang komunikasi publik.

Jika ditarik ke masa kini, fungsi bale dapat disejajarkan dengan prinsip transparansi dan partisipasi dalam pemerintahan modern. Rakyat bukan sekadar objek, melainkan subjek yang memiliki ruang menyampaikan aspirasi. Birokrasi menjadi medium untuk menyalurkan suara rakyat, bukan sekadar menyalurkan perintah atasan. Spirit bale inilah yang hari ini bisa kita maknai ulang sebagai embrio e-government, forum konsultasi publik, atau kanal keterbukaan informasi.

Candi Siliwangi di Taman Sari, Bogor. (Sumber: Wikimedia Commons/Gunawan Kartapranata)
Candi Siliwangi di Taman Sari, Bogor. (Sumber: Wikimedia Commons/Gunawan Kartapranata)

Lebih dari aturan dan struktur, birokrasi memerlukan teladan. Dalam berbagai cerita rakyat, Prabu Siliwangi digambarkan sebagai pemimpin yang melindungi rakyat kecil. Ia menjaga keseimbangan, menolak kekuasaan yang menindas, dan lebih memilih jalan keteladanan. Karisma Siliwangi bukan semata berasal dari garis darah kerajaan, melainkan dari kepercayaan rakyat terhadap integritasnya.

Dalam konteks modern, ini mengingatkan kita bahwa birokrasi tidak hanya tegak oleh sistem merit dan regulasi, tetapi juga oleh etika kepemimpinan. Aparatur sipil negara, mulai dari level terbawah hingga tertinggi, dituntut menghadirkan integritas dan keberpihakan. Tanpa itu, birokrasi hanya akan menjadi mesin dingin tanpa keadilan. Prabu Siliwangi memberi pesan: birokrasi harus manusiawi.

Kebijakan hutan larangan yang ditetapkan Prabu Siliwangi adalah contoh bagaimana tata kelola kerajaan tidak mengabaikan lingkungan. Dalam prasasti disebutkan bahwa kawasan tertentu ditetapkan sebagai hutan larangan, tidak boleh dirusak atau dieksploitasi. Kebijakan ini bukan sekadar konservasi, melainkan strategi birokrasi untuk memastikan keberlanjutan hidup rakyat.

Pelajaran ini sangat relevan bagi birokrasi Indonesia hari ini. Di tengah krisis iklim, kebijakan pembangunan tidak bisa dilepaskan dari keberlanjutan lingkungan. Birokrasi modern harus mampu mengintegrasikan prinsip ekologi dalam setiap keputusan, sebagaimana yang telah dilakukan Siliwangi berabad-abad lalu.

Relevansi bagi Birokrasi Indonesia

Mengapa kita perlu belajar dari Prabu Siliwangi? Karena birokrasi Indonesia saat ini tengah menghadapi tantangan besar yaitu digitalisasi, globalisasi, tuntutan transparansi, serta krisis integritas. Banyak kebijakan baik berhenti di atas kertas karena birokrasi tidak mampu menginternalisasi nilai. Padahal, jika kita menengok ke belakang, nilai-nilai itu sudah ditanamkan oleh leluhur.

Dari Siliwangi kita belajar bahwa birokrasi harus berakar pada budaya lokal, bukan hanya meniru model barat. Kita juga belajar bahwa birokrasi bukan sekadar mesin pengatur, tetapi sarana mewujudkan harmoni sosial. Lebih jauh, kita belajar bahwa kepemimpinan adalah soal keteladanan, bukan sekadar jabatan.

Memang, kita tidak bisa menyalin praktik birokrasi abad ke-15 ke abad ke-21. Konteksnya berbeda, tantangannya pun tidak sama. Namun, sejarah memberi kita inspirasi nilai. Menafsir ulang Siliwangi bukan berarti romantisme, melainkan upaya mencari pijakan lokal dalam membangun birokrasi yang relevan.

Jika Prabu Siliwangi menggunakan bale sebagai ruang komunikasi, maka birokrasi kini bisa membangun forum daring yang memberi akses pada publik. Jika ia menegakkan hutan larangan, maka birokrasi sekarang harus serius menegakkan aturan lingkungan. Jika ia menulis prasasti, maka birokrasi modern harus menulis regulasi yang jelas dan mudah dipahami rakyat.

Di tengah kritik publik bahwa birokrasi Indonesia lamban, koruptif, dan kaku, kita memerlukan inspirasi segar. Warisan Prabu Siliwangi menunjukkan bahwa birokrasi bisa menjadi sarana membangun keteraturan, kesejahteraan, dan keberlanjutan. Kuncinya ada pada visi, aturan yang jelas, ruang partisipasi, kepemimpinan beretika, serta keseimbangan dengan alam.

Dengan demikian, Prabu Siliwangi bukan sekadar legenda atau tokoh sejarah. Ia adalah cermin. Melalui dirinya, kita diingatkan bahwa birokrasi sejatinya adalah jalan menuju kehidupan tata titi tentrem kerta raharja yaitu tertata, damai, dan sejahtera. Tugas kita sekarang adalah menafsir ulang nilai itu dalam konteks Indonesia modern, agar birokrasi benar-benar hadir sebagai pelindung dan pengayom rakyat. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Guruh Muamar Khadafi
Analis Kebijakan Ahli Muda, Pusat Pembelajaran dan Strategi Kebijakan Talenta ASN Nasional Lembaga Administrasi Negara

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 26 Mei 2026, 18:26

Makna Berkurban di Tengah Hidup yang Serba Sulit

Hari Raya Idul Adha tidak hanya dimaknai sebagai ibadah kurban, tetapi juga refleksi atas berbagai pengorbanan masyarakat yang sering kali tidak terlihat di tengah hidup yang semakin sulit.

Ilustrasi hewan kurban. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Biz 26 Mei 2026, 17:05

Melon Premium Margamukti, dari Desa ‘Tanpa Keunikan’ sampai Berhasil Ciptakan Ekosistem Mandiri

BUMDes Marga Makmur menciptakan ‘pasar’. Menciptakan jaringan petani sampai menghubungkan mereka kepada para pembeli.

Hasil budidaya melon premium di Desa Margamukti, Sumedang Utara, (22/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 15:15

Demokratisasi Rasa: Potret Arsitektur Sosial dan Spiritual di Atas Meja Makan Idul Adha

Pesta kuliner yang terjadi selama Idul Adha merupakan manifestasi dari rasa syukur yang mendalam.

Ilustrasi olahan rendang dari daging kurban Idul Adha. (Sumber: Unsplash | Foto: prananta haroun)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 14:04

Duel Klasik Persib vs PSMS di Final Divisi Utama Perserikatan 1985

Final Divisi Utama Perserikatan 1985 antara Persib Bandung melawan PSMS Medan di Stadion Utama Senayan, Jakarta, pada 23 Februari 1985.

Berdiri dari kiri: Iwan Sunarya, Dede Iskandar, Sobur, Kosasih, Wawan Karnawan,  Ajat Sudrajat. Jongkok: Jafar Sidik, Suryamin, Sukowiyono, Adeng Hudaya dan Robby Darwis. (Sumber: tabloid BOLA edisi Februari 1983 | Foto: koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 13:00

Wededed ... Ikoniknya para Bobotoh Encib

Selebrasi para bobotoh Persib saat ini yang paling ikonik adalah sepeda motor yang digeber-geber sehingga menghasilkan suara wededed.

Ribuan Bobotoh mengikuti konvoi perayaan juara Super League 2025–2026 di Kota Bandung, Minggu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 12:12

Di Balik Konvoi Juara Persib 2026, Netizen Heran Banyak Kejadian 'Aneh' Tahun Ini

Keresahan sebagaian publik yang terjadi pada momentum konvoi juara tim Persib Bandung tahun 2026.

Puluhan ribu bobotoh memenuhi jalan Asia-Afrika, Kota Bandung saat konvoi Persib Bandung juara Super League 2025-2026, Sabtu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 26 Mei 2026, 11:24

3 Catatan untuk Konvoi Persib di Masa Depan: Sterilisasi Jalur, Keselamatan Bobotoh, dan Masalah Sampah

Konvoi juara Persib menyisakan sejumlah evaluasi, mulai dari sterilisasi jalur, keselamatan Bobotoh saat berdesakan, hingga 112 ton sampah di Kota Bandung.

Pemain dan official Persib Bandung bersama Puluhan ribu bobotoh memenuhi jalan Asia-Afrika, Kota Bandung saat konvoi Persib Bandung juara Super League 2025-2026, Sabtu 24 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Wisata & Kuliner 26 Mei 2026, 09:58

Pemandian Air Panas Cimanggu kini hadir dengan wajah baru sebagai Jiwanta Hot Spring di kawasan Ciwidey.

Jiwanta Hot Spring menghadirkan konsep baru pemandian air panas alami dengan fasilitas lebih modern di Ciwidey.

Pemandian Air Panas Cimanggu. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Linimasa 26 Mei 2026, 09:51

Dupan, Ketika Citarum Menolak Surut

Banjir kembali merendam Sapan Bandung. Luapan Sungai Citarum membuat Dupan terus hidup sebagai langganan genangan warga.

Banjir Citarum di Sapan. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Biz 26 Mei 2026, 09:29

Ukir Prestasi Gemilang, PT PLN Nusantara Power UP Cirata Sabet Trofi TOP CSR Awards 2026

PT PLN Nusantara Power UP Cirata sukses memborong penghargaan bergengsi TOP CSR Awards 2026 atas komitmen keberlanjutan sosial mereka.

Ukir Prestasi Gemilang, PT PLN Nusantara Power UP Cirata Sabet Trofi TOP CSR Awards 2026
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 08:21

Remitologisasi Sunda: Milangkala Tatar Sunda Mestinya 11 Oktober

Remitologisasi merupakan hak, bahkan kewajiban, bagi suatu bangsa yang sedang krisis jatidiri. Namun, mesti dilakukan dengan baik dan benar.

Prasasti Kebon Kopi II/Prasasti Pasir Muara. (Sumber: Leiden Library)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 07:40

Fenomena Mematikan Centang Biru pada WhatsApp dalam Perspektif Etika Komunikasi Digital

Fenomena mematikan centang biru WhatsApp mencerminkan perubahan etika komunikasi digital antara kebutuhan privasi, kenyamanan, dan ekspektasi respons instan.

Ilustrasi fenomena mematikan fitur centang biru pada WhatsApp. (Sumber: Dok. Penulis)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 19:25

Bandung Kembali Berpestapora untuk Tiga Kali Berturut-turut

Persib Bandung resmi menyambit gelar Liga Indonesia yang ke-5 kalinya dalam tiga kali berturut-turut. Euforia perayaan di Kota Bandung pun kembali menjadi perhatian.

Para Bobotoh merayakan gelar juara Persib Bandung di Liga Super Indonesia 2025/2026. (Sumber: Dokumentasi Penulis).
Ayo Biz 25 Mei 2026, 18:51

Cerita dari Sumedang Utara, ‘Revolusi Mindset’ Warga Margamukti hingga Jadi Desa BRILiaN

Masuk 15 besar Desa BRILiaN 2025 bukan garis finish, melainkan titik awal bagi Desa Margamukti.

Kepala Desa Margamukti, Siti Nuraeni Sofa (tengah berjilbab hitam baju orange) saat acara promosi B2B budidaya melon premium. (Sumber: Ayobandung.id/Aris Abdulsalam)
Linimasa 25 Mei 2026, 17:18

Sisa-sisa Kejayaan Persib Bandung di Si Jalak Harupat

Si Jalak Harupat masih menyimpan jejak kejayaan Persib lewat pedagang jersey dan kenangan juara liga.

Kondisi pedagang suvenir Persib di Stadion Si Jalak Harupat. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 15:29

Persib Juara ala Atomic Habits

Analisa kemenangan Persib lewat Prinsip Atomic Habits-nya James Clear.

Pemain Persib Bandung mengangkat piala usai pertandingan melawan Persijap Jepara dalam Super League 2025-2026 di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Gedebage, Kota Bandung, Sabtu 23 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 12:10

Magot, dan Kesabaran Warga Bandung Mengurus Sampah Dapur

Majelis Ta'lim Baitul Mu'min membuat acara pengajian mengundang mahasiswa ITB menggelar pelatihan pengolahan sampah organik rumah tangga dengan menggunakan magot BSF atau larva Black Soldier Fly.

Jamaah Masjid Baitul Mu'min Mengikuti Pelatihan Pengolahan sampah dengan Magot. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Uwes Fatoni)
Beranda 25 Mei 2026, 10:17

Bandung Berpesta Semalaman untuk Persib, Petugas dan Warga Lokal Bersihkan Sampah Sejak Pagi Buta

Pas datang tadi mah kondisinya kacau, Kang. Pabalatak pisan. Plastik, botol minuman, bungkus makanan, bekas flare, pokokna loba pisan.

Handoyo bersama warga dan unsur kewilayahan ikut turun membersihkan sampah bekas konvoi di kawasan Pasupati, Senin 25 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 10:16

Persib, Bobotoh, dan Komunikasi Kota yang Membiru

Persib juara bukan sekadar prestasi, tetapi peristiwa komunikasi publik. Konvoi bobotoh menjadi bahasa kolektif yang membangun identitas, emosi, dan solidaritas kota.

Puluhan ribu bobotoh memenuhi jalan Asia-Afrika, Kota Bandung saat konvoi Persib Bandung juara Super League 2025-2026, Sabtu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Biz 25 Mei 2026, 09:45

Support System yang Membentuk Ekosistem: Potret UMKM Bandung Hari Ini

Seperti inilah cara ekosistem UMKM di bawah binaan BRI menjalani arah bisnis yang sehat.

Kampung Kreatif Batik Difabel, bagian dari UPTD Pusat Pelayanan Sosial Griya Harapan Difabel (GHD), Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)