Belajar Birokrasi dari Prabu Siliwangi

5 menit baca
Guruh Muamar Khadafi
Ditulis oleh Guruh Muamar Khadafi diterbitkan
Sri Baduga Maharaja, nama resmi Prabu Siliwangi yang bertakhta di Pakuan Pajajaran pada abad ke-15. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Lukisan karya Ridho dari Desa Sancang, Cibalong, Garut.)
Sri Baduga Maharaja, nama resmi Prabu Siliwangi yang bertakhta di Pakuan Pajajaran pada abad ke-15. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Lukisan karya Ridho dari Desa Sancang, Cibalong, Garut.)

Dalam ingatan kolektif masyarakat Sunda, nama Prabu Siliwangi menempati ruang istimewa. Ia bukan hanya seorang penguasa Pajajaran, tetapi juga sosok yang diwariskan sebagai simbol kepemimpinan arif, penjaga harmoni, dan penata kerajaan dengan visi panjang.

Sejarah dan legenda tentangnya hidup dalam prasasti, naskah, hingga cerita rakyat, menyisakan jejak yang bisa ditafsirkan ulang sebagai sumber inspirasi tata kelola birokrasi modern.

Sri Baduga Maharaja, nama resmi Prabu Siliwangi yang bertakhta di Pakuan Pajajaran pada abad ke-15. Dari prasasti Batutulis di Bogor kita mengetahui beberapa kebijakan pentingnya: pembangunan parit untuk irigasi dan pertahanan, pendirian balai pertemuan rakyat, serta penetapan hutan larangan sebagai kawasan konservasi.

Catatan sederhana ini sesungguhnya merekam prinsip pengelolaan pemerintahan yang sistematis. Bagi masyarakat modern, langkah-langkah tersebut adalah bentuk awal birokrasi, yakni sistem aturan, struktur, dan kebijakan yang memastikan keteraturan hidup bersama.

Birokrasi sebagai Harmoni

Jika kita menengok filsafat Sunda kuna, ada sebuah ungkapan yang terus bergema yaitu tata titi tentrem kerta raharja. Ungkapan ini bermakna kehidupan yang tertata rapi, damai, dan sejahtera. Inilah visi yang mendasari pemerintahan Prabu Siliwangi. Birokrasi dalam kerangka itu bukan semata-mata soal administrasi, melainkan instrumen untuk menjaga keseimbanganantara manusia dengan sesamanya, manusia dengan alam, dan manusia dengan kekuasaan.

Di masa kini, kita sering memandang birokrasi hanya dalam kacamata efisiensi atau efektivitas. Padahal, warisan Siliwangi menunjukkan bahwa birokrasi juga harus berjiwa. Birokrasi hadir untuk mengayomi, bukan sekadar mengatur. Dengan cara pandang ini, kita diingatkan bahwa tata kelola pemerintahan tidak bisa dilepaskan dari nilai-nilai budaya yang membentuk karakter masyarakatnya.

Prabu Siliwangi dikenal sebagai raja yang menegakkan aturan tertulis. Prasasti yang ia tinggalkan bukan sekadar batu berukir kata, tetapi instrumen legitimasi dan administrasi. Di sana tercatat kebijakan, perintah, serta nilai-nilai yang ingin ditegakkan. Jika diibaratkan, prasasti adalah regulasi formal birokrasi saat itu.

Bagi rakyat Pajajaran, keberadaan aturan tertulis memberikan kepastian. Mereka tahu hak dan kewajibannya, mereka mengenali batas wilayah yang harus dijaga, dan mereka memahami apa yang dianggap larangan atau anjuran. Kepastian ini menjadikan birokrasi tidak semata bayangan kuasa raja, melainkan sistem yang bisa diprediksi. Dalam bahasa modern, Siliwangi sedang membangun rule of law, sesuatu yang hingga kini menjadi tantangan serius birokrasi Indonesia.

Salah satu kebijakan penting Siliwangi adalah pembangunan bale-bale pertemuan di pusat kerajaan. Bale bukan hanya bangunan fisik, tetapi institusi sosial. Di tempat itulah rakyat bertemu, bangsawan berdiskusi, dan keputusan kerajaan disosialisasikan. Dengan kata lain, bale adalah ruang komunikasi publik.

Jika ditarik ke masa kini, fungsi bale dapat disejajarkan dengan prinsip transparansi dan partisipasi dalam pemerintahan modern. Rakyat bukan sekadar objek, melainkan subjek yang memiliki ruang menyampaikan aspirasi. Birokrasi menjadi medium untuk menyalurkan suara rakyat, bukan sekadar menyalurkan perintah atasan. Spirit bale inilah yang hari ini bisa kita maknai ulang sebagai embrio e-government, forum konsultasi publik, atau kanal keterbukaan informasi.

Candi Siliwangi di Taman Sari, Bogor. (Sumber: Wikimedia Commons/Gunawan Kartapranata)
Candi Siliwangi di Taman Sari, Bogor. (Sumber: Wikimedia Commons/Gunawan Kartapranata)

Lebih dari aturan dan struktur, birokrasi memerlukan teladan. Dalam berbagai cerita rakyat, Prabu Siliwangi digambarkan sebagai pemimpin yang melindungi rakyat kecil. Ia menjaga keseimbangan, menolak kekuasaan yang menindas, dan lebih memilih jalan keteladanan. Karisma Siliwangi bukan semata berasal dari garis darah kerajaan, melainkan dari kepercayaan rakyat terhadap integritasnya.

Dalam konteks modern, ini mengingatkan kita bahwa birokrasi tidak hanya tegak oleh sistem merit dan regulasi, tetapi juga oleh etika kepemimpinan. Aparatur sipil negara, mulai dari level terbawah hingga tertinggi, dituntut menghadirkan integritas dan keberpihakan. Tanpa itu, birokrasi hanya akan menjadi mesin dingin tanpa keadilan. Prabu Siliwangi memberi pesan: birokrasi harus manusiawi.

Kebijakan hutan larangan yang ditetapkan Prabu Siliwangi adalah contoh bagaimana tata kelola kerajaan tidak mengabaikan lingkungan. Dalam prasasti disebutkan bahwa kawasan tertentu ditetapkan sebagai hutan larangan, tidak boleh dirusak atau dieksploitasi. Kebijakan ini bukan sekadar konservasi, melainkan strategi birokrasi untuk memastikan keberlanjutan hidup rakyat.

Pelajaran ini sangat relevan bagi birokrasi Indonesia hari ini. Di tengah krisis iklim, kebijakan pembangunan tidak bisa dilepaskan dari keberlanjutan lingkungan. Birokrasi modern harus mampu mengintegrasikan prinsip ekologi dalam setiap keputusan, sebagaimana yang telah dilakukan Siliwangi berabad-abad lalu.

Relevansi bagi Birokrasi Indonesia

Mengapa kita perlu belajar dari Prabu Siliwangi? Karena birokrasi Indonesia saat ini tengah menghadapi tantangan besar yaitu digitalisasi, globalisasi, tuntutan transparansi, serta krisis integritas. Banyak kebijakan baik berhenti di atas kertas karena birokrasi tidak mampu menginternalisasi nilai. Padahal, jika kita menengok ke belakang, nilai-nilai itu sudah ditanamkan oleh leluhur.

Dari Siliwangi kita belajar bahwa birokrasi harus berakar pada budaya lokal, bukan hanya meniru model barat. Kita juga belajar bahwa birokrasi bukan sekadar mesin pengatur, tetapi sarana mewujudkan harmoni sosial. Lebih jauh, kita belajar bahwa kepemimpinan adalah soal keteladanan, bukan sekadar jabatan.

Memang, kita tidak bisa menyalin praktik birokrasi abad ke-15 ke abad ke-21. Konteksnya berbeda, tantangannya pun tidak sama. Namun, sejarah memberi kita inspirasi nilai. Menafsir ulang Siliwangi bukan berarti romantisme, melainkan upaya mencari pijakan lokal dalam membangun birokrasi yang relevan.

Jika Prabu Siliwangi menggunakan bale sebagai ruang komunikasi, maka birokrasi kini bisa membangun forum daring yang memberi akses pada publik. Jika ia menegakkan hutan larangan, maka birokrasi sekarang harus serius menegakkan aturan lingkungan. Jika ia menulis prasasti, maka birokrasi modern harus menulis regulasi yang jelas dan mudah dipahami rakyat.

Di tengah kritik publik bahwa birokrasi Indonesia lamban, koruptif, dan kaku, kita memerlukan inspirasi segar. Warisan Prabu Siliwangi menunjukkan bahwa birokrasi bisa menjadi sarana membangun keteraturan, kesejahteraan, dan keberlanjutan. Kuncinya ada pada visi, aturan yang jelas, ruang partisipasi, kepemimpinan beretika, serta keseimbangan dengan alam.

Dengan demikian, Prabu Siliwangi bukan sekadar legenda atau tokoh sejarah. Ia adalah cermin. Melalui dirinya, kita diingatkan bahwa birokrasi sejatinya adalah jalan menuju kehidupan tata titi tentrem kerta raharja yaitu tertata, damai, dan sejahtera. Tugas kita sekarang adalah menafsir ulang nilai itu dalam konteks Indonesia modern, agar birokrasi benar-benar hadir sebagai pelindung dan pengayom rakyat. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Guruh Muamar Khadafi
Analis Kebijakan Ahli Muda, Pusat Pembelajaran dan Strategi Kebijakan Talenta ASN Nasional Lembaga Administrasi Negara

Berita Terkait

News Update

Mayantara 25 Agu 2026, 10:04

Ketika Visual Menjadi Mata Uang di Ruang Digital

Di media sosial, perhatian telah berubah menjadi semacam mata uang baru.

Pengguna media sosial. (Sumber: Pexels | Foto: Ivan S)
Ayo Netizen 25 Agu 2026, 08:57

Cerita Pedagang Asongan di Bus MGI Bandung-Sukabumi

Banyak cerita kehidupan rakyat yang terdengar dari percakapan sederhana di transportasi umum. Untuk mengerti orang lain kadang kita perlu melihatnya sendiri.

Setiap orang yang kita temui pasti memiliki cerita dan tantangan hidupnya sendiri. Begitu juga dengan mereka yang berjuang menawarkan dagangannya di dalam bus (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 20:00

Kaukus Indonesia dalam Potret Merdeka

Bagaimanakah kita melihat potret Indonesia merdeka kini? Pertanyaan yang muncul, karena proses historis panjang seakan dilupakan. Barangkali, kaukus Indonesia telah kehilangan sosok tokoh.

Panjat pinang, salah satu lomba yang sering digelar saat Hari Kemerdekaan Indonesia setiap 17 Agustus. (Sumber: Pexels | Foto: a Ayyeee Ayyeee)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 18:13

Nasib Kuyang dalam Kebakaran Hutan Kalimantan

Ketika hutan kalimantan terbakar mungkin kuyang bisa protes kepada manusia dengan menyebar teror tapi bagaimana dengan pohon, hewan atau penghuni hutan lainnya?

Ilustrasi orang utan di tengah kebakaran hutan. (Sumber: Gemini AI)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 17:07

Jejak Rasa dari Negeri Tirai Bambu: Menelusuri Warisan Kuliner Tionghoa yang Mengakar di Bandung

Kedatangan bangsa Tionghoa membawa teknik pengolahan pangan yang secara organik berfusi dengan bahan lokal, menciptakan identitas kuliner baru yang diterima secara luas.

Cakwe Lie Tjay Tat di Gor Pajajaran, Jl. Pajajaran No.37, Pasir Kaliki, Kec. Cicendo, Kota Bandung. (Sumber: Google Review | Foto: Buyung)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 16:19

Pengalaman Berburu Buku Tua di Toko Buku Tua di Kota Bandung

Seratus persen buku-buku kuliahku aku beli di Pasar Buku Palasari. Aku sering sempatkan untuk berburu membeli buku-buku tua dan buku-buku baru, bahkan termasuk ke pasar-pasar loak di Kota Bandung.

Toko Buku di bagian depan Pasar Buku Palasari. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Ridwan K)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:50

Dari Josepha Alexandra Kita Belajar untuk Berani dan Kritis Terhadap Kesewenang-wenangan

LCC 4 Pilar MPR RI yang seharusnya memperkenalkan nilai-nilai kebangsaan, nilai-nilai pancasila, dan nilai-nilai demokrasi kepada generasi muda, bukan malah mempertontonkan arogansi orang dewasa.

Potret Josepha Alexandra saat mengikuti Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat. (Sumber: YouTube | Foto: @MPRRIOfficial)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:28

Mitigasi Kebakaran: Kota Bandung Butuh Drone dan Bambi Bucket 

Diperlukan drone dengan kemampuan Based Fire Monitoring and Suppression System yang dilengkapi kemampuan deteksi yang menggunakan AI driven hotspot.

Mitigasi kebakaran hebat di kota Bandung dengan teknologi drone dan bambi bucket (Sumber: digambar dengan bantuan AI | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 11:39

Mamah Bule dan Kang Ian, Kisah Menarik Nenek dan Cucu yang Mewarnai Media Sosial

Akun media sosial Bridgia Adhella kini telah memiliki sekitar 71 ribu pengikut, dengan ratusan unggahan yang memperlihatkan berbagai sisi kehidupan Mamah Bule dan Kang Ian.

Nenek Bule, Adellina Ganda Prawira, bersama cucu tercinta, Kang Iyan. (Sumber: Kang Iyan)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 09:14

Urgensi Program Bandung Peduli Lansia

Perlu dicari jalan tengah terkait dengan pro kontra perawatan lansia dengan cara ageing in place versus perawatan institusi

Ilustrasi program peduli lansia di Kota Bandung (Sumber: kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 08:58

Kala Ponsel para ASN Jadi Arena Judi

Perang melawan judi online tidak cukup dilakukan dengan slogan moral. Ia membutuhkan kombinasi antara teknologi, penegakan hukum, literasi digital.

ASN sedang mengikuti apel. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 20:16

Menjelajahi Autentisitas Kuliner Sunda: Telaah 50 Hidangan Khas Jawa Barat

Eksplorasi terhadap 50 masakan khas Jawa Barat ini membuktikan bahwa kuliner Sunda adalah aset budaya tak ternilai.

Buku berjudul 50 Masakan Khas Jawa Barat karya Ajen Dianawati (2025). (Sumber: Dokumentasi penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Linimasa 22 Agu 2026, 13:32

Menengok Pabrik Bata Merah Manual di Nagreg Saat Musim Kemarau

Pabrik bata merah di Nagreg meningkatkan produksi saat kemarau karena proses pengeringannya masih mengandalkan panas matahari.

Menengok pabrik bata merah manual di Nagreg saat musim kemarau. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 13:25

Menelusuri Jejak Rasa: Potret Autentik Masakan Jawa Era 1960-an

Buku "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" hadir sebagai kompas bagi mereka yang ingin mendalami seni memasak Jawa pada masanya.

Buku berjudul "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" karya Ida S. yang diterbitkan Toko Buku Amin Madiun. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 11:36

Cuanki Teh Yuyun Cianjur: Obat Rindu Ketika Jauh dari Bandung

Ternyata Bandung terasa Istimewa setelah ditinggalkan. Satu hal yang saya rindukan dari Bandung adalah keragaman kulinernya.

Cuanki Sambal Ijo Teh Yuyun Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 09:19

Sejarah Nama-Nama Hari dan Hari Libur (1)

Mengulas sejarah penamaan hari, asal-usul tujuh hari dalam sepekan, serta perkembangan penanggalan dan tradisi hari libur dari berbagai peradaban.

Kalender bulan Agustus 1898. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 08:18

Perempuan yang Merdeka tapi Masih Takut dengan Stigma Sosial

Hari ini mungkin perempuan memiliki banyak kesempatan seperti kaum pria tapi ada yang diam-diam membuat perempuan ragu ketika penilaian sosial merenggut kepercayaan dirinya

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Febry Arya)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 19:18

Apalah Arti Sebuah Nama: Rekonstruksi Hubungan Agus dan Agustus

Pada ruang masyarakat sering kita mendengar atas nama Agus bagi laki-laki dan Agustina bagi perempuan. Terdengar biasa saja. Nama yang diberikan oleh orangtuanya sebatas nama.

Festival Seni dan Budaya Tamansari 2026 di Taman Cascade, kawasan bawah jembatan layang Mochtar Kusumaatmadja, Tamansari, Kota Bandung, Sabtu 15 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 17:29

Dari Serial Drama Korea 'Teach You a Lesson' dan Realitas Pendidikan Bangsa Kita

Drama yang menyajikan tentang bobroknya pendidikan di negara yang sudah dikatakan maju, serta keberpihakan pada sifat politisasi dibidang pendidikan.

Serial drama Korea "Teach You a Lesson" (Sumber: Netflix)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 16:11

Manipulasi Terselubung di Balik Penggunaan Kata Nett Zero Emission pada Perusahan Perbankan

Membahas bagaimana istilah Net Zero Emission (NZE) yang digunakan sebagai strategi pencitraan dengan menyoroti pentingnya transparansi, verifikasi independen, dan sanksi yang tegas.

Cerobong asap yang mengeluarkan asap menembus kabut tebal, yang menyoroti masalah atau kekhawatiran tentang polusi udara. (Sumber: Pexels | Foto: Сергей Нестеров)