Islam itu Agama yang Main Fisik (?): Bandung dan Kemarahan pada Kolonialisme

7 menit baca
Arfi Pandu Dinata
Ditulis oleh Arfi Pandu Dinata diterbitkan
Bangunan Masjid Cipaganti zaman baheula. (Sumber: IBT Locale Techniek)
Bangunan Masjid Cipaganti zaman baheula. (Sumber: IBT Locale Techniek)

Islam yang aku hayati adalah Islam yang tidak pernah selesai. Ia tumbuh ala kadarnya, dari perenungan yang berantakan dan laku sehari-hari yang sering kali biasa saja. Aku memulainya sebagai cara memandang dunia. Kutemukan tanpa sengaja, ketika aku sedang sibuk bertanya, sebenarnya apa itu agama?

Pertanyaan itu kujalani bersama banyak orang dan banyak tradisi. Bersama kawan Katolik, buddhis, penghayat, juga sesama muslim dari latar yang berbeda-beda. Islam, dalam percakapan itu, hanyalah satu di antara banyak agama dunia yang dibandingkan, diuji, bahkan dipercakapkan dengan akrab dan riang gembira. Dari Sunni, Syi’i, Ahmadi, pesantren tradisional, tarekat, hingga muslim urban, diskusi-diskusi dengan mereka itu perlahan menampakkan pola tentang Islam yang bekerja dalam kehidupan.

Pola yang paling menonjol bagiku adalah dimensi politis Islam yang sangat kuat. Bukan politik elektoral yang sempit, namun cara mengatur kehidupan bersama. Islam punya dorongan besar untuk mengurus dunia seperti relasi sosial, distribusi keadilan, dan pengelolaan kekuasaan. Ia hadir melalui disiplin fikih, syariah, dan aturan-aturan yang membumi lainnya. Karakter ini memang kerap jatuh menjadi kaku dan legalistik, tapi justru di sanalah tersimpan potensi transformasinya.

Dimensi politis ini berkelindan dengan sifat Islam yang sejak awal relatif non-spekulatif. Meskipun kemudian berkembang tradisi kalam dan tasawuf yang rumit, kerangka awal Islam cenderung konkret dan material. Ia bekerja di level tubuh, tindakan, dan praktik yang bisa dipertanggungjawabkan. Dalam pengertian ini, Islam terasa embedded, hadir di dalam dunia bukan melayang di atasnya.

Dari sanalah aku menemukan wajah sosial Islam yang begitu kuat. Sejak kelahirannya, Islam berbicara fasih tentang dunia yang timpang dan upaya menatanya ulang. Tentang yatim, fakir miskin, perempuan, hamba sahaya, dan kekerasan struktural. Jejak itu terus berulang dalam sejarah kontra-kolonialisme dan gerakan sosial umat. Rasanya bukan sebagai romantisme tapi sebagai sesuatu yang logis. Karena kekuatan inilah juga Islam sering dicurigai baik lewat orientalisme, islamofobia, maupun realitas problematis di negara-negara muslim. Namun bagiku, di situlah ketegangan Islam berada. Di antara disiplin yang kaku dan dorongan etis untuk terus berpihak pada yang ringkih.

Kembali Ke Level Dasar

Potret pribumi pekerja kopi di Jawa tahun 1920-an. (Sumber: KITLV)
Potret pribumi pekerja kopi di Jawa tahun 1920-an. (Sumber: KITLV)

Islam bekerja lewat kebiasaan yang diulang-ulang. Terlihat menjemukan, mengekang, tapi penganutnya bilang itulah jalan yang lurus, penghambaan yang benar. Meskipun di antara mereka yang mengatakannya ada yang bolong-bolong salat, ada yang godin saat puasa, ada yang belum sempurna menutup aurat, dan ada yang masih minum alkohol.

Secara fisik, syahadat diucapkan dengan lisan, menegaskan dua kalimat inti bahwa “Tiada tuhan selain Allah, dan Muhammad utusan Allah”. Ucapan ini sering dilakukan di momen formal maupun informal, misalnya ketika masuk agama atau dalam doa harian. Tubuh ikut serta, meskipun secara sederhana. Bibir bergerak, dada naik-turun mengikuti napas, suara menembus ke ruang sekitar.

Syahadat mengajarkan kita untuk menyangkali ego dan terbebas dari obsesi diri, menegaskan bahwa hanya Allah yang menjadi pusat dominasi, dan segala bentuk hirarki palsu adalah manifestasi kesyirikan. Dalam konteks sekarang, hal ini kiranya bisa kita refleksikan dengan isu eksploitasi yang diwariskan kolonialisme, patriarki-heteronormatif, favoritisme agama, atau antroposentrisme yang kian merongrong.

Gerak tubuh dalam salat pun begitu sangat fisik. Sikap berdiri sempurna, rukuk, sujud, duduk, diulang lima kali sehari, dibilas air wudu. Rutinitas ini memerlukan kesadaran penuh, menggerakkan tubuh secara disiplin, rinci, dan tepat aturan. Salat didorong secara berjamaah menegaskan kesetaraan. Semua berdiri sejajar tanpa memandang status sosial. Tubuh jelas menjadi media latihan kehadiran, menghentikan aktivitas rutin, dan menandai jeda dalam arus kesibukan.

Etisnya, salat melatih sikap disiplin kita. Pengelolaan waktu pribadi dan mendorong solidaritas sosial. Kita didorong hadir penuh di tengah kesibukan. Gerakan menundukkan kepala seperti para budak di masa Arab pra-Islam, mengajarkan kerendahan hati di hadapan Allah, sekaligus menantang ilusi kekuasaan dan status sosial. Kita boleh membawanya sebagai usaha menyeimbangkan dinamika kuasa, mengingatkan bahwa prestise, posisi karir, kelas, dan pencapaian seharusnya menumbuhkan kesetaraan bersama.

Berikutnya zakat yang melibatkan pemberian harta, biasanya berupa uang atau makanan pokok kepada mereka yang berhak. Prosesnya tentu membutuhkan tindakan nyata, menghitung, menyerahkan, mengorganisasi, atau menyalurkan bantuan. Tubuh dan pikiran bersatu pada dalam memastikan distribusi tepat sasaran, menjadikan ibadahl yang konkrit dan bisa dirasakan.

Zakat menekankan keadilan distributif dan pelepasan kepemilikan. Zakat membangun pengertian bahwa harta bukan hanya untuk diri sendiri sebab ada hak orang lain yang melekat di dalamnya, melatih kepedulian, dan mengurangi ketamakan. Ini adalah kritik terhadap akumulasi kapitalistik yang berlebihan. Termasuk eksploitasi buruh dan konsumerisme tanpa batas. Langkah yang tidak mudah.

Kemudian shaum Ramadan dengan menahan diri dari makan, minum, aktivitas seksual, dan kadang ucapan atau perilaku tertentu selama matahari belum tenggelam. Tubuh merasakan kelelahan dan gejolak hasrat. Pola tubuh berubah, jadwal makan dan tidur diatur. Akibatnya kesadaran sensorik meningkat,  rasa haus dan lapar menjadi pengingat alamiah.

Puasa adalah latihan pengendalian nafsu dan konsumsi. Di ranah sosial, perannya sangat penting untuk menumbuhkan empati terhadap mereka yang kekurangan. Dalam konteks modern, puasa juga mengajarkan kesadaran terhadap batas sumber daya seperti makanan, energi, dan lingkungan. Mengajak kita meminimalkan limbah dan hidup lebih selaras dengan alam di tengah tuntutan serba instan dan target produksi.

Terakhir adalah naik haji yang menuntut aktivitas fisik yang lebih intens. Berjalan kaki panjang, antre, tawaf mengelilingi Ka’bah, sai antara Safa dan Marwah, berdiri di Arafah, dan lain-lain. Tubuh sungguh terlibat dalam perjalanan spiritual. Fisik bertemu dengan medan kesabaran dan ketahanan. Semua jamaah berada dalam kondisi yang sama, memakai pakaian seragam, dan menghadapi panas, keramaian, serta satu titik fokus yang melampaui rupa dan suara.

Melalui ziarah ini kita melepaskan identitas dan bayang-bayang primordial. Haji menegaskan bahwa semua manusia, terlepas dari status, bangsa, atau latar belakang, sama di hadapan Allah. Perjalanan ini menumbuhkan kesadaran akan keterbatasan diri sekaligus memunculkan rasa persaudaraan universal, menyatukan kita sebagai bagian dari kesemestaan dan kewajiban etis terhadap sesama makhluk-Nya, juga menegaskan pentingnya kesederhanaan dan tanggung jawab sosial-material.

Amal Makruf Nahi Munkar

Anak-anak beragama Islam sedang mengaji di masjid. (Sumber: Pexels/Hera hendrayana)
Anak-anak beragama Islam sedang mengaji di masjid. (Sumber: Pexels/Hera hendrayana)

Setelah melewati kelas-kelas teologi abstrak dan praktik di akar rumput yang penuh tantangan, akhirnya terlihat jelas bahwa lakon Islam bisa dirangkum dalam satu prinsip sederhana ialah amal ma’ruf nahi munkar. Perbuatan baik dilakukan, perbuatan yang zalim dicegah. Semua amal ini tidak lepas dari iman dan ilmu. Itulah yang kadang disebut jihad, aktivitas fisik sekaligus juga penaklukan hawa nafsu yang berjalan seiringan.

Inti Islam adalah sejauh mana kita mampu mewujudkan nilai itu dalam amal nyata. Di tengah dunia yang penuh hierarki, kasta sebagai feodalisme tradisional atau rasisme kontemporer. Islam hadir dengan ide yang tampak sederhana, tapi dengan pelaksanaan yang tidak mudah. Spiritnya selalu menekankan pembebasan dari perbudakan, dari eksploitasi, dari ketidakadilan. Sejarah Nabi dan para sahabat menunjukkan kisah pembebasan budak, perhatian pada fakir miskin.

Spirit itu kiranya yang menjadi napas umat Islam dalam sejarah modern. Ketika kolonialisme Barat merangsek masuk ke kawasan negeri-negeri muslim. Aktualisasi imannya tidak diam, umat vokal menolak penjajahan. Di Bandung, spirit itu muncul dalam banyak cara. Dari gerakan dakwah dan hijrah hingga kelompok kontekstual. Uniknya satu sama lain bergerak dalam medan aktivisme lewat prinsip amal ma’ruf nahi munkar yang sama.

Kasus yang menarik adalah bagaimana umat muslim di Bandung terpolarisasi karena mazhab akidahnya. Syiah, teologi yang dimarginalisasi dalam sejarah. Tradisi Syiah ini terejawantah melalui berdirinya Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) pada 2000 di Gedung Merdeka. Begitu juga oposisinya, Aliansi Nasional Anti-Syi’ah (ANNAS) dideklarasikan pada 2014 di Masjid Al-Fajr. Keduanya boleh saja bersebrangan, tapi tahukah kalau keduanya disatukan dalam panji membela Palestina, atas nama saudara seiman ataupun sekemanusiaan. Ternyata pengalaman sebagai kelompok terjajah mampu menghubungkan dua kutub spektrum Islam.

Baca Juga: Bandung Menjelang Lebaran Era 1990-an dalam Arsip Bandung Pos

Inti yang bisa ditarik sederhana. Islam, dalam segala rupa praktik dan interpretasinya, selalu menempatkan Allah sebagai pusat. Dari situ muncul etika, tanggung jawab sosial, dan kesadaran universal. Agama ini memperlakukan manusia lain dengan adil, menolak penindasan, dan membebaskan mereka yang terjajah. Di dunia yang modern, kompleks, dan sering timpang, prinsip ini tidak kehilangan relevansi. Ia tetap menjadi pijakan untuk menegakkan keadilan, merawat kemanusiaan, kesemestaan, dan menjaga keberpihakan etis terhadap yang lemah.

Jadi, Islam itu agama yang main fisik, ya? Iya, main fisik. Terutama kalau dilihat dari konteks Bandung, yang dipersepsikan sebagai mayoritas. Kita sering melihat dia yang suka turun ke jalan untuk aksi penolakan terhadap minoritas. Tapi di sisi lain, main fisik itu juga dipraktikkan untuk melindungi, seperti Banser yang menjaga gereja malam Natal, atau basis santri pengajian yang menolak pengusuran di kampungnya. Jadi fisik di sini bukan sekadar agresi, tapi juga pelindungan.

Kiranya begitu refleksiku di pertengahan jalan Ramadan kali ini, di momen Nuzululquran, di bulan yang lengkap untuk membumikan Rukun Islam, dengan huru-hara isu perang Iran dan Amerika Serikat, Palestina dan Israel yang lagi-lagi mencuat. Hanya Allah-lah yang Maha Besar, sesama manusia dan ciptaan-Nya, kita sama-sama kecil. Takbir, Allahu Akbar! (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Arfi Pandu Dinata
Menulis tentang agama, budaya, dan kehidupan orang Sunda

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 19:02

Pendidikan Empati dalam Isu Sosial

urgensinya pendidikan empati diajarkan. Bukan hanya mencari jalan keviralan. Demi meningkatkan kuantitas konten tanpa memfilter isinya.

Ilustrasi anak sekolah di ladang sawah. (Sumber: Pexels | Foto: Noel Snpr)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 17:03

Stadion Persib Kelas Dunia Kapan ?

Persib Bandung bermain di stadion kelas Piala Dunia saat Asian LC 2 melawan FC Seoul Korea Selatan medio September 2026

Kondisi rumput liar tak terawat di luar Stadion GBLA yang sempat disorot pada 2019 lalu. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 15:29

Mewaspadai Gunung Berapi Aktif dan Sesar Aktif di Bandung Raya

Mengupas potensi bahaya gunung berapi, sesar aktif di Bandung Raya dan langkah mitigasi demi keselamatan warga. Simak informasi artikel Mewaspadai Gunung Berapi Aktif dan Sesar Aktif di Bandung Raya.

Poster Riset - Kesiapan Obyek Wisata Taman Wisata Alam Gunung Tangkuban Parahu Terhadap Bencana (Sumber: issuu.com/anggasafik/docs/poster_riset_tangkuban_perahu | Foto: Angga Safik Ul Ridwa)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 13:45

Penyiar Legendaris dan Perjalanan RRI di Era 1970-an Hingga Masa Kini

Terkadang wajah penyiar tidak pernah dilihat, tapi suaranya bisa menjadi kenangan dalam sejarah. Sambas, Hasan Azhari Oramahi, Poppy Tiendas, dll adalah nama legendaris penyiar RRI dengan suara emas.

Gedung Kantor RRI Bandung. (Sumber: RRI | Foto: R.Erlan W.K)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 10:32

Kenapa Gaji ASN Jadi Rebutan Bank?

Payroll sesungguhnya buka cuma rekening gaji. Dana yang masuk secara rutin saban bulan menciptakan aktivitas lanjutan.

Gedung bank BJB. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 08:11

Kebakaran Cihanja Punclut dan Pentingnya Penanganan Lingkungan Berkelanjutan

Catatan Lukman Nurhakim tentang material mudah terbakar di bawah timbunan, dampak asap terhadap warga, dan pentingnya penanganan pascakebakaran membuka pertanyaan yang lebih luas.

Kebakaran lahan di Cihanja-Punclut Kawasan Bandung Utara. (Foto: Dokumen Lukman Nurhakim)
Ayo Biz 15 Sep 2026, 20:08

Dari Lereng Arjuno ke Peta Jalan Net Zero: Jejak United Tractors Merawat Industri Berkelanjutan

UT menghubungkan pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, dan transisi energi dalam perjalanan menuju industri berkelanjutan.

UT menghubungkan pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, dan transisi energi dalam perjalanan menuju industri berkelanjutan. (Sumber: Ilustrasi dibuat dengan bantuan ChatGPT)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 19:51

200 Ikon Bandung #5: Pemandian Tjihampelas, Kolam Renang Pertama di Indonesia

Pemandian Tjihampelas menyimpan sejarah panjang olahraga renang di Indonesia sebelum bangunannya hilang dan berganti menjadi kawasan hunian modern.

Pemandian Tjihampelas pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 17:12

200 Ikon Bandung #4: Saritem

Sekarang, kawasan lokaslisasi Saritem telah tiada, bahkan telah digantikan dengan keberadaan sebuah pesantren yang cukup besar.

Sebuah roman Sunda karya Aan Merdeka Permana yang berjudul "Saritem". (Sumber: Istimewa)
Seni Budaya 15 Sep 2026, 16:00

Hikayat Wayang Tavip, Inovasi Wayang dari Sampah Plastik

Wayang Tavip lahir dari plastik bekas. Karya seni ciptaan Muhammad Tavip ini terus berkembang dari bentuk 2D hingga 3D.

Wayang Tavip menjadi inovasi dalam seni pewayangan dengan bentuk karakter yang khas dan unik. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 15:17

Menjaga Wajah Kota: Sinergi Penanganan PPKS dan Penataan RTH di Kota Bandung

Mereka tidak sekadar ditertibkan, melainkan langsung dibawa ke Rumah Singgah Dinas Sosial Kota Bandung di Rancacili.

Ilustrasi Penanganan PPKS dan Penataan RTH di Kota Bandung. (Sumber: dibuat dengan chatgpt.com | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 13:25

Seandainya Saya Jadi Presiden - Bagian 2

Negara bukanlah panggung pertunjukan, tetapi seandainya saya jadi presiden, saya ingin ada yang membaca puisi kenegaraan saat pelantikan. Negara akan maju jika semua warga diwajibkan membaca buku.

Bendera Republik Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Firman Marek_Brew)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 11:41

Jangan Sampai Pilkades di Jabar Menjadi Kotak Hitam Digital

Sistem pemilu yang baik bukan hanya harus mampu menghasilkan angka, tetapi juga harus memungkinkan pihak yang berwenang memeriksa bagaimana angka tersebut dihasilkan.

Ilustrasi Pilkades. (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung.com)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 09:56

Obituari untuk Kanaya Whu

Ada suara yang justru menemukan kehidupan keduanya setelah kematian. Kanaya Whu salah satunya. Kematian selalu memiliki cara yang aneh untuk menjadi kenangan. Ada sebuah puisi elegi dalam obituari ini

Kanaya Whu. (Sumber: Instagram | Foto: Kanaya Whu)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 19:01

Stiker Radio: Ketika Kenangan Lama Kembali Mengudara

Masih dalam suasana memperingati Hari Radio Nasional pada 9 September 2026, menarik untuk menengok kembali salah satu memorabilia radio yang kerap luput dari perhatian: stiker radio.

Beragam stiker radio dari berbagai stasiun radio di seluruh Indonesia yang menjadi bagian dari koleksi penulis. (Sumber: Foto dan koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 18:24

Nestapa Dago Dairy dan Asa Kedaulatan Pakan dari Bangku SMK

Kita abai menyiapkan cetak biru pendidikan modern di hulu peternakan.

Ilustrasi Mewujudkan SMK Peternakan Jurusan Pakan yang sesuai dengan perkembangan teknologi. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 17:05

Menggelorakan Wisata Olahraga di Kota Bandung

Wisata olahraga sebagai wisata yang mulai dijadikan model wisata yang sangat menarik dan mampu mengundang wisatawan menemukan wisata sembari berolahraga.

Bagi generasi Z, lari bukan hanya olahraga, tetapi gaya hidup yang terus berkembang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 15:11

Riung Gunung Bandung, 'Bandung Kakurung ku Gunung'

Riung Gunung Bandung mengungkap pesona alam legendaris Bandung kakurung ku gunung.

Nuansa Riung Gunung Pangalengan, Wisata Bandung Murah. (Sumber: Instagram | Foto: nuansariunggunung_)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 12:36

Romantisme Membaca Majalah Vista September 1983: Ketika Radio, Kaset, Bioskop dan Idola Menghidupkan Kenangan

Membaca Vista hari ini seperti memutar kembali sebuah kaset lama.

Majalah Vista, salah satu majalah hiburan populer pada era 1980–1990-an. Majalah ini menyajikan beragam informasi seputar musik, film, dan perkembangan dunia hiburan. (Sumber: Koleksi Majalah Vista milik Kin Sanubary)