Islam itu Agama yang Main Fisik (?): Bandung dan Kemarahan pada Kolonialisme

7 menit baca
Arfi Pandu Dinata
Ditulis oleh Arfi Pandu Dinata diterbitkan Senin 09 Mar 2026, 19:13 WIB
Bangunan Masjid Cipaganti zaman baheula. (Sumber: IBT Locale Techniek)

Bangunan Masjid Cipaganti zaman baheula. (Sumber: IBT Locale Techniek)

Islam yang aku hayati adalah Islam yang tidak pernah selesai. Ia tumbuh ala kadarnya, dari perenungan yang berantakan dan laku sehari-hari yang sering kali biasa saja. Aku memulainya sebagai cara memandang dunia. Kutemukan tanpa sengaja, ketika aku sedang sibuk bertanya, sebenarnya apa itu agama?

Pertanyaan itu kujalani bersama banyak orang dan banyak tradisi. Bersama kawan Katolik, buddhis, penghayat, juga sesama muslim dari latar yang berbeda-beda. Islam, dalam percakapan itu, hanyalah satu di antara banyak agama dunia yang dibandingkan, diuji, bahkan dipercakapkan dengan akrab dan riang gembira. Dari Sunni, Syi’i, Ahmadi, pesantren tradisional, tarekat, hingga muslim urban, diskusi-diskusi dengan mereka itu perlahan menampakkan pola tentang Islam yang bekerja dalam kehidupan.

Pola yang paling menonjol bagiku adalah dimensi politis Islam yang sangat kuat. Bukan politik elektoral yang sempit, namun cara mengatur kehidupan bersama. Islam punya dorongan besar untuk mengurus dunia seperti relasi sosial, distribusi keadilan, dan pengelolaan kekuasaan. Ia hadir melalui disiplin fikih, syariah, dan aturan-aturan yang membumi lainnya. Karakter ini memang kerap jatuh menjadi kaku dan legalistik, tapi justru di sanalah tersimpan potensi transformasinya.

Dimensi politis ini berkelindan dengan sifat Islam yang sejak awal relatif non-spekulatif. Meskipun kemudian berkembang tradisi kalam dan tasawuf yang rumit, kerangka awal Islam cenderung konkret dan material. Ia bekerja di level tubuh, tindakan, dan praktik yang bisa dipertanggungjawabkan. Dalam pengertian ini, Islam terasa embedded, hadir di dalam dunia bukan melayang di atasnya.

Dari sanalah aku menemukan wajah sosial Islam yang begitu kuat. Sejak kelahirannya, Islam berbicara fasih tentang dunia yang timpang dan upaya menatanya ulang. Tentang yatim, fakir miskin, perempuan, hamba sahaya, dan kekerasan struktural. Jejak itu terus berulang dalam sejarah kontra-kolonialisme dan gerakan sosial umat. Rasanya bukan sebagai romantisme tapi sebagai sesuatu yang logis. Karena kekuatan inilah juga Islam sering dicurigai baik lewat orientalisme, islamofobia, maupun realitas problematis di negara-negara muslim. Namun bagiku, di situlah ketegangan Islam berada. Di antara disiplin yang kaku dan dorongan etis untuk terus berpihak pada yang ringkih.

Kembali Ke Level Dasar

Potret pribumi pekerja kopi di Jawa tahun 1920-an. (Sumber: KITLV)
Potret pribumi pekerja kopi di Jawa tahun 1920-an. (Sumber: KITLV)

Islam bekerja lewat kebiasaan yang diulang-ulang. Terlihat menjemukan, mengekang, tapi penganutnya bilang itulah jalan yang lurus, penghambaan yang benar. Meskipun di antara mereka yang mengatakannya ada yang bolong-bolong salat, ada yang godin saat puasa, ada yang belum sempurna menutup aurat, dan ada yang masih minum alkohol.

Secara fisik, syahadat diucapkan dengan lisan, menegaskan dua kalimat inti bahwa “Tiada tuhan selain Allah, dan Muhammad utusan Allah”. Ucapan ini sering dilakukan di momen formal maupun informal, misalnya ketika masuk agama atau dalam doa harian. Tubuh ikut serta, meskipun secara sederhana. Bibir bergerak, dada naik-turun mengikuti napas, suara menembus ke ruang sekitar.

Syahadat mengajarkan kita untuk menyangkali ego dan terbebas dari obsesi diri, menegaskan bahwa hanya Allah yang menjadi pusat dominasi, dan segala bentuk hirarki palsu adalah manifestasi kesyirikan. Dalam konteks sekarang, hal ini kiranya bisa kita refleksikan dengan isu eksploitasi yang diwariskan kolonialisme, patriarki-heteronormatif, favoritisme agama, atau antroposentrisme yang kian merongrong.

Gerak tubuh dalam salat pun begitu sangat fisik. Sikap berdiri sempurna, rukuk, sujud, duduk, diulang lima kali sehari, dibilas air wudu. Rutinitas ini memerlukan kesadaran penuh, menggerakkan tubuh secara disiplin, rinci, dan tepat aturan. Salat didorong secara berjamaah menegaskan kesetaraan. Semua berdiri sejajar tanpa memandang status sosial. Tubuh jelas menjadi media latihan kehadiran, menghentikan aktivitas rutin, dan menandai jeda dalam arus kesibukan.

Etisnya, salat melatih sikap disiplin kita. Pengelolaan waktu pribadi dan mendorong solidaritas sosial. Kita didorong hadir penuh di tengah kesibukan. Gerakan menundukkan kepala seperti para budak di masa Arab pra-Islam, mengajarkan kerendahan hati di hadapan Allah, sekaligus menantang ilusi kekuasaan dan status sosial. Kita boleh membawanya sebagai usaha menyeimbangkan dinamika kuasa, mengingatkan bahwa prestise, posisi karir, kelas, dan pencapaian seharusnya menumbuhkan kesetaraan bersama.

Berikutnya zakat yang melibatkan pemberian harta, biasanya berupa uang atau makanan pokok kepada mereka yang berhak. Prosesnya tentu membutuhkan tindakan nyata, menghitung, menyerahkan, mengorganisasi, atau menyalurkan bantuan. Tubuh dan pikiran bersatu pada dalam memastikan distribusi tepat sasaran, menjadikan ibadahl yang konkrit dan bisa dirasakan.

Zakat menekankan keadilan distributif dan pelepasan kepemilikan. Zakat membangun pengertian bahwa harta bukan hanya untuk diri sendiri sebab ada hak orang lain yang melekat di dalamnya, melatih kepedulian, dan mengurangi ketamakan. Ini adalah kritik terhadap akumulasi kapitalistik yang berlebihan. Termasuk eksploitasi buruh dan konsumerisme tanpa batas. Langkah yang tidak mudah.

Kemudian shaum Ramadan dengan menahan diri dari makan, minum, aktivitas seksual, dan kadang ucapan atau perilaku tertentu selama matahari belum tenggelam. Tubuh merasakan kelelahan dan gejolak hasrat. Pola tubuh berubah, jadwal makan dan tidur diatur. Akibatnya kesadaran sensorik meningkat,  rasa haus dan lapar menjadi pengingat alamiah.

Puasa adalah latihan pengendalian nafsu dan konsumsi. Di ranah sosial, perannya sangat penting untuk menumbuhkan empati terhadap mereka yang kekurangan. Dalam konteks modern, puasa juga mengajarkan kesadaran terhadap batas sumber daya seperti makanan, energi, dan lingkungan. Mengajak kita meminimalkan limbah dan hidup lebih selaras dengan alam di tengah tuntutan serba instan dan target produksi.

Terakhir adalah naik haji yang menuntut aktivitas fisik yang lebih intens. Berjalan kaki panjang, antre, tawaf mengelilingi Ka’bah, sai antara Safa dan Marwah, berdiri di Arafah, dan lain-lain. Tubuh sungguh terlibat dalam perjalanan spiritual. Fisik bertemu dengan medan kesabaran dan ketahanan. Semua jamaah berada dalam kondisi yang sama, memakai pakaian seragam, dan menghadapi panas, keramaian, serta satu titik fokus yang melampaui rupa dan suara.

Melalui ziarah ini kita melepaskan identitas dan bayang-bayang primordial. Haji menegaskan bahwa semua manusia, terlepas dari status, bangsa, atau latar belakang, sama di hadapan Allah. Perjalanan ini menumbuhkan kesadaran akan keterbatasan diri sekaligus memunculkan rasa persaudaraan universal, menyatukan kita sebagai bagian dari kesemestaan dan kewajiban etis terhadap sesama makhluk-Nya, juga menegaskan pentingnya kesederhanaan dan tanggung jawab sosial-material.

Amal Makruf Nahi Munkar

Anak-anak beragama Islam sedang mengaji di masjid. (Sumber: Pexels/Hera hendrayana)
Anak-anak beragama Islam sedang mengaji di masjid. (Sumber: Pexels/Hera hendrayana)

Setelah melewati kelas-kelas teologi abstrak dan praktik di akar rumput yang penuh tantangan, akhirnya terlihat jelas bahwa lakon Islam bisa dirangkum dalam satu prinsip sederhana ialah amal ma’ruf nahi munkar. Perbuatan baik dilakukan, perbuatan yang zalim dicegah. Semua amal ini tidak lepas dari iman dan ilmu. Itulah yang kadang disebut jihad, aktivitas fisik sekaligus juga penaklukan hawa nafsu yang berjalan seiringan.

Inti Islam adalah sejauh mana kita mampu mewujudkan nilai itu dalam amal nyata. Di tengah dunia yang penuh hierarki, kasta sebagai feodalisme tradisional atau rasisme kontemporer. Islam hadir dengan ide yang tampak sederhana, tapi dengan pelaksanaan yang tidak mudah. Spiritnya selalu menekankan pembebasan dari perbudakan, dari eksploitasi, dari ketidakadilan. Sejarah Nabi dan para sahabat menunjukkan kisah pembebasan budak, perhatian pada fakir miskin.

Spirit itu kiranya yang menjadi napas umat Islam dalam sejarah modern. Ketika kolonialisme Barat merangsek masuk ke kawasan negeri-negeri muslim. Aktualisasi imannya tidak diam, umat vokal menolak penjajahan. Di Bandung, spirit itu muncul dalam banyak cara. Dari gerakan dakwah dan hijrah hingga kelompok kontekstual. Uniknya satu sama lain bergerak dalam medan aktivisme lewat prinsip amal ma’ruf nahi munkar yang sama.

Kasus yang menarik adalah bagaimana umat muslim di Bandung terpolarisasi karena mazhab akidahnya. Syiah, teologi yang dimarginalisasi dalam sejarah. Tradisi Syiah ini terejawantah melalui berdirinya Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) pada 2000 di Gedung Merdeka. Begitu juga oposisinya, Aliansi Nasional Anti-Syi’ah (ANNAS) dideklarasikan pada 2014 di Masjid Al-Fajr. Keduanya boleh saja bersebrangan, tapi tahukah kalau keduanya disatukan dalam panji membela Palestina, atas nama saudara seiman ataupun sekemanusiaan. Ternyata pengalaman sebagai kelompok terjajah mampu menghubungkan dua kutub spektrum Islam.

Baca Juga: Bandung Menjelang Lebaran Era 1990-an dalam Arsip Bandung Pos

Inti yang bisa ditarik sederhana. Islam, dalam segala rupa praktik dan interpretasinya, selalu menempatkan Allah sebagai pusat. Dari situ muncul etika, tanggung jawab sosial, dan kesadaran universal. Agama ini memperlakukan manusia lain dengan adil, menolak penindasan, dan membebaskan mereka yang terjajah. Di dunia yang modern, kompleks, dan sering timpang, prinsip ini tidak kehilangan relevansi. Ia tetap menjadi pijakan untuk menegakkan keadilan, merawat kemanusiaan, kesemestaan, dan menjaga keberpihakan etis terhadap yang lemah.

Jadi, Islam itu agama yang main fisik, ya? Iya, main fisik. Terutama kalau dilihat dari konteks Bandung, yang dipersepsikan sebagai mayoritas. Kita sering melihat dia yang suka turun ke jalan untuk aksi penolakan terhadap minoritas. Tapi di sisi lain, main fisik itu juga dipraktikkan untuk melindungi, seperti Banser yang menjaga gereja malam Natal, atau basis santri pengajian yang menolak pengusuran di kampungnya. Jadi fisik di sini bukan sekadar agresi, tapi juga pelindungan.

Kiranya begitu refleksiku di pertengahan jalan Ramadan kali ini, di momen Nuzululquran, di bulan yang lengkap untuk membumikan Rukun Islam, dengan huru-hara isu perang Iran dan Amerika Serikat, Palestina dan Israel yang lagi-lagi mencuat. Hanya Allah-lah yang Maha Besar, sesama manusia dan ciptaan-Nya, kita sama-sama kecil. Takbir, Allahu Akbar! (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Arfi Pandu Dinata
Menulis tentang agama, budaya, dan kehidupan orang Sunda

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 15 Jun 2026, 15:54

Wayang Wong: Kesenian Unik yang Mengganti Peran Boneka Menggunakan Manusia

Tentang wayang wong, salah satu kesenian tradisional Jawa yang menggabungkan tari, musik, dan drama.

Wayang Wong Ramayana. (Sumber: Arsip Nasional Republik Indonesia)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 13:17

Hijrah, Ubah, dan Arah

Hijrah digital bukanlah tentang meninggalkan teknologi, melainkan menjadikan teknologi sebagai jalan untuk mendekat pada nilai-nilai kebaikan.

Diskusi Film "Hijrah Digital" Ajak Mahasiswa Refleksi Literasi Digital dan Peran AI dalam Keberagamaan (Sumber: instagram @moeslimah_produktif)
Beranda 15 Jun 2026, 13:02

Jejak Ksatria di Gang Maksudi: Menjaga Amanah, Menghidupkan Nadi Ekonomi Negeri

Kisah Hasan, seorang kurir JNE di Bandung yang sempat dibegal saat berteduh karena hujan, namun kini sudah kembali bekerja berkat bantuan dari tempatnya bekerja.

Kepala Cabang Utama JNE Bandung Iyus Rustandi menyerahkan bantuan sepeda motor baru kepada Hasan sebagai bentuk nyata komitmen dan kepedulian perusahaan terhadap keselamatan karyawannya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Arif Budianto)
Linimasa 15 Jun 2026, 12:58

Ketika Selisih Harga BBM Terasa Sampai Akhir Bulan

Kenaikan harga BBM non-subsidi membuat banyak pengendara memilih antre demi mendapatkan Pertalite.

Pengendara rela mengantre lebih panjang di SPBU setelah kenaikan harga BBM Pertamax. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 15 Jun 2026, 11:45

Itinerary Wisata Yogyakarta 1–2 Hari, Destinasi, Kuliner, dan Budget Lengkap

Jelajahi Yogyakarta berdasarkan pembagian kawasan wisata agar perjalanan lebih nyaman. Cocok untuk liburan singkat satu hingga dua hari.

Tugu Jogja, ikon Yogyakarta. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 11:28

Dulu Pakai Ritual, Kini Pakai Kimia: Perubahan Praktik Bertani di Desa Pamoyanan

Perjalanan pertanian Desa Pamoyanan merekam pergeseran dari sistem kepercayaan Sunda Buhun menuju metode pertanian modern yang dianggap lebih efektif dan rasional.

Foto Hamparan sawah di Desa Pamoyanan, Cianjur Selatan, pada 21 Maret 2026. (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Nadhil Ayudiya Az Zahra)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 09:59

Potensi Ulat Sutra Solusi Masalah Bahan Baku Industri Tekstil

Mengatasi krisis bahan baku industri tekstil dengan ulat sutra.

Industri rakyat berbasis benang sutra binaan Pertamina Geothermal Energy (PGE) Area Karaha di Desa Cipondok Kecamatan Sukaresik Kabupaten Tasikmalaya. (Foto: Humas PGE)
Beranda 15 Jun 2026, 09:46

Jejak Persib di Kota Bandung, Jalan-jalan Bobotoh Menyusuri Memori yang Nyaris Dilupakan

Bobotoh menyusuri jejak sejarah Persib di berbagai sudut Kota Bandung, mengungkap kisah, tempat, dan memori yang nyaris terlupakan oleh waktu.

Peserta Bobotoh Story Walk menyusuri jalanan Bandung sambil mendengarkan kisah-kisah yang membentuk sejarah Persib. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Linimasa 15 Jun 2026, 08:43

Layangan Adu, Hobi yang Tidak Lekang oleh Usia

Layangan adu tetap digemari lintas usia dan menjadi ruang silaturahmi para pehobinya.

Layangan adu, hobi yang tak mengenal usia. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 08:40

Sinergi Batalyon Pangan dengan Petani Mengatasi Deflasi Komoditas Pertanian

Eksistensi Yonif TP sebaiknya turut menyelesaikan masalah hilir komoditas pertanian hingga ke pasar induk atau pasar tradisional serta pasar modern.

Bimtek Ketahanan Pangan dan Peningkatan Kemampuan Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP). (Foto: dok Puspen TNI)
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 19:00

Di Era Digital Kita Hidup dalam Situasi Alone Together

Di era digital, kita telah terjebak dengan hubungan teknologi dalam berkoneksi dengan sesama.

Ilustrasi teknologi digital di sekitar generasi muda saat ini. (Sumber: Pexels/Ron Lach)
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 15:00

AI Art: Pencuri Masa Depan para Seniman

Jika AI mampu menghasilkan gambar secara massal, apa yang akan terjadi pada keberadaan dan masa depan para seniman masa kini?

Ilustrasi seni hasil AI. (Sumber: Pexels | Foto: Google DeepMind)
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 12:51

1 Dolar Mencapai Rp 17.865 Rupiah: Apakah Kita Berada dalam Keadaan Baik-Baik Saja?

Pada 27 Mei 2026, nilai rupiah terhadap 1 dolar mencapai Rp 17.865.

Ilustrasi uang rupiah. (Sumber: Pexels/Defrino Maasy)
Wisata & Kuliner 14 Jun 2026, 11:46

Kopi Joss Jogja, Tradisi Kuliner Unik yang Bertahan Lebih dari 60 Tahun

Kenali kopi joss khas Yogyakarta, kopi dengan bara arang panas yang kini ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Simak sejarah dan keunikannya.

Kopi Joss, salah satu kuliner khas Jogja.
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 11:12

Bagaimana Merek Lokal Membangun Branding dalam Multi-Platform

Aroma kopi menjadi identitas utama yang digunakan Implora Cosmetics untuk membangun branding Caffe Matte Lip Cream secara konsisten di berbagai platform komunikasi.

Penulis sedang menelaah kajian tentang merek lokal di Bandung.
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 10:01

Mengenal DISPUSIPDA: Pusat Perpustakaan dan Pengarsipan di Bumi Priangan

DISPUSIPDA JABAR, merupakan perpustakaan dan pusat pengarsipan terbesar di Provinsi Jawa Barat.

Gedung Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Provinsi Jawa Barat (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Raffi Islam Madina)
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 09:06

BBM Naik, Rakyat Kian Tercekik: Alarm bagi Kita Semua

Ketika semua harga naik, biasanya ada sesuatu yang harus "diturunkan".

Sebuah SPBU di Jl. Surapati Kota Bandung. (Foto: Abah Omtris)
Bandung 13 Jun 2026, 20:44

Sektor Perdagangan dan Industri Loyo, Kredit UMKM Jabar Sentuh Rp186,4 Triliun

Total kredit UMKM Jawa Barat tembus Rp186,4 triliun per Maret 2026. Namun, sektor perdagangan besar dan industri pengolahan justru mengalami kontraksi yoy.

Ilustrasi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Jawa Barat. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Bandung 13 Jun 2026, 19:45

Gaya Hidup Serba Cepat, Begini Cara Wanita Modern Pilih Tas Multifungsi yang Sesuai Jati Diri

Wanita urban masa kini cenderung mencari keseimbangan antara fungsionalitas yang tinggi dan pesan personal yang ingin mereka sampaikan kepada dunia melalui penampilan mereka.

Tren terbesar yang mendominasi panggung mode sehari-hari saat ini adalah tingginya permintaan terhadap tas yang bersifat multifungsi atau versatile. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Beranda 13 Jun 2026, 09:16

Mengupas Kebiasaan Belanja Baju yang Menjadi Ancaman Lingkungan

Pemutaran film Menolak Punah di Bandung mengungkap dampak tersembunyi industri fast fashion, dari limbah tekstil hingga ancaman mikroplastik bagi manusia.

Diskusi film Menolak Punah di Tjap Sahabat Bandung mengajak peserta melihat kembali hubungan antara isi lemari dan krisis lingkungan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)