Selamat Hari Raya Idul Fitri
1446 Hijriah • Mohon Maaf Lahir & Batin

Kota Bandung, Tren, dan Ironi Kolonialisme

Arfi Pandu Dinata
Ditulis oleh Arfi Pandu Dinata diterbitkan Senin 01 Sep 2025, 20:14 WIB
Tukang becak di Kota Bandung. (Sumber: Pexels/Try Sukma Wijaya)

Tukang becak di Kota Bandung. (Sumber: Pexels/Try Sukma Wijaya)

Fenomena “Kenapa Bandung” muncul di TikTok pada akhir 2023 lewat akun @ardan_achsya. Konten ini memotret masalah macet, polusi, banjir, hingga nostalgia dan promosi usaha lokal. Cara penyampaiannya ringan dan penuh humor khas Sunda. Tren ini menjadi ruang curhat publik yang kreatif sekaligus kritis (Ayobandung.com, 2 Agustus 2025).

Di kota inilah cerita hidup Dilan bikin banyak orang merasa baper, seolah memang ditakdirkan jadi latar tempat dari gejolak asmara dan gombalan. Di sini jugalah, tim Jurnalrisa menjelajahi sudut-sudut seramnya untuk memburu konten horor.

Bandung adalah rumah bagi Persib, klub sepak bola yang berhasil menyandang 4 bintang. Begitu juga tempat terbaik bagi Preman Pensiun membangun sinetron keseharian, tersohor di layar kaca televisi nasional.

Lagu “Dan Bandung” (2019) dari The Panas Dalam menyebut Bandung bukan sekadar urusan wilayah. Sementara itu, Yura Yunita lewat lagu “Bandung” (2021) menyatakan Bandung adalah tempat pulang (mulang tetep ka salira).

Kota yang Menghapus Penjajahan di Atas Dunia

Dalam narasi yang absurd nan lucu dari Rangga Sasana, pimpinan Sunda Empire, Bandung dipandang sebagai tempat terbentuknya NATO. Malah berikutnya diasosiasikan kuat dengan PBB dan Pentagon. Lewat bahasa menggelitik ini terungkap adanya tatanan ABCD. A American, B British, C Canada, dan D Diplomatic International alias Bandung. Kedengarannya gila, tapi faktanya plat nomor kendaraan di Bandung memang D. Bikin ngakak sekaligus berpikir, kok Bandung jadi pusat dunia?

Bandung tak sekadar sematan Ibu Kota Priangan sebagaimana Ismail Marzuki mengabadikan dalam lagunya. Dari sini sungguh lahir solidaritas bangsa-bangsa yang mengamalkan amanat konstitusi bahwa “penjajahan di atas dunia harus dihapuskan”.

Cikapundung berhasil menghubungkan dua benua, sebagai sumber nadi perjuangan melawan kolonialisme. Tahun 1955, Konferensi Asia Afrika digelar menjadi perhelatan akbar dan dihadiri oleh 29 negara. Dasasila Bandung terlahir di sini dan diawali dengan kata “Menghormati hak-hak dasar manusia”.

Dayang Sumbi ibu bagi orang-orang Bandung, pasti tersenyum bangga melihat anak-anaknya yang berani melawan kuasa. Danau purba yang telah surut berubah kota besar yang tak membuatnya kecewa. Riak mata airnya berbuah semangat bagi penyintas imperialisme Barat.

Gedung itu kini masih kokoh berdiri, seperti namanya “Merdeka” yang sekaligus mengandung doa. Inilah Bandung yang konsisten berbela rasa, membuka jalan kemanusiaan termasuk bagi Palestina yang masih berjuang.

Masalah (De)kolonisasi Bandung

Jalan Braga, salah satu pusat keramaian yang lahir dari kreativitas warga Bandung zaman kolonial. (Sumber: Tropenmuseum)
Jalan Braga, salah satu pusat keramaian yang lahir dari kreativitas warga Bandung zaman kolonial. (Sumber: Tropenmuseum)

Bandung memang pernah mencicipi status Ibu Kota Hindia Belanda, meskipun hanya sekejap di Maret 1942. Kota ini dipilih karena dianggap lebih adem, strategis, dan aman dibandingkan Batavia yang makin sesak. Bahkan kantor pemerintahan, radio, hingga museum sempat dipindahkan ke sini, seolah menegaskan peranannya sebagai pusat yang baru (Nationalgeographic.grid.id, 20 Mei 2022).

Rasa-rasanya kesan itu masih menggema hingga kini. Pengelolaan kota masih menjiplak gaya kolonial. Bagaimana tidak kebanggaan pada Bandung sering kali larut dalam satu wacana tunggal? Jargon Paris van Java terus diulang-ulang sebagai branding wisata, menonjolkan taman-taman rancangan Eropa, bangunan art deco, dan jalan-jalan di utara kota yang rapi.

Semuanya konten primadona di media sosial. Publik diarahkan untuk terpana pada warisan tata ruang kolonial yang estetis.

Padahal mentalitas semacam itu kerap kali menutupi wajah warga di pinggiran. Slogan manis seperti “Bandung estetik setelah hujan” menenggelamkan kenyataan wilayah langganan banjir seperti di Kopo, Gedebage, atau Cibaduyut. Kafe, distro, dan tempat tongkrongan membungkam realitas rakyat di Tegalega yang ringkih berjualan, berpadu dengan asap knalpot yang mengepul dan pagar alun-alun yang tak terurus.

Begitu juga kembang yang dilambangkan pada kota ini, turut menyumbang polemik yang sama. Apakah ini pujian atau seksisme? Kenapa Bandung harus dilihat dari perempuannya yang dikomodifikasi? Kenapa Saritem dan Jalan Otista lebih mencolok jadi bahan guyonan moralis ketimbang derita kemiskinan struktural yang akut?

Dalam potret ini tak ada kata lain yang dapat menggambarkan Bandung selain Ironis. Kota yang dulu dikenal dengan semangat perlawanan penjajahan justru kini terjebak dalam kolonialisme gaya baru. Tata kelolanya masih melanjutkan warisan segregasi rasial lewat desain ruang yang memisahkan kelas-kelas warganya. Termasuk citra di dalamnya.

Coba tengoklah kasus Taman Sari, Dago Elos, hingga Sukahaji sebagai cerita warga Bandung yang mempertahankan ruang hidupnya.

Tren yang Abadi

Dua abad lebih kota ini berdiri, jadi tumpuan hajat hidup banyak orang. Lokal maupun global, mencari foto dan sensasi ataupun sesuap nasi. Lekas sembuhlah, sebab kolonialisme tak hengkang hanya dari pelucutan senjata.

Ia juga mencangkup cara pikir dan cara mengelola kota. Uga bandung heurin ku tangtung, semoga bukan hanya gedung tapi prinsip kota yang berdikari.

Jadi masihkah relevan tren “Kenapa Bandung?”. Tentu harus terus jadi pertanyaan yang abadi sepanjang belum tuntas menjawab, apa karena ada Jalan Braga, Dago, dan Gedung Sate yang vibes-nya bikin vintage kekinian? Atau karena ada Bandung Lautan Api 1946 ketika warga bakar kotanya sendiri biar enggak jatuh ke tangan Belanda lagi? (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Arfi Pandu Dinata
Menulis tentang agama, budaya, dan kehidupan orang Sunda

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 21 Mar 2026, 20:26

Islam Kita dan Islam Mereka: Sebuah Ilusi Pascakolonial

Menjadi muslim di Indonesia adalah bagian dari perjalanan sejarah yang panjang dan sarat kontradiksi.

Ada banyak kisah yang lazim dialami oleh para jamaah haji selama menunaikan rukun Islam kelima tersebut. (Sumber: Pexels/Mutahir Jamil)
Ayo Netizen 21 Mar 2026, 18:20

Idulfitri 1447 H

Hikmah Ramadan itu menjaga dan merawat silaturahmi. Puncaknya hadir saat Idulfitri, momentum kemenangan sejati dalam menundukkan hawa nafsu, termasuk nafsu (angkara murka) untuk merasa paling benar.

Salat berjamaah di Masjid Pusdai, Kota Bandung, Jumat 20 Februari 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejarah 21 Mar 2026, 06:30

Hikayat Lebaran Seabad Lalu di Bandung, Open House Bupati untuk Pribumi dan Eropa

Laporan majalah kolonial tahun 1926 menunjukkan bagaimana masyarakat Bandung merayakan Idulfitri dengan berbagai tradisi unik.

Lebaran di kediaman Bupati Bandung 1926. (Sumber: Majalah Indie)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 19:10

Yang Gak Mudik, Yuk Wisata Bandung Dilirik

Warga Bandung yang gak mudik, yuk ramaikan wisata di Bandung! Manfaatnya menggerakkan perekonomian lokal di Bandung.

Sarae Hills destinasi wisata yang tidak hanya indah, tapi juga Instagrammable. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 17:24

Idulfitri, Syawal dan Lebaran: Jalan Pulang dan Lima Tahap Pemaafan

Idulfitri, syawal dan lebaran bukan sebatas perayaan, tetapi sejuta lapisan makna yang mengantarkan manusia pada kesadaran dan peningkatan diri.

Ilustrasi suasana Idulfitri, Syawal dan Lebaran. (Sumber: Ozgar Jan dari Pixabay)
Beranda 20 Mar 2026, 16:54

Tradisi Potong Rambut Lebaran di Kota Bandung: Antrean Panjang di Barbershop dan Lapak DPR yang Makin Sepi

Tradisi potong rambut menjelang Lebaran di Kota Bandung menunjukkan kontras yang mencolok. Barbershop dipadati pelanggan, sementara lapak cukur DPR kian sepi.

Yana Mulyana dengan ruang ala kadarnya tetap bertahan di bawah rindang pohon Jalan Malabar, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 15:48

Memupuk Persaudaraan, Merawat Harmoni

Nyepi mengajarkan kita sikap memperkuat persaudaraan, persatuan, semangat toleransi, perdamaian untuk meraih kehidupan rukun, harmoni, bahagia dan sejahtera dapat terus terjaga di tengah perbedaan.

Ilustrasi perayaan Nyepi di Bali (Sumber: Freepik)
Linimasa 20 Mar 2026, 01:03

Kemacetan dan Sumber Rezeki Pedagang Oleh-oleh Nagreg

Kondisi lalu lintas di Nagreg sangat memengaruhi penjualan oleh-oleh. Saat ramai lancar pembeli meningkat, namun kemacetan justru membuat pemudik enggan berhenti.

Lalu lintas Nagreg saat mudik lebaran 2026. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 20 Mar 2026, 00:53

Beda Hari Lebaran di Indonesia, Bikin Orang Eropa Kebingungan

Jelang akhir Ramadan, satu pertanyaan hampir selalu muncul di Indonesia: Lebaran jatuh hari apa? Akar sejarahnya panjang. Sudah ada sejak zaman dulu.

Suasana pasca salat id Bandung 1926 (Sumber: Majalah Indie)
Beranda 19 Mar 2026, 21:21

Menitip Rindu pada Takbir: Cerita Perantau yang Menghadapi Lebaran dalam Sepi

Pemerintah menetapkan Idulfitri 1447 H jatuh pada 21 Maret 2026. Di balik momen kemenangan itu, tersimpan kisah warga perantauan yang menjalani malam takbiran tanpa pulang kampung dan menahan rindu.

Mutiara Indah Lestari tetap tegar merayakan Lebaran di perantauan, menyimpan rindu untuk keluarganya di Padang (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 20:00

Idulfitri sebagai Komunikasi Hati

Tulisan ini membahas Idul Fitri sebagai momen memulihkan komunikasi hati di tengah kebisingan digital, menekankan pentingnya ketulusan, kehadiran, dan relasi yang lebih manusiawi.

Ribuan umat muslim melaksanakan shalat Idul Fitri 1446 H di Lapangan Gasibu, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Senin 31 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Bandung 19 Mar 2026, 19:46

Jersey Lokal Bandung RZQ Actv Buktikan Taring, Sukses Curi Perhatian di Tengah Hiruk-Pikuk Jelang Idul Fitri

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya.

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 19:09

Dijajah Tanpa Penjajah: Ketika Kemerdekaan Kehilangan Makna

Kemerdekaan fisik belum menjamin kemerdekaan berpikir.

ilustrasi buku sebagai sumber ilmu. (Sumber; Pixabay)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 18:59

Mudik dan Kelanjutan Ramadan: Menguji Ketakwaan di Jalan Kehidupan

Mudik Lebaran selalu menghadirkan suasana yang hangat dan penuh makna.

Sejumlah pemudik sepeda motor melintas di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Sabtu 14 Maret 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 13:12

Petani Menua dan Anak Muda Menjauh: Siapa yang Akan Menjaga Ketahanan Pangan Indonesia?

Indonesia dikenal sebagai negara agraris, namun mengalami krisis regenerasi petani. Mampukah program Petani Milenial menjadi solusi bagi masa depan pangan Indonesia?

Petani membajak sawah menggunakan traktor di Gedebage, Kota Bandung, Kamis 4 Januari 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Linimasa 19 Mar 2026, 12:49

Harap Cemas Pedagang Oleh-oleh Nagreg di Tengah Rencana Pembangunan Tol Cigatas

Pedagang oleh-oleh di Nagreg mulai kehilangan pembeli sejak hadirnya jalan tol. Rencana Tol Getaci memicu kekhawatiran baru soal masa depan usaha mereka.

Penjual oleh-oleh di Nagreg. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 19 Mar 2026, 12:49

Sejarah Kue Kering Lebaran, Sajian Idulfitri yang Berakar dari Dapur Belanda

Tradisi menyajikan kue kering saat lebaran memiliki jejak sejarah kolonial. Resep kue kecil dari Eropa yang disebut koekje berkembang di Hindia Belanda dan berubah menjadi nastar hingga kastengel.

Ilustrasi kue kering lebaran.
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 10:59

Kakaretaan, Yuk!

Di atas rel, kita belajar soal hidup, seperti kereta, akan terus berjalan.

Calon penumpang Kereta Api Pasundan tambahan berjalan menuju gerbong di Stasiun Kiaracondong, Kota Bandung, Selasa 17 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 20:29

Kisah Kue-Kue Kering Hari Raya

Tahukah kalian, bahwa kue alias “cookies” itu berasal dari bahasa Belanda yaitu “koekje”.

Sebuah mural karya harijadi sumodidjojo yang berjudul "kehidupan batavia". (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 17:21

Menata Arah Pendidikan Tinggi Keagamaan di Era Serba Cepat

Pepen Supendi, Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)