Kota Bandung, Tren, dan Ironi Kolonialisme

4 menit baca
Arfi Pandu Dinata
Ditulis oleh Arfi Pandu Dinata diterbitkan
Tukang becak di Kota Bandung. (Sumber: Pexels/Try Sukma Wijaya)
Tukang becak di Kota Bandung. (Sumber: Pexels/Try Sukma Wijaya)

Fenomena “Kenapa Bandung” muncul di TikTok pada akhir 2023 lewat akun @ardan_achsya. Konten ini memotret masalah macet, polusi, banjir, hingga nostalgia dan promosi usaha lokal. Cara penyampaiannya ringan dan penuh humor khas Sunda. Tren ini menjadi ruang curhat publik yang kreatif sekaligus kritis (Ayobandung.com, 2 Agustus 2025).

Di kota inilah cerita hidup Dilan bikin banyak orang merasa baper, seolah memang ditakdirkan jadi latar tempat dari gejolak asmara dan gombalan. Di sini jugalah, tim Jurnalrisa menjelajahi sudut-sudut seramnya untuk memburu konten horor.

Bandung adalah rumah bagi Persib, klub sepak bola yang berhasil menyandang 4 bintang. Begitu juga tempat terbaik bagi Preman Pensiun membangun sinetron keseharian, tersohor di layar kaca televisi nasional.

Lagu “Dan Bandung” (2019) dari The Panas Dalam menyebut Bandung bukan sekadar urusan wilayah. Sementara itu, Yura Yunita lewat lagu “Bandung” (2021) menyatakan Bandung adalah tempat pulang (mulang tetep ka salira).

Kota yang Menghapus Penjajahan di Atas Dunia

Dalam narasi yang absurd nan lucu dari Rangga Sasana, pimpinan Sunda Empire, Bandung dipandang sebagai tempat terbentuknya NATO. Malah berikutnya diasosiasikan kuat dengan PBB dan Pentagon. Lewat bahasa menggelitik ini terungkap adanya tatanan ABCD. A American, B British, C Canada, dan D Diplomatic International alias Bandung. Kedengarannya gila, tapi faktanya plat nomor kendaraan di Bandung memang D. Bikin ngakak sekaligus berpikir, kok Bandung jadi pusat dunia?

Bandung tak sekadar sematan Ibu Kota Priangan sebagaimana Ismail Marzuki mengabadikan dalam lagunya. Dari sini sungguh lahir solidaritas bangsa-bangsa yang mengamalkan amanat konstitusi bahwa “penjajahan di atas dunia harus dihapuskan”.

Cikapundung berhasil menghubungkan dua benua, sebagai sumber nadi perjuangan melawan kolonialisme. Tahun 1955, Konferensi Asia Afrika digelar menjadi perhelatan akbar dan dihadiri oleh 29 negara. Dasasila Bandung terlahir di sini dan diawali dengan kata “Menghormati hak-hak dasar manusia”.

Dayang Sumbi ibu bagi orang-orang Bandung, pasti tersenyum bangga melihat anak-anaknya yang berani melawan kuasa. Danau purba yang telah surut berubah kota besar yang tak membuatnya kecewa. Riak mata airnya berbuah semangat bagi penyintas imperialisme Barat.

Gedung itu kini masih kokoh berdiri, seperti namanya “Merdeka” yang sekaligus mengandung doa. Inilah Bandung yang konsisten berbela rasa, membuka jalan kemanusiaan termasuk bagi Palestina yang masih berjuang.

Masalah (De)kolonisasi Bandung

Jalan Braga, salah satu pusat keramaian yang lahir dari kreativitas warga Bandung zaman kolonial. (Sumber: Tropenmuseum)
Jalan Braga, salah satu pusat keramaian yang lahir dari kreativitas warga Bandung zaman kolonial. (Sumber: Tropenmuseum)

Bandung memang pernah mencicipi status Ibu Kota Hindia Belanda, meskipun hanya sekejap di Maret 1942. Kota ini dipilih karena dianggap lebih adem, strategis, dan aman dibandingkan Batavia yang makin sesak. Bahkan kantor pemerintahan, radio, hingga museum sempat dipindahkan ke sini, seolah menegaskan peranannya sebagai pusat yang baru (Nationalgeographic.grid.id, 20 Mei 2022).

Rasa-rasanya kesan itu masih menggema hingga kini. Pengelolaan kota masih menjiplak gaya kolonial. Bagaimana tidak kebanggaan pada Bandung sering kali larut dalam satu wacana tunggal? Jargon Paris van Java terus diulang-ulang sebagai branding wisata, menonjolkan taman-taman rancangan Eropa, bangunan art deco, dan jalan-jalan di utara kota yang rapi.

Semuanya konten primadona di media sosial. Publik diarahkan untuk terpana pada warisan tata ruang kolonial yang estetis.

Padahal mentalitas semacam itu kerap kali menutupi wajah warga di pinggiran. Slogan manis seperti “Bandung estetik setelah hujan” menenggelamkan kenyataan wilayah langganan banjir seperti di Kopo, Gedebage, atau Cibaduyut. Kafe, distro, dan tempat tongkrongan membungkam realitas rakyat di Tegalega yang ringkih berjualan, berpadu dengan asap knalpot yang mengepul dan pagar alun-alun yang tak terurus.

Begitu juga kembang yang dilambangkan pada kota ini, turut menyumbang polemik yang sama. Apakah ini pujian atau seksisme? Kenapa Bandung harus dilihat dari perempuannya yang dikomodifikasi? Kenapa Saritem dan Jalan Otista lebih mencolok jadi bahan guyonan moralis ketimbang derita kemiskinan struktural yang akut?

Dalam potret ini tak ada kata lain yang dapat menggambarkan Bandung selain Ironis. Kota yang dulu dikenal dengan semangat perlawanan penjajahan justru kini terjebak dalam kolonialisme gaya baru. Tata kelolanya masih melanjutkan warisan segregasi rasial lewat desain ruang yang memisahkan kelas-kelas warganya. Termasuk citra di dalamnya.

Coba tengoklah kasus Taman Sari, Dago Elos, hingga Sukahaji sebagai cerita warga Bandung yang mempertahankan ruang hidupnya.

Tren yang Abadi

Dua abad lebih kota ini berdiri, jadi tumpuan hajat hidup banyak orang. Lokal maupun global, mencari foto dan sensasi ataupun sesuap nasi. Lekas sembuhlah, sebab kolonialisme tak hengkang hanya dari pelucutan senjata.

Ia juga mencangkup cara pikir dan cara mengelola kota. Uga bandung heurin ku tangtung, semoga bukan hanya gedung tapi prinsip kota yang berdikari.

Jadi masihkah relevan tren “Kenapa Bandung?”. Tentu harus terus jadi pertanyaan yang abadi sepanjang belum tuntas menjawab, apa karena ada Jalan Braga, Dago, dan Gedung Sate yang vibes-nya bikin vintage kekinian? Atau karena ada Bandung Lautan Api 1946 ketika warga bakar kotanya sendiri biar enggak jatuh ke tangan Belanda lagi? (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)