Balap Lari Tengah Malam di Gudsel dan Ciumbuleuit, Cara Anak Muda Bandung Menunggu Sahur

Ilham Maulana
Ditulis oleh Ilham Maulana diterbitkan Selasa 10 Mar 2026, 12:47 WIB
Suasana balap lari jalanan di Jalan Gudang Selatan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Suasana balap lari jalanan di Jalan Gudang Selatan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

AYOBANDUNG.ID - Suasana malam di kawasan Gudang Selatan, Kota Bandung, tampak berbeda selama bulan Ramadan. Menjelang tengah malam, puluhan anak muda berkumpul di pinggir jalan. Sorakan mereka pecah setiap kali dua pelari melesat secepat mungkin menuju garis finis di lintasan pendek sepanjang puluhan meter.

Kegiatan balap lari jalanan ini dikenal dengan nama Gudsel Run Race, yang digagas oleh anak-anak muda setempat sebagai cara untuk mengisi waktu luang selama Ramadan.

Ketua pelaksana kegiatan tersebut, Farisal Imtiyaz (23), mengatakan bahwa kegiatan ini berawal dari inisiatif sederhana anak-anak muda yang sering berkumpul di kawasan Gudang Selatan.

“Awalnya dimulai dari tahun kemarin buat volume pertamanya. Niat awalnya sebenarnya cuma buat ngisi waktu luang anak-anak sini, warga lokal sini. Kita kan basic-nya anak-anak yang doyan nongkrong, apalagi bulan puasa banyak waktu kosong dan banyak gabutnya,” ujar Faris saat ditemui di lokasi.

Farisal Imtiyaz menjelaskan awal mula digagasnya Gudsel Run Race untuk meramaikan malam Ramadan sekaligus menjadi ruang berkumpul yang positif. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Farisal Imtiyaz menjelaskan awal mula digagasnya Gudsel Run Race untuk meramaikan malam Ramadan sekaligus menjadi ruang berkumpul yang positif. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Menurutnya, ide membuat balap lari ini muncul setelah ia melihat kegiatan serupa di tempat lain. Ia kemudian mencoba mengadaptasi konsep tersebut dan menerapkannya di kawasan Gudang Selatan.

“Kebetulan saya dulu lihat balap lari di tempat lain, akhirnya saya bawa ke sini. Istilahnya ATM lah, amati, tiru, modifikasi. Kita coba di sini, ternyata Alhamdulillah ramai juga,” katanya.

Faris menjelaskan bahwa kegiatan ini memang dibuat dengan konsep sederhana dan bersifat fun run, sehingga siapa pun boleh ikut tanpa harus melalui proses pendaftaran khusus.

“Untuk sekarang kita benar-benar bebasin. Mau dari warga mana, dari kota mana pun, selama dia doyan lari dan antusias buat ikut, kita welcome saja,” jelasnya.

Dalam satu malam, jumlah peserta yang ikut balap lari bisa mencapai puluhan orang. Bahkan, menurut Faris, jumlah peserta paling sedikit yang pernah tercatat pun tetap cukup ramai.

“Paling sepi itu di angka 27 pasang pelari dalam satu malam. Biasanya rata-rata ada 20 sampai 30 pasang yang ikut. Jadi lumayan ramai,” katanya.

Lintasan yang digunakan memiliki panjang sekitar 80 meter, menyesuaikan dengan kondisi jalan yang ada di kawasan tersebut.

“Kalau ukuran pastinya saya juga enggak cek secara detail, tapi kurang lebih sekitar 80 meter. Sebenarnya penginnya 100 meter, tapi di sini banyak polisi tidur, jadi kita menyesuaikan kondisi lapangan saja,” ujarnya.

Paris menambahkan bahwa kegiatan ini tidak hanya sekadar hiburan bagi anak muda, tetapi juga memiliki tujuan sosial yang lebih luas, yakni menciptakan suasana malam Ramadan yang lebih positif.

“Tujuan utamanya buat mengisi waktu luang anak muda. Kita juga mau ikut andil menjaga kondusivitas Kota Bandung. Harapannya dengan adanya kegiatan seperti ini bisa sedikit banyak mengurangi potensi kriminalitas di malam hari,” katanya.

Ia juga berharap kegiatan tersebut dapat memberikan dampak bagi warga sekitar, termasuk bagi pelaku usaha kecil yang berjualan di sekitar lokasi.

“Harapannya dengan adanya Gudsel Run Race ini bisa menghidupkan lagi suasana Ramadan di sini. Warga jadi ramai, UMKM juga bisa terbantu, dan Kota Bandung bisa lebih meriah di malam hari,” ujar Faris.

Di antara para peserta yang ikut meramaikan balap lari tersebut adalah Sidiq (18), seorang pemuda asal Kopo yang tertarik mencoba pengalaman baru di Gudang Selatan.

Sidiq mengaku awalnya mengetahui kegiatan ini dari media sosial sebelum akhirnya memutuskan datang dan ikut berlari.

“Awalnya saya tahu dari FYP TikTok juga. Terus teman-teman bilang, ‘Ini kayaknya harus ikutan.’ Kebetulan juga jarang ada event seperti ini di bulan Ramadan, jadi saya penasaran ingin mencoba,” kata Sidiq.

Meski baru pertama kali mengikuti balap lari jalanan seperti ini, Sidiq mengaku cukup percaya diri karena terbiasa menjalani latihan fisik sebagai atlet.

“Saya kebetulan atlet Muay Thai, jadi memang ada latihan fisik juga. Dalam seminggu biasanya latihan enam kali, cuma hari Minggu saja istirahat. Jadi secara fisik sudah terbiasa latihan,” ujarnya.

Bagi Sidiq, keseruan balap lari jalanan tidak hanya terletak pada kecepatan para pelari, tetapi juga pada atmosfer yang tercipta dari dukungan para penonton.

“Menurut saya yang paling seru itu ada tantangannya. Kita berlomba-lomba tapi untuk hal positif juga. Selain itu bisa menambah persaudaraan dengan teman-teman lain. Apalagi kalau penontonnya ramai, itu sangat mempengaruhi semangat. Semakin banyak yang bersorak, semakin terpacu juga buat larinya,” katanya.

Tidak hanya para peserta yang menikmati kegiatan tersebut, para penonton pun turut meramaikan suasana di Gudang Selatan.

Ega, remaja berusia 16 tahun yang masih duduk di bangku sekolah, mengaku sengaja datang untuk menyaksikan balap lari setelah mendengar informasi dari temannya.

“Saya tahu kegiatan ini dari teman. Terus sengaja datang ke sini karena ingin lihat yang balap lari. Menurut saya seru, karena banyak yang ikut balap,” ujarnya.

Menurut Ega, keramaian biasanya mulai terasa menjelang tengah malam ketika semakin banyak anak muda yang datang untuk menonton.

“Biasanya di sini mulai ramai sekitar jam 12 malam ke atas,” katanya.

Ia pun menilai kegiatan balap lari tersebut memberikan dampak positif bagi anak muda di kawasan tersebut.

“Menurut saya kegiatan ini positif, karena anak-anak muda jadi punya kegiatan juga,” ujarnya.

Mahasiswa vs Warga

Fenomena balap lari jalanan selama Ramadan tidak hanya terjadi di Gudang Selatan. Di kawasan Jalan Ciumbuleuit, kegiatan serupa juga ramai digelar dan bahkan menjadi ajang pertemuan antara mahasiswa dan warga sekitar.

Jika di Gudsel kegiatan ini digagas oleh warga setempat, di Ciumbuleuit balap lari malam justru menjadi ajang yang mempertemukan mahasiswa dengan masyarakat sekitar.

Di tengah keramaian penonton yang memadati pinggir jalan, para pelari bergantian bersiap di garis start sebelum berlari menuju garis finis yang berjarak puluhan meter. Sorakan penonton menjadi penyemangat bagi para peserta yang beradu cepat di lintasan tersebut.

Muhammad Finton Firmansiah yang menggagas ajang balap lari ini sebagai ruang kebersamaan agar mahasiswa dan warga sekitar bisa berbaur melalui olahraga sederhana selama Ramadan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Muhammad Finton Firmansiah yang menggagas ajang balap lari ini sebagai ruang kebersamaan agar mahasiswa dan warga sekitar bisa berbaur melalui olahraga sederhana selama Ramadan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Salah satu penggiat acara tersebut, Muhammad Finton Firmansiah (19), mengatakan kegiatan balap lari di kawasan Ciumbuleuit ini tidak hanya sekadar hiburan, tetapi juga bertujuan mempererat hubungan antara mahasiswa dan warga sekitar.

“Untuk kegiatan kita itu sebenarnya balap lari bersama warga juga. Karena dari kampus kita sering ada anggapan ada batasan antara mahasiswa yang dianggap elit dengan masyarakat. Jadi lewat kegiatan ini kita ingin mahasiswa dan masyarakat bisa lebih menyatu,” ujar Finton.

Menurutnya, ide kegiatan tersebut muncul dari kesadaran para mahasiswa yang ingin menghadirkan aktivitas yang lebih positif saat berkumpul di malam hari.

“Awalnya dari mahasiswa yang sering nongkrong malam-malam, lalu kepikiran untuk bikin kegiatan yang lebih positif. Jadi muncul ide bikin balap lari ini. Kebetulan juga dibantu teman-teman media kampus, jadi kegiatan ini bisa berjalan,” katanya.

Finton menjelaskan kegiatan ini sebenarnya baru kembali digelar tahun ini setelah sempat berhenti beberapa waktu.

“Kegiatan ini baru kita adakan lagi setelah beberapa tahun berhenti. Kalau yang sekarang dimulai lagi minggu kemarin, sekitar tanggal 28. Ini juga baru berjalan beberapa kali,” ujarnya.

Rencananya, kegiatan tersebut akan terus diadakan selama bulan Ramadan jika mendapat izin dari pihak kampus maupun kepolisian.

“Kalau dari mahasiswa sih pengennya setiap minggu ada selama bulan puasa. Tapi tetap tergantung izin dari pihak kepolisian dan kampus,” katanya.

Konsep balap lari di jalan sengaja dipilih karena dinilai sederhana dan dapat melibatkan banyak orang.

“Kalau balap lari seperti ini kan mengingatkan masa kecil juga, kita dulu sering lari-larian. Jadi lewat kegiatan ini kita ingin mahasiswa dan warga bisa seru-seruan bareng,” ujarnya.

Kegiatan ini juga sengaja digelar pada malam hari agar tidak mengganggu aktivitas puasa.

“Kalau siang kan kita lagi puasa. Takutnya malah kasihan peserta jadi tidak kuat puasanya. Jadi kita buat malam hari saja,” katanya.

Dalam satu malam, puluhan pelari bisa ikut meramaikan balapan tersebut.

“Biasanya dalam satu malam ada sekitar 30 pasang pelari. Tadi saja sudah lebih dari 20 pasang yang ikut. Larinya sekitar 50 sampai 70 meter,” jelasnya.

Finton mengatakan siapa pun boleh ikut balap lari tersebut karena kegiatan ini bersifat terbuka.

“Peserta tidak harus daftar, karena ini konsepnya fun race. Jadi siapa saja boleh ikut, tinggal datang saja,” ujarnya.

Ia menambahkan, panitia tetap mengingatkan para peserta untuk menjaga keselamatan selama berlari.

“Kita menghimbau supaya peserta tidak saling dorong saat berlari. Untuk keamanan jalan juga dibantu teman-teman mahasiswa dan warga yang mengatur area parkir dan jalur,” katanya.

Menurutnya, kegiatan ini bisa menarik perhatian banyak anak muda karena sedang menjadi tren di berbagai tempat.

“Pertama mungkin karena memang lagi tren juga. Selain itu warga di sini juga antusias, karena sudah lama tidak ada kegiatan seperti ini,” ujarnya.

Tristan mengaku tertarik ikut balap lari jalanan di Ciumbuleuit karena penasaran dengan suasana seru yang ramai didukung sorakan penonton. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Tristan mengaku tertarik ikut balap lari jalanan di Ciumbuleuit karena penasaran dengan suasana seru yang ramai didukung sorakan penonton. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Di antara para peserta yang ikut meramaikan balap lari di kawasan Ciumbuleuit adalah Tristan (19), mahasiswa yang mengaku baru pertama kali mencoba ikut balap lari jalanan seperti ini.

Tristan mengatakan dirinya tertarik mengikuti kegiatan tersebut setelah mengetahui informasi dari media kampus.

“Saya tahu kegiatan ini dari media kampus, dari UNPAR Convention. Sebenarnya ini pertama kali ikut. Sebelumnya belum pernah ikut balap lari seperti ini, jadi penasaran saja ingin mencoba,” kata Tristan.

Meski mengaku hanya mengikuti balapan tersebut untuk bersenang-senang, Tristan tetap merasa tertantang untuk ikut berlari bersama peserta lainnya.

“Kalau untuk ikutnya sih lebih ke hiburan saja, main-main saja. Tapi tetap seru karena suasananya ramai,” ujarnya.

Tristan juga mengaku pernah memiliki pengalaman latihan lari sebelumnya, meski tidak secara rutin lagi dilakukan saat ini.

“Dulu pernah latihan lari juga, biasanya seminggu sekitar tiga kali. Jadi lumayan sudah terbiasa juga,” katanya.

Menurut Tristan, hal paling menarik dari balap lari jalanan seperti ini adalah suasana kebersamaan yang tercipta di antara peserta dan penonton.

“Yang paling seru itu karena bisa mendukung masyarakat sini juga untuk olahraga. Selain itu penontonnya juga sangat mempengaruhi semangat pelari,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa dukungan penonton membuat suasana balapan terasa lebih hidup dibandingkan dengan lomba lari formal.

“Kalau jujur malah lebih seru yang seperti ini. Penontonnya mendukung banget, jadi semangatnya terasa. Kalau banyak yang sorak-sorak kita jadi lebih semangat buat lari,” katanya.

Tidak hanya para pelari yang menikmati suasana tersebut, warga sekitar juga turut meramaikan kegiatan balap lari di kawasan Ciumbuleuit.

Salah satunya adalah Akbar (17), seorang pelajar kelas 12 yang mengaku sengaja datang untuk menonton setelah mengetahui kegiatan tersebut dari media sosial.

“Saya tahu kegiatan ini dari Instagram. Terus memang sengaja datang ke sini buat nonton,” kata Akbar.

Menurut Akbar, kegiatan balap lari tersebut menjadi hiburan tersendiri bagi anak muda di kawasan Ciumbuleuit, terutama selama bulan Ramadan.

“Menurut saya seru sih, karena bisa lihat potensi orang-orang di sini juga yang ikut lari. Selain itu juga buat seru-seruan saja selama bulan Ramadan,” ujarnya.

Ia mengatakan keramaian biasanya mulai terasa menjelang tengah malam ketika semakin banyak orang datang untuk menonton.

“Biasanya ramai dari sekitar jam 12 malam sampai sekitar jam setengah satu,” katanya.

Sebagai warga setempat, Akbar menilai kegiatan tersebut memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar.

“Menurut saya positif, karena orang-orang jadi punya kegiatan juga. Selain itu bisa meningkatkan kebugaran tubuh karena mereka lari beberapa puluh meter,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa kegiatan seperti ini menjadi hiburan bagi warga yang sedang menunggu waktu sahur.

“Lumayan seru buat hiburan warga sini juga, apalagi sambil nunggu sahur jadi tidak bosan,” katanya.

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 10 Mar 2026, 17:45

Piala Dunia 1986 Digelar Bersamaan dengan Bulan Ramadan

FIFA World Cup '86 yang digelar di Meksiko berbarengan dengan bulan suci Ramadan.

Halaman muka surat kabar terbitan Bandung, Gala dan Mandala yang menyoroti perhelatan Piala Dunia 1986 di Meksiko. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 10 Mar 2026, 16:13

Belanja atau Investasi? Mengelola THR di Tengah Ketidakpastian Ekonomi

THR dapat menjadi kesempatan tidak hanya merayakan Lebaran, tetapi juga memperkuat keuangan rumah tangga.

Ilustrasi uang rupiah. (Sumber: Pexels | Foto: Ahsanjaya)
Sejarah 10 Mar 2026, 14:59

Sejarah Supersemar, Dokumen Kontroversial Fondasi 3 Dekade Kekuasaan Rezim Orde Baru

Supersemar 11 Maret 1966 menjadi dasar politik lahirnya Orde Baru dan awal kekuasaan Soeharto selama lebih dari tiga dekade.

Ilustrasi Supersemar, dokumen yang hingga kini keberadaannya kontroversial.
Beranda 10 Mar 2026, 12:47

Balap Lari Tengah Malam di Gudsel dan Ciumbuleuit, Cara Anak Muda Bandung Menunggu Sahur

Balap lari jalanan Gudsel Run Race di Gudang Selatan Bandung menjadi hiburan malam Ramadan bagi anak muda, menghadirkan lomba lari spontan yang ramai penonton hingga menjelang sahur.

Suasana balap lari jalanan di Jalan Gudang Selatan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 10 Mar 2026, 12:08

Ngabuburit Membaca Buku 'Ramadhan di Priangan'

Buku–buku sejarah Bandung karya sang kuncen Bandung bapak Haryoto Kunto.

Ramadhan di Priangan karya Haryoto Kunto. (Foto: Istimewa)
Linimasa 10 Mar 2026, 10:37

Menyoal Kebiasaan Melawan Arus di Rancaekek

Jalan Raya Bandung–Garut di Rancaekek kerap dipenuhi pengendara motor yang melawan arus. Selain membahayakan, kebiasaan ini dipicu jarak putaran kendaraan yang jauh serta minimnya pengawasan.

Para pengendara yang melawan arus di Rancaekek. (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 10 Mar 2026, 09:29

Puasa Ramadan: Modal Spiritual Membangun Integritas

Ramadan bukan sekadar bulan menahan lapar dan dahaga.

Salat Idulfitri. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Beranda 10 Mar 2026, 06:47

Generasi Muda Angkat Suara di Hari Perempuan Internasional: Ketimpangan Masih Nyata

Bagi sebagian dari mereka, peringatan IWD bukan sekadar agenda tahunan, melainkan kesempatan untuk memahami dan menyuarakan berbagai persoalan yang dihadapi perempuan.

Maura dan Nazwa. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 09 Mar 2026, 20:37

Demi Pemudik! Ayo Benahi Destinasi Wisata dan Kedai Kopi

Para pemudik libur lebaran sebagian besar menuju ke desa perlu disambut dengan pertunjukan budaya dan produk industri kreatif serta kuliner lokal.

Suasana destinasi ekowisata di Bukit Senyum, Kabupaten Bandung Barat, saat libur lebaran. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Mar 2026, 19:13

Islam itu Agama yang Main Fisik (?): Bandung dan Kemarahan pada Kolonialisme

Agama ini memperlakukan manusia lain dengan adil, menolak penindasan, dan membebaskan mereka yang terjajah.

Bangunan Masjid Cipaganti zaman baheula. (Sumber: IBT Locale Techniek)
Linimasa 09 Mar 2026, 18:05

Sejarah Tarawih Kilat di Indonesia, Kontroversi Ibadah Ramadan yang Bertahan Lebih dari Seabad

Tarawih kilat di sebuah pesantren di Blitar telah berlangsung sejak 1907, dengan 23 rakaat yang selesai dalam sekitar 13 menit.

Tarawih kilat di Ponpes Mambaul Hikam atau Pondok Mantenan, Blitar.
Bandung 09 Mar 2026, 18:00

Berburu Fashion Lebaran 2026, Intip Pesona Scarf Premium dan Essential Lotion dari âmes!

Lengkapi koleksi fashion Lebaran 2026 dengan scarf premium dan essential lotion dari brand âmes yang elegan serta multifungsi.

Lengkapi koleksi fashion Lebaran 2026 dengan scarf premium dan essential lotion dari brand âmes yang elegan serta multifungsi. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Bandung 09 Mar 2026, 16:42

Merajut Asa di Persis Ramadhan Expo 2026: Saat Dakwah, Pendidikan, dan Ekonomi Melebur Jadi Satu

Menjadi momentum inklusif, PERSIS Ramadhan Expo 2026 yang digelar pada 6–8 Maret 2026 menjadi panggung besar bagi kolaborasi tiga pilar utama yaitu dakwah, pendidikan, dan ekonomi.

Menjadi momentum inklusif, PERSIS Ramadhan Expo 2026 yang digelar pada 6–8 Maret 2026 menjadi panggung besar bagi kolaborasi tiga pilar utama yaitu dakwah, pendidikan, dan ekonomi.
Beranda 09 Mar 2026, 15:07

Dari Femisida hingga Hak Reproduksi: 110 Tuntutan Perempuan Disuarakan di Kota Bandung

Peringatan IWD 2026 di Bandung memunculkan 110 tuntutan terkait kekerasan gender, femisida, hak buruh perempuan, kesehatan reproduksi, dan kebebasan sipil.

Ratusan orang berkumpul memperingati International Women’s Day (IWD) 2026 di Jalan Kawasan Asia Afrika Kota Bandung, Minggu (8/3) (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Wisata & Kuliner 09 Mar 2026, 14:23

Sebelum Menjelajah Gunung, Ketahui Dulu Grade-nya

Jalur pendakian gunung memiliki tingkat kesulitan berbeda. Kenali grade gunung dari yang paling mudah hingga paling berat sebelum memulai pendakian.

Ilustrasi gunung. (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 09 Mar 2026, 12:16

Mengasah Keahlian Negosiasi saat Ramadan, di Antara Keteguhan Hati dan Wawasan Seluas Samudera

Seni bernegosiasi perlu dikembangkan dalam pribadi masing-masing.

Ilustrasi proses negosiasi. (Sumber: Meta AI | Foto: Arif Minardi)
Ikon 09 Mar 2026, 12:09

Sop Buah, Jejak Panjang Takjil Ramadan Favorit Warga Indonesia

Sop buah kini menjadi salah satu sajian takjil buka puasa Ramadan warga Indonesia. Lantas, sejak kapan sip buah jadi takjil Ramadan?

Sop buah, takjil favorit Ramadan di Indonesia.
Ayo Netizen 09 Mar 2026, 08:42

Lebaran Mudik ke Diri

Lebaran jadi momentum untuk mudik ke kampung halaman dan kepada diri sendiri.

Sejumlah kendaraan pemudik memadati Jalan Raya Nagreg, Cikaledong, Kabupaten Bandung pada Jumat, 28 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 08 Mar 2026, 19:50

Bandung Menjelang Lebaran Era 1990-an dalam Arsip Bandung Pos

Suasana Bandung menjelang Lebaran pada awal dekade 1990-an.

Operasi Ketupat menjelang arus mudik Lebaran tahun 1994. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Bandung 08 Mar 2026, 18:06

Menjaga Denyut Ekonomi dan Likuiditas Lebaran 1447 H di Jawa Barat

Seiring makin dekatnya dengan gema takbir dan arus mudik, persiapan masyarakat untuk menyambut hari kemenangan menuntut kesiapan infrastruktur keuangan yang tangguh dan tak terputus.

Ilustrasi. Seiring makin dekatnya dengan gema takbir dan arus mudik, persiapan masyarakat untuk menyambut hari kemenangan menuntut kesiapan infrastruktur keuangan yang tangguh dan tak terputus. (Sumber: Ist)