AYOBANDUNG.ID - Suasana malam di kawasan Gudang Selatan, Kota Bandung, tampak berbeda selama bulan Ramadan. Menjelang tengah malam, puluhan anak muda berkumpul di pinggir jalan. Sorakan mereka pecah setiap kali dua pelari melesat secepat mungkin menuju garis finis di lintasan pendek sepanjang puluhan meter.
Kegiatan balap lari jalanan ini dikenal dengan nama Gudsel Run Race, yang digagas oleh anak-anak muda setempat sebagai cara untuk mengisi waktu luang selama Ramadan.
Ketua pelaksana kegiatan tersebut, Farisal Imtiyaz (23), mengatakan bahwa kegiatan ini berawal dari inisiatif sederhana anak-anak muda yang sering berkumpul di kawasan Gudang Selatan.
“Awalnya dimulai dari tahun kemarin buat volume pertamanya. Niat awalnya sebenarnya cuma buat ngisi waktu luang anak-anak sini, warga lokal sini. Kita kan basic-nya anak-anak yang doyan nongkrong, apalagi bulan puasa banyak waktu kosong dan banyak gabutnya,” ujar Faris saat ditemui di lokasi.

Menurutnya, ide membuat balap lari ini muncul setelah ia melihat kegiatan serupa di tempat lain. Ia kemudian mencoba mengadaptasi konsep tersebut dan menerapkannya di kawasan Gudang Selatan.
“Kebetulan saya dulu lihat balap lari di tempat lain, akhirnya saya bawa ke sini. Istilahnya ATM lah, amati, tiru, modifikasi. Kita coba di sini, ternyata Alhamdulillah ramai juga,” katanya.
Faris menjelaskan bahwa kegiatan ini memang dibuat dengan konsep sederhana dan bersifat fun run, sehingga siapa pun boleh ikut tanpa harus melalui proses pendaftaran khusus.
“Untuk sekarang kita benar-benar bebasin. Mau dari warga mana, dari kota mana pun, selama dia doyan lari dan antusias buat ikut, kita welcome saja,” jelasnya.
Dalam satu malam, jumlah peserta yang ikut balap lari bisa mencapai puluhan orang. Bahkan, menurut Faris, jumlah peserta paling sedikit yang pernah tercatat pun tetap cukup ramai.
“Paling sepi itu di angka 27 pasang pelari dalam satu malam. Biasanya rata-rata ada 20 sampai 30 pasang yang ikut. Jadi lumayan ramai,” katanya.
Lintasan yang digunakan memiliki panjang sekitar 80 meter, menyesuaikan dengan kondisi jalan yang ada di kawasan tersebut.
“Kalau ukuran pastinya saya juga enggak cek secara detail, tapi kurang lebih sekitar 80 meter. Sebenarnya penginnya 100 meter, tapi di sini banyak polisi tidur, jadi kita menyesuaikan kondisi lapangan saja,” ujarnya.
Paris menambahkan bahwa kegiatan ini tidak hanya sekadar hiburan bagi anak muda, tetapi juga memiliki tujuan sosial yang lebih luas, yakni menciptakan suasana malam Ramadan yang lebih positif.
“Tujuan utamanya buat mengisi waktu luang anak muda. Kita juga mau ikut andil menjaga kondusivitas Kota Bandung. Harapannya dengan adanya kegiatan seperti ini bisa sedikit banyak mengurangi potensi kriminalitas di malam hari,” katanya.
Ia juga berharap kegiatan tersebut dapat memberikan dampak bagi warga sekitar, termasuk bagi pelaku usaha kecil yang berjualan di sekitar lokasi.
“Harapannya dengan adanya Gudsel Run Race ini bisa menghidupkan lagi suasana Ramadan di sini. Warga jadi ramai, UMKM juga bisa terbantu, dan Kota Bandung bisa lebih meriah di malam hari,” ujar Faris.
Di antara para peserta yang ikut meramaikan balap lari tersebut adalah Sidiq (18), seorang pemuda asal Kopo yang tertarik mencoba pengalaman baru di Gudang Selatan.
Sidiq mengaku awalnya mengetahui kegiatan ini dari media sosial sebelum akhirnya memutuskan datang dan ikut berlari.
“Awalnya saya tahu dari FYP TikTok juga. Terus teman-teman bilang, ‘Ini kayaknya harus ikutan.’ Kebetulan juga jarang ada event seperti ini di bulan Ramadan, jadi saya penasaran ingin mencoba,” kata Sidiq.
Meski baru pertama kali mengikuti balap lari jalanan seperti ini, Sidiq mengaku cukup percaya diri karena terbiasa menjalani latihan fisik sebagai atlet.
“Saya kebetulan atlet Muay Thai, jadi memang ada latihan fisik juga. Dalam seminggu biasanya latihan enam kali, cuma hari Minggu saja istirahat. Jadi secara fisik sudah terbiasa latihan,” ujarnya.
Bagi Sidiq, keseruan balap lari jalanan tidak hanya terletak pada kecepatan para pelari, tetapi juga pada atmosfer yang tercipta dari dukungan para penonton.
“Menurut saya yang paling seru itu ada tantangannya. Kita berlomba-lomba tapi untuk hal positif juga. Selain itu bisa menambah persaudaraan dengan teman-teman lain. Apalagi kalau penontonnya ramai, itu sangat mempengaruhi semangat. Semakin banyak yang bersorak, semakin terpacu juga buat larinya,” katanya.
Tidak hanya para peserta yang menikmati kegiatan tersebut, para penonton pun turut meramaikan suasana di Gudang Selatan.
Ega, remaja berusia 16 tahun yang masih duduk di bangku sekolah, mengaku sengaja datang untuk menyaksikan balap lari setelah mendengar informasi dari temannya.
“Saya tahu kegiatan ini dari teman. Terus sengaja datang ke sini karena ingin lihat yang balap lari. Menurut saya seru, karena banyak yang ikut balap,” ujarnya.
Menurut Ega, keramaian biasanya mulai terasa menjelang tengah malam ketika semakin banyak anak muda yang datang untuk menonton.
“Biasanya di sini mulai ramai sekitar jam 12 malam ke atas,” katanya.
Ia pun menilai kegiatan balap lari tersebut memberikan dampak positif bagi anak muda di kawasan tersebut.
“Menurut saya kegiatan ini positif, karena anak-anak muda jadi punya kegiatan juga,” ujarnya.
Mahasiswa vs Warga
Fenomena balap lari jalanan selama Ramadan tidak hanya terjadi di Gudang Selatan. Di kawasan Jalan Ciumbuleuit, kegiatan serupa juga ramai digelar dan bahkan menjadi ajang pertemuan antara mahasiswa dan warga sekitar.
Jika di Gudsel kegiatan ini digagas oleh warga setempat, di Ciumbuleuit balap lari malam justru menjadi ajang yang mempertemukan mahasiswa dengan masyarakat sekitar.
Di tengah keramaian penonton yang memadati pinggir jalan, para pelari bergantian bersiap di garis start sebelum berlari menuju garis finis yang berjarak puluhan meter. Sorakan penonton menjadi penyemangat bagi para peserta yang beradu cepat di lintasan tersebut.

Salah satu penggiat acara tersebut, Muhammad Finton Firmansiah (19), mengatakan kegiatan balap lari di kawasan Ciumbuleuit ini tidak hanya sekadar hiburan, tetapi juga bertujuan mempererat hubungan antara mahasiswa dan warga sekitar.
“Untuk kegiatan kita itu sebenarnya balap lari bersama warga juga. Karena dari kampus kita sering ada anggapan ada batasan antara mahasiswa yang dianggap elit dengan masyarakat. Jadi lewat kegiatan ini kita ingin mahasiswa dan masyarakat bisa lebih menyatu,” ujar Finton.
Menurutnya, ide kegiatan tersebut muncul dari kesadaran para mahasiswa yang ingin menghadirkan aktivitas yang lebih positif saat berkumpul di malam hari.
“Awalnya dari mahasiswa yang sering nongkrong malam-malam, lalu kepikiran untuk bikin kegiatan yang lebih positif. Jadi muncul ide bikin balap lari ini. Kebetulan juga dibantu teman-teman media kampus, jadi kegiatan ini bisa berjalan,” katanya.
Finton menjelaskan kegiatan ini sebenarnya baru kembali digelar tahun ini setelah sempat berhenti beberapa waktu.
“Kegiatan ini baru kita adakan lagi setelah beberapa tahun berhenti. Kalau yang sekarang dimulai lagi minggu kemarin, sekitar tanggal 28. Ini juga baru berjalan beberapa kali,” ujarnya.
Rencananya, kegiatan tersebut akan terus diadakan selama bulan Ramadan jika mendapat izin dari pihak kampus maupun kepolisian.
“Kalau dari mahasiswa sih pengennya setiap minggu ada selama bulan puasa. Tapi tetap tergantung izin dari pihak kepolisian dan kampus,” katanya.
Konsep balap lari di jalan sengaja dipilih karena dinilai sederhana dan dapat melibatkan banyak orang.
“Kalau balap lari seperti ini kan mengingatkan masa kecil juga, kita dulu sering lari-larian. Jadi lewat kegiatan ini kita ingin mahasiswa dan warga bisa seru-seruan bareng,” ujarnya.
Kegiatan ini juga sengaja digelar pada malam hari agar tidak mengganggu aktivitas puasa.
“Kalau siang kan kita lagi puasa. Takutnya malah kasihan peserta jadi tidak kuat puasanya. Jadi kita buat malam hari saja,” katanya.
Dalam satu malam, puluhan pelari bisa ikut meramaikan balapan tersebut.
“Biasanya dalam satu malam ada sekitar 30 pasang pelari. Tadi saja sudah lebih dari 20 pasang yang ikut. Larinya sekitar 50 sampai 70 meter,” jelasnya.
Finton mengatakan siapa pun boleh ikut balap lari tersebut karena kegiatan ini bersifat terbuka.
“Peserta tidak harus daftar, karena ini konsepnya fun race. Jadi siapa saja boleh ikut, tinggal datang saja,” ujarnya.
Ia menambahkan, panitia tetap mengingatkan para peserta untuk menjaga keselamatan selama berlari.
“Kita menghimbau supaya peserta tidak saling dorong saat berlari. Untuk keamanan jalan juga dibantu teman-teman mahasiswa dan warga yang mengatur area parkir dan jalur,” katanya.
Menurutnya, kegiatan ini bisa menarik perhatian banyak anak muda karena sedang menjadi tren di berbagai tempat.
“Pertama mungkin karena memang lagi tren juga. Selain itu warga di sini juga antusias, karena sudah lama tidak ada kegiatan seperti ini,” ujarnya.

Di antara para peserta yang ikut meramaikan balap lari di kawasan Ciumbuleuit adalah Tristan (19), mahasiswa yang mengaku baru pertama kali mencoba ikut balap lari jalanan seperti ini.
Tristan mengatakan dirinya tertarik mengikuti kegiatan tersebut setelah mengetahui informasi dari media kampus.
“Saya tahu kegiatan ini dari media kampus, dari UNPAR Convention. Sebenarnya ini pertama kali ikut. Sebelumnya belum pernah ikut balap lari seperti ini, jadi penasaran saja ingin mencoba,” kata Tristan.
Meski mengaku hanya mengikuti balapan tersebut untuk bersenang-senang, Tristan tetap merasa tertantang untuk ikut berlari bersama peserta lainnya.
“Kalau untuk ikutnya sih lebih ke hiburan saja, main-main saja. Tapi tetap seru karena suasananya ramai,” ujarnya.
Tristan juga mengaku pernah memiliki pengalaman latihan lari sebelumnya, meski tidak secara rutin lagi dilakukan saat ini.
“Dulu pernah latihan lari juga, biasanya seminggu sekitar tiga kali. Jadi lumayan sudah terbiasa juga,” katanya.
Menurut Tristan, hal paling menarik dari balap lari jalanan seperti ini adalah suasana kebersamaan yang tercipta di antara peserta dan penonton.
“Yang paling seru itu karena bisa mendukung masyarakat sini juga untuk olahraga. Selain itu penontonnya juga sangat mempengaruhi semangat pelari,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa dukungan penonton membuat suasana balapan terasa lebih hidup dibandingkan dengan lomba lari formal.
“Kalau jujur malah lebih seru yang seperti ini. Penontonnya mendukung banget, jadi semangatnya terasa. Kalau banyak yang sorak-sorak kita jadi lebih semangat buat lari,” katanya.
Tidak hanya para pelari yang menikmati suasana tersebut, warga sekitar juga turut meramaikan kegiatan balap lari di kawasan Ciumbuleuit.
Salah satunya adalah Akbar (17), seorang pelajar kelas 12 yang mengaku sengaja datang untuk menonton setelah mengetahui kegiatan tersebut dari media sosial.
“Saya tahu kegiatan ini dari Instagram. Terus memang sengaja datang ke sini buat nonton,” kata Akbar.
Menurut Akbar, kegiatan balap lari tersebut menjadi hiburan tersendiri bagi anak muda di kawasan Ciumbuleuit, terutama selama bulan Ramadan.
“Menurut saya seru sih, karena bisa lihat potensi orang-orang di sini juga yang ikut lari. Selain itu juga buat seru-seruan saja selama bulan Ramadan,” ujarnya.
Ia mengatakan keramaian biasanya mulai terasa menjelang tengah malam ketika semakin banyak orang datang untuk menonton.
“Biasanya ramai dari sekitar jam 12 malam sampai sekitar jam setengah satu,” katanya.
Sebagai warga setempat, Akbar menilai kegiatan tersebut memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar.
“Menurut saya positif, karena orang-orang jadi punya kegiatan juga. Selain itu bisa meningkatkan kebugaran tubuh karena mereka lari beberapa puluh meter,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa kegiatan seperti ini menjadi hiburan bagi warga yang sedang menunggu waktu sahur.
“Lumayan seru buat hiburan warga sini juga, apalagi sambil nunggu sahur jadi tidak bosan,” katanya.
