Sejarah Bangreng dari Sumedang, Perpaduan Seni dan Jejak Islamisasi Sunan Gunung Jati

4 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Pentas kesenian Bangreng di Sumedang. (Sumber: YouTube JagabudayaJabar)
Pentas kesenian Bangreng di Sumedang. (Sumber: YouTube JagabudayaJabar)

AYOBANDUNG.ID - Sumedang bukan hanya dikenal karena tahu dan udaranya yang sejuk. Di balik sejarah panjang kabupaten ini, hidup pula seni tradisional yang berkembang melalui jalan dakwah dan hiburan: Bangreng. Kesenian ini bukan sekadar tontonan. Ia adalah warisan, perpaduan antara suara rebana besar yang disebut terebang dan gerak luwes para penari ronggeng—simbol persilangan antara nilai religius dan hiburan rakyat.

Jejak awal kesenian Bangreng dapat dilacak ke Kecamatan Tanjungkerta, sebelum meluas ke wilayah Cimalaka, Paseh, hingga Situraja. Namun, seperti seni tradisi lainnya, Bangreng tak lahir dalam sekali jadi. Ia hasil dari rentetan evolusi panjang kesenian di tanah Sunda. Dimulai dari terebang, berlanjut ke gembyung, dan baru kemudian menjadi Bangreng seperti yang dikenal sekarang.

Dari Terebang ke Gembyung, Lalu Jadi Bangreng

Risalah Nilai Budaya dalam Balutan Kesenian Bangreng karya Ria Intani dari Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat, akar seni Bangreng dapat ditarik jauh ke tahun 1550-an, era kemunculan kesenian Terebang. Pada masa itu, Terebang dipakai dalam kegiatan keagamaan dan upacara adat. Alat utamanya berupa rebana besar dari kayu, yang jumlahnya lima buah. Angka lima bukan kebetulan; ia menyimbolkan salat lima waktu dalam Islam.

Ria mencatat, pada mulanya Terebang dianggap kurang menghibur. Maka muncullah Gembyung pada sekitar 1956, yang menawarkan pertunjukan lebih dinamis dengan tambahan waditra seperti gendang, goong, kulanter, kecrek, hingga tarompet.

Perubahan itu disambut baik oleh masyarakat, namun nasib Gembyung pun tidak bertahan lama. Tahun 1968, datanglah babak baru: lahirnya Bangreng. Dalam transformasi ini, Gembyung dipoles dengan lagu-lagu tambahan, gaya pertunjukan yang lebih komunikatif, serta kehadiran penari wanita, ronggeng, yang menjadikan Bangreng lebih meriah dan atraktif.

Bangreng sendiri adalah akronim dari “Bang” (terebang) dan “Reng” (ronggeng). Kombinasi dua unsur ini membentuk formula khas Bangreng: bunyi yang kuat dari rebana besar, dan gerakan gemulai penari yang menghidupkan suasana.

Berdasarkan wawancara dengan Abah Maman—salah satu sesepuh seni Bangreng dari Tanjungkerta—Ria menyebut kata terebang bukan sekadar nama alat musik. Ia menyimpan makna simbolik yang dalam. Terdiri atas tujuh huruf, kata terebang diyakini merepresentasikan tujuh hari dalam sepekan—Senin hingga Minggu—dan menjadi pengingat untuk melaksanakan salat lima waktu setiap hari. Tak hanya itu, tiap hurufnya pun mengandung filosofi.

Baca Juga: Hikayat Dinasti Sunarya, Keluarga Dalang Wayang Golek Legendaris dari Jelekong

Huruf T dimaknai sebagai simbol Gusti Allah yang Maha Esa, fondasi utama dari ajaran Islam yang menjadi roh dalam kesenian ini. Huruf E melambangkan etika dalam berkesenian, bahwa dalam setiap gerak dan bunyi harus ada kesadaran akan adab. Huruf R merujuk pada rebana yang digunakan untuk mengiringi pembacaan shalawat Nabi Muhammad, menandakan kedekatan seni ini dengan aktivitas religius.

Sementara itu, huruf B merujuk pada bangkitan pusaka leluhur, bahwa Bangreng bukan seni yang tiba-tiba hadir, tapi hasil warisan turun-temurun. Huruf A melambangkan agama, inti dari seluruh makna pertunjukan. Huruf N diartikan sebagai nadhom, yaitu puji-pujian kepada Tuhan dan Nabi. Terakhir, huruf G adalah gending, atau alat tetabuh yang menjadi denyut nadi dari pertunjukan Bangreng itu sendiri.

Irisan Dakwah Sunan Gunung Jati hingga ke Panggung Hiburan

Lahir dan tumbuh di tengah masyarakat Islam, Bangreng sejak awal tak hanya jadi hiburan semata. Ia juga jadi sarana dakwah. Dalam risalah lain, Ria Intani menyebutkan bahwa Terebang dipakai oleh Sunan Gunung Jati dan para utusannya dalam menyebarkan Islam di Sumedang. Salah satunya adalah Eyang Wangsakusmah, yang menggunakan sisa kayu pembangunan masjid untuk membuat alat musik terbang.

Pada abad ke-15, pertunjukan seni terbang belum melibatkan kendang. Empat buah rebana besar digunakan, disesuaikan dengan jumlah utusan Sunan Gunung Jati. Masuk ke abad 17, pertunjukan terebang mulai dipentaskan dalam acara keagamaan seperti mauludan, rajaban, dan hari raya Islam, sebelum kemudian menyebar ke upacara sosial seperti sunatan dan kenduri.

Perubahan menuju Gembyung menandai pergeseran dari ranah religius ke ranah hiburan. Penambahan alat musik dan lagu bebas dari ketuk tilu memperkaya suasana pertunjukan. Perubahan ini turut berdampak pada gaya ronggeng yang tampil lebih ekspresif.

Bangreng hadir sebagai bentuk kompromi: hiburan yang tetap bernuansa religius. Pertunjukan biasanya dibuka dengan shalawatan, dilanjut dengan pertunjukan tari dan musik, lalu ditutup lagi dengan shalawatan. Bahkan ketika dipentaskan untuk khitanan atau pernikahan, nuansa ritual tetap dijaga.

Sebagian kelompok kesenian masih mempertahankan tradisi pra-pertunjukan berupa ritual dan sesajen. “Sesajen untuk hiburan lebih kurang ‘hanya’ dua puluh macam,” kata Abah Maman. Isinya antara lain bubur beureum bodas, surabi, klepon, kupat, kembang, bakakak hayam, hingga gula merah.

Baca Juga: Tapak Sejarah Reak, Seni Kesurupan yang Selalu Bikin Riweuh di Bandung Timur

Belakangan, seni ini mulai kalah saing dengan beragam format pertunjukan modern. Meski begitu, Bangreng tidak punah. Ia tetap dipanggil di acara pernikahan, sunatan, dan peringatan kemerdekaan. Sebagai sarana hiburan, ritual, dan pertunjukan, seni Bangreng telah membuktikan ketahanannya.

Pada tahun 2020, Bangreng ditetapkan sebagai salah satu Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat. Gelar itu menegaskan peran Bangreng sebagai ikon budaya Sumedang.

Tapi seperti semua warisan, hidup-matinya bergantung pada generasi muda. Jika tak diwariskan, Bangreng bisa jadi hanya nama dalam dokumen, bukan lagi suara yang hidup di hajatan, bukan gerakan ronggeng yang menari di tanah lapang, bukan shalawat yang menggema di malam panjang.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)