Perjuangan Seorang Santri Menebarkan Ilmu Melalui Kitab Kuning

4 menit baca
Nabillah Luthfiyana
Ditulis oleh Nabillah Luthfiyana diterbitkan
Defan, seorang pemuda asal Bandung yang menjadikan kitab kuning bukan sekadar bacaan, tetapi jalan untuk menempa karakter dan memperkuat keyakinan hidupnya. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Defan, seorang pemuda asal Bandung yang menjadikan kitab kuning bukan sekadar bacaan, tetapi jalan untuk menempa karakter dan memperkuat keyakinan hidupnya. (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Di balik kesederhanaan seorang santri di Madrasah Aliyah Sukamiskin, tersimpan kisah yang begitu hangat dan menginspirasi tentang keteguhan hati, kesabaran, dan semangat belajar yang tidak pernah padam. Ia adalah Defani Haspati, atau yang akrab disapa Defan, seorang pemuda asal Bandung yang menjadikan kitab kuning bukan sekadar bacaan, tetapi jalan untuk menempa karakter dan memperkuat keyakinan hidupnya.

Dari kecil, Defani sudah terbiasa dengan kehidupan pesantren. Ia menempuh pendidikan dasar di kampung halamannya sebelum akhirnya menghabiskan hampir seluruh masa remajanya di lingkungan pesantren yang penuh dengan nilai-nilai keagamaan. Kini, selain menjadi pengurus bidang pendidikan di madrasahnya, ia juga tengah menempuh pendidikan tinggi. Kesibukan itu tidak membuatnya lelah, justru menjadi ruang baru untuk terus belajar dan menebar inspirasi bagi sekitarnya.

Perkenalan Defani dengan kitab kuning dimulai sejak kelas dua Aliyah, sekitar enam tahun lalu. Kitab pertama yang ia pelajari adalah Fathul Mu’in, salah satu kitab klasik penting dalam kajian fikih. Ketertarikan itu muncul dari keinginan sederhana: ingin berkembang.

“Awalnya karena di pesantren pelajaran utamanya tahrib, tapi setelah delapan tahun belajar, rasanya belum ada peningkatan. Makanya saya coba ke Fathul Mu’in biar ada tantangan baru,” kenangnya.

Keputusan itu membawa perubahan besar dalam hidupnya. Dari kitab kuning, Defani belajar bahwa memahami ilmu agama bukan hanya soal hafalan, tapi juga tentang kesabaran dalam proses. Ia pun menemukan bahwa membaca kitab tidak sesulit yang dibayangkan jika dilakukan dengan hati.

Sosok yang paling berpengaruh dalam perjalanan Defani adalah gurunya, Kang Mimit atau Raden Halbar, seorang pengajar di Madrasah Sanawiyah yang juga dikenal sebagai pendidik yang penuh keteladanan.

“Beliau itu bukan cuma ngajarin, tapi juga ngebentuk karakter. Dari beliau saya belajar sabar dan konsisten,” ujar Defani.

Lingkungan pesantren pun sangat mendukung perjuangannya. Saat mengikuti kegiatan atau perlombaan, pihak pesantren selalu membantu menanggung biaya dan kebutuhan santri.

“Jadi kami bisa fokus belajar tanpa mikirin ongkos. Itu sangat berarti,” tambahnya.

Keikutsertaannya dalam lomba membaca kitab Fathul Mu’in pun berawal dari rasa penasaran. Dengan waktu persiapan hanya dua minggu, ia tetap memutuskan ikut meski merasa belum siap sepenuhnya.

“Saya cuma pengen ngerasain pengalaman baru, nggak ada niat harus menang,” katanya sambil tersenyum. Namun tak disangka, dengan metode belajar yang tak biasa membaca secara acak dari satu halaman ke halaman lain ia justru berhasil menampilkan yang terbaik. Saat namanya diumumkan sebagai pemenang, Defani sempat tak percaya.

“Saya kaget banget. Niatnya cuma cari pengalaman, tapi malah juara,” ujarnya merendah.

Bagi Defani, kemenangan itu bukan hasil pribadi semata. “Kalau saya menang, berarti pesantren dan sistem pendidikannya juga menang. Karena karakter seseorang kan dibentuk dari lingkungannya,” ucapnya bijak.

Belajar kitab, bagi Defani, bukan tentang siapa yang paling cepat bisa, tapi siapa yang paling sabar bertahan. Ia pernah menyelesaikan tahrib hingga 1.300 kali dalam empat tahun hanya untuk bisa membaca kitab tanpa harakat.

“Saya orangnya lemot dan cadel, tapi bisa istiqamah. Teman saya pernah bilang, ‘berjuang itu mudah, tapi bertahan itu yang susah,’ dan saya ngerasain banget,” tuturnya.

Ia sering diremehkan karena kekurangannya, tapi hal itu justru menjadi bahan bakar semangatnya.

“Dulu saya sering dibilang ‘ah kamu mah cadel, bisa apa?’ tapi justru itu yang bikin saya pengen buktiin kalau saya juga bisa,” katanya.

Di tengah derasnya arus digital yang membuat banyak orang mudah kehilangan fokus, Defani punya prinsip sederhana untuk tetap semangat belajar.

“Kita harus punya dua sifat: buta dan tuli. Buta terhadap pencapaian orang lain, dan tuli terhadap hinaan orang. Kalau ada komentar bagus, ambil. Kalau jelek, anggap aja suara lewat,” ujarnya tegas. I

a juga berpesan pada teman-teman santri agar tidak terburu-buru dalam belajar. “Saya aja empat tahun baru ngerti dasarnya. Jadi jangan patah di tengah jalan, karena kalau berhenti, semua usaha jadi sia-sia. Mending lanjut aja,” pesannya.

Namun di balik keteguhan dan sikap rendah hatinya, Defani menyimpan luka lama yang membentuk kepribadiannya hingga kini. Saat masih duduk di bangku SD, ia pernah difitnah mencuri uang masjid dan bahkan dipukuli warga, termasuk ayahnya sendiri yang sempat mempercayai tuduhan itu.

“Sejak itu, saya benci banget sama masyarakat. Rasanya mereka bukan manusia,” kenangnya lirih.

Butuh waktu lama bagi Defani untuk memaafkan dan berdamai dengan masa lalunya. Melalui kajian humaniora dan pengalaman hidup di pesantren, ia akhirnya menyadari bahwa kebencian hanya akan memperpanjang luka.

“Saya belajar, seburuk apa pun masyarakat, mereka tetap manusia. Sekarang cita-cita saya cuma satu: ingin menyadarkan masyarakat supaya nggak ada lagi orang yang diperlakukan seperti saya dulu,” tuturnya penuh harap.

Kini, semangat itu menjadi arah hidupnya. Defani ingin menjadi jembatan antara ilmu agama dan kemanusiaan, agar pesantren tidak hanya mencetak santri yang cerdas membaca kitab, tetapi juga yang peka terhadap realitas sosial. Ia percaya bahwa ilmu sejati bukan hanya untuk memahami teks, tetapi juga untuk menumbuhkan rasa empati terhadap sesama.

Defani Haspati adalah cermin ketulusan seorang santri yang bertahan di tengah ujian hidup. Dari seorang anak kampung yang dulu diremehkan karena cadel, ia menjelma menjadi sosok yang mengajarkan arti sejati dari istiqomah. Ia tidak mencari sorotan, tapi kisahnya bersinar dengan sendirinya mengajarkan bahwa keberhasilan sejati tidak diukur dari seberapa tinggi seseorang berdiri, melainkan dari seberapa kuat ia mampu bertahan di tengah badai. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 07:43

Kenapa Maling di Negeri Ini Tidak Takut CCTV?

Di tengah ekonomi yang semakin sulit kejadian kriminalitas semakin meningkat terutama untuk pencurian sepedah motor di Bandung

Gambaran curanmor di CCTV (Sumber: Istimewa)
Sejarah 07 Okt 2026, 19:44

Mengenang Persitiwa Perobekan Bendera Belanda di Bandung

Bandung memiliki catatan sejarah penting dalam penyebaran teks proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 1945 lalu. Para pemuda radio Bandung adalah para pelaku utamanya proses pengambilalihan sejumlah fa

Gedung Bekas Bank DENIS tempat peristiwa perobekan Bendera Belanda terjadi di Bandung. Gedung ini sekarang menjadi gedung bank bjb
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 18:59

Inisiatif Rail Clinic Berbasis RS Dustira, Terobosan Faskes di Jawa Barat

RS Dustira dan Stasiun Cimahi. Keduanya berada sangat berdekatan dan memiliki sejarah panjang yang tidak terpisahkan dari perkembangan Kota Cimahi

Rumah sakit Dustira dilihat dari skibridge Stasiun Cimahi (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 17:27

Punahnya Satwa yang Dilindungi Akibat Bencana Ekologis

Alam sebagai habitat harus dijaga agar bisa diminimalisir bencana ekologis. Perluasan untuk peningkatan ekonomi seharusnya mempertimbangkan kondisi hutan, di mana habitat satwa menjaga keseimbangan.

Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae). (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Nyonyofoto)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 15:54

Pesona Garut (Bagian 2): 'Surga dari Timur', Rekam Sejarah, dan Mahakarya Gastronomi Pasundan

Kabupaten Garut tak hanya dikenal lewat bentang alamnya yang memikat, tetapi juga keberagaman warisan kulinernya yang kaya akan nilai sejarah dan kearifan lokal.

Dodol menjadi salah satu oleh-oleh paling ikonik dari Garut. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Midori)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 14:41

Persamaan dan Perbedaan antara Sejarah, Tarikh, Riwayat, Hikayat, Babad, Mitologi dan Legenda

Bedah tuntas persamaan dan perbedaan sejarah, tarikh, riwayat, hikayat, babad, mitologi dan legenda. Pahami makna, karakteristik serta posisinya dalam literatur historis dan kultural Nusantara.

Seorang pengunjung mencari buku di antara rak-rak sempit Perpustakaan Batu Api, Jatinangor, Sabtu 9 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 13:10

Tebang Pilih Hukum: Investigasi Keracunan 88 Seoul vs Keracunan MBG

Hukum yang ada di Indonesia seringkali tebang pilih karena tajam ke bawah dan tumpul ke atas salah satunya investigasi keracunan.

Restoran 88 Seoul Paskal (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 12:36

DNA Sunda di Tanah Banyumas

Berkisah tentang folklore dan toponimi yang mengaitkan keterkaitan Banyumas dengan Sunda.

DNA Sunda di Tanah Banyumas (Sumber: GeminiAi)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 10:54

Tarif Parkir Rp65.000 dan Negara yang Kalah di Pinggir Jalan Kota Bandung

Kasus tari parkir Rp65.000 di Jalan Diponegoro, Bandung, seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan siapa oknumnya. Pelaku, jika terbukti melanggar, tentu harus ditindak.

Petugas sedang melakukan pemeriksaan bus pariwisata. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Muslim Yanuar)
Beranda 07 Okt 2026, 09:42

Halte BRT di Tengah Jalan Satu Arah, Solusi atau Biang Macet Baru di Ahmad Yani Cicadas?

Pembangunan halte BRT di tengah Jalan Ahmad Yani picu kekhawatiran macet. Warga dan pengamat mengkritik desain, Pemkot pilih percepat proyek, sementara perencana ungkap manfaat BRT.

Sejumlah pekerja menyelesaikan proyek pembangunan halte BRT di Jalan Ahmad Yani, Kota Bandung, Selasa 6 Oktober 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)