AYOBANDUNG.ID -- Periode Natal dan Tahun Baru 2025/2026 menjadi saksi bagaimana mobilitas masyarakat Indonesia tidak hanya meningkat dalam bentuk perjalanan manusia, tetapi juga dalam arus pengiriman hewan peliharaan.
Data KAI Logistik mencatat lebih dari 5.200 ekor hewan peliharaan dikirim ke berbagai kota di Pulau Jawa sepanjang momen tersebut. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan cerminan gaya hidup baru masyarakat urban yang semakin menempatkan hewan peliharaan sebagai bagian integral dari keluarga.
Manager Marketing & Sales Courier KAI Logistik, Ayi Suryandi, menegaskan bahwa kepemilikan hewan peliharaan kini telah menjadi gaya hidup. Fenomena ini pun mampu menggambarkan pergeseran nilai sosial dari sekadar kepemilikan hewan menjadi komitmen emosional dan logistik yang nyata.
“Hewan peliharaan telah menjadi bagian dari keluarga, sehingga banyak masyarakat yang memilih untuk bepergian bersama hewan peliharaan dan mengirimkan hewan peliharaannya ke kota tujuan sebagai opsi,” ungkap Ayi.
Puncak pengiriman terjadi pada 29 Desember 2025, dengan jumlah mencapai 926 ekor. Lonjakan ini sekitar 50 persen lebih tinggi dibandingkan periode reguler, menandakan betapa kuatnya pengaruh momentum akhir tahun terhadap mobilitas hewan peliharaan. Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Tengah menjadi destinasi utama, memperlihatkan konsentrasi aktivitas di wilayah dengan populasi padat dan mobilitas tinggi.
Di balik angka-angka tersebut, ada cerita tentang bagaimana masyarakat kini menuntut layanan logistik yang tidak hanya efisien, tetapi juga berorientasi pada kesejahteraan hewan. KAI Logistik menerapkan prosedur ketat, mulai dari kewajiban penggunaan kandang sesuai ukuran, memastikan kondisi kesehatan hewan, hingga penyediaan pakan dan minum selama perjalanan.
“Kami juga menyediakan petugas yang akan mengawal dan mengawasi kondisi hewan peliharaan sepanjang perjalanan,” lanjut Ayi.
Fenomena ini tidak berhenti pada momen Nataru. Hingga 31 Desember 2025, KAI Logistik mencatat lebih dari 158 ribu ekor hewan peliharaan telah dikirim sepanjang tahun, meningkat 15 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan konsisten ini menunjukkan bahwa layanan pengiriman hewan peliharaan bukan sekadar tren musiman, melainkan kebutuhan yang semakin mapan di tengah masyarakat.
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) 2025 memperkuat gambaran tersebut. Kepemilikan hewan peliharaan di Indonesia terus meningkat, terutama di kawasan perkotaan. Pertumbuhan ini dipengaruhi oleh meningkatnya pendapatan masyarakat, tren gaya hidup urban, serta kesadaran akan manfaat psikologis dari keberadaan hewan peliharaan.
Asosiasi Pet Animal Indonesia juga mencatat bahwa lebih dari 60 persen rumah tangga urban kini memiliki hewan peliharaan, dengan dominasi kucing dan anjing. Potensi pasar logistik hewan peliharaan pun terbuka lebar. Dengan semakin banyaknya masyarakat yang menjadikan hewan sebagai anggota keluarga, kebutuhan layanan pengiriman yang aman dan berstandar tinggi akan terus meningkat.
Perusahaan logistik yang mampu menghadirkan inovasi, baik dari sisi operasional maupun digitalisasi layanan, akan berada di posisi strategis untuk menguasai pasar ini. Namun, tantangan tidak kecil. Regulasi transportasi hewan yang ketat dari Kementerian Pertanian menuntut perusahaan untuk memastikan standar kesejahteraan hewan terpenuhi.
Infrastruktur pendukung, seperti kandang khusus dan tenaga pengawas terlatih, menjadi faktor penentu. Di sisi lain, masyarakat juga semakin kritis terhadap kualitas layanan, menuntut transparansi dan jaminan keselamatan hewan selama perjalanan.
Digitalisasi menjadi jawaban atas sebagian tantangan tersebut. KAI Logistik telah mengintegrasikan sistem pelacakan digital yang memungkinkan pelanggan memantau kondisi pengiriman secara real time. Inovasi ini bukan hanya soal teknologi, tetapi juga soal membangun kepercayaan di tengah konsumen yang semakin menuntut kepastian.
Bagi konsumen, layanan pengiriman hewan peliharaan bukan sekadar logistik, melainkan bentuk kepedulian terhadap anggota keluarga. Tren ini memperlihatkan pergeseran nilai yang mendalam: mobilitas manusia kini diikuti oleh mobilitas hewan, dan keduanya sama-sama dianggap penting.
Fenomena ini juga membuka ruang diskusi lebih luas tentang bagaimana industri logistik beradaptasi dengan perubahan gaya hidup masyarakat. Jika dulu logistik identik dengan barang dan komoditas, kini ia merambah ke ranah emosional, mengangkut makhluk hidup yang memiliki nilai sentimental tinggi bagi pemiliknya.
Oleh karena itu, lonjakan pengiriman hewan peliharaan pada periode Nataru 2025/2026 bukan sekadar fenomena musiman, melainkan refleksi gaya hidup baru masyarakat Indonesia. Dengan potensi pasar yang besar, tantangan regulasi, dan kebutuhan inovasi, layanan logistik hewan peliharaan diprediksi akan menjadi salah satu sektor strategis dalam industri transportasi dan logistik nasional.
“Ke depan, kami terus meningkatkan layanan khususnya dalam layanan hewan peliharaan, dan menjadi pilihan bagi masyarakat dalam menghadirkan layanan hewan peliharaan yang berorientasi pada kesejahteraan hewan,” ujar Ayi.
Alternatif kebutuhan hewan peliharaan atau produk serupa:
