AYOBANDUNG.ID -- Natal dan Tahun Baru 2025/2026 bukan hanya tentang keramaian stasiun, terminal, dan pelabuhan. Di balik itu, ada denyut logistik yang bekerja tanpa henti. Ribuan ton barang berpindah dari satu kota ke kota lain, dari satu pulau ke pulau lain, mengikuti arus mobilitas masyarakat.
Distribusi logistik menjadi urat nadi yang memastikan oleh-oleh tiba di kampung halaman, sepeda motor sampai ke tangan pemiliknya, dan kebutuhan pokok tetap tersedia di pasar.
Di stasiun-stasiun besar, antrean paket terlihat menumpuk di ruang logistik. Petugas sibuk mengatur koli demi koli, memastikan setiap barang tercatat dan masuk ke gerbong sesuai jadwal.
PT Kereta Api Logistik (KAI Logistik) mencatat pengelolaan 138.761 koli dengan volume lebih dari 3.000 ton. Angka ini tumbuh 10 persen dibandingkan periode Nataru sebelumnya, menandakan meningkatnya pemanfaatan layanan ritel berbasis kereta api.
Direktur Pengembangan Usaha KAI Logistik, Aniek Dwi Deviyanti, menyampaikan bahwa selama periode layanan Nataru yang berlangsung pada 18 Desember 2025 hingga 4 Januari 2026, peningkatan volume tercatat hingga 40% pada masa puncak pengiriman dibandingkan periode hari reguler, sementara pengiriman didominasi oleh paket dan sepeda motor.
“Pengiriman paket tercatat mencapai 1.882 ton, diikuti pengiriman sepeda motor sebesar 1.067 ton. Selain itu, KAI Logistik juga mengelola pengiriman hewan sebesar 78 ton, serta berbagai jenis barang lain seperti sepeda, tanaman, barang elektronik, dan dokumen dengan total sekitar 46 ton,” ujar Aniek.
Di lapangan, barang-barang itu bukan sekadar angka. Paket berisi oleh-oleh khas daerah, sepeda motor yang dikirim untuk memudahkan mobilitas di kampung halaman, hingga hewan peliharaan yang harus tiba dengan selamat. Semua bergerak dalam satu sistem yang harus berjalan tepat waktu.
Sementara itu, Aniek menjelaskan, peningkatan volume tersebut dipengaruhi oleh meningkatnya mobilitas dan aktivitas masyarakat.
“Momentum libur semester mahasiswa serta tingginya pergerakan wisatawan selama periode Nataru menjadikan layanan ini dimanfaatkan masyarakat untuk mengirimkan berbagai keperluan pribadi, baik ke kampung halaman maupun ke kota tujuan wisata,” lanjut Aniek.
Kebijakan pembatasan bagasi penumpang kereta api dengan batas maksimal 20 kilogram turut mendorong masyarakat beralih ke layanan logistik ritel. Di stasiun, banyak penumpang yang memilih menitipkan barang berlebih ke layanan resmi, daripada memaksakan diri membawa ke dalam gerbong.
Distribusi selama Nataru juga menunjukkan pola tujuan yang jelas. Kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, Semarang, Solo, dan Bandung menjadi titik dominan pengiriman. Untuk menjaga kelancaran, KAI Logistik menambah kapasitas angkut hingga 20 ton per hari, dialokasikan masing-masing 10 ton untuk jalur Utara dan Tengah pada periode puncak akhir Desember.
Selain penambahan kapasitas, perusahaan mengoptimalkan jaringan distribusi melalui penguatan armada trucking, pemanfaatan teknologi digital lewat aplikasi KAI Logistik TRAX, serta perluasan jangkauan layanan yang kini mencapai 284 titik Service Point.
Kondisi riil di lapangan memperlihatkan bagaimana distribusi logistik ritel menjadi bagian integral dari ekosistem transportasi nasional. Di pelabuhan penyeberangan, truk-truk logistik berbaris menunggu giliran masuk kapal. Di jalan tol, arus kendaraan pribadi bercampur dengan truk pengangkut barang, menuntut pengaturan lalu lintas yang ketat agar distribusi tidak terhambat.
Potensi pasar logistik pada periode Nataru ditunjukkan oleh lonjakan belanja daring, meningkatnya mobilitas wisatawan, serta tradisi mudik. Perusahaan logistik ritel memiliki peluang memperluas layanan dengan memanfaatkan tren ini.
Tantangan yang dihadapi meliputi keterbatasan kapasitas angkut, tekanan pada infrastruktur rel dan terminal, serta kebutuhan integrasi antar moda. Keterlambatan di satu titik juga berpotensi menimbulkan dampak berantai pada rantai pasok.
Oleh karenanya, digitalisasi menjadi salah satu strategi yang diterapkan untuk menjawab tantangan tersebut. Aplikasi pelacakan, sistem pemesanan daring, dan perluasan titik layanan menjadi bagian dari upaya meningkatkan efisiensi distribusi.
Nataru 2025/2026 memperlihatkan bagaimana ekosistem logistik Indonesia bekerja di bawah tekanan musiman. Dari kereta api hingga armada darat, dari stasiun hingga pelabuhan, semua moda berperan menjaga stabilitas pasokan barang. Data dari KAI Logistik memperlihatkan bahwa kelancaran distribusi tercapai melalui kesiapan operasional dan adaptasi terhadap lonjakan permintaan.
“Ke depan, KAI Logistik akan terus memperkuat layanan dan berinovasi untuk mendukung distribusi logistik masyarakat, khususnya pada periode dengan permintaan tinggi, sekaligus berkontribusi terhadap sistem logistik nasional yang berkelanjutan,” pungkas Aniek.
Alternatif kebutuhan logistik atau produk serupa:
