AYOBANDUNG.ID -- Bandung memasuki penghujung 2025 dengan denyut kota yang semakin padat. Arus wisatawan dari berbagai daerah menekan kapasitas hotel, restoran, dan ruang publik, menjadikan momentum Natal dan Tahun Baru bukan sekadar perayaan, melainkan periode intens di mana industri perhotelan harus menunjukkan kesiapan nyata.
Sejak pertengahan Desember, data dari PHRI Jawa Barat mencatat tingkat okupansi hotel di Bandung Raya melonjak tajam. Kawasan Lembang, yang menjadi magnet wisata keluarga, melaporkan keterisian kamar mencapai lebih dari 85 persen, sementara pusat kota mendekati angka 90 persen. Lonjakan ini memperlihatkan bagaimana libur sekolah dan Nataru menjadi kombinasi yang mendorong permintaan akomodasi secara masif.
Di lapangan, hotel-hotel harus bergerak cepat. Manajemen kamar, kuliner, hingga keamanan tamu menjadi prioritas utama. Beberapa hotel bahkan menambah shift kerja dan merekrut tenaga musiman untuk memastikan layanan tetap prima. Tekanan operasional terasa nyata, terutama ketika arus tamu datang bersamaan dengan padatnya lalu lintas kota.
Pemerintah daerah menyebut perputaran uang dari sektor pariwisata selama tiga pekan terakhir mencapai puluhan miliar rupiah. Angka ini menegaskan dampak ekonomi langsung dari lonjakan okupansi, sekaligus menjadi indikator bahwa sektor perhotelan menjadi tulang punggung pergerakan ekonomi akhir tahun di Bandung.
Hotel baru pun memanfaatkan momentum ini. Neo KBP yang resmi beroperasi pada Desember 2025 langsung menargetkan okupansi tinggi sejak awal. Strategi pembukaan di penghujung tahun menjadi cara untuk menangkap gelombang wisatawan keluarga maupun pelancong bisnis yang mencari akomodasi segar.
Namun, sekadar menambah kapasitas tidak cukup. Diferensiasi konsep acara dan pengalaman menjadi senjata utama. Moxy Bandung, misalnya, menghadirkan pesta bertema retro 80-an sebagai strategi positioning.
“Kami ingin memberikan pengalaman yang bukan hanya sekadar pesta, tetapi sebuah perjalanan nostalgia yang penuh warna,” ujar Sebastian Suanda, Hotel Manager Moxy Bandung.
Pendekatan ini memperlihatkan bagaimana hotel tidak hanya menjual kamar, tetapi juga menjual atmosfer. Paket bundling yang ditawarkan Moxy, mulai dari menginap dua malam hingga opsi BBQ Dinner dan Countdown Party menjadi strategi revenue yang memaksimalkan setiap tamu.
Di sisi lain, kuliner tetap menjadi magnet. Sajian all-you-can-eat dengan harga kompetitif menjadi cara hotel menarik tamu lokal yang mungkin tidak menginap, tetapi tetap ingin merasakan atmosfer perayaan. Strategi ini memperluas basis konsumen sekaligus memperkuat brand experience.
Musik, dekorasi, dan hiburan live menjadi bagian dari experiential marketing yang semakin penting. Hotel-hotel di Bandung sadar bahwa tamu mencari lebih dari sekadar akomodasi; mereka mencari cerita dan kenangan.
Meski begitu, tantangan SDM tidak bisa diabaikan. PHRI Jabar menekankan perlunya kesiapan tenaga kerja menghadapi jam kerja panjang dan volume tamu yang tinggi. Kualitas layanan harus tetap konsisten meski tekanan operasional meningkat.
Digitalisasi juga menjadi penopang. Sistem reservasi online, check-in digital, dan promosi media sosial kini menjadi standar. Hotel yang lambat beradaptasi berisiko kehilangan momentum di tengah lonjakan permintaan.
Kondisi riil di lapangan menunjukkan bahwa industri perhotelan Bandung tidak hanya menghadapi lonjakan okupansi, tetapi juga ujian manajemen. Mereka dituntut untuk kreatif, adaptif, dan kolaboratif agar pengalaman tamu tetap terjaga.
Persaingan antarhotel semakin ketat. Kehadiran pemain baru seperti Neo KBP menambah kapasitas, tetapi juga memaksa hotel lama untuk terus berinovasi. Diferensiasi konsep menjadi kunci agar tidak tenggelam dalam homogenitas pasar.
Momentum Nataru 2025–2026 memperlihatkan wajah industri perhotelan Bandung yang dinamis. Lonjakan okupansi membawa peluang besar, tetapi juga menuntut kesiapan yang menyeluruh.
Moxy Bandung menjadi contoh kecil bagaimana strategi kreatif bisa menjadi pembeda. Dengan konsep retro yang dikemas modern, hotel ini tidak hanya menjual kamar, tetapi juga menjual pengalaman.
“Retro Rewind adalah cara kami mengajak tamu untuk merayakan pergantian tahun dengan vibe yang fun, stylish, dan timeless,” tambah Sebastian.
“Tahun ini, tren retro kembali booming, dan kami yakin tema ini akan memberikan kesan yang tak terlupakan bagi semua tamu,” pungkas Sebastian.
Alternatif kebutuhan liburan akhir tahun atau produk serupa:
