Tragedi Miras Oplosan Cicalengka 2018, Racikan Murah yang Memanggil Kematian

6 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Petugas saat ekspose miras maut Cicalengka di rumah tersangka, Kabupaten Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Petugas saat ekspose miras maut Cicalengka di rumah tersangka, Kabupaten Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)

AYOBANDUNG.ID - Samsudin Simbolon punya satu resep sederhana. Alkohol industri, pewarna, air, dan sedikit rasa. Resep itu tak pernah dicatat di buku masak, tapi hasilnya mengisi puluhan liang lahat. Pada April 2018, Cicalengka belajar dengan cara paling mahal bahwa satu racikan oplosan bisa mengundang antrean pelayat, bukan antrean pembeli.

Awalnya tidak ada yang terasa luar biasa. Kamis, 5 April 2018, RSUD Cicalengka menerima beberapa pasien dengan keluhan mirip masuk angin berat. Mual, muntah, pusing, dan pandangan kabur. Dokter jaga mengira ini keracunan biasa. Namun menjelang malam, jumlah pasien bertambah. Jumat, 6 April, sejak pagi hingga sore, arus manusia menuju Instalasi Gawat Darurat tak lagi terbendung.

Lorong rumah sakit dipenuhi pelbet. Keluarga korban berdiri berjejal, sebagian duduk bersandar ke dinding dengan wajah pucat. Tangis terdengar di sela bunyi alat medis. Beberapa pasien datang dalam kondisi sadar, lalu perlahan limbung. Sebagian lain sudah tak merespons saat tiba. Ada yang meninggal di depan mata kerabatnya, tubuh kaku sementara waktu seolah berhenti berjalan.

Baca Juga: Jejak Pembunuhan Sadis Sisca Yofie, Tragedi Brutal yang Gegerkan Bandung

Catatan RSUD Cicalengka menyebutkan 41 orang menjadi korban pada fase awal. Delapan belas di antaranya meninggal, 17 lainnya dirawat intensif. Angka itu tidak bertahan lama. Dalam hitungan hari, korban terus bertambah. Laporan-laporan lanjutan menyebut jumlah kematian mencapai lebih dari 35 orang, lalu naik lagi hingga sekitar 45 korban jiwa. Beberapa sumber bahkan mencatat angka yang lebih tinggi.

Nama Samsudin Simbolon mulai beredar dari mulut ke mulut. Ia bukan pejabat, bukan tokoh masyarakat. Usianya 50 tahun. Sebelumnya bekerja sebagai sopir angkot. Namun di Cicalengka, ia dikenal sebagai pemasok miras oplosan murah yang disebut Ginseng atau GG. Minuman itu dikemas dalam botol plastik air mineral dan dijual seharga Rp20 ribu. Murah, mudah didapat, dan memabukkan dengan cepat.

Samsudin tinggal di rumah besar di Jalan Bypass Bandung Garut. Bangunan itu mencolok di antara rumah warga lain. Sembilan ruangan, kolam renang di bagian belakang, dan kamera CCTV terpasang di berbagai sudut. Ketua RW setempat, Ahmad Subhana, menyebut Samsudin sebagai sosok tertutup. Jarang bersosialisasi. Lebih sering terlihat di kios mirasnya yang berjarak sekitar seratus meter dari rumah.

Tak ada yang menyangka, kolam renang di rumah itu bukan sekadar fasilitas mewah. Ketika polisi menggeledah, mereka menemukan sebuah bunker di bawahnya. Ruangan bawah tanah seluas kurang lebih 40 meter persegi, memanjang tepat di bawah kolam. Di dalamnya terpasang 15 exhaust fan dan enam kipas angin tambahan. Udara terus dipaksa keluar, seolah ruangan itu sendiri tidak ingin menyimpan apa yang sedang dikerjakan di dalamnya.

Baca Juga: Syahwat Durjana Dokter Priguna di Lantai Tujuh RSHS

Di bunker itulah miras oplosan diracik dan dikemas. Ratusan botol plastik kosong berserakan. Cairan metanol ditemukan dalam jumlah besar. Tempat itu bukan sekadar ruang sembunyi, melainkan pusat produksi yang serius dan terorganisir.

Racun yang Diminum Bersama Tawa

Isi racikan Samsudin kemudian terungkap berdasar hasil pemeriksaan. Air mineral, multivitamin serbuk seperti Kuku Bima, alkohol 97%, pewarna kue, pewangi rasa pisang ambon, serta campuran ethanol dan methanol. Dari semua bahan itu, metanol adalah yang paling mematikan. Zat ini biasa digunakan untuk spiritus atau keperluan industri, bukan untuk konsumsi manusia.

Hasil uji laboratorium forensik Polda Jawa Barat memastikan kandungan metanol dalam miras oplosan tersebut. Berbeda dengan etanol yang digunakan dalam minuman beralkohol legal, metanol memiliki toksisitas tinggi. Dampaknya bisa berupa kebutaan permanen, kegagalan organ, hingga kematian.

Baca Juga: Hikayat Pembunuhan Subang yang Bikin Geger, Baru Terungkap Setelah 2 Tahun

Gejala yang dialami para korban hampir seragam. Sakit perut hebat, mual tak tertahankan, muntah terus-menerus, pusing, dan penglihatan buram. Dalam beberapa kasus, gejala baru muncul dua hingga tiga hari setelah minum. Pada saat itu, racun sudah bekerja jauh di dalam tubuh.

Racikan miras oplosan berbahaya karena komposisinya tidak diketahui. Efek sampingnya sulit diprediksi. Pada kondisi berat, korban bisa kehilangan kesadaran, mengalami henti napas dan henti jantung. Fungsi otak tertekan akibat mabuk berat, disusul kegagalan pernapasan.

Pemusnahan barang bukti ratusan minuman keras oplosan Cicalengka. (Sumber: Ayobandung)
Pemusnahan barang bukti ratusan minuman keras oplosan Cicalengka. (Sumber: Ayobandung)

Di balik angka korban, tersimpan kisah-kisah yang memukul. Dina Mariana, 29 tahun, menjadi korban pertama yang meninggal di RSUD Cicalengka. Ibunya, Anih, 69 tahun, sedang bekerja sebagai pembantu rumah tangga saat kabar duka datang. Ada pula Diki, 25 tahun, warga Warunglahang. Ia sempat selamat dan diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Namun beberapa hari kemudian, ia kembali minum miras oplosan bersama teman-temannya. Rabu, 11 April 2018 pukul 10.10 WIB, Diki meninggal dunia.

Sementara korban terus berjatuhan, Samsudin Simbolon menghilang. Polisi menetapkannya sebagai buronan. Penangkapan terhadap istrinya, Hamicak Manik, menjadi titik balik. Dari keterangannya, polisi mengetahui rencana pelarian Samsudin ke Sumatera. Aparat lintas daerah bergerak. Direktorat Reserse Kriminal Umum, Direktorat Reserse Narkoba Polda Jawa Barat, Polres Bandung, hingga Polda Jambi melakukan koordinasi.

Baca Juga: Geger Bandung 1934, Pembunuhan Berdarah di Rumah Asep Berlian

Rabu dini hari, 18 April 2018 sekitar pukul 01.00 WIB, Samsudin ditangkap di sebuah perkebunan sawit di Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Ia langsung dibawa ke Bandung untuk menjalani pemeriksaan.

Kasus ini menyedot perhatian nasional. Wakil Kepala Polri saat itu, Komisaris Jenderal Polisi Syafruddin, turun langsung meninjau bunker produksi miras oplosan di Cicalengka. Foto kolam renang yang menyembunyikan ruang bawah tanah itu beredar luas. Simbol kemewahan yang dibangun di atas racun.

Penjara untuk Samsudin, Duka untuk Korban

Proses hukum berlangsung hingga Oktober 2018. Pengadilan Negeri Bale Bandung menjatuhkan vonis 20 tahun penjara kepada Samsudin Simbolon. Istrinya, Hamicak Manik, divonis tujuh tahun penjara karena terbukti terlibat. Saat putusan dibacakan, Hamicak pingsan dan harus dibawa ke ruang kesehatan pengadilan.

Catatan pengadilan dan laporan media menyebut jumlah korban meninggal akibat miras oplosan racikan Samsudin berkisar antara 45 hingga 69 orang. Angka yang berbeda-beda, tetapi semuanya menunjukkan skala tragedi yang luar biasa. Belum terhitung ratusan korban selamat yang mengalami gangguan kesehatan serius.

Tragedi Cicalengka bukan peristiwa tunggal. Data Pusat Studi Kebijakan Indonesia (PSKI) menunjukkan peningkatan kematian akibat miras ilegal sebesar 226% antara 2013 hingga 2016. Pada 2018, lebih dari 500 orang di Indonesia dilaporkan meninggal setelah mengonsumsi miras mengandung metanol.

Baca Juga: Hikayat Kasus Penganiayaan Brutal IPDN Jatinangor, Tumbangnya Raga Praja di Tangan Senior Jahanam

Ironisnya, lonjakan ini terjadi bersamaan dengan pembatasan peredaran minuman beralkohol legal. Pelarangan penjualan bir di minimarket dan tingginya cukai membuat alkohol legal mahal dan sulit dijangkau. Di celah itulah pasar gelap tumbuh subur. Miras oplosan menjadi alternatif murah bagi konsumen kelas menengah ke bawah.

Harga yang terjangkau, tekanan pergaulan, solidaritas kelompok, dan pencarian efek mabuk cepat membuat miras oplosan terus diminum, meski risikonya diketahui. Produksinya tidak diawasi. Bahan yang digunakan sering kali alkohol industri tanpa standar keamanan.

Tragedi miras oplosan Cicalengka 2018 mencatat bagaimana racun bisa beredar dalam bentuk paling akrab, botol plastik air mineral. Ia tidak meledak, tidak berisik, tetapi bekerja perlahan di dalam tubuh. Dari bunker bawah kolam renang hingga lorong IGD, dari warung kecil hingga ruang sidang, kisah ini menjadi catatan kelam tentang mabuk murah yang dibayar dengan nyawa.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 19 Sep 2026, 20:19

Mengenang Wa Kepoh Maestro Dongeng Sunda di Gelombang Radio

Sandiwara Radio Saur Sepuh, yang pernah membuat pendengarnya di berbagai daerah larut dalam cerita.

H. Ahmad Sutisna alias Wa Kepoh, maestro dongeng Sunda dan salah satu tokoh penting dalam dunia penyiaran radio di Jawa Barat. (Sumber: Tabloid Nova, September 1996.)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 19:40

Tantangan Literasi Antara Menulis dan Kepunahan Bahasa Daerah

Begitu miris ketika kita membaca judul "Benarkah Indonesia mengalami Darurat Literasi?" Ada banyak penulis yang hanya sekadar menulis, tetapi tidak ada visi menjaga literasi terutama bahasa lokal.

Ilustrasi orang Sunda. (Sumber: Unsplash/Mahmur Marganti)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 18:17

Mengenal Bahaya Letusan Gunung Berapi di Bandung Raya dan Sekitarnya

Temukan ulasan mendalam mengenai potensi bahaya vulkanik di Bandung Raya. Pelajari langkah mitigasi yang tepat dan tingkatkan kesiapsiagaan Anda demi keselamatan bersama dari ancaman bencana alam.

Hoogvlakte van Bandoeng autowegenkaart, D E 29,1. Bandoeng: HOVIC, ca. 1920 (Peta jalan Dataran Tinggi Bandung, D E 29.1. Bandung: HOVIC, ca. 1920). (Sumber: Digital Collections Universteit Leiden | Foto: Anonim)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 17:46

Optimis atau Oportunis

Dari aktivis pro–demokrasi yang berujung menjadi elit rezim yang selalu mereka tentang selama masa nya menjadi mahasiswa.

Budiman Sudjatmiko bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mendeklarasikan kelompok relawan Prabowo-Budiman Bersatu (Prabu) di Semarang, Jawa Tengah pada Jumat (18/08/2023). (Sumber: Gerindra.id)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 20:09

Sejarah dan Transformasi Nahdlatul Ulama di Bumi Pasundan (1926–1967)

Kehadiran Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah ini bukanlah sebuah kebetulan sejarah, melainkan kebutuhan strategis untuk menjaga keseimbangan antara tradisi pesantren yang mengakar dan gelombang modernism

Gedung Dakwah PWNU Jawa Barat. (Sumber: Tangkapan layar YT: Kang inoe)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 17:52

Hebatnya Kreatifitas Dasa Warsa 1980-an

Bernostaldia dengan kehidupan remaja tahun 1980-an.

Motor klasik vespa. (Sumber: Pexels | Foto: setengah lima sore)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 15:17

Ketika Anak Bangsa Kehilangan Kesempatan Menjadi Cerdas dan Kritis

Sebetulnya apa yang menjadi akar persoalan dalam pendidikan kita. Pendidikan seharusnya tidak hanya butuh jawaban benar, tetapi bagaimana anak bisa bertanya secara kritis dan berpikir cerdas.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels | Foto: Ida Rizkha)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 14:01

Jejak Rasa dan Budaya Kuliner Arab di Tatar Sunda

Kuliner Arab di Jawa Barat tumbuh dari jejak migrasi menjadi bagian dari keragaman rasa dan budaya Tatar Sunda.

Nasi kebuli, hidangan khas Timur Tengah yang populer di kalangan masyarakat Arab di Indonesia, termasuk di Jawa Barat. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 12:26

Ketika Layar Perak Menjadi Denyut Hiburan Bandung Tempo Doeloe

Jejak bioskop Bandung tempo dulu merekam bagaimana hiburan, kehidupan sosial, dan perkembangan kota pernah berpadu di balik layar perak.

Iklan ucapan selamat hari jadi Kota Bandung dari perusahaan film N.V. Sirna Galih Ind. Ltd.. Iklan tersebut memuat daftar bioskop yang dikelolanya. (Sumber: Dimuat dalam Pikiran Rakjat, 31 Maret 1956 | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 09:59

200 Ikon Bandung #7: Karmaka Surjaudaja

Kisah Karmaka Surjaudaja menjadi teladan tentang perjuangan, kejujuran, dan ketekunan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Adegan dalam film Love and Faith pada 2015, yang menceritakan kisah kehidupan Karmaka. (Sumber: Love and Faith)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 08:23

Bukan Macan yang Salah Cari Alamat, tapi Kita yang Mengubah Alamat Mereka

Macan yang masuk kampung atau kera yang turun ke permukiman bukan sekadar kisah tentang satwa yang “nakal”.

Seekor macan terdampar di rumah warga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Istimewa via ayobandung.com)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 18:03

Menelusuri Jejak 216 Tahun Kota Bandung dalam Surat Kabar Lawas

Bandung adalah kota yang tumbuh dari perjalanan sejarah yang panjang.

Beberapa surat kabar yang pernah menjadi bagian dari kehidupan dan kebanggaan warga Bandung pada era 1970–1990-an. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 17:34

Jejak Gunung Api Purba di Kabupaten Bandung Barat

Singkapan batuan dan ignimbrit di Kabupaten Bandung Barat menjadi bukti keberadaan aktivitas gunungapi purba yang dapat dipelajari melalui geowisata.

Hasil kerajin patung kuyabatok dari batu di Kampung Ciawitali, Desa Cipangeran, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, memenuhi pesanan dari Jepara, Jawa Tengah, untuk diekspor ke Korea. (Sumber: T Bachtiar)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 16:05

Badut, Mimpi, dan Rizki

Mimpi tidak pernah benar-benar sendirian. Ya selalu ditemani ikhtiar, doa, dan keberanian untuk terus mencoba. Kendati, di antara semua itu, ada satu yang sering kita lupakan. Pekerjaan yang halal

Riasan badut yang dikenakannya saat merayakan wisuda bukan sekadar untuk tampil berbeda, (Sumber: Dokumentasi istimewa/ Kak Hakim (@badutbandung_kakhakim12))
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 15:09

Merdeka Berdaya, Merdeka Berkarya: Kaum Marginal Membangun Masa Depan

Setiap goresan tinta yang tercurahkan melalui hati, merupakan ketegaran dalam setiap halaman.

Bedah Buku "Prajurit Yang Tenggelam" Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas II B Majalengka. (Foto: Ayu Maimun)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 13:49

Rp7.000 dan Masa Depan Supir dan Angkot Bandung

Angkot berseliweran, penumpang naik-turun, uang masuk. Sopir mengejar setoran. Calon penumpang dicari. Angkot ngetem ketika dianggap perlu. 

Warga hendak turun dari angkot. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 12:08

200 Ikon Bandung #6: Raden Adipati Wiranatakusumah II, Dalem Kaum Bukan Hanya Nama Jalan

Di balik nama Dalem Kaum, tersimpan jejak Wiranatakusumah II sebagai salah satu tokoh penting dalam lahirnya Kota Bandung.

Alun-Alun Bandung pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 09:38

Belajarlah Mencintai Bandung Seperti Haryoto Kunto Sang Kuncen Bandung

Selami kisah Haryoto Kunto, sang Kuncen Bandung dan temukan cara terbaik mencintai Kota Kembang (Paris van Java) lewat sejarah, romantisme dan sudut pandang mendalam.

Ilustrasi buku karya Haryoto Kunto. (Sumber: Istimewa)
Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)