Molornya Acara Nobar 'Pesta Babi': Pilih Bertahan atau Pergi

4 menit baca
Dias Ashari
Ditulis oleh Dias Ashari diterbitkan
Bagaimana mungkin kita mengajak orang lain untuk peduli kepada mereka yang diperlakukan semena-mena. Sementara dengan orang terdekat kita tidak peduli dengan waktunya. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Bagaimana mungkin kita mengajak orang lain untuk peduli kepada mereka yang diperlakukan semena-mena. Sementara dengan orang terdekat kita tidak peduli dengan waktunya. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)

Mendengar acara nobar film 'Pesta Babi' rasanya senang bukan kepalang apalagi jika sekaligus diadakan sesi diskusi. Sudah terbayang dalam benak saya bagaimana sudut pandang mahasiswa kritis terkait dengan film ini. Bagaimana riuhnya saling bertukar pikiran yang sudah jarang terjalin antar mahasiswa di era distraksi media sosial. Bahkan saya sudah memikirkan dan akan mendokumentasikan acara tersebut dalam sebuah tulisan berjudul 'Bandung dan Dialetika Kritis antar Mahasiswa dalam Film Nobar Pesta Babi'.

Tapi hidup memang tidak selalu berjalan sesuai yang kita harapkan. Banyak faktor yang mempengaruhi agenda yang sudah tersusun rapih salahsatunya keterlambatan. Menarik memang bagi saya ketika membicarakan kata terlambat. Sebuah kata dan refleksi perilaku yang sering dianggap sepele dan sudah menjadi budaya mengakar dan mendarah daging.

Selasa, 18 Mei 2026 yang saya tau ada dua kampus besar di Bandung yang melaksanakan acara nobar film pesta babi. Yang satu terletak di Bandung Timur dan satunya lagi cukup strategis di tengah kota. Untuk mengefektifkan waktu tentu saya memilih yang terdekat dengan kota sehingga akses pulang ke rumah lebih mudah. Selain itu juga pertimbangannya karena kampus di kota saya rasa akan banyak mahasiswa beragam baik dari segi pendidikan, status sosial hingga agama yang tentunya akan memperkaya ranah diskusi.

Flyer nobar film pesta babi sudah terpasang oleh bem yang bersangkutan dua hari sebelum penayangan saya menemukannya. Informasi yang tertera bahwa kegiatan akan dilaksanakan mulai pukul 18:30. Bahkan beberapa jam sebelum acara dimulai bem tersebut kembali memosting jam tayang dimajukan menjadi jam 18:00. Setelah mempertimbangkan banyak hal saya rasa waktunya cocok dengan agenda saya hari itu bahkan saya sudah memprediksi berapa lama acara tersebut akan selesai.

Meski lelah pulang PKPA saya tetap melaju menggunakan ojek online karena saya rasa acara sebagus dan sekritis ini perlu didukung oleh kalangan mahasiswa. Pukul lima sore saya sudah sampai di kampus yang bersangkutan dan memilih menepi merebahkan badan di masjid yang sudah disediakan. Dalam estimasi saya meski bem tersebut memperbaharui jam lebih siang-- saya sudah menebak jika waktu acara akan mulai di jam 18:30 dan itu tidak masalah bagi saya.

Selesai magrib saya menghampiri satpam dan menanyakan lokasi diskusi serta penayangan film tersebut kepada satpam. Sangat ramah dan saya diantarkan tidak jauh ke tempat penyelenggaraan. Sudah terlihat infocus, proyektor dan beberapa mahasiswa yang berkumpul secara acak. Saya ikut bergabung dan terus menunggu sampai 30 menit ke depan. Namun hati saya sudah tidak enak ketika 2 menit menjelang acara dimulai panitia masih belum memulai acaranya.

Beberapa mahasiswa duduk di atas terpal yang disediakan panitia dan saya pun ikut bergabung. Benar saja semua peserta masih tetap diminta menunggu dalam ketidakjelasan. Hingga waktu menunjukkan shalat isya di jam 18:50 an salah satu panitia mengatakan bahwa acara akan dimulai jam 19:00 selepas shalat isya supaya tidak terpotong jelasnya.

Dalam benak saya sudah menunggu acara tersebut dari jam 18:00 dan setelah jam 19:15 masih saja belum dimulai. Saya memahami bahwa waktu shalat memang baiknya tidak ditunda. Tapi jika itu alasannya kenapa sejak awal panitia tidak memasang flyer di instagram dengan menuliskan mulai pukul 19:30 atau 20:00. Karena bisa saja yang hadir di acara tersebut masih punya agenda lain dan dengan adanya keterlambatan di satu acara tentu akan mempengaruhi estimasi acara yang lain.

Saya cukup merasa dongkol dan kecewa karena saya sudah menunggu hampir 75 menit dan acara masih saja belum dimulai. Ada rasa sayang meninggalkan acara yang penting bagi saya ini terlebih saya sudah meluangkan waktu, tenaga dan uang untuk pergi kesana tapi acaranya tidak sesuai dengan ekspektasi. Awalnya saya memilih bertahan saja sampai acara dimulai. Tapi saya berpikir kembali jika saya tetap bertahan dengan perasaan marah maka saya rasa menonton dan berdiskusi selanjutnya akan menganggu isi pikiran dan emosi saya. Jadi daripada bertahan saya lebih memilih untuk pergi meninggalkan acara tersebut sebelum dimulai.

Selama ini kita diajarkan untuk terus bertahan (survive) dalam kondisi apapun. Tapi menurut saya jika yang kita pertahankan tidak worth it maka kita harus sanggup meninggalkan. Jangan sampai kita terus bertahan di lingkungan yang tidak menghargai waktu orang lain-- kehadiran kita--antusias kita. Bertahan tak selamanya baik dan melepaskan atau meninggalkan tidak selamanya buruk.

Sangat disayangkan saja ketika kita akan menonton film yang menuntun kita untuk terbuka dengan kepedulian terhadap masyarakat Papua. Bahkan informasi yang sudah tersebar film ini banyak membicarakan tentang empati, korupsi dan ketimpangan. Namun yang terjadi di ruang nobar justru menjadi bahan diskusi yang tak kalah menarik. Bagaimana mahasiswa di Bandung sebagai audiens dan penyelenggara acara mempraktikan nilai yang akan dibahas dalam layar.

Untuk peduli dengan sesuatu hal yang besar justru kita harus menghargai hal-hal kecil. Bagaimana mungkin kita akan membicarakan dan mengkritik terhadap tindak korupsi yang dilakukan para pejabat dan pemerintah. Jika kita sebagai masyarakat dalam lapisan terbawah juga masih menormalisasi korupsi kecil yaitu waktu. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Dias Ashari
Tentang Dias Ashari
Menjadi Penulis, Keliling Dunia dan Hidup Damai Seterusnya...

Berita Terkait

News Update

Wisata & Kuliner 26 Agu 2026, 12:42

Jelajah Goa Sunyaragi, Labirin Batu Karang di Jantung Kota Cirebon

Jelajahi Goa Sunyaragi Cirebon, kompleks bersejarah dengan lorong batu karang, arsitektur unik, tiket masuk, dan tips berkunjung.

Wisata Goa Sunyaragi Cirebon. (Sumber: Instagram @goasunyaragi)
Ayo Netizen 26 Agu 2026, 12:23

Peringkat Nabi Muhammad saw. Dalam Kasus Tabloid Monitor Tahun 1990

Kisah tahun 1990 ini, berawal dari survei 50 tokoh yang dikagumi oleh pembaca tabloid Monitor dan memunculkan demonstrasi masyarakat

Klarifikasi dan permintaan Tabloid Monitor atas edisi 15 Oktober 1990 yang kontroversial. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 26 Agu 2026, 10:28

Pasar Baru Bandung dan Penyakit 'Kota Branding'

Upaya pem-branding-an memang penting. Kota perlu dikenal. Kawasan perlu memiliki daya tarik. Tetapi, branding hanyalah lapisan paling luar dari sebuah ekosistem. 

Pasar Baru Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Regia Ramadhina Revalgian/Magang)
Ayo Netizen 26 Agu 2026, 08:44

Jika Pohon-Pohon di Kalimantan Bisa Bernyanyi dan Hewan di Dalamnya Bisa Bicara

Manusia seringkali lupa bahwa di bumi ini mereka hidup tidak sendirian melainkan berdampingan dengan mahluk hidup lainnya yang juga harus dijaga kelestariannya.

Orang utan di hutan Kalimantan. (Sumber: Pexels | Foto: Tim Morgan)
Ayo Netizen 26 Agu 2026, 07:38

Nama, Doa, dan Ikhtiar

Yang membuat nama menjadi bermakna bukan hanya rangkaian hurufnya. Ada harapan orang tua, perjalanan hidup yang mengiringinya, dan tanggung jawab pemilik nama untuk menjadikan doa sebagai kehidupan.

Ilustrasi nama orang sunda yang sudah hampir punah. (Sumber: Pixabay by Pexels)
Ayo Netizen 25 Agu 2026, 18:01

Mengurangi Emisi Karbon Semen Lewat Campuran Bubuk Basalt

Produksi semen konvensional menyumbang emisi karbon dunia secara signifikan. Penggunaan bubuk basalt dapat menggantikan sebagian porsi semen konvensional tanpa merusak karakteristiknya.

Ilustrasi utama, semen konvensional (semen OPC) (Foto: Tunas Niaga Konstruksindo)
Ayo Netizen 25 Agu 2026, 16:57

Harga Daging Ayam Melambung Tinggi, Simalakama Makanan Bergizi

Masalah klasik peternakan rakyat terkait dengan pakan dan pengadaan bibit ayam perlu segera dibenahi.

Ilustrasi pedagang daging ayam di pasar tradisional (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 25 Agu 2026, 13:45

Uswah: Ketika Orang Tua Ingin Melahirkan Keturunan yang Saleh

Jika ingin anak menjadi saleh, jangan hanya sibuk menasihatinya. Jadilah teladan yang baik. Sebab anak mungkin lupa kata-kata kita, tetapi ia akan mengingat siapa kita di hadapannya.

Ringkasan tulisan. (Sumber: chtgpt | Foto: chtgpt)
Mayantara 25 Agu 2026, 10:04

Ketika Visual Menjadi Mata Uang di Ruang Digital

Di media sosial, perhatian telah berubah menjadi semacam mata uang baru.

Pengguna media sosial. (Sumber: Pexels | Foto: Ivan S)
Ayo Netizen 25 Agu 2026, 08:57

Cerita Pedagang Asongan di Bus MGI Bandung-Sukabumi

Banyak cerita kehidupan rakyat yang terdengar dari percakapan sederhana di transportasi umum. Untuk mengerti orang lain kadang kita perlu melihatnya sendiri.

Setiap orang yang kita temui pasti memiliki cerita dan tantangan hidupnya sendiri. Begitu juga dengan mereka yang berjuang menawarkan dagangannya di dalam bus (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 20:00

Kaukus Indonesia dalam Potret Merdeka

Bagaimanakah kita melihat potret Indonesia merdeka kini? Pertanyaan yang muncul, karena proses historis panjang seakan dilupakan. Barangkali, kaukus Indonesia telah kehilangan sosok tokoh.

Panjat pinang, salah satu lomba yang sering digelar saat Hari Kemerdekaan Indonesia setiap 17 Agustus. (Sumber: Pexels | Foto: a Ayyeee Ayyeee)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 18:13

Nasib Kuyang dalam Kebakaran Hutan Kalimantan

Ketika hutan kalimantan terbakar mungkin kuyang bisa protes kepada manusia dengan menyebar teror tapi bagaimana dengan pohon, hewan atau penghuni hutan lainnya?

Ilustrasi orang utan di tengah kebakaran hutan. (Sumber: Gemini AI)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 17:07

Jejak Rasa dari Negeri Tirai Bambu: Menelusuri Warisan Kuliner Tionghoa yang Mengakar di Bandung

Kedatangan bangsa Tionghoa membawa teknik pengolahan pangan yang secara organik berfusi dengan bahan lokal, menciptakan identitas kuliner baru yang diterima secara luas.

Cakwe Lie Tjay Tat di Gor Pajajaran, Jl. Pajajaran No.37, Pasir Kaliki, Kec. Cicendo, Kota Bandung. (Sumber: Google Review | Foto: Buyung)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 16:19

Pengalaman Berburu Buku Tua di Toko Buku Tua di Kota Bandung

Seratus persen buku-buku kuliahku aku beli di Pasar Buku Palasari. Aku sering sempatkan untuk berburu membeli buku-buku tua dan buku-buku baru, bahkan termasuk ke pasar-pasar loak di Kota Bandung.

Toko Buku di bagian depan Pasar Buku Palasari. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Ridwan K)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:50

Dari Josepha Alexandra Kita Belajar untuk Berani dan Kritis Terhadap Kesewenang-wenangan

LCC 4 Pilar MPR RI yang seharusnya memperkenalkan nilai-nilai kebangsaan, nilai-nilai pancasila, dan nilai-nilai demokrasi kepada generasi muda, bukan malah mempertontonkan arogansi orang dewasa.

Potret Josepha Alexandra saat mengikuti Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat. (Sumber: YouTube | Foto: @MPRRIOfficial)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:28

Mitigasi Kebakaran: Kota Bandung Butuh Drone dan Bambi Bucket 

Diperlukan drone dengan kemampuan Based Fire Monitoring and Suppression System yang dilengkapi kemampuan deteksi yang menggunakan AI driven hotspot.

Mitigasi kebakaran hebat di kota Bandung dengan teknologi drone dan bambi bucket (Sumber: digambar dengan bantuan AI | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 11:39

Mamah Bule dan Kang Ian, Kisah Menarik Nenek dan Cucu yang Mewarnai Media Sosial

Akun media sosial Bridgia Adhella kini telah memiliki sekitar 71 ribu pengikut, dengan ratusan unggahan yang memperlihatkan berbagai sisi kehidupan Mamah Bule dan Kang Ian.

Nenek Bule, Adellina Ganda Prawira, bersama cucu tercinta, Kang Iyan. (Sumber: Kang Iyan)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 09:14

Urgensi Program Bandung Peduli Lansia

Perlu dicari jalan tengah terkait dengan pro kontra perawatan lansia dengan cara ageing in place versus perawatan institusi

Ilustrasi program peduli lansia di Kota Bandung (Sumber: kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 08:58

Kala Ponsel para ASN Jadi Arena Judi

Perang melawan judi online tidak cukup dilakukan dengan slogan moral. Ia membutuhkan kombinasi antara teknologi, penegakan hukum, literasi digital.

ASN sedang mengikuti apel. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 20:16

Menjelajahi Autentisitas Kuliner Sunda: Telaah 50 Hidangan Khas Jawa Barat

Eksplorasi terhadap 50 masakan khas Jawa Barat ini membuktikan bahwa kuliner Sunda adalah aset budaya tak ternilai.

Buku berjudul 50 Masakan Khas Jawa Barat karya Ajen Dianawati (2025). (Sumber: Dokumentasi penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)