Mendengar acara nobar film 'Pesta Babi' rasanya senang bukan kepalang apalagi jika sekaligus diadakan sesi diskusi. Sudah terbayang dalam benak saya bagaimana sudut pandang mahasiswa kritis terkait dengan film ini. Bagaimana riuhnya saling bertukar pikiran yang sudah jarang terjalin antar mahasiswa di era distraksi media sosial. Bahkan saya sudah memikirkan dan akan mendokumentasikan acara tersebut dalam sebuah tulisan berjudul 'Bandung dan Dialetika Kritis antar Mahasiswa dalam Film Nobar Pesta Babi'.
Tapi hidup memang tidak selalu berjalan sesuai yang kita harapkan. Banyak faktor yang mempengaruhi agenda yang sudah tersusun rapih salahsatunya keterlambatan. Menarik memang bagi saya ketika membicarakan kata terlambat. Sebuah kata dan refleksi perilaku yang sering dianggap sepele dan sudah menjadi budaya mengakar dan mendarah daging.
Selasa, 18 Mei 2026 yang saya tau ada dua kampus besar di Bandung yang melaksanakan acara nobar film pesta babi. Yang satu terletak di Bandung Timur dan satunya lagi cukup strategis di tengah kota. Untuk mengefektifkan waktu tentu saya memilih yang terdekat dengan kota sehingga akses pulang ke rumah lebih mudah. Selain itu juga pertimbangannya karena kampus di kota saya rasa akan banyak mahasiswa beragam baik dari segi pendidikan, status sosial hingga agama yang tentunya akan memperkaya ranah diskusi.
Flyer nobar film pesta babi sudah terpasang oleh bem yang bersangkutan dua hari sebelum penayangan saya menemukannya. Informasi yang tertera bahwa kegiatan akan dilaksanakan mulai pukul 18:30. Bahkan beberapa jam sebelum acara dimulai bem tersebut kembali memosting jam tayang dimajukan menjadi jam 18:00. Setelah mempertimbangkan banyak hal saya rasa waktunya cocok dengan agenda saya hari itu bahkan saya sudah memprediksi berapa lama acara tersebut akan selesai.
Meski lelah pulang PKPA saya tetap melaju menggunakan ojek online karena saya rasa acara sebagus dan sekritis ini perlu didukung oleh kalangan mahasiswa. Pukul lima sore saya sudah sampai di kampus yang bersangkutan dan memilih menepi merebahkan badan di masjid yang sudah disediakan. Dalam estimasi saya meski bem tersebut memperbaharui jam lebih siang-- saya sudah menebak jika waktu acara akan mulai di jam 18:30 dan itu tidak masalah bagi saya.
Selesai magrib saya menghampiri satpam dan menanyakan lokasi diskusi serta penayangan film tersebut kepada satpam. Sangat ramah dan saya diantarkan tidak jauh ke tempat penyelenggaraan. Sudah terlihat infocus, proyektor dan beberapa mahasiswa yang berkumpul secara acak. Saya ikut bergabung dan terus menunggu sampai 30 menit ke depan. Namun hati saya sudah tidak enak ketika 2 menit menjelang acara dimulai panitia masih belum memulai acaranya.
Beberapa mahasiswa duduk di atas terpal yang disediakan panitia dan saya pun ikut bergabung. Benar saja semua peserta masih tetap diminta menunggu dalam ketidakjelasan. Hingga waktu menunjukkan shalat isya di jam 18:50 an salah satu panitia mengatakan bahwa acara akan dimulai jam 19:00 selepas shalat isya supaya tidak terpotong jelasnya.
Dalam benak saya sudah menunggu acara tersebut dari jam 18:00 dan setelah jam 19:15 masih saja belum dimulai. Saya memahami bahwa waktu shalat memang baiknya tidak ditunda. Tapi jika itu alasannya kenapa sejak awal panitia tidak memasang flyer di instagram dengan menuliskan mulai pukul 19:30 atau 20:00. Karena bisa saja yang hadir di acara tersebut masih punya agenda lain dan dengan adanya keterlambatan di satu acara tentu akan mempengaruhi estimasi acara yang lain.
Saya cukup merasa dongkol dan kecewa karena saya sudah menunggu hampir 75 menit dan acara masih saja belum dimulai. Ada rasa sayang meninggalkan acara yang penting bagi saya ini terlebih saya sudah meluangkan waktu, tenaga dan uang untuk pergi kesana tapi acaranya tidak sesuai dengan ekspektasi. Awalnya saya memilih bertahan saja sampai acara dimulai. Tapi saya berpikir kembali jika saya tetap bertahan dengan perasaan marah maka saya rasa menonton dan berdiskusi selanjutnya akan menganggu isi pikiran dan emosi saya. Jadi daripada bertahan saya lebih memilih untuk pergi meninggalkan acara tersebut sebelum dimulai.

Selama ini kita diajarkan untuk terus bertahan (survive) dalam kondisi apapun. Tapi menurut saya jika yang kita pertahankan tidak worth it maka kita harus sanggup meninggalkan. Jangan sampai kita terus bertahan di lingkungan yang tidak menghargai waktu orang lain-- kehadiran kita--antusias kita. Bertahan tak selamanya baik dan melepaskan atau meninggalkan tidak selamanya buruk.
Sangat disayangkan saja ketika kita akan menonton film yang menuntun kita untuk terbuka dengan kepedulian terhadap masyarakat Papua. Bahkan informasi yang sudah tersebar film ini banyak membicarakan tentang empati, korupsi dan ketimpangan. Namun yang terjadi di ruang nobar justru menjadi bahan diskusi yang tak kalah menarik. Bagaimana mahasiswa di Bandung sebagai audiens dan penyelenggara acara mempraktikan nilai yang akan dibahas dalam layar.
Untuk peduli dengan sesuatu hal yang besar justru kita harus menghargai hal-hal kecil. Bagaimana mungkin kita akan membicarakan dan mengkritik terhadap tindak korupsi yang dilakukan para pejabat dan pemerintah. Jika kita sebagai masyarakat dalam lapisan terbawah juga masih menormalisasi korupsi kecil yaitu waktu. (*)
