Molornya Acara Nobar 'Pesta Babi': Pilih Bertahan atau Pergi

4 menit baca
Dias Ashari
Ditulis oleh Dias Ashari diterbitkan Rabu 20 Mei 2026, 08:51 WIB
Bagaimana mungkin kita mengajak orang lain untuk peduli kepada mereka yang diperlakukan semena-mena. Sementara dengan orang terdekat kita tidak peduli dengan waktunya. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)

Bagaimana mungkin kita mengajak orang lain untuk peduli kepada mereka yang diperlakukan semena-mena. Sementara dengan orang terdekat kita tidak peduli dengan waktunya. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)

Mendengar acara nobar film 'Pesta Babi' rasanya senang bukan kepalang apalagi jika sekaligus diadakan sesi diskusi. Sudah terbayang dalam benak saya bagaimana sudut pandang mahasiswa kritis terkait dengan film ini. Bagaimana riuhnya saling bertukar pikiran yang sudah jarang terjalin antar mahasiswa di era distraksi media sosial. Bahkan saya sudah memikirkan dan akan mendokumentasikan acara tersebut dalam sebuah tulisan berjudul 'Bandung dan Dialetika Kritis antar Mahasiswa dalam Film Nobar Pesta Babi'.

Tapi hidup memang tidak selalu berjalan sesuai yang kita harapkan. Banyak faktor yang mempengaruhi agenda yang sudah tersusun rapih salahsatunya keterlambatan. Menarik memang bagi saya ketika membicarakan kata terlambat. Sebuah kata dan refleksi perilaku yang sering dianggap sepele dan sudah menjadi budaya mengakar dan mendarah daging.

Selasa, 18 Mei 2026 yang saya tau ada dua kampus besar di Bandung yang melaksanakan acara nobar film pesta babi. Yang satu terletak di Bandung Timur dan satunya lagi cukup strategis di tengah kota. Untuk mengefektifkan waktu tentu saya memilih yang terdekat dengan kota sehingga akses pulang ke rumah lebih mudah. Selain itu juga pertimbangannya karena kampus di kota saya rasa akan banyak mahasiswa beragam baik dari segi pendidikan, status sosial hingga agama yang tentunya akan memperkaya ranah diskusi.

Flyer nobar film pesta babi sudah terpasang oleh bem yang bersangkutan dua hari sebelum penayangan saya menemukannya. Informasi yang tertera bahwa kegiatan akan dilaksanakan mulai pukul 18:30. Bahkan beberapa jam sebelum acara dimulai bem tersebut kembali memosting jam tayang dimajukan menjadi jam 18:00. Setelah mempertimbangkan banyak hal saya rasa waktunya cocok dengan agenda saya hari itu bahkan saya sudah memprediksi berapa lama acara tersebut akan selesai.

Meski lelah pulang PKPA saya tetap melaju menggunakan ojek online karena saya rasa acara sebagus dan sekritis ini perlu didukung oleh kalangan mahasiswa. Pukul lima sore saya sudah sampai di kampus yang bersangkutan dan memilih menepi merebahkan badan di masjid yang sudah disediakan. Dalam estimasi saya meski bem tersebut memperbaharui jam lebih siang-- saya sudah menebak jika waktu acara akan mulai di jam 18:30 dan itu tidak masalah bagi saya.

Selesai magrib saya menghampiri satpam dan menanyakan lokasi diskusi serta penayangan film tersebut kepada satpam. Sangat ramah dan saya diantarkan tidak jauh ke tempat penyelenggaraan. Sudah terlihat infocus, proyektor dan beberapa mahasiswa yang berkumpul secara acak. Saya ikut bergabung dan terus menunggu sampai 30 menit ke depan. Namun hati saya sudah tidak enak ketika 2 menit menjelang acara dimulai panitia masih belum memulai acaranya.

Beberapa mahasiswa duduk di atas terpal yang disediakan panitia dan saya pun ikut bergabung. Benar saja semua peserta masih tetap diminta menunggu dalam ketidakjelasan. Hingga waktu menunjukkan shalat isya di jam 18:50 an salah satu panitia mengatakan bahwa acara akan dimulai jam 19:00 selepas shalat isya supaya tidak terpotong jelasnya.

Dalam benak saya sudah menunggu acara tersebut dari jam 18:00 dan setelah jam 19:15 masih saja belum dimulai. Saya memahami bahwa waktu shalat memang baiknya tidak ditunda. Tapi jika itu alasannya kenapa sejak awal panitia tidak memasang flyer di instagram dengan menuliskan mulai pukul 19:30 atau 20:00. Karena bisa saja yang hadir di acara tersebut masih punya agenda lain dan dengan adanya keterlambatan di satu acara tentu akan mempengaruhi estimasi acara yang lain.

Saya cukup merasa dongkol dan kecewa karena saya sudah menunggu hampir 75 menit dan acara masih saja belum dimulai. Ada rasa sayang meninggalkan acara yang penting bagi saya ini terlebih saya sudah meluangkan waktu, tenaga dan uang untuk pergi kesana tapi acaranya tidak sesuai dengan ekspektasi. Awalnya saya memilih bertahan saja sampai acara dimulai. Tapi saya berpikir kembali jika saya tetap bertahan dengan perasaan marah maka saya rasa menonton dan berdiskusi selanjutnya akan menganggu isi pikiran dan emosi saya. Jadi daripada bertahan saya lebih memilih untuk pergi meninggalkan acara tersebut sebelum dimulai.

Selama ini kita diajarkan untuk terus bertahan (survive) dalam kondisi apapun. Tapi menurut saya jika yang kita pertahankan tidak worth it maka kita harus sanggup meninggalkan. Jangan sampai kita terus bertahan di lingkungan yang tidak menghargai waktu orang lain-- kehadiran kita--antusias kita. Bertahan tak selamanya baik dan melepaskan atau meninggalkan tidak selamanya buruk.

Sangat disayangkan saja ketika kita akan menonton film yang menuntun kita untuk terbuka dengan kepedulian terhadap masyarakat Papua. Bahkan informasi yang sudah tersebar film ini banyak membicarakan tentang empati, korupsi dan ketimpangan. Namun yang terjadi di ruang nobar justru menjadi bahan diskusi yang tak kalah menarik. Bagaimana mahasiswa di Bandung sebagai audiens dan penyelenggara acara mempraktikan nilai yang akan dibahas dalam layar.

Untuk peduli dengan sesuatu hal yang besar justru kita harus menghargai hal-hal kecil. Bagaimana mungkin kita akan membicarakan dan mengkritik terhadap tindak korupsi yang dilakukan para pejabat dan pemerintah. Jika kita sebagai masyarakat dalam lapisan terbawah juga masih menormalisasi korupsi kecil yaitu waktu. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Dias Ashari
Tentang Dias Ashari
Menjadi Penulis, Keliling Dunia dan Hidup Damai Seterusnya...

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 16 Jun 2026, 13:10

Hak Siar Piala Dunia oleh TVRI, Ekonomi Nobar dan Pengembangan Konten Lokal

Potensi ekonomi nobar yang luar biasa, mesti dikelola lebih baik dengan berbagai kreativitas masyarakat. 

Suasana nonton bareng Piala Dunia 2026 di Taman Film, Kota Bandung (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Ananda Muhammad Firdaus)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 11:04

Karya Purbakala di Hari Purbakala: Sambung Menyambung Tentang Kota Bandung

Karya-karya mahasiswa arkeologi tentang Kota Bandung

Sebuah gua alami yang menyimpan situs purbakala, Gua Pawon. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Nuryahya64)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 09:31

Mengenang Ny. Liem: Maestro Boga dari Kota Kembang dan Legacy di Industri Tata Boga Indonesia

Ny. Liem menempati posisi penting sebagai pionir yang menetapkan standar emas dalam seni pembuatan kue dan pastry.

Produk kemasan dari toko Ny. Liem di Jln. Naripan No.52, Kb. Pisang, Kec. Sumur Bandung, Kota Bandung. (Sumber: Google Maps Review | Foto: Elvita Yuli)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 09:19

Peran para Pendukung Tim Lokal di Kota Bandung Terhadap Keberlangsungan Persib

Menelaah faktor keberhasilan Maung Bandung pada periode terbaru di era sepakbola modern.

Ribuan bobotoh memadati Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Kota Bandung, Kamis 7 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 08:40

Biaya Parkir: Faktor Kecil yang Ternyata Menentukan Pilihan Kita Saat Belanja

Biaya parkir ternyata ikut menentukan pilihan tempat belanja kita. Kecil tapi berdampak besar pada persepsi, kepuasan, dan loyalitas konsumen.

Keputusan Konsumen untuk belanja goyah karena adanya parkir (Foto: muhammad yogi)
Bandung 15 Jun 2026, 21:16

Kolaborasi Bekali Kopi Bersama Petani Lembang Dorong Peningkatan Ekonomi dan Regenerasi Sektor Kopi

Bagi Bekali Kopi, fokus di lapangan tidak hanya tertuju pada kualitas produk tapi juga pada keberlanjutan sektor kopi yang menjadi perhatian penting.

Bagi Bekali Kopi, fokus di lapangan tidak hanya tertuju pada kualitas produk tapi juga pada keberlanjutan sektor kopi yang menjadi perhatian penting. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Iqbal Roem)
Ayo Biz 15 Jun 2026, 18:19

UMKM 'Jangan Cuma Dagang' untuk Berkembang, Belajar dari Perjalanan Bisnis Kebab Factory

Bagi Widya, Rumah BUMN Bandung bukan sekadar tempat pelatihan.

Widya Ratna Puspita, pemilik KebabFactory.id, di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung, (5/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 17:27

Perjalanan Sate Maranggi sebagai Kuliner Khas Kabupaten Purwakarta

Lebih dari sekadar nilai gastronomi, Sate Maranggi mengandung nilai-nilai sosial sebagai pemersatu masyarakat Purwakarta.

Sate Maranggi khas Purwakarta (Sumber: Dokumentasi milik pribadi)
Wisata & Kuliner 15 Jun 2026, 16:44

Panduan Wisata Kuliner Empal Gentong Cirebon, Jejak Sejarah Kota Pelabuhan dalam Semangkuk Kuah

Kenali sejarah empal gentong Cirebon, perbedaannya dengan empal asem, rekomendasi warung legendaris, serta tips menikmati hidangan khas ini.

Empal gentong, kuliner khas Cirebon. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Biz 15 Jun 2026, 16:40

Punya Varian Produk Tak Biasa, Kebab Factory Bisa Ekspor ke Malaysia dan Singapura berkat 'Ide Anak'

Perjalanan Kebab Factory, UMKM Kota Bandung yang terkenal dengan produk uniknya.

Kebab ice cream mellowberry, salah satu varian produk Kebab Faktory di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung, (5/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 15:54

Wayang Wong: Kesenian Unik yang Mengganti Peran Boneka Menggunakan Manusia

Tentang wayang wong, salah satu kesenian tradisional Jawa yang menggabungkan tari, musik, dan drama.

Wayang Wong Ramayana. (Sumber: Arsip Nasional Republik Indonesia)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 13:17

Hijrah, Ubah, dan Arah

Hijrah digital bukanlah tentang meninggalkan teknologi, melainkan menjadikan teknologi sebagai jalan untuk mendekat pada nilai-nilai kebaikan.

Diskusi Film "Hijrah Digital" Ajak Mahasiswa Refleksi Literasi Digital dan Peran AI dalam Keberagamaan (Sumber: instagram @moeslimah_produktif)
Beranda 15 Jun 2026, 13:02

Jejak Ksatria di Gang Maksudi: Menjaga Amanah, Menghidupkan Nadi Ekonomi Negeri

Kisah Hasan, seorang kurir JNE di Bandung yang sempat dibegal saat berteduh karena hujan, namun kini sudah kembali bekerja berkat bantuan dari tempatnya bekerja.

Kepala Cabang Utama JNE Bandung Iyus Rustandi menyerahkan bantuan sepeda motor baru kepada Hasan sebagai bentuk nyata komitmen dan kepedulian perusahaan terhadap keselamatan karyawannya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Arif Budianto)
Linimasa 15 Jun 2026, 12:58

Ketika Selisih Harga BBM Terasa Sampai Akhir Bulan

Kenaikan harga BBM non-subsidi membuat banyak pengendara memilih antre demi mendapatkan Pertalite.

Pengendara rela mengantre lebih panjang di SPBU setelah kenaikan harga BBM Pertamax. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 15 Jun 2026, 11:45

Itinerary Wisata Yogyakarta 1–2 Hari, Destinasi, Kuliner, dan Budget Lengkap

Jelajahi Yogyakarta berdasarkan pembagian kawasan wisata agar perjalanan lebih nyaman. Cocok untuk liburan singkat satu hingga dua hari.

Tugu Jogja, ikon Yogyakarta. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 11:28

Dulu Pakai Ritual, Kini Pakai Kimia: Perubahan Praktik Bertani di Desa Pamoyanan

Perjalanan pertanian Desa Pamoyanan merekam pergeseran dari sistem kepercayaan Sunda Buhun menuju metode pertanian modern yang dianggap lebih efektif dan rasional.

Foto Hamparan sawah di Desa Pamoyanan, Cianjur Selatan, pada 21 Maret 2026. (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Nadhil Ayudiya Az Zahra)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 09:59

Potensi Ulat Sutra Solusi Masalah Bahan Baku Industri Tekstil

Mengatasi krisis bahan baku industri tekstil dengan ulat sutra.

Industri rakyat berbasis benang sutra binaan Pertamina Geothermal Energy (PGE) Area Karaha di Desa Cipondok Kecamatan Sukaresik Kabupaten Tasikmalaya. (Foto: Humas PGE)
Beranda 15 Jun 2026, 09:46

Jejak Persib di Kota Bandung, Jalan-jalan Bobotoh Menyusuri Memori yang Nyaris Dilupakan

Bobotoh menyusuri jejak sejarah Persib di berbagai sudut Kota Bandung, mengungkap kisah, tempat, dan memori yang nyaris terlupakan oleh waktu.

Peserta Bobotoh Story Walk menyusuri jalanan Bandung sambil mendengarkan kisah-kisah yang membentuk sejarah Persib. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Linimasa 15 Jun 2026, 08:43

Layangan Adu, Hobi yang Tidak Lekang oleh Usia

Layangan adu tetap digemari lintas usia dan menjadi ruang silaturahmi para pehobinya.

Layangan adu, hobi yang tak mengenal usia. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 08:40

Sinergi Batalyon Pangan dengan Petani Mengatasi Deflasi Komoditas Pertanian

Eksistensi Yonif TP sebaiknya turut menyelesaikan masalah hilir komoditas pertanian hingga ke pasar induk atau pasar tradisional serta pasar modern.

Bimtek Ketahanan Pangan dan Peningkatan Kemampuan Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP). (Foto: dok Puspen TNI)