Eksistensialisme Mahasiswa Zaman Now: Daya Nalar Mengikis, yang Penting Eksis!

3 menit baca
Deden Ibn Suja
Ditulis oleh Deden Ibn Suja diterbitkan Selasa 19 Mei 2026, 17:52 WIB
Ilustrasi mahasiswa. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Magang Foto/Habib Riyadhi A.S)

Ilustrasi mahasiswa. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Magang Foto/Habib Riyadhi A.S)

Dulu, gelar "Mahasiswa" itu kedengarannya sangar. Begitu menyandang status mahasiswa, otomatis beban moral langsung naik ke pundak: jadi agen perubahan (agent of change), penyambung lidah rakyat, dan garda terdepan penjaga logika sehat.

Tapi coba lihat realita di lapangan siber hari ini. Mahasiswa zaman sekarang kalau dengar kata "kritis", pikirannya bukan lagi soal berpikir tajam membedah kebijakan penguasa, melainkan "Aduh, kuota internet gua kritis nih!" atau "Kondisi dompet akhir bulan sudah sangat kritis."

Daya nalar pelan-pelan mengikis, digantikan oleh algoritma fyp yang bikin otak mager. Pertanyaannya: Ke mana perginya eksistensialisme alias kesadaran eksistensi seorang mahasiswa? Mari kita bahas dengan santai tapi menohok.

Eksis Dulu, Mikir Belakangan

Eksistensialisme itu intinya adalah kesadaran bahwa "Saya ada, maka saya harus menentukan arah hidup saya sendiri secara otentik." Tapi di tangan sebagian mahasiswa modern, teorinya bergeser menjadi: "Saya posting, maka saya ada."

Banyak yang terjebak dalam ilusi berpikir. Membaca buku teks kuliah lima halaman saja rasanya seperti disuruh mendaki Gunung Rinjani sambil kayang. Tapi kalau disuruh scrolling media sosial berjam-jam, otaknya kuat tiada tara. Akibatnya, daya analisis melemah. Saat ada isu hangat, alih-alih membedah datanya secara kritis, banyak yang cuma ikut-ikutan tren caption biar kelihatan pintar dan dibilang "mahasiswa progresif". Ini bukan eksistensialisme, kawan, ini namanya "ikut-ikutanisme".

Sentilan Filsuf Barat

Kalau kita bawa fenomena mahasiswa malas mikir ini ke hadapan Jean-Paul Sartre, filsuf eksistensialis Barat yang terkenal itu, dia mungkin bakal geleng-geleng kepala sambil mengisap pipanya dalam-dalam.

Sartre pernah bilang bahwa manusia itu "dihukum untuk bebas". Artinya, kita punya kebebasan penuh untuk menentukan pilihan dan bertanggung jawab atas pikiran kita sendiri. Ketika mahasiswa menelan mentah-mentah apa yang ada di media sosial tanpa menyaringnya dengan daya nalar, mereka sedang melakukan apa yang disebut Sartre sebagai Bad Faith (Iktikad Buruk)—yaitu membohongi diri sendiri dan menyerahkan kendali otaknya kepada orang lain (atau dalam hal ini, kepada algoritma).

Kata Filsuf Barat: "Kamu kuliah bayar mahal-mahal bukan buat jadi robot yang cuma bisa 'iya-iya' aja sama tren. Gunakan kebebasan berpikirmu, atau kamu cuma jadi danging bernyawa yang punya KTM (Kartu Tanda Mahasiswa)!"

Sejumlah mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPRD Jawa Barat, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Jumat, 1 Mei 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Buruh Internasional (May Day). (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejumlah mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPRD Jawa Barat, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Jumat, 1 Mei 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Buruh Internasional (May Day). (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Sentilan Filsuf Islam

Di sisi lain, filsuf Islam legendaris seperti Ibnu Rusyd (Averroes) pastinya akan mengeluarkan argumen yang gak kalah telak. Ibnu Rusyd adalah pembela garis keras penggunaan akal dan filsafat dalam memahami kehidupan dan agama.

Bagi Ibnu Rusyd, akal adalah anugerah tertinggi yang membuat manusia berbeda dari makhluk lain. Islam sangat memuliakan orang-orang yang berpikir (Ulul Albab). Menurut pandangan filsafat Islam, mengikisnya daya nalar dan sikap malas mengkritisi keadaan adalah bentuk "kufur nikmat" terhadap fungsi akal yang sudah Tuhan berikan.

Kata Filsuf Islam: "Wahai mahasiswa, membaca dan mengkaji itu adalah ibadah intelektual. Kalau akalmu cuma dipakai buat mikirin feed estetik dan malas membaca, kamu sedang menyia-nyiakan potensi terbesar yang dititipkan Tuhan di kepalamu."

Kembalikan Mahasiswa ke Jalan yang Benar (Bukan Jalan Pintas)

Jadi, status mahasiswa itu bukan cuma soal gaya-gayaan pakai almamater pas foto studio, atau sibuk bikin konten "A Day in My Life sebagai Mahasiswa Abadi".

Eksistensi mahasiswa baru benar-benar diakui kalau daya kritisnya menyala. Menurunnya daya nalar adalah lampu kuning bagi masa depan. Yuk, mulai kurangi porsi rebahan tak berfaedah, perbanyak baca buku (minimal artikel yang agak panjang lah, jangan cuma judulnya doang), dan hidupkan lagi ruang-ruang diskusi yang bermutu.

Ingat, negara ini tidak kekurangan orang yang bisa "eksis" di internet, tapi kita sedang krisis mahasiswa yang sanggup berpikir "kritis" di dunia nyata. Jangan sampai IPK tinggi, tapi nalar jongkok! (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Deden Ibn Suja
Belajar nulis lewat cakrawala

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 16 Jun 2026, 11:04

Karya Purbakala di Hari Purbakala: Sambung Menyambung Tentang Kota Bandung

Karya-karya mahasiswa arkeologi tentang Kota Bandung

Sebuah gua alami yang menyimpan situs purbakala, Gua Pawon. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Nuryahya64)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 09:31

Mengenang Ny. Liem: Maestro Boga dari Kota Kembang dan Legacy di Industri Tata Boga Indonesia

Ny. Liem menempati posisi penting sebagai pionir yang menetapkan standar emas dalam seni pembuatan kue dan pastry.

Produk kemasan dari toko Ny. Liem di Jln. Naripan No.52, Kb. Pisang, Kec. Sumur Bandung, Kota Bandung. (Sumber: Google Maps Review | Foto: Elvita Yuli)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 09:19

Peran para Pendukung Tim Lokal di Kota Bandung Terhadap Keberlangsungan Persib

Menelaah faktor keberhasilan Maung Bandung pada periode terbaru di era sepakbola modern.

Ribuan bobotoh memadati Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Kota Bandung, Kamis 7 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 08:40

Biaya Parkir: Faktor Kecil yang Ternyata Menentukan Pilihan Kita Saat Belanja

Biaya parkir ternyata ikut menentukan pilihan tempat belanja kita. Kecil tapi berdampak besar pada persepsi, kepuasan, dan loyalitas konsumen.

Keputusan Konsumen untuk belanja goyah karena adanya parkir (Foto: muhammad yogi)
Bandung 15 Jun 2026, 21:16

Kolaborasi Bekali Kopi Bersama Petani Lembang Dorong Peningkatan Ekonomi dan Regenerasi Sektor Kopi

Bagi Bekali Kopi, fokus di lapangan tidak hanya tertuju pada kualitas produk tapi juga pada keberlanjutan sektor kopi yang menjadi perhatian penting.

Bagi Bekali Kopi, fokus di lapangan tidak hanya tertuju pada kualitas produk tapi juga pada keberlanjutan sektor kopi yang menjadi perhatian penting. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Iqbal Roem)
Ayo Biz 15 Jun 2026, 18:19

UMKM 'Jangan Cuma Dagang' untuk Berkembang, Belajar dari Perjalanan Bisnis Kebab Factory

Bagi Widya, Rumah BUMN Bandung bukan sekadar tempat pelatihan.

Widya Ratna Puspita, pemilik KebabFactory.id, di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung, (5/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 17:27

Perjalanan Sate Maranggi sebagai Kuliner Khas Kabupaten Purwakarta

Lebih dari sekadar nilai gastronomi, Sate Maranggi mengandung nilai-nilai sosial sebagai pemersatu masyarakat Purwakarta.

Sate Maranggi khas Purwakarta (Sumber: Dokumentasi milik pribadi)
Wisata & Kuliner 15 Jun 2026, 16:44

Panduan Wisata Kuliner Empal Gentong Cirebon, Jejak Sejarah Kota Pelabuhan dalam Semangkuk Kuah

Kenali sejarah empal gentong Cirebon, perbedaannya dengan empal asem, rekomendasi warung legendaris, serta tips menikmati hidangan khas ini.

Empal gentong, kuliner khas Cirebon. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Biz 15 Jun 2026, 16:40

Punya Varian Produk Tak Biasa, Kebab Factory Bisa Ekspor ke Malaysia dan Singapura berkat 'Ide Anak'

Perjalanan Kebab Factory, UMKM Kota Bandung yang terkenal dengan produk uniknya.

Kebab ice cream mellowberry, salah satu varian produk Kebab Faktory di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung, (5/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 15:54

Wayang Wong: Kesenian Unik yang Mengganti Peran Boneka Menggunakan Manusia

Tentang wayang wong, salah satu kesenian tradisional Jawa yang menggabungkan tari, musik, dan drama.

Wayang Wong Ramayana. (Sumber: Arsip Nasional Republik Indonesia)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 13:17

Hijrah, Ubah, dan Arah

Hijrah digital bukanlah tentang meninggalkan teknologi, melainkan menjadikan teknologi sebagai jalan untuk mendekat pada nilai-nilai kebaikan.

Diskusi Film "Hijrah Digital" Ajak Mahasiswa Refleksi Literasi Digital dan Peran AI dalam Keberagamaan (Sumber: instagram @moeslimah_produktif)
Beranda 15 Jun 2026, 13:02

Jejak Ksatria di Gang Maksudi: Menjaga Amanah, Menghidupkan Nadi Ekonomi Negeri

Kisah Hasan, seorang kurir JNE di Bandung yang sempat dibegal saat berteduh karena hujan, namun kini sudah kembali bekerja berkat bantuan dari tempatnya bekerja.

Kepala Cabang Utama JNE Bandung Iyus Rustandi menyerahkan bantuan sepeda motor baru kepada Hasan sebagai bentuk nyata komitmen dan kepedulian perusahaan terhadap keselamatan karyawannya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Arif Budianto)
Linimasa 15 Jun 2026, 12:58

Ketika Selisih Harga BBM Terasa Sampai Akhir Bulan

Kenaikan harga BBM non-subsidi membuat banyak pengendara memilih antre demi mendapatkan Pertalite.

Pengendara rela mengantre lebih panjang di SPBU setelah kenaikan harga BBM Pertamax. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 15 Jun 2026, 11:45

Itinerary Wisata Yogyakarta 1–2 Hari, Destinasi, Kuliner, dan Budget Lengkap

Jelajahi Yogyakarta berdasarkan pembagian kawasan wisata agar perjalanan lebih nyaman. Cocok untuk liburan singkat satu hingga dua hari.

Tugu Jogja, ikon Yogyakarta. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 11:28

Dulu Pakai Ritual, Kini Pakai Kimia: Perubahan Praktik Bertani di Desa Pamoyanan

Perjalanan pertanian Desa Pamoyanan merekam pergeseran dari sistem kepercayaan Sunda Buhun menuju metode pertanian modern yang dianggap lebih efektif dan rasional.

Foto Hamparan sawah di Desa Pamoyanan, Cianjur Selatan, pada 21 Maret 2026. (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Nadhil Ayudiya Az Zahra)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 09:59

Potensi Ulat Sutra Solusi Masalah Bahan Baku Industri Tekstil

Mengatasi krisis bahan baku industri tekstil dengan ulat sutra.

Industri rakyat berbasis benang sutra binaan Pertamina Geothermal Energy (PGE) Area Karaha di Desa Cipondok Kecamatan Sukaresik Kabupaten Tasikmalaya. (Foto: Humas PGE)
Beranda 15 Jun 2026, 09:46

Jejak Persib di Kota Bandung, Jalan-jalan Bobotoh Menyusuri Memori yang Nyaris Dilupakan

Bobotoh menyusuri jejak sejarah Persib di berbagai sudut Kota Bandung, mengungkap kisah, tempat, dan memori yang nyaris terlupakan oleh waktu.

Peserta Bobotoh Story Walk menyusuri jalanan Bandung sambil mendengarkan kisah-kisah yang membentuk sejarah Persib. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Linimasa 15 Jun 2026, 08:43

Layangan Adu, Hobi yang Tidak Lekang oleh Usia

Layangan adu tetap digemari lintas usia dan menjadi ruang silaturahmi para pehobinya.

Layangan adu, hobi yang tak mengenal usia. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 08:40

Sinergi Batalyon Pangan dengan Petani Mengatasi Deflasi Komoditas Pertanian

Eksistensi Yonif TP sebaiknya turut menyelesaikan masalah hilir komoditas pertanian hingga ke pasar induk atau pasar tradisional serta pasar modern.

Bimtek Ketahanan Pangan dan Peningkatan Kemampuan Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP). (Foto: dok Puspen TNI)
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 19:00

Di Era Digital Kita Hidup dalam Situasi Alone Together

Di era digital, kita telah terjebak dengan hubungan teknologi dalam berkoneksi dengan sesama.

Ilustrasi teknologi digital di sekitar generasi muda saat ini. (Sumber: Pexels/Ron Lach)