Dulu, gelar "Mahasiswa" itu kedengarannya sangar. Begitu menyandang status mahasiswa, otomatis beban moral langsung naik ke pundak: jadi agen perubahan (agent of change), penyambung lidah rakyat, dan garda terdepan penjaga logika sehat.
Tapi coba lihat realita di lapangan siber hari ini. Mahasiswa zaman sekarang kalau dengar kata "kritis", pikirannya bukan lagi soal berpikir tajam membedah kebijakan penguasa, melainkan "Aduh, kuota internet gua kritis nih!" atau "Kondisi dompet akhir bulan sudah sangat kritis."
Daya nalar pelan-pelan mengikis, digantikan oleh algoritma fyp yang bikin otak mager. Pertanyaannya: Ke mana perginya eksistensialisme alias kesadaran eksistensi seorang mahasiswa? Mari kita bahas dengan santai tapi menohok.
Eksis Dulu, Mikir Belakangan
Eksistensialisme itu intinya adalah kesadaran bahwa "Saya ada, maka saya harus menentukan arah hidup saya sendiri secara otentik." Tapi di tangan sebagian mahasiswa modern, teorinya bergeser menjadi: "Saya posting, maka saya ada."
Banyak yang terjebak dalam ilusi berpikir. Membaca buku teks kuliah lima halaman saja rasanya seperti disuruh mendaki Gunung Rinjani sambil kayang. Tapi kalau disuruh scrolling media sosial berjam-jam, otaknya kuat tiada tara. Akibatnya, daya analisis melemah. Saat ada isu hangat, alih-alih membedah datanya secara kritis, banyak yang cuma ikut-ikutan tren caption biar kelihatan pintar dan dibilang "mahasiswa progresif". Ini bukan eksistensialisme, kawan, ini namanya "ikut-ikutanisme".
Sentilan Filsuf Barat
Kalau kita bawa fenomena mahasiswa malas mikir ini ke hadapan Jean-Paul Sartre, filsuf eksistensialis Barat yang terkenal itu, dia mungkin bakal geleng-geleng kepala sambil mengisap pipanya dalam-dalam.
Sartre pernah bilang bahwa manusia itu "dihukum untuk bebas". Artinya, kita punya kebebasan penuh untuk menentukan pilihan dan bertanggung jawab atas pikiran kita sendiri. Ketika mahasiswa menelan mentah-mentah apa yang ada di media sosial tanpa menyaringnya dengan daya nalar, mereka sedang melakukan apa yang disebut Sartre sebagai Bad Faith (Iktikad Buruk)—yaitu membohongi diri sendiri dan menyerahkan kendali otaknya kepada orang lain (atau dalam hal ini, kepada algoritma).
Kata Filsuf Barat: "Kamu kuliah bayar mahal-mahal bukan buat jadi robot yang cuma bisa 'iya-iya' aja sama tren. Gunakan kebebasan berpikirmu, atau kamu cuma jadi danging bernyawa yang punya KTM (Kartu Tanda Mahasiswa)!"

Sentilan Filsuf Islam
Di sisi lain, filsuf Islam legendaris seperti Ibnu Rusyd (Averroes) pastinya akan mengeluarkan argumen yang gak kalah telak. Ibnu Rusyd adalah pembela garis keras penggunaan akal dan filsafat dalam memahami kehidupan dan agama.
Bagi Ibnu Rusyd, akal adalah anugerah tertinggi yang membuat manusia berbeda dari makhluk lain. Islam sangat memuliakan orang-orang yang berpikir (Ulul Albab). Menurut pandangan filsafat Islam, mengikisnya daya nalar dan sikap malas mengkritisi keadaan adalah bentuk "kufur nikmat" terhadap fungsi akal yang sudah Tuhan berikan.
Kata Filsuf Islam: "Wahai mahasiswa, membaca dan mengkaji itu adalah ibadah intelektual. Kalau akalmu cuma dipakai buat mikirin feed estetik dan malas membaca, kamu sedang menyia-nyiakan potensi terbesar yang dititipkan Tuhan di kepalamu."
Kembalikan Mahasiswa ke Jalan yang Benar (Bukan Jalan Pintas)
Jadi, status mahasiswa itu bukan cuma soal gaya-gayaan pakai almamater pas foto studio, atau sibuk bikin konten "A Day in My Life sebagai Mahasiswa Abadi".
Eksistensi mahasiswa baru benar-benar diakui kalau daya kritisnya menyala. Menurunnya daya nalar adalah lampu kuning bagi masa depan. Yuk, mulai kurangi porsi rebahan tak berfaedah, perbanyak baca buku (minimal artikel yang agak panjang lah, jangan cuma judulnya doang), dan hidupkan lagi ruang-ruang diskusi yang bermutu.
Ingat, negara ini tidak kekurangan orang yang bisa "eksis" di internet, tapi kita sedang krisis mahasiswa yang sanggup berpikir "kritis" di dunia nyata. Jangan sampai IPK tinggi, tapi nalar jongkok! (*)
