Eksistensialisme Mahasiswa Zaman Now: Daya Nalar Mengikis, yang Penting Eksis!

3 menit baca
Deden Ibn Suja
Ditulis oleh Deden Ibn Suja diterbitkan
Ilustrasi mahasiswa. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Magang Foto/Habib Riyadhi A.S)
Ilustrasi mahasiswa. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Magang Foto/Habib Riyadhi A.S)

Dulu, gelar "Mahasiswa" itu kedengarannya sangar. Begitu menyandang status mahasiswa, otomatis beban moral langsung naik ke pundak: jadi agen perubahan (agent of change), penyambung lidah rakyat, dan garda terdepan penjaga logika sehat.

Tapi coba lihat realita di lapangan siber hari ini. Mahasiswa zaman sekarang kalau dengar kata "kritis", pikirannya bukan lagi soal berpikir tajam membedah kebijakan penguasa, melainkan "Aduh, kuota internet gua kritis nih!" atau "Kondisi dompet akhir bulan sudah sangat kritis."

Daya nalar pelan-pelan mengikis, digantikan oleh algoritma fyp yang bikin otak mager. Pertanyaannya: Ke mana perginya eksistensialisme alias kesadaran eksistensi seorang mahasiswa? Mari kita bahas dengan santai tapi menohok.

Eksis Dulu, Mikir Belakangan

Eksistensialisme itu intinya adalah kesadaran bahwa "Saya ada, maka saya harus menentukan arah hidup saya sendiri secara otentik." Tapi di tangan sebagian mahasiswa modern, teorinya bergeser menjadi: "Saya posting, maka saya ada."

Banyak yang terjebak dalam ilusi berpikir. Membaca buku teks kuliah lima halaman saja rasanya seperti disuruh mendaki Gunung Rinjani sambil kayang. Tapi kalau disuruh scrolling media sosial berjam-jam, otaknya kuat tiada tara. Akibatnya, daya analisis melemah. Saat ada isu hangat, alih-alih membedah datanya secara kritis, banyak yang cuma ikut-ikutan tren caption biar kelihatan pintar dan dibilang "mahasiswa progresif". Ini bukan eksistensialisme, kawan, ini namanya "ikut-ikutanisme".

Sentilan Filsuf Barat

Kalau kita bawa fenomena mahasiswa malas mikir ini ke hadapan Jean-Paul Sartre, filsuf eksistensialis Barat yang terkenal itu, dia mungkin bakal geleng-geleng kepala sambil mengisap pipanya dalam-dalam.

Sartre pernah bilang bahwa manusia itu "dihukum untuk bebas". Artinya, kita punya kebebasan penuh untuk menentukan pilihan dan bertanggung jawab atas pikiran kita sendiri. Ketika mahasiswa menelan mentah-mentah apa yang ada di media sosial tanpa menyaringnya dengan daya nalar, mereka sedang melakukan apa yang disebut Sartre sebagai Bad Faith (Iktikad Buruk)—yaitu membohongi diri sendiri dan menyerahkan kendali otaknya kepada orang lain (atau dalam hal ini, kepada algoritma).

Kata Filsuf Barat: "Kamu kuliah bayar mahal-mahal bukan buat jadi robot yang cuma bisa 'iya-iya' aja sama tren. Gunakan kebebasan berpikirmu, atau kamu cuma jadi danging bernyawa yang punya KTM (Kartu Tanda Mahasiswa)!"

Sejumlah mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPRD Jawa Barat, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Jumat, 1 Mei 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Buruh Internasional (May Day). (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejumlah mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPRD Jawa Barat, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Jumat, 1 Mei 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Buruh Internasional (May Day). (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Sentilan Filsuf Islam

Di sisi lain, filsuf Islam legendaris seperti Ibnu Rusyd (Averroes) pastinya akan mengeluarkan argumen yang gak kalah telak. Ibnu Rusyd adalah pembela garis keras penggunaan akal dan filsafat dalam memahami kehidupan dan agama.

Bagi Ibnu Rusyd, akal adalah anugerah tertinggi yang membuat manusia berbeda dari makhluk lain. Islam sangat memuliakan orang-orang yang berpikir (Ulul Albab). Menurut pandangan filsafat Islam, mengikisnya daya nalar dan sikap malas mengkritisi keadaan adalah bentuk "kufur nikmat" terhadap fungsi akal yang sudah Tuhan berikan.

Kata Filsuf Islam: "Wahai mahasiswa, membaca dan mengkaji itu adalah ibadah intelektual. Kalau akalmu cuma dipakai buat mikirin feed estetik dan malas membaca, kamu sedang menyia-nyiakan potensi terbesar yang dititipkan Tuhan di kepalamu."

Kembalikan Mahasiswa ke Jalan yang Benar (Bukan Jalan Pintas)

Jadi, status mahasiswa itu bukan cuma soal gaya-gayaan pakai almamater pas foto studio, atau sibuk bikin konten "A Day in My Life sebagai Mahasiswa Abadi".

Eksistensi mahasiswa baru benar-benar diakui kalau daya kritisnya menyala. Menurunnya daya nalar adalah lampu kuning bagi masa depan. Yuk, mulai kurangi porsi rebahan tak berfaedah, perbanyak baca buku (minimal artikel yang agak panjang lah, jangan cuma judulnya doang), dan hidupkan lagi ruang-ruang diskusi yang bermutu.

Ingat, negara ini tidak kekurangan orang yang bisa "eksis" di internet, tapi kita sedang krisis mahasiswa yang sanggup berpikir "kritis" di dunia nyata. Jangan sampai IPK tinggi, tapi nalar jongkok! (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Deden Ibn Suja
Tentang Deden Ibn Suja
Belajar nulis lewat cakrawala

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 10 Jul 2026, 20:05

Melihat Dunia dari Bandung: Dari Objek Kolonial ke Subjek Global

Suara Bandung tidak selalu terdengar konsisten. Kadang menguat, kadang tenggelam. Tergantung pada konteks global yang sedang berlangsung.

Museum Konferensi Asi-Afrika. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 18:01

Urgensi Bandara Husein Sastranegara Menuju Konektivitas ASEAN

Pemprov Jabar dan Pemkot Bandung perlu segera mendesak agar pemerintah pusat mengijinkan rute internasional untuk Bandara Husein

Bandara Husein Sastranegara dilihat dari lantai 9 Gedung Pusat Manajemen PT Dirgantara Indonesia. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 17:00

Jejak-jejak Sejarah 'Kawadanaan' di Kecamatan Lembang

Salah satu potensi dan daya tarik wisata sejarah yang dimiliki Kota Lembang yaitu bangunan “Pendopo eks Kawedanaan”.

Alun alun Lembang tahun 1902. (Sumber: KITLV)
Wisata & Kuliner 10 Jul 2026, 16:44

Luas 150 Hektar, Bagaimana Cara Jelajah TMII dalam Sehari?

Bingung keliling TMII dalam sehari? Cek rute terbaik, rekomendasi anjungan, kereta gantung, museum, hingga atraksi Tirta Cerita.

Taman Mini Indonesia Indah (TMII).
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 16:28

Ada Lohbener, Ada Losarang

Semula, toponimi dua kecamatan ini adalah toponim sungai yang mengalir melintasi Indramayu.

Lokasi Lohbener dan Losarang di Kabupaten Indramayu. (Sumber: Google maps)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 15:22

Sisa Peradaban Lama di Utara Bandung

Tak jauh dari kawasan Kebun Binatang Bandung terdapat arca Ganesha yang terdapat di gerbang depan Institut Teknologi Bandung.

Arca Ganesha di gerbang ITB. (Sumber: Dokumentasi Malia 2026)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 14:46

Menimbang Kembali Peran Ayah dalam Memperingati Hari Ayah Nasional

Maka di Hari Ayah Nasional ini, mari kita mencoba untuk menimbang dan melihat kembali, bagaimana peran ayah sesungguhnya terhadap anak-anak dan keluarganya.

Ilustrasi seorang ayah dan anaknya. (Sumber: Pexels | Foto: Faisal Allam)
Wisata & Kuliner 10 Jul 2026, 14:03

Panduan Wisata Situ Gunung Sukabumi: Tiket, Jembatan Gantung, dan Curug Sawer

Panduan lengkap Situ Gunung Sukabumi, mulai dari harga tiket, jalur wisata, Jembatan Gantung terpanjang di Asia Tenggara, Curug Sawer, hingga cara menuju lokasi.

Danau Situ Gunung Sukabumi.
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 13:34

Diskursus Intelektual dalam Pendidikan Bernuansa Islami

Era teknologi telah memunculkan paradigma baru, bahwa pemikiran-pemikiran baru mengalami diskursus intelektual. Apakah ini juga menjadi tantangan bagi pendidikan bernuansa islami.

Anak-anak beragama Islam sedang mengaji di masjid. (Sumber: Pexels/Hera hendrayana)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 12:09

Redesain Kota Bandung: Sehat Rakyatnya Jaya Kotanya

Dapat kita ketahui bahwa kesehatan merupakan salah satu kebijakan yang perlu diambil sesegera mungkin selain pendidikan.

Suasana Jalan Braga, Kota Bandung saat diberlakukannya Braga Free Vehicle pada Sabtu, 4 Mei 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 09:47

Menyusuri Jejak Dunia Hiburan Indonesia Era Tahun 70-an

Annie Rae sebagai pendatang baru tengah menanjak popularitasnya di blantika musik pop Indonesia.

Sampul Majalah Variasari edisi Juli 1970 yang menampilkan Annie Rae, biduanita ternama asal Bandung. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 08:01

Kecerdasan Buatan dalam Waktu ke Waktu

Menelusur sejarah perkembangan kecerdasan buatan.

Kecerdasan buatan bukan sekadar teknologi, tetapi sebagai pemahaman bahwa menusia selalu mencari lebih dari Batasan yang telah ada.
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 21:54

Masjid Agung Al-Ittihad: Representasi Multikulturalisme di Kota Benteng

eberadaan Masjid Agung Al-Ittihad memiliki makna yang jauh lebih luas dibanding fungsi religius semata.

Masjid Agung Al-Ittihad Kota Tangerang. (Sumber: Pemerintah Kota Tangerang)
Wisata & Kuliner 09 Jul 2026, 18:37

Kerak Telor Betawi, Kuliner Tradisional Jakarta dengan Sejarah Panjang

Kerak Telor merupakan kuliner khas Betawi yang menjadi ikon Jakarta. Simak sejarah, bahan, cara memasak, dan fakta menarik di balik hidangan legendaris ini.

Kerak Telor Betawi.
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 18:00

Asal Usul dan Perkembangan Ampiang Dadiah: Tradisi Kuliner Minangkabau dari Masa ke Masa

Membahas Ampiang Dadiah yogurt yang terbuat dari susu kerbau berasal dari Sumatera Barat.

Es Ampiang Dadiah, dibeli di Pasar Ateh, Bukittinggi. (Sumber: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 17:48

69 Tahun Navigasi Birokrasi: Mengukuhkan LAN sebagai Think Tank Strategis di Tengah Badai Disrupsi

LAN RI di usia ke-69 memperkuat perannya sebagai think tank strategis yang mendorong transformasi birokrasi melalui inovasi, digitalisasi, dan kebijakan berbasis bukti menuju Indonesia Emas 2045.

Lembaga Administrasi Negara (LAN) Republik Indonesia. (Sumber: LAN RI)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 17:11

Antara Bandung dan Yogyakarta, Semarak Kuliner Tiada Henti

Kuliner menjadi patron wisata yang menarik wisatawan. Bandung dan Yogyakarta memiliki karakter budaya yang berbeda, tetapi dengan wisata kuliner, dua kota itu menghadirkan Indonesia kini.

Kehadiran Tjitarum sebagai toko bolu dan kue bukan sekadar membuka ruang baru bagi wisatawan untuk membeli buah tangan. Namun simbol bagaimana kuliner bisa menjadi bahasa pelestarian budaya. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 16:59

Bedah Konsistensi Strategi Digital PR pada Peluncuran Mobil Listrik Keluaran Terbaru

Peluncuran New Air ev & Cloud EV bukti konsistensi Wuling bangun citra kendaraan listrik modern. Lewat web & Instagram, Wuling tampilkan pesan & visual inovatif masa depan.

Ilustrasi mobil listrik. (Sumber: Wuling Motors)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 16:05

Menari, Merayakan Masa Kecil

Setiap tarian memang berhenti saat musik usai, tapi cerita ihwal keberanian Kakang berjoged untuk pertama kalinya akan terus hidup, tumbuh subur saat dirawat, dipelihara, dipupuk & menari dalam hati.

Kakang bergaya sebelum tampil menari di spot foto yang ada serambi masjid Al-Hidayah, Kebonterong Cibiru Kota Bandung, Rabu (24/6/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: Aa Akil)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 15:05

Menelusuri Jejak Rasa (Bagian II): Penjaga Memori dan Tradisi Kuliner Bandung

Setelah membedah lima ikon pertama pada bagian sebelumnya, mari kita lanjutkan penelusuran enam ikon kuliner legendaris lainnya.

Hidangan Warung Kopi Purnama (Foto: GMAPS)