Inflasi Mengganas: Pilih Menabung Sampai Bonyok atau Berutang Biar Jadi Bos?

3 menit baca
Deden Ibn Suja
Ditulis oleh Deden Ibn Suja diterbitkan Rabu 20 Mei 2026, 11:38 WIB
Ilustrasi uang tunai rupiah. (Sumber: Pexels/Defrino Maasy)

Ilustrasi uang tunai rupiah. (Sumber: Pexels/Defrino Maasy)

Selamat datang di era di mana harga sembako naik sekencang larinya menteri yang ketahuan korupsi, sementara kenaikan gaji jalannya selambat siput encok. Ya, itulah Inflasi. Kondisi di mana nilai uang kita makin hari makin gak ada harga dirinya. Dulu uang Rp100 ribu bisa buat traktir gebetan, sekarang cuma cukup buat beli seblak dan bayar parkir.

Nah, di tengah situasi yang bikin dompet menangis ini, Anda mendadak punya ide brilian: Mau buka bisnis produktif. Mantap! Anda ingin jadi pahlawan ekonomi, minimal buat diri sendiri.

Tapi di kepala Anda langsung muncul perdebatan sengit: “Mending gua nabung dulu sampai modalnya ngumpul, atau langsung gas ngutang ke bank/pinjol (legal ya!) biar bisnisnya cepat jalan?”

Mari kita bedah dilema ini biar otak Anda gak ikut inflasi!

Setia pada Prinsip, tapi Digilas Waktu

Bagi sekte "Anti Utang-Utang Club", menabung adalah jalan ninjanya. Prinsipnya mulia: memulai bisnis dengan uang sendiri itu tenang, tidur nyenyak tanpa diteror penagih utang.

Tapi masalahnya, sekarang lagi inflasi, Malih!

Menabung di saat inflasi tinggi itu ibarat Anda balapan lari melawan cheetah. Uang yang Anda simpan di tabungan nilainya terus digerogoti oleh inflasi.

Ilustrasinya: Hari ini modal buat beli mesin bisnis itu Rp10 juta. Anda mutusin nabung Rp1 juta sebulan. Pas 10 bulan kemudian uang Anda kumpul Rp10 juta, eh... harga mesinnya udah naik jadi Rp13 juta karena inflasi. Anda tekor lagi, nabung lagi, dan bisnis Anda gak jalan-jalan sampai negara berganti presiden.

Jadi, menabung saat inflasi untuk modal bisnis? Siap-siap aja capek hati karena target modalnya bakal lari terus ke depan.

Nekat tapi Masuk Akal (Asal Punya Otak)

Nah, sekarang kita bahas opsi kedua: Berutang. Mendengar kata utang, biasanya emak kita langsung jantungan. Tapi tunggu dulu, ini namanya Utang Produktif, bukan utang konsumtif buat beli iPhone boba demi eksposur Instagram.

Dalam ilmu ekonomi (dan ini agak mind-blowing), inflasi itu sebenarnya adalah sahabatnya para peminjam uang (debitur) dan musuh besarnya para pemberi pinjaman (kreditur).

Kenapa bisa begitu?

Bayangkan Anda pinjam uang Rp50 juta hari ini untuk modal bisnis keripik. Nilai Rp50 juta hari ini sangat besar dan bisa dibelikan banyak alat operasional. Dua tahun lagi, saat inflasi makin parah, nilai riil dari uang Rp50 juta itu sebenarnya sudah menyusut. Tapi, nominal utang Anda ke bank tetap Rp50 juta! Ditambah lagi, kalau bisnis produktif Anda berjalan lancar, Anda bisa menaikkan harga keripik Anda mengikuti arus inflasi, sehingga keuntungan Anda otomatis bertambah besar.

Dengan kata lain: Anda membeli aset produktif dengan nilai uang masa kini yang tinggi, lalu mencicil utangnya di masa depan dengan nilai uang yang sudah "murah" akibat inflasi. Cerdik, bukan?

Tapi Ingat, Ada Tapinya!

Meskipun berutang terdengar sangat seksi saat inflasi, ada satu jebakan batman yang harus Anda waspadai: Suku Bunga.

Saat inflasi tinggi, Bank Sentral biasanya akan menaikkan suku bunga demi mengerem peredaran uang. Jadi, kalau Anda mau ngutang untuk bisnis, pastikan:

  1. Cari bunga yang flat (tetap), jangan yang floating (mengambang). Kalau bunganya mengambang, cicilan Anda bisa ikutan meroket seiring inflasi.
  2. Bisnisnya harus benar-benar produktif dan terukur. Kalau utangnya dipakai buat bisnis yang Anda sendiri belum paham cara kerjanya, itu namanya bukan investasi, tapi cari penyakit.

Di masa inflasi, memegang uang tunai terlalu lama di dalam tabungan adalah sebuah kerugian karena nilainya menyusut. Sementara memanfaatkan leverage (daya ungkit) dari utang produktif jauh lebih disarankan oleh para ahli keuangan.

Jadi jawabannya: Lebih baik berutang (secara bijak) untuk langsung mengeksekusi bisnis produktif Anda.

Biarkan utang itu berputar menghasilkan mesin uang baru yang bisa mengalahkan kecepatan inflasi. Menabunglah secukupnya untuk dana darurat, tapi untuk urusan bisnis di kala inflasi, jadilah pemberani yang kalkulatif. Ingat, orang kaya rata-rata punya utang, bedanya utang mereka menghasilkan duit, sedangkan utang kita seringnya menghasilkan pusing. Selamat berbisnis dan tetap waras! (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Deden Ibn Suja
Belajar nulis lewat cakrawala

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 16 Jun 2026, 13:10

Hak Siar Piala Dunia oleh TVRI, Ekonomi Nobar dan Pengembangan Konten Lokal

Potensi ekonomi nobar yang luar biasa, mesti dikelola lebih baik dengan berbagai kreativitas masyarakat. 

Suasana nonton bareng Piala Dunia 2026 di Taman Film, Kota Bandung (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Ananda Muhammad Firdaus)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 11:04

Karya Purbakala di Hari Purbakala: Sambung Menyambung Tentang Kota Bandung

Karya-karya mahasiswa arkeologi tentang Kota Bandung

Sebuah gua alami yang menyimpan situs purbakala, Gua Pawon. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Nuryahya64)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 09:31

Mengenang Ny. Liem: Maestro Boga dari Kota Kembang dan Legacy di Industri Tata Boga Indonesia

Ny. Liem menempati posisi penting sebagai pionir yang menetapkan standar emas dalam seni pembuatan kue dan pastry.

Produk kemasan dari toko Ny. Liem di Jln. Naripan No.52, Kb. Pisang, Kec. Sumur Bandung, Kota Bandung. (Sumber: Google Maps Review | Foto: Elvita Yuli)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 09:19

Peran para Pendukung Tim Lokal di Kota Bandung Terhadap Keberlangsungan Persib

Menelaah faktor keberhasilan Maung Bandung pada periode terbaru di era sepakbola modern.

Ribuan bobotoh memadati Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Kota Bandung, Kamis 7 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 08:40

Biaya Parkir: Faktor Kecil yang Ternyata Menentukan Pilihan Kita Saat Belanja

Biaya parkir ternyata ikut menentukan pilihan tempat belanja kita. Kecil tapi berdampak besar pada persepsi, kepuasan, dan loyalitas konsumen.

Keputusan Konsumen untuk belanja goyah karena adanya parkir (Foto: muhammad yogi)
Bandung 15 Jun 2026, 21:16

Kolaborasi Bekali Kopi Bersama Petani Lembang Dorong Peningkatan Ekonomi dan Regenerasi Sektor Kopi

Bagi Bekali Kopi, fokus di lapangan tidak hanya tertuju pada kualitas produk tapi juga pada keberlanjutan sektor kopi yang menjadi perhatian penting.

Bagi Bekali Kopi, fokus di lapangan tidak hanya tertuju pada kualitas produk tapi juga pada keberlanjutan sektor kopi yang menjadi perhatian penting. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Iqbal Roem)
Ayo Biz 15 Jun 2026, 18:19

UMKM 'Jangan Cuma Dagang' untuk Berkembang, Belajar dari Perjalanan Bisnis Kebab Factory

Bagi Widya, Rumah BUMN Bandung bukan sekadar tempat pelatihan.

Widya Ratna Puspita, pemilik KebabFactory.id, di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung, (5/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 17:27

Perjalanan Sate Maranggi sebagai Kuliner Khas Kabupaten Purwakarta

Lebih dari sekadar nilai gastronomi, Sate Maranggi mengandung nilai-nilai sosial sebagai pemersatu masyarakat Purwakarta.

Sate Maranggi khas Purwakarta (Sumber: Dokumentasi milik pribadi)
Wisata & Kuliner 15 Jun 2026, 16:44

Panduan Wisata Kuliner Empal Gentong Cirebon, Jejak Sejarah Kota Pelabuhan dalam Semangkuk Kuah

Kenali sejarah empal gentong Cirebon, perbedaannya dengan empal asem, rekomendasi warung legendaris, serta tips menikmati hidangan khas ini.

Empal gentong, kuliner khas Cirebon. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Biz 15 Jun 2026, 16:40

Punya Varian Produk Tak Biasa, Kebab Factory Bisa Ekspor ke Malaysia dan Singapura berkat 'Ide Anak'

Perjalanan Kebab Factory, UMKM Kota Bandung yang terkenal dengan produk uniknya.

Kebab ice cream mellowberry, salah satu varian produk Kebab Faktory di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung, (5/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 15:54

Wayang Wong: Kesenian Unik yang Mengganti Peran Boneka Menggunakan Manusia

Tentang wayang wong, salah satu kesenian tradisional Jawa yang menggabungkan tari, musik, dan drama.

Wayang Wong Ramayana. (Sumber: Arsip Nasional Republik Indonesia)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 13:17

Hijrah, Ubah, dan Arah

Hijrah digital bukanlah tentang meninggalkan teknologi, melainkan menjadikan teknologi sebagai jalan untuk mendekat pada nilai-nilai kebaikan.

Diskusi Film "Hijrah Digital" Ajak Mahasiswa Refleksi Literasi Digital dan Peran AI dalam Keberagamaan (Sumber: instagram @moeslimah_produktif)
Beranda 15 Jun 2026, 13:02

Jejak Ksatria di Gang Maksudi: Menjaga Amanah, Menghidupkan Nadi Ekonomi Negeri

Kisah Hasan, seorang kurir JNE di Bandung yang sempat dibegal saat berteduh karena hujan, namun kini sudah kembali bekerja berkat bantuan dari tempatnya bekerja.

Kepala Cabang Utama JNE Bandung Iyus Rustandi menyerahkan bantuan sepeda motor baru kepada Hasan sebagai bentuk nyata komitmen dan kepedulian perusahaan terhadap keselamatan karyawannya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Arif Budianto)
Linimasa 15 Jun 2026, 12:58

Ketika Selisih Harga BBM Terasa Sampai Akhir Bulan

Kenaikan harga BBM non-subsidi membuat banyak pengendara memilih antre demi mendapatkan Pertalite.

Pengendara rela mengantre lebih panjang di SPBU setelah kenaikan harga BBM Pertamax. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 15 Jun 2026, 11:45

Itinerary Wisata Yogyakarta 1–2 Hari, Destinasi, Kuliner, dan Budget Lengkap

Jelajahi Yogyakarta berdasarkan pembagian kawasan wisata agar perjalanan lebih nyaman. Cocok untuk liburan singkat satu hingga dua hari.

Tugu Jogja, ikon Yogyakarta. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 11:28

Dulu Pakai Ritual, Kini Pakai Kimia: Perubahan Praktik Bertani di Desa Pamoyanan

Perjalanan pertanian Desa Pamoyanan merekam pergeseran dari sistem kepercayaan Sunda Buhun menuju metode pertanian modern yang dianggap lebih efektif dan rasional.

Foto Hamparan sawah di Desa Pamoyanan, Cianjur Selatan, pada 21 Maret 2026. (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Nadhil Ayudiya Az Zahra)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 09:59

Potensi Ulat Sutra Solusi Masalah Bahan Baku Industri Tekstil

Mengatasi krisis bahan baku industri tekstil dengan ulat sutra.

Industri rakyat berbasis benang sutra binaan Pertamina Geothermal Energy (PGE) Area Karaha di Desa Cipondok Kecamatan Sukaresik Kabupaten Tasikmalaya. (Foto: Humas PGE)
Beranda 15 Jun 2026, 09:46

Jejak Persib di Kota Bandung, Jalan-jalan Bobotoh Menyusuri Memori yang Nyaris Dilupakan

Bobotoh menyusuri jejak sejarah Persib di berbagai sudut Kota Bandung, mengungkap kisah, tempat, dan memori yang nyaris terlupakan oleh waktu.

Peserta Bobotoh Story Walk menyusuri jalanan Bandung sambil mendengarkan kisah-kisah yang membentuk sejarah Persib. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Linimasa 15 Jun 2026, 08:43

Layangan Adu, Hobi yang Tidak Lekang oleh Usia

Layangan adu tetap digemari lintas usia dan menjadi ruang silaturahmi para pehobinya.

Layangan adu, hobi yang tak mengenal usia. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 08:40

Sinergi Batalyon Pangan dengan Petani Mengatasi Deflasi Komoditas Pertanian

Eksistensi Yonif TP sebaiknya turut menyelesaikan masalah hilir komoditas pertanian hingga ke pasar induk atau pasar tradisional serta pasar modern.

Bimtek Ketahanan Pangan dan Peningkatan Kemampuan Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP). (Foto: dok Puspen TNI)