Inflasi Mengganas: Pilih Menabung Sampai Bonyok atau Berutang Biar Jadi Bos?

3 menit baca
Deden Ibn Suja
Ditulis oleh Deden Ibn Suja diterbitkan
Ilustrasi uang tunai rupiah. (Sumber: Pexels/Defrino Maasy)
Ilustrasi uang tunai rupiah. (Sumber: Pexels/Defrino Maasy)

Selamat datang di era di mana harga sembako naik sekencang larinya menteri yang ketahuan korupsi, sementara kenaikan gaji jalannya selambat siput encok. Ya, itulah Inflasi. Kondisi di mana nilai uang kita makin hari makin gak ada harga dirinya. Dulu uang Rp100 ribu bisa buat traktir gebetan, sekarang cuma cukup buat beli seblak dan bayar parkir.

Nah, di tengah situasi yang bikin dompet menangis ini, Anda mendadak punya ide brilian: Mau buka bisnis produktif. Mantap! Anda ingin jadi pahlawan ekonomi, minimal buat diri sendiri.

Tapi di kepala Anda langsung muncul perdebatan sengit: “Mending gua nabung dulu sampai modalnya ngumpul, atau langsung gas ngutang ke bank/pinjol (legal ya!) biar bisnisnya cepat jalan?”

Mari kita bedah dilema ini biar otak Anda gak ikut inflasi!

Setia pada Prinsip, tapi Digilas Waktu

Bagi sekte "Anti Utang-Utang Club", menabung adalah jalan ninjanya. Prinsipnya mulia: memulai bisnis dengan uang sendiri itu tenang, tidur nyenyak tanpa diteror penagih utang.

Tapi masalahnya, sekarang lagi inflasi, Malih!

Menabung di saat inflasi tinggi itu ibarat Anda balapan lari melawan cheetah. Uang yang Anda simpan di tabungan nilainya terus digerogoti oleh inflasi.

Ilustrasinya: Hari ini modal buat beli mesin bisnis itu Rp10 juta. Anda mutusin nabung Rp1 juta sebulan. Pas 10 bulan kemudian uang Anda kumpul Rp10 juta, eh... harga mesinnya udah naik jadi Rp13 juta karena inflasi. Anda tekor lagi, nabung lagi, dan bisnis Anda gak jalan-jalan sampai negara berganti presiden.

Jadi, menabung saat inflasi untuk modal bisnis? Siap-siap aja capek hati karena target modalnya bakal lari terus ke depan.

Nekat tapi Masuk Akal (Asal Punya Otak)

Nah, sekarang kita bahas opsi kedua: Berutang. Mendengar kata utang, biasanya emak kita langsung jantungan. Tapi tunggu dulu, ini namanya Utang Produktif, bukan utang konsumtif buat beli iPhone boba demi eksposur Instagram.

Dalam ilmu ekonomi (dan ini agak mind-blowing), inflasi itu sebenarnya adalah sahabatnya para peminjam uang (debitur) dan musuh besarnya para pemberi pinjaman (kreditur).

Kenapa bisa begitu?

Bayangkan Anda pinjam uang Rp50 juta hari ini untuk modal bisnis keripik. Nilai Rp50 juta hari ini sangat besar dan bisa dibelikan banyak alat operasional. Dua tahun lagi, saat inflasi makin parah, nilai riil dari uang Rp50 juta itu sebenarnya sudah menyusut. Tapi, nominal utang Anda ke bank tetap Rp50 juta! Ditambah lagi, kalau bisnis produktif Anda berjalan lancar, Anda bisa menaikkan harga keripik Anda mengikuti arus inflasi, sehingga keuntungan Anda otomatis bertambah besar.

Dengan kata lain: Anda membeli aset produktif dengan nilai uang masa kini yang tinggi, lalu mencicil utangnya di masa depan dengan nilai uang yang sudah "murah" akibat inflasi. Cerdik, bukan?

Tapi Ingat, Ada Tapinya!

Meskipun berutang terdengar sangat seksi saat inflasi, ada satu jebakan batman yang harus Anda waspadai: Suku Bunga.

Saat inflasi tinggi, Bank Sentral biasanya akan menaikkan suku bunga demi mengerem peredaran uang. Jadi, kalau Anda mau ngutang untuk bisnis, pastikan:

  1. Cari bunga yang flat (tetap), jangan yang floating (mengambang). Kalau bunganya mengambang, cicilan Anda bisa ikutan meroket seiring inflasi.
  2. Bisnisnya harus benar-benar produktif dan terukur. Kalau utangnya dipakai buat bisnis yang Anda sendiri belum paham cara kerjanya, itu namanya bukan investasi, tapi cari penyakit.

Di masa inflasi, memegang uang tunai terlalu lama di dalam tabungan adalah sebuah kerugian karena nilainya menyusut. Sementara memanfaatkan leverage (daya ungkit) dari utang produktif jauh lebih disarankan oleh para ahli keuangan.

Jadi jawabannya: Lebih baik berutang (secara bijak) untuk langsung mengeksekusi bisnis produktif Anda.

Biarkan utang itu berputar menghasilkan mesin uang baru yang bisa mengalahkan kecepatan inflasi. Menabunglah secukupnya untuk dana darurat, tapi untuk urusan bisnis di kala inflasi, jadilah pemberani yang kalkulatif. Ingat, orang kaya rata-rata punya utang, bedanya utang mereka menghasilkan duit, sedangkan utang kita seringnya menghasilkan pusing. Selamat berbisnis dan tetap waras! (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)