Mahasiswa 2026: Kuliah buat Gelar atau Cuma Burnout?

2 menit baca
Nenah Haryati
Ditulis oleh Nenah Haryati diterbitkan
Suasana menggambarkan keakraban dan semangat bertukar pikiran mahasiswa saat mereka sedang berdiskusi di Rasa Kopi Bandung. Perumahan palem 1 residence Blok A6, Sukapura, Dayeuhkolot, Bandung City, (27/10/2025). (Foto: Bintang Haiban)
Suasana menggambarkan keakraban dan semangat bertukar pikiran mahasiswa saat mereka sedang berdiskusi di Rasa Kopi Bandung. Perumahan palem 1 residence Blok A6, Sukapura, Dayeuhkolot, Bandung City, (27/10/2025). (Foto: Bintang Haiban)

Lupakan adegan jatuh cinta di perpustakaan ala novel romance. Realita kuliah tahun 2026 bukan soal nemu jodoh karena buku terjatuh, tapi soal gimana caranya menjaga kewarasan saat melihat data pahit dari Higher Ed Dive: lebih dari 80% mahasiswa senior melaporkan mereka sedang berada di ambang burnout parah.

Bukan cuma sekadar capek fisik, kelelahan mental ini bikin kita kehilangan motivasi, sinis terhadap tugas, sampai merasa nggak berdaya menghadapi masa depan. Lantas, siapa saja sosok yang bisa jadi sandaran kita biar nggak gampang rungsing dan overthinking?

1. Inner Circle: Keluarga yang Berhenti Menuntut

Hal utama sebelum kita melangkah lebih jauh adalah restu dan dukungan keluarga. Namun, riset tahun 2025 menunjukkan banyak mahasiswa merasa harus selalu terlihat "kuat" di depan orang tua agar tidak dianggap sebagai beban, terutama bagi mereka yang sedang berjuang di tanah rantau. Padahal, yang kita butuhkan bukan hanya ditanya "Kapan skripsimu selesai?", tapi validasi bahwa mereka tetap ada meski jarak memisahkan.

Kalimat yang paling nendang itu bukan motivasi muluk-muluk, tapi perhatian tipikal orang tua yang realistis. Sesederhana tiba-tiba Video Call (VC) hanya karena ingin tahu kabar anaknya di perantauan, atau momen mengharukan saat orang tua diam-diam memajang foto kita di Story WhatsApp saat mau berangkat kuliah. Dukungan yang tidak "berisik" tapi penuh kasih sayang seperti inilah yang justru jadi bahan bakar utama buat kita lanjut berjuang.

2. Outer Circle: Cari yang Sa-Frekuensi, Bukan yang Saling Menjatuhkan

Selain dukungan dari rumah, lingkungan di kampus pun jadi penentu waras atau tidaknya kita. Memiliki sahabat yang sefrekuensi akan sangat mengurangi tingkat stres. Bagi sebagian orang, punya teman yang sama-sama ambisius dalam mengejar IPK justru jadi motivasi terbaik agar tidak malas. Namun, pastikan persaingan itu sehat—bukan kompetisi yang isinya saling menjatuhkan atau merasa paling unggul sendiri.

Kita butuh lingkaran pertemanan yang bisa diajak berjuang bareng. Teman yang suportif adalah mereka yang rela meminjamkan laptop saat punya kita error atau berbagi catatan saat kita buntu, bukan yang malah senang melihat kita tertinggal. Jika circle kamu sudah mulai bikin hati hareudang karena isinya hanya adu gengsi tanpa rasa empati, saat itulah kamu harus mulai menjaga jarak.

Baca Juga: Di Balik Mudahnya QRIS, Pedagang Kuliner Saparua Punya Cerita Lain

3. The Ultimate Support: Diri Sendiri dan Spiritualitas

Namun, dari semua dukungan eksternal, dukungan internal adalah yang paling krusial. Banyak orang rela kehilangan jati diri dibanding kehilangan pasangan atau sahabatnya. Padahal, se-toksik apa pun dunia luar, yang bakal menemani kamu sampai garis finish cuma diri kamu sendiri. Belajarlah untuk percaya pada kemampuan diri sendiri sebelum mengharap pengakuan orang lain.

Terakhir, semuanya akan terasa sulit dijalankan jika tidak ada "jangkar" yang kuat. Spiritualitas bukan pelarian dari revisi, tapi cara kita tetap tenang saat semua tekanan terasa tidak masuk akal. Menjaga komunikasi dengan Sang Pencipta lewat doa dan ibadah yang konsisten adalah jalan pintas untuk mendapatkan kejernihan pikiran.

Prinsipnya sederhana: Urusan "langit" beres, urusan "bumi" niscaya lancar. Jika hubungan dengan-Nya sudah baik, badai skripsi dan tekanan masa depan niscaya akan terasa lebih tenang untuk dijalani. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 04 Nov 2026, 10:46

Medsos Mengubah Waktu dan Jarak

Medsos dapat merubah waktu dan jarak dalam penyampaian informasi

Dalam beberapa tahun ini, mengakses media sosial menjadi ritual yang seolah tanpa batas. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 04 Nov 2026, 10:18

Travel, Jalan Tol dan Perbincangan di Dalamnya

Banyak cerita-cerita yang hanya ada di perjalanan, tentang mereka yang terus berjuang di tengah kemegahan zaman.

Kemacetan akibat perbaikan dan pemeliharaan jalan di Tol Cikopo- Palimanan (Cipali). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)