Pencak Silat Panglipur Kopo Parahyangan, Kekinian Tanpa Hilangkan Tradisi

3 menit baca
Riri Pamungkas
Ditulis oleh Riri Pamungkas diterbitkan
Seorang murid mempraktekan gerakan ke-7 Jurus Tunggal Baku Tangan Kosong (TGR) di Grand Kopo Parahyangan, Kec. Margahayu, Kabupaten Bandung, (1/11/205). (Foto: Ana Apriana)
Seorang murid mempraktekan gerakan ke-7 Jurus Tunggal Baku Tangan Kosong (TGR) di Grand Kopo Parahyangan, Kec. Margahayu, Kabupaten Bandung, (1/11/205). (Foto: Ana Apriana)

Selepas azan magrib mereda, terdengar suara hentakan kaki di atas matras dari seorang murid yang tengah berlatih pencak silat. Di sudut ruangan, Ana Apriana mengamati murid-muridnya berlatih dengan serius, ia tersenyum tipis sambil menata ide content digital untuk Perguruan Panglipur Kopo Parahyangan, Margahayu, Kabupaten Bandung, Senin (3/11/2025).

Ana Apriana, penggagas Panglipur Kopo Parahyangan, mengatakan bahwa perbedaan utama perguruannya dengan perguruan Panglipur lainnya terletak pada keaktifan di media sosial.

“Yang membedakan Panglipur lain dengan Panglipur Kopo Parahyangan adalah keaktifan di social media,” katanya.

Ia kerap mendokumentasikan proses latihan murid-murid dan mengunggahnya ke akun @pencaksilat.pkp, yang kemudian mendapat banyak pujian dari perguruan Panglipur lainnya. Dampaknya juga terasa pada murid-muridnya, mereka semakin dikenal di lingkungan sekolahnya karena konten yang dibuat oleh pria lembut itu viral di media sosial.

Seiring berkembangnya zaman, tantangan terbesar bagi kesenian tradisional adalah mempertahankan eksistensi di tengah derasnya arus budaya asing yang masuk ke Indonesia. Dalam dunia pencak silat, konten mengenai seni bela diri ini masih jarang muncul di media, salah satunya karena minimnya eksposur dari perguruan itu sendiri. Upaya kreatif diperlukan agar pencak silat tidak hanya diwariskan secara turun-temurun, tetapi juga dikenalkan melalui media digital.

Pemanfaatan perkembangan zaman itu diwujudkan oleh pria humoris itu melalui program baru bernama Pencak Silat Digital. Ia menjelaskan bahwa tujuan program ini adalah menyebarkan ajaran Panglipur seluas-luasnya sambil melestarikan budaya dan nilai di dalamnya. Menurut pria ramah itu,

“Melalui Pencak Silat Digital, saya ingin membuat ajaran Panglipur bis dipelajari siapapun meski dari rumah.”

Program ini bekerja dengan menyediakan video penjelasan jurus secara detail dan e-book berisi uraian lengkap setiap gerakan. Peserta dapat mengikuti pembelajaran melalui grup WhatsApp, webinar, atau sesi private Zoom, sehingga tidak perlu datang langsung ke perguruan.

Keunikan perguruan ini juga terletak pada pembangunan karakter yang diterapkan oleh pria rendah hati itu. Setiap murid diajarkan memiliki emotional quotient (EQ) yang baik agar terjalin kebersamaan dan kerja sama selama latihan. Hal itu dilakukan melalui kegiatan berbincang, bermain bersama, belajar mengontrol emosi, serta menanamkan sikap rendah hati dan tanggung jawab, termasuk datang tepat waktu.

Murid Panglipur Kopo Parahyangan berhasil meraih sejumlah medali dari berbagai perlombaan dalam lima tahun terakhir. (1/11/205) (Foto: Riri Pamungkas)
Murid Panglipur Kopo Parahyangan berhasil meraih sejumlah medali dari berbagai perlombaan dalam lima tahun terakhir. (1/11/205) (Foto: Riri Pamungkas)

Karakter perguruan ini dibentuk dari visi “silat tradisi mengejar silat prestasi” dan misi “mencetak pesilat-pesilat muda yang juga berprestasi”. Visi dan misi tersebut lahir dari perjalanan pria humoris itu dalam memahami disiplin dan seni di setiap gerakan silat. Pengalaman itu membentuk pandangannya tentang pentingnya karakter dan nilai budaya dalam proses latihan.

Menariknya perguruan ini berdiri tanpa disengaja, Ana mulanya hanya berlatih dengan dua anaknya, hingga akhirnya berkembang pesat. Sebelum terjun ke pencak silat, ia merupakan pelatih tari jaipongan, namun kemudian memilih memfokuskan diri pada seni bela diri. Salah satu alasan pria beranak dua itu memilih aliran Panglipur adalah karena unsur seninya, “Setiap gerakan Panglipur punya makna yang dalam dan indah, itu yang membuat saya menetapkan pilihan,” ujarnya.

Kini, di tengah derasnya arus digitalisasi, pria cerdik itu membuktikan bahwa tradisi dan teknologi dapat berjalan beriringan. Melalui program Pencak Silat Digital, ia berusaha menjaga warisan leluhur sambil mengenalkan nilai budaya kepada generasi muda. Pendekatan karakter yang ia kembangkan menjadikan Panglipur Kopo Parahyangan bukan hanya tempat berlatih silat, tetapi ruang pembentukan moral dan kebersamaan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)