Selamat Hari Raya Idul Adha
1447 H • Hari Raya Kurban & Kebajikan

Relokasi yang Tak Kunjung Datang: Kado Pahit di Ulang Tahun Bandung Barat bagi Korban Bencana

5 menit baca
Restu Nugraha Sauqi
Ditulis oleh Restu Nugraha Sauqi diterbitkan Jumat 20 Jun 2025, 14:17 WIB
Acih di rumahnya yang rusak akibat tanah bergerak. Janji pemerintah untuk merelokasi rumahnya hingga kini belum terwujud. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Restu Nugraha)

Acih di rumahnya yang rusak akibat tanah bergerak. Janji pemerintah untuk merelokasi rumahnya hingga kini belum terwujud. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Restu Nugraha)

AYOBANDUNG.ID - Di tengah ingar-bingar panggung seremonial upacara dan sidang paripurna perayaan ulang tahun ke-18 Kabupaten Bandung Barat, ada suara lirih yang nyaris tak terdengar: suara warga korban bencana yang hingga kini belum mendapat kepastian tempat tinggal.

Acih 70 tahun, penyintas bencana tanah bergerak di Kampung Cigombong, Desa Cibedug, Kecamatan Rongga, meratapi sisa-sisa rumah yang tampak rata dengan tanah usai porak-poranda diterjang tanah bergerak pada Februari 2024. 

Matanya berkaca, butiran bening menetes ke pipi keriput, saat Acih menengok sisa batu fondasi rumahnya yang dipenuhi aneka rumput liar dan perdu. Lansia itu tak kuasa menahan kesedihan karena hampir 1 tahun 5 bulan sejak peristiwa bencana, ia tak kunjung punya rumah. 

"Waktu itu rumah ini dibangun dari bantuan pemerintah Rutilahu. Semula panggung, jadi semi permanen. Tapi baru juga punya rumah layak, tiba-tiba rusak lagi oleh bencana. Jadi cuma satu tahun menetap di sini," kenang Acih.

Janji pemerintah untuk merelokasi korban bencana tanah bergerak selama sepekan sejak kejadian ngaret hingga kini. Acih jadi warga nomaden berpindah dari satu rumah ke rumah lain untuk berteduh bersama Abas, 90 tahun, suami yang sakit-sakitan.

Karena tak nyaman dan capek dengan terus-terusan pindah, Acih terpaksa memilih menetap. Ia meminjam lahan seluas 28 meter persegi di atas kolam lele anaknya untuk dibangun rumah semi permanen. Dirinya berutang ke saudara dan tetangga agar bangunan tempat tinggal teduh dari panas dan hujan. 

"Ongkos beli bahan, gaji tukang, dan lainnya saya habis Rp50 juta buat bangun rumah. Uang itu pinjam dari anak, saudara, dan tetangga," paparnya. 

Ia berharap pemerintah segera merealisasikan relokasi bagi korban terdampak bencana pergerakan tanah di Kampung Cigombong. Pasalnya, hampir setahun lebih belum ada kepastian. Di sisi lain, warga terdampak juga dibiarkan berjuang sendiri untuk mendapat hunian.

"Tolong segera bangun perhatikan kami, ini hari ulang tahun Bandung Barat tapi kado buat kami hanya rasa pahit getir yang belum sembuh sejak bencana menerjang. 

Cerita serupa juga dialami Wawan (55) dan istrinya Hindun (55). Rumah mereka juga ambruk diterjang pergerakan tanah. Lelah menanti kepastian, Wawan memutuskan membangun rumah secara mandiri, mengorbankan simpanan terakhirnya. 

“Saya jual gabah, domba, dan tabungan. Total Rp40 juta lebih saya habiskan untuk bangun rumah ini,” ujarnya.

Menurut Wawan, hingga kini belum ada kejelasan lokasi relokasi.

“Pemerintah bilang sedang proses, tapi prosesnya kayak nggak jalan. Mohon jangan lupakan kami. Kami bukan angka, kami manusia yang ingin hidup tenang. Kalau pemerintah merayakan ulang tahun dengan pesta dan rapat paripurna, kami cuma ingin satu: rumah,” pungkas Wawan.

Begitulah wajah lain dari perayaan hari jadi Bandung Barat yang diperingati setiap 19 Juni.

Di balik spanduk ucapan dan panggung hiburan, ada warga yang masih hidup dalam ketidakpastian. 18 tahun usia kabupaten, tapi untuk sebagian warganya, kehidupan belum dimulai kembali sejak rumah mereka hilang dalam bencana.

Sementara janji relokasi tak kunjung ditepati, warga seperti Acih dan Wawan harus terus bertahan—membangun dari puing-puing, meminjam harapan dari hari esok. Hari jadi Bandung Barat bagi mereka bukan perayaan, tapi pengingat getir akan hak dasar yang belum juga dipenuhi: tempat untuk pulang.

Gonta-ganti Pemimpin Tapi Relokasi Tak Kunjung Ditepati

Nasib terkatung-katung korban bencana bukan saja terjadi di Kecamatan Rongga. Hasil penelusuran, tercatat ada 5 lokasi bencana yang dijanjikan pemerintah merelokasi warga namun tak kunjung terealisasi. 

Kelima lokasi bencana tersebut yakni, korban tanah bergerak di Kampung Cigombong, Desa Cibedug, Kecamatan Rongga. Total 48 kepala keluarga (KK) atau 192 jiwa. Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto menjanjikan relokasi selesai 2 sampai 6 bulan. 

Korban bencana banjir di Desa Nyalindung, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat (KBB). Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), bencana banjir akibat luapan sungai Cimeta mengakibatkan 25 rumah rusak dan 139 jiwa warga di Desa Nyalindung mengungsi. Warga terdampak dijanjikan Gubernur Jabar Dedi Mulyadi untuk dipindahkan dari bantaran sungai. 

Korban banjir bandang dan longsor di Kampung Gintung, Desa Cibenda, Kecamatan Cipongkor. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) berjanji relokasi 30 rumah dalam waktu sepekan.

Korban bencana tanah bergerak di Kampung Patrol Bahubang, Desa Situwangi, Kecamatan Cihampelas. Berdasarkan data BPBD, ada 30 rumah milik warga rusak. 

Korban terdampak bencana longsor di Kampung Ciburial RT 02 RW 04, Desa Cibogo, Kecamatan Lembang. Opsi relokasi diambil untuk mencegah longsor susulan sehingga mengancam keselamatan warga penghuni rumah di sekitar lokasi bencana. Total ada lima kepala keluarga (KK) dengan 19 jiwa yang harus direlokasi untuk menghindari risiko yang lebih besar mengingat rumah korban terdampak sangat tidak aman ditempati.

Wakil Bupati Bandung Barat Asep Ismail mengatakan tersendatnya proses relokasi sejumlah korban bencana akibat kesulitan soal lahan.

Pihaknya berjanji, proses pemindahan rumah warga bakal dipercepat. "Memang kendalanya lahan, kita terus berproses untuk mencari lahan," papar Asep beberapa waktu lalu. 

Sementara itu, rencana Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi untuk merelokasi rumah warga korban banjir di bantaran sungai Cimeta, Desa Nyalindung, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat (KBB) molor dari target. Pemindahan warga yang semula direncanakan setelah Hari Raya Idulfitri, mundur ke Juli 2025.

Kepala Bidang Perumahan pada Disperkim Provinsi Jawa Barat Achmad Haidar mengatakan relokasi rumah terdampak banjir di Bandung Barat mesti melalui tahapan kajian tim akademik dari Institut Teknologi Bandung atau ITB.

"Jadi kan itu relokasi posisi masih asli, jadi harus diukur dulu tidak bisa langsung dibangunkan. Akan dihitung berapa kebutuhan biayanya baru setelah itu akan dieksekusi. Harapannya Juli sudah mulai," ujarnya saat dikonfirmasi.

Menurutnya, konsep bangunan rumah nantinya akan mengusung rumah panggung adat masyarakat Sunda. Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi telah mengintruksikan Disperkim mengadopsi rumah di Kampung Naga, Tasikmalaya. Namun tentunya akan disesuaikan dengan kondisi warga Desa Nyalindung yang menjadi korban terdampak banjir.

"Memang arahan Gubernur mengambil contoh rumah adat di Kampung Naga. Paling nanti ada sedikit penyesuaian dengan teknologi yang sekarang dan masyarakatnya. Kan bukan masyarakat (kampung) adat, jadi akan disesuaikan," jelas dia. (*)

News Update

Ayo Biz 28 Mei 2026, 00:27

Kelola Belanja Keluarga lewat HP, Ibu Rumah Tangga Perlu Paham Ancaman Digital Perbankan

Era digital yang sudah serba canggih telah memberikan kemudahan untuk pelbagai sektor, termasuk perbankan.

Aplikasi BRImo dari Bank BRI. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 27 Mei 2026, 18:04

Wajah Ganda Kota Kembang: Ramah Wisatawan, Menantang bagi Pekerja

Bandung memikat jutaan wisatawan, tetapi pekerjanya menghadapi tekanan biaya hidup.

Kawasan legendaris Braga bukan sekadar jalan, melainkan lembaran sejarah yang hidup, menyatu dengan denyut nadi modernitas kota. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Biz 27 Mei 2026, 15:17

Ketika BUMDes dan BRILink Jadi Duet Andalan untuk Tingkatkan Ekonomi Desa Margamukti

BRILink di Margamukti adalah cermin dari cara berpikir BUMDes Marga Makmur secara keseluruhan.

Agen BRILink BUMDes Marga Makmur, di Desa Margamukti, Sumedang Utara, (22/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 27 Mei 2026, 13:19

Ibadah Qurban atau Ibadah Udhiyyah? Yuk Kenali Istilah yang benar dalam Islam

Seringkali terdengar ibadah qurban pada momentum Idul Adha, apa arti sebenarnya?

Hewan udhiyyah di Indonesia adalah sapi, kambing, domba, kerbau (Sumber: Pixeabay | Foto: Paskvi)
Ayo Netizen 27 Mei 2026, 12:31

Menolak Lupa: Surat Samantha untuk Perdamaian Dunia

Kisah seorang anak yang memberi pesan bahwa perdamaian dunia adalah hak mutlak setiap umat manusia

Samantha Smith (Sumber: Kennebec Journal)
Beranda 27 Mei 2026, 10:59

Sambut Idul Adha, PLN Nusantara Power Pastikan PLTA Cirata Beroperasi Prima

PLN Nusantara Power UP Cirata memastikan seluruh unit PLTA Cirata siap menjaga keandalan listrik Jawa-Madura-Bali saat Idul Adha.

PLN Nusantara Power UP Cirata memastikan seluruh unit PLTA Cirata siap menjaga keandalan listrik Jawa-Madura-Bali saat Idul Adha.
Beranda 27 Mei 2026, 10:38

Kalau Tidak Ada Ketupat, Rasanya Bukan Lebaran

Lapak-lapak kecil di Jalan Gurame memperlihatkan satu hal sederhana beberapa tradisi ternyata masih bertahan.

Rio penjual ketupat musiman di Jalan Gurame, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 27 Mei 2026, 10:06

Cicaheum Purna, Mampukah Leuwipanjang Menanggung Bebannya?

Pemusatan terminal ke Leuwipanjang patut diapresiasi karena membawa janji modernisasi.

Suasana Terminal Cicaheum, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 18:26

Makna Berkurban di Tengah Hidup yang Serba Sulit

Hari Raya Idul Adha tidak hanya dimaknai sebagai ibadah kurban, tetapi juga refleksi atas berbagai pengorbanan masyarakat yang sering kali tidak terlihat di tengah hidup yang semakin sulit.

Ilustrasi hewan kurban. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Biz 26 Mei 2026, 17:05

Melon Premium Margamukti, dari Desa ‘Tanpa Keunikan’ sampai Berhasil Ciptakan Ekosistem Mandiri

BUMDes Marga Makmur menciptakan ‘pasar’. Menciptakan jaringan petani sampai menghubungkan mereka kepada para pembeli.

Hasil budidaya melon premium di Desa Margamukti, Sumedang Utara, (22/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 15:15

Demokratisasi Rasa: Potret Arsitektur Sosial dan Spiritual di Atas Meja Makan Idul Adha

Pesta kuliner yang terjadi selama Idul Adha merupakan manifestasi dari rasa syukur yang mendalam.

Ilustrasi olahan rendang dari daging kurban Idul Adha. (Sumber: Unsplash | Foto: prananta haroun)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 14:04

Duel Klasik Persib vs PSMS di Final Divisi Utama Perserikatan 1985

Final Divisi Utama Perserikatan 1985 antara Persib Bandung melawan PSMS Medan di Stadion Utama Senayan, Jakarta, pada 23 Februari 1985.

Berdiri dari kiri: Iwan Sunarya, Dede Iskandar, Sobur, Kosasih, Wawan Karnawan,  Ajat Sudrajat. Jongkok: Jafar Sidik, Suryamin, Sukowiyono, Adeng Hudaya dan Robby Darwis. (Sumber: tabloid BOLA edisi Februari 1983 | Foto: koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 13:00

Wededed ... Ikoniknya para Bobotoh Encib

Selebrasi para bobotoh Persib saat ini yang paling ikonik adalah sepeda motor yang digeber-geber sehingga menghasilkan suara wededed.

Ribuan Bobotoh mengikuti konvoi perayaan juara Super League 2025–2026 di Kota Bandung, Minggu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 12:12

Di Balik Konvoi Juara Persib 2026, Netizen Heran Banyak Kejadian 'Aneh' Tahun Ini

Keresahan sebagaian publik yang terjadi pada momentum konvoi juara tim Persib Bandung tahun 2026.

Puluhan ribu bobotoh memenuhi jalan Asia-Afrika, Kota Bandung saat konvoi Persib Bandung juara Super League 2025-2026, Sabtu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 26 Mei 2026, 11:24

3 Catatan untuk Konvoi Persib di Masa Depan: Sterilisasi Jalur, Keselamatan Bobotoh, dan Masalah Sampah

Konvoi juara Persib menyisakan sejumlah evaluasi, mulai dari sterilisasi jalur, keselamatan Bobotoh saat berdesakan, hingga 112 ton sampah di Kota Bandung.

Pemain dan official Persib Bandung bersama Puluhan ribu bobotoh memenuhi jalan Asia-Afrika, Kota Bandung saat konvoi Persib Bandung juara Super League 2025-2026, Sabtu 24 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Wisata & Kuliner 26 Mei 2026, 09:58

Pemandian Air Panas Cimanggu kini hadir dengan wajah baru sebagai Jiwanta Hot Spring di kawasan Ciwidey.

Jiwanta Hot Spring menghadirkan konsep baru pemandian air panas alami dengan fasilitas lebih modern di Ciwidey.

Pemandian Air Panas Cimanggu. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Linimasa 26 Mei 2026, 09:51

Dupan, Ketika Citarum Menolak Surut

Banjir kembali merendam Sapan Bandung. Luapan Sungai Citarum membuat Dupan terus hidup sebagai langganan genangan warga.

Banjir Citarum di Sapan. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Biz 26 Mei 2026, 09:29

Ukir Prestasi Gemilang, PT PLN Nusantara Power UP Cirata Sabet Trofi TOP CSR Awards 2026

PT PLN Nusantara Power UP Cirata sukses memborong penghargaan bergengsi TOP CSR Awards 2026 atas komitmen keberlanjutan sosial mereka.

Ukir Prestasi Gemilang, PT PLN Nusantara Power UP Cirata Sabet Trofi TOP CSR Awards 2026
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 08:21

Remitologisasi Sunda: Milangkala Tatar Sunda Mestinya 11 Oktober

Remitologisasi merupakan hak, bahkan kewajiban, bagi suatu bangsa yang sedang krisis jatidiri. Namun, mesti dilakukan dengan baik dan benar.

Prasasti Kebon Kopi II/Prasasti Pasir Muara. (Sumber: Leiden Library)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 07:40

Fenomena Mematikan Centang Biru pada WhatsApp dalam Perspektif Etika Komunikasi Digital

Fenomena mematikan centang biru WhatsApp mencerminkan perubahan etika komunikasi digital antara kebutuhan privasi, kenyamanan, dan ekspektasi respons instan.

Ilustrasi fenomena mematikan fitur centang biru pada WhatsApp. (Sumber: Dok. Penulis)