Masagi Tjibogo, Kekuatan Warga Lokal Mengolah Sampah Hingga Produknya Tembus Pasar Global

6 menit baca
Halwa Raudhatul
Ditulis oleh Halwa Raudhatul diterbitkan
Abang Oyong yang sudah memasuki usia 80-an membantu membuat karpet hasil olahan sampah di Komunitas Masagi Tjibogo. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Abang Oyong yang sudah memasuki usia 80-an membantu membuat karpet hasil olahan sampah di Komunitas Masagi Tjibogo. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

AYOBANDUNG.ID - Berangkat dari keresahan atas persoalan sampah yang tak kunjung tuntas di lingkungan tempat tinggalnya, Komunitas Masagi Tjibogo lahir sebagai inisiatif warga Kampung Cibogo, Kota Bandung, pada 2019. Komunitas ini dibangun atas kesadaran bahwa persoalan lingkungan tidak hanya soal teknis pengelolaan, melainkan juga berkaitan erat dengan perilaku dan budaya masyarakat, sehingga perubahan harus dimulai dari akarnya yaitu manusia itu sendiri.

Sampah yang menumpuk di sudut-sudut Kampung Cibogo, Kecamatan Sukjadi, Kota Bandung, pernah menjadi bagian dari pemandangan yang lumrah bagi warga setempat. Sampah yang tidak terpilah, saluran air yang tersumbat, dan banjir saat hujan deras adalah masalah yang terus terjadi. Dari situ, muncul keprihatinan yang perlahan-lahan menjadi sebuah gerakan.

“Awal mula terbentuk Komunitas Masagi Tjibogo di tahun 2019 berdasarkan keresahan saya dan tim pendiri,” kata Founder Komunitas Masagi Tjibogo, Dian Nurdyana (48), saat ditemui di rumah warga, Kamis, 9 April 2026.

Founder Komunitas Masagi Tjibogo, Dian Nurdyana. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Founder Komunitas Masagi Tjibogo, Dian Nurdyana. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Kata Masagi sendiri diambil dari Bahasa Sunda yang artinya mandiri. Kemudian, Tjibogo adalah nama kampung tempat Dian dan tim pendiri tinggal. Diksinya menggunakan ejaan lama memang disengaja, karena preferensi dari Dian dan tim pada saat itu.

Tujuh tahun hadir menjadi wadah kolektif warga di bidang lingkungan, Komunitas Masagi Tjibogo memiliki tiga program yang dijalankan, yakni: Perelek Sampah, Urban Farming, dan Sakoling (Sakola Lingkungan).

Kondisi medan jalan di kawasan Cibogo yang menanjak dan dekat dengan sungai kecil membuat kawasan ini rawan digenangi air. Dian mengamati bahwa kondisi lingkungan saat itu sangat memprihatinkan, di mana sampah sering kali menghalangi aliran air dan membawa dampak banjir ketika hujan deras. Dari pengamatan itu, Dian menyadari bahwa masalah lingkungan tidak terpisah dari perilaku manusia.

“Sampah tidak akan beres sampai kiamat. Karena sumber masalahnya ada di manusia,” lanjut Dian.

Ia kemudian mengubah cara pendekatannya, tidak hanya fokus pada penanganan sampah, tetapi juga berupaya meningkatkan kesadaran masyarakat.

Langkah awal yang diambil oleh Komunitas Masagi Tjibogo tidak langsung menuai hasil. Program bank sampah yang berjalan selama dua tahun awal mengalami berbagai tantangan, seiring berjalannya waktu masyarakat semakin malas untuk menyetorkan sampahnya.

“Akhirnya kami ubah ke ‘Perelek Sampah’. Bukan menunggu bola, tapi menjemput bola,” ujar Dian sambil tersenyum.

Ibu-ibu di Cibogo, Kecamatan Sukajadi mengolah sampah rumah tangga yang memberikan perubahan terhadap kehidupan sosial dan ekonomi warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ibu-ibu di Cibogo, Kecamatan Sukajadi mengolah sampah rumah tangga yang memberikan perubahan terhadap kehidupan sosial dan ekonomi warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Dari program bank sampah yang dirasa tidak efektif itu, komunitas mulai mengadaptasi istilah budaya lokal: perelek. Perelek biasanya identik dengan sumbangan beras. Kini, Dian mengambil istilah itu menjadi konsep pengumpulan sampah secara kolektif.

Konsep ini memungkinkan warga ikut berpartisipasi tanpa harus datang ke titik pengumpulan. Dibantu oleh lima orang Tim Perelek, pengambilan dilakukan tiga kali dalam seminggu ke setiap rumah warga yang sampahnya sudah dipilah berdasarkan organik dan anorganik.

Dian menjelaskan bahwa pendekatan ini tidak hanya melestarikan nilai budaya, tetapi juga menguatkan solidaritas sosial serta menyelesaikan masalah lingkungan secara bersamaan.

Sakola Lingkungan

Kemajuan komunitas ini melahirkan program Sakoling atau Sakola Lingkungan. Sakoling ini ada dua, yakni Sakoling Tunas bagi anak SD hingga SMP, dan Sakoling Mekar bagi orang dewasa. Program ini tidak hanya mengajarkan soal sampah, tetapi juga membangun kesadaran sejak usia dini.

Dian melihat ada ketimpangan dalam cara masyarakat memandang persoalan lingkungan, terutama pada anak-anak yang kerap disalahkan atas kondisi sekitar.

“Anak-anak selalu terhakimi ketika lingkungan kotor, tapi orang tuanya tidak memberi contoh,” kata Dian.

Menurutnya, pendekatan yang dilakukan justru harus dibalik. Bukan menyalahkan, melainkan menyadarkan semua pihak, termasuk orang dewasa sebagai role model utama.

“Yang tadinya tersalahkan, mereka yang harus tersadarkan,” lanjutnya.

Dampaknya, program Sakoling tidak hanya menumbuhkan kesadaran lingkungan bagi anak-anak. Namun, aktivitas yang diberikan mampu mengalihkan perhatian mereka dari kebiasaan pasif menjadi lebih aktif dan peduli terhadap lingkungan.

“Minimal anak bisa lepas dari gadget satu sampai dua jam,” ujar salah satu warga, Siti Oliah yang akrab disapa Enung (46).

Lebih dari itu, perubahan tersebut juga terlihat dari keberanian anak-anak dalam bersikap. Mereka tidak hanya memahami, tetapi juga mulai menerapkan nilai yang dipelajari dalam kehidupan sehari-hari.

“Di jalan juga, ‘Nenek, ini sampah, jangan buang di sini’. Dia sudah tahu,” timpal Hermawati (65) memperagakan ucapan cucunya yang berumur enam tahun.

Sakoling Mekar lebih dari itu. Limbah kantong plastik hasil dari Perelek Sampah sebagian diolah menjadi produk anyaman yang bermanfaat. Dari tas hingga sajadah, produk-produk ini membuktikan bahwa sampah dapat dijadikan sebagai produk ekonomis yang berdaya jual.

Nur Mulyani (kerudung biru) bersama Yoyoh dan seorang penjahit mengolah hasil sampah yang sudah dibersihkan menjadi karpet. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Nur Mulyani (kerudung biru) bersama Yoyoh dan seorang penjahit mengolah hasil sampah yang sudah dibersihkan menjadi karpet. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Bagi salah satu warga, Yoyoh (52), keterlibatannya dalam program ini memberikan kesempatan belajar yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Dari tidak memiliki keterampilan, ia kini bisa menciptakan karya dan merasakan nilai dari proses tersebut.

“Dari tadinya nggak bisa, sekarang jadi punya ilmu,” kata Yoyoh sambil menganyam tali kresek satu per satu membentuk ikatan kuat untuk tikar dari sampah.

Meskipun pendapatan yang didapat sering kali tidak besar dan tergantung pada pesanan, bagi Yoyoh hal itu tetap berarti. Ia merasa mandiri, terutama karena hasil yang diperoleh berasal dari usahanya sendiri.

Perasaan yang sama juga dirasakan oleh Nur Mulyani (50). Ia melihat program ini sebagai tambahan penghasilan sekaligus wadah produktif di tengah rutinitasnya.

“Ini mah hasil sendiri, bukan hasil suami. Jadi terbantu, buat uang sabun mah ada,” kata Nur sambil menganyam lembaran kresek lainnya.

Di antara para anggota, sosok Abah Oong mencerminkan bahwa program ini lebih dari sekadar kegiatan ekonomi. Pada usia 82 tahun, ia masih aktif berpartisipasi dan menemukan arti baru dalam kebersamaan.

“Kalau Abah ikut ini jadi lebih sehat sama terhibur,” ucap Abah Oong, sesekali melirik namun tetap fokus pada anyamannya sambil menyipitkan mata.

Ia merasa bahwa aktivitas ini membuatnya lebih bugar, baik secara fisik maupun mental. Bagi Abah, terus bergerak dan bersosialisasi merupakan cara untuk mempertahankan kualitas hidup di masa tua.

Dari Pengakuan hingga Pesanan dari Jerman

Salah satu titik penting dalam perkembangan komunitas ini adalah ketika produk hasil olahan sampahnya mulai mendapat lirikan dari pasar internasional.

“Yang pertama itu 300 lembar (puzzle tikar) untuk ke pameran di Jerman. Kemudian dompet 120 pieces,” ujar Dian.

Hasil olahan dari sampah kresek ini dibuat dalam berbagai bentuk seperti tas, dompet, tikar, sandal, kap lampu, hingga sajadah. Dipasarkan mulai dari harga Rp50 ribu hingga Rp250 ribu.

Sejak saat itu, kegiatan pengolahan sampah tidak lagi sekadar gerakan sosial, tetapi berkembang menjadi peluang ekonomi yang nyata.

Tidak hanya itu, Komunitas Masagi Tjibogo juga sempat meraih penghargaan sebagai Komunitas Terbaik Pelestari Citarum pada September 2024 dalam acara Festival Citarum.

Perkembangan ini menunjukkan bahwa upaya kecil yang dilakukan secara konsisten dapat menghasilkan dampak besar, baik dalam aspek lingkungan maupun ekonomi.

Menurut Dian, seluruh inisiatif ini berakar dari filosofi masagi, yaitu keseimbangan antara manusia, alam, dan kehidupan sosial. Ia menekankan bahwa perubahan tidak bisa hanya bergantung pada satu individu, tetapi perlu dibangun secara kolektif.

“Budaya tetap terjaga, sosial jalan, problem lingkungan teratasi,” ujar Dian.

Namun, tantangan tetap ada. Tidak semua orang mudah menerima atau memahami gerakan ini. Tetapi bagi Dian, hal itu adalah bagian dari proses panjang untuk menciptakan perubahan.

“Tidak ada Superman, yang ada Super Team,” pungkas Dian dengan nada serius diiringi tawanya.

Kisah dari Kampung Cibogo ini menunjukkan bahwa masalah besar seperti sampah bisa diselesaikan dengan langkah sederhana namun berdampak luas.

Melalui Komunitas Masagi Tjibogo dan Sakoling Mekar, sampah tidak lagi dilihat sebagai akhir, tetapi sebagai awal dari perubahan yang lebih berarti.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 23 Okt 2026, 20:14

Lemahneundeut, Jejak Tanah Neundeut atau Nendatan di Lereng Gunung

Lemahneundeut adalah masa tanah atau batuan yang bergerak ke bawah lereng.

Persawahan berteras-teras di Bandung Selatan, merupakan jejak lemahneundeut yang dikelola dengan baik. (Sumber: T. Bachtiar)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 19:17

Sosok Didi Petet sebagai Potret Bandung dalam Film Preman Pensiun

Didi Petet sudah meninggal beberapa tahun lalu, tapi sosoknya dalam film Preman Pensiun masih membekas, dan menjadi ingatan waktu yang tercermin dalam potret kehidupan sehari-hari di Bandung.

Ilustrasi Didi Petet. (Sumber: Gemini AI)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 18:31

Lebih Berani di Rumah daripada di Jenewa: Posisi Indonesia dalam Perundingan Plastik

Menurut KLH/BPLH, 202), porsi plastik dalam sampah nasional naik dari 11% pada 2010 menjadi hampir 20% pada 2024 dan dapat mencapai 50% pada 2050 tanpa intervensi seriu.

Warga memungut sampah botol dan gelas plastik di bawah jembatan Babakan Sapan (BBS) Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jumat 30 Juni 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 16:59

Kampus Bukan Tempat Pamer Knalpot: Saatnya Menjaga Kenyamanan Akademik di UIN Bandung Kampus I Cipadung

Knalpot bising di Kampus I UIN Bandung, Cipadung, mengganggu kenyamanan akademik. Saatnya bersama menjaga ketertiban kampus.

Ilustrasi knalpot brong. (Sumber: Pexels | Foto: Quốc Bùi)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 16:26

CCTV Merekam, tetapi Belum Tentu Mencegah: Keamanan Lingkungan Mahasiswa Perlu Tanggung Jawab Bersama

CCTV dapat membantu merekam kejadian, menyusun kronologi, dan memberikan petunjuk untuk mengidentifikasi orang yang diduga terlibat.

Ilustrasi CCTV. (Sumber: Pexels | Foto: Bezalens JGP)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 15:32

Kisah 101 FM : Ketika Radio Bandung Masih Siaran di Gelombang AM/MW

Dari kawasan Jalan Rajamantri Kulon, Bandung, stasiun radio ini mengudara melalui jalur FM (Frequency Modulation).

Radio 101 FM Bandung, salah satu pelopor siaran radio di jalur FM di Kota Bandung pada era 1980-an hingga 1990-an. (Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 14:41

Taman Wisata Goa Sunyaragi Cirebon

Taman Wisata Goa Sunyaragi adalah salah satu wisata bersejarah di Kota Cirebon yang menyimpan banyak cerita menarik.

Taman Wisata Goa Sunyaragi Cirebon (11/10/26). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 13:00

BRT Bandung Dibangun untuk Mengurai Kemacetan, Mengapa Masyarakat Justru Menanggung Dampaknya?

Pembangunan Bus Rapid Transit Bandung Raya diharapkan mengurangi kemacetan. Namun, dampak proyek halte menimbulkan pertanyaan tentang tanggung jawab pemerintah dalam menjaga kenyamanan masyarakat.

Halte BRT di Jalan Ahmad Yani, Cicadas termasuk tipe B dimana halte berada di antara jalan satu arah dengan 4 lajur. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 12:41

Mewujudkan Bandung Kota Jamu, Merawat Warisan Inggit Garnasih

Salah satu contoh inovasi Jamu kekinian di Bandung adalah Paduan Rempah, usaha minuman herbal yang dirintis Ahmad Hikmat Rahayu bersama istrinya

Acaraki Jamu tak sekadar menjual minuman herbal, tetapi menyuguhkan pengalaman gaya hidup yang berakar pada warisan budaya. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 11:27

Demam Aplikasi Pemda: Solusi Pelayanan Publik atau Cuma Proyek 'Sampah Digital'?

Membahas masalah aplikasi pemerintah yang belum efektif serta pentingnya digitalisasi pelayanan publik yang berorientasi pada kemudahan, keamanan, dan kebutuhan masyarakat.

Foto seseorang menggunakan ponsel. (Sumber: Pexels | Foto: Towfiqu barbhuiya)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 10:17

Menengok Terminal Ledeng, Menengok Diri Sendiri

Terminal Ledeng mengingatkan saya bahwa kita tidak pernah benar-benar berjalan di tempat yang sama, bahkan ketika melewati jalan yang benar-benar sama.

Terminal Ledeng, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 20:08

Sepuluh Tahun Wacana: Lampu Merah Soekarno-Hatta Menunggu Jawaban

Lampu merah Kiaracondong disebut jenuh sejak 2016, dan hingga kini masih bisa mencapai 12 menit. Mengapa solusi struktural belum juga datang?

Lampu merah Kiaracondong. (Sumber: Harun Yahya)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 19:29

Membangun Budaya K3 untuk Mencegah Kebakaran di Kota Bandung

Dengan budaya K3 yang kuat, pelatihan APAR yang tepat, dan partisipasi masyarakat, Kota Bandung lebih aman dari ancaman kebakaran.

Apel kesiapan petugas damkar kota Bandung. (Sumber: Bandung.go.id)
Sejarah 22 Okt 2026, 12:36

Hikayat Resolusi Jihad dan Lahirnya Hari Santri

Resulusi Jihad menjadi pembakar jiwa nasionalisme para santri untuk mempertahankan kemerdekaan. Resolusi yang dikeluarkan pada 22 Oktober 1945 saat ini diperingati sebagai Hari Santri Nasional

Ilustrasi Resolusi Jihad yang menjadi latar belakang diperingatinya Hari Santri Nasional (Foto: artificial intelligence)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 09:04

Polisi, Massa Hitam, dan Keamanan Kota Bandung

Dalam merespon demonstrasi, kemampuan membedakan aksi damai dan serangan terorganisir sangat penting.

Massa yang terdiri dari mahasiswa dan elemen masyarakat menggelar demo di sekitar Tugu Simpang Lima, Kota Bandung, pada Selasa (20/10/2026) sore (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rachmadi Rasyad)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 07:54

Menilik Komitmen Green Campus UIN SGD Bandung di Tengah Dominasi Kendaraan Pribadi

Kampus tidak hanya berfungsi sebagai ruang untuk mengembangkan pengetahuan, tapi juga menjadi tempat di mana kesadaran ekologis harus ditanamkan.

Suasana salah satu parkiran UIN SGD Bandung Kampus 1 di siang hari, Selasa (5/5/2026). (Foto: Meyliana Sofiyanti)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:53

Gambut Oh Gambut

Ulasan tentang tanah gambut

Gambut oh Gambut (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:12

Darurat Curanmor di Peundeuy Cicalengka: Saatnya Pemilik Kontrakan Bertanggung Jawab

Maraknya kasus curanmor hingga 7-10 per bulan di Peundeuy Cicalengka menuntut pergerakan pemilik kontrakan agar lebih tegas dan serius dalam mendata identitas penghuni baru.

Bisnis kontrakan daerah Peundeuy, Cicalengka. (Sumber: Pribadi | Foto: Intan oktari ramadhani)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 18:16

Lawan Arah Bukan Jalan Pintas: Saatnya Tertib di Jalan Rancaekek

Kebiasaan berbahaya pesepeda motor yang melawan arah di Jalan Raya Bandung–Garut, Rancaekek.

para pengendara yang melawan arus di Rancaekek. (Sumber: Ayojelajah.id)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 17:03

Selamat Ulang Tahun Lembang ke-144

Tahun ini, Lembang menginjak usia 144 tahun, tepat pada Jumat, 16 Oktober 2026.

Komunitas pelajar pecinta seni dan budaya, sesaat setelah penampilan sendra tari "Lembang Bihari ka Lembang Kiwari". (Sumber: Indra Riyadi)