Masagi Tjibogo, Kekuatan Warga Lokal Mengolah Sampah Hingga Produknya Tembus Pasar Global

Halwa Raudhatul
Ditulis oleh Halwa Raudhatul diterbitkan Senin 13 Apr 2026, 09:11 WIB
Abang Oyong yang sudah memasuki usia 80-an membantu membuat karpet hasil olahan sampah di Komunitas Masagi Tjibogo. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Abang Oyong yang sudah memasuki usia 80-an membantu membuat karpet hasil olahan sampah di Komunitas Masagi Tjibogo. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

AYOBANDUNG.ID - Berangkat dari keresahan atas persoalan sampah yang tak kunjung tuntas di lingkungan tempat tinggalnya, Komunitas Masagi Tjibogo lahir sebagai inisiatif warga Kampung Cibogo, Kota Bandung, pada 2019. Komunitas ini dibangun atas kesadaran bahwa persoalan lingkungan tidak hanya soal teknis pengelolaan, melainkan juga berkaitan erat dengan perilaku dan budaya masyarakat, sehingga perubahan harus dimulai dari akarnya yaitu manusia itu sendiri.

Sampah yang menumpuk di sudut-sudut Kampung Cibogo, Kecamatan Sukjadi, Kota Bandung, pernah menjadi bagian dari pemandangan yang lumrah bagi warga setempat. Sampah yang tidak terpilah, saluran air yang tersumbat, dan banjir saat hujan deras adalah masalah yang terus terjadi. Dari situ, muncul keprihatinan yang perlahan-lahan menjadi sebuah gerakan.

“Awal mula terbentuk Komunitas Masagi Tjibogo di tahun 2019 berdasarkan keresahan saya dan tim pendiri,” kata Founder Komunitas Masagi Tjibogo, Dian Nurdyana (48), saat ditemui di rumah warga, Kamis, 9 April 2026.

Founder Komunitas Masagi Tjibogo, Dian Nurdyana. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Founder Komunitas Masagi Tjibogo, Dian Nurdyana. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Kata Masagi sendiri diambil dari Bahasa Sunda yang artinya mandiri. Kemudian, Tjibogo adalah nama kampung tempat Dian dan tim pendiri tinggal. Diksinya menggunakan ejaan lama memang disengaja, karena preferensi dari Dian dan tim pada saat itu.

Tujuh tahun hadir menjadi wadah kolektif warga di bidang lingkungan, Komunitas Masagi Tjibogo memiliki tiga program yang dijalankan, yakni: Perelek Sampah, Urban Farming, dan Sakoling (Sakola Lingkungan).

Kondisi medan jalan di kawasan Cibogo yang menanjak dan dekat dengan sungai kecil membuat kawasan ini rawan digenangi air. Dian mengamati bahwa kondisi lingkungan saat itu sangat memprihatinkan, di mana sampah sering kali menghalangi aliran air dan membawa dampak banjir ketika hujan deras. Dari pengamatan itu, Dian menyadari bahwa masalah lingkungan tidak terpisah dari perilaku manusia.

“Sampah tidak akan beres sampai kiamat. Karena sumber masalahnya ada di manusia,” lanjut Dian.

Ia kemudian mengubah cara pendekatannya, tidak hanya fokus pada penanganan sampah, tetapi juga berupaya meningkatkan kesadaran masyarakat.

Langkah awal yang diambil oleh Komunitas Masagi Tjibogo tidak langsung menuai hasil. Program bank sampah yang berjalan selama dua tahun awal mengalami berbagai tantangan, seiring berjalannya waktu masyarakat semakin malas untuk menyetorkan sampahnya.

“Akhirnya kami ubah ke ‘Perelek Sampah’. Bukan menunggu bola, tapi menjemput bola,” ujar Dian sambil tersenyum.

Ibu-ibu di Cibogo, Kecamatan Sukajadi mengolah sampah rumah tangga yang memberikan perubahan terhadap kehidupan sosial dan ekonomi warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ibu-ibu di Cibogo, Kecamatan Sukajadi mengolah sampah rumah tangga yang memberikan perubahan terhadap kehidupan sosial dan ekonomi warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Dari program bank sampah yang dirasa tidak efektif itu, komunitas mulai mengadaptasi istilah budaya lokal: perelek. Perelek biasanya identik dengan sumbangan beras. Kini, Dian mengambil istilah itu menjadi konsep pengumpulan sampah secara kolektif.

Konsep ini memungkinkan warga ikut berpartisipasi tanpa harus datang ke titik pengumpulan. Dibantu oleh lima orang Tim Perelek, pengambilan dilakukan tiga kali dalam seminggu ke setiap rumah warga yang sampahnya sudah dipilah berdasarkan organik dan anorganik.

Dian menjelaskan bahwa pendekatan ini tidak hanya melestarikan nilai budaya, tetapi juga menguatkan solidaritas sosial serta menyelesaikan masalah lingkungan secara bersamaan.

Sakola Lingkungan

Kemajuan komunitas ini melahirkan program Sakoling atau Sakola Lingkungan. Sakoling ini ada dua, yakni Sakoling Tunas bagi anak SD hingga SMP, dan Sakoling Mekar bagi orang dewasa. Program ini tidak hanya mengajarkan soal sampah, tetapi juga membangun kesadaran sejak usia dini.

Dian melihat ada ketimpangan dalam cara masyarakat memandang persoalan lingkungan, terutama pada anak-anak yang kerap disalahkan atas kondisi sekitar.

“Anak-anak selalu terhakimi ketika lingkungan kotor, tapi orang tuanya tidak memberi contoh,” kata Dian.

Menurutnya, pendekatan yang dilakukan justru harus dibalik. Bukan menyalahkan, melainkan menyadarkan semua pihak, termasuk orang dewasa sebagai role model utama.

“Yang tadinya tersalahkan, mereka yang harus tersadarkan,” lanjutnya.

Dampaknya, program Sakoling tidak hanya menumbuhkan kesadaran lingkungan bagi anak-anak. Namun, aktivitas yang diberikan mampu mengalihkan perhatian mereka dari kebiasaan pasif menjadi lebih aktif dan peduli terhadap lingkungan.

“Minimal anak bisa lepas dari gadget satu sampai dua jam,” ujar salah satu warga, Siti Oliah yang akrab disapa Enung (46).

Lebih dari itu, perubahan tersebut juga terlihat dari keberanian anak-anak dalam bersikap. Mereka tidak hanya memahami, tetapi juga mulai menerapkan nilai yang dipelajari dalam kehidupan sehari-hari.

“Di jalan juga, ‘Nenek, ini sampah, jangan buang di sini’. Dia sudah tahu,” timpal Hermawati (65) memperagakan ucapan cucunya yang berumur enam tahun.

Sakoling Mekar lebih dari itu. Limbah kantong plastik hasil dari Perelek Sampah sebagian diolah menjadi produk anyaman yang bermanfaat. Dari tas hingga sajadah, produk-produk ini membuktikan bahwa sampah dapat dijadikan sebagai produk ekonomis yang berdaya jual.

Nur Mulyani (kerudung biru) bersama Yoyoh dan seorang penjahit mengolah hasil sampah yang sudah dibersihkan menjadi karpet. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Nur Mulyani (kerudung biru) bersama Yoyoh dan seorang penjahit mengolah hasil sampah yang sudah dibersihkan menjadi karpet. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Bagi salah satu warga, Yoyoh (52), keterlibatannya dalam program ini memberikan kesempatan belajar yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Dari tidak memiliki keterampilan, ia kini bisa menciptakan karya dan merasakan nilai dari proses tersebut.

“Dari tadinya nggak bisa, sekarang jadi punya ilmu,” kata Yoyoh sambil menganyam tali kresek satu per satu membentuk ikatan kuat untuk tikar dari sampah.

Meskipun pendapatan yang didapat sering kali tidak besar dan tergantung pada pesanan, bagi Yoyoh hal itu tetap berarti. Ia merasa mandiri, terutama karena hasil yang diperoleh berasal dari usahanya sendiri.

Perasaan yang sama juga dirasakan oleh Nur Mulyani (50). Ia melihat program ini sebagai tambahan penghasilan sekaligus wadah produktif di tengah rutinitasnya.

“Ini mah hasil sendiri, bukan hasil suami. Jadi terbantu, buat uang sabun mah ada,” kata Nur sambil menganyam lembaran kresek lainnya.

Di antara para anggota, sosok Abah Oong mencerminkan bahwa program ini lebih dari sekadar kegiatan ekonomi. Pada usia 82 tahun, ia masih aktif berpartisipasi dan menemukan arti baru dalam kebersamaan.

“Kalau Abah ikut ini jadi lebih sehat sama terhibur,” ucap Abah Oong, sesekali melirik namun tetap fokus pada anyamannya sambil menyipitkan mata.

Ia merasa bahwa aktivitas ini membuatnya lebih bugar, baik secara fisik maupun mental. Bagi Abah, terus bergerak dan bersosialisasi merupakan cara untuk mempertahankan kualitas hidup di masa tua.

Dari Pengakuan hingga Pesanan dari Jerman

Salah satu titik penting dalam perkembangan komunitas ini adalah ketika produk hasil olahan sampahnya mulai mendapat lirikan dari pasar internasional.

“Yang pertama itu 300 lembar (puzzle tikar) untuk ke pameran di Jerman. Kemudian dompet 120 pieces,” ujar Dian.

Hasil olahan dari sampah kresek ini dibuat dalam berbagai bentuk seperti tas, dompet, tikar, sandal, kap lampu, hingga sajadah. Dipasarkan mulai dari harga Rp50 ribu hingga Rp250 ribu.

Sejak saat itu, kegiatan pengolahan sampah tidak lagi sekadar gerakan sosial, tetapi berkembang menjadi peluang ekonomi yang nyata.

Tidak hanya itu, Komunitas Masagi Tjibogo juga sempat meraih penghargaan sebagai Komunitas Terbaik Pelestari Citarum pada September 2024 dalam acara Festival Citarum.

Perkembangan ini menunjukkan bahwa upaya kecil yang dilakukan secara konsisten dapat menghasilkan dampak besar, baik dalam aspek lingkungan maupun ekonomi.

Menurut Dian, seluruh inisiatif ini berakar dari filosofi masagi, yaitu keseimbangan antara manusia, alam, dan kehidupan sosial. Ia menekankan bahwa perubahan tidak bisa hanya bergantung pada satu individu, tetapi perlu dibangun secara kolektif.

“Budaya tetap terjaga, sosial jalan, problem lingkungan teratasi,” ujar Dian.

Namun, tantangan tetap ada. Tidak semua orang mudah menerima atau memahami gerakan ini. Tetapi bagi Dian, hal itu adalah bagian dari proses panjang untuk menciptakan perubahan.

“Tidak ada Superman, yang ada Super Team,” pungkas Dian dengan nada serius diiringi tawanya.

Kisah dari Kampung Cibogo ini menunjukkan bahwa masalah besar seperti sampah bisa diselesaikan dengan langkah sederhana namun berdampak luas.

Melalui Komunitas Masagi Tjibogo dan Sakoling Mekar, sampah tidak lagi dilihat sebagai akhir, tetapi sebagai awal dari perubahan yang lebih berarti.

News Update

Ayo Netizen 13 Apr 2026, 10:24

Intelektual, Masyarakat Sipil, dan Perubahan Sosial

Di tengah kondisi yang tidak pasti saat ini, kita membutuhkan intelektual yang mampu berpikir jernih, masyarakat sipil yang kuat, dan keberanian untuk melakukan perubahan sosial.

Calon jemaah haji saat kegiatan pelepasan manasik haji di Masjid Pusat Dakwah Islam (Pusdai), Kota Bandung, Rabu (1/4/2026). (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Komunitas 13 Apr 2026, 09:11

Masagi Tjibogo, Kekuatan Warga Lokal Mengolah Sampah Hingga Produknya Tembus Pasar Global

Komunitas Masagi Tjibogo mengolah sampah berbasis budaya lokal, membangun kesadaran warga, sekaligus menciptakan produk bernilai ekonomi yang menembus pasar global.

Abang Oyong yang sudah memasuki usia 80-an membantu membuat karpet hasil olahan sampah di Komunitas Masagi Tjibogo. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Komunitas 13 Apr 2026, 05:25

Bandung Berpuisi Buka Panggung, Siapa Saja Bisa Bersuara Lewat Kata

Komunitas Bandung Berpuisi menghadirkan panggung terbuka melalui Open Mic Vol. 17 sebagai ruang ekspresi bagi siapa saja untuk membacakan karya, sekaligus mendekatkan puisi kepada masyarakat.

Puluhan penampil memeriahkan Open Mic Vol. 17 Bandung Berpuisi untuk mengekspresikan karya dan merayakan puisi secara langsung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Sejarah 12 Apr 2026, 14:38

Sejarah Letusan Galunggung 1982, Sembilan Bulan Bencana Vulkanik di Jawa Barat

Letusan Galunggung 1982 berlangsung sembilan bulan, memicu pengungsian massal, kerusakan luas, dan menjadi salah satu bencana vulkanik terbesar di Jawa Barat.

Letusan Galunggung 1982. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 12 Apr 2026, 13:26

4 Ide Cerita untuk Kamu yang Merasa 'Terasing' di Bandung Kampung Halamanmu

Kita berdiri di kota tempat lahir, tapi merasa seperti tamu.

Wisata kuda tunggang di kawasan Jalan Cilaki, Kota Bandung, Rabu 25 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejarah 12 Apr 2026, 09:39

Hikayat Kampung Adat Mahmud, Penyebaran Islam hingga Larangan Menabuh Gong

Kampung Adat Mahmud di Bandung menyimpan sejarah penyebaran Islam, tradisi rumah panggung, dan larangan menabuh gong yang masih dijaga.

Kampung Mahmud, Bandung. (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 12 Apr 2026, 08:52

Bandung Era 1990-an dalam Ingatan Anak Kost

Bandung era 90-an, bagi saya, bukan sekadar kenangan. Ia adalah rumah yang selalu bisa saya kunjungi, kapan saja, dalam ingatan.

Anak kost era 1990-an, bersahabat dengan Erwan Setiawan, kini Wagub Jawa Barat. Kenangan sederhana yang tak lekang waktu. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)
Beranda 11 Apr 2026, 08:51

JPO Berkarat dan Berlubang Membahayakan Pelajar di Batas Kota Bandung–Cimahi, Tanggung Jawab Siapa?

JPO di Jalan Amir Machmud rusak parah: lantai berlubang, berkarat, dan tanpa atap pelindung, membahayakan pejalan kaki terutama pelajar.

Pelejar berjalan di JPO di Jalan Amir Machmud, perbatasan Kota Bandung dan Cimahi, Jumat, 10 April 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 10 Apr 2026, 20:01

Antara Bandung yang Kubayangkan dan Kenyataan yang Kutemui

Bagi banyak orang, Bandung selalu punya tempat istimewa dalam imajinasi.

Jalan Asia-Afrika, depan Alun-Alun Kota Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Suci Firda)
Ayo Netizen 10 Apr 2026, 18:23

WFH sebagai Cermin Budaya Kerja Aparatur

Hilangnya kehadiran fisik dalam WFH menantang organisasi untuk membangun sistem penilaian kerja yang berbasis output dan tanggung jawab.

Ilustrasi Aparatur Sipil Negara (ASN). (Sumber: Diskominfo Depok)
Bandung 10 Apr 2026, 16:36

Mengenal Dongmoon Dimsum, Ikon Kuliner Baru di Pasar Cihapit yang Viral Lewat Varian Mentai

Di tengah gempuran tren kuliner viral yang silih berganti, Dongmoon Dimsum tetap kokoh menancapkan eksistensinya, memperkuat jajaran destinasi kuliner di Pasar Cihapit, Bandung.

Di tengah gempuran tren kuliner viral yang silih berganti, Dongmoon Dimsum kokoh menancapkan eksistensinya, memperkuat jajaran destinasi kuliner di Pasar Cihapit, Bandung. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Iqbal Roem)
Ikon 10 Apr 2026, 15:17

Sejarah Istana Cipanas, Warisan Kolonial di Kaki Gunung Gede Pangrango

Istana Cipanas bermula dari rumah singgah abad ke-18, berkembang menjadi istana kepresidenan yang menyimpan jejak kolonial, perang, hingga keputusan penting negara

Lukisan Istana Cipanas, Cianjur, tahun 1880-1890-an. (Sumber: Tropenmuseum)
Wisata & Kuliner 10 Apr 2026, 13:26

Jelajah Wisata Pangalengan dengan Pilihan Tempat Menginapnya

Pangalengan punya sejarah penginapan panjang, dari Berghotel hingga glamping modern di Rahong dan Situ Cileunca dengan nuansa alam yang menenangkan.

Muara Rahong Hills, salah satu glamping tempat menginap wisatawan di Pangalengan. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 10 Apr 2026, 13:18

Panduan Wisata Gunung Guntur, "Semeru"-nya Jawa Barat dengan Panorama Spektakuler

Gunung Guntur menawarkan jalur berpasir terjal, panorama pegunungan luas, serta pengalaman mendaki unik di gunung berapi aktif dekat pusat Kota Garut.

Gunung Guntur dilihat dari kawasan pemandian Cipanas, Garut (Sumber: Wikimedia)
Beranda 10 Apr 2026, 09:29

Power of Ibu-ibu Cibogo Mengubah Sampah Jadi Gerakan Kolektif yang Berdampak Nyata

Power of Ibu-Ibu Cibogo mengubah pengelolaan sampah rumah tangga menjadi gerakan kolektif yang berdampak, menghadirkan solusi lingkungan sekaligus manfaat sosial dan ekonomi bagi warga.

Ibu-ibu di Cibogo, Kecamatan Sukajadi mengolah sampah rumah tangga yang memberikan perubahan terhadap kehidupan sosial dan ekonomi warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 10 Apr 2026, 08:30

Tren Rambut Lady Diana

Kehebohan para wanita Kota Bandung dari berbagai kalangan usia meniru gaya rambut Lady Diana saat tahun 1980-an

Lady Diana. (Sumber: Flickr | Foto: Joe Haupt)
Bandung 09 Apr 2026, 19:40

Urgensi Literasi Keuangan dan Akselerasi Sektor Riil demi Resiliensi Ekonomi Jawa Barat

Di tengah derasnya arus digitalisasi keuangan, Jawa Barat menghadapi tantangan besar: bagaimana memastikan inklusi keuangan berjalan selaras dengan literasi?

Ilustrasi. Di tengah derasnya arus digitalisasi keuangan, Jawa Barat menghadapi tantangan besar bagaimana memastikan inklusi keuangan berjalan selaras dengan literasi. (Sumber: Ayobiz.id/Gemini Generated)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 18:18

Asyiknya Berburu Koran Era 2000-an

Berburu koran tidak hanya mencari informasi, berita, ilmu pengetahuan, melainkan momentum bersejarah saat menerima (menjemput), ikhtiar, harapan dan kenyataan untuk terus belajar sepanjang hayat.

Aa Akil, anak kedua tengah asyik baca koran, Sabtu (4/4/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)
Wisata & Kuliner 09 Apr 2026, 16:40

Wisata Pantai Patimban, Pesisir Subang Utara yang jadi Pelabuhan Logistik

Pantai Patimban tawarkan sunset, kuliner laut, dan suasana santai, namun kini berubah sejak hadirnya Pelabuhan Internasional.

Pantai Patimban Subang. (Sumber: Wikimedia)
Beranda 09 Apr 2026, 16:39

Beralih ke Motor Listrik, Ojol Hadapi Dilema Antara Hemat Biaya dan Keterbatasan Jarak

Peralihan ojol ke motor listrik menghadirkan efisiensi biaya, namun dibayangi tantangan jarak tempuh dan infrastruktur, memaksa pengemudi lebih cermat mengatur strategi kerja.

Rizki Ahmad sedang melakukan pengisian baterai motor listrik di Kantor Pos Ujung Berung Kota Bandung, pada Kamis, 9 April 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Toni Hermawan)