AYOBANDUNG.ID - Sungai sepanjang 28 kilometer yang membelah Kota Bandung ini bukan sekadar aliran air, melainkan bagian vital dari DAS Citarum. Di balik jernihnya riak air di kawasan Cikalapa saat ini, tersimpan memori kolektif tentang perubahan drastis kualitas lingkungan selama empat dekade terakhir.
Bagi masyarakat Sunda, nama "Cikapundung" merujuk pada pohon buah kapundung yang dahulu rimbun menaungi bantarannya. Iin Ina Marsina (60), Humas Komunitas Cika-Cika, mengingat betul bagaimana sungai ini pernah menjadi tumpuan hidup harian warga.
“Kalau tahun 1980 mah, air Sungai Cikapundung itu masih bisa dipakai mandi, nyuci, bahkan diminum,” ucap Iin dengan nada yang sedikit melambat.
Memasuki era 1990-an, wajah sungai berubah akibat urbanisasi yang masif. Bantaran beralih fungsi menjadi pemukiman padat yang membawa persoalan limbah domestik serius.
“Ke sini-ke sininya (sungai) mulai tercemar, banyak pendatang, bantaran jadi pemukiman, akhirnya sampah juga ikut banyak,” lanjut Iin. Saat itu, tumbuhan liar dan pohon tumbang menutup akses warga menuju sungai, menciptakan kesan lahan tak bertuan yang terbengkalai.
Perubahan
Titik balik bermula dari keprihatinan sekelompok warga terhadap kondisi fisik sungai yang kian tertutup sampah. Mereka memulai langkah dari hal paling mendasar: membuka kembali akses ke sungai.
“Kondisinya waktu itu banyak sampah, tidak terawat, bahkan pohon-pohon juga banyak yang tumbang,” kata Iin. Langkah spontan diambil untuk mengubah persepsi publik bahwa sungai bukanlah tempat pembuangan sampah rumah tangga yang lumrah.
“Awalnya mah sederhana, ‘urang bebersih yuk’. Dari situ sebagian mulai ngababad (membersihkan) rumput, terus sebagian bersihin sampah di sungai,” ucap Iin.
Keberhasilan pemulihan ekosistem ini kini dapat diukur secara kuantitatif. Intensitas sampah yang terbawa arus maupun yang dibuang sembarangan menunjukkan tren penurunan yang sangat tajam.
“Dulu pernah sampai satu ton lebih sampah terkumpul dalam satu kegiatan clean up sungai, sekarang paling sekitar 100 kilo,” kata Iin.
Selain pengangkutan fisik, limbah tersebut dikonversi melalui metode teknis lingkungan. Imah Maggot Bantaran (IMB) mampu menyerap hingga 75 kilogram sampah organik harian. Hasilnya, berupa kompos dan eco-enzyme, dikembalikan lagi ke ekosistem sungai.
“Lewat maggot, kita bisa mengurangi sampai satu ton sampah organik dalam satu bulan,” ucap Iin.

Kolaborasi dengan Kampus
Upaya Cika-Cika kini berkembang menjadi pendekatan konservasi holistik melalui Gerakan Pungut Sampah (GPS) yang berkelanjutan.
“Biasanya kita mulai dari GPS, bersih-bersih sungai, setelah itu dilanjut penanaman pohon, tebar bibit ikan, lepas burung, dan penumpahan eco-enzyme,” jelas Iin.
Strategi ini tidak hanya memulihkan visual sungai, tetapi juga menghidupkan kembali rantai makanan alami di dalamnya. Hal ini menarik perhatian dunia akademis, menjadikan Cikapundung sebagai laboratorium hidup bagi institusi seperti ITB, Unpad, Unpas, Unisba, hingga UIN Bandung.
Kolaborasi ini diharapkan melahirkan solusi teknologi jangka panjang. “Harapannya ada kolaborasi dari perguruan tinggi itu pengen ada filterisasi air di sini. Biar air nya bisa diminum,” ucap Iin tertawa tipis.
Meski tantangan perubahan pola pikir belum sepenuhnya merata, cita-cita warga tetap melaju. “Kedepannya pengen ada alat pencacah sampah supaya pengolahan lebih maksimal. PR masih banyak, tapi kita tetap jalan,” pungkas Iin.
