Menagih Janji Saat Kampanye Kang Farhan: Mengapa Kota Bandung Raih Gelar Kota Termacet No. 1 di Indonesia?

4 menit baca
Dudung Ridwan
Ditulis oleh Dudung Ridwan diterbitkan
Kemacetan di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Muslim Yanuar Putra)
Kemacetan di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Muslim Yanuar Putra)

RUPANYA persaingan Bandung vs Jakarta tidak hanya terjadi di olahraga sepakbola—Persib vs Persija atau Bobotoh vs The Jak—tapi juga di bidang “kemacetan” lalu lintas kotanya. Persib berprestasi bagus bisa mempertahankan juara Liga 1 dua kali berturut-turut, tapi kotanya, Bandung, tidak berprestasi bagus di bidang menanggulangi kemacetan kotanya dan justru sebaliknya harus menyandang gelar “tidak menyenangkan” sebagai “Kota Nomor 1 Termacet di Indonesia 2024” versi TomTom Traffic Index 2024. 

Sementara, Persija gagal sebagai Juara Liga 1, tapi kotanya Jakarta tak lagi mendapat sebutan sebagai Kota Termacet di Indonesia. Dalam catatan TomTom, Jakarta berada di peringkat 5, di bawah Kota Bandung, Medan, Surabaya, dan Palembang. 

Dalam sebuah podcast bersama Wali Kota Bandung Muhammad Farhan, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung disebut Farhan seolah menyindir dirinya, “Maaf, kini Jakarta tak lagi disebut sebagai kota termacet di Indonesia.”

Mengapa Kota Bandung menyandang sebagai “Kota Nomor 1 Termacet di Indonesia 2024? Dalam penelitian TomTom, disebutkan rata-rata waktu tempuh di kota yang mendapat julukan “Kota Kembang” itu mencapai 32 menit 37 detik per 10 kilometer. Dengan acuan angka tersebut, tak heran TomTom mendapuk Kota Bandung berperingkat nomor 1 di Indonesia dan berperingkat ke-12 di dunia dalam kategori waktu terlama yang hilang di jam sibuk.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, pun bereaksi. Sebab, salah satu janjinya dalam kampanye dulu ia akan membenahi masalah kemacetan di Kota Bandung. Ia mempertanyakan akurasi dan metodologi di balik pemeringkatan TomTom. 

Ralf-Peter Schaefer, VP Product Management Traffic and Travel Information TomTom, dikutip dari Ayobandung.id menyebut, perusahaannya telah berkecimpung selama 25 tahun di bidang analisis kemacetan. TomTom mengumpulkan data lalu lintas berdasarkan lokasi kendaraan yang terhubung ke sistem navigasi dan peta digital TomTom. 

“Kami melacak kecepatan dan titik-titik kemacetan berdasarkan data kendaraan yang bergerak di jalanan. Jika laju kendaraan melambat, rutenya akan ditandai merah,” ujarnya sambil memperlihatkan data penuh angka dan kotak yang berwarna-warni.

Data yang dikumpulkan tidak hanya berasal dari pengguna kendaraan pribadi, tetapi juga berbagai sumber lain termasuk transportasi umum dan perangkat ponsel. Dia mengatakan TomTom terhubung dengan sekitar 2050 sumber data di seluruh dunia untuk memetakan soal pergerakan kendaraan ini.

Kemacetan bukan sekadar gangguan lalu lintas, tapi cerminan tata kelola kota yang belum sepenuhnya adaptif terhadap lonjakan urbanisasi dan perubahan perilaku mobilitas warganya. (Sumber: Ayobandung.id)
Kemacetan bukan sekadar gangguan lalu lintas, tapi cerminan tata kelola kota yang belum sepenuhnya adaptif terhadap lonjakan urbanisasi dan perubahan perilaku mobilitas warganya. (Sumber: Ayobandung.id)

TomTom Traffic Index menghitung rata-rata waktu tempuh untuk perjalanan sejauh 10 km di masing-masing kota. Selain itu, juga dihitung total waktu yang hilang akibat kemacetan pada jam sibuk selama satu tahun. Di Bandung--menurut TomTom--waktu yang hilang dalam setahun karena kemacetan mencapai 108 jam dalam setahun atau setara dengan empat setengah hari.

Dalam waktu tempuh perjalanan 10 kilometer, Bandung mengungguli Medan (32 menit 3 detik), Palembang (27 menit 55 detik), Surabaya (26 menit 59 detik), dan Jakarta (25 menit 31 detik). Kendati Jakarta memiliki tingkat kemacetan lebih tinggi (43%), waktu tempuhnya lebih singkat dari Bandung, menjadikan ibu kota hanya berada di urutan ke-5 nasional.

“Pemeringkatan ini kami dasarkan pada durasi perjalanan, bukan semata-mata jumlah kendaraan,” jelas Ralf. Ia menambahkan, perbandingan dilakukan secara global untuk melihat efektivitas mobilitas perkotaan, khususnya saat jam sibuk ketika orang pergi atau pulang kerja.

Muhammad Farhan tak menampik di sejumlah titik Kota Bandung sering terjadi kemacetan. Terutama di 3 titik utama ini. Titik pertama, adalah Jalan Sukarno Hatta dari barat hingga ke timur karena jalan ini merupakan jalan akses utama warga--baik dari barat, selatan, dan timur—menuju Kota Bandung. Biasanya kemacetan terjadi di pukul 6 hingga pukul 10 pagi  dan bubar jam kantor pukul 16.00-19.00 WIB. Titik kedua Jalan Ahmad Yani hingga Jalan A.H. Nasution; dan titik ketiga adalah tiga ruas jalan menuju ke utara—Jalan Ir. H. Juanda (Dago), Sukajadi, dan Setiabudi—Di sini pagi kepadatan biasa saja, tapi kepadatan mulai pukul 16.00 hingga jam 7 malam.

Catatan penulis masih ada titik-titik kemacetan: Jalan Kiaracondong; Jalan Kopo (Wahid Hasyim), Jalan Buah Batu dan Terusan Buah Batu, dan Jalan Asia Afrika.

Pernyataan Ralf-Peter Schaefer dari TomTom rupanya sejalan dengan upaya Farhan yang tengah mencari  solusi kemacetan berbasis teknologi. Selama ini Farhan menyoroti pentingnya pengaturan waktu dan pemanfaatan sistem kendali lalu lintas seperti ATCS untuk mengatur durasi lampu merah secara real-time. Langkah-langkah ini diambil karena kemacetan masih menjadi persoalan utama di sejumlah titik persimpangan Kota Bandung. 

Dikatakan Farhan, tak segan ingin mengundang TomTom bekerja sama dengan mereka dan siapa tahu mereka bisa membantu memecahkan kemacetan di Kota Bandung.

Baca Juga: Warga Bandung Menilai Fasilitas dan Akses Ruang Terbuka Hijau Masih Belum Memadai

6 penyebab Kemacetan di Kota Bandung

1. Bertambahnya volume kendaraan;

2. Bertambahnya tempat berbelanja;

3. Lampu merah yang lama;

4. Angkot yang sering berhenti;

5. pasar kaget.

6. bubaran kantor. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 04 Nov 2026, 10:18

Travel, Jalan Tol dan Perbincangan di Dalamnya

Banyak cerita-cerita yang hanya ada di perjalanan, tentang mereka yang terus berjuang di tengah kemegahan zaman.

Kemacetan akibat perbaikan dan pemeliharaan jalan di Tol Cikopo- Palimanan (Cipali). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)