RUPANYA persaingan Bandung vs Jakarta tidak hanya terjadi di olahraga sepakbola—Persib vs Persija atau Bobotoh vs The Jak—tapi juga di bidang “kemacetan” lalu lintas kotanya. Persib berprestasi bagus bisa mempertahankan juara Liga 1 dua kali berturut-turut, tapi kotanya, Bandung, tidak berprestasi bagus di bidang menanggulangi kemacetan kotanya dan justru sebaliknya harus menyandang gelar “tidak menyenangkan” sebagai “Kota Nomor 1 Termacet di Indonesia 2024” versi TomTom Traffic Index 2024.
Sementara, Persija gagal sebagai Juara Liga 1, tapi kotanya Jakarta tak lagi mendapat sebutan sebagai Kota Termacet di Indonesia. Dalam catatan TomTom, Jakarta berada di peringkat 5, di bawah Kota Bandung, Medan, Surabaya, dan Palembang.
Dalam sebuah podcast bersama Wali Kota Bandung Muhammad Farhan, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung disebut Farhan seolah menyindir dirinya, “Maaf, kini Jakarta tak lagi disebut sebagai kota termacet di Indonesia.”
Mengapa Kota Bandung menyandang sebagai “Kota Nomor 1 Termacet di Indonesia 2024? Dalam penelitian TomTom, disebutkan rata-rata waktu tempuh di kota yang mendapat julukan “Kota Kembang” itu mencapai 32 menit 37 detik per 10 kilometer. Dengan acuan angka tersebut, tak heran TomTom mendapuk Kota Bandung berperingkat nomor 1 di Indonesia dan berperingkat ke-12 di dunia dalam kategori waktu terlama yang hilang di jam sibuk.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, pun bereaksi. Sebab, salah satu janjinya dalam kampanye dulu ia akan membenahi masalah kemacetan di Kota Bandung. Ia mempertanyakan akurasi dan metodologi di balik pemeringkatan TomTom.
Ralf-Peter Schaefer, VP Product Management Traffic and Travel Information TomTom, dikutip dari Ayobandung.id menyebut, perusahaannya telah berkecimpung selama 25 tahun di bidang analisis kemacetan. TomTom mengumpulkan data lalu lintas berdasarkan lokasi kendaraan yang terhubung ke sistem navigasi dan peta digital TomTom.
“Kami melacak kecepatan dan titik-titik kemacetan berdasarkan data kendaraan yang bergerak di jalanan. Jika laju kendaraan melambat, rutenya akan ditandai merah,” ujarnya sambil memperlihatkan data penuh angka dan kotak yang berwarna-warni.
Data yang dikumpulkan tidak hanya berasal dari pengguna kendaraan pribadi, tetapi juga berbagai sumber lain termasuk transportasi umum dan perangkat ponsel. Dia mengatakan TomTom terhubung dengan sekitar 2050 sumber data di seluruh dunia untuk memetakan soal pergerakan kendaraan ini.

TomTom Traffic Index menghitung rata-rata waktu tempuh untuk perjalanan sejauh 10 km di masing-masing kota. Selain itu, juga dihitung total waktu yang hilang akibat kemacetan pada jam sibuk selama satu tahun. Di Bandung--menurut TomTom--waktu yang hilang dalam setahun karena kemacetan mencapai 108 jam dalam setahun atau setara dengan empat setengah hari.
Dalam waktu tempuh perjalanan 10 kilometer, Bandung mengungguli Medan (32 menit 3 detik), Palembang (27 menit 55 detik), Surabaya (26 menit 59 detik), dan Jakarta (25 menit 31 detik). Kendati Jakarta memiliki tingkat kemacetan lebih tinggi (43%), waktu tempuhnya lebih singkat dari Bandung, menjadikan ibu kota hanya berada di urutan ke-5 nasional.
“Pemeringkatan ini kami dasarkan pada durasi perjalanan, bukan semata-mata jumlah kendaraan,” jelas Ralf. Ia menambahkan, perbandingan dilakukan secara global untuk melihat efektivitas mobilitas perkotaan, khususnya saat jam sibuk ketika orang pergi atau pulang kerja.
Muhammad Farhan tak menampik di sejumlah titik Kota Bandung sering terjadi kemacetan. Terutama di 3 titik utama ini. Titik pertama, adalah Jalan Sukarno Hatta dari barat hingga ke timur karena jalan ini merupakan jalan akses utama warga--baik dari barat, selatan, dan timur—menuju Kota Bandung. Biasanya kemacetan terjadi di pukul 6 hingga pukul 10 pagi dan bubar jam kantor pukul 16.00-19.00 WIB. Titik kedua Jalan Ahmad Yani hingga Jalan A.H. Nasution; dan titik ketiga adalah tiga ruas jalan menuju ke utara—Jalan Ir. H. Juanda (Dago), Sukajadi, dan Setiabudi—Di sini pagi kepadatan biasa saja, tapi kepadatan mulai pukul 16.00 hingga jam 7 malam.
Catatan penulis masih ada titik-titik kemacetan: Jalan Kiaracondong; Jalan Kopo (Wahid Hasyim), Jalan Buah Batu dan Terusan Buah Batu, dan Jalan Asia Afrika.
Pernyataan Ralf-Peter Schaefer dari TomTom rupanya sejalan dengan upaya Farhan yang tengah mencari solusi kemacetan berbasis teknologi. Selama ini Farhan menyoroti pentingnya pengaturan waktu dan pemanfaatan sistem kendali lalu lintas seperti ATCS untuk mengatur durasi lampu merah secara real-time. Langkah-langkah ini diambil karena kemacetan masih menjadi persoalan utama di sejumlah titik persimpangan Kota Bandung.
Dikatakan Farhan, tak segan ingin mengundang TomTom bekerja sama dengan mereka dan siapa tahu mereka bisa membantu memecahkan kemacetan di Kota Bandung.
Baca Juga: Warga Bandung Menilai Fasilitas dan Akses Ruang Terbuka Hijau Masih Belum Memadai
6 penyebab Kemacetan di Kota Bandung
1. Bertambahnya volume kendaraan;
2. Bertambahnya tempat berbelanja;
3. Lampu merah yang lama;
4. Angkot yang sering berhenti;
5. pasar kaget.
6. bubaran kantor. (*)
