Selamat Hari Raya Idul Fitri
1446 Hijriah • Mohon Maaf Lahir & Batin

Taman Menjadi Kolam Retensi, Dampak Baik dan Buruk untuk Warga di Bandung

Fatimah Waliya Matin
Ditulis oleh Fatimah Waliya Matin diterbitkan Senin 08 Des 2025, 13:46 WIB
Kolam retensi Margahayu Raya  | Kamis (4/12/2025) (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Fatimah Waliya Matin)

Kolam retensi Margahayu Raya | Kamis (4/12/2025) (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Fatimah Waliya Matin)

Angin sepoy yang dulu membawa aroma segar dari pepohonan di sebuah taman sebuah komplek, kini hanya menyisakan hembusan lembap dari sebuah kolam retensi.

Kolam retensi yang berlokasi di Jl. Jupiter Raya, Komplek Margahayu Raya, Kelurahan Sekejati, Kecamatan Buah Batu, Kota Bandung, pada awalnya dibangun oleh pemerintah daerah Kota Bandung pada tahun 2023 untuk memberikan solusi mengenai banjir yang kerap terjadi di wilayah tersebut.

Area kolam retensi ini sebelumnya merupakan sebuah taman hijau terbuka. Pembangunan dilakukan dengan mengubah fungsi taman hijau menjadi kolam retensi.

Taman hijau yang dulu berdiri di lokasi tersebut dibangun pada tahun 2000-an sebagai ruang publik warga. Area itu menjadi tempat anak-anak bermain dan lokasi resapan hujan bagi lingkungan. Pada 2023, taman itu kemudian dialih fungsikan sebagai kolam retensi. Namun sejak kolam mulai beroperasi, keluhan mengenai banjir dan genangan justru meningkat.

Kolam retensi yang seharusnya menjadi solusi masalah banjir, justru makin memperparah banjir, kenyataanya masih banyak penduduk yang merasakan bahwa solusi kolam retensi ini tidak berjalan sesuai harapan, karena yang sebenarnya terjadi adalah kolam retensi ini hanya menyebabkan banjir semakin parah.

Kolam retensi ini memunculkan beberapa dampak negatif, pembangunan kolam retensi turut menghilangkan deretan pepohonan yang selama ini menjadi peneduh alami, akibatnya, suhu di kawasan tersebut kini terasa lebih panas, lembab dan tidak lagi memberikan udara segar dan sejuk seperti ketika masih berupa taman hijau. Kondisi ini tentunya turut menurunkan kualitas lingkungan tempat tinggal warga.

Herli adalah salah satu warga yang sudah tinggal lama di sekitar lokasi, ia tinggal saat kolam retensi masih menjadi taman hijau, ia adalah salah satu warga yang terkena banyak dampak negatif dari kolam retensi ini. Tentunya ia sangat tau paham bagaimana perbedaan antara taman hijau dan kolam retensi setelah dibangun.

“Menurut saya, taman hijau lebih efektif untuk masalah mengurangi banjir ini dibandingkan Kolam retensi, karena yang sebelumnya titik banjir hanya di sekitaran taman saja, sekarang setelah menjadi kolam retensi, titik banjirnya semakin banyak dan meluas,” katanya.

Kolam retensi ini juga menyisakan genangan air yang memicu berkembang biaknya jentik nyamuk, yang tentunya ini mempengaruhi kesehatan lingkungan dan masyarakat, tentunya masalah ini dapat menyebabkan udara menjadi tidak sehat dan meningkatkan penyakit DBD. Genangan air juga menimbulkan aroma yang tidak sedap ketika cuaca panas, sehingga menyebabkan masyarakat sekitar merasa terganggu dan tidak nyaman.

“Karena banyaknya genangan yang dibiarkan, udara nya menjadi tidak segar dan beraroma bau yang tidak sedap, dan juga jadi banyak nyamuk yang bertelur yang menyebabkan banyak jentik-jentik nyamuk yang sangat mengganggu warga yang tinggal dekat di sekitar kolam retensi ini, beberapa bulan terakhir ini, tetangga-tetangga saya terkena penyakit DBD, memang karena ini jadi suka sering terjadi nya kasus masyarakat sekitar terkena penyakit DBD,” ujarnya.

Namun dengan banyaknya dampak negatif dari kolam retensi ini. Tentunya ada juga dampak positif nya.

“Kolam retensi ini tentunya mempunyai dampak positif juga, adanya kolam retensi ini membuat kita warga sekitar mempunyai tempat untuk olahraga pagi dan tempat bermain anak-anak,” ucapnya sambil tersenyum.

Meskipun begitu, masyarakat dan warga yang tinggal di sekitar kolam retensi ini memiliki harapan yang besar agar pemerintah sekitar, dan Walikota Bandung M. Farhan untuk segera menangani dan memberikan solusi mengenai masalah-masalah ini. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Fatimah Waliya Matin
Mahasiswi Digital Public Relations Telkom University 2024

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 21 Mar 2026, 20:26

Islam Kita dan Islam Mereka: Sebuah Ilusi Pascakolonial

Menjadi muslim di Indonesia adalah bagian dari perjalanan sejarah yang panjang dan sarat kontradiksi.

Ada banyak kisah yang lazim dialami oleh para jamaah haji selama menunaikan rukun Islam kelima tersebut. (Sumber: Pexels/Mutahir Jamil)
Ayo Netizen 21 Mar 2026, 18:20

Idulfitri 1447 H

Hikmah Ramadan itu menjaga dan merawat silaturahmi. Puncaknya hadir saat Idulfitri, momentum kemenangan sejati dalam menundukkan hawa nafsu, termasuk nafsu (angkara murka) untuk merasa paling benar.

Salat berjamaah di Masjid Pusdai, Kota Bandung, Jumat 20 Februari 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejarah 21 Mar 2026, 06:30

Hikayat Lebaran Seabad Lalu di Bandung, Open House Bupati untuk Pribumi dan Eropa

Laporan majalah kolonial tahun 1926 menunjukkan bagaimana masyarakat Bandung merayakan Idulfitri dengan berbagai tradisi unik.

Lebaran di kediaman Bupati Bandung 1926. (Sumber: Majalah Indie)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 19:10

Yang Gak Mudik, Yuk Wisata Bandung Dilirik

Warga Bandung yang gak mudik, yuk ramaikan wisata di Bandung! Manfaatnya menggerakkan perekonomian lokal di Bandung.

Sarae Hills destinasi wisata yang tidak hanya indah, tapi juga Instagrammable. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 17:24

Idulfitri, Syawal dan Lebaran: Jalan Pulang dan Lima Tahap Pemaafan

Idulfitri, syawal dan lebaran bukan sebatas perayaan, tetapi sejuta lapisan makna yang mengantarkan manusia pada kesadaran dan peningkatan diri.

Ilustrasi suasana Idulfitri, Syawal dan Lebaran. (Sumber: Ozgar Jan dari Pixabay)
Beranda 20 Mar 2026, 16:54

Tradisi Potong Rambut Lebaran di Kota Bandung: Antrean Panjang di Barbershop dan Lapak DPR yang Makin Sepi

Tradisi potong rambut menjelang Lebaran di Kota Bandung menunjukkan kontras yang mencolok. Barbershop dipadati pelanggan, sementara lapak cukur DPR kian sepi.

Yana Mulyana dengan ruang ala kadarnya tetap bertahan di bawah rindang pohon Jalan Malabar, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 15:48

Memupuk Persaudaraan, Merawat Harmoni

Nyepi mengajarkan kita sikap memperkuat persaudaraan, persatuan, semangat toleransi, perdamaian untuk meraih kehidupan rukun, harmoni, bahagia dan sejahtera dapat terus terjaga di tengah perbedaan.

Ilustrasi perayaan Nyepi di Bali (Sumber: Freepik)
Linimasa 20 Mar 2026, 01:03

Kemacetan dan Sumber Rezeki Pedagang Oleh-oleh Nagreg

Kondisi lalu lintas di Nagreg sangat memengaruhi penjualan oleh-oleh. Saat ramai lancar pembeli meningkat, namun kemacetan justru membuat pemudik enggan berhenti.

Lalu lintas Nagreg saat mudik lebaran 2026. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 20 Mar 2026, 00:53

Beda Hari Lebaran di Indonesia, Bikin Orang Eropa Kebingungan

Jelang akhir Ramadan, satu pertanyaan hampir selalu muncul di Indonesia: Lebaran jatuh hari apa? Akar sejarahnya panjang. Sudah ada sejak zaman dulu.

Suasana pasca salat id Bandung 1926 (Sumber: Majalah Indie)
Beranda 19 Mar 2026, 21:21

Menitip Rindu pada Takbir: Cerita Perantau yang Menghadapi Lebaran dalam Sepi

Pemerintah menetapkan Idulfitri 1447 H jatuh pada 21 Maret 2026. Di balik momen kemenangan itu, tersimpan kisah warga perantauan yang menjalani malam takbiran tanpa pulang kampung dan menahan rindu.

Mutiara Indah Lestari tetap tegar merayakan Lebaran di perantauan, menyimpan rindu untuk keluarganya di Padang (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 20:00

Idulfitri sebagai Komunikasi Hati

Tulisan ini membahas Idul Fitri sebagai momen memulihkan komunikasi hati di tengah kebisingan digital, menekankan pentingnya ketulusan, kehadiran, dan relasi yang lebih manusiawi.

Ribuan umat muslim melaksanakan shalat Idul Fitri 1446 H di Lapangan Gasibu, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Senin 31 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Bandung 19 Mar 2026, 19:46

Jersey Lokal Bandung RZQ Actv Buktikan Taring, Sukses Curi Perhatian di Tengah Hiruk-Pikuk Jelang Idul Fitri

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya.

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 19:09

Dijajah Tanpa Penjajah: Ketika Kemerdekaan Kehilangan Makna

Kemerdekaan fisik belum menjamin kemerdekaan berpikir.

ilustrasi buku sebagai sumber ilmu. (Sumber; Pixabay)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 18:59

Mudik dan Kelanjutan Ramadan: Menguji Ketakwaan di Jalan Kehidupan

Mudik Lebaran selalu menghadirkan suasana yang hangat dan penuh makna.

Sejumlah pemudik sepeda motor melintas di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Sabtu 14 Maret 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 13:12

Petani Menua dan Anak Muda Menjauh: Siapa yang Akan Menjaga Ketahanan Pangan Indonesia?

Indonesia dikenal sebagai negara agraris, namun mengalami krisis regenerasi petani. Mampukah program Petani Milenial menjadi solusi bagi masa depan pangan Indonesia?

Petani membajak sawah menggunakan traktor di Gedebage, Kota Bandung, Kamis 4 Januari 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Linimasa 19 Mar 2026, 12:49

Harap Cemas Pedagang Oleh-oleh Nagreg di Tengah Rencana Pembangunan Tol Cigatas

Pedagang oleh-oleh di Nagreg mulai kehilangan pembeli sejak hadirnya jalan tol. Rencana Tol Getaci memicu kekhawatiran baru soal masa depan usaha mereka.

Penjual oleh-oleh di Nagreg. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 19 Mar 2026, 12:49

Sejarah Kue Kering Lebaran, Sajian Idulfitri yang Berakar dari Dapur Belanda

Tradisi menyajikan kue kering saat lebaran memiliki jejak sejarah kolonial. Resep kue kecil dari Eropa yang disebut koekje berkembang di Hindia Belanda dan berubah menjadi nastar hingga kastengel.

Ilustrasi kue kering lebaran.
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 10:59

Kakaretaan, Yuk!

Di atas rel, kita belajar soal hidup, seperti kereta, akan terus berjalan.

Calon penumpang Kereta Api Pasundan tambahan berjalan menuju gerbong di Stasiun Kiaracondong, Kota Bandung, Selasa 17 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 20:29

Kisah Kue-Kue Kering Hari Raya

Tahukah kalian, bahwa kue alias “cookies” itu berasal dari bahasa Belanda yaitu “koekje”.

Sebuah mural karya harijadi sumodidjojo yang berjudul "kehidupan batavia". (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 17:21

Menata Arah Pendidikan Tinggi Keagamaan di Era Serba Cepat

Pepen Supendi, Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)