Hubungan Dagang Banten dan Lampung dalam Perniagaan Lada Abad ke-17

3 menit baca
Aditya Sheva Putra Indrawan
Ditulis oleh Aditya Sheva Putra Indrawan diterbitkan
Ilustrasi gambar lada. (Sumber: disbun.kaltimprov.go.id)
Ilustrasi gambar lada. (Sumber: disbun.kaltimprov.go.id)

*Disusun oleh Raffy Al Fauzan dan Aditya Sheva Putra Indrawan

Keterbatasan lahan pertanian di wilayah Jawa bagian barat mendorong Kesultanan Banten mengalihkan perhatiannya ke Lampung di seberang Selat Sunda. Langkah ini dilakukan untuk memenuhi tingginya permintaan lada di pasar dunia, karena pada saat itu Banten sedang berkembang sebagai salah satu pusat perdagangan terbesar di Asia Tenggara. Jalur Rempah tidak hanya mempertemukan pedagang Nusantara dengan kongsi dagang Eropa, tetapi juga membentuk hubungan politik yang kompleks antardaerah. Salah satu contohnya dapat dilihat pada hubungan antara Banten dan Lampung pada abad ke-17. Hubungan yang awalnya didasarkan pada kerja sama perdagangan yang saling menguntungkan lambat laun berubah menjadi hubungan yang lebih didominasi oleh Banten melalui berbagai aturan dan kebijakan politik.

Pada awal abad ke-17, hubungan Banten dan Lampung dibangun atas kepentingan ekonomi bersama. Lampung berperan sebagai penghasil utama lada berkat tanahnya yang subur, sedangkan Banten menjadi pintu masuk perdagangan internasional dengan menyediakan berbagai barang impor, seperti tekstil dari India dan porselen dari Tiongkok.

Ilustrasi kapal yang singgah di Pelabuhan Banten. (Sumber: https://atlasofmutualheritage.com)
Ilustrasi kapal yang singgah di Pelabuhan Banten. (Sumber: https://atlasofmutualheritage.com)

Hubungan ini didukung oleh pengakuan para pemimpin adat Lampung, yang dikenal sebagai puyang atau penyimbang, terhadap kekuasaan Sultan Banten. Selain itu, Sungai Tulang Bawang dan Sungai Sekampung menjadi jalur penting yang menghubungkan daerah penghasil lada di pedalaman dengan pelabuhan-pelabuhan di pesisir.

Situasi mulai berubah ketika VOC Belanda dan EIC Inggris semakin aktif berdagang di wilayah tersebut. Kehadiran mereka membuka peluang bagi masyarakat Lampung untuk menjual lada dengan harga yang lebih tinggi. Menyadari pentingnya pasokan lada dari Lampung, Kesultanan Banten berupaya memperkuat pengaruhnya melalui berbagai piagam dan prasasti dalung.

Prasasti Dalung (Sumber: Kemdikbud)
Prasasti Dalung (Sumber: Kemdikbud)

Melalui aturan tersebut, Banten mengatur perdagangan lada, menetapkan harga pembelian, serta mewajibkan penyerahan upeti dalam bentuk lada kepada kesultanan.

Akibat kebijakan tersebut, posisi Lampung yang semula merupakan mitra dagang perlahan berubah menjadi daerah bawahan yang berada di bawah pengaruh Banten. Untuk memastikan monopoli perdagangan berjalan dengan baik, Banten menempatkan sejumlah punggawa atau utusan resmi di berbagai wilayah Lampung. Mereka bertugas mengawasi perluasan kebun lada, memeriksa kualitas hasil panen, serta mencegah perdagangan langsung dengan pedagang asing tanpa izin kesultanan. Kebijakan ini membuat ruang gerak ekonomi masyarakat Lampung semakin terbatas karena aktivitas perdagangan mereka diawasi secara ketat.

Meski hubungan kedua wilayah tidak selalu berjalan seimbang, perdagangan lada tetap membawa pengaruh budaya yang cukup besar. Interaksi yang berlangsung melalui kegiatan perdagangan dan penyerahan upeti mendorong masuknya unsur-unsur budaya Islam-Banten ke Lampung. Pengaruh tersebut terlihat pada penggunaan gelar kebangsawanan, sistem penamaan, hingga beberapa unsur arsitektur. Sebelum hubungan ini melemah akibat campur tangan VOC pada akhir abad ke-17, perdagangan lada telah berperan penting dalam menghubungkan wilayah pedalaman Sumatra dengan jaringan politik dan perdagangan maritim di Jawa bagian barat.

Kisah hubungan Banten dan Lampung menunjukkan bahwa perdagangan rempah tidak hanya berkaitan dengan keuntungan ekonomi. Di balik ramainya perdagangan lada, terdapat persaingan kepentingan, perubahan sosial, dan hubungan politik yang turut membentuk sejarah Nusantara. Oleh karena itu, Jalur Rempah bukan hanya sebagai jaringan perdagangan, tetapi juga sebagai ruang interaksi dan perebutan pengaruh antarkekuatan yang ada pada masanya. (*)

Sumber Referensi

  • Fauzan, E. H., Hamid, A. R., & Masykuroh, S. (2023). Perubahan hubungan Lampung dengan Banten dalam perdagangan lada abad XVI-XVIII. Jawi: Journal of Language, Literature, and Muslim Culture, 6(2), 85-98. https://doi.org/10.24042/jawi.v6i2.19561
  • Imadudin, Iim. (2016). Perdagangan Lada di Lampung dalam Tiga Masa (1653–1930). Patanjala: Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya, Vol. 8, No. 3, hlm. 349–364.
  • Masroh, Laelatul. (2015). Perkebunan dan Perdagangan Lada di Lampung Tahun 1816-1942. Sejarah dan Budaya, Tahun IX, No. 1, Juni 2015.
  • Sumargono, Pratama, R. A., Perdana, Y., Lestari, N. I., & Triaristina, A. (2022). Peran lada Lampung menyokong komoditas perdagangan Banten. Candrasangkala: Jurnal Pendidikan dan Sejarah, 8(1), 60–69.
Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Aditya Sheva Putra Indrawan
Mahasiswa Ilmu Sejarah Universitas Padjadjaran.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 05 Agu 2026, 11:30

Jelajah 10 Kuliner Terbaik Tatar Sunda (Bagian 1): Menjelajah Warisan Rasa Jawa Barat Versi Taste Atlas

Dari 10 hidangan yang terpilih, artikel ini akan mengulas 5 di antaranya.

Pedagang batagor. (Sumber: Unsplash | Foto: Reyhan Aviseno)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 10:01

PHK Massal Garmen Cimahi di Era 'China + Many'

Gelombang PHK itu tentu saja bukan sekadar kabar lokal semata. Ia juga merupakan potongan kecil dari puzzle besar yang sedang berubah di jagad industri garmen global.

Sejumlah buruh perempuan di salah satu pabrik tekstil, Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 04 Agu 2026, 18:59

Surabi Cangkring Dago, Kuliner Pagi Favorit di Kawasan Bandung Utara

Cari surabi oncom autentik di Bandung? Surabi Cangkring Dago menawarkan cita rasa tradisional dengan harga mulai Rp3.000 per porsi.

Surabi telur oncom. (Sumber: Surabi Cangkring)
Linimasa 04 Agu 2026, 18:15

Jelajah Perkebunan Teh Rakyat Terluas di Priangan Timur

Perkebunan teh rakyat di Tasikmalaya berkembang sejak awal abad ke-20 dan kini menjadi sumber penghidupan ribuan keluarga di Priangan Timur.

Perkebunan teh Tasikmalaya yang tersebar di di Taraju, Bojonggambir dan Sodonghilir berawal dari pengembangan kolonial Belanda dan kini didominasi kebun rakyat yang diwariskan lintas generasi. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Mayantara 04 Agu 2026, 18:13

Kicau Mania vs. 'Getcho Money Up'

Pengguna media sosial tidak hanya mengonsumsi, tetapi juga terlibat dalam (re)produksi konten sebagaimana dalam fenomena “getcho money up”.

Kicau Mania vs. 'Getcho Money Up'. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 17:32

Wisata Literasi di Bandung, Ini Ide Tema Ayo Netizen dari Pages & Plates Festival 2026

Acara bertajuk Pages & Plates Festival 2026 ini menjadi momentum yang layak ditangkap penulis Ayo Netizen.

Festival Literasi Pages and Plates 2026 featuring Big Bad Wolf Books di Bikasoga Sport Center, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 16:50

Di Balik Transformasi KA Cikuray, Ada Strategi Komunikasi yang Menyatukan Masyarakat

Transformasi KA Cikuray dengan fasilitas terbaik dengan harga ekonomis.

Kereta Api Cikuray rangkaian baru 2026. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Hamzz P)
Wisata & Kuliner 04 Agu 2026, 15:34

Panduan Kuliner Sate Puncak Cipanas: Warung Legendaris di Jalur Wisata Pegunungan

Cari sate enak di Puncak? Temukan rekomendasi Warung Sate Shinta, Hanjawar, H. Kadir, Sate Maranggi Sari Asih, hingga SMP Gadog lengkap dengan harga dan lokasinya.

Sate.
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 14:17

Memperketat Pengawalan Angkutan Getah Pinus, Mencegah Pencurian dan Angkutan Ilegal

KPH Bandung Utara memperkuat pengamanan hasil hutan melalui pengawalan ketat angkutan getah pinus di wilayah Resort Polisi Hutan (RPH) Cikalong.

Petugas dari Perhutani Bandung Utara saat melakukan pengawasan. (Sumber: Liputan | Foto: Humas )
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 11:43

Aktualisasi Hari Kemerdekaan

Seruan kemerdekaan harus digemakan sampai ke pelosok-pelosok

Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih di Puncak Gunung Hawu. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 09:08

Kala Pohon Kota Tumbang, Hukum Mengarah ke Mana?

Jika penebangan pohon berkaitan dengan kepentingan bisnis -- misalnya membuka ruang, akses, atau visibilitas -- maka korporasi bisa masuk sebagai subjek hukum.

Lokasi pohon-pohon yang ditebang disegel Pemkot Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Beranda 04 Agu 2026, 08:14

Buka Peluang Bakat Muda, Festival Mendongeng Suara Nusantara Jawa Barat Masih Buka Pendaftaran!

Festival Mendongeng Cerita Rakyat Suara Nusantara hadir di Jabar! Ajak generasi muda hidupkan legenda rakyat. Pendaftaran masih dibuka, buruan cek!

Buka Peluang Bakat Muda, Festival Mendongeng Suara Nusantara Jawa Barat Masih Buka Pendaftaran!
Wisata & Kuliner 03 Agu 2026, 18:19

Situ Lengkong Panjalu, Tempat Wisata Estetik dan Bersejarah di Ciamis

Panduan wisata Situ Lengkong Panjalu Ciamis lengkap: sejarah Kerajaan Panjalu, Nusa Gede, Museum Bumi Alit, tradisi Nyangku, tiket masuk, dan rute.

Situ Lengkong Panjalu, Ciamis.
Ayo Netizen 03 Agu 2026, 18:09

Pandemi Senyap Kapitalisme dalam Industri Gula dan Obat-obatan

Membongkar masalah ketimpangan yang serius di balik industri gula dan obat-obatan. Keduanya berkolaborasi dalam industri kematian yang mengancam masyarakat berpenghasilan rendah.

Pabrik gula. (Sumber: Pexels | Foto: Deepak Sharma)
Ayo Netizen 03 Agu 2026, 17:07

Mengapa Kampanye Mi Nyemek Jogja Mudah Diingat?

Menganalisis bagaimana Mi Nyemek Ala Jogja Rasa Rendang dipublikasikan dengan pesan yang konsisten, sehingga informasi produk dapat diterima publik secara luas dan jelas.

Ilustrasi mie nyemek Jogja. (Sumber: Youtube | Foto: DewiRistiyaniKitchen)
Ayo Netizen 03 Agu 2026, 16:00

Dari Kasus Penebangan Pohon hingga Persib-Persija, Isu Menarik Pekan Ini untuk Ayo Netizen

Bagi penulis Ayo Netizen yang masih mencari ide segar, berikut beberapa isu yang layak diangkat dalam beberapa hari ke depan.

Lokasi pohon-pohon yang diduga ditebang tanpa izin pemerintah. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Agu 2026, 15:02

Mengapa Kampanye Jumbo Mudah Diingat? Jawabannya Ada pada Konsistensi Pesan

Kolaborasi antara Fore Coffe dan film animasi Jumbo menjadi salah satu strategi pemasaran yang menarik untuk di teliti karena menghadirkan pengalaman yang baru bagi konsumen.

Ilustrasi kampanye film Jumbo yang masih tetap konsisten sampai saat ini. (Istimewa)
Sejarah 03 Agu 2026, 13:10

Sejarah Peuyeum Ketan Kuningan, Tradisi Fermentasi yang jadi Identitas Daerah

Peuyeum ketan Kuningan lahir dari tradisi kampung, berkembang menjadi oleh-oleh populer, dan tetap mempertahankan proses fermentasi tradisional.

Peuyeum atau tape ketan Kuningan.
Ayo Netizen 03 Agu 2026, 12:38

Momentum Agustus 2026: Saatnya Menggali Cerita dari Kemerdekaan hingga Budaya Bandung

Bulan Agustus selalu menghadirkan banyak momentum yang layak dijadikan bahan tulisan.

Sejumlah ibu rumah tangga mengikuti berbagai lomba 17 Agustus di Padalarang, Kabupaten Bandung Barat. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 03 Agu 2026, 10:05

Mengenang Acara Radio Favorit GANESHA IWAN FALS (GIF)

Lagu-lagu Iwan Fals menyebar dari kaset, panggung konser, hingga gelombang radio.

Sosok musisi legendaris Iwan Fals menghiasi berbagai halaman depan tabloid dan majalah musik populer sepanjang era 1990-an. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)