Ambisi di Balik Coretax

5 menit baca
GRETHA MARGARETHA LO
Ditulis oleh GRETHA MARGARETHA LO diterbitkan Rabu 17 Jun 2026, 07:12 WIB
Ilustrasi web coretax DJP. (Sumber: Pexels | Foto: Cottonbro Studio)

Ilustrasi web coretax DJP. (Sumber: Pexels | Foto: Cottonbro Studio)

Ketika pemerintah meluncurkan Coretax sebagai sistem pajak digital terbesar dalam sejarah Indonesia, banyak pihak berharap penerimaan negara akan semakin meningkat. Menurut laporan resmi Kementerian Keuangan, pada awal Januari 2025, kinerja penerimaan pajak tahun 2024 berhasil melampaui target dengan capaian sebesar Rp1.932,4 triliun atau setara dengan 100,5 persen dari target APBN. Namun, selang satu tahun kemudian, laporan realisasi sementara APBN 2025 dari Kementerian Keuangan menunjukkan angka yang berbeda, yakni sebesar Rp1.917,6 triliun atau 87,6 persen dari target tahunan.

Kontras data ini menjadi pemantik diskusi krusial di kalangan akademisi akuntansi, mengingat tahun 2025 merupakan periode awal implementasi penuh Core Tax Administration System (CTAS) atau Coretax secara nasional. Sebelumnya, administrasi perpajakan Indonesia sangat bergantung pada Sistem Informasi Direktorat Jenderal Pajak (SIDJP) yang memiliki keterbatasan teknologi dalam menangani integrasi data yang kompleks.

Melalui Reformasi Perpajakan Jilid III, Coretax hadir untuk menyatukan 19 proses bisnis lama yang belum terintegrasi ke dalam satu platform tunggal berbasis teknologi modern. Fokus pembahasan kini tertuju pada bagaimana integrasi sistem berskala masif ini memengaruhi efektivitas penerimaan negara selama masa transisi dari sistem konvensional menuju sistem digital yang ambisius. Meskipun Coretax merupakan langkah visioner menuju tata kelola perpajakan yang transparan, implementasinya saat ini berada pada posisi dilematis antara potensi efisiensi jangka panjang dan tantangan adaptasi teknis yang memicu fluktuasi kinerja di lapangan.

Alasan mendasar di balik implementasi Coretax adalah urgensi untuk menyatukan sistem administrasi perpajakan lama yang belum terintegrasi demi mewujudkan efisiensi tata kelola fiskal nasional. Sebelum transformasi ini dilakukan, Direktorat Jenderal Pajak (DJP) sangat bergantung pada SIDJP yang memiliki keterbatasan teknologi dalam menyinkronkan data lintas instansi, sehingga menyulitkan proses pengawasan kepatuhan dan rentan memicu ketidakpercayaan publik.

Misalnya, keterlambatan pembaruan data dan ketidaksesuaian informasi perpajakan dapat menyebabkan wajib pajak menerima tagihan atau permintaan klarifikasi yang tidak sesuai dengan kondisi aktual, sehingga menurunkan kepercayaan terhadap akurasi sistem perpajakan. Melalui Reformasi Perpajakan Jilid III, kehadiran platform tunggal yang dibangun di atas prinsip "MANTAP" (Mudah, Andal, Terintegrasi, Akurat, dan Pasti) ini mengintegrasikan 19 proses bisnis terpisah agar pengawasan pajak dapat dilakukan secara real-time dan akurat.

Sebagai contoh, fitur pre-populated data kini mampu menyajikan data perpajakan secara otomatis berdasarkan validasi pihak ketiga, sedangkan integrasi NIK sebagai NPWP mempersempit ruang bagi wajib pajak yang ingin melakukan penghindaran pajak (tax evasion). Oleh karena itu, penyatuan basis data melalui satu pintu ini menjadi fondasi krusial untuk menggantikan sistem analog yang tidak lagi relevan dengan kompleksitas ekonomi digital saat ini.

Di balik ambisi modernisasinya, penurunan realisasi target pajak pada tahun pertama peluncuran Coretax utamanya disebabkan oleh kemunculan berbagai kendala teknis operasional di lapangan. Proses migrasi data berskala masif dari belasan sistem lama ke satu platform induk memicu ketidaksiapan infrastruktur server dan disrupsi operasional selama masa transisi sistem.

Beban validasi data nasional yang menumpuk pada jam sibuk pelaporan menyebabkan sistem sering kali mengalami penurunan performa secara drastis, yang diperparah oleh belum sempurnanya sinkronisasi data kependudukan. Kendala konkret yang kerap dikeluhkan oleh pengguna antara lain adalah gangguan login akibat lonjakan trafik, munculnya pesan error "save invalid", terjadinya session timeout yang menghapus data input, hingga belum munculnya bukti potong secara otomatis akibat jeda waktu sinkronisasi sistem.

Berbagai hambatan teknis dan sistemis inilah yang menjadi faktor utama di balik tidak maksimalnya penyerapan pendapatan pajak sepanjang masa transisi teknologi nasional tersebut.

Penurunan persentase penerimaan pajak selama masa peralihan sistem ini menuntut pemerintah untuk mengambil kebijakan fiskal yang adaptif dan akomodatif guna menjaga stabilitas perekonomian. Kinerja pendapatan negara tidak dapat dilepaskan dari kondisi makroekonomi yang sedang mengalami tren penurunan, sehingga APBN harus dioptimalkan sebagai instrumen antisipatif untuk melindungi daya beli masyarakat melalui stimulus dan belanja negara yang fleksibel.

Langkah relaksasi regulasi juga diperlukan agar hambatan administratif pada sistem baru tidak memberikan tekanan finansial tambahan bagi dunia usaha yang sedang beradaptasi. Salah satu wujud nyata dari kebijakan responsif ini adalah keputusan resmi kementerian untuk memperpanjang batas waktu pelaporan SPT Tahunan Pajak Penghasilan (PPh) Badan hingga 31 Mei 2026, yang memberikan ruang bernapas bagi wajib pajak di tengah evaluasi perbaikan server. Dengan demikian, kombinasi antara pelonggaran batas lapor dan penjagaan batas aman defisit anggaran menjadi strategi krusial pemerintah untuk mengawal proses digitalisasi agar tetap berjalan selaras dengan pemulihan ekonomi nasional.

Secara keseluruhan, Coretax merupakan investasi strategis yang tidak terelakkan untuk memperkuat kedaulatan fiskal Indonesia di era digital. Realisasi penerimaan pajak sebesar 87,6 persen pada tahun 2025 dan kebijakan relaksasi pelaporan hingga Mei 2026 merupakan sinyal objektif bahwa reformasi besar membutuhkan waktu untuk mencapai titik stabilitas optimal. Masalah teknis yang dikeluhkan pengguna, mulai dari gangguan akses hingga kegagalan sinkronisasi data, seharusnya dipandang sebagai fase transisi organisasional yang lumrah dalam implementasi teknologi skala masif.

Harapannya, pemerintah dan Direktorat Jenderal Pajak terus memprioritaskan penguatan infrastruktur server serta keamanan data wajib pajak sebagai prioritas utama. Sosialisasi yang lebih inklusif dan peningkatan literasi digital sangat dibutuhkan agar kemudahan yang dijanjikan Coretax benar-benar dapat dirasakan oleh seluruh wajib pajak di lapangan.

Dengan target pertumbuhan ekonomi yang diasumsikan sebesar 5,4 persen pada tahun 2026, optimalisasi Coretax sebagai mesin utama pendapatan negara sangat dinanti untuk mewujudkan sistem perpajakan yang tidak hanya modern, tetapi juga berkeadilan dan memberikan kepastian hukum bagi seluruh masyarakat Indonesia. Langkah strategis ini harus dikawal bersama demi masa depan ekonomi nasional yang lebih inklusif dan sejahtera. (*)

Daftar Pustaka:

  • Kementerian Keuangan Republik Indonesia. (2025). Kemenkeu.go.id.https://www.kemenkeu.go.id/informasi-publik/publikasi/berita-utama/Pendapatan-Negara-Tahun-2024-Tumbuh-Positif

  • Kementerian Keuangan Republik Indonesia. (2026). Kemenkeu.go.id.https://www.kemenkeu.go.id/informasi-publik/publikasi/berita-utama/Realisasi-Sementara-APBN-2025

  • Redaksi Pajakku. (2026, April 30). Resmi! Perpanjangan Batas Lapor SPT Tahunan Badan Berlaku hingga 31 Mei 2026. Pajakku. https://pajakku.com/artikel/resmi-perpanjangan-batas-lapor-spt-tahunan-badan-berlaku-hingga-31-mei-2026

  • Santoso, I., & Santoso, I. (2025, December 15). Masalah Umum Sistem Coretax DJP yang Dikeluhkan Pengguna dan Cara Mengatasinya | SunFish HR by DataOn. DataOn. https://dataon.com/id-id/blog/masalah-umum-sistem-coretax-dan-cara-mengatasinya/

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

GRETHA MARGARETHA LO
A newbie in writing, write for fun

Berita Terkait

News Update

Beranda 17 Jun 2026, 08:59

Cerita Pekerja Informal yang Ngalong di Tengah Cuaca Dingin Kota Bandung yang Kian Menggigit

Cerita para pekerja informal di Bandung yang terpaksa "ngalong" demi mencari nafkah di tengah cuaca Kota Bandung yang kian menggigit.

Di tengah udara dingin yang menggigit, Raja tetap setia berjualan cilok kuah hingga menjelang subuh di kawasan Dago Cikapayang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 08:01

Maradona, Malvinas, Juni dan Bandung

Sebuah memori siaran pertandingan Piala Dunia 1986 yang memunculkan legenda sepak bola dunia Maradona serta serunya masyarakat Bandung menonton saat itu

Ilustrasi Maradona. (Sumber: Flickr | Foto: Diego3336)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 07:12

Ambisi di Balik Coretax

Sistem Coretax dirilis untuk menyatukan 19 proses bisnis pajak lama.

Ilustrasi web coretax DJP. (Sumber: Pexels | Foto: Cottonbro Studio)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 06:34

Nama Geografis yang Bersumber dari Alat dan Cara Memasak

Toponimi telah mengabadikan kata yang produktif digunakan di suatu daerah, pada saat nama geografis itu diberikan.

Gentong untuk menampung air bersih masih terus dibuat oleh para pembuat gerabah. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 06:05

Maraknya Juru Parkir Liar di Minimarket: Cermin Lemahnya Manajemen Parkir di Perkotaan

Maraknya juru parkir liar di minimarket bukan sekadar soal uang parkir, tetapi cerminan lemahnya manajemen parkir, kepastian hukum, dan pelayanan publik di perkotaan.

Ilustrasi Juru Parkir. (Sumber: Pemkot Bandung)
Ayo Biz 16 Jun 2026, 18:21

Kausalitas Daring yang Menggerakkan Dapur KebabFactory.id

Dinamika digitalisasi perbankan yang menjaga dapur UMKM tetap ngebul.

Pegawai sedang menyiapkan pesanan konsumen kedai KebabFactory.id di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 15:30

Sepeda, dari Kendaraan Elit Jadi Merakyat

Sepeda masuk ke Indonesia abad 19 sebagai barang mewah kalangan elit.

Iklan penjualan sepeda anak-anak. (Sumber: Majalah Star Weekly (No. 502))
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 14:47

Badai Belum Berlalu, Nasib Kelas Menengah Kian Pilu

Akar masalah karena kegagalan pemerintah untuk menciptakan pasar tenaga kerja untuk kelas menengah yang berkualitas.

Mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Bandung Raya menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPRD Jawa Barat, Kota Bandung, Senin 15 Juni 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 16 Jun 2026, 13:56

5 Wisata Pilihan di Tasikmalaya, dari Kawah Vulkanik hingga Pantai Selatan yang Terbuka ke Samudra

Tasikmalaya menyimpan banyak destinasi menarik, mulai dari Gunung Galunggung, Kampung Naga, hingga Pantai Cipatujah dan Karang Tawulan.

Pantai Karang Tawulan Tasikmalaya. (Sumber: Pemprov Jabar)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 13:10

Hak Siar Piala Dunia oleh TVRI, Ekonomi Nobar dan Pengembangan Konten Lokal

Potensi ekonomi nobar yang luar biasa, mesti dikelola lebih baik dengan berbagai kreativitas masyarakat. 

Suasana nonton bareng Piala Dunia 2026 di Taman Film, Kota Bandung (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Ananda Muhammad Firdaus)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 11:04

Karya Purbakala di Hari Purbakala: Sambung Menyambung Tentang Kota Bandung

Karya-karya mahasiswa arkeologi tentang Kota Bandung

Sebuah gua alami yang menyimpan situs purbakala, Gua Pawon. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Nuryahya64)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 09:31

Mengenang Ny. Liem: Maestro Boga dari Kota Kembang dan Legacy di Industri Tata Boga Indonesia

Ny. Liem menempati posisi penting sebagai pionir yang menetapkan standar emas dalam seni pembuatan kue dan pastry.

Produk kemasan dari toko Ny. Liem di Jln. Naripan No.52, Kb. Pisang, Kec. Sumur Bandung, Kota Bandung. (Sumber: Google Maps Review | Foto: Elvita Yuli)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 09:19

Peran para Pendukung Tim Lokal di Kota Bandung Terhadap Keberlangsungan Persib

Menelaah faktor keberhasilan Maung Bandung pada periode terbaru di era sepakbola modern.

Ribuan bobotoh memadati Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Kota Bandung, Kamis 7 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 08:40

Biaya Parkir: Faktor Kecil yang Ternyata Menentukan Pilihan Kita Saat Belanja

Biaya parkir ternyata ikut menentukan pilihan tempat belanja kita. Kecil tapi berdampak besar pada persepsi, kepuasan, dan loyalitas konsumen.

Keputusan Konsumen untuk belanja goyah karena adanya parkir (Foto: muhammad yogi)
Linimasa 15 Jun 2026, 22:07

Ketika Obor Menyala di Jalanan Kota Bandung

Tradisi pawai obor kembali hadir di berbagai wilayah Bandung untuk menyambut Tahun Baru Hijriah.

Pawai obor malam tahun baru Hijriyah di Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Bandung 15 Jun 2026, 21:16

Kolaborasi Bekali Kopi Bersama Petani Lembang Dorong Peningkatan Ekonomi dan Regenerasi Sektor Kopi

Bagi Bekali Kopi, fokus di lapangan tidak hanya tertuju pada kualitas produk tapi juga pada keberlanjutan sektor kopi yang menjadi perhatian penting.

Bagi Bekali Kopi, fokus di lapangan tidak hanya tertuju pada kualitas produk tapi juga pada keberlanjutan sektor kopi yang menjadi perhatian penting. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Iqbal Roem)
Ayo Biz 15 Jun 2026, 18:19

UMKM 'Jangan Cuma Dagang' untuk Berkembang, Belajar dari Perjalanan Bisnis Kebab Factory

Bagi Widya, Rumah BUMN Bandung bukan sekadar tempat pelatihan.

Widya Ratna Puspita, pemilik KebabFactory.id, di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung, (5/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 17:27

Perjalanan Sate Maranggi sebagai Kuliner Khas Kabupaten Purwakarta

Lebih dari sekadar nilai gastronomi, Sate Maranggi mengandung nilai-nilai sosial sebagai pemersatu masyarakat Purwakarta.

Sate Maranggi khas Purwakarta (Sumber: Dokumentasi milik pribadi)
Wisata & Kuliner 15 Jun 2026, 16:44

Panduan Wisata Kuliner Empal Gentong Cirebon, Jejak Sejarah Kota Pelabuhan dalam Semangkuk Kuah

Kenali sejarah empal gentong Cirebon, perbedaannya dengan empal asem, rekomendasi warung legendaris, serta tips menikmati hidangan khas ini.

Empal gentong, kuliner khas Cirebon. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Biz 15 Jun 2026, 16:40

Punya Varian Produk Tak Biasa, Kebab Factory Bisa Ekspor ke Malaysia dan Singapura berkat 'Ide Anak'

Perjalanan Kebab Factory, UMKM Kota Bandung yang terkenal dengan produk uniknya.

Kebab ice cream mellowberry, salah satu varian produk Kebab Faktory di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung, (5/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)