Ambisi di Balik Coretax

5 menit baca
Gretha Margaretha Lo
Ditulis oleh Gretha Margaretha Lo diterbitkan
Ilustrasi web coretax DJP. (Sumber: Pexels | Foto: Cottonbro Studio)
Ilustrasi web coretax DJP. (Sumber: Pexels | Foto: Cottonbro Studio)

Ketika pemerintah meluncurkan Coretax sebagai sistem pajak digital terbesar dalam sejarah Indonesia, banyak pihak berharap penerimaan negara akan semakin meningkat. Menurut laporan resmi Kementerian Keuangan, pada awal Januari 2025, kinerja penerimaan pajak tahun 2024 berhasil melampaui target dengan capaian sebesar Rp1.932,4 triliun atau setara dengan 100,5 persen dari target APBN. Namun, selang satu tahun kemudian, laporan realisasi sementara APBN 2025 dari Kementerian Keuangan menunjukkan angka yang berbeda, yakni sebesar Rp1.917,6 triliun atau 87,6 persen dari target tahunan.

Kontras data ini menjadi pemantik diskusi krusial di kalangan akademisi akuntansi, mengingat tahun 2025 merupakan periode awal implementasi penuh Core Tax Administration System (CTAS) atau Coretax secara nasional. Sebelumnya, administrasi perpajakan Indonesia sangat bergantung pada Sistem Informasi Direktorat Jenderal Pajak (SIDJP) yang memiliki keterbatasan teknologi dalam menangani integrasi data yang kompleks.

Melalui Reformasi Perpajakan Jilid III, Coretax hadir untuk menyatukan 19 proses bisnis lama yang belum terintegrasi ke dalam satu platform tunggal berbasis teknologi modern. Fokus pembahasan kini tertuju pada bagaimana integrasi sistem berskala masif ini memengaruhi efektivitas penerimaan negara selama masa transisi dari sistem konvensional menuju sistem digital yang ambisius. Meskipun Coretax merupakan langkah visioner menuju tata kelola perpajakan yang transparan, implementasinya saat ini berada pada posisi dilematis antara potensi efisiensi jangka panjang dan tantangan adaptasi teknis yang memicu fluktuasi kinerja di lapangan.

Alasan mendasar di balik implementasi Coretax adalah urgensi untuk menyatukan sistem administrasi perpajakan lama yang belum terintegrasi demi mewujudkan efisiensi tata kelola fiskal nasional. Sebelum transformasi ini dilakukan, Direktorat Jenderal Pajak (DJP) sangat bergantung pada SIDJP yang memiliki keterbatasan teknologi dalam menyinkronkan data lintas instansi, sehingga menyulitkan proses pengawasan kepatuhan dan rentan memicu ketidakpercayaan publik.

Misalnya, keterlambatan pembaruan data dan ketidaksesuaian informasi perpajakan dapat menyebabkan wajib pajak menerima tagihan atau permintaan klarifikasi yang tidak sesuai dengan kondisi aktual, sehingga menurunkan kepercayaan terhadap akurasi sistem perpajakan. Melalui Reformasi Perpajakan Jilid III, kehadiran platform tunggal yang dibangun di atas prinsip "MANTAP" (Mudah, Andal, Terintegrasi, Akurat, dan Pasti) ini mengintegrasikan 19 proses bisnis terpisah agar pengawasan pajak dapat dilakukan secara real-time dan akurat.

Sebagai contoh, fitur pre-populated data kini mampu menyajikan data perpajakan secara otomatis berdasarkan validasi pihak ketiga, sedangkan integrasi NIK sebagai NPWP mempersempit ruang bagi wajib pajak yang ingin melakukan penghindaran pajak (tax evasion). Oleh karena itu, penyatuan basis data melalui satu pintu ini menjadi fondasi krusial untuk menggantikan sistem analog yang tidak lagi relevan dengan kompleksitas ekonomi digital saat ini.

Di balik ambisi modernisasinya, penurunan realisasi target pajak pada tahun pertama peluncuran Coretax utamanya disebabkan oleh kemunculan berbagai kendala teknis operasional di lapangan. Proses migrasi data berskala masif dari belasan sistem lama ke satu platform induk memicu ketidaksiapan infrastruktur server dan disrupsi operasional selama masa transisi sistem.

Beban validasi data nasional yang menumpuk pada jam sibuk pelaporan menyebabkan sistem sering kali mengalami penurunan performa secara drastis, yang diperparah oleh belum sempurnanya sinkronisasi data kependudukan. Kendala konkret yang kerap dikeluhkan oleh pengguna antara lain adalah gangguan login akibat lonjakan trafik, munculnya pesan error "save invalid", terjadinya session timeout yang menghapus data input, hingga belum munculnya bukti potong secara otomatis akibat jeda waktu sinkronisasi sistem.

Berbagai hambatan teknis dan sistemis inilah yang menjadi faktor utama di balik tidak maksimalnya penyerapan pendapatan pajak sepanjang masa transisi teknologi nasional tersebut.

Penurunan persentase penerimaan pajak selama masa peralihan sistem ini menuntut pemerintah untuk mengambil kebijakan fiskal yang adaptif dan akomodatif guna menjaga stabilitas perekonomian. Kinerja pendapatan negara tidak dapat dilepaskan dari kondisi makroekonomi yang sedang mengalami tren penurunan, sehingga APBN harus dioptimalkan sebagai instrumen antisipatif untuk melindungi daya beli masyarakat melalui stimulus dan belanja negara yang fleksibel.

Langkah relaksasi regulasi juga diperlukan agar hambatan administratif pada sistem baru tidak memberikan tekanan finansial tambahan bagi dunia usaha yang sedang beradaptasi. Salah satu wujud nyata dari kebijakan responsif ini adalah keputusan resmi kementerian untuk memperpanjang batas waktu pelaporan SPT Tahunan Pajak Penghasilan (PPh) Badan hingga 31 Mei 2026, yang memberikan ruang bernapas bagi wajib pajak di tengah evaluasi perbaikan server. Dengan demikian, kombinasi antara pelonggaran batas lapor dan penjagaan batas aman defisit anggaran menjadi strategi krusial pemerintah untuk mengawal proses digitalisasi agar tetap berjalan selaras dengan pemulihan ekonomi nasional.

Secara keseluruhan, Coretax merupakan investasi strategis yang tidak terelakkan untuk memperkuat kedaulatan fiskal Indonesia di era digital. Realisasi penerimaan pajak sebesar 87,6 persen pada tahun 2025 dan kebijakan relaksasi pelaporan hingga Mei 2026 merupakan sinyal objektif bahwa reformasi besar membutuhkan waktu untuk mencapai titik stabilitas optimal. Masalah teknis yang dikeluhkan pengguna, mulai dari gangguan akses hingga kegagalan sinkronisasi data, seharusnya dipandang sebagai fase transisi organisasional yang lumrah dalam implementasi teknologi skala masif.

Harapannya, pemerintah dan Direktorat Jenderal Pajak terus memprioritaskan penguatan infrastruktur server serta keamanan data wajib pajak sebagai prioritas utama. Sosialisasi yang lebih inklusif dan peningkatan literasi digital sangat dibutuhkan agar kemudahan yang dijanjikan Coretax benar-benar dapat dirasakan oleh seluruh wajib pajak di lapangan.

Dengan target pertumbuhan ekonomi yang diasumsikan sebesar 5,4 persen pada tahun 2026, optimalisasi Coretax sebagai mesin utama pendapatan negara sangat dinanti untuk mewujudkan sistem perpajakan yang tidak hanya modern, tetapi juga berkeadilan dan memberikan kepastian hukum bagi seluruh masyarakat Indonesia. Langkah strategis ini harus dikawal bersama demi masa depan ekonomi nasional yang lebih inklusif dan sejahtera. (*)

Daftar Pustaka:

  • Kementerian Keuangan Republik Indonesia. (2025). Kemenkeu.go.id.https://www.kemenkeu.go.id/informasi-publik/publikasi/berita-utama/Pendapatan-Negara-Tahun-2024-Tumbuh-Positif

  • Kementerian Keuangan Republik Indonesia. (2026). Kemenkeu.go.id.https://www.kemenkeu.go.id/informasi-publik/publikasi/berita-utama/Realisasi-Sementara-APBN-2025

  • Redaksi Pajakku. (2026, April 30). Resmi! Perpanjangan Batas Lapor SPT Tahunan Badan Berlaku hingga 31 Mei 2026. Pajakku. https://pajakku.com/artikel/resmi-perpanjangan-batas-lapor-spt-tahunan-badan-berlaku-hingga-31-mei-2026

  • Santoso, I., & Santoso, I. (2025, December 15). Masalah Umum Sistem Coretax DJP yang Dikeluhkan Pengguna dan Cara Mengatasinya | SunFish HR by DataOn. DataOn. https://dataon.com/id-id/blog/masalah-umum-sistem-coretax-dan-cara-mengatasinya/

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 04 Nov 2026, 10:46

Medsos Mengubah Waktu dan Jarak

Medsos dapat merubah waktu dan jarak dalam penyampaian informasi

Dalam beberapa tahun ini, mengakses media sosial menjadi ritual yang seolah tanpa batas. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 04 Nov 2026, 10:18

Travel, Jalan Tol dan Perbincangan di Dalamnya

Banyak cerita-cerita yang hanya ada di perjalanan, tentang mereka yang terus berjuang di tengah kemegahan zaman.

Kemacetan akibat perbaikan dan pemeliharaan jalan di Tol Cikopo- Palimanan (Cipali). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)