Maut Menjemput Putri Diana, Dunia Berduka

6 menit baca
Kin Sanubary
Ditulis oleh Kin Sanubary diterbitkan
Berita kepergian Putri Diana menjadi perhatian utama berbagai media cetak di Indonesia, mencerminkan besarnya duka dan perhatian masyarakat terhadap sosok Princess of Wales tersebut. (Sumber: koleksi Kin Sanubary)
Berita kepergian Putri Diana menjadi perhatian utama berbagai media cetak di Indonesia, mencerminkan besarnya duka dan perhatian masyarakat terhadap sosok Princess of Wales tersebut. (Sumber: koleksi Kin Sanubary)

Minggu, 31 Agustus 1997. Ada hari-hari tertentu yang begitu kuat melekat dalam ingatan, seolah waktu tak pernah benar-benar mampu menghapusnya.

Pagi itu, dunia terbangun oleh sebuah kabar dari Paris yang terasa sulit dipercaya yakni Diana, Putri Wales, meninggal dunia setelah mengalami kecelakaan mobil di Terowongan Pont de l’Alma, Paris- Prancis.

Berita duka itu menyebar begitu cepat. Televisi dan radio di berbagai negara segera memberitakannya. Surat kabar bersiap dengan edisi khusus. Di rumah-rumah, orang-orang terpaku di depan layar televisi, mencoba memahami kenyataan bahwa perempuan yang selama bertahun-tahun begitu akrab di mata dunia telah pergi untuk selamanya.

Dari Asia hingga Eropa, dari Afrika hingga Amerika, kesedihan seakan tak mengenal batas negara dan benua. Indonesia pun tak luput dari suasana duka itu.

Nama Diana selama bertahun-tahun hadir di halaman depan surat kabar, majalah, dan layar televisi. Senyumnya begitu dikenal. Gaunnya menjadi pembicaraan. Gaya rambutnya ditiru. Kunjungan-kunjungan kemanusiaannya diberitakan. Bahkan kehidupan pribadinya pun tak pernah luput dari sorotan kamera.

Namun pada hari itu, untuk pertama kalinya, dunia mengenalnya melalui sebuah berita yang paling menyedihkan:

Diana telah meninggal dunia.

Diana Frances Spencer lahir pada 1 Juli 1961 di Park House, Sandringham, Norfolk, Inggris. Ia berasal dari keluarga bangsawan Spencer yang memiliki hubungan dekat dengan keluarga kerajaan Inggris.

Namanya mulai dikenal luas ketika ia menjalin hubungan dengan Charles, Pangeran Wales, putra mahkota Inggris.

Pertunangan mereka pada 1981 mengubah kehidupan Diana dalam sekejap. Gadis muda yang dikenal pemalu itu mendadak menjadi pusat perhatian dunia.

Pada 29 Juli 1981, Diana dan Charles menikah di Katedral St Paul, London.

Pernikahan tersebut menjadi salah satu peristiwa televisi terbesar pada zamannya. Jutaan pasang mata menyaksikan kemegahan upacara itu. Gaun pengantin Diana, kereta kerajaan, kemeriahan pesta, dan sosok pengantin perempuan yang masih sangat muda menjadi gambar yang tersimpan dalam ingatan sebuah generasi.

Sejak saat itu, Diana resmi menjadi Putri Wales.

Dari pernikahan tersebut lahirlah dua putra, William dan Harry.

Namun Diana kemudian menemukan jalannya sendiri. Di tengah protokol kerajaan yang serba resmi, ia tampil dengan cara yang berbeda, lebih hangat, terbuka, dan dekat dengan masyarakat.

Ada sesuatu yang membuat Diana terasa berbeda.

Ia tidak hanya berdiri dari kejauhan ketika bertemu masyarakat. Ia berjabat tangan, memeluk, menyentuh, mendengarkan dan berbicara langsung dengan orang-orang yang ditemuinya.

Sikap sederhana itu membuat jarak antara seorang putri kerajaan dan rakyat terasa lebih dekat.

Diana kemudian dikenal luas karena keterlibatannya dalam berbagai kegiatan sosial dan kemanusiaan. Ia memberikan perhatian kepada anak-anak, orang lanjut usia, penderita kanker, serta berbagai kelompok masyarakat yang hidup dalam keterbatasan.

Keberaniannya berinteraksi dengan penderita HIV/AIDS juga menjadi salah satu momen penting dalam perjuangannya melawan stigma terhadap penyakit tersebut.

Kin Sanubary bersama koleksi Tabloid Bintang edisi khusus Lady Diana, yang terbit pada September 1997, menjadi salah satu arsip cetak yang merekam suasana pemberitaan seputar wafatnya Putri Diana. (Sumber: Kin Sanubary)
Kin Sanubary bersama koleksi Tabloid Bintang edisi khusus Lady Diana, yang terbit pada September 1997, menjadi salah satu arsip cetak yang merekam suasana pemberitaan seputar wafatnya Putri Diana. (Sumber: Kin Sanubary)

Ia juga dikenal karena keterlibatannya dalam kampanye kemanusiaan mengenai ranjau darat.

Dunia pun melihat sisi lain Diana, ia bukan sekadar perempuan yang mengenakan gaun indah dan hidup di istana, tetapi seorang manusia yang menggunakan popularitasnya untuk menarik perhatian terhadap persoalan kemanusiaan.

Tak mengherankan jika kemudian ia mendapat julukan “People’s Princess” atau Putri Rakyat.

Di saat yang sama, Diana menjadi ikon mode dunia. Busana, gaya rambut, hingga penampilannya menjadi rujukan jutaan orang.

Kamera seolah selalu mencarinya.

Tetapi di balik gemerlap kamera itu, kehidupan Diana tidak selalu bahagia.

Rumah tangga yang retak

Pernikahan Diana dan Charles menghadapi berbagai persoalan. Keretakan rumah tangga mereka akhirnya menjadi konsumsi publik dan pemberitaan media di seluruh dunia.

Pada 1992, keduanya berpisah. Perceraian mereka kemudian resmi pada 1996.

Diana kehilangan gelar Her Royal Highness, tetapi tidak kehilangan tempat di hati masyarakat.

Justru setelah meninggalkan kehidupan kerajaan yang penuh protokol, kegiatan kemanusiaannya semakin mendapat perhatian.

Ia tetap Diana.

Perempuan yang dicintai kamera, tetapi juga semakin dikenal karena kepeduliannya terhadap sesama.

Lalu datanglah malam yang mengubah segalanya.

Pada akhir Agustus 1997, Diana berada di Paris bersama Dodi Al-Fayed, seorang konglomerat keturunan Arab.

Memasuki dini hari 31 Agustus 1997, Mercedes Benz yang membawa mereka meninggalkan kawasan Hotel Ritz Paris. Kendaraan itu kemudian mengalami kecelakaan di Terowongan Pont de l’Alma.

Dodi Al-Fayed dan pengemudi Henri Paul meninggal dunia di tempat.

Diana yang mengalami luka parah segera dilarikan ke Rumah Sakit Pitié-Salpêtrière. Upaya medis dilakukan untuk menyelamatkan hidupnya.

Namun sekitar pukul 04.00 waktu setempat, Diana dinyatakan meninggal dunia.

Dan dunia seolah kehilangan napas sejenak.

Ketika dunia menundukkan kepala

Kabar kematian Diana segera memenuhi siaran televisi dan radio. Program-program dihentikan atau diubah untuk menyampaikan berita duka.

Di berbagai negara, masyarakat berkumpul di depan televisi. Bunga mulai diletakkan di depan kediaman kerajaan. Lilin dinyalakan. Kartu dan pesan belasungkawa berdatangan.

Tabloid dan majalah edisi September 1997 ramai mengangkat berita wafatnya Putri Diana sebagai laporan utama, mengabadikan salah satu peristiwa paling menggemparkan dunia pada akhir abad ke-20. (Sumber: koleksi Kin Sanubary)
Tabloid dan majalah edisi September 1997 ramai mengangkat berita wafatnya Putri Diana sebagai laporan utama, mengabadikan salah satu peristiwa paling menggemparkan dunia pada akhir abad ke-20. (Sumber: koleksi Kin Sanubary)

Di Indonesia, bagi mereka yang tumbuh pada era televisi dan majalah cetak, berita itu terasa begitu dekat.

Nama Diana bukan nama asing.

Ia telah hadir bertahun-tahun melalui sampul majalah, foto-foto surat kabar, berita televisi, dan berbagai kisah tentang keluarga kerajaan Inggris.

Tiba-tiba, sosok yang selama ini kita lihat tersenyum dalam foto-foto itu telah tiada.

Pada 6 September 1997, pemakaman Diana berlangsung di Westminster Abbey.

Jutaan orang di seluruh dunia menyaksikan prosesi tersebut melalui televisi. William dan Harry berjalan di belakang peti jenazah ibu mereka, sebuah pemandangan yang hingga kini menjadi salah satu gambar paling emosional dari tahun 1997.

Elton John menyanyikan “Candle in the Wind” sebagai penghormatan kepada Diana. Lagu itu kemudian menjadi bagian tak terpisahkan dari kenangan dunia terhadap sang putri.

Setelah upacara pemakaman, Diana dimakamkan secara pribadi di Althorp, kediaman keluarga Spencer.

Makamnya berada di sebuah pulau kecil di tengah danau, jauh dari hiruk-pikuk dunia yang sepanjang hidupnya tak pernah benar-benar berhenti membicarakannya.

29 tahun kemudian.

Hari ini, 31 Agustus 2026, genap 29 tahun sejak pagi kelabu di Paris itu.

Waktu ternyata berjalan begitu cepat.

Generasi yang dahulu mengenal Diana melalui televisi, radio, majalah, tabloid dan surat kabar kini telah bertambah usia. Anak-anak yang menyaksikan berita kematiannya bersama orang tua mereka mungkin telah menjadi orang tua pula.

Foto-foto lama mulai menguning. Sampul majalah menjadi koleksi. Rekaman televisi menjadi arsip sejarah.

Namun kenangan tentang Diana tetap hidup.

Bagi sebagian orang, ia adalah seorang putri kerajaan.

Bagi yang lain, ia adalah ikon mode.

Bagi banyak orang, ia adalah “Putri Rakyat”, sosok yang membuat keluarga kerajaan terasa lebih manusiawi.

Diana memperlihatkan bahwa di balik mahkota, gaun indah, istana dan protokol, ada seorang perempuan biasa dengan rasa takut, kesedihan, kasih sayang, dan kepedulian terhadap sesama.

Mungkin itulah yang membuat kepergiannya terasa begitu dalam.

Ia pergi terlalu cepat.

Hanya 36 tahun usianya.

Namun 29 tahun setelah kematiannya, senyum Lady Di masih tersimpan dalam ingatan banyak orang.

Waktu boleh berlalu. Generasi boleh berganti. Dunia boleh berubah. Tetapi ada nama-nama yang seakan menolak untuk dilupakan.

Diana adalah salah satunya.

Tiga dekade belum genap, tetapi hampir tiga puluh tahun setelah pagi kelabu itu, dunia masih mengenang perempuan yang pernah menjadi putri, ikon, ibu, dan sahabat bagi begitu banyak orang yang bahkan tak pernah benar-benar mengenalnya.

Selamat jalan, Lady Di. Kenangan tentangmu tetap hidup. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 16 Okt 2026, 20:03

KDM dan Tantangan Mengubah Empati Menjadi Kebijakan

Pemimpin dengan skor empati tinggi bisa berhasil ketika mereka membangun institusi yang mampu menerjemahkan empati menjadi kebijakan yang bermakna.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, yang akrab disapa KDM. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 18:00

Pengalaman Memandu SMP Atirah Makassar #1

Pengalaman memandu siswa kelas 8 dari SMP Atirah, Bukit Baruga, Makassar, pada tanggal 5 Oktober hingga 9 Oktober kemarin.

Pengalaman memandu siswa kelas 8 dari SMP Atirah, Bukit Baruga, Makassar, pada tanggal 5 Oktober hingga 9 Oktober kemarin. (Sumber: Malia Nur Alifa)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 16:57

Ketika Foto Menjadi Saksi Sejarah: Ray Bachtiar dan Perjalanan Dunia Visual

Fotografi menyimpan jejak sejarah dan ingatan bangsa. Talkshow “Jejak Visual” mengulas evolusi fotografi dan videografi bersama Ray Bachtiar Dradjat di Museum Mandiri, Kota Tua Jakarta.

Praktisi fotografi Ray Bachtiar Dradjat menjadi narasumber talkshow “Jejak Visual: Evolusi Fotografi dan Videografi”. (Sumber: Ray Bachtiar Dradjat)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 16:42

Menelusuri Jejak Benny Soebardja, Sang Godfather Rock Progresif Indonesia

Buku Benny Soebardja: The Progressive Years karya Zuhair Alyafie mengulas perjalanan Benny Soebardja dan perannya dalam membentuk sejarah rock progresif Indonesia.

Benny Soebardja: Perjalanan Sang Godfather Rock Progresif Indonesia (Sumber: Zuhair Alyafie)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 15:21

Peran Bank Perekonomian Rakyat Mencegah Jerat Rentenir di Bandung

Tujuan utama perbankan daerah bukan hanya menghimpun dana dan menyalurkan kredit. Keberadaannya menjaga martabat ekonomi keluarga di Bandung.

Ilustrasi pentingnya peran Bank Perekonomian Rakyat di Kota Bandung. (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 13:58

Cerita Perjalanan Menuju Palimanan dan Belajar Keberanian dari Lapak Baca Buku Gratis Cirebon

Kegiatan membuka lapak untuk membaca buku gratis mulai hadir di beberapa kota untuk meningkatkan minat literasi, begitu juga dengan Kota Cirebon.

Baca Buku Gratis di Alun-Alun Palimanan Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 11:07

Jalur Banjaran–Pangalengan Seringkali Padat: Mengapa Kemacetan Terjadi?

Kemacetan di jalur Banjaran–Pangalengan menjadi perhatian karena jalur ini digunakan oleh warga untuk beraktivitas sehari-hari sekaligus menjadi akses menuju kawasan wisata.

Dokumentasi kemacetan di daerah Pasar Banjaran.
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 10:07

SKS: Kebiasaan Buruk atau Mekanisme Bertahan Mahasiswa?

Tugas menumpuk dan tenggat mendekat membuat mahasiswa begadang demi menyelesaikan pekerjaan. Apakah SKS sekadar kebiasaan buruk atau cara bertahan di tengah tuntutan akademik?

night study (Sumber: pexels.com | Foto: Bikram Bezbaruah)
Bandung 15 Okt 2026, 19:59

Industri Hiburan Bandung Masih Bergelora, Playlist Rewind 2026 Jadi Bukti Eksistensi Kota Musik

Kota Bandung tak pernah kehilangan taji sebagai barometer industri hiburan dan kiblat festival musik Tanah Air. Denyut kreatifitas itu kini kembali terbukti lewat hadirnya Playlist Rewind 2026.

Kota Bandung tak pernah kehilangan taji sebagai barometer industri hiburan dan kiblat festival musik Tanah Air. Denyut kreatifitas itu kini kembali terbukti lewat hadirnya Playlist Rewind 2026. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 17:57

Para Insinyur Planologi, Arsitektur dan Sipil Terkemuka Yang Terlibat Pembangunan Kota Bandung dan Cimahi (Bagian 1)

Kisah insinyur planologi, arsitektur dan sipil terkemuka dalam membangun Bandung dan Cimahi. Temukan jejak sejarah, inovasi tata kota dan mahakarya ikonis mereka di sini!

Lukisan cat air Gedung Sate (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2)
Bandung 15 Okt 2026, 16:41

Menolak Lupa Rasa Rumah, 11 Tahun Warung Kopi Imah Babaturan Merawat Hangatnya Bandung

Tepat pada 15 Oktober 2026, warung kopi dan rumah makan, yakni Warung Kopi Imah Babaturan yang bersemayam di jantung Kota Bandung ini merayakan hari jadinya yang ke-11.

Pemilik Warung Kopi Imah Babaturan, yakni Mohammad Nurul Hudha dan sang istri, Anggia Bonyta. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:48

Relasi Santri dengan Indonesia

Refleksi Hari Santri Nasional 2026: menelusuri jejak Resolusi Jihad, peran ulama, dan perjuangan santri dalam mempertahankan kemerdekaan serta menjaga hubungan santri dan negara.

Relasi Santri dengan Indonesia (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:09

Ketika Pertemanan Punya Target Harian: Terhubung atau Sekadar Menjaga Api Streak TikTok?

Pernah takut api streak TikTok dengan teman terputus? Kebiasaan ini bisa menjaga komunikasi, tetapi juga terasa seperti kewajiban harian. Apakah kita benar-benar terhubung atau sekadar menjaga angka?

Fitur api streak TikTok bisa menjadi cara menyenangkan untuk menjaga komunikasi.
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:03

Pardoks 'Tidak Ada Bukti' dalam Kasus Pelecehan Seksual di Unpas

Data menunjukkan bahwa laporan palsu -- atau bahkan fitnah -- dalam kasus kekerasan dan pelecehan seksual di kampus sangat rendah, sementara underreporting sangat tinggi. Apa artinya?

Aksi mahasiswa Universitas Pasundan (Unpas) Bandung terkait dugaan kekerasan seksual oleh oknum dosen. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 12:03

Mengenal Emma Poeradiredja dan Jejak Politik Perempuan Sunda

Emma Peoradiredja, seorang tokoh perempuan sunda yang membukakan jalan berpolitik untuk perempuan di tanah sunda

Emma Poeradiredja
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 22:06

Bandung dan Cirebon Sama-Sama Minim Penerangan Lampu Jalanan

Penerangan jalan umum di wilayah Jawa Barat masih sangat minim perhatian sehingga kondisi ini bisa mengakibatkan potensi kecelakaan bagi pengguna kendaraan.

Penerangan Jalan Ahmad Yani-Pantura Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 18:01

Menyeret Emak dan Bapak Ke Pengadilan

Banyak Lansia atau orang tua yang disidangkan oleh anak kandungnya di pengadilan yang semestinya tidak terjadi peristiwa nirempati tersebut

Ruang sidang bukan tempat membalas budi orang tua. Utamakan musyawarah dan kasih sayang. (Sumber: Ilustrasi oleh Gemini AI)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 16:45

Penertiban PKL: Apakah Menuju Bandung yang lebih Ramah dengan Pejalan Kaki?

Beberapa waktu ke belakang Bandung sedang melakukan penertiban PKL di Jalan Kiaracondong dan Cihapit tentunya harapannnya pejalan kaki mendapatkan haknya kembali.

Ilustrasi Penertiban PKL. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 14:52

Momentum Memerdekakan Guru

Menjadi anomali bahwa profesi guru mendapatkan tuntutan, tetapi dalam kehidupannya masih di bawah dari harapan.

Ilustrasi guru dan siswa di ruang kelas sekolah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 13:49

Proyeksi JPO UIN Bandung: Realisasi atau Ilusi?

Sebuah kritik dan saran kepada birokrasi UIN Bandung terkait usulan pengadaan JPO di depan gerbang kampus yang berhadapan langsung dengan Jalan A.H. Nasution.

Lanskap Jalan A.H Nasution di jam aktifitas. (Sumber: Dipotret dengan ponsel pribadi. | Foto: Rifki Ahmad Ma'ruf)