Critical Mass Bukan Sekadar Bersepeda Bersama, tetapi Pengingat bahwa Jalan Milik Semua

4 menit baca
Angga Marditama Sultan Sufanir
Ditulis oleh Angga Marditama Sultan Sufanir diterbitkan
Ilustrasi kegiatan Critical Mass yang menjadi perbincangan hangat di media sosial. (Sumber: Pexels | Foto: João Saplak)
Ilustrasi kegiatan Critical Mass yang menjadi perbincangan hangat di media sosial. (Sumber: Pexels | Foto: João Saplak)

Belakangan ini kegiatan Critical Mass kembali menjadi perbincangan hangat di media sosial. Sebagian masyarakat menilai kegiatan tersebut menghambat lalu lintas dan merugikan pengguna jalan lain. Di sisi lain, banyak pesepeda memandangnya sebagai cara menyampaikan aspirasi agar keberadaan mereka lebih diperhatikan.

Perbedaan pandangan tersebut menunjukkan bahwa jalan bukan sekadar ruang untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain, melainkan ruang publik yang digunakan bersama. Karena itu, sebelum menilai apakah Critical Mass tepat atau tidak, penting untuk memahami mengapa gerakan ini muncul dan pesan apa yang ingin disampaikannya.

Mengapa Critical Mass Muncul?

Critical Mass bukanlah perlombaan ataupun bersepeda bersama biasa. Gerakan ini bermula pada 25 September 1992 di San Francisco dengan nama "Commute Clot", ketika sekelompok pesepeda berkumpul dan bersepeda bersama pada Jumat terakhir setiap bulan. Tujuan utamanya sederhana, yakni menunjukkan bahwa pesepeda juga merupakan bagian dari pengguna jalan yang memiliki hak untuk menggunakan ruang publik secara aman.

Dalam jumlah sedikit, pesepeda sering kali kurang terlihat oleh pengguna kendaraan bermotor. Namun ketika mereka bergerak bersama dalam jumlah besar, keberadaan mereka menjadi sulit diabaikan. Dari sinilah lahir gagasan utama Critical Mass: membuat pesepeda terlihat (to be visible).

Gerakan ini kemudian berkembang ke berbagai kota di dunia dan menginspirasi kegiatan serupa di Indonesia, termasuk di Jakarta, Yogyakarta, dan Bandung. Di berbagai kota tersebut, Critical Mass menjadi media kampanye untuk mendorong transportasi yang lebih aman, nyaman, dan berkelanjutan.

Bandung sendiri memiliki potensi besar sebagai kota yang ramah bagi pesepeda. Jarak perjalanan yang relatif pendek membuat banyak aktivitas sehari-hari sebenarnya dapat ditempuh dengan bersepeda. Namun potensi tersebut masih terkendala oleh dominasi kendaraan bermotor, jaringan jalur sepeda yang belum terhubung secara baik, serta rendahnya rasa aman saat bersepeda di jalan raya. Akibatnya, sepeda masih lebih sering dipandang sebagai sarana rekreasi dibandingkan sebagai moda transportasi harian.

Ilustrasi bersepeda di malam hari. (Sumber: Pexels | Foto: ClickerHappy)
Ilustrasi bersepeda di malam hari. (Sumber: Pexels | Foto: ClickerHappy)

Keselamatan Pesepeda dan Keadilan Ruang Jalan

Perdebatan mengenai Critical Mass tidak dapat dilepaskan dari persoalan keselamatan. Pesepeda merupakan kelompok pengguna jalan rentan (vulnerable road users) karena hampir tidak memiliki perlindungan fisik ketika terjadi tabrakan. Berbeda dengan pengemudi mobil yang terlindungi bodi kendaraan, pesepeda menanggung risiko cedera serius bahkan pada kecelakaan dengan kecepatan sedang.

Menurut World Health Organization (WHO), sekitar 1,19 juta orang meninggal setiap tahun akibat kecelakaan lalu lintas di seluruh dunia. Lebih dari separuh korbannya merupakan pengguna jalan rentan, termasuk pejalan kaki, pesepeda, dan pengendara sepeda motor. Sekitar 71.000 di antaranya adalah pesepeda.

Realitas tersebut masih dirasakan di banyak kota. Tidak sedikit pesepeda yang harus berbagi lajur dengan kendaraan berkecepatan tinggi, disalip dengan jarak yang sangat dekat, atau mendapati jalur sepeda yang terputus di persimpangan. Kondisi seperti ini membuat banyak orang enggan menggunakan sepeda sebagai moda transportasi sehari-hari.

Dalam teori keselamatan lalu lintas dikenal konsep safety in numbers, yaitu semakin banyak pesepeda berada di jalan, semakin besar kemungkinan pengguna jalan lain menyadari keberadaan mereka sehingga risiko kecelakaan dapat berkurang. Inilah salah satu alasan mengapa banyak pesepeda merasa lebih aman ketika berkendara secara berkelompok.

Di sisi lain, tidak dapat dipungkiri bahwa Critical Mass dapat menimbulkan ketidaknyamanan bagi pengguna kendaraan bermotor karena arus lalu lintas menjadi lebih lambat. Salah satu contohnya adalah polemik kegiatan Critical Mass pada rangkaian Jogja Last Friday Ride (JLFR) yang ramai diperbincangkan di media sosial dan menunjukkan bahwa penggunaan ruang jalan masih memunculkan perbedaan persepsi. Kritik tersebut merupakan hal yang wajar dalam ruang publik yang digunakan bersama. Namun, kondisi itu juga mengingatkan bahwa ketidaknyamanan sementara yang dirasakan pengendara kendaraan bermotor saat Critical Mass berlangsung merupakan situasi yang selama ini lebih sering dialami pesepeda ketika harus berbagi ruang dengan kendaraan bermotor setiap hari.

Perdebatan tersebut pada akhirnya membawa kita pada isu yang lebih mendasar, yaitu keadilan transportasi. Jalan merupakan sumber daya publik yang terbatas sehingga pembagian ruang jalan selalu mencerminkan pilihan kebijakan. Selama bertahun-tahun, pembangunan transportasi lebih banyak berorientasi pada kelancaran kendaraan bermotor, sementara kebutuhan pejalan kaki dan pesepeda belum memperoleh perhatian yang setara. Dalam konteks inilah Critical Mass dapat dipahami sebagai pengingat bahwa ruang jalan semestinya dapat dinikmati secara adil oleh seluruh pengguna jalan.

Jalan yang Aman Adalah Jalan untuk Semua

Polemik mengenai Critical Mass seharusnya tidak berhenti pada perdebatan mengenai siapa yang paling berhak menggunakan jalan. Yang lebih penting adalah bagaimana membangun sistem transportasi yang mampu melindungi seluruh pengguna jalan.

Berbagai negara kini menerapkan pendekatan Safe System, yaitu sistem transportasi yang mengakui bahwa manusia dapat melakukan kesalahan sehingga jalan harus dirancang agar kesalahan tersebut tidak berakibat fatal. Pendekatan ini diwujudkan melalui pengendalian kecepatan kendaraan, penyediaan jalur sepeda yang terproteksi, penataan persimpangan yang lebih aman, serta peningkatan perlindungan bagi pengguna jalan rentan.

Prinsip tersebut sejalan dengan pendekatan Vision Zero yang menempatkan keselamatan manusia sebagai prioritas utama. Dalam pendekatan ini, tidak ada kematian akibat kecelakaan lalu lintas yang dapat dianggap dapat diterima.

Pada akhirnya, Critical Mass bukan sekadar kegiatan bersepeda bersama. Gerakan ini merupakan pengingat bahwa jalan adalah ruang publik yang harus dapat digunakan secara aman, nyaman, dan setara oleh semua orang. Perbedaan pendapat mengenai kegiatan ini mungkin akan selalu ada. Namun jika diskusi diarahkan pada upaya meningkatkan keselamatan dan keadilan transportasi, manfaatnya akan dirasakan oleh seluruh masyarakat.

Sebab ukuran kota yang maju bukanlah seberapa cepat kendaraan bermotor dapat melaju, melainkan seberapa aman setiap orang—baik pejalan kaki, pesepeda, pengguna angkutan umum, pengendara sepeda motor, maupun pengemudi mobil—dapat tiba di tujuan dengan selamat. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Angga Marditama Sultan Sufanir
Asst. Professor of Transportation Engineering, Politeknik Negeri Bandung

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 20 Jul 2026, 16:01

Bandung Begal, Beungal, dan Bedul

Memberantas begal tidak cukup hanya dengan menangkap pelakunya.

Begal makin marak di Bandung. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 15:15

Pembongkaran Perpustakaan Gasibu Picu Kekecewaan Pembaca Buku di Bandung

Pembongkaran fisik Perpustakaan Gasibu Bandung memicu banyak kekecewan dari warga sekitar dan pegiat literasi.

Perpustakaan Gasibu yang dibongkar. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rachmadi Rasyad)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 14:34

Posisi Strategis Ibu dalam Pelestarian Bahasa Ibu

Pelestarian bahasa ibu atau bahasa daerah tidak bisa lepas dari peran ibu sendiri.

Ilustrasi masyarakat tradisional Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Wahyu Prabowo)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 13:14

Legitnya Peuyeum Ciruluk, Warisan Kuliner Khas Kalijati Subang

Sebuah kuliner tradisional yang memiliki keunikan tersendiri, yakni Peuyeum Ciruluk, tape ketan hijau yang telah menjadi identitas kuliner masyarakat setempat.

Peuyeum Ciruluk khas Kalijati, Kabupaten Subang, memiliki ciri khas dibungkus menggunakan daun muncang (daun kemiri), sehingga tampil alami sekaligus membantu menjaga cita rasa dan kualitas produknya. (Foto: Kin Sanubary)
Wisata & Kuliner 20 Jul 2026, 11:47

Hikayat Pasar Andir Pusat Grosir Fesyen Bandung yang Mencoba Terus Bertahan

Pasar Andir pernah menjadi pusat grosir fesyen Bandung dan kini berjuang menghadapi perubahan perilaku belanja masyarakat.

Suasana Pasar Andir, Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 11:42

Gernas RANA: Menepis Cemas dan Menanam Senyum di Hari Pertama Sekolah

Lewat Permendikdasmen 12/2026 & Gernas RANA, sekolah kini jadi ruang aman bebas cemas. Saatnya sambut masa depan anak dengan kasih sayang!

Pengenalan sekolah bagi para siswa-siswi baru. (Foto: Oleh : bkhmvidio@gmail.com)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 09:09

Bedah Publikasi Pesan Program Pendampingan Gizi dalam Pencegahan Stunting

Nestle Indonesia mempublikasikan program pendampingan gizi di berbagai platform komunikasi dengan menyesuaikan karakteristik tiap platform.

Ilustrasi penulis sedang membedah narasi iklan. (Dokumentasi pribadi)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 08:39

Sudah Sehatkah Demokrasi Kita?

Apakah demokrasi bisa tumbuh secara sehat tanpa partisipasi masyarakat? Bagaimana pandangan pakar tentang ini?

Bendera negara Indonesia. (Sumber: Unsplash | Foto: Rizky Rahmat Hidayat)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 07:55

SPMB Jalur Domisili Belum Cukup Mengurangi Ketergantungan Pelajar pada Sepeda Motor

SPMB jalur domisili mendekatkan jarak antara rumah dan sekolah, tetapi belum cukup mengurangi ketergantungan pelajar pada sepeda motor dan risiko keselamatan di jalan raya.

Sejumlah sepeda motor milik siswa sebuah SMA di Kota Bandung diparkir di badan jalan. (Istimewa)
Ayo Netizen 19 Jul 2026, 18:04

Cara Ampuh Menerangi Jalan Kota Bandung

Menindak tegas begal bukan sekadar menjadi program tapi melanjutkan keluhan masyarakat yang diprioritaskan

Petugas dari Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bandung melakukan perbaikan lampu penerangan jalan umum di jalan Katapang, Kota Bandung, Senin, 9 Juni 2025. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 19 Jul 2026, 15:30

Mafia Olahraga, Sebuah Stigma Menakutkan

Olahraga yang seharusnya menjadi ruang sportivitas kini dihantui oleh mafia yang terhubung dengan jaringan global.

Uang rupiah. (Sumber: Unsplash | Foto: Mufid Majnun)
Wisata & Kuliner 19 Jul 2026, 14:01

Keripik Paru Klaten, Oleh-oleh Gurih Legendaris dari Kampung Tegal Kepatihan

Dari Kampung Tegal Kepatihan hingga dikenal luas, Keripik Paru Klaten menjadi ikon kuliner khas. Ketahui sejarah, proses, dan tempat membelinya.

Keripik Paru Klaten.
Ayo Netizen 19 Jul 2026, 11:33

Marak Begal, Gangster, dan Matel Menelan Korban, Warga Bandung Pertanyakan Aksi Walikota dan Aparat

Bandung darurat 'Red Zone' akibat maraknya begal, gangster, dan matel yang menelan banyak korban.

Senjata Tajam. (Sumber: Pixabay/KhanaBadosh | Foto: Pixabay/KhanaBadosh)
Ayo Netizen 19 Jul 2026, 08:00

Ketika Deru Knalpot dan Distorsi Musik Menyatukan Ribuan Pecinta Otomotif Bandung

Seri pembuka Kejurnas Slalom MLDSPOT Autokhana 2026 sukses mengguncang GOR Arcamanik Bandung.

Gate masuk event MLDSPOT Autokhana, pada 11 Juli 2026 (Sumber: Athhar Jundi Pratama Attaqa | Foto: Athhar Jundi Pratama Attaqa)
Ayo Netizen 19 Jul 2026, 07:50

Mengembalikan Fungsi Bandara Husein Bukan Romantisme Masa Lalu

Keberhasilan reaktivasi Bandara Husein pada akhirnya tidak akan ditentukan oleh hari pertama operasional, melainkan oleh apa yang terjadi berbulan-bulan setelahnya.

Petugas Avsec melakukan patroli di pintu keberangkatan domestik Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 17 Jul 2026, 21:21

Panduan Wisata ke Kawah Ijen Banyuwangi: Blue Fire, Tiket, dan Tips Lengkap

Panduan lengkap wisata Kawah Ijen Banyuwangi, mulai harga tiket 2025, fenomena Blue Fire, rute pendakian, jam terbaik, hingga tips agar perjalanan lebih aman.

Kawah Ijen Banyuwangi. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 20:15

Luka, Algoritma, dan Dogma

Luka hanya dapat disembuhkan oleh kepedulian, algoritma dapat diimbangi dengan literasi, dan rapuhnya interaksi sosial hanya dapat dipulihkan saat kita meluangkan waktu untuk benar-benar hadir bersama

Kita tidak akan sepenuhnya paham bagaimana rasanya di-bully, sebelum kita merasakan sendiri dampaknya. (Sumber: Unsplash/Carolina)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 17:29

Alih Fungsi Jalur Sepeda Menjadi Parkir Motor: Inkonsistensi Kebijakan Transportasi Kota Bandung

Alih fungsi jalur sepeda di Jalan Lembong menjadi parkir motor bukan sekadar persoalan parkir, tetapi mencerminkan inkonsistensi kebijakan Kota Bandung dalam mewujudkan transportasi berkelanjutan.

Pemandangan miris di Jalan Lembong, Kota Bandung pada Kamis (16/7/2026). Jalur sepeda yang dibangun untuk menjamin keselamatan pesepeda, justru beralih fungsi menjadi ruang parkir sepeda motor. (Foto: Alkhalifi)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 16:58

Mengapa Isolasi Politik Pasca Tragedi Bubat Membuat Sunda Makin Mandiri?

Mengulas bagaimana Kerajaan Sunda memperkuat kemandirian politik, ekonomi, dan pertahanannya setelah Perang Bubat melalui kebijakan isolasi dari Majapahit.

Ilustrasi peristiwa Perang Bubat di Taman Citra Resmi, Purwakarta. (Sumber: nationalgeographic.grid.id | Foto: Cut Menas Nila Tanu Sukma Devi)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 16:25

Satu Peluncuran, Tiga Cara Bercerita: Menganalisis Penyampaian Pesan Produsen Ponsel Pintar Ternama

Memahami bagaimana cara jenama besar menyebarkan informasi tentang produk terbaru.

Ilustrasi ponsel pintar. (Sumber: Pexels | Foto: Efrem Efre)