#NowForClimate: Bersepeda sebagai Aksi Nyata untuk Masa Depan yang Lebih Hijau

4 menit baca
Angga Marditama Sultan Sufanir
Ditulis oleh Angga Marditama Sultan Sufanir diterbitkan
Dampak global jika semua orang di dunia bersepeda sebanyak rata-rata orang Denmark dan Belanda. (Sumber: Dok. Penulis)
Dampak global jika semua orang di dunia bersepeda sebanyak rata-rata orang Denmark dan Belanda. (Sumber: Dok. Penulis)

Setiap hari jutaan kendaraan bermotor memenuhi jalan-jalan di berbagai kota di Indonesia. Di balik kemudahan mobilitas yang ditawarkan, aktivitas tersebut menghasilkan emisi gas rumah kaca yang mempercepat perubahan iklim sekaligus menurunkan kualitas udara perkotaan. Banjir yang semakin sering terjadi, suhu udara yang meningkat, serta cuaca yang semakin ekstrem menjadi pengingat bahwa krisis iklim bukan lagi ancaman di masa depan, melainkan kenyataan yang sedang kita hadapi.

Dalam konteks itulah, Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 yang diperingati setiap tanggal 5 Juni mengangkat tema global #NowForClimate. Tema ini mengandung pesan yang sederhana namun mendesak: aksi menghadapi perubahan iklim harus dilakukan sekarang. Setiap individu, komunitas, dan pemerintah memiliki peran untuk mengurangi jejak karbon melalui pilihan-pilihan yang nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu sektor yang perlu mendapat perhatian adalah transportasi. Menurut International Energy Agency (IEA), sektor transportasi merupakan salah satu penyumbang terbesar emisi karbon dioksida global, dengan emisi mendekati 8 gigaton pada tahun 2022, meningkat sekitar 3% dari tahun sebelumnya. Oleh karena itu, transformasi menuju sistem transportasi rendah karbon menjadi bagian penting dalam upaya menahan laju perubahan iklim.

Sepeda: Solusi Sederhana dengan Dampak Besar

Di antara berbagai pilihan transportasi berkelanjutan, sepeda menawarkan solusi yang murah, sehat, dan ramah lingkungan. Selama digunakan, sepeda hampir tidak menghasilkan emisi karbon, tidak membutuhkan bahan bakar fosil, serta tidak menimbulkan polusi udara. Selain itu, ruang jalan yang dibutuhkan jauh lebih kecil dibandingkan kendaraan bermotor sehingga berpotensi mengurangi kepadatan lalu lintas.

Setiap perjalanan jarak pendek yang dialihkan dari mobil atau sepeda motor ke sepeda berarti mengurangi konsumsi energi dan emisi karbon. Jika perubahan tersebut dilakukan oleh semakin banyak masyarakat, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh lingkungan, tetapi juga oleh kualitas hidup perkotaan melalui udara yang lebih bersih dan jalan yang lebih manusiawi.

Dengan demikian, bersepeda bukan sekadar aktivitas olahraga atau rekreasi, melainkan bagian dari strategi pembangunan transportasi rendah karbon yang sejalan dengan semangat #NowForClimate.

Indonesia Memiliki Peluang yang Besar

Indonesia sebenarnya memiliki potensi yang sangat baik untuk mengembangkan budaya bersepeda. Sebagian besar perjalanan harian di kawasan perkotaan berjarak relatif pendek sehingga dapat ditempuh dengan sepeda. Kondisi iklim tropis juga memungkinkan aktivitas bersepeda dilakukan hampir sepanjang tahun.

Namun, potensi tersebut belum dimanfaatkan secara optimal. Di banyak kota, masyarakat masih menghadapi keterbatasan jalur sepeda yang aman dan saling terhubung. Akibatnya, kendaraan bermotor tetap menjadi pilihan utama meskipun jarak perjalanan sebenarnya memungkinkan ditempuh dengan sepeda.

Situasi ini menunjukkan bahwa perubahan perilaku tidak cukup hanya mengandalkan kampanye. Masyarakat akan lebih mudah beralih ke sepeda apabila lingkungan yang tersedia mendukung pilihan tersebut.

Infrastruktur Menentukan Keberhasilan

Keberhasilan budaya bersepeda sangat bergantung pada kualitas infrastruktur. Jalur sepeda tidak boleh dipandang sekadar pelengkap ruang jalan, tetapi sebagai bagian dari sistem transportasi yang memberikan hak mobilitas yang aman bagi semua pengguna jalan.

Merujuk pada CROW Design Manual for Bicycle Traffic (2017), infrastruktur bersepeda yang baik setidaknya memenuhi lima aspek utama, yaitu:

  1. Keselamatan, melalui perlindungan pesepeda dari konflik dengan kendaraan bermotor.
  2. Kenyamanan, dengan permukaan jalan yang baik dan bebas hambatan.
  3. Daya tarik, melalui lingkungan yang teduh, nyaman, dan mendukung pengalaman bersepeda.
  4. Kelangsungan rute, berarti menyediakan jalur yang langsung dan tidak terputus sehingga meminimalkan jalan memutar.
  5. Koherensi, yaitu keterhubungan jalur dengan kawasan permukiman, pusat aktivitas, dan simpul transportasi umum.

Kelima aspek tersebut menentukan apakah masyarakat akan menjadikan sepeda sebagai moda transportasi sehari-hari atau hanya sebagai sarana rekreasi pada akhir pekan.

Aksi Iklim Dimulai dari Perjalanan Sehari-hari

Sering kali perubahan iklim dianggap sebagai persoalan yang hanya dapat diselesaikan melalui kebijakan besar atau teknologi canggih. Padahal, perubahan juga dapat dimulai dari keputusan sederhana yang dilakukan setiap hari. Memilih bersepeda ke kantor, kampus, sekolah, atau tempat aktivitas lain untuk perjalanan jarak dekat merupakan salah satu bentuk aksi iklim yang nyata.

Selain membantu mengurangi emisi, penggunaan sepeda juga meningkatkan aktivitas fisik, menekan biaya transportasi, mengurangi kemacetan, dan memperbaiki kualitas udara. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga menekankan bahwa transportasi aktif seperti berjalan kaki dan bersepeda memberikan manfaat sekaligus bagi kesehatan masyarakat dan lingkungan.

Ketika jutaan perjalanan harian beralih ke moda yang lebih ramah lingkungan, dampak kolektifnya akan jauh lebih besar daripada yang terlihat dari satu perjalanan individu.

Membangun Kota yang Ramah Sepeda dan Ramah Iklim

Tema #NowForClimate bukan sekadar ajakan untuk mengurangi emisi, tetapi juga seruan untuk mengubah cara kita merancang sistem transportasi dan membangun kota. Kota yang ramah sepeda adalah kota yang menyediakan ruang yang aman, nyaman, dan inklusif bagi seluruh penggunanya, sekaligus berkontribusi pada penurunan emisi karbon.

Karena itu, tanggung jawab mewujudkan mobilitas berkelanjutan tidak hanya berada di tangan masyarakat. Pemerintah perlu membangun jaringan jalur sepeda yang berkualitas dan terintegrasi dengan transportasi publik, dunia usaha dapat mendukung budaya mobilitas hijau, sementara akademisi dan komunitas berperan dalam menghasilkan inovasi dan edukasi berbasis bukti.

Perubahan iklim tidak akan diatasi oleh satu kebijakan atau satu teknologi semata. Ia diselesaikan melalui jutaan keputusan kecil yang dilakukan setiap hari. Ketika pemerintah menghadirkan infrastruktur yang layak dan masyarakat memilih bersepeda untuk perjalanan yang memungkinkan, setiap kayuhan pedal menjadi investasi bagi udara yang lebih bersih, kota yang lebih sehat, dan masa depan yang lebih hijau. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:10

Bandung Menuju Kota Digital Aman

Kota yang benar-benar cerdas bukan hanya kota yang mampu mengadopsi teknologi terbaru, melainkan yang mampu melindungi warganya.

Ilustrasi layanan digital. (Sumber: Pexels | Foto: Towfiqu barbhuiya)
Ayo Biz 01 Nov 2026, 15:21

Lahan Sempit di Kota Bandung Disulap Jadi Kebun Produktif, Hasilnya untuk Warga

Sejumlah jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia berkesempatan melihat langsung pengelolaan kebun tersebut melalui kegiatan Fellowship Journalism Menanam di BRInita Buruan Sae.

Pada Jumat, 30 Oktober 2026, sejumlah jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia berkesempatan melihat langsung pengelolaan kebun tersebut melalui kegiatan Fellowship Journalism Menanam di BRInita Buruan Sae Pajajaran Hegar. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 20:39

Stop The Wedding: Tren Perempuan yang Membagikan Cerita Traumatis Pernikahan

Apakah perempuan benar-benar takut menikah karena tidak menemukan urgensinya atau hanya takut karena tren "Stop The Wedding" yang sedang beredar di media sosial

Stop the Wedding sedang menjadi headline di media sosial yang mengangkat pengalaman buruk perempuan dalam pernikahan (Sumber: Ilustrasi Gambar AI)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 19:15

Bandung Akan Terkena Asap Pekat Karhutla

Nafsu-nafsu tidak terkendali untuk menguasai hutan bisa menyebabkan semua wilayah terkena dampak asap pekat kebakaran hutan dan lahan termasuk Kota Bandung

Penanganan karhutla. (Sumber: Kementerian Kehutanan)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 17:11

Merancang Kawasan Hunian untuk Mobilitas Berkelanjutan

Integrasi tata ruang dan transportasi dalam pengembangan kawasan hunian melalui akses berjalan kaki, bersepeda, dan angkutan umum untuk mewujudkan mobilitas yang aman, nyaman, dan berkelanjutan.

Halte bus yang berfungsi sebagai tempat pemberhentian angkutan umum di kawasan hunian. (Foto: Angga Marditama Sultan Sufanir)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 16:31

Korupsi di Negeri Bencana

Korupsi di BNPB yang dilakukan oleh oknum, merupakan perbuatan yang biadab.

SDN 1 Babakan Talang di Kampung Cigombong, Desa Cibedug, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat hancur akibat bencana pergerakan tanah , Senin 4 Maret 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 15:17

Ketika Api Menguji Integritas

Bencana menuntut kita bergerak cepat menyelamatkan kehidupan, tetapi juga menguji integritas dalam menjaga amanah dan menyalurkan bantuan.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla). (Sumber: kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 20:24

Bdg-GoX Dibangun, Kapan Warga Bandung Menikmati Internet Murah?

Akses digital bukan hanya persoalan ketersediaan jaringan, melainkan juga keterjangkauan ekonomi.

Ilustrasi Bandung Kota Digital dengan program  Bdg-Gox (Sumber: Ilustrasi di desain dengan ChatGPT oleh Sri Maryati)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 19:47

Cangkoréh Awi Ngarambat

Ada jenis bambu yang merambat, yang dikenal, ada yang menyebutnya awi cangkoréh, ada juga yang menyebutnya awi cangkoré.

Awi ngarambat. (Foto: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 16:33

Persembahan untuk Lembang

Lembang telah jatuh ke tangan para kapitalis, memaksakan berubah wujud, memeras keindahan alamnya, meluluhlantakkan kenangan hijau yang terpatri di benak warganya.

Persembahan saya untuk Lembang, tertuang dalam beberapa karya buku. (Foto: Malia)