#NowForClimate: Bersepeda sebagai Aksi Nyata untuk Masa Depan yang Lebih Hijau

4 menit baca
Angga Marditama Sultan Sufanir
Ditulis oleh Angga Marditama Sultan Sufanir diterbitkan Selasa 09 Jun 2026, 13:02 WIB
Dampak global jika semua orang di dunia bersepeda sebanyak rata-rata orang Denmark dan Belanda. (Sumber: Dok. Penulis)

Dampak global jika semua orang di dunia bersepeda sebanyak rata-rata orang Denmark dan Belanda. (Sumber: Dok. Penulis)

Setiap hari jutaan kendaraan bermotor memenuhi jalan-jalan di berbagai kota di Indonesia. Di balik kemudahan mobilitas yang ditawarkan, aktivitas tersebut menghasilkan emisi gas rumah kaca yang mempercepat perubahan iklim sekaligus menurunkan kualitas udara perkotaan. Banjir yang semakin sering terjadi, suhu udara yang meningkat, serta cuaca yang semakin ekstrem menjadi pengingat bahwa krisis iklim bukan lagi ancaman di masa depan, melainkan kenyataan yang sedang kita hadapi.

Dalam konteks itulah, Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 yang diperingati setiap tanggal 5 Juni mengangkat tema global #NowForClimate. Tema ini mengandung pesan yang sederhana namun mendesak: aksi menghadapi perubahan iklim harus dilakukan sekarang. Setiap individu, komunitas, dan pemerintah memiliki peran untuk mengurangi jejak karbon melalui pilihan-pilihan yang nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu sektor yang perlu mendapat perhatian adalah transportasi. Menurut International Energy Agency (IEA), sektor transportasi merupakan salah satu penyumbang terbesar emisi karbon dioksida global, dengan emisi mendekati 8 gigaton pada tahun 2022, meningkat sekitar 3% dari tahun sebelumnya. Oleh karena itu, transformasi menuju sistem transportasi rendah karbon menjadi bagian penting dalam upaya menahan laju perubahan iklim.

Sepeda: Solusi Sederhana dengan Dampak Besar

Di antara berbagai pilihan transportasi berkelanjutan, sepeda menawarkan solusi yang murah, sehat, dan ramah lingkungan. Selama digunakan, sepeda hampir tidak menghasilkan emisi karbon, tidak membutuhkan bahan bakar fosil, serta tidak menimbulkan polusi udara. Selain itu, ruang jalan yang dibutuhkan jauh lebih kecil dibandingkan kendaraan bermotor sehingga berpotensi mengurangi kepadatan lalu lintas.

Setiap perjalanan jarak pendek yang dialihkan dari mobil atau sepeda motor ke sepeda berarti mengurangi konsumsi energi dan emisi karbon. Jika perubahan tersebut dilakukan oleh semakin banyak masyarakat, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh lingkungan, tetapi juga oleh kualitas hidup perkotaan melalui udara yang lebih bersih dan jalan yang lebih manusiawi.

Dengan demikian, bersepeda bukan sekadar aktivitas olahraga atau rekreasi, melainkan bagian dari strategi pembangunan transportasi rendah karbon yang sejalan dengan semangat #NowForClimate.

Indonesia Memiliki Peluang yang Besar

Indonesia sebenarnya memiliki potensi yang sangat baik untuk mengembangkan budaya bersepeda. Sebagian besar perjalanan harian di kawasan perkotaan berjarak relatif pendek sehingga dapat ditempuh dengan sepeda. Kondisi iklim tropis juga memungkinkan aktivitas bersepeda dilakukan hampir sepanjang tahun.

Namun, potensi tersebut belum dimanfaatkan secara optimal. Di banyak kota, masyarakat masih menghadapi keterbatasan jalur sepeda yang aman dan saling terhubung. Akibatnya, kendaraan bermotor tetap menjadi pilihan utama meskipun jarak perjalanan sebenarnya memungkinkan ditempuh dengan sepeda.

Situasi ini menunjukkan bahwa perubahan perilaku tidak cukup hanya mengandalkan kampanye. Masyarakat akan lebih mudah beralih ke sepeda apabila lingkungan yang tersedia mendukung pilihan tersebut.

Infrastruktur Menentukan Keberhasilan

Keberhasilan budaya bersepeda sangat bergantung pada kualitas infrastruktur. Jalur sepeda tidak boleh dipandang sekadar pelengkap ruang jalan, tetapi sebagai bagian dari sistem transportasi yang memberikan hak mobilitas yang aman bagi semua pengguna jalan.

Merujuk pada CROW Design Manual for Bicycle Traffic (2017), infrastruktur bersepeda yang baik setidaknya memenuhi lima aspek utama, yaitu:

  1. Keselamatan, melalui perlindungan pesepeda dari konflik dengan kendaraan bermotor.
  2. Kenyamanan, dengan permukaan jalan yang baik dan bebas hambatan.
  3. Daya tarik, melalui lingkungan yang teduh, nyaman, dan mendukung pengalaman bersepeda.
  4. Kelangsungan rute, berarti menyediakan jalur yang langsung dan tidak terputus sehingga meminimalkan jalan memutar.
  5. Koherensi, yaitu keterhubungan jalur dengan kawasan permukiman, pusat aktivitas, dan simpul transportasi umum.

Kelima aspek tersebut menentukan apakah masyarakat akan menjadikan sepeda sebagai moda transportasi sehari-hari atau hanya sebagai sarana rekreasi pada akhir pekan.

Aksi Iklim Dimulai dari Perjalanan Sehari-hari

Sering kali perubahan iklim dianggap sebagai persoalan yang hanya dapat diselesaikan melalui kebijakan besar atau teknologi canggih. Padahal, perubahan juga dapat dimulai dari keputusan sederhana yang dilakukan setiap hari. Memilih bersepeda ke kantor, kampus, sekolah, atau tempat aktivitas lain untuk perjalanan jarak dekat merupakan salah satu bentuk aksi iklim yang nyata.

Selain membantu mengurangi emisi, penggunaan sepeda juga meningkatkan aktivitas fisik, menekan biaya transportasi, mengurangi kemacetan, dan memperbaiki kualitas udara. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga menekankan bahwa transportasi aktif seperti berjalan kaki dan bersepeda memberikan manfaat sekaligus bagi kesehatan masyarakat dan lingkungan.

Ketika jutaan perjalanan harian beralih ke moda yang lebih ramah lingkungan, dampak kolektifnya akan jauh lebih besar daripada yang terlihat dari satu perjalanan individu.

Membangun Kota yang Ramah Sepeda dan Ramah Iklim

Tema #NowForClimate bukan sekadar ajakan untuk mengurangi emisi, tetapi juga seruan untuk mengubah cara kita merancang sistem transportasi dan membangun kota. Kota yang ramah sepeda adalah kota yang menyediakan ruang yang aman, nyaman, dan inklusif bagi seluruh penggunanya, sekaligus berkontribusi pada penurunan emisi karbon.

Karena itu, tanggung jawab mewujudkan mobilitas berkelanjutan tidak hanya berada di tangan masyarakat. Pemerintah perlu membangun jaringan jalur sepeda yang berkualitas dan terintegrasi dengan transportasi publik, dunia usaha dapat mendukung budaya mobilitas hijau, sementara akademisi dan komunitas berperan dalam menghasilkan inovasi dan edukasi berbasis bukti.

Perubahan iklim tidak akan diatasi oleh satu kebijakan atau satu teknologi semata. Ia diselesaikan melalui jutaan keputusan kecil yang dilakukan setiap hari. Ketika pemerintah menghadirkan infrastruktur yang layak dan masyarakat memilih bersepeda untuk perjalanan yang memungkinkan, setiap kayuhan pedal menjadi investasi bagi udara yang lebih bersih, kota yang lebih sehat, dan masa depan yang lebih hijau. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Angga Marditama Sultan Sufanir
Asst. Professor of Transportation Engineering, Politeknik Negeri Bandung

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Jun 2026, 20:22

Pasang Surut Era Trem di Batavia

Transportasi trem di Batavia yang kini sudah tidak ada di Indonesia.

Tram Gondangdia di Batavia. (Sumber: KITLV)
Wisata & Kuliner 09 Jun 2026, 16:31

Wisata Candi Borobudur: Panduan Lengkap Tiket, Sunrise, dan Sunset Experience

Panduan lengkap wisata Candi Borobudur 2026, mulai dari harga tiket, kuota naik candi, aturan penggunaan upanat, hingga waktu terbaik untuk berkunjung.

Candi Borobudur. (Sumber: Pemprov Jateng)
Ayo Biz 09 Jun 2026, 16:27

Kisah para Juara 1 BRIncubator, Konsisten Berdayakan Pekerja Lokal

Program inkubasi bergengsi dari BRI itu setiap tahunnya mengangkat segelintir UMKM ke panggung yang lebih besar.

Koku Footwear terpilih sebagai Juara 1 BRIncubator 2023. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Beranda 09 Jun 2026, 16:05

Bandung Raya di Ambang Krisis Sampah, TPA Sarimukti Diperkirakan Penuh Oktober 2026

TPA Sarimukti diperkirakan penuh pada Oktober 2026, memicu ancaman krisis sampah di Bandung Raya yang masih bergantung pada pembuangan akhir dan minim pengolahan dari sumbernya.

Kendaraan pengangkut sampah terparkir di Jalan Tamansari, Kota Bandung, Rabu 6 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 09 Jun 2026, 15:08

Sesat Logika, Tantangan dalam Berbahasa

Transformasi digital telah membuka ruang publik semakin luas, tetapi membawa dampak pada kerusakan bahasa akibat kesalahan-kesalahan penafsiran masyarakat

Ilustrasi rak buku. (Sumber: Pexels | Foto: Yazid N)
Ayo Netizen 09 Jun 2026, 14:21

Sedia Payung sebelum Perusahaan Melakukan Pengrumahan Sementara hingga Tutup Permanen

Secara hukum lock out merupakan hak pengusaha untuk menolak pekerja masuk dalam rangka perselisihan industrial, namun pelaksanaannya wajib mematuhi aturan hukum yang berlaku.

Ilustrasi penutupan perusahaan atau lock out. (Sumber: Meta AI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Jun 2026, 13:28

Dari Tambang ke Kanvas: Jejak Warna Biru dari Timur

Warna biru punya sejarah panjang yang dimulai dari ketiadaan, mari kita lihat perjalanannya.

Lapis Lazuli (Sumber: WikiMedia | Foto: Hannes Grobe)
Ayo Netizen 09 Jun 2026, 13:02

#NowForClimate: Bersepeda sebagai Aksi Nyata untuk Masa Depan yang Lebih Hijau

#NowForClimate mengingatkan bahwa aksi iklim dapat dimulai dari pilihan moda transportasi sehari-hari.

Dampak global jika semua orang di dunia bersepeda sebanyak rata-rata orang Denmark dan Belanda. (Sumber: Dok. Penulis)
Ayo Netizen 09 Jun 2026, 11:03

Mabrur, Kabur, dan Syukur

Boneka unta yang dipeluk kakek bukan sekadar cendera mata. Melainkan bahasa kasih sayang yang sederhana.

Oleh-oleh haji dan umrah di salah satu toko kawasan Pasar Baru Trade Center, Jalan Otto Iskandar Dinata, Kota Bandung, Jumat 29 Mei 2026 (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 09 Jun 2026, 10:38

Petisi Warga Empat Lereng Gunung untuk Gubernur Dedi Mulyadi

Kalau beliau mengajak masyarakat menjaga gunung dan lingkungan, maka kami juga mengajak beliau untuk konsisten terhadap apa yang sudah disampaikan

Perwakilan warga lerenng Gunung Ciremai, Gede Pangrango, Tampomas, dan Halimun saat membacakan petisi untuk Gubernur Jawa Barat. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Wisata & Kuliner 09 Jun 2026, 10:32

Gunung Gede Pangrango, Antara Keindahan Alam dan Ancaman Eksploitasi Panas Bumi

Pesona Gunung Gede Pangrango berpadu dengan perdebatan antara kebutuhan listrik dan pelestarian alam.

Puncak Gunung Gede Pangrango. (Sumber: Wikimedia)
Linimasa 09 Jun 2026, 09:53

Jejak Becak, GPS Kota Bandung yang Terpinggirkan

Kisah tukang becak Bandung yang dulu jadi penunjuk jalan, kini bertahan di tengah gempuran transportasi modern.

Becak yang dulu sempat berjaya kini semakin terpinggirkan. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 09 Jun 2026, 09:11

Potret Bandung Empat Dekade Silam di Koran Gala Lawas

Salah satu surat kabar yang pernah menjadi bagian penting kehidupan masyarakat Jawa Barat adalah Harian Umum GALA.

Kin Sanubary memperlihatkan surat kabar GALA, salah satu harian yang terbit di Bandung 40 tahun silam. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 09 Jun 2026, 08:45

Mengetahui Pelaksanaan Tradisi Nyawen dan Makna Filosofisnya

Desa Bingkeng memiliki salah satu tradisi yang masih dilestarikan yaitu nyawen.

Mengetahui pelaksanaan Tradisi Nyawen. (Sumber: images.pexels.com | Foto: Kevin Yung)
Bandung 08 Jun 2026, 19:34

Menilik Eksistensi Dawa Rempah, Racikan Minuman Herbal Tradisional dengan Sentuhan Modern

Gaya hidup sehat turut menjadi tren kekinian yang santer digandrungi oleh masyarakat di masa kini. Salah satu caranya lewat menjaga kesehatan dan kebugaran.

Dawa Rempah (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 18:31

Hari Laut Sedunia, Masih Adakah Prospek Galangan Kapal di Jabar?

Masih sedikit industri galangan kapal di Jabar. Padahal provinsi ini memiliki sebelas pelabuhan yang bisa digunakan sebagai prasarana galangan kapal.

Ilustrasi Hari Laut Sedunia 2026, pemandangan Pantai Jayanti di Kecamatan Cidaun. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Muhammad Ikhsan)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 18:01

Polemik Penggusuran Perumahan Warga di Anyer Dalam akibat Pembangunan oleh KAI

Perumahan Warga di Anyer Dalam digusur untuk pembangunan yang dilakukan oleh oleh KAI merupakan kejadian yang terjadi 5 tahun yang lalu.

Foto Grafiti Bekas 2021 di Tembok Menyusuri di Jalan Serang menyusuri Jalan Anyer Dalam, 17 April 2026. (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Hikmat Nur Hidayat)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 17:29

Polemik SPPG Sukabumi: Antara Harapan Gizi dan Alarm Nyata bagi Gen Z

Tercatat sudah tiga kali gelombang unjuk rasa terjadi di pertengahan tahun ini.

Dokumentasi demo SPPG Sukabumi
Beranda 08 Jun 2026, 17:04

Bandung Pernah Jadi Kiblat Musik Indie, Kini Para Musisi Berusaha Merebutnya Kembali

Bandung pernah menjadi salah satu pusat musik independen Indonesia. Melalui Bandung Music Indie, para musisi kini berupaya membangun kembali ruang bersama dan semangat kolektif yang mulai memudar.

Atmosfer hangat dan akrab mewarnai gelaran Bandung Music Indie saat musisi lintas generasi dan penikmat musik bertemu dalam satu ruang yang sama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)