Lebaran Ketupat: Melacak Akar Historis dari Era Jawa Kuno hingga Syiar Sunan Kalijaga

5 menit baca
Badiatul Muchlisin Asti
Ditulis oleh Badiatul Muchlisin Asti diterbitkan
Warga menganyam daun kelapa menjadi cangkang ketupat di kawasan Blok Ketupat, Caringin, Kecamatan Babakan Ciparay, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Warga menganyam daun kelapa menjadi cangkang ketupat di kawasan Blok Ketupat, Caringin, Kecamatan Babakan Ciparay, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Umat Islam di Indonesia, khususnya di Jawa, mengenal dua kali perayaan Lebaran. Pertama, Lebaran Idulfitri pada 1 Syawal yang juga dirayakan umat Muslim di seluruh dunia. Kedua, Lebaran Ketupat yang jatuh seminggu setelahnya, tepatnya pada 8 Syawal. Tradisi ini juga populer dengan sebutan Syawalan, Bakda Kupat, Riyaya Kupat, atau Kupatan.

Lebaran Ketupat merupakan tradisi khas Indonesia yang tidak dijumpai di negara lain, serupa dengan tradisi halalbihalal yang orisinal dari tanah air. Perayaannya bervariasi; mulai dari skala kecil berupa selamatan di musala dengan menu utama ketupat dan lepet, hingga festival kolosal seperti tradisi Syawalan di Demak, Kudus, Pekalongan, Yogyakarta, dan Solo.

Secara historis, banyak literatur tutur (folklore) menyebutkan bahwa tradisi Lebaran Ketupat pertama kali diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga pada masa Kesultanan Demak abad ke-16. Tradisi ini diinisiasi sebagai media syiar Islam untuk menyampaikan pesan-pesan kebajikan.

Kupatan digelar setiap tanggal 8 Syawal sebagai bentuk perayaan setelah menunaikan puasa sunah enam hari. Jika Idulfitri adalah hari raya usai berpuasa Ramadan sebulan penuh, maka Kupatan adalah "hari raya kecil" setelah menggenapi puasa sunah di bulan Syawal.

Penting untuk dicatat bahwa puasa sunah enam hari di bulan Syawal memiliki keutamaan luar biasa. Dalam sebuah hadis riwayat Muslim disebutkan: “Barang siapa berpuasa di bulan Ramadan, kemudian mengikutinya dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa sepanjang masa.”

Meskipun puasa Syawal dapat dilakukan kapan saja selama bulan tersebut, menurut Mazhab Syafi’i—yang dianut mayoritas Muslim Indonesia—ibadah ini lebih utama dilaksanakan segera setelah Idulfitri secara berurutan, yakni mulai tanggal 2 hingga 7 Syawal. Inilah yang menjadi akar filosofis mengapa Lebaran Ketupat dirayakan tepat pada tanggal 8 Syawal.

Tradisi Kupatan, Ijtihad Genius Sunan Kalijaga

Dalam konteks inilah, tradisi Kupatan boleh dibilang merupakan ijtihad jenius Sunan Kalijaga untuk membumikan pengamalan puasa sunah enam hari di bulan Syawal. Sayangnya, substansi yang menjadi akar historis di balik tradisi ini perlahan mulai terlupakan. Pesan dakwah untuk melaksanakan puasa Syawal yang tersirat dalam kemeriahan tradisi ini tak lagi menjadi perhatian utama.

Kini, setiap 8 Syawal, umat Islam di Indonesia tetap merayakan tradisi ini dengan penuh suka ria. Di sejumlah daerah, perayaan tetap berlangsung meriah meski sebagian besar partisipannya mungkin tidak menjalankan ibadah puasa Syawal tersebut. Fenomena serupa sebenarnya juga terjadi pada Idulfitri, di mana hari raya tersebut telah menjadi milik bersama—bahkan mereka yang tidak berpuasa Ramadan pun ikut larut dalam kegembiraan dan hiruk-pikuk mudik.

Di luar upaya pelestarian tradisi sebagai sunah hasanah (tradisi baik) yang patut di-uri-uri (dilestarikan), menjadi tugas penting bagi para ulama, kiai, dan cendekiawan untuk melanjutkan misi dakwah Sunan Kalijaga. Tujuannya agar syiar Islam yang menggema dalam tradisi Kupatan tidak kehilangan substansinya, apalagi keluar dari jalur (khittah)-nya.

Selain berkaitan dengan puasa Syawal, tradisi ini juga memuat makna mendalam melalui kuliner ikonisnya: ketupat dan lepet. Oleh Sunan Kalijaga, keduanya dijadikan simbol untuk menyampaikan pesan filosofis yang luhur.

Ketupat—atau kupat dalam bahasa Jawa—merupakan panganan berbahan dasar beras yang dibungkus anyaman janur (daun kelapa muda) berbentuk prisma segi empat. Sementara itu, lepet terbuat dari ketan, kelapa parut, dan garam yang dibungkus janur berbentuk silinder. Keduanya bak sejoli yang selalu hadir dalam tradisi Kupatan sebagai media untuk mewujudkan kesadaran personal dan kolektif demi terciptanya harmoni sosial.

Filosofi Ketupat dan Lepet

Sejauh ini, memang belum ditemukan dokumen tertulis yang menjadi rujukan utama mengenai pemaknaan filosofis ketupat dan lepet oleh Sunan Kalijaga. Namun, berbagai tradisi lisan  yang berkembang luas meyakini bahwa filosofi kedua panganan ini dinisbatkan langsung kepada sosok sang wali.

Dalam tradisi tersebut, ketupat atau kupat dipahami sebagai akronim dari ngaku lepat yang berarti mengaku salah. Sementara itu, lepet merupakan akronim dari silep rapet yang bermakna mengubur rapat. Perpaduan keduanya melambangkan situasi sosial yang harmonis, di mana anggota masyarakat secara kolektif saling mengakui kesalahan (ngaku lepat) dan dengan tulus saling memaafkan (silep rapet).

Ketupat Lebaran. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ketupat Lebaran. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Sikap ngaku lepat menunjukkan kerendahan hati untuk mengakui kesalahan, menyesalinya, dan bertekad tidak mengulanginya demi menjadi pribadi yang lebih baik. Adapun silep rapet merupakan hakikat dari memaafkan; yakni mengubur kesalahan sesama dalam-dalam tanpa pernah mengungkitnya lagi, hingga luka itu benar-benar terhapus dari hati.

Pemaknaan ini selaras dengan hakikat kata "maaf". Pakar tafsir Al-Qur'an, Prof. Quraish Shihab, menjelaskan bahwa kata maaf berasal dari akar kata al-afwu yang berarti menghapus. Seseorang dikatakan memaafkan jika ia mampu menghapus bekas-bekas luka di hatinya. Beliau menekankan bahwa bukanlah memaafkan namanya jika masih tersisa dendam membara atau bekas luka yang belum sembuh. Pada titik itu, seseorang mungkin baru sampai pada tahap menahan amarah, belum sampai pada hakikat memaafkan.

Jika diurai kembali, betapa dalam filosofi yang disematkan pada sejoli kuliner ikonis ini. Ketupat dan lepet bukan sekadar makanan, melainkan kunci terwujudnya harmoni sosial bila maknanya berhasil dibumikan. Warisan kebudayaan yang tak ternilai ini tentu patut kita uri-uri agar tetap hidup di tengah masyarakat.

Ketupat dan Lepet Ternyata Kuliner Warisan Majapahit

Banyak yang mengira bahwa ketupat dan lepet adalah kuliner kreasi orisinal Walisongo, khususnya Sunan Kalijaga, yang baru muncul pada era Kesultanan Demak. Namun, dokumen historis menunjukkan bahwa kedua panganan ini telah dikenal jauh sebelumnya, yakni sejak era Jawa Kuno.

Asisi Suharyanto, seorang pemerhati sejarah Jawa Kuno, menyebutkan bahwa ketupat dan lepet sudah menjadi bagian dari masyarakat Jawa ratusan tahun sebelum kerajaan-kerajaan Islam berdiri. Menurutnya, antara abad ke-11 hingga 12, ketupat telah disebut dalam Kakawin Ramayana, Kakawin Subhadra Wiwaha, dan Kakawin Kresnayana dari periode Kerajaan Kadiri. Sementara itu, lepet sebagai kuliner tercatat dalam Kakawin Korawasrama yang diduga berasal dari masa Majapahit.

Senada dengan hal tersebut, Ni Made Yuliani dan I Ketut Wardana Yasa dalam buku Makna Ketipat dalam Upacara Telung Bulan di Denpasar (2020) menjelaskan bahwa ketupat telah diperkenalkan sejak zaman Hindu-Buddha. Istilah kupat, akupat, dan khupat-kupatan tercantum dalam berbagai naskah kuno seperti Kidung Sri Tanjung.

Baca Juga: Arus Mudik-Balik Lebaran 2026 dan Ujian Transportasi Bandung

Sebagai masyarakat agraris pada masa itu, ketupat merupakan bagian dari bentuk pemujaan terhadap Dewi Sri, dewi tertinggi bagi petani di Nusantara. Dalam perkembangannya, terjadi proses desakralisasi dan demitologisasi. Dewi Sri tidak lagi dipuja secara mistis sebagai dewi kesuburan, melainkan dipresentasikan secara simbolis dalam bentuk ketupat sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Mengingat ketupat dan lepet sudah dikenal lama oleh masyarakat Jawa Kuno, di sinilah letak peran jenius Sunan Kalijaga. Sebagai pendakwah yang kreatif, beliau memanfaatkan elemen budaya yang sudah ada, lalu memberikan napas dan kontekstualisasi baru ke dalamnya. Melalui formulasi filosofi ngaku lepat dan silep rapet, Sunan Kalijaga mentransformasi tradisi lama tersebut menjadi tradisi Kupatan yang sarat nilai keislaman dan masih lestari hingga saat ini. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Badiatul Muchlisin Asti
Penulis dan jurnalis warga. Peminat kajian sejarah lokal dan kuliner Indonesia. Buku terbarunya "Grobogan Untold Story: Tokoh, Tradisi, dan Kuliner" (2025).

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 28 Sep 2026, 07:40

Gunta Akhiri: Mewujudkan Rumah Besar Para Insinyur Kota Bandung

Tantangan besar ketersediaan Insinyur Profesional mesti segera diatasi

Ilustrasi Ketua PII  Cabang Bandung, Gunta Akhiri dan Ketum PII Pusat, Ilham Akbar Habibie (Sumber: dikreasi dengan chatgpt | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 19:12

Eksplorasi Gastronomi Bandung: Menyingkap Jejak Rasa, Sejarah, dan Warisan Budaya Pasundan

Memahami kuliner Bandung bukan sekadar aktivitas konsumsi, melainkan sebuah penelusuran antropologis terhadap budaya Pasundan yang menempatkan harmoni alam di atas piring saji.

Soto Bandung tampil unik dengan kuah bening kaldu sapi sebagai pembeda dari soto bersantan di daerah lain, dipadukan secara khas dengan potongan lobak. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 16:09

Jalan yang Benar di 'Google Maps' Belum Tentu Benar bagi Kendaraan Kita

Google Maps tidak berada di balik kemudi. Ia tidak tahu secara langsung apakah kendaraan tertentu membawa muatan berlebih atau apakah mesin kendaraan sedang prima.

Google Maps (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung.com)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 10:36

Cuma Rp216 Bisa Keliling Bandung! Merayakan Ulang Tahun Kota Kembang Naik Bandros dan TMB

Pemerintah Kota Bandung memberikan kado spesial kepada seluruh warga dan wisatawan dalam rangka merayakan Hari Jadi Kota Bandung (HJKB) ke-216.

Salah satu video Youtube Boby Rachma "BANDUNG TOUR ON BUS!! KELILING KOTA BANDUNG NAIK BANDROS!!".
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 10:06

Ekstrakurikuler yang Membahagiakan sebagai Resiliensi Pendidikan Berkelanjutan

Hadirnya pembelajaran ekstrakurikuler bagi murid diwujudkan dengan kegiatan yang lebih tepat dan memberi ruang bagi murid untuk mengekspresikan dirinya sesuai dengan hobi atau minat bakatnya.

Ilustrasi murid sekolah negeri. (Sumber: Pexels/Yazid N)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 08:26

Kamera Dulu, Peluk dan Tolong Kemudian

Fenomena masyarakat modern yang lebih mengutamakan kamera dan dokumentasi dibandingkan dengan mengutamakan empati.

Fenomena yang sering terjadi pada masyarakat modern yang menjadikan dokumentasi satu-satunya yang penting ketika terjadi sesuatu (Sumber: Generated AI)
Beranda 26 Sep 2026, 11:23

46 Kilometer Jalan yang Melintasi Kota Bandung Ini Bukan Milik Pemkot

Berdasarkan dokumen itu, sebagian besar ruas jalan nasional yang melintasi Kota Bandung tersebut membentang dari barat ke timur.

Jalan Soekarno Hatta membentang sejauh 18 kilometer dari timur ke barat di kawasan selatan Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 19:46

MJT: Program Pemerintah Jawa Barat yang Cukup Solutif untuk Mengurangi Kemacetan

Metro Jabar Trans menjadi program yang cukup bermanfaat untuk meminimalisir kemacetan juga alternatif kendaraan umum yang terjangkau bagi masyarakat

Metro Jabar Trans menjadi salah satu transportasi umum pilihan masyarakat (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 18:19

Menonton Film di Bioskop Legendaris Bandung Era 90-an

Jauh sebelum bioskop hadir di dalam pusat perbelanjaan dan sinepleks modern, Bandung memiliki banyak gedung bioskop yang menjadi bagian dari denyut kehidupan kota.

Penulis berdiri di seberang bekas Bioskop Dian, Jalan Dalem Kaum, tepat di seberang kawasan Alun-Alun Bandung. (Sumber: Agus Wahyudi)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 17:24

Apa yang Salah Ketika Kekerasan Dipertontonkan di Sosial Media secara Vulgar?

Tontonan pada konten media sosial kini banyak yang mempertontonkan kekerasan secara vulgar. Nilai-nilai humanistik kian tergerus. Apakah kita bisa bijak dan memikirkan dampaknya untuk masa depan?

Ilustrasi korban kekerasan. (Sumber: Pexels | Foto: Daniel Reche)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 16:50

Nilai Diri 'Dus Obat' dalam Perspektif Industri Farmasi

Dus obat yang sering kita sepelekan ternyata tidak sesederhana yang kita pikirkan karena perlu spesifikasi tertentu saat diproduksi.

Dus Obat. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Seni Budaya 25 Sep 2026, 15:21

Mengenal Makna Kehidupan Melalui Batik

Legenda Ki Bahu Reksa dihadirkan melalui empat panel batik tulis Pekalongan yang menggambarkan perjalanan hidup manusia.

Luqiani Octa Pratiwi menghidupkan legenda Ki Bahu Reksa melalui wayang beber dan batik tulis khas Pekalongan. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 15:17

Membenahi Kompetensi Sopir, Atasi Jalur Tengkorak di Bandung Raya

Regulasi mewajibkan pemerintah menjamin penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan bagi pengemudi

Ilustrasi jalur tengkorak di Bandung Raya. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 13:32

Api Biru Papandayan: Ketika Foto Indah Justru Bisa Menyimpan Bahaya

Foto yang baik tidak harus menjadi bukti bahwa fotografer berhasil mengalahkan jarak.

Fenomena blue fire. (Sumber: kemenparekraf.go.id)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 10:19

Jejak Kuliner Nusantara: Telaah Literatur Resep Masakan Indonesia Pascakemerdekaan (1950–1979)

Secara keseluruhan, literatur resep masakan kurun 1950 hingga 1979 berhasil meletakkan fondasi kokoh bagi kebudayaan Indonesia modern.

Di antara buku-buku resep masakan yang terbit pada kurun 1950 hingga 1979 telah berhasil meletakkan fondasi kokoh bagi kebudayaan Indonesia modern. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 08:28

Kado Istimewa Hari Jadi Kota Bandung:  Penghargaan Nasional Layanan Investasi

Pada semester pertama tahun 2026 telah mencatatkan angka investasi yang sangat impresif, yaitu melampaui Rp 6 triliun

Penghargaan Nasional Layanan Investasi 2026 untuk  kota Bandung (Sumber: dok bandung.go.id)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 20:45

Becak Listrik Bandung dan Penyakit Lama Kebijakan Publik

Becak listrik adalah alat produksi. Ia menghasilkan uang hanya ketika bergerak dan membawa penumpang. Kalau baterai habis, ada risiko pendapatan hilang.

Becak listrik bantuan Presiden tiba di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayobandung)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 18:56

Koleksi Media Cetak Lawas: Merawat Ingatan dan Sumber Pengetahuan 

Di tengah derasnya arus informasi digital yang serba cepat dan instan, koleksi media cetak lawas menghadirkan cara lain untuk memahami perjalanan bangsa.

Mahasiswa Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, melakukan penelitian terhadap surat kabar Pikiran Rakyat edisi lawas. (Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 17:27

Toponimi yang Lahir dari Respons Indra Manusia terhadap Stimulus Gempa 

Guncangan gempa bumi yang besar dengan kehancuran permukiman, akan menimbulkan emosi dan rasa takut, sebab inilah yang dapat menjadi alasan lahirnya toponim Cieundeur dan Cigenjlong.

Korban Gempa Cianjur. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 16:03

Mengapa Sejarah Kelam G30S Harus Tetap Dibaca?

Seyogianya sejarah harus tetap dibaca, meski itu adalah sejarah kelam. Sejarah bukanlah alat untuk menebar kebencian, tetapi dari sejarah kita belajar. Pentingnya menjaga nilai-nilai Pancasila.

Poster rilis film Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI tahun 1984 oleh Perusahaan Produksi Film Negara. (Sumber: Wikimedia Commons)