Lebaran Ketupat: Melacak Akar Historis dari Era Jawa Kuno hingga Syiar Sunan Kalijaga

Badiatul Muchlisin Asti
Ditulis oleh Badiatul Muchlisin Asti diterbitkan Jumat 27 Mar 2026, 15:27 WIB
Warga menganyam daun kelapa menjadi cangkang ketupat di kawasan Blok Ketupat, Caringin, Kecamatan Babakan Ciparay, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Warga menganyam daun kelapa menjadi cangkang ketupat di kawasan Blok Ketupat, Caringin, Kecamatan Babakan Ciparay, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Umat Islam di Indonesia, khususnya di Jawa, mengenal dua kali perayaan Lebaran. Pertama, Lebaran Idulfitri pada 1 Syawal yang juga dirayakan umat Muslim di seluruh dunia. Kedua, Lebaran Ketupat yang jatuh seminggu setelahnya, tepatnya pada 8 Syawal. Tradisi ini juga populer dengan sebutan Syawalan, Bakda Kupat, Riyaya Kupat, atau Kupatan.

Lebaran Ketupat merupakan tradisi khas Indonesia yang tidak dijumpai di negara lain, serupa dengan tradisi halalbihalal yang orisinal dari tanah air. Perayaannya bervariasi; mulai dari skala kecil berupa selamatan di musala dengan menu utama ketupat dan lepet, hingga festival kolosal seperti tradisi Syawalan di Demak, Kudus, Pekalongan, Yogyakarta, dan Solo.

Secara historis, banyak literatur tutur (folklore) menyebutkan bahwa tradisi Lebaran Ketupat pertama kali diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga pada masa Kesultanan Demak abad ke-16. Tradisi ini diinisiasi sebagai media syiar Islam untuk menyampaikan pesan-pesan kebajikan.

Kupatan digelar setiap tanggal 8 Syawal sebagai bentuk perayaan setelah menunaikan puasa sunah enam hari. Jika Idulfitri adalah hari raya usai berpuasa Ramadan sebulan penuh, maka Kupatan adalah "hari raya kecil" setelah menggenapi puasa sunah di bulan Syawal.

Penting untuk dicatat bahwa puasa sunah enam hari di bulan Syawal memiliki keutamaan luar biasa. Dalam sebuah hadis riwayat Muslim disebutkan: “Barang siapa berpuasa di bulan Ramadan, kemudian mengikutinya dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa sepanjang masa.”

Meskipun puasa Syawal dapat dilakukan kapan saja selama bulan tersebut, menurut Mazhab Syafi’i—yang dianut mayoritas Muslim Indonesia—ibadah ini lebih utama dilaksanakan segera setelah Idulfitri secara berurutan, yakni mulai tanggal 2 hingga 7 Syawal. Inilah yang menjadi akar filosofis mengapa Lebaran Ketupat dirayakan tepat pada tanggal 8 Syawal.

Tradisi Kupatan, Ijtihad Genius Sunan Kalijaga

Dalam konteks inilah, tradisi Kupatan boleh dibilang merupakan ijtihad jenius Sunan Kalijaga untuk membumikan pengamalan puasa sunah enam hari di bulan Syawal. Sayangnya, substansi yang menjadi akar historis di balik tradisi ini perlahan mulai terlupakan. Pesan dakwah untuk melaksanakan puasa Syawal yang tersirat dalam kemeriahan tradisi ini tak lagi menjadi perhatian utama.

Kini, setiap 8 Syawal, umat Islam di Indonesia tetap merayakan tradisi ini dengan penuh suka ria. Di sejumlah daerah, perayaan tetap berlangsung meriah meski sebagian besar partisipannya mungkin tidak menjalankan ibadah puasa Syawal tersebut. Fenomena serupa sebenarnya juga terjadi pada Idulfitri, di mana hari raya tersebut telah menjadi milik bersama—bahkan mereka yang tidak berpuasa Ramadan pun ikut larut dalam kegembiraan dan hiruk-pikuk mudik.

Di luar upaya pelestarian tradisi sebagai sunah hasanah (tradisi baik) yang patut di-uri-uri (dilestarikan), menjadi tugas penting bagi para ulama, kiai, dan cendekiawan untuk melanjutkan misi dakwah Sunan Kalijaga. Tujuannya agar syiar Islam yang menggema dalam tradisi Kupatan tidak kehilangan substansinya, apalagi keluar dari jalur (khittah)-nya.

Selain berkaitan dengan puasa Syawal, tradisi ini juga memuat makna mendalam melalui kuliner ikonisnya: ketupat dan lepet. Oleh Sunan Kalijaga, keduanya dijadikan simbol untuk menyampaikan pesan filosofis yang luhur.

Ketupat—atau kupat dalam bahasa Jawa—merupakan panganan berbahan dasar beras yang dibungkus anyaman janur (daun kelapa muda) berbentuk prisma segi empat. Sementara itu, lepet terbuat dari ketan, kelapa parut, dan garam yang dibungkus janur berbentuk silinder. Keduanya bak sejoli yang selalu hadir dalam tradisi Kupatan sebagai media untuk mewujudkan kesadaran personal dan kolektif demi terciptanya harmoni sosial.

Filosofi Ketupat dan Lepet

Sejauh ini, memang belum ditemukan dokumen tertulis yang menjadi rujukan utama mengenai pemaknaan filosofis ketupat dan lepet oleh Sunan Kalijaga. Namun, berbagai tradisi lisan  yang berkembang luas meyakini bahwa filosofi kedua panganan ini dinisbatkan langsung kepada sosok sang wali.

Dalam tradisi tersebut, ketupat atau kupat dipahami sebagai akronim dari ngaku lepat yang berarti mengaku salah. Sementara itu, lepet merupakan akronim dari silep rapet yang bermakna mengubur rapat. Perpaduan keduanya melambangkan situasi sosial yang harmonis, di mana anggota masyarakat secara kolektif saling mengakui kesalahan (ngaku lepat) dan dengan tulus saling memaafkan (silep rapet).

Ketupat Lebaran. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ketupat Lebaran. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Sikap ngaku lepat menunjukkan kerendahan hati untuk mengakui kesalahan, menyesalinya, dan bertekad tidak mengulanginya demi menjadi pribadi yang lebih baik. Adapun silep rapet merupakan hakikat dari memaafkan; yakni mengubur kesalahan sesama dalam-dalam tanpa pernah mengungkitnya lagi, hingga luka itu benar-benar terhapus dari hati.

Pemaknaan ini selaras dengan hakikat kata "maaf". Pakar tafsir Al-Qur'an, Prof. Quraish Shihab, menjelaskan bahwa kata maaf berasal dari akar kata al-afwu yang berarti menghapus. Seseorang dikatakan memaafkan jika ia mampu menghapus bekas-bekas luka di hatinya. Beliau menekankan bahwa bukanlah memaafkan namanya jika masih tersisa dendam membara atau bekas luka yang belum sembuh. Pada titik itu, seseorang mungkin baru sampai pada tahap menahan amarah, belum sampai pada hakikat memaafkan.

Jika diurai kembali, betapa dalam filosofi yang disematkan pada sejoli kuliner ikonis ini. Ketupat dan lepet bukan sekadar makanan, melainkan kunci terwujudnya harmoni sosial bila maknanya berhasil dibumikan. Warisan kebudayaan yang tak ternilai ini tentu patut kita uri-uri agar tetap hidup di tengah masyarakat.

Ketupat dan Lepet Ternyata Kuliner Warisan Majapahit

Banyak yang mengira bahwa ketupat dan lepet adalah kuliner kreasi orisinal Walisongo, khususnya Sunan Kalijaga, yang baru muncul pada era Kesultanan Demak. Namun, dokumen historis menunjukkan bahwa kedua panganan ini telah dikenal jauh sebelumnya, yakni sejak era Jawa Kuno.

Asisi Suharyanto, seorang pemerhati sejarah Jawa Kuno, menyebutkan bahwa ketupat dan lepet sudah menjadi bagian dari masyarakat Jawa ratusan tahun sebelum kerajaan-kerajaan Islam berdiri. Menurutnya, antara abad ke-11 hingga 12, ketupat telah disebut dalam Kakawin Ramayana, Kakawin Subhadra Wiwaha, dan Kakawin Kresnayana dari periode Kerajaan Kadiri. Sementara itu, lepet sebagai kuliner tercatat dalam Kakawin Korawasrama yang diduga berasal dari masa Majapahit.

Senada dengan hal tersebut, Ni Made Yuliani dan I Ketut Wardana Yasa dalam buku Makna Ketipat dalam Upacara Telung Bulan di Denpasar (2020) menjelaskan bahwa ketupat telah diperkenalkan sejak zaman Hindu-Buddha. Istilah kupat, akupat, dan khupat-kupatan tercantum dalam berbagai naskah kuno seperti Kidung Sri Tanjung.

Baca Juga: Arus Mudik-Balik Lebaran 2026 dan Ujian Transportasi Bandung

Sebagai masyarakat agraris pada masa itu, ketupat merupakan bagian dari bentuk pemujaan terhadap Dewi Sri, dewi tertinggi bagi petani di Nusantara. Dalam perkembangannya, terjadi proses desakralisasi dan demitologisasi. Dewi Sri tidak lagi dipuja secara mistis sebagai dewi kesuburan, melainkan dipresentasikan secara simbolis dalam bentuk ketupat sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Mengingat ketupat dan lepet sudah dikenal lama oleh masyarakat Jawa Kuno, di sinilah letak peran jenius Sunan Kalijaga. Sebagai pendakwah yang kreatif, beliau memanfaatkan elemen budaya yang sudah ada, lalu memberikan napas dan kontekstualisasi baru ke dalamnya. Melalui formulasi filosofi ngaku lepat dan silep rapet, Sunan Kalijaga mentransformasi tradisi lama tersebut menjadi tradisi Kupatan yang sarat nilai keislaman dan masih lestari hingga saat ini. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Badiatul Muchlisin Asti
Penulis dan jurnalis warga. Peminat kajian sejarah lokal dan kuliner Indonesia. Buku terbarunya "Grobogan Untold Story: Tokoh, Tradisi, dan Kuliner" (2025).

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 12 Mei 2026, 19:46

Lembangku Sayang, Lembangku Malang: Warga Lokal yang Termarjimalkan

Kawasan tempat tinggal saya sekarang di Lembang adalah sebuah tempat yang dahulunya hanyalah hutan belantara tak bertuan.

Tanjakan Cibogo tahun 1955. Masih kebun dan sawah, dan sekarang kebun semakin terdesak, sawah telah hilang. (Sumber: wereldculturn.nl)
Wisata & Kuliner 12 Mei 2026, 17:37

Pilihan 5 Destinasi Wisata Puncak yang Jadi Favorit Wisatawan

Rekomendasi 5 wisata pilihan di Puncak Bogor, dari Kebun Teh Gunung Mas hingga Telaga Warna dan Kebun Raya Cibodas.

Wisata Kebun Teh Gunung Mas di Puncak Bogor. (Sumber: PTPN I Regional 2)
Linimasa 12 Mei 2026, 14:07

Hikayat Asy Syifa, Pondok Pesantren Anak Usia Dini Pertama

Pesantren Asy Syifa di Ciamis menjadi pelopor pondok khusus anak usia SD dengan pendidikan mandiri dan Al Quran.

Pesantren Asy Syifa di Ciamis. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 12 Mei 2026, 13:58

Panduan Wisata Keraton Kasepuhan Cirebon: Tiket, Sejarah, dan Spot Wajib Dikunjungi

Panduan lengkap wisata Keraton Kasepuhan Cirebon, mulai sejarah, tiket masuk, daya tarik, hingga tips berkunjung ke situs budaya tertua di kota.

Keraton Kasepuhan Cirebon. (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 12 Mei 2026, 13:51

Halo-Halo Bandung, Tidak Sekadar Narasi

Lagu Halo-Halo Bandung tidak hanya sekadar lagu yang tersimpan dalam memori sejarah, dari semangat perjuangan itu melahirkan nilai kesadaran masyarakat, dan dengan kesabaran untuk merawat Bandung.

Sejumlah mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPRD Jawa Barat, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Jumat, 1 Mei 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Buruh Internasional (May Day). (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 12 Mei 2026, 12:27

Dari Rak “Buku Seks” sampai Arab-Israel yang Sengaja Dipertemukan, Mengintip Sisi Eksentrik Batu Api

Warung Batu Api di Jatinangor menyimpan cara unik Anton Solihin menyusun buku, dari rak “buku seks” hingga koleksi Arab-Israel yang sengaja dipajang saling berhadapan.

Seorang pengunjung mencari buku di antara rak-rak sempit Perpustakaan Batu Api, Jatinangor, Sabtu 9 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 12 Mei 2026, 10:02

Pernikahan di Era Gen Z: Ibadah, Tekanan Sosial, atau Pelarian?

Di balik romantisasi cinta Gen Z, ada pergaulan bebas, tekanan mental, dan tingginya perceraian muda.

Pernikahan sebagai ikatan suci (Sumber: Pixeabay / Foto: WenPhotos) (Sumber: Pixeabay | Foto: WenPhotos)
Beranda 12 Mei 2026, 09:45

Bersama T. Bachtiar, Ayobandung.id dan Himse Unpad Bahas Bandung dari Nama hingga Jejak Bencana

Ayobandung.id dan Himse Unpad menghadirkan T. Bachtiar dalam seminar interaktif yang membahas Bandung dari nama wilayah, tanah, bencana, hingga ingatan kolektif masyarakat.

Seminar interaktif “Nama yang Bercerita” bersama T. Bachtiar akan membahas cara membaca Bandung Raya melalui tanah, bencana, dan ingatan kolektif di Aula PSBJ FIB Unpad Jatinangor, 13 Mei 2026.
Ayo Netizen 12 Mei 2026, 08:51

Apakah Benar Gaji Dosen Rendah karena Kompetensinya?

Rendahnya gaji dosen tidak hanya soal kompetensi, tetapi juga dipengaruhi minimnya dana riset, beban birokrasi kampus, dan sistem pendidikan yang belum ideal.

Pernyataan Wamendiktisaintek, Stella Christie "Gaji rendah dosen karena tidak kompeten". (Sumber: TikTok/@alee.gresik)
Ayo Netizen 11 Mei 2026, 20:03

Spirit Sportivitas Bola

Di balik kemegahan dan gemerlap setiap pertandingan sepakbola tersimpan sisi gelap yang mengusik para penggila sepak bola.

Ribuan bobotoh memadati Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Kota Bandung, Kamis 7 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 11 Mei 2026, 19:09

Kelulusan, Selebrasi, dan Bersyukur

Hakikat kelulusan bukan terletak pada seberapa besar buket yang dibawa, panjangnya konvoi ucapan selamat, ramainya unggahan di media sosial.

Ilustrasi bentuk syukur atas capaian kelulusan dengan berdoa, memohon kepada Allah SWT (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 11 Mei 2026, 16:25

Di Cibadak, Warga Beda Agama Sudah Terbiasa Hidup Berdampingan Jauh Sebelum Ada Kampung Toleransi

Warga Cibadak di Astana Anyar telah lama hidup berdampingan lintas agama lewat kebiasaan saling membantu, menjaga lingkungan, dan menghormati perbedaan.

Asoey, pengurus Vihara Dharma Ramsi, merasakan kehidupan lintas agama di Astana Anyar berjalan alami lewat kebiasaan warga yang saling menghormati. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Biz 11 Mei 2026, 14:31

Canting dan Ekosistem yang Belum Sempurna, Sebuah Harapan dari Kampung Kreatif Batik Difabel

Ekosistem yang sempurna mungkin belum ada. Tapi ekosistem yang terus berusaha, itu yang sedang terjadi di Kampung Kreatif Batik Difabel.

Kampung Kreatif Batik Difabel, bagian dari UPTD Pusat Pelayanan Sosial Griya Harapan Difabel (GHD), Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 11 Mei 2026, 13:53

Gelar Akademik Apakah Jaminan Kesuksesan?

Polarisasi pendapat antara melanjutkan kuliah dan langsung membuka usaha. Melanjutkan kuliah lebih berpeluang diserap dunia kerja dan langsung membuka usaha bisa mempercepat peluang sukses.

Ilustrasi wisuda. (Sumber: Pexels | Foto: Sun)
Wisata & Kuliner 11 Mei 2026, 13:48

Jelajah Palabuhanratu Sukabumi, Kota Pelabuhan Internasional yang Berubah jadi Tujuan Wisata Penuh Legenda

Palabuhanratu menyimpan sejarah pelabuhan kolonial, pantai sepanjang 105 km, serta mitos Nyi Roro Kidul yang masih dipercaya.

Pantai Karang Sari, Palabuhanratu Sukabumi. (Sumber: Flickr)
Ayo Netizen 11 Mei 2026, 11:05

Freddie Mercury, AIDS, dan Luka Stigma yang Belum Usai

Malam Renungan AIDS Nusantara bukan sekadar seremoni mengenang korban HIV/AIDS.

Halaman muka surat kabar terbitan Inggris yang memberitakan kepergian Freddie Mercury. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)
Beranda 11 Mei 2026, 10:17

Toleransi di Cibadak Tidak Ramai Dibicarakan, Tapi Dijalani Setiap Hari

Warga Kampung Toleransi Cibadak di Astana Anyar hidup berdampingan di tengah perbedaan agama dan etnis lewat kebiasaan saling membantu dan menjaga kebersamaan.

Simbol berbagai agama berdiri berdampingan di Kelurahan Cibadak. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Toni Hermawan)
Ayo Netizen 11 Mei 2026, 09:27

Modern untuk Kota, Melelahkan untuk Manusia

Selama kebutuhan dasar warganya masih terabaikan, Bandung akan terus terlihat modern dari luar, tetapi belum sepenuhnya menjadi kota yang nyaman untuk dijalani.

Bandung sibuk membangun kota, tetapi belum tentu membangun kenyamanan warganya. (Sumber: Designed by macrovector /Freepik)
Ayo Netizen 11 Mei 2026, 08:54

Kafe untuk Perantau yang Tak Mau Pulang

Cerita pendek tentang kafe di kota besar yang dikhususnya bagi perantau yang tidak mau pulang.

Ribuan koleksi buku tersusun padat di rak-rak sempit Perpustakaan Batu Api. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 10 Mei 2026, 18:08

Kereta Cepat dan Tantangan First Mile–Last Mile

Tantangan first mile dan last mile memengaruhi total waktu perjalanan pengguna Kereta Cepat Jakarta–Bandung (Whoosh), sehingga integrasi transportasi menjadi penting.

Layar di dalam kabin Whoosh yang menampilkan informasi kecepatan kereta saat itu. (Sumber: Dok. Penulis)