Menangkal Bencana Hoaks

Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan Senin 08 Des 2025, 08:32 WIB
Komisaris Bio Farma, Relly Reagen menyerahkan bantuan kepada masyarakat terdampak bencana di Padang, Sumatera Barat. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Budianto)

Komisaris Bio Farma, Relly Reagen menyerahkan bantuan kepada masyarakat terdampak bencana di Padang, Sumatera Barat. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Budianto)

Seorang pendakwah Gen Z, Habib Ja’far, membuat unggahan menanggapi beredarnya video seorang pria yang tetap melaksanakan salat dengan khusyuk di tengah badan jalan pasca banjir di Pidie Jaya, Aceh. Postingan video itu diberi judul, “Islam itu mudah. Mulut sebagian kita yang bikin repot.”

Dalam penjelasannya, Habib Ja’far menyampaikan salat yang dilakukan pria memakai kaos putih dan celana army merupakan wujud rasa syukur karena masih diberi keselamatan dari banjir bandang yang melanda wilayah itu. Meski banyak harta yang hilang dan rumah-rumah rusak, seorang hamba tetap menjalankan ibadah sebagai bentuk ketundukan kepada Tuhan.

Di tengah situasi seperti ini, Allah SWT adalah sebaik-baiknya tempat mengadu, mencurahkan segala keluh, memohon ampun atas segala khilaf, dan berserah diri atas apa pun yang terjadi.

Seorang pria yang tetap melaksanakan salat dengan khusyuk di tengah badan jalan pasca banjir di Pidie Jaya, Aceh (Sumber: Instagram | Foto: Istimewa)
Seorang pria yang tetap melaksanakan salat dengan khusyuk di tengah badan jalan pasca banjir di Pidie Jaya, Aceh (Sumber: Instagram | Foto: Istimewa)

Bencana Terbesar itu Saat Meninggalkan Salat

Seperti kita ketahui terjadi bencana alam yang begitu dahsyat kepada saudara-saudara kita di Sumatera dan yang lebih mengerikan dari bencana alam adalah bencana yang ditimbulkan oleh lisan dan tangan kita yang berkata-kata yang buruk terhadap mereka yang menjadi korban bencana.

Seperti yang terjadi kepada video viral tentang seorang korban bencana yang salat di atas lumpur dan sebagian orang masih berkomentar ih lebai, ngapain sampai salat di atas lumpur, kenapa enggak di tempat lain yang lebih tepat.

Itu adalah kata-kata yang bukan hanya tidak empati, tapi muncul dari kebodohan, sebab...

Merujuk kepada riwayat Sayidina Said Al-Kudri, salah seorang sahabat nabi tentang Nabi Muhammad yang pernah salat di atas lumpur ketika terjadi hujan di zaman Nabi Muhammad,

Karena itu menurut para ulama boleh salat di atas lumpur selama lumpur tersebut tidak terlihat, tercium atau tampak secara nyata terkena sesuatu yang najis, karena pada dasarnya tanah dan air itu suci dan mensucikan.

Lagi pula kata Nabi Muhammad yang membedakan antara kita dengan kekafiran itu salat, karena itu apapun keadaannya, tetaplah salat seminimal-minimalnya untuk menghormati salat sesegera mungkin, dan jika masih ada waktu bisa melakukan kembali salat dalam keadaan yang lebih sempurna, maka diulangi salatnya, dan ketika nabi mengalami kesedihan yang begitu besar, Allah menghibur nabi dengan healing berupa mikraj.

Temu dengan Allah dan diberi hadiah untuk menghibur beliau berupa salat, karena itu salat adalah hiburan terbesar dan teragung bagi seorang dengan bencana apapun dan apa yang hilang dari seseorang kalau dia masih memiliki Allah dan apa yang dimiliki oleh seseorang sekaya apapun kalau dia sudah kehilangan Allah dengan salat berarti kita masih terhubung dengan Allah, sehingga apapun bencana yang mengalami kita kalau kita masih tetap salat maka hidup.

Akan terasa baik-baik saja, tapi semewah apapun kehidupan kita, kalau kita tidak salat, maka sejatinya hidup kita bukan sedang tidak baik-baik saja, tapi itulah bencana yang terbesar yaitu meninggalkan salat.

Komentar nitizen yang maha benar (Sumber: Instagram Habib Ja’far @husein_hadar | Foto: Istimewa)
Komentar nitizen yang maha benar (Sumber: Instagram Habib Ja’far @husein_hadar | Foto: Istimewa)

Hilangnya Keteladanan dan Kedewasaan Beragama

Saat asyik menyimak penjelasan Habib Ja’far dan membaca komentar para warganet yang merasa paling benar, Aa Akil, anak kedua yang tinggal menghitung hari menginjak usia 11 tahun, tiba-tiba berkomentar polos dan menohok.

Salat adalah kewajiban seorang muslim. Dalam kondisi apa pun kita tidak boleh meninggalkan salat. Selama orang masih bisa berkedip, maka wajib salat.

Perkataan sederhana bocah kelas itu seakan menjadi pengingat atas keteguhan dalam beribadah kadang justru paling murni datang dari hati yang masih jernih, keteladanan dan kedewasaan dalam ibadah.

Bila pemuka agama, pemimpin, tokoh masyarakat tidak lagi memberikan teladan yang menginspirasi, maka mereka tidak layak menjadi panutan bersama.

Terlebih ketika bencana dijadikan bahan kampanye dan modal politik, sehingga segala cara dihalalkan untuk mendongkrak popularitas, elektabilitas, bahkan menjatuhkan lawan dalam kontestasi politik. Sikap demikian pada dasarnya telah merendahkan ajaran suci agama (pemahamannya tentang agama) dan menjadi bukti nyata hilangnya keteladanan serta kedewasaan dalam beragama.

Sungguh tepat apa yang dikatakan Max Müller, tokoh studi agama-agama, seseorang yang hanya mengetahui satu agama pada hakikatnya tidak mengetahui apa-apa tentang agama, termasuk agamanya sendiri. Ketidaktahuan dalam urusan beragama dapat melahirkan kebencian yang pada akhirnya berujung pada pertumpahan darah.

Konten-konten di media sosial sering kali justru mempropagandakan kebencian dan menyebarkan berita hoaks yang melanggar etika bermedia sosial.

Padahal, pemimpin sering kali lahir dari lingkungan keluarga, masyarakat, dan pendidikan anak serta remaja di tengah masyarakat yang multietnis.

Informasi terkait bencana alam kini beredar luas di media sosial. Namun, tidak semuanya dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Sebagian informasi justru menyesatkan dan menimbulkan kegaduhan.

Psikolog Danti Wulan Manunggal menyebutkan ihwal informasi keliru (hoaks) dapat berdampak pada psikologis korban bencana. Saat bencana terjadi, para korban berada dalam fase kerentanan ekstrem, sehingga mudah terpapar hoaks. Dampaknya, mereka dapat mengalami ketakutan irasional yang menguras energi.

“Dalam situasi krisis, kapasitas otak untuk memproses informasi menurun drastis karena stres. Hoaks menambah kebisingan informasi. Korban akhirnya dibombardir dengan info yang saling bertentangan,” tegasnya.

Ingat, berita hoaks sangat berdampak pada penanganan bencana. Hoaks dapat mengacaukan operasi penyelamatan yang seharusnya terstruktur dan efisien.

Sejumlah bocah menaiki perahu saat banjir di Baleendah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan al Faritsi)
Sejumlah bocah menaiki perahu saat banjir di Baleendah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan al Faritsi)

Cara Agar Tidak Terpapar Informasi

Paling tidak ada beberapa cara yang dapat dilakukan korban bencana maupun masyarakat luas agar tidak terpapar hoaks. Berikut tipsnya.

Untuk Korban Bencana (Penyintas)

1. Terapkan diet informasi

Secara psikologis, terlalu banyak menerima informasi dapat memicu kecemasan. Karena itu, korban bencana perlu membatasi pengecekan ponsel.

Pilih satu (dua sumber) resmi saja, misalnya radio posko, akun resmi BMKG, BNPB, atau ketua RT/RW setempat. Abaikan grup WhatsApp keluarga yang sering panik tanpa verifikasi.

2. Gunakan teknik “jeda 10 detik” (pengereman amigdala)

Saat menerima kabar yang memicu panik, misalnya air banjir naik, jangan buru-buru percaya. Tarik napas dalam, hitung sampai sepuluh. Cara ini memberi waktu bagi logika untuk mengambil alih dari rasa takut. Lantas amati sekitar, apakah relawan panik? Apakah sirine berbunyi? Jika tidak, kemungkinan itu hoaks.

3. Verifikasi lewat jalur fisik di lokasi bencana

Kepercayaan terbaik datang dari kontak langsung, bukan teks digital. Jika ada kabar menakutkan, tanyakan langsung pada petugas berseragam (relawan) di lokasi.

Untuk Masyarakat Luas (Warganet dan Keluarga Jauh)

1. Prinsip “saring sebelum sharing

Sebelum membagikan informasi bencana, ajukan pertanyaan ini pada diri sendiri. “Apakah informasi ini akan membuat korban lebih tenang dan terbantu, atau justru membuat mereka panik?” Jika jawabannya “membuat panik” dan sumbernya tidak jelas, jangan dibagikan.

2. Hindari “doom-scrolling” dan dramatisasi

Jangan membagikan foto (video) lama yang didaur ulang dengan narasi dramatis. Ini dapat memicu vicarious trauma (trauma sekunder) bagi pembaca dan post-traumatic stress disorder (PTSD) bagi korban.

Lebih baik bagikan informasi solutif, seperti lokasi dapur umum, nomor darurat yang aktif, kebutuhan logistik mendesak.

3. Jadilah “pemutus rantai” di grup WhatsApp keluarga

Hoaks sering bermunculan di grup keluarga. Jika ada yang membagikan informasi tidak jelas, balas dengan sopan namun tegas, misalnya, “Mohon maaf, infonya dari mana? Jika belum ada konfirmasi resmi, sebaiknya kita tahan dulu supaya tidak membuat panik saudara kita di sana.” (Kompas.com, 4 Desember 2025, 12:21 WIB)

Memang saat terjadi bencana, arus informasi yang deras di media sosial tidak selalu membawa kebenaran. Banyak di antaranya justru menyesatkan, menciptakan kegaduhan baru di tengah suasana yang sudah penuh tekanan.

Media sosial, yang seharusnya menjadi ruang berbagi informasi, kerap berubah menjadi pasar gelap emosi mulai dari marah, takut, cemas, sampai prasangka dijual bebas tanpa kontrol etika. Hoaks menyebar lebih cepat daripada pertolongan. Tragisnya, masyarakat yang tengah dirundung bencana (mereka yang paling rentan) justru menjadi sasaran empuk manipulasi.

Bencana bukan hanya menguji kesiapan fisik dan mental masyarakat sekaligus menguji kedewasaan moral kita bersama. Keteladanan tidak lahir dari slogan, gelar, posisi, ritual, melainkan dari sikap kejujuran, empati, keberanian yang menenangkan, tindakan yang menolong, dan kemampuan menjaga kemanusiaan dalam kondisi paling genting, kekacauan.

Di sanalah pemimpin sejati diuji, karena dari terpaan inilah harapan tumbuh kembali. Terlebih lagi, saat dunia limbung, yang dibutuhkan bukan suara yang paling keras, tetapi yang paling jernih.

Walhasil, dari bencana inilah kita belajar ihwal pemimpin sejati bukanlah mereka yang tampil paling menonjol di layar, melainkan mereka yang mampu menenangkan, melindungi, dan memanusiakan. Hatta, ketika dunia sedang runtuh, alam unjuk kekuatannya. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

Berita Terkait

Farhan Vs. KDM

Ayo Netizen 07 Des 2025, 20:22 WIB
Farhan Vs. KDM

News Update

Ayo Netizen 25 Jan 2026, 18:15 WIB

Mencintai Kota seperti Kekasih: Kota Bandung, Konferensi Asia Afrika, dan Tanggung Jawab Kita

Bagaimana rasanya mencintai kota seperti kekasih? Dari Bandung yang terasa asing di kening hingga Bandung yang asyik untuk dikenang.
Bangku yang terduduk di Perpustakaan Kota Bandung (Sumber: Koleksi Pribadi Penulis | Foto: Penulis)
Ayo Jelajah 25 Jan 2026, 17:21 WIB

Sejarah Pasar Cimol Gedebage Bandung, Surga Thrifting Kota Kembang di Ujung Jalan

Jejak sejarah Pasar Cimol Gedebage bermula dari Cibadak hingga menjadi pusat pakaian bekas terbesar di Bandung.
Pasar Cimol Gedebage. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 25 Jan 2026, 16:13 WIB

Toponimi Kampung Muril: Serasa Berputar karena Gempa Sesar Lembang

Bila makna kata berputar-putar dikaitkan dengan toponimi Kampung Muril, sangat mungkin, penduduk di sana pada masa lalu pernah merasakannya.
Sangat mungkin toponim Muril karena pernah terjadi gempabumi yang menyebabkan serasa berputar-putar. (Sumber: T. Bachtiar)
Ayo Netizen 25 Jan 2026, 13:38 WIB

Gali Potensi, Raih Prestasi

Pengalaman LDKB menjadi bekal berharga bagi kita untuk terus menggali potensi diri, memperbaiki diri, meraih prestasi
Sejumlah siswa SD Cirendeu saat bermain permainan tradisional. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 25 Jan 2026, 11:05 WIB

Interior Bus Listrik Metro sebagai Pengalaman Ruang Bergerak di Kota Bandung

Transportasi publik dalam konteks ini, dipahami sebagai ruang interior bergerak yang dialami secara nyata oleh pengguna/penumpang.
Bus listrik metro. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Biz 24 Jan 2026, 21:30 WIB

Menyelami Dinamika Properti Indonesia: Antara Regulasi, Pasar, dan Integritas Developer

Industri properti kini bukan lagi sekadar urusan semen dan baja, melainkan pertarungan kecerdasan dalam menafsirkan naskah regulasi yang terus berganti.
Industri properti kini bukan lagi sekadar urusan semen dan baja, melainkan pertarungan kecerdasan dalam menafsirkan naskah regulasi yang terus berganti. (Sumber: Freepik)
Beranda 24 Jan 2026, 09:15 WIB

Memaknai Filosofi Warna Wayang Golek sebagai Cermin Karakter dan Arti Kehidupan

Tak hanya posisi mahkota, warna pada wajah wayang juga menjadi kunci untuk memahami filosofi karakter.
Tatang Ruhiana dan koleksi wayan goleknya yang dijual di galeri Alan Ruchiat. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 23 Jan 2026, 22:10 WIB

Normalisasi Sungai Mandiri: Kepemimpinan RT/RW Menjawab Tantangan Banjir

Kabupaten Bandung termasuk wilayah yang hampir setiap musim penghujan mengalami banjir di sejumlah titik.
Ketua RT 02 dan warga membersihkan tumbuhan liar dan semak semak di aliran sungai. (Foto: Jumali indrayanto)
Ayo Netizen 23 Jan 2026, 20:43 WIB

Kualitas Perjalanan Warga Bandung Menurun, Evaluasi Infrastruktur Transportasi Mengemuka

Kemacetan di Bandung membuat perjalanan harian warga lebih lama, menurunkan produktivitas, dan menurunkan kenyamanan mobilitas. Perlu pengaturan lalu-lintas lebih baik.
Pengendara terjebak macet di Buah Batu Ketika hujan turun, Senin (01/12/2025). (Foto: Nabila Khairunnisa P)
Ayo Netizen 23 Jan 2026, 19:47 WIB

Lisa Blackpink di Bandung Barat: Antara Gengsi Global dan Ujian Tatakrama Kita

Lisa Blackpink syuting di Bandung Barat? Intip alasan Netflix memilih Citatah dan bagaimana warga menyikapi bocornya lokasi syuting tersebut.
Salah satu tebing karst yang terus dijaga bersama adalah Tebing Citatah 125 karena di sinilah sejarah panjat tebing Indonesia bermula. (Sumber: Eiger)
Ayo Biz 23 Jan 2026, 17:24 WIB

Industri Sepak Bola Putri Indonesia Sedang Bertumbuh di Tengah Kekosongan Liga Resmi

Dari Bandung, Tangerang hingga Samarinda, gairah sepak bola putri tumbuh dengan cepat, menghadirkan pemandangan baru yang beberapa tahun lalu masih jarang terlihat.
Dari Bandung, Tangerang hingga Samarinda, gairah sepak bola putri tumbuh dengan cepat, menghadirkan pemandangan baru yang beberapa tahun lalu masih jarang terlihat. (Sumber: MilkLife Soccer Challenge)
Ayo Netizen 23 Jan 2026, 16:58 WIB

Menata Ulang Wajah Transportasi Bandung

Lalu lintas Bandung yang terbilang sangat padat telah menjadi masalah bagi warga sejak tahun 2024.
Kemacetan Bandung Pada malam hari (21.52 WIB) di Jln. Terusan Buah Batu. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Muhammad Airell Fairuzia)
Ayo Netizen 23 Jan 2026, 16:24 WIB

Kota Wisata dengan Beban Mobilitas Tinggi: Tantangan Tata Transportasi Bandung

Pemerintah sudah mencoba menerapkan berbagai cara untuk mengatasi permasalahan kemacetan, namun masih tak kunjung menemukan solusi yang tepat.
Kemacetan arus lalu lintas di ruas jalan Buah Batu, Turangga, Kecamatan Lengkong, Kota Bandung, menjadi pemandangan sehari hari bagi warga yang melintas (03/12/2025). (Sumber: Ramadhan Dwiadya Nugraha)
Ayo Biz 23 Jan 2026, 15:58 WIB

Menjaga Pertumbuhan di Tengah Krisis Fiskal: Strategi Obligasi dan Sukuk Jawa Barat

Ekonomi Jawa Barat pada Triwulan II 2025 tumbuh solid sebesar 5,23% year-on-year. Namun, di balik angka yang tampak menjanjikan itu, terdapat bayangan tantangan fiskal yang semakin nyata.
Ilustrasi obligasi dan sukuk daerah memperluas inklusi keuangan. (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 23 Jan 2026, 15:01 WIB

Ketika Mobilitas Tersendat, Kepercayaan Publik Ikut Tergerus

Kemacetan yang terus menerus terjadi membuat masyarakat Bandung semakin resah.
Pengendara mobil dan motor yang menunggu macet di malam hari (02/11/2025). (Foto: Sherina Khairunisa)
Ayo Jelajah 23 Jan 2026, 14:03 WIB

Kisah Para Warga Bandung yang Terjerat Tipu Daya Judi Online Kamboja

Judi online jaringan Kamboja menjalar hingga Bandung lewat iklan kerja digital. Anak muda direkrut sebagai operator dari rumah kontrakan atau luar negeri dengan janji gaji bulanan yang terlihat wajar.
Ilustrasi judi Kamboja.
Ayo Netizen 23 Jan 2026, 13:38 WIB

Dana Indonesiana Tertunda, Pelestari Budaya Ngada Alami Tekanan Mental

Dana Indonesiana belum cair, program budaya Ngada tertunda, pelakunya menghadapi tekanan sosial dan mental di kampungnya sendiri.
Desa Adat Bena. (Sumber: Arsip pribadi narasumber)
Ayo Netizen 23 Jan 2026, 12:08 WIB

Catatan Awal Tahun dari Wargi Bandung

Januari 2026 tiba, udara Bandung terasa berbeda.
Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) di dekat Terminal Cicaheum, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 23 Jan 2026, 10:07 WIB

Semestinya Kita Berefleksi dari Bencana Sumatra

Peristiwa ini bukan sekadar kabar duka dari satu wilayah, melainkan cermin rapuhnya kesiapsiagaan kita menghadapi bencana yang berulang.
Sisa banjir di Sumatra Barat pada awal Desember 2025. (Sumber: pkp.go.id)
Beranda 23 Jan 2026, 06:49 WIB

Konsistensi infoantapani Menyapa Warga Antapani Selama 12 Tahun, Bukan Cuma Urusan Algoritma dan Engagement

Akun ini tidak ingin dipandang sebagai media yang semata-mata mengutamakan kecepatan, namun juga tidak memilih gaya bahasa yang saklek, kaku, atau terlalu formal.
Owner dan founder @infoantapani, Venda Setya Nugraha. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)