Menangkal Bencana Hoaks

7 menit baca
Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan
Komisaris Bio Farma, Relly Reagen menyerahkan bantuan kepada masyarakat terdampak bencana di Padang, Sumatera Barat. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Budianto)
Komisaris Bio Farma, Relly Reagen menyerahkan bantuan kepada masyarakat terdampak bencana di Padang, Sumatera Barat. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Budianto)

Seorang pendakwah Gen Z, Habib Ja’far, membuat unggahan menanggapi beredarnya video seorang pria yang tetap melaksanakan salat dengan khusyuk di tengah badan jalan pasca banjir di Pidie Jaya, Aceh. Postingan video itu diberi judul, “Islam itu mudah. Mulut sebagian kita yang bikin repot.”

Dalam penjelasannya, Habib Ja’far menyampaikan salat yang dilakukan pria memakai kaos putih dan celana army merupakan wujud rasa syukur karena masih diberi keselamatan dari banjir bandang yang melanda wilayah itu. Meski banyak harta yang hilang dan rumah-rumah rusak, seorang hamba tetap menjalankan ibadah sebagai bentuk ketundukan kepada Tuhan.

Di tengah situasi seperti ini, Allah SWT adalah sebaik-baiknya tempat mengadu, mencurahkan segala keluh, memohon ampun atas segala khilaf, dan berserah diri atas apa pun yang terjadi.

Seorang pria yang tetap melaksanakan salat dengan khusyuk di tengah badan jalan pasca banjir di Pidie Jaya, Aceh (Sumber: Instagram | Foto: Istimewa)
Seorang pria yang tetap melaksanakan salat dengan khusyuk di tengah badan jalan pasca banjir di Pidie Jaya, Aceh (Sumber: Instagram | Foto: Istimewa)

Bencana Terbesar itu Saat Meninggalkan Salat

Seperti kita ketahui terjadi bencana alam yang begitu dahsyat kepada saudara-saudara kita di Sumatera dan yang lebih mengerikan dari bencana alam adalah bencana yang ditimbulkan oleh lisan dan tangan kita yang berkata-kata yang buruk terhadap mereka yang menjadi korban bencana.

Seperti yang terjadi kepada video viral tentang seorang korban bencana yang salat di atas lumpur dan sebagian orang masih berkomentar ih lebai, ngapain sampai salat di atas lumpur, kenapa enggak di tempat lain yang lebih tepat.

Itu adalah kata-kata yang bukan hanya tidak empati, tapi muncul dari kebodohan, sebab...

Merujuk kepada riwayat Sayidina Said Al-Kudri, salah seorang sahabat nabi tentang Nabi Muhammad yang pernah salat di atas lumpur ketika terjadi hujan di zaman Nabi Muhammad,

Karena itu menurut para ulama boleh salat di atas lumpur selama lumpur tersebut tidak terlihat, tercium atau tampak secara nyata terkena sesuatu yang najis, karena pada dasarnya tanah dan air itu suci dan mensucikan.

Lagi pula kata Nabi Muhammad yang membedakan antara kita dengan kekafiran itu salat, karena itu apapun keadaannya, tetaplah salat seminimal-minimalnya untuk menghormati salat sesegera mungkin, dan jika masih ada waktu bisa melakukan kembali salat dalam keadaan yang lebih sempurna, maka diulangi salatnya, dan ketika nabi mengalami kesedihan yang begitu besar, Allah menghibur nabi dengan healing berupa mikraj.

Temu dengan Allah dan diberi hadiah untuk menghibur beliau berupa salat, karena itu salat adalah hiburan terbesar dan teragung bagi seorang dengan bencana apapun dan apa yang hilang dari seseorang kalau dia masih memiliki Allah dan apa yang dimiliki oleh seseorang sekaya apapun kalau dia sudah kehilangan Allah dengan salat berarti kita masih terhubung dengan Allah, sehingga apapun bencana yang mengalami kita kalau kita masih tetap salat maka hidup.

Akan terasa baik-baik saja, tapi semewah apapun kehidupan kita, kalau kita tidak salat, maka sejatinya hidup kita bukan sedang tidak baik-baik saja, tapi itulah bencana yang terbesar yaitu meninggalkan salat.

Komentar nitizen yang maha benar (Sumber: Instagram Habib Ja’far @husein_hadar | Foto: Istimewa)
Komentar nitizen yang maha benar (Sumber: Instagram Habib Ja’far @husein_hadar | Foto: Istimewa)

Hilangnya Keteladanan dan Kedewasaan Beragama

Saat asyik menyimak penjelasan Habib Ja’far dan membaca komentar para warganet yang merasa paling benar, Aa Akil, anak kedua yang tinggal menghitung hari menginjak usia 11 tahun, tiba-tiba berkomentar polos dan menohok.

Salat adalah kewajiban seorang muslim. Dalam kondisi apa pun kita tidak boleh meninggalkan salat. Selama orang masih bisa berkedip, maka wajib salat.

Perkataan sederhana bocah kelas itu seakan menjadi pengingat atas keteguhan dalam beribadah kadang justru paling murni datang dari hati yang masih jernih, keteladanan dan kedewasaan dalam ibadah.

Bila pemuka agama, pemimpin, tokoh masyarakat tidak lagi memberikan teladan yang menginspirasi, maka mereka tidak layak menjadi panutan bersama.

Terlebih ketika bencana dijadikan bahan kampanye dan modal politik, sehingga segala cara dihalalkan untuk mendongkrak popularitas, elektabilitas, bahkan menjatuhkan lawan dalam kontestasi politik. Sikap demikian pada dasarnya telah merendahkan ajaran suci agama (pemahamannya tentang agama) dan menjadi bukti nyata hilangnya keteladanan serta kedewasaan dalam beragama.

Sungguh tepat apa yang dikatakan Max Müller, tokoh studi agama-agama, seseorang yang hanya mengetahui satu agama pada hakikatnya tidak mengetahui apa-apa tentang agama, termasuk agamanya sendiri. Ketidaktahuan dalam urusan beragama dapat melahirkan kebencian yang pada akhirnya berujung pada pertumpahan darah.

Konten-konten di media sosial sering kali justru mempropagandakan kebencian dan menyebarkan berita hoaks yang melanggar etika bermedia sosial.

Padahal, pemimpin sering kali lahir dari lingkungan keluarga, masyarakat, dan pendidikan anak serta remaja di tengah masyarakat yang multietnis.

Informasi terkait bencana alam kini beredar luas di media sosial. Namun, tidak semuanya dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Sebagian informasi justru menyesatkan dan menimbulkan kegaduhan.

Psikolog Danti Wulan Manunggal menyebutkan ihwal informasi keliru (hoaks) dapat berdampak pada psikologis korban bencana. Saat bencana terjadi, para korban berada dalam fase kerentanan ekstrem, sehingga mudah terpapar hoaks. Dampaknya, mereka dapat mengalami ketakutan irasional yang menguras energi.

“Dalam situasi krisis, kapasitas otak untuk memproses informasi menurun drastis karena stres. Hoaks menambah kebisingan informasi. Korban akhirnya dibombardir dengan info yang saling bertentangan,” tegasnya.

Ingat, berita hoaks sangat berdampak pada penanganan bencana. Hoaks dapat mengacaukan operasi penyelamatan yang seharusnya terstruktur dan efisien.

Sejumlah bocah menaiki perahu saat banjir di Baleendah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan al Faritsi)
Sejumlah bocah menaiki perahu saat banjir di Baleendah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan al Faritsi)

Cara Agar Tidak Terpapar Informasi

Paling tidak ada beberapa cara yang dapat dilakukan korban bencana maupun masyarakat luas agar tidak terpapar hoaks. Berikut tipsnya.

Untuk Korban Bencana (Penyintas)

1. Terapkan diet informasi

Secara psikologis, terlalu banyak menerima informasi dapat memicu kecemasan. Karena itu, korban bencana perlu membatasi pengecekan ponsel.

Pilih satu (dua sumber) resmi saja, misalnya radio posko, akun resmi BMKG, BNPB, atau ketua RT/RW setempat. Abaikan grup WhatsApp keluarga yang sering panik tanpa verifikasi.

2. Gunakan teknik “jeda 10 detik” (pengereman amigdala)

Saat menerima kabar yang memicu panik, misalnya air banjir naik, jangan buru-buru percaya. Tarik napas dalam, hitung sampai sepuluh. Cara ini memberi waktu bagi logika untuk mengambil alih dari rasa takut. Lantas amati sekitar, apakah relawan panik? Apakah sirine berbunyi? Jika tidak, kemungkinan itu hoaks.

3. Verifikasi lewat jalur fisik di lokasi bencana

Kepercayaan terbaik datang dari kontak langsung, bukan teks digital. Jika ada kabar menakutkan, tanyakan langsung pada petugas berseragam (relawan) di lokasi.

Untuk Masyarakat Luas (Warganet dan Keluarga Jauh)

1. Prinsip “saring sebelum sharing

Sebelum membagikan informasi bencana, ajukan pertanyaan ini pada diri sendiri. “Apakah informasi ini akan membuat korban lebih tenang dan terbantu, atau justru membuat mereka panik?” Jika jawabannya “membuat panik” dan sumbernya tidak jelas, jangan dibagikan.

2. Hindari “doom-scrolling” dan dramatisasi

Jangan membagikan foto (video) lama yang didaur ulang dengan narasi dramatis. Ini dapat memicu vicarious trauma (trauma sekunder) bagi pembaca dan post-traumatic stress disorder (PTSD) bagi korban.

Lebih baik bagikan informasi solutif, seperti lokasi dapur umum, nomor darurat yang aktif, kebutuhan logistik mendesak.

3. Jadilah “pemutus rantai” di grup WhatsApp keluarga

Hoaks sering bermunculan di grup keluarga. Jika ada yang membagikan informasi tidak jelas, balas dengan sopan namun tegas, misalnya, “Mohon maaf, infonya dari mana? Jika belum ada konfirmasi resmi, sebaiknya kita tahan dulu supaya tidak membuat panik saudara kita di sana.” (Kompas.com, 4 Desember 2025, 12:21 WIB)

Memang saat terjadi bencana, arus informasi yang deras di media sosial tidak selalu membawa kebenaran. Banyak di antaranya justru menyesatkan, menciptakan kegaduhan baru di tengah suasana yang sudah penuh tekanan.

Media sosial, yang seharusnya menjadi ruang berbagi informasi, kerap berubah menjadi pasar gelap emosi mulai dari marah, takut, cemas, sampai prasangka dijual bebas tanpa kontrol etika. Hoaks menyebar lebih cepat daripada pertolongan. Tragisnya, masyarakat yang tengah dirundung bencana (mereka yang paling rentan) justru menjadi sasaran empuk manipulasi.

Bencana bukan hanya menguji kesiapan fisik dan mental masyarakat sekaligus menguji kedewasaan moral kita bersama. Keteladanan tidak lahir dari slogan, gelar, posisi, ritual, melainkan dari sikap kejujuran, empati, keberanian yang menenangkan, tindakan yang menolong, dan kemampuan menjaga kemanusiaan dalam kondisi paling genting, kekacauan.

Di sanalah pemimpin sejati diuji, karena dari terpaan inilah harapan tumbuh kembali. Terlebih lagi, saat dunia limbung, yang dibutuhkan bukan suara yang paling keras, tetapi yang paling jernih.

Walhasil, dari bencana inilah kita belajar ihwal pemimpin sejati bukanlah mereka yang tampil paling menonjol di layar, melainkan mereka yang mampu menenangkan, melindungi, dan memanusiakan. Hatta, ketika dunia sedang runtuh, alam unjuk kekuatannya. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 17 Jul 2026, 17:29

Alih Fungsi Jalur Sepeda Menjadi Parkir Motor: Inkonsistensi Kebijakan Transportasi Kota Bandung

Alih fungsi jalur sepeda di Jalan Lembong menjadi parkir motor bukan sekadar persoalan parkir, tetapi mencerminkan inkonsistensi kebijakan Kota Bandung dalam mewujudkan transportasi berkelanjutan.

Pemandangan miris di Jalan Lembong, Kota Bandung pada Kamis (16/7/2026). Jalur sepeda yang dibangun untuk menjamin keselamatan pesepeda, justru beralih fungsi menjadi ruang parkir sepeda motor. (Foto: Alkhalifi)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 16:58

Mengapa Isolasi Politik Pasca Tragedi Bubat Membuat Sunda Makin Mandiri?

Mengulas bagaimana Kerajaan Sunda memperkuat kemandirian politik, ekonomi, dan pertahanannya setelah Perang Bubat melalui kebijakan isolasi dari Majapahit.

Ilustrasi peristiwa Perang Bubat di Taman Citra Resmi, Purwakarta. (Sumber: nationalgeographic.grid.id | Foto: Cut Menas Nila Tanu Sukma Devi)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 16:25

Satu Peluncuran, Tiga Cara Bercerita: Menganalisis Penyampaian Pesan Produsen Ponsel Pintar Ternama

Memahami bagaimana cara jenama besar menyebarkan informasi tentang produk terbaru.

Ilustrasi ponsel pintar. (Sumber: Pexels | Foto: Efrem Efre)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 15:18

Revolusi Perancis dan Bandung Nol Kilometer

Revolusi Prancis berawal dari penjara Bastille tahun 1789 telah membuat perubahan besar hak asasi manusia juga mempengaruhi perkembangan Bandung.

Monumen titik nol kilometer Kota Bandung diresmikan Gubernur H. Danny Setiawan pada 18 Mei 2004 dan didedikasikan untuk masyarakat Priangan korban kerja paksa. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Anya Dellanita)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 14:50

Islam di Kerajaan Demak: Warisan Peradaban dan Hukum Islam

Kemunculan Demak tidak terlepas dari melemahnya Majapahit yang memberi kesempatan bagi para penguasa Islam di pesisir Jawa untuk membangun kekuasaan.

Masjid Agung Demak, yang terletak di Kauman, Demak, Jawa Tengah, dibangun pada abad ke-15 M oleh Raden Patah, pendiri Kesultanan Demak, bersama para Wali Songo. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Hastosuprayogo)
Wisata & Kuliner 17 Jul 2026, 13:56

Panduan Wisata ke Pantai Legon Pari Sawarna, Laguna Tersembunyi di Ujung Jalan Setapak

Panduan lengkap Pantai Legon Pari Sawarna, mulai dari harga tiket, rute menuju lokasi, aktivitas, camping, hingga rekomendasi penginapan terbaru.

Pantai Legon Pari Sawarna. (Sumber: wisatasawarna.com)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 13:42

Soedirman dalam Tulisan Tempo

Review buku Soedirman: Seorang Panglima, Seorang Martir karya Tempo.

Buku "Soedirman: Seorang Panglima, Seorang Martir" (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Nahla Lisana, 2026)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 12:33

Persib dan Mimpi Menjadi Kekuatan Indonesia

Persib memiliki peluang menjadi salah satu lokomotif perubahan sepak bola di Tanah Air.

Pemain Persib Bandung melakukan selebarasi saar mengalahkan tamunya Selangor FC dengan skor 2-0. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 17 Jul 2026, 10:59

Soekarno-Hatta: Jalur Maut di Kota Bandung yang Terbelenggu Sekat Birokrasi

Selama birokrasi belum mampu di-bypass demi keselamatan, aspal Soekarno-Hatta akan tetap menjadi "jalur tengkorak" yang menanti nyawa lainnya.

Jalan Soekarno Hatta membentang sejauh 18 kilometer dari timur ke barat di kawasan selatan Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 09:55

Hikayat Stasiun Kereta Api di Padang Panjang

dari awal berjalannya kereta api Padang Panjang sampai Berhentinya beroperasinya kereta api Padang Panjang

Stasiun Kereta Api Padang Panjang. (atourin.com)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 06:51

Reaktivasi SPP Sekolah Negeri di Jawa Barat

Pemerintah wajib menjaga stabilitas kehidupan masyarakat dalam pendidikan. Masyarakat tidak ingin ada beban biaya lagi dalam menuntut pendidikan

Sejumlah siswa SD pergi sekolah menaiki rakit bambu melintasi Waduk Saguling. (Sumber: Ayobandung | Foto: Restu Nugraha)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 19:41

Perkembangan Lukisan dari Zaman purba sampai Era Digital

Lukisan-lukisan yang kini kita kenal, menyimpan sejarahnya tersendiri tanpa kita sadari.

Lukisan digital printing. (Sumber: Taswadi. 2019. "Teknik Digital Printing Lukisan Warli Haryana." Irama: Jurnal Seni, Desain dan Pembelajarannya, Fakultas Pendidikan Seni dan Desain UPI)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 19:03

Jejak Tersembunyi di Balik Gereja Sidang Kristus Sukabumi

Gereja Sidang Kristus merupakan salah satu bangunan bersejarah yang ada di pusat kota Sukabumi.

Tampak depan Gereja Sidang Kristus Kota Sukabumi. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Kepadalisna)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 18:44

Inspirasi Pajajaran sebagai Warisan yang Menunggu Diingat Kembali

Kerajaan Pajajaran banyak meninggalkan sejarah di masa Nusantara, tapi sayangnya ingatan kolektif tentang inspirasi Pajajaran bagi masa kini mulai terlupakan.

Kirab budaya di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Selasa 19 Agustus 2025. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 16 Jul 2026, 17:05

Menikmati Matahari Terbit di Lawang Angin

Lawang Angin Garut menawarkan panorama matahari terbit, Gunung Cikuray, kabut pegunungan, dan potensi wisata yang belum tergarap.

Sunset di Lawang Angin, Garut. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 16:33

Mandala Koran Legendaris yang Mewarnai Sejarah Pers Jawa Barat

Pada masanya, Harian Mandala merupakan salah satu surat kabar paling berpengaruh di Jawa Barat.

Sampul depan Harian Umum MANDALA edisi 13 Juli 1976, terbitan 50 tahun silam yang menjadi salah satu saksi perjalanan pers di Jawa Barat. (Sumber: Foto dan koleksi koran lawas milik Kin Sanubary)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 15:12

Teruslah Membaca meskipun Dianggap Tidak Berguna

Membaca saja tidak cukup, kita harus memahami isi, konteks, dan pesan yang ingin disampaikan dalam buku atau tulisan tersebut.

Seseorang sedang membaca buku. (Sumber: Unsplash | Foto: Mufid Majnun)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 14:43

Di Balik MPLS Masih Adakah Pendidikan untuk Semua?

MPLS sudah dilaksanakan namun yang menjadi sorotan adalah masih ada sekolah yang menerima murid kurang dari kebutuhan

Anggota Komunitas Badut Necis (Badut Nyentrik Bandung Cimahi Sauyunan) MPLS di SD Negeri Cibeber. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 12:56

Bagaimana Teknologi Pengenal Plat Nomor Mengubah Wajah Transportasi Modern?

Teknologi License Plate Recognition (LPR) memungkinkan kamera dan AI mengenali plat nomor kendaraan secara otomatis untuk mendukung transportasi yang lebih aman, efisien, dan cerdas.

LPR (License Plate Recognition) atau disebut juga dengan ANPR (Automatic Number Plate Recognition) adalah salah satu aplikasi cctv untuk mengenali plat nomor kendaraan. (Sumber: ilmiteknik.co.id)
Wisata & Kuliner 16 Jul 2026, 11:48

Panduan Berkunjung ke Pulau Komodo: Cara ke Labuan Bajo, Pink Beach, dan Pulau Padar

Panduan lengkap Taman Nasional Komodo mulai dari harga tiket, aplikasi SiOra, Pulau Padar, Pink Beach, Manta Point, hingga pilihan tour terbaik.

Pulau Komodo. (Sumber: Flickr)