Sampurasun: Menghidupkan Lagi Budaya Sunda lewat Dunia Fashion

3 menit baca
Dwi Sheila Simanjuntak
Ditulis oleh Dwi Sheila Simanjuntak diterbitkan
Deretan tas bermotif budaya Sunda terpajang di etalase toko Sampurasun Bandung, Jalan Cihampelas, Kelurahan Cipaganti, Kecamatan Coblong, Kota Bandung, Minggu (26/10/2025) (Sumber: Dokumentasi Pribadi  Penulis | Foto: Dwi Sheila Simanjuntak)
Deretan tas bermotif budaya Sunda terpajang di etalase toko Sampurasun Bandung, Jalan Cihampelas, Kelurahan Cipaganti, Kecamatan Coblong, Kota Bandung, Minggu (26/10/2025) (Sumber: Dokumentasi Pribadi Penulis | Foto: Dwi Sheila Simanjuntak)

Siang itu, meskipun suasana di bawah jembatan layang Skywalk Cihampelas, Kelurahan Cipaganti, Kecamatan Coblong, Kota Bandung, sedang ramai dengan kendaraan yang berlalu-lalang, namun sebuah toko kecil berwarna kuning pastel kelihatan mencolok mencuri perhatian mata.

Tas-tas bergambar angklung, tokecang, dan ikon budaya Sunda yang bisa kita  lihat dari luar kaca transparan sedang menggantung rapi di dalamnya. Waktu menunjukkan pukul 12.00 WIB ketika senyum ramah Teh Ayi menyambut setiap tamu yang datang ke toko Sampurasun Bandung, Minggu (26/10/2025).

Nur Aini Syaisa Rita, pendiri sekaligus pemilik Sampurasun Bandung, menceritakan bahwa idenya muncul dari kecintaannya pada Bandung. Ia ingin menciptakan oleh-oleh khas Bandung yang berbeda dari biasanya, bukan hanya makanan atau kaos sablon, melainkan produk yang bisa dipakai kemana aja sekaligus membawa nilai budaya.

“Saya pengen bikin sesuatu yang bisa dibawa, dipakai, tapi tetap punya nilai budaya,” ujarnya.

Perempuan berdarah Padang-Palembang itu memang jatuh hati pada Bandung sejak lama. Cintanya pada Bandung ternyata membawa Teh Ayi dan suaminya yang sama-sama berlatar belakang desain grafis, mendirikan Sampurasun pada tahun 2014. Mereka memulai dengan tiga motif pertama bertema Bandung Juara Series. Tak disangka, produk itu menarik minat pembeli, terutama dari Jakarta.

Teh Ayi menjelaskan bahwa melalui desain-desainnya, ia ingin budaya Sunda tidak hanya dipajang atau dikenang, tetapi bisa dibawa ke mana saja. Ia percaya bahwa tas bisa menjadi media bercerita yang menyenangkan dan fungsional bagi semua kalangan.

Kini, desain Sampurasun makin beragam. Ada motif permainan anak seperti tokecang dan oray-orayan, sampai motif kuliner khas Sunda seperti surabi oncom. Semua dibuat dengan harapan agar generasi muda tetap kenal dengan warisan budayanya sendiri. Teh Ayi menyebut, di tengah maraknya teknologi dan gaya hidup digital, dia berharap produk Sampurasun bisa menjadi jembatan untuk mengenalkan budaya kepada anak-anak lewat hal yang sederhana dan menarik.

Tas-tas Sampurasun dibuat dari bahan kanvas poliester, sebagian besar dipasok dari Cigondewa, Bandung. Motifnya dicetak dengan teknik press sublim agar warna lebih tahan lama. Kini, produknya tak hanya berupa tote bag, tapi juga kenes bag, sling bag, pouch, dan tumblr  dengan harga yang tetap terjangkau.

Pada tahun 2023, Sampurasun Bandung menarik perhatian Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno, yang datang langsung ke tempat mereka. Kunjungan itu membawa dampak besar bagi mereka, karena setelah kejadian tersebut permintaan custom meningkat, bahkan pemesanan datang dari instansi pemerintah.

Selain aktif memasarkan produknya di media sosial seperti Instagram, Sampurasun juga sering ikut pameran ekonomi kreatif seperti Inacraft, pameran kerajinan terbesar di Indonesia. Dari situ, produk mereka makin dikenal luas dan mulai bekerja sama dengan brand-brand lain yang ingin memproduksi di tempatnya.

“Kami pengen budaya itu gak cuma dilihat, tapi juga bisa dipakai. Tas jadi cara kami untuk bercerita,” katanya.

Setelah sebelas tahun berjalan dan hanya berjualan dari rumahan, impian Teh Ayi akhirnya terwujud. The Ayi membuka toko Sampurasun pertamanya di Cihampelas pada Juni 2025.

“Dulu cuma mimpi punya toko sendiri. Sekarang alhamdulillah bisa tercapai,” ujarnya dengan senyum bangga.

Bagi Teh Ayi, toko kecil itu bukan sekadar tempat jualan, melainkan simbol bahwa budaya Sunda masih hidup dan bisa terus dibanggakan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 10 Okt 2026, 14:39

Darurat Kesehatan Mental dan Ruang Komunikasi Terapeutik Melalui Radio

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. Ini membuktikan pemulihan jiwa butuh empati nyata, bukan sekadar engagement digital.

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. (Sumber: Pexels | Foto: Vie Studio)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 13:19

Jangan Menghukum Saritem karena Reputasinya

Saat nama Saritem disebut, publik tidak hanya membayangkan lokasi geografis di Kota Bandung. Ada citra sosial yang ikut menyeruak, yang terbentuk dari sejarah, pemberitaan, dan percakapan warga. 

Polisi melakukan razia narkoba di Saritem. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)