Ambu Encuy

Yudaningsih
Ditulis oleh Yudaningsih diterbitkan Senin 17 Nov 2025, 15:22 WIB
Ambu Encuy. (Sumber: Youtube/@Ambuencuysetiawan2477)

Ambu Encuy. (Sumber: Youtube/@Ambuencuysetiawan2477)

Sore hari itu bertepatan dengan hari Pahlawan, 10 November, hujan rintik-rintik turun pelan menyapu halaman Gedung Sate. Seusai bertugas di teater mini Command Center, saya melangkah keluar. Mobil online tak satu pun merespons pesanan, barangkali cuaca membuat para pengemudi enggan turun ke jalan. Akhirnya, saya naik angkot Ledeng–Cicaheum, kendaraan yang menjadi saksi hidup banyak kisah warga Bandung.

Di dalam angkot yang bergoyang pelan, saya disapa oleh seorang pengemudi dengan senyum ramah. Dari dialah, sebuah kisah menarik mengalir: kisah tentang seni, perjuangan, dan kenekatan menjemput mimpi di tengah keterbatasan. Kisah seorang pria yang dikenal banyak orang sebagai Ambu Encuy.

Menghidupkan Seni di Antara Mesin dan Jalanan

Di dunia seni tradisi Sunda, nama Ambu Encuy semakin familiar, baik di panggung-panggung kampung maupun linimasa media sosial. Namun, sedikit yang tahu bahwa di balik karakter “Ambu”, sosok ibu yang penuh wibawa di panggung, terdapat kehidupan penuh liku dari seorang lelaki bernama Incu Setiawan.

Lahir di Bandung pada 23 September 1987, Incu tumbuh sebagai anak yang menyukai seni sejak SMP. Tetapi seperti banyak remaja lain, ia terseret arus pilihan pendidikan yang tak sesuai minat. Ia masuk SMKN 2 Ciliwung jurusan Teknik Mesin, jurusan yang ia sebut sebagai “salah jalur”. Namun di sekolah itulah ia mulai serius menggeluti seni: menjadi pemain umbul-umbul, pemain payung agung, hingga belajar Jaipong dari Pak Gondo yang sekarangbergabung ke tim seni KDM.

Bagi Incu, seni bukan hanya menjadi pelarian, melainkan menjadi ruang ekspresi bahkan menjadi alasan hidup.

Setelah tamat SMK tahun 2006, ia bekerja di sebuah pabrik, PT Panitia Utama, di bagian molding/matres. Sembilan tahun lamanya ia bertahan di dunia yang jauh dari panggung seni. Namun ritme mesin tak mampu mematikan ritme kendang dalam dadanya.

Hidup tak selalu memberi jalan lurus. Ketika berhenti dari pabrik, Incu mencoba berdagang snack di kantin-kantin sekolah, menitipkan kerupuk tempe ke beberapa warung mulai Bandung hingga  Lembang, dengan berjalan kaki membawa sekarung kerupuk di pundaknya. Setahun penuh ia bertahan, sampai akhirnya mengambil jalan baru,  menjadi sopir angkot.

Awalnya ia hanya membawa angkot milik orang lain, jurusan Ledeng–Cicaheum. Namun pengalaman bertahun-tahun di jalanan melahirkan tekad: ingin punya angkot sendiri, agar tak selalu bergantung pada juragan.

Perjuangan itu membuahkan hasil. Tujuh tahun kemudian, ia berhasil membeli angkot sendiri. Sangat khas dan cukup kontras dibanding angkot lainnya. Jok dimodifikasi lagi menjadi nuasa hijau yang menyejukan mata. Itulah titik kemandiriannya.

Meski hidupnya banyak dihabiskan di balik setir, kecintaan terhadap seni tidak pernah padam. Bahkan semakin kuat. Ia terus tampil dalam pertunjukan Jaipong, pertunjukan payung agung, hingga menjadi bagian dari Wayang Giri Harja 2 dan Mekar Giri Harja 2. Tidak ada peran yang ia anggap kecil:  supir, ambu, lengser, pengiring gong—semuanya ia jalani dengan cinta.

Nama “Ambu Encuy” diambil dari nama panggilan neneknya dari pihak ayah. “Ambu” berarti ibu. Dan “Encuy” adalah penghormatan kepada sosok yang menjadi akar dalam hidupnya. Dari peran-peran kecil, ia naik menjadi sosok Ambu dalam berbagai acara adat Sunda. Sementara di balik panggung, ia tetap sosok Incu, seorang suami dan ayah dari dua anak yang lahir dari pernikahannya pada 2011.

Titik balik digital terjadi ketika seorang teman mengajak Incu membuat konten kreatif. Dunia media sosial membuka ruang baru. Ia mulai membuat video tentang kehidupan sebagai Ambu dan lengser. Mulai merekam proses make-up, latihan tari, perjalanan ke lokasi acara, dan keseharian di balik setir angkot.

Di kanalnya—Ambu Encuy—ia membagikan konten-konten yang sederhana namun mengena. Konten-konten itu bukan hanya hiburan, tetapi juga bentuk edukasi, dokumentasi, dan pelestarian budaya Sunda.

Ngamumule budaya Sunda bukan hanya wacana. Harus dilakukan.” Begitu ia berkata, sambil membenarkan selendangnya.

Dunia berubah. Teknologi berkembang dengan kecepatan yang kadang membuat seni tradisi terpinggirkan. Namun Ambu Encuy melihat peluang. Ia percaya para seniman harus mampu ngigeulan jaman—mengikuti laju zaman tanpa kehilangan akar budaya.

Ia berharap generasi muda semakin mencintai budaya sendiri, memperkuat budi pekerti dan sopan santun. Ia juga risau melihat permainan tradisional yang kian hilang: loncat tinggi, sapintrong, galah. Menurutnya, permainan itu menyehatkan dan membentuk karakter.

Harapan itu meluncur dari pengendara angkot yang setiap hari bersinggungan dengan kehidupan nyata: macet, terik, hujan, dan hiruk-pikuk kota.

Baca Juga: Turisme Bandung dan Menjaga Rasa 'Urang' Sunda

Saat tiba di tujuan, hujan mereda. Saya melompat turun dari angkot, membawa serta kisah yang lebih hangat dari jaket yang saya kenakan. Di balik kemudi yang sederhana, saya melihat seorang seniman yang terus menjaga nyala kecil budaya Sunda.

Ia bukan selebritas. Ia bukan tokoh besar. Namun dari sudut-sudut kota Bandung, dari jalanan, dari panggung kampung, ia menjadi penjaga tradisi.

Ambu Encuy mengajarkan satu hal: bahwa menjaga budaya tak membutuhkan panggung megah; cukup hati yang tulus dan langkah yang konsisten.

Dan mungkin, di dalam diri setiap kita, ada sedikit nyala yang menunggu untuk dijaga. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Yudaningsih
Tentang Yudaningsih
Yudaningsih, akademisi Tel-U & aktivis keterbukaan informasi, Tenaga Ahli KI Jabar, eks Komisioner KPU Bandung & KI Jabar, kini S3 SAA UIN SGD.

Berita Terkait

News Update

Sejarah 12 Apr 2026, 14:38

Sejarah Letusan Galunggung 1982, Sembilan Bulan Bencana Vulkanik di Jawa Barat

Letusan Galunggung 1982 berlangsung sembilan bulan, memicu pengungsian massal, kerusakan luas, dan menjadi salah satu bencana vulkanik terbesar di Jawa Barat.

Letusan Galunggung 1982. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 12 Apr 2026, 13:26

4 Ide Cerita untuk Kamu yang Merasa 'Terasing' di Bandung Kampung Halamanmu

Kita berdiri di kota tempat lahir, tapi merasa seperti tamu.

Wisata kuda tunggang di kawasan Jalan Cilaki, Kota Bandung, Rabu 25 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejarah 12 Apr 2026, 09:39

Hikayat Kampung Adat Mahmud, Penyebaran Islam hingga Larangan Menabuh Gong

Kampung Adat Mahmud di Bandung menyimpan sejarah penyebaran Islam, tradisi rumah panggung, dan larangan menabuh gong yang masih dijaga.

Kampung Mahmud, Bandung. (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 12 Apr 2026, 08:52

Bandung Era 1990-an dalam Ingatan Anak Kost

Bandung era 90-an, bagi saya, bukan sekadar kenangan. Ia adalah rumah yang selalu bisa saya kunjungi, kapan saja, dalam ingatan.

Anak kost era 1990-an, bersahabat dengan Erwan Setiawan, kini Wagub Jawa Barat. Kenangan sederhana yang tak lekang waktu. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)
Beranda 11 Apr 2026, 08:51

JPO Berkarat dan Berlubang Membahayakan Pelajar di Batas Kota Bandung–Cimahi, Tanggung Jawab Siapa?

JPO di Jalan Amir Machmud rusak parah: lantai berlubang, berkarat, dan tanpa atap pelindung, membahayakan pejalan kaki terutama pelajar.

Pelejar berjalan di JPO di Jalan Amir Machmud, perbatasan Kota Bandung dan Cimahi, Jumat, 10 April 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 10 Apr 2026, 20:01

Antara Bandung yang Kubayangkan dan Kenyataan yang Kutemui

Bagi banyak orang, Bandung selalu punya tempat istimewa dalam imajinasi.

Jalan Asia-Afrika, depan Alun-Alun Kota Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Suci Firda)
Ayo Netizen 10 Apr 2026, 18:23

WFH sebagai Cermin Budaya Kerja Aparatur

Hilangnya kehadiran fisik dalam WFH menantang organisasi untuk membangun sistem penilaian kerja yang berbasis output dan tanggung jawab.

Ilustrasi Aparatur Sipil Negara (ASN). (Sumber: Diskominfo Depok)
Bandung 10 Apr 2026, 16:36

Mengenal Dongmoon Dimsum, Ikon Kuliner Baru di Pasar Cihapit yang Viral Lewat Varian Mentai

Di tengah gempuran tren kuliner viral yang silih berganti, Dongmoon Dimsum tetap kokoh menancapkan eksistensinya, memperkuat jajaran destinasi kuliner di Pasar Cihapit, Bandung.

Di tengah gempuran tren kuliner viral yang silih berganti, Dongmoon Dimsum kokoh menancapkan eksistensinya, memperkuat jajaran destinasi kuliner di Pasar Cihapit, Bandung. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Iqbal Roem)
Ikon 10 Apr 2026, 15:17

Sejarah Istana Cipanas, Warisan Kolonial di Kaki Gunung Gede Pangrango

Istana Cipanas bermula dari rumah singgah abad ke-18, berkembang menjadi istana kepresidenan yang menyimpan jejak kolonial, perang, hingga keputusan penting negara

Lukisan Istana Cipanas, Cianjur, tahun 1880-1890-an. (Sumber: Tropenmuseum)
Wisata & Kuliner 10 Apr 2026, 13:26

Jelajah Wisata Pangalengan dengan Pilihan Tempat Menginapnya

Pangalengan punya sejarah penginapan panjang, dari Berghotel hingga glamping modern di Rahong dan Situ Cileunca dengan nuansa alam yang menenangkan.

Muara Rahong Hills, salah satu glamping tempat menginap wisatawan di Pangalengan. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 10 Apr 2026, 13:18

Panduan Wisata Gunung Guntur, "Semeru"-nya Jawa Barat dengan Panorama Spektakuler

Gunung Guntur menawarkan jalur berpasir terjal, panorama pegunungan luas, serta pengalaman mendaki unik di gunung berapi aktif dekat pusat Kota Garut.

Gunung Guntur dilihat dari kawasan pemandian Cipanas, Garut (Sumber: Wikimedia)
Beranda 10 Apr 2026, 09:29

Power of Ibu-ibu Cibogo Mengubah Sampah Jadi Gerakan Kolektif yang Berdampak Nyata

Power of Ibu-Ibu Cibogo mengubah pengelolaan sampah rumah tangga menjadi gerakan kolektif yang berdampak, menghadirkan solusi lingkungan sekaligus manfaat sosial dan ekonomi bagi warga.

Ibu-ibu di Cibogo, Kecamatan Sukajadi mengolah sampah rumah tangga yang memberikan perubahan terhadap kehidupan sosial dan ekonomi warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 10 Apr 2026, 08:30

Tren Rambut Lady Diana

Kehebohan para wanita Kota Bandung dari berbagai kalangan usia meniru gaya rambut Lady Diana saat tahun 1980-an

Lady Diana. (Sumber: Flickr | Foto: Joe Haupt)
Bandung 09 Apr 2026, 19:40

Urgensi Literasi Keuangan dan Akselerasi Sektor Riil demi Resiliensi Ekonomi Jawa Barat

Di tengah derasnya arus digitalisasi keuangan, Jawa Barat menghadapi tantangan besar: bagaimana memastikan inklusi keuangan berjalan selaras dengan literasi?

Ilustrasi. Di tengah derasnya arus digitalisasi keuangan, Jawa Barat menghadapi tantangan besar bagaimana memastikan inklusi keuangan berjalan selaras dengan literasi. (Sumber: Ayobiz.id/Gemini Generated)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 18:18

Asyiknya Berburu Koran Era 2000-an

Berburu koran tidak hanya mencari informasi, berita, ilmu pengetahuan, melainkan momentum bersejarah saat menerima (menjemput), ikhtiar, harapan dan kenyataan untuk terus belajar sepanjang hayat.

Aa Akil, anak kedua tengah asyik baca koran, Sabtu (4/4/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)
Wisata & Kuliner 09 Apr 2026, 16:40

Wisata Pantai Patimban, Pesisir Subang Utara yang jadi Pelabuhan Logistik

Pantai Patimban tawarkan sunset, kuliner laut, dan suasana santai, namun kini berubah sejak hadirnya Pelabuhan Internasional.

Pantai Patimban Subang. (Sumber: Wikimedia)
Beranda 09 Apr 2026, 16:39

Beralih ke Motor Listrik, Ojol Hadapi Dilema Antara Hemat Biaya dan Keterbatasan Jarak

Peralihan ojol ke motor listrik menghadirkan efisiensi biaya, namun dibayangi tantangan jarak tempuh dan infrastruktur, memaksa pengemudi lebih cermat mengatur strategi kerja.

Rizki Ahmad sedang melakukan pengisian baterai motor listrik di Kantor Pos Ujung Berung Kota Bandung, pada Kamis, 9 April 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Toni Hermawan)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 15:02

4 Ide Tulisan Hari Besar Terkait Tema Ayonetizen April 2026: Kartini, Asia-Afrika, sampai Hari Puisi

Bulan April penuh dengan momentum yang bisa diubah jadi cerita.

Warga berwisata di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Minggu, 30 April 2023. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Bandung 09 Apr 2026, 13:42

Menjembatani Kreativitas dan Regulasi: Menilik Tantangan Ekonomi Kreatif di Bandung

Pemerintah dan pelaku ekraf Bandung bedah regulasi & standar harga pengadaan dalam Ruang Dialog Ekraf guna dorong dampak ekonomi nyata.

Ilustrasi. Ekonomi kreatif (Sumber: Ist)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 13:14

Dari Sampah Menjadi Penjernih Sungai

Mahasiswa Tel-U menggagas website edukasi Ecoenzyme untuk atasi banjir Bojongsoang, Kabupaten Bandung.

Ilustrasi banjir yang menggenang Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung, (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)