Ambu Encuy

4 menit baca
Yudaningsih
Ditulis oleh Yudaningsih diterbitkan
Ambu Encuy. (Sumber: Youtube/@Ambuencuysetiawan2477)
Ambu Encuy. (Sumber: Youtube/@Ambuencuysetiawan2477)

Sore hari itu bertepatan dengan hari Pahlawan, 10 November, hujan rintik-rintik turun pelan menyapu halaman Gedung Sate. Seusai bertugas di teater mini Command Center, saya melangkah keluar. Mobil online tak satu pun merespons pesanan, barangkali cuaca membuat para pengemudi enggan turun ke jalan. Akhirnya, saya naik angkot Ledeng–Cicaheum, kendaraan yang menjadi saksi hidup banyak kisah warga Bandung.

Di dalam angkot yang bergoyang pelan, saya disapa oleh seorang pengemudi dengan senyum ramah. Dari dialah, sebuah kisah menarik mengalir: kisah tentang seni, perjuangan, dan kenekatan menjemput mimpi di tengah keterbatasan. Kisah seorang pria yang dikenal banyak orang sebagai Ambu Encuy.

Menghidupkan Seni di Antara Mesin dan Jalanan

Di dunia seni tradisi Sunda, nama Ambu Encuy semakin familiar, baik di panggung-panggung kampung maupun linimasa media sosial. Namun, sedikit yang tahu bahwa di balik karakter “Ambu”, sosok ibu yang penuh wibawa di panggung, terdapat kehidupan penuh liku dari seorang lelaki bernama Incu Setiawan.

Lahir di Bandung pada 23 September 1987, Incu tumbuh sebagai anak yang menyukai seni sejak SMP. Tetapi seperti banyak remaja lain, ia terseret arus pilihan pendidikan yang tak sesuai minat. Ia masuk SMKN 2 Ciliwung jurusan Teknik Mesin, jurusan yang ia sebut sebagai “salah jalur”. Namun di sekolah itulah ia mulai serius menggeluti seni: menjadi pemain umbul-umbul, pemain payung agung, hingga belajar Jaipong dari Pak Gondo yang sekarangbergabung ke tim seni KDM.

Bagi Incu, seni bukan hanya menjadi pelarian, melainkan menjadi ruang ekspresi bahkan menjadi alasan hidup.

Setelah tamat SMK tahun 2006, ia bekerja di sebuah pabrik, PT Panitia Utama, di bagian molding/matres. Sembilan tahun lamanya ia bertahan di dunia yang jauh dari panggung seni. Namun ritme mesin tak mampu mematikan ritme kendang dalam dadanya.

Hidup tak selalu memberi jalan lurus. Ketika berhenti dari pabrik, Incu mencoba berdagang snack di kantin-kantin sekolah, menitipkan kerupuk tempe ke beberapa warung mulai Bandung hingga  Lembang, dengan berjalan kaki membawa sekarung kerupuk di pundaknya. Setahun penuh ia bertahan, sampai akhirnya mengambil jalan baru,  menjadi sopir angkot.

Awalnya ia hanya membawa angkot milik orang lain, jurusan Ledeng–Cicaheum. Namun pengalaman bertahun-tahun di jalanan melahirkan tekad: ingin punya angkot sendiri, agar tak selalu bergantung pada juragan.

Perjuangan itu membuahkan hasil. Tujuh tahun kemudian, ia berhasil membeli angkot sendiri. Sangat khas dan cukup kontras dibanding angkot lainnya. Jok dimodifikasi lagi menjadi nuasa hijau yang menyejukan mata. Itulah titik kemandiriannya.

Meski hidupnya banyak dihabiskan di balik setir, kecintaan terhadap seni tidak pernah padam. Bahkan semakin kuat. Ia terus tampil dalam pertunjukan Jaipong, pertunjukan payung agung, hingga menjadi bagian dari Wayang Giri Harja 2 dan Mekar Giri Harja 2. Tidak ada peran yang ia anggap kecil:  supir, ambu, lengser, pengiring gong—semuanya ia jalani dengan cinta.

Nama “Ambu Encuy” diambil dari nama panggilan neneknya dari pihak ayah. “Ambu” berarti ibu. Dan “Encuy” adalah penghormatan kepada sosok yang menjadi akar dalam hidupnya. Dari peran-peran kecil, ia naik menjadi sosok Ambu dalam berbagai acara adat Sunda. Sementara di balik panggung, ia tetap sosok Incu, seorang suami dan ayah dari dua anak yang lahir dari pernikahannya pada 2011.

Titik balik digital terjadi ketika seorang teman mengajak Incu membuat konten kreatif. Dunia media sosial membuka ruang baru. Ia mulai membuat video tentang kehidupan sebagai Ambu dan lengser. Mulai merekam proses make-up, latihan tari, perjalanan ke lokasi acara, dan keseharian di balik setir angkot.

Di kanalnya—Ambu Encuy—ia membagikan konten-konten yang sederhana namun mengena. Konten-konten itu bukan hanya hiburan, tetapi juga bentuk edukasi, dokumentasi, dan pelestarian budaya Sunda.

“Ngamumule budaya Sunda bukan hanya wacana. Harus dilakukan.” Begitu ia berkata, sambil membenarkan selendangnya.

Dunia berubah. Teknologi berkembang dengan kecepatan yang kadang membuat seni tradisi terpinggirkan. Namun Ambu Encuy melihat peluang. Ia percaya para seniman harus mampu ngigeulan jaman—mengikuti laju zaman tanpa kehilangan akar budaya.

Ia berharap generasi muda semakin mencintai budaya sendiri, memperkuat budi pekerti dan sopan santun. Ia juga risau melihat permainan tradisional yang kian hilang: loncat tinggi, sapintrong, galah. Menurutnya, permainan itu menyehatkan dan membentuk karakter.

Harapan itu meluncur dari pengendara angkot yang setiap hari bersinggungan dengan kehidupan nyata: macet, terik, hujan, dan hiruk-pikuk kota.

Baca Juga: Turisme Bandung dan Menjaga Rasa 'Urang' Sunda

Saat tiba di tujuan, hujan mereda. Saya melompat turun dari angkot, membawa serta kisah yang lebih hangat dari jaket yang saya kenakan. Di balik kemudi yang sederhana, saya melihat seorang seniman yang terus menjaga nyala kecil budaya Sunda.

Ia bukan selebritas. Ia bukan tokoh besar. Namun dari sudut-sudut kota Bandung, dari jalanan, dari panggung kampung, ia menjadi penjaga tradisi.

Ambu Encuy mengajarkan satu hal: bahwa menjaga budaya tak membutuhkan panggung megah; cukup hati yang tulus dan langkah yang konsisten.

Dan mungkin, di dalam diri setiap kita, ada sedikit nyala yang menunggu untuk dijaga. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 14 Okt 2026, 16:45

Penertiban PKL: Apakah Menuju Bandung yang lebih Ramah dengan Pejalan Kaki?

Beberapa waktu ke belakang Bandung sedang melakukan penertiban PKL di Jalan Kiaracondong dan Cihapit tentunya harapannnya pejalan kaki mendapatkan haknya kembali.

Ilustrasi Penertiban PKL. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 14:52

Momentum Memerdekakan Guru

Menjadi anomali bahwa profesi guru mendapatkan tuntutan, tetapi dalam kehidupannya masih di bawah dari harapan.

Ilustrasi guru dan siswa di ruang kelas sekolah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 13:49

Proyeksi JPO UIN Bandung: Realisasi atau Ilusi?

Sebuah kritik dan saran kepada birokrasi UIN Bandung terkait usulan pengadaan JPO di depan gerbang kampus yang berhadapan langsung dengan Jalan A.H. Nasution.

Lanskap Jalan A.H Nasution di jam aktifitas. (Sumber: Dipotret dengan ponsel pribadi. | Foto: Rifki Ahmad Ma'ruf)
Sejarah 14 Okt 2026, 11:58

Jejak LASWI Maung Bikang Asal Bandung

Di Bandung pernah ada satu pasukan perempuan yang terjun dalam medan perang di garis depan. Pasukan ini bernama LASWI

Patung LASWI di Kebonjukut, Kota Bandung (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 11:12

Sunyi yang Tidak Selalu Puitik

Refleksi peringatan hari kesehatan mental di lingkungan pendidikan di Indonesia.

Kesehatan Mental Remaja (Sumber: GeminiAI)
Ayo Biz 14 Okt 2026, 10:41

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kepedulian terhadap Akses Jalan di Sekitar Wilayah Operasi

PLN Nusantara Power UP Cirata memperkuat infrastruktur jalan demi mendukung kelancaran mobilisasi dan keselamatan masyarakat sekitar.

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kepedulian terhadap Akses Jalan di Sekitar Wilayah Operasi
Beranda 14 Okt 2026, 09:38

Data Center AI Jatiluhur Butuh 33 Juta Liter Air per Hari, Walhi Soroti Hak Warga dan Petani

Selain kebutuhan air yang besar, WALHI Jabar menyoroti transparansi dokumen lingkungan, potensi dampak terhadap pertanian, serta kebutuhan energi untuk operasional pusat data.

Pemandangan Waduk Jatiluhur pada 10 Oktober 2023. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 09:04

Persib Sudah Juara, Mengapa Fasilitas Pemain Perlu Disoal?

Thom Haye melayangkan kritikan terhadap fasilitas pemulihan yang disediakan Persib Bandung. Kritikan Haye dibarengi keluhan soal padatnya jadwal dan perjalanan yang melelahkan,

Thom Haye dalam sebuah pertandingan. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 08:00

Sampah Itu Pasti, Bersih Itu Pilihan: Belajar dari Kota Bandung

Sampah adalah konsekuensi kehidupan sehari-hari, tetapi kota yang dipenuhi sampah bukanlah takdir.

Launching GASLAH Tahun 2026 dalam Rangkaian kegiatan Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) Tahun 2026 Tingkat Kota Bandung. (Sumber: prokopim.bandung.go.id | Foto: Protokol Komunikasi Pimpinan)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 20:52

KDM, 'Bakakak Hayam', 'Bakekok', dan Investasi Rp7,4 Triliun

Bagi urang Sunda -- atau setidaknya mereka yang akrab dengan budaya dan tradisi Sunda pastilah tahu -- dan mungkin juga suka -- bakakak hayam.

Ilustrasi bakakak hayam. (Sumber: Dok pribadi | Foto: AI Gemini)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 19:14

Pegunungan Sanggabuana Akan Menjadi Taman Hutan Raya

Pegunungan Sanggabuana bersiap beralih status menjadi Taman Hutan Raya (Tahura). Langkah strategis ini diambil demi menjaga kelestarian keanekaragaman hayati dan melindungi ekosistem hutan Jawa.

Peta Pegunungan Sanggabuana (Sumber Peta:  Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde), 1923 (Sumber: Digital Collections Universiteit Leiden)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 18:25

Paradigma Kereta Api Menjadi Wajah Baru Mobilitas Indonesia

Kereta api telah menjadi bagian dari denyut kehidupan sehari-hari. Dari alat transportasi menjadi ekosistem mobilitas. Wajah baru ini harus mampu menghubungkan berbagai aktivitas manusia.

Pekerja melakukan perawatan lokomotif di Depo Lokomotif Daop 2, Kota Bandung, Selasa 19 Maret 2024. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 18:06

Ketika Hak Pejalan Kaki Terampas dan Jalanan Terjebak Macet di Kawasan SPOrT Jabar

Ulasan kritis trotoar SPOrT Jabar yang tersita PKL hingga picu kemacetan. Mengajak Pemda bertindak nyata demi hak pedestrian dan keadilan ruang publik.

Trotoar depan pagar SPOrT Jabar, Pacuan Kuda di penuhi pedagang kaki lima. (Sumber: Pribadi | Foto: Marsya Laura Humaira)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 17:02

Dualisme Mahasiswa Bandung: Di Antara Barisan Soekarno dan Gelombang Aksi Massa

Ketika demonstrasi mahasiswa mengguncang pemerintahan Soekarno, muncul pertanyaan yang membelah mahasiswa: apakah membela Indonesia berarti harus menjatuhkan Soekarno, atau justru mempertahankannya?

Pawai ITB Tahun 1966 di Jl. Asia Afrika Bandung (Sumber: Buku Mereka Dari Bandung: Pergerakan Mahasiswa Bandung 1960-1967)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 16:14

Janji Manis Negara Lindungi Berita, Angin Segar atau Alarm Waspada?

Saat pembaca beralih dari mesin pencari ke AI, industri media kian tertekan. Menkum Supratman Andi Agtas janji lindungi karya pers, apakah ini angin segar atau alarm waspada?

Industri media kian tertekan akibat pergeseran pola konsumsi informasi usai kehadiran AI yang menggeser mesin pencari. (Sumber: Pexels | Foto: Markus Winkler)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 15:13

Investasi Jawa Barat, SIO, dan Perlindungan Pekerja

Banyak pekerjaan di sektor industri dan konstruksi memerlukan keterampilan khusus, terutama pengoperasian forklift, crane, alat berat, serta pesawat angkat dan angkut lainnya.

Ilustrasi Investasi dan ketenagakerjaan di Jawa Barat mesti maju bersama (Sumber: dokpri | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 11:11

Nostalgia Era 90-an sambil Menikmati Sejuknya Gelatopedia Cirebon

Berkunjung ke Gelatopedia Cirebon tak hanya sekedar menikmati dinginnya es krim tapi juga nostalgia ke tahun 90-an di tempat yang sangat sejuk.

Desain Dinding Gelatopedia Cirebon (11/10/26). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 08:56

Jalan A.H. Nasution UIN 1 Bandung: Ramai Laju Kendaraan, Sepi Hak Pejalan Kaki

Setiap hari mahasiswa dan warga terpaksa berjalan di bahu Jalan A.H. Nasution karena trotoar yang rusak.

Mahasiswa terpaksa berjalan di bahu jalan,karena trotoar yang tidak layak digunakan disekitar gerbang UIN Bandung Kampus 1. (Foto: Risa Aulia Rahma)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 07:44

Persib U18 dan Anak-Anak yang Menanggung Dosa Rivalitas Orang Dewasa

Langkah manajemen Persib membawa kasus penyerangan terhadap rombongan Persib U18 ke jalur hukum memiliki arti penting.

Bobotoh cilik Persib. (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 20:24

Soto-Soto Populer Nusantara: Mozaik Rasa, Pemetaan, Tipologi, dan Teknik Gastronomi Soto Indonesia

Dalam lanskap kuliner Nusantara, soto merupakan representasi konkret dari akulturasi dan adaptasi seni dapur tradisional Indonesia.

Soto Bandung, soto khas Bandung berbahan dasar daging sapi tanpa santan yang disajikan unik dengan lobak dan kedelai goreng. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)