Perempuan Muhammadiyah di Persimpangan Zaman

6 menit baca
Femi  Fauziah Alamsyah, M.Hum
Ditulis oleh Femi Fauziah Alamsyah, M.Hum diterbitkan
Ilustrasi perempuan muslim. (Sumber: Pexels/RDNE Stock project)
Ilustrasi perempuan muslim. (Sumber: Pexels/RDNE Stock project)

Sejarah sering menulis kisah besar tentang tokoh-tokoh pahlawan, tentang pertempuran, revolusi, dan gagasan besar yang mengubah dunia. Di balik setiap pergeseran zaman, selalu ada tangan-tangan perempuan yang bekerja dalam diam, mengasuh, mengajar, menggerakkan, dan menanam nilai-nilai di hati para generasi. Dalam konteks inilah, perempuan Muhammadiyah hadir bukan sekadar pelengkap sejarah, tetapi ikut memberi makna dan arah terhadap pergerakan zaman. Mereka membaca perubahan, merespons dengan bijak, dan berusaha menjaga agar cahaya nilai tidak padam di tengah arus kemajuan.

Bagi perempuan Muhammadiyah, memajukan kehidupan tanpa kehilangan pijakan nilai Islam bukan sekadar cita-cita, tetapi cara hidup. Dari ruang-ruang sekolah sederhana yang dirintis Nyai Ahmad Dahlan di Kauman, hingga forum-forum internasional yang kini diisi oleh generasi perempuan Muhammadiyah, ruh itu tetap menyala. Wujudnya boleh berubah, tetapi arah perjuangannya sama, mencerdaskan, memberdayakan, dan menebar manfaat bagi sesama.

Sejak awal abad ke-20, ketika banyak perempuan masih terkekang dalam keterbatasan sosial, tokoh seperti Siti Walidah (Nyai Ahmad Dahlan) sudah berani melampaui batas zamannya. Ia tidak hanya mengajarkan agama kepada kaum perempuan, tetapi juga menanamkan keberanian untuk berpikir, berpendapat, dan berperan. Warisan perjuangan Nyai Ahmad Dahlan bukan sebatas mendirikan sekolah, melainkan tentang keberanian menafsir ulang peran dan nilai dalam setiap zaman. Dari sanalah lahir tradisi berpikir kritis dan beramal nyata yang menjadi ciri khas perempuan Muhammadiyah hingga kini. Mereka belajar bahwa menjadi perempuan beriman berarti juga menjadi perempuan yang bergerak, yang membaca tanda-tanda zaman dan menjawabnya dengan karya. Semangat inilah yang kemudian menuntun langkah generasi baru, ketika dunia berubah dan bentuk perjuangan mengambil wajah yang berbeda.

Dari Langgar ke Layar: Dakwah Perempuan di Zaman Digital

Kini, satu abad lebih berlalu, dunia yang dihadapi perempuan Muhammadiyah sangat berbeda. Jika dulu perjuangan dilakukan lewat ruang fisik seperti pengajian dan sekolah, kini gelanggang dakwah meluas ke ruang digital, media sosial dan jejaring global. Namun, esensinya tetap sama, bagaimana menjaga keseimbangan antara nilai dan kemajuan. Dalam arus cepat dunia modern, perempuan Muhammadiyah kembali berhadapan dengan tantangan baru, bagaimana tetap setia pada akar nilai, tapi juga lentur menghadapi perubahan.

Berawal dari langgar, majelis taklim, dan ruang pendidikan sederhana, muncul kader yang membawa semangat pencerahan ke berbagai pelosok negeri. Kini, “langgar” itu bertransformasi menjadi “layar”, ruang baru tempat dakwah berlangsung dengan bentuk dan bahasa yang berbeda. Perempuan Muhammadiyah hari ini menulis di blog, berbagi ilmu melalui Instagram, mengajar lewat kanal YouTube, bahkan menjadi penggerak kampanye sosial digital. Mereka hadir sebagai bagian dari masyarakat yang terkoneksi, dan memahami bahwa dakwah kini tak hanya soal mimbar, tetapi juga tentang narasi, visual, dan algoritma.

Bersama perubahan bentuk dakwah, muncul pula wajah-wajah baru, generasi perempuan muda Muhammadiyah yang membawa semangat pencerahan ke dunia maya. Mereka mengemas nilai Islam dengan gaya komunikasi yang segar, dekat dengan publik muda, namun tetap berpegang pada ruh perjuangan yang diwariskan para pendahulu. Sebagian pengamat menyebut bahwa era digital telah menggeser cara orang beragama dan berinteraksi. Dunia yang semula terikat pada ruang dan waktu kini menjadi cair dan instan. Dalam konteks ini, perempuan Muhammadiyah dihadapkan pada pilihan sulit: menjadi bagian dari arus besar perubahan atau menjadi jangkar yang menjaga arah agar tidak terombang-ambing.

Tetapi sejarah menunjukkan bahwa perempuan Muhammadiyah selalu mampu menemukan jalan tengah. Mereka tahu kapan harus teguh, dan kapan harus lentur. Kekuatan mereka bukan pada kekerasan sikap, tetapi pada kemampuan membaca zaman tanpa kehilangan jati diri.

Menyulam Nilai di Tengah Arus

Kiai dan Nyai Ahmad Dahlan. (Sumber: muhammadiyah.or.id)
Kiai dan Nyai Ahmad Dahlan. (Sumber: muhammadiyah.or.id)

Nyai Ahmad Dahlan pernah berujar bahwa dakwah bukan hanya tentang berbicara di depan orang, tetapi tentang keteladanan yang hidup dalam keseharian. Prinsip ini menjadi dasar gerak perempuan Muhammadiyah sejak awal berdirinya Aisyiyah tahun 1917. Organisasi ini bukan sekadar wadah sosial, tetapi ruang transformasi, tempat perempuan belajar berpikir, berorganisasi, dan meneguhkan posisi mereka dalam masyarakat.

Kini, ketika dakwah berpindah ke ruang digital, tantangannya tentu lebih kompleks, Dunia digital memicu kebutuhan untuk selalu tampil, berbicara cepat, dan menyesuaikan diri dengan tren. Namun, prinsip yang sama masih berlaku, nilai tidak bisa disebarkan hanya lewat postingan, tetapi lewat integritas, keteladanan dan konsistensi dalam kehidupan nyata. Perempuan Muhammadiyah diajarkan bahwa modernitas bukan berarti kehilangan arah; kemajuan bukan berarti meninggalkan akar.

Seperti yang dikatakan Siti Baroroh Baried, tokoh perempuan Muhammadiyah dan akademisi UGM “Kemajuan sejati adalah keseimbangan antara akal, rasa, dan iman.” Dalam semangat itu, perempuan Muhammadiyah hari ini tidak sekadar hadir di ruang digital sebagai pengguna, melainkan sebagai penjaga makna, memastikan bahwa setiap kemajuan tetap berpihak pada kemanusiaan, bukan sekadar sensasi.

Lentur Tanpa Hilang Bentuk

Lentur bukan berarti lemah. Dalam konteks perempuan Muhammadiyah, kelenturan adalah bentuk kecerdasan sosial dan spiritual, kemampuan untuk beradaptasi tanpa kehilangan nilai. Dunia yang terus berubah menuntut bentuk baru perjuangan, bagaimana menghadirkan Islam berkemajuan yang tetap relevan di tengah wacana kesetaraan gender, isu ekologi, dan transformasi digital.

Dalam banyak sejarah, perempuan Muhammadiyah kini menjadi pemimpin sekolah, penggerak ekonomi, peneliti lingkungan, hingga kreator konten edukatif. Mereka menunjukkan bahwa menjadi modern tidak bertentangan dengan menjadi religius. Bahkan, keduanya bisa berjalan beriringan.

Seperti halnya Nyai Dahlan di awal abad lalu menembus batas domestik untuk mengajar dan mendirikan sekolah, perempuan Muhammadiyah masa kini juga menembus batas digital untuk mengajar lewat layar. Bedanya hanya medium, bukan makna. Semangatnya tetap sama, yaitu mencerdaskan kehidupan, memberdayakan perempuan, dan menebar nilai Islam yang mencerahkan.

Menatap Masa Depan

Setiap zaman memiliki tantangan dan keindahannya sendiri. Jika dulu tantangan datang dari keterbatasan akses pendidikan, kini tantangannya justru berlimpahnya informasi yang tak selalu bermakna. Dunia digital membuka ruang baru untuk berdakwah, tetapi juga menghadirkan godaan untuk tampil tanpa isi, viral tanpa arah.

Maka, tugas perempuan Muhammadiyah hari ini bukan hanya meneruskan semangat pendahulu, tetapi juga menafsirkan ulang makna kemajuan. Mereka harus mampu menjembatani nilai dan modernitas, iman dan inovasi, moralitas dan teknologi. Sebagaimana dikatakan Haedar Nashir (2020), kemajuan sejati Muhammadiyah bukan pada kemewahan bentuk, tetapi pada kedalaman makna dan keteguhan prinsip. Perempuan Muhammadiyah adalah wujud paling nyata dari prinsip itu, mereka hadir di segala lini kehidupan, dari ruang domestik hingga publik, dari langgar hingga layar, dari masa lalu menuju masa depan.

Baca Juga: Budaya Scrolling: Cermin dari Logika Zaman

Sejarah perempuan Muhammadiyah tidak ditulis dengan tinta emas, melainkan dengan peluh perjuangan dan doa panjang. Dari tangan-tangan merekalah lahir generasi yang berpendidikan, beriman, dan berdaya. Dan kini, di tengah dunia yang terus berubah, perempuan Muhammadiyah kembali mengingatkan kita bahwa modernitas tanpa nilai hanyalah kebisingan tanpa arah.

Mereka mengajarkan bahwa menjadi maju bukan berarti meniru, tetapi menafsir; bukan meninggalkan masa lalu, tetapi menghidupkannya dalam konteks baru. Lentur tanpa kehilangan bentuk, kuat tanpa harus keras. Dalam diri mereka, kita melihat wajah Islam yang mencerahkan, setia pada nilai, dan terbuka pada zaman. (*)

Referensi:

  • Nashir, Haedar. (2020). Islam Berkemajuan: Risalah Dakwah dan Tajdid Muhammadiyah. Suara Muhammadiyah.
  • Baroroh Baried, Siti. (1984). Perempuan dan Pendidikan dalam Muhammadiyah. Yogyakarta: UGM Press.
  • Burhani, Ahmad Najib. (2016). Membaca Muhammadiyah dari Luar: Kritik dan Harapan terhadap Gerakan Islam Modernis. Suara Muhammadiyah.
  • Siti Walidah Ahmad Dahlan. (2010). Kumpulan Pidato dan Gagasan Tokoh Aisyiyah. Yogyakarta: Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah.
Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 16 Okt 2026, 20:03

KDM dan Tantangan Mengubah Empati Menjadi Kebijakan

Pemimpin dengan skor empati tinggi bisa berhasil ketika mereka membangun institusi yang mampu menerjemahkan empati menjadi kebijakan yang bermakna.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, yang akrab disapa KDM. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 18:00

Pengalaman Memandu SMP Atirah Makassar #1

Pengalaman memandu siswa kelas 8 dari SMP Atirah, Bukit Baruga, Makassar, pada tanggal 5 Oktober hingga 9 Oktober kemarin.

Pengalaman memandu siswa kelas 8 dari SMP Atirah, Bukit Baruga, Makassar, pada tanggal 5 Oktober hingga 9 Oktober kemarin. (Sumber: Malia Nur Alifa)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 16:57

Ketika Foto Menjadi Saksi Sejarah: Ray Bachtiar dan Perjalanan Dunia Visual

Fotografi menyimpan jejak sejarah dan ingatan bangsa. Talkshow “Jejak Visual” mengulas evolusi fotografi dan videografi bersama Ray Bachtiar Dradjat di Museum Mandiri, Kota Tua Jakarta.

Praktisi fotografi Ray Bachtiar Dradjat menjadi narasumber talkshow “Jejak Visual: Evolusi Fotografi dan Videografi”. (Sumber: Ray Bachtiar Dradjat)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 16:42

Menelusuri Jejak Benny Soebardja, Sang Godfather Rock Progresif Indonesia

Buku Benny Soebardja: The Progressive Years karya Zuhair Alyafie mengulas perjalanan Benny Soebardja dan perannya dalam membentuk sejarah rock progresif Indonesia.

Benny Soebardja: Perjalanan Sang Godfather Rock Progresif Indonesia (Sumber: Zuhair Alyafie)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 15:21

Peran Bank Perekonomian Rakyat Mencegah Jerat Rentenir di Bandung

Tujuan utama perbankan daerah bukan hanya menghimpun dana dan menyalurkan kredit. Keberadaannya menjaga martabat ekonomi keluarga di Bandung.

Ilustrasi pentingnya peran Bank Perekonomian Rakyat di Kota Bandung. (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 13:58

Cerita Perjalanan Menuju Palimanan dan Belajar Keberanian dari Lapak Baca Buku Gratis Cirebon

Kegiatan membuka lapak untuk membaca buku gratis mulai hadir di beberapa kota untuk meningkatkan minat literasi, begitu juga dengan Kota Cirebon.

Baca Buku Gratis di Alun-Alun Palimanan Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 11:07

Jalur Banjaran–Pangalengan Seringkali Padat: Mengapa Kemacetan Terjadi?

Kemacetan di jalur Banjaran–Pangalengan menjadi perhatian karena jalur ini digunakan oleh warga untuk beraktivitas sehari-hari sekaligus menjadi akses menuju kawasan wisata.

Dokumentasi kemacetan di daerah Pasar Banjaran.
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 10:07

SKS: Kebiasaan Buruk atau Mekanisme Bertahan Mahasiswa?

Tugas menumpuk dan tenggat mendekat membuat mahasiswa begadang demi menyelesaikan pekerjaan. Apakah SKS sekadar kebiasaan buruk atau cara bertahan di tengah tuntutan akademik?

night study (Sumber: pexels.com | Foto: Bikram Bezbaruah)
Bandung 15 Okt 2026, 19:59

Industri Hiburan Bandung Masih Bergelora, Playlist Rewind 2026 Jadi Bukti Eksistensi Kota Musik

Kota Bandung tak pernah kehilangan taji sebagai barometer industri hiburan dan kiblat festival musik Tanah Air. Denyut kreatifitas itu kini kembali terbukti lewat hadirnya Playlist Rewind 2026.

Kota Bandung tak pernah kehilangan taji sebagai barometer industri hiburan dan kiblat festival musik Tanah Air. Denyut kreatifitas itu kini kembali terbukti lewat hadirnya Playlist Rewind 2026. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 17:57

Para Insinyur Planologi, Arsitektur dan Sipil Terkemuka Yang Terlibat Pembangunan Kota Bandung dan Cimahi (Bagian 1)

Kisah insinyur planologi, arsitektur dan sipil terkemuka dalam membangun Bandung dan Cimahi. Temukan jejak sejarah, inovasi tata kota dan mahakarya ikonis mereka di sini!

Lukisan cat air Gedung Sate (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2)
Bandung 15 Okt 2026, 16:41

Menolak Lupa Rasa Rumah, 11 Tahun Warung Kopi Imah Babaturan Merawat Hangatnya Bandung

Tepat pada 15 Oktober 2026, warung kopi dan rumah makan, yakni Warung Kopi Imah Babaturan yang bersemayam di jantung Kota Bandung ini merayakan hari jadinya yang ke-11.

Pemilik Warung Kopi Imah Babaturan, yakni Mohammad Nurul Hudha dan sang istri, Anggia Bonyta. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:48

Relasi Santri dengan Indonesia

Refleksi Hari Santri Nasional 2026: menelusuri jejak Resolusi Jihad, peran ulama, dan perjuangan santri dalam mempertahankan kemerdekaan serta menjaga hubungan santri dan negara.

Relasi Santri dengan Indonesia (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:09

Ketika Pertemanan Punya Target Harian: Terhubung atau Sekadar Menjaga Api Streak TikTok?

Pernah takut api streak TikTok dengan teman terputus? Kebiasaan ini bisa menjaga komunikasi, tetapi juga terasa seperti kewajiban harian. Apakah kita benar-benar terhubung atau sekadar menjaga angka?

Fitur api streak TikTok bisa menjadi cara menyenangkan untuk menjaga komunikasi.
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:03

Pardoks 'Tidak Ada Bukti' dalam Kasus Pelecehan Seksual di Unpas

Data menunjukkan bahwa laporan palsu -- atau bahkan fitnah -- dalam kasus kekerasan dan pelecehan seksual di kampus sangat rendah, sementara underreporting sangat tinggi. Apa artinya?

Aksi mahasiswa Universitas Pasundan (Unpas) Bandung terkait dugaan kekerasan seksual oleh oknum dosen. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 12:03

Mengenal Emma Poeradiredja dan Jejak Politik Perempuan Sunda

Emma Peoradiredja, seorang tokoh perempuan sunda yang membukakan jalan berpolitik untuk perempuan di tanah sunda

Emma Poeradiredja
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 22:06

Bandung dan Cirebon Sama-Sama Minim Penerangan Lampu Jalanan

Penerangan jalan umum di wilayah Jawa Barat masih sangat minim perhatian sehingga kondisi ini bisa mengakibatkan potensi kecelakaan bagi pengguna kendaraan.

Penerangan Jalan Ahmad Yani-Pantura Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 18:01

Menyeret Emak dan Bapak Ke Pengadilan

Banyak Lansia atau orang tua yang disidangkan oleh anak kandungnya di pengadilan yang semestinya tidak terjadi peristiwa nirempati tersebut

Ruang sidang bukan tempat membalas budi orang tua. Utamakan musyawarah dan kasih sayang. (Sumber: Ilustrasi oleh Gemini AI)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 16:45

Penertiban PKL: Apakah Menuju Bandung yang lebih Ramah dengan Pejalan Kaki?

Beberapa waktu ke belakang Bandung sedang melakukan penertiban PKL di Jalan Kiaracondong dan Cihapit tentunya harapannnya pejalan kaki mendapatkan haknya kembali.

Ilustrasi Penertiban PKL. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 14:52

Momentum Memerdekakan Guru

Menjadi anomali bahwa profesi guru mendapatkan tuntutan, tetapi dalam kehidupannya masih di bawah dari harapan.

Ilustrasi guru dan siswa di ruang kelas sekolah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 13:49

Proyeksi JPO UIN Bandung: Realisasi atau Ilusi?

Sebuah kritik dan saran kepada birokrasi UIN Bandung terkait usulan pengadaan JPO di depan gerbang kampus yang berhadapan langsung dengan Jalan A.H. Nasution.

Lanskap Jalan A.H Nasution di jam aktifitas. (Sumber: Dipotret dengan ponsel pribadi. | Foto: Rifki Ahmad Ma'ruf)