Hikayat Patung Bugil Citarum, Jejak Pantat Kolonial yang Hubungkan Bandung dengan Den Haag

6 menit baca
Redaksi
Ditulis oleh Redaksi diterbitkan
Monumen patung bugil Citarum yang jadi penanda terhubungnya komunikasi suara Bandung-Den Haag via Stasiun Radio Malabar
Monumen patung bugil Citarum yang jadi penanda terhubungnya komunikasi suara Bandung-Den Haag via Stasiun Radio Malabar

AYOBANDUNG.ID - Di suatu masa ketika Bandung belum dibungkus mal dan kafe minimalis,kota ini punya sebuah tontonan unik di tengah Lapangan Citarum. Bukan parade militer. Bukan pula pertunjukan musik keroncong yang mengalun lembut dari radio. Yang berdiri tegak di sana justru dua lelaki Eropa telanjang bulat yang sama sekali tidak malu pada siapapun, plus sebuah bola dunia besar tampak seperti telur dinosaurus yang gagal menetas. Itulah monumen yang kemudian dikenal dengan nama yang sangat merakyat: Patung Bugil Citarum.

Bagi warga Bandung zaman itu, monumen ini sejenis hiburan publik gratis. Semacam tontonan aneh yang muncul begitu saja di tengah kota. Tidak semua orang tahu bahwa patung itu sebenarnya simbol pencapaian teknologi telekomunikasi terbesar Hindia Belanda. Tapi yang lebih diingat orang ya itu tadi: dua pria telanjang dengan bokong menghadap siapa saja yang melintas.

Kini banyak yang tak percaya bahwa Bandung pernah punya ikon seberani itu. Tapi sejarah punya caranya sendiri menyimpan kelucuan. Dan begitulah, sebelum Masjid Istiqomah berdiri anggun dan syahdu, tempat itu pernah menjadi panggung besar bagi karya arsitek kolonial yang hobi membuat tubuh atletis bergaya Romawi tampil nyaris tanpa busana.

Dan anehnya, justru dari patung bugil inilah kisah terhubungnya Bandung dan Den Haag terbentang. Seolah kota ini pernah punya jalur komunikasi internasional yang bermula dari Gunung Puntang, melewati kabel radio raksasa, menuju telinga orang Belanda yang rindu rumah. Semuanya bermula dari seorang ilmuwan Bernama De Groot, yang begitu serius menghubungkan dua benua sampai-sampai dibuatkan monumen khusus untuknya. Monumen itu akhirnya hilang dihancurkan perang, tetapi ceritanya terus hidup, bahkan sampai hari ini.

Baca Juga: Sejarah Pieterspark, Taman Tertua di Bandung yang Berdiri Sejak 1885

Untuk yang penasaran: ya, Bokong itu pernah jadi simbol kemajuan teknologi.

Pada awal abad ke-20, Lapangan Citarum atau Tjitaroemplein adalah salah satu ruang publik paling penting di Bandung. Sebelum suara adzan bergema dari Masjid Istiqomah, kawasan ini lebih dulu menyimpan cerita kolonial yang penuh ambisi. Pemerintah Belanda ingin membuat sesuatu yang monumental untuk merayakan keberhasilan komunikasi nirkabel jarak jauh. Dan karena Eropa hobi dengan gaya klasik, dipilihlah dua pria telanjang sebagai ikon. Tidak ada perdebatan moral panjang. Waktu itu, estetika dianggap lebih penting daripada rasa malu orang yang kebetulan lewat.

Kedua patung pria itu berdiri di sisi kanan dan kiri sebuah bola besar yang dihiasi syair Belanda. Yang satu dibuat memekikkan suara, menangkupkan tangan di mulut seperti penyanyi opera yang baru menemukan panggung. Yang satunya lagi menopang telinga, seolah sedang mendengarkan kabar penting dari seberang bumi. Simbol yang cukup literal sebenarnya: Bandung mengirim pesan, Den Haag menerima.

Patung itu menggambarkan sesuatu yang di zamannya luar biasa: suara dari Hindia Belanda bisa menyeberangi samudra dan terdengar jelas di Eropa. Jika hari ini kita mengeluh soal sinyal lemot, bayangkan bagaimana orang Bandung tahun 1920-an bereaksi ketika mendengar kabar bahwa suara bisa melintasi benua lewat udara.

Kelahiran monumen ini terkait langsung dengan Stasiun Radio Malabar, sebuah fasilitas pemancar raksasa yang dibangun di Gunung Puntang, Kabupaten Bandung. Di sanalah De Groot, ilmuwan elektro yang lebih sering hidup di laboratorium daripada di ruang tamu, bereksperimen dengan gelombang radio nirkabel. Ia membentangkan kabel sepanjang tiga kilometer dari puncak Gunung Puntang ke Gunung Haruman. Kabel itu seperti jembatan petir yang menghubungkan dua gunung. Belum pernah ada yang mencoba hal seperti itu sebelumnya. Penduduk setempat mungkin hanya mengernyitkan dahi, tapi para insinyur kolonial menyebutnya kejeniusan.

Baca Juga: Sejarah Lembang, Kawasan Wisata Primadona Bandung Sejak Zaman Kolonial

Pada tahun 1923, semua percobaan ini membuahkan hasil. Suara dari Bandung terdengar di Den Haag. Jarak ribuan kilometer ditembus gelombang radio. Para pejabat Belanda antusias luar biasa. Orang-orang kolonial di Hindia akhirnya bisa menelepon keluarganya di kampung halaman. Tentu tarifnya mahal, tetapi teknologi memang selalu dimulai sebagai barang mewah sebelum akhirnya menjadi kebutuhan umum.

Keberhasilan itu dianggap begitu penting sehingga Walikota Bandung saat itu, B. Coops, memutuskan untuk membangunkan monumen khusus. Ia menunjuk arsitek terkenal, C.P. Wolff Schoemaker, yang gaya bangunannya sering terlihat dramatis dan penuh simbolisme. Dan entah mengapa, Schoemaker seperti ingin dunia tahu bahwa kemajuan teknologi juga bisa ditampilkan lewat dua tubuh kekar yang tidak memakai apapun.

Stasiun Radio Malabar saat masih aktif. (Sumber: Wikimedia)
Stasiun Radio Malabar saat masih aktif. (Sumber: Wikimedia)

Rancangan monumen itu bukan sekadar karya seni. Ia adalah manifesto kolonial: bahwa Hindia Belanda bukan hanya ladang cengkih dan teh, tetapi juga tempat lahirnya inovasi modern.

Tapi masyarakat memberi nama lain, jauh lebih sederhana, jauh lebih jujur: Patung Bugil Citarum.

Beberapa orang menyebutnya monumen pantat bugil. Dalam arsip Belanda, istilah Blotebillen Monument sempat muncul. Rupanya keisengan itu lintas budaya.

Baca Juga: Hikayat Stasiun Radio Malabar, Kota Kecil yang Hilang di Gunung Puntang

Sayangnya, umur monumen ini singkat. Ketika Jepang menginvasi Hindia Belanda pada 1942, banyak simbol kolonial dihancurkan. Tentara Jepang menilai monumen itu sebagai peninggalan kemegahan Eropa yang tidak perlu dipertahankan. Mungkin mereka juga bingung kenapa dua lelaki bugil harus mengapit bola dunia. Akhirnya monumen itu diruntuhkan. Tidak ada yang tersisa. Tidak ada serpihan patung, tidak ada jejak bola beton, tidak ada tulisan Belanda yang terbaca. Hanya kenangan dalam foto.

Sejak itu, Lapangan Citarum berubah halaman demi halaman, sampai akhirnya masjid berdiri megah menggantikannya.

Kalau Patung Bugil Citarum hilang dari kota, jejak peradaban yang melahirkannya justru masih bertahan di Gunung Puntang. Sisa bangunan Stasiun Radio Malabar masih berdiri, meski tinggal pondasi, tangga beton, dan kolam air yang dulunya digunakan untuk mendinginkan mesin radio. Kolam itu sekarang jadi tempat swafoto para pendaki yang mungkin tidak sadar pernah menjadi bagian dari teknologi paling maju di Asia Tenggara pada zamannya.

Di situlah De Groot bekerja. Ia bukan tipe ilmuwan yang menikam sejarah dari balik meja. Ia mendaki gunung, menarik kabel, mengukur arus, dan menantang cuaca. Ia meninggal pada 1927, ketika keberhasilan inovasinya masih hangat di telinga dunia. Sayangnya, jasanya baru dikenang lewat monumen yang tidak berumur panjang itu. Bahkan jalan yang pernah memakai namanya akhirnya diganti.

Kisah Stasiun Radio Malabar berakhir tragis. Selama masa revolusi, para pejuang menghancurkannya agar tidak bisa dipakai kembali oleh tentara kolonial. Kemudian penjarahan terjadi bertahun-tahun. Ketika sempat diperiksa kembali pada 1980-an, stasiun itu tinggal puing dan sejarahnya.

Baca Juga: Hikayat Wajit Cililin, Simbol Perlawanan Kaum Perempuan terhadap Kolonialisme

Tapi ada sesuatu yang menarik dari perjalanan semua ini. Meski fisiknya hilang, monumen bugil di Citarum tetap hidup dalam cerita masyarakat. Foto-fotonya masih beredar di internet. Banyak warga Bandung baru tahu belakangan bahwa kota mereka pernah punya patung seberani itu.

Gunung Puntang sendiri kini menjadi kawasan wisata camping dan trekking. Banyak anak muda datang tanpa tahu bahwa di atas batu-batu itu pernah berdiri pemancar raksasa yang menghubungkan dua benua. Kadang cerita sejarah memang tersimpan sunyi, menunggu orang penasaran datang membukanya kembali.

Kota Bandung pun bergerak cepat. Ruang publik diisi gedung baru. Jalanan dipenuhi kenangan yang tergelincir perlahan. Tapi hikayat Patung Bugil Citarum terus kembali sebagai topik yang memancing tawa. Seakan-akan Bandung ingin dikenang bukan hanya lewat gedung kolonial elegan, tetapi juga lewat patung yang pernah bikin orang menunduk malu sambil tetap melirik.

Dan sebenarnya, inilah keunikan cerita ini. Ia memadukan teknologi, kolonialisme, seni, humor, dan tragedi dalam satu bingkai. Ia menunjukkan bahwa kemajuan manusia kadang digambarkan dalam bentuk paling absurd: dua tubuh telanjang yang sedang berteriak satu sama lain.

Baca Juga: Hikayat Kasus Pembunuhan Grutterink, Landraad Bandung jadi Saksi Lunturnya Hegemoni Kolonial

Hingga kini, begitu banyak yang datang ke Gunung Puntang dan bertanya tentang sejarahnya. Banyak pula yang membaca cerita monumen Citarum dan tertawa kecil. Tetapi semua itu menunjukkan satu hal: warisan bisa berupa apa saja. Kadang ia berupa bangunan megah. Kadang berupa reruntuhan stasiun radio. Dan kadang, ia berupa bokong patung yang sempat membuat seluruh kota bingung dan geli.

Yang tersisa dari monumen itu hanya cerita. Tapi justru karena hilang, ia menjadi legenda. Dan legenda itulah yang membuat kisah Patung Bugil Citarum tetap hidup, bahkan lebih lama dari patungnya sendiri.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 06 Okt 2026, 19:22

Ruang Kreatif Revitalisasi Bahasa Ibu

Sering kali orang tua jarang menggunakan bahasa daerah di rumah karena memilih membiasakan anak berbahasa Indonesia. Terkait ini ketika orang tua berlatar beda suku dan beda bahasa.

Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 18:23

Mengenang Peristiwa G30S Melalui Lembaran Berita Yudha

Membuka kembali Berita Yudha edisi 30 Oktober 1965, berarti membuka sebuah jendela menuju Indonesia beberapa pekan setelah G30S.

Halaman Muka surat kabar Berita Yudha edisi Oktober 1965, yang merekam pemberitaan mengenai situasi dan peristiwa penting di Indonesia pasca-G30S. (Foto: Kin Sanubary)
Bandung 06 Okt 2026, 17:53

Mengintip Potensi Ekonomi Kreatif Kota Bandung Lewat Layar Perfilman dan Kolaborasi Komunitas

Tren pemutaran film independen, festival sinema alternatif, hingga pertumbuhan ruang pemutaran komunitas di Kota Kembang membuktikan tingginya dahaga publik terhadap ragam narasi visual.

Bandung World Cinema (BWC) 2026 dinilai menjadi bagian penting dalam memperkuat ekosistem perfilman sekaligus mendorong pertumbuhan subsektor ekonomi kreatif di Kota Bandung.
Sejarah 06 Okt 2026, 17:16

Sejarah Naturalisasi Pemain Timnas Indonesia

Jejak naturalisasi Timnas Indonesia bukan fenomena baru. Perjalanan dari Van der Vin pada era 1950-an hingga gelombang diaspora saat ini.

Pemain Timnas Indonesia dalam laga kontra Thailand dalam Asean Cup 2026. (Sumber: Vidio)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 17:03

Bandung, Banjir, dan Rutinitas Tahunan yang Tak Pernah Ada Solusi

Banjir di Bandung kerap kali menjadi event tahunan yang tidak pernah menemukan solusi yang pasti.

Banjir Tahunan di Kab. Bandung (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 16:29

Pesona Garut: 'Surga dari Timur', Rekam Sejarah, dan Mahakarya Gastronomi Pasundan

Lanskap alam Kabupaten Garut menyajikan kekayaan vegetasi dan topografi yang memikat.

Situ Cangkuang, Leles, Garut. (Sumber: Wikimedia Commons/Lisensi CC | Foto: Mssetiadi)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 15:33

Cagar Budaya dan Ragam Gaya Bangunannya di Kota Bandung

Jelajahi pesona sejarah Kota Bandung melalui jejak Cagar Budaya. Temukan kisah unik di balik arsitektur ikonis Art Deco, situs kolonial dan warisan legendaris yang tetap lestari hingga kini.

Gedung Sate, Bandung, 2024 (Sumber: Wikipedia | Foto: Rahmat Denas)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 13:08

RT/RW di Bandung Tidak Perlu Jadi Densus 88 Kecil-kecilan

Teror adalah peristiwa langka. Pergantian penghuni kontrakan adalah peristiwa sehari-hari.

Tim Densus 88. (Sumber: ayobandung.com | Foto: suara.com via ayobandung.com)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 10:49

Membincangkan Hujan di Musim Kemarau

Membicarakan hujan dalam kacamata kesadaran lingkungan dan seni.

Ilustrasi musim hujan. (Sumber: GeminiAi)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 06:30

PHBS Sebagai Modalitas Kesehatan Warga Kota Bandung

Tahun 2026 ini, influenza tipe A ini menjadi gambaran yang sama, meski oleh pemerintah tidak lagi di-covidkan. Namun kekhawatiran masyarakat tetap trauma dan ketakutan berlebihan.

Ilustrasi penderita influenza.
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 20:09

Ruang Terbuka Hijau di 30 Kecamatan di Kota Bandung

Artikel ini mengulas kondisi Ruang Terbuka Hijau di 30 kecamatan Kota Bandung. Temukan sebaran, fasilitas publik, keasrian lingkungan dan upaya pelestarian taman kota demi Bandung yang lebih asri.

Aktivitas warga di taman Alun-Alun Cicendo, Kota Bandung, Sabtu, 9 Juli 2022. (Sumber: Ayobandung | Foto: Magang Foto/Algifari Tohaga Abdillah)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 19:22

Ketika Wajah-Wajah Populer Mengisi Halaman Majalah Selecta Edisi Oktober 1970

Membuka kembali majalah lawas selalu menghadirkan sensasi tersendiri. Begitu pula ketika kembali membaca Majalah Selecta edisi Oktober 1970.

Hastarita Abdullah, fotomodel 17 tahun, tampil di sampul depan Majalah Selecta edisi Oktober 1970. Sementara Trio Nindya Sisters, tiga bersaudari asal Solo, tampil di sampul belakang, 56 tahun silam. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 17:03

10 Netizen Terpilih September 2026, Menangkap Ragam Isu Bandung dan Jawa Barat

Redaksi Ayobandung.id mengumumkan 10 penulis terbaik kanal "Ayo Netizen" untuk periode September 2026, dengan total hadiah tetap Rp1,5 juta.

Simulasi penanganan bencana gempa bumi akibat Sesar Lembang. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 16:16

Ronda Malam: Mereka yang Berjaga saat Warga Terlelap

Ketika warga terlelap, petugas ronda tetap terjaga. Di RW 10 Kelurahan Karang Mekar, Kota Cimahi, ronda malam menjadi ikhtiar keamanan sekaligus bukti bahwa semangat gotong royong masih menyala.

Ilustrasi warga Indonesia sedang ronda. (Sumber: Ilustrasi dibuat dengan Gemini AI)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 15:02

Ruang Terbuka Hijau di Kota Bandung

Kota Bandung kini terus berbenah menambah Ruang Terbuka Hijau (RTH). Selain berfungsi menjaga keseimbangan alam dan menekan polusi, kehadiran taman kota ini juga menjadi sarana rekreasi warga.

Taman di Jl. Tongkeng No.46, Merdeka, Kec. Sumur Bandung, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 13:41

Mencegah KBGO di Kampus: Bukan Lagi Soal Perempuan Menjaga Diri

Seruan agar perempuan "pandai menjaga diri" di ruang digital tak lagi cukup. Kampus harus hadir secara sistemik menjamin ekosistem belajar yang aman bagi mahasiswi.

Pembukaan Latsar CPNS Tahun 2022 (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SkTAN)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 11:04

Kesehatan Mental Kita di Hari Sumpah Pemuda

Refleksi peringatas Sumpah Pemuda dengan isu keshatan mental.

Sumpah Pemuda & Kesehatan Mental. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 10:14

Amit-Amit, Jangan sampai Keranda Jadi Alat Ukur Tata Kota

Keranda seharusnya hanya mengantar manusia ke tempat peristirahatan terakhir. Ia jangan sampai berubah menjadi alat ukur apakah sebuah kota bekerja dengan baik atau tidak.

Lahan pekuburan di salah satu sudut Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 19:10

Batik dari Warisan Budaya Tradisional Menuju Fashion Internasional

Tahun 2009, UNESCO telah telah memasukkan batik Indonesia sebagai warisan budaya dunia. Batik perlu bergerak dari craft based economy menuju creative fashion industry. Dan dari produk menjadi nilai.

Koleksi batik Retno Mulyo. (Sumber: Batik Retno Mulyo)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 16:38

Memikirkan Kembali Sumber Daya Energi Baru: Terbarukan Berbiaya Murah dan Ramah Lingkungan

Mengulas solusi energi baru dan terbarukan yang murah serta ramah lingkungan.

Pengelola Waduk Jatiluhur menyebutkan kemarau panjang pada Juli 2023 menyebabkan tinggi muka air waduk mengalami penyusutan hingga 10 meter atau 2 meter diambang batas kritis. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)