Hikayat Patung Bugil Citarum, Jejak Pantat Kolonial yang Hubungkan Bandung dengan Den Haag

Redaksi
Ditulis oleh Redaksi diterbitkan Selasa 18 Nov 2025, 08:54 WIB
Monumen patung bugil Citarum yang jadi penanda terhubungnya komunikasi suara Bandung-Den Haag via Stasiun Radio Malabar

Monumen patung bugil Citarum yang jadi penanda terhubungnya komunikasi suara Bandung-Den Haag via Stasiun Radio Malabar

AYOBANDUNG.ID - Di suatu masa ketika Bandung belum dibungkus mal dan kafe minimalis,kota ini punya sebuah tontonan unik di tengah Lapangan Citarum. Bukan parade militer. Bukan pula pertunjukan musik keroncong yang mengalun lembut dari radio. Yang berdiri tegak di sana justru dua lelaki Eropa telanjang bulat yang sama sekali tidak malu pada siapapun, plus sebuah bola dunia besar tampak seperti telur dinosaurus yang gagal menetas. Itulah monumen yang kemudian dikenal dengan nama yang sangat merakyat: Patung Bugil Citarum.

Bagi warga Bandung zaman itu, monumen ini sejenis hiburan publik gratis. Semacam tontonan aneh yang muncul begitu saja di tengah kota. Tidak semua orang tahu bahwa patung itu sebenarnya simbol pencapaian teknologi telekomunikasi terbesar Hindia Belanda. Tapi yang lebih diingat orang ya itu tadi: dua pria telanjang dengan bokong menghadap siapa saja yang melintas.

Kini banyak yang tak percaya bahwa Bandung pernah punya ikon seberani itu. Tapi sejarah punya caranya sendiri menyimpan kelucuan. Dan begitulah, sebelum Masjid Istiqomah berdiri anggun dan syahdu, tempat itu pernah menjadi panggung besar bagi karya arsitek kolonial yang hobi membuat tubuh atletis bergaya Romawi tampil nyaris tanpa busana.

Dan anehnya, justru dari patung bugil inilah kisah terhubungnya Bandung dan Den Haag terbentang. Seolah kota ini pernah punya jalur komunikasi internasional yang bermula dari Gunung Puntang, melewati kabel radio raksasa, menuju telinga orang Belanda yang rindu rumah. Semuanya bermula dari seorang ilmuwan Bernama De Groot, yang begitu serius menghubungkan dua benua sampai-sampai dibuatkan monumen khusus untuknya. Monumen itu akhirnya hilang dihancurkan perang, tetapi ceritanya terus hidup, bahkan sampai hari ini.

Baca Juga: Sejarah Pieterspark, Taman Tertua di Bandung yang Berdiri Sejak 1885

Untuk yang penasaran: ya, Bokong itu pernah jadi simbol kemajuan teknologi.

Pada awal abad ke-20, Lapangan Citarum atau Tjitaroemplein adalah salah satu ruang publik paling penting di Bandung. Sebelum suara adzan bergema dari Masjid Istiqomah, kawasan ini lebih dulu menyimpan cerita kolonial yang penuh ambisi. Pemerintah Belanda ingin membuat sesuatu yang monumental untuk merayakan keberhasilan komunikasi nirkabel jarak jauh. Dan karena Eropa hobi dengan gaya klasik, dipilihlah dua pria telanjang sebagai ikon. Tidak ada perdebatan moral panjang. Waktu itu, estetika dianggap lebih penting daripada rasa malu orang yang kebetulan lewat.

Kedua patung pria itu berdiri di sisi kanan dan kiri sebuah bola besar yang dihiasi syair Belanda. Yang satu dibuat memekikkan suara, menangkupkan tangan di mulut seperti penyanyi opera yang baru menemukan panggung. Yang satunya lagi menopang telinga, seolah sedang mendengarkan kabar penting dari seberang bumi. Simbol yang cukup literal sebenarnya: Bandung mengirim pesan, Den Haag menerima.

Patung itu menggambarkan sesuatu yang di zamannya luar biasa: suara dari Hindia Belanda bisa menyeberangi samudra dan terdengar jelas di Eropa. Jika hari ini kita mengeluh soal sinyal lemot, bayangkan bagaimana orang Bandung tahun 1920-an bereaksi ketika mendengar kabar bahwa suara bisa melintasi benua lewat udara.

Kelahiran monumen ini terkait langsung dengan Stasiun Radio Malabar, sebuah fasilitas pemancar raksasa yang dibangun di Gunung Puntang, Kabupaten Bandung. Di sanalah De Groot, ilmuwan elektro yang lebih sering hidup di laboratorium daripada di ruang tamu, bereksperimen dengan gelombang radio nirkabel. Ia membentangkan kabel sepanjang tiga kilometer dari puncak Gunung Puntang ke Gunung Haruman. Kabel itu seperti jembatan petir yang menghubungkan dua gunung. Belum pernah ada yang mencoba hal seperti itu sebelumnya. Penduduk setempat mungkin hanya mengernyitkan dahi, tapi para insinyur kolonial menyebutnya kejeniusan.

Baca Juga: Sejarah Lembang, Kawasan Wisata Primadona Bandung Sejak Zaman Kolonial

Pada tahun 1923, semua percobaan ini membuahkan hasil. Suara dari Bandung terdengar di Den Haag. Jarak ribuan kilometer ditembus gelombang radio. Para pejabat Belanda antusias luar biasa. Orang-orang kolonial di Hindia akhirnya bisa menelepon keluarganya di kampung halaman. Tentu tarifnya mahal, tetapi teknologi memang selalu dimulai sebagai barang mewah sebelum akhirnya menjadi kebutuhan umum.

Keberhasilan itu dianggap begitu penting sehingga Walikota Bandung saat itu, B. Coops, memutuskan untuk membangunkan monumen khusus. Ia menunjuk arsitek terkenal, C.P. Wolff Schoemaker, yang gaya bangunannya sering terlihat dramatis dan penuh simbolisme. Dan entah mengapa, Schoemaker seperti ingin dunia tahu bahwa kemajuan teknologi juga bisa ditampilkan lewat dua tubuh kekar yang tidak memakai apapun.

Stasiun Radio Malabar saat masih aktif. (Sumber: Wikimedia)
Stasiun Radio Malabar saat masih aktif. (Sumber: Wikimedia)

Rancangan monumen itu bukan sekadar karya seni. Ia adalah manifesto kolonial: bahwa Hindia Belanda bukan hanya ladang cengkih dan teh, tetapi juga tempat lahirnya inovasi modern.

Tapi masyarakat memberi nama lain, jauh lebih sederhana, jauh lebih jujur: Patung Bugil Citarum.

Beberapa orang menyebutnya monumen pantat bugil. Dalam arsip Belanda, istilah Blotebillen Monument sempat muncul. Rupanya keisengan itu lintas budaya.

Baca Juga: Hikayat Stasiun Radio Malabar, Kota Kecil yang Hilang di Gunung Puntang

Sayangnya, umur monumen ini singkat. Ketika Jepang menginvasi Hindia Belanda pada 1942, banyak simbol kolonial dihancurkan. Tentara Jepang menilai monumen itu sebagai peninggalan kemegahan Eropa yang tidak perlu dipertahankan. Mungkin mereka juga bingung kenapa dua lelaki bugil harus mengapit bola dunia. Akhirnya monumen itu diruntuhkan. Tidak ada yang tersisa. Tidak ada serpihan patung, tidak ada jejak bola beton, tidak ada tulisan Belanda yang terbaca. Hanya kenangan dalam foto.

Sejak itu, Lapangan Citarum berubah halaman demi halaman, sampai akhirnya masjid berdiri megah menggantikannya.

Kalau Patung Bugil Citarum hilang dari kota, jejak peradaban yang melahirkannya justru masih bertahan di Gunung Puntang. Sisa bangunan Stasiun Radio Malabar masih berdiri, meski tinggal pondasi, tangga beton, dan kolam air yang dulunya digunakan untuk mendinginkan mesin radio. Kolam itu sekarang jadi tempat swafoto para pendaki yang mungkin tidak sadar pernah menjadi bagian dari teknologi paling maju di Asia Tenggara pada zamannya.

Di situlah De Groot bekerja. Ia bukan tipe ilmuwan yang menikam sejarah dari balik meja. Ia mendaki gunung, menarik kabel, mengukur arus, dan menantang cuaca. Ia meninggal pada 1927, ketika keberhasilan inovasinya masih hangat di telinga dunia. Sayangnya, jasanya baru dikenang lewat monumen yang tidak berumur panjang itu. Bahkan jalan yang pernah memakai namanya akhirnya diganti.

Kisah Stasiun Radio Malabar berakhir tragis. Selama masa revolusi, para pejuang menghancurkannya agar tidak bisa dipakai kembali oleh tentara kolonial. Kemudian penjarahan terjadi bertahun-tahun. Ketika sempat diperiksa kembali pada 1980-an, stasiun itu tinggal puing dan sejarahnya.

Baca Juga: Hikayat Wajit Cililin, Simbol Perlawanan Kaum Perempuan terhadap Kolonialisme

Tapi ada sesuatu yang menarik dari perjalanan semua ini. Meski fisiknya hilang, monumen bugil di Citarum tetap hidup dalam cerita masyarakat. Foto-fotonya masih beredar di internet. Banyak warga Bandung baru tahu belakangan bahwa kota mereka pernah punya patung seberani itu.

Gunung Puntang sendiri kini menjadi kawasan wisata camping dan trekking. Banyak anak muda datang tanpa tahu bahwa di atas batu-batu itu pernah berdiri pemancar raksasa yang menghubungkan dua benua. Kadang cerita sejarah memang tersimpan sunyi, menunggu orang penasaran datang membukanya kembali.

Kota Bandung pun bergerak cepat. Ruang publik diisi gedung baru. Jalanan dipenuhi kenangan yang tergelincir perlahan. Tapi hikayat Patung Bugil Citarum terus kembali sebagai topik yang memancing tawa. Seakan-akan Bandung ingin dikenang bukan hanya lewat gedung kolonial elegan, tetapi juga lewat patung yang pernah bikin orang menunduk malu sambil tetap melirik.

Dan sebenarnya, inilah keunikan cerita ini. Ia memadukan teknologi, kolonialisme, seni, humor, dan tragedi dalam satu bingkai. Ia menunjukkan bahwa kemajuan manusia kadang digambarkan dalam bentuk paling absurd: dua tubuh telanjang yang sedang berteriak satu sama lain.

Baca Juga: Hikayat Kasus Pembunuhan Grutterink, Landraad Bandung jadi Saksi Lunturnya Hegemoni Kolonial

Hingga kini, begitu banyak yang datang ke Gunung Puntang dan bertanya tentang sejarahnya. Banyak pula yang membaca cerita monumen Citarum dan tertawa kecil. Tetapi semua itu menunjukkan satu hal: warisan bisa berupa apa saja. Kadang ia berupa bangunan megah. Kadang berupa reruntuhan stasiun radio. Dan kadang, ia berupa bokong patung yang sempat membuat seluruh kota bingung dan geli.

Yang tersisa dari monumen itu hanya cerita. Tapi justru karena hilang, ia menjadi legenda. Dan legenda itulah yang membuat kisah Patung Bugil Citarum tetap hidup, bahkan lebih lama dari patungnya sendiri.

News Update

Ayo Netizen 11 Mar 2026, 20:22

Gerakkan Selasa BERSERI dari SMPN 1 Kasokandel

Dari ASRI, untuk Kepedulian bersama menjaga lingkungan.

Kegiatan ASRI (Selasa Berseri) (Foto: Penulis)
Seni Budaya 11 Mar 2026, 18:46

Sejarah Silat Cimande, Bela Diri Legendaris Tradisional Sunda

Berawal dari desa Cimande di Bogor, aliran silat ini berkembang sejak ratusan tahun lalu dan melahirkan banyak cabang di Nusantara, membawa warisan teknik bertarung sekaligus nilai budaya Sunda.

Ilustrasi Silat Cimande
Ayo Netizen 11 Mar 2026, 18:05

Jalan Rusak dan Tambal Sulam, Tingkat Kepuasan Pemudik Bisa Merosot

Faktor utama yang menentukan tingkat kepuasan mudik Lebaran bisa diukur dari kondisi jalan yang mulus hingga ke kampung halaman para pemudik.

Ilustrasi jalan rusak di Desa Banjaran Wetan, Kabupaten Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Toni Hermawan)
Bandung 11 Mar 2026, 17:45

Geliat Bolu Susu Asli Lembang di Tengah Kemeriahan Bazar Ramadhan

Bolu Susu Asli Lembang menawarkan beragam varian bolu yang menggoda selera. Mulai dari rasa original, tiramisu, black forest, hingga varian durian yang menjadi primadona di etalase pameran.

Bolu Susu Asli Lembang menawarkan beragam varian bolu yang menggoda selera. Mulai dari rasa original, tiramisu, black forest, hingga varian durian yang menjadi primadona di etalase pameran. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Bandung 11 Mar 2026, 16:01

Harmoni Dua Benua dalam Sepiring Hangat Ambara Biru, Hadirkan Sensasi Kuliner Fusion Sunda–Brazil

Meski masyarakat Indonesia gemar bereksplorasi dengan rasa, kuliner Negeri Samba masih sering dianggap asing atau sebatas hidangan daging panggang semata.

Sebuah narasi kuliner baru sedang dirajut oleh Ambara Biru, sebuah destinasi yang memadukan eksotisme Brasil dengan keramahan tanah Sunda. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 11 Mar 2026, 15:28

Zakat di Bandung Raya Abad ke-19

Berikut adalah hasil rangkuman tentang kisah zakat di Bandung raya pada abad ke-19.

Masjid Raya Bandung zaman baheula. (Sumber: Tropenmuseum)
Ayo Netizen 11 Mar 2026, 14:49

Pasar Ilmu dan Golden Tiket Pulang: Romantisme Ngaji Pasaran di Pesantren

Mengenal istilah pengajian rutin di Pondok Pesantren yang hanya ada pada bulan Ramadan.

Ilustrasi keseruan santri saat mengaji di pondok pesantren. (Sumber: Unplash | Foto: Muhammad Azzam)
Ayo Netizen 11 Mar 2026, 12:25

Pasca Lebaran, Boleh Saja Kita Makan dan Minum Tanpa Menatap Jam Dinding!

Di bulan Ramadan, manusia tiba-tiba menjadi makhluk yang penuh refleksi—meski sebagian refleksi itu terjadi sambil menatap jam dinding lima menit sekali menunggu datangnya azan Magrib.

Ilustrasi berdoa kegiatan spiritualitas. (Sumber: freepik.com)
Ikon 11 Mar 2026, 11:43

Jejak Sejarah Blewah dan Timun Suri, Bagaimana Keduanya jadi Takjil Ramadan Favorit di Indonesia

Blewah dan timun suri berasal dari keluarga melon yang menyebar lewat jalur perdagangan sebelum menjadi takjil Ramadan populer.

Penjual timun suri. (Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 11 Mar 2026, 11:09

Berburu Busana Lebaran Tahun 1980-an di Bandung

Hiruk pikuk warga Kota Bandung belanja baju Lebaran tahun 1980-an.

Suasana Jalan Ahmad Yani Cicadas Bandung tahun 1980-an. (Sumber: Nationaal Museum van Wereldculturen | Foto: Henk van Rinsum)
Beranda 11 Mar 2026, 10:39

Kekerasan terhadap Perempuan Naik 14 Persen pada 2025, Aktivis Soroti Relasi Kuasa dan Budaya Patriarki

Data Komnas Perempuan menunjukkan kasus kekerasan berbasis gender terhadap perempuan meningkat di 2025. Aktivis menilai akar masalahnya berkaitan dengan ketimpangan relasi kuasa dan budaya patriarki.

Aksi International Women’s Day (IWD) 2026 di Kota Bandung suarakan solidaritas lintas gerakan serta tuntutan penghentian kekerasan berbasis gender dan pemenuhan hak kesehatan reproduksi (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Linimasa 11 Mar 2026, 10:22

Pasar Takjil Ramadan Mekarwangi Bandung, Surga Kuliner Sore di Cibaduyut

Jalan Indrayasa di kawasan Mekarwangi, Bandung, berubah menjadi pasar takjil setiap sore selama Ramadan. Ratusan pedagang menjual kolak, minuman segar, hingga jajanan kekinian.

Suasana pasar takjil Ramadan di Jalan Indrayasa, Mekarwangi, Bandung. (Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 11 Mar 2026, 10:12

Pesona Batu Tumpang di Perkebunan Teh yang Bisa Melihat Pantai Selatan

Batu Tumpang di Garut Selatan menawarkan pemandangan unik berupa batu raksasa di tengah hamparan perkebunan teh. Dari puncaknya, pengunjung bahkan bisa melihat garis biru Pantai Selatan saat cerah.

Batu Tumpang (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 11 Mar 2026, 09:16

Air Lindih Menggenang di Jalan Pasar Gedebage, Warga Siap Laporkan ke Polda Jabar

Kondisi sampah di kawasan Pasar Gedebage, Kota Bandung, kembali dikeluhkan para pedagang pada pekan ini.

Satu sudut pasar Gedebage yang digenangi air lindih dari sampah. (Foto: Dokumen pribadi)
Ayo Netizen 10 Mar 2026, 20:44

Berkah Caruluk

Orang tua dulu sering berpesan, “hirup téh kudu siga caruluk.” Jadilah manusia yang bermanfaat dari ujung rambut hingga ujung kaki.

Penjual kolang kaling. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Tri Junari)
Bandung 10 Mar 2026, 20:44

Cerita Kimirai Fashion Menjemput Peluang di Tengah Semarak Pameran Menjelang Lebaran

UMKM yang berkesempatan untuk unjuk gigi dalam pameran adalah Kimirai, brand lokal fashion yang menyediakan berbagai jenis outfit lucu hingga busana muslim, dari usia remaja hingga dewasa.

UMKM yang berkesempatan untuk unjuk gigi dalam pameran adalah Kimirai, brand lokal fashion yang menyediakan berbagai jenis outfit lucu hingga busana muslim, dari usia remaja hingga dewasa. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 10 Mar 2026, 20:01

Dua Visi Keberlanjutan dalam Ibadah Ramadan

Ramadan menjadi ruang refleksi untuk memandang masa depan.

Seorang laki-laki sedang tilawah al-Qur'an. (Sumber: Pixabay)
Linimasa 10 Mar 2026, 18:55

Open Iftar Trafalgar Square, Buka Bersama Puasa Ramadan di Jantung London

Open Iftar di Trafalgar Square bermula dari tenda kecil mahasiswa SOAS dan kini menjadi tradisi buka puasa Ramadan terbesar di London.

Suasana Open Iftar di Trafalgar Square, London.
Ayo Netizen 10 Mar 2026, 17:45

Piala Dunia 1986 Digelar Bersamaan dengan Bulan Ramadan

FIFA World Cup '86 yang digelar di Meksiko berbarengan dengan bulan suci Ramadan.

Halaman muka surat kabar terbitan Bandung, Gala dan Mandala yang menyoroti perhelatan Piala Dunia 1986 di Meksiko. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 10 Mar 2026, 16:13

Belanja atau Investasi? Mengelola THR di Tengah Ketidakpastian Ekonomi

THR dapat menjadi kesempatan tidak hanya merayakan Lebaran, tetapi juga memperkuat keuangan rumah tangga.

Ilustrasi uang rupiah. (Sumber: Pexels | Foto: Ahsanjaya)