Hikayat Kota Kecil yang Hilang di Gunung Puntang

4 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Reruntuhan Stasiun Radio Malabar di Gunung Puntang. (Sumber: Ayobandung)
Reruntuhan Stasiun Radio Malabar di Gunung Puntang. (Sumber: Ayobandung)

AYOBANDUNG.ID - Gunung Puntang di Kabupaten Bandung Selatan kerap dikenal sebagai destinasi kemah dan pendakian. Namun, di balik hijaunya pepohonan dan sejuknya udara pegunungan, tersimpan cerita tentang "kota kecil" yang pernah hidup di lerengnya.

Begitu menginjakkan kaki di area perkemahan Gunung Puntang, mata langsung menangkap sisa-sisa bangunan tua yang kini hanya menyisakan pondasi dan potongan dinding batu. Lumut dan rumput liar tumbuh liar di permukaannya, membuatnya tampak menyatu dengan alam. Kabut yang turun perlahan dari lereng pegunungan menambah nuansa magis sekaligus misterius.

Tapi bangunan-bangunan itu bukan sekadar reruntuhan tanpa nama. Di balik puing-puing tersebut, tersembunyi sejarah kemegahan Stasiun Radio Malabar, stasiun pemancar nirkabel legendaris yang pada awal abad ke-20 mampu menyambungkan suara antara Bandung dan Den Haag, Belanda.

Sejak dibangun pada 1917 oleh ilmuwan Belanda Dr. Ir. C.J. de Groot, Stasiun Radio Malabar menjadi simbol kemajuan teknologi komunikasi Hindia Belanda. Tidak hanya mampu mengirim telegraf, pada 1927 stasiun ini berhasil memancarkan suara lintas benua. Kata-kata pertama yang terdengar melalui sambungan itu adalah, "Hallo, Bandoeng! Hier Den Haag!"

Sambutan tersebut menjadi simbol pembuka komunikasi suara komersial pertama antara Indonesia dan Belanda. Kejadian ini menjadi peristiwa monumental dalam sejarah teknologi di kawasan Asia Tenggara.

Jejak Kota yang Pernah Hidup

Di sekeliling reruntuhan kantor utama Stasiun Radio Malabar yang juga dikenal sebagai kawasan Nagara Puntang, pengunjung dapat menemukan berbagai bekas bangunan penunjang. Di dataran antara Gunung Puntang dan Gunung Haruman, misalnya, terdapat sebuah kolam besar berbentuk hati yang dikenal sebagai "Kolam Cinta". Selain sebagai elemen estetika kantor utama, kolam ini dulu berfungsi sebagai pendingin alat pemancar radio.

Tak jauh dari Kolam Cinta terdapat bangunan penampung air yang juga berasal dari zaman yang sama. Saat menelusuri area tersebut, kita dapat menyaksikan tangga-tangga batu yang mengarah ke struktur tersebut, menyiratkan kompleksitas sistem infrastruktur yang pernah dibangun di sini.

Bukan hanya kantor dan fasilitas teknis, Stasiun Radio Malabar saat itu memiliki semua elemen sebuah kota kecil. Komplek ini mencakup rumah dinas pegawai, bengkel, lapangan tenis, hingga bioskop mini. Seorang pegiat sejarah dari Komunitas Aleut Bandung, Hevi Abu Fauzan, menyebut bahwa Gunung Puntang saat itu bagaikan kota yang hidup. Meski tersembunyi di dalam hutan, hiruk pikuk aktivitas manusia kala itu jelas terasa.

Sebagian sisa kota ini masih bisa dilihat di beberapa titik, meski hanya berupa pondasi dan tiang-tiang tua. Lapang tenis, misalnya, kini menjadi bagian dari area perkemahan. Sementara reruntuhan rumah-rumah dinas nyaris tertutup ilalang.

Suasana ruang teknis Stasiun Radio Malabar. (Sumber: Dok. Kantor Wisata Gunung Puntang)
Suasana ruang teknis Stasiun Radio Malabar. (Sumber: Dok. Kantor Wisata Gunung Puntang)

Didin Wahyudin, salah satu petugas wisata Gunung Puntang, menuturkan bahwa bangunan utama dahulu dikenal sebagai "Gedung Sebahu" dan memiliki luas sekitar satu hektar. “Bangunannya megah, dengan dua pilar besar di sisi kanan dan kirinya. Kolam Cinta itu dulunya ada tepat di depannya,” ujar Didin.

Lebih jauh, Didin mengungkapkan bahwa proyek pembangunan ini bukan hal sepele. Jalanan harus dibuka, hutan dibelah, dan berbagai fasilitas didirikan dari nol. Bahkan, untuk memasang antena sepanjang dua kilometer dari puncak Gunung Puntang ke Gunung Haruman, diperlukan keahlian teknik luar biasa.

Pilihan lokasi ini bukan tanpa alasan. Posisi Gunung Puntang dianggap ideal karena langsung menghadap ke arah Belanda, dan sudut tajam dari Kolam Cinta diyakini menunjuk ke negeri asal De Groot dan timnya.

Tetapi, seperti banyak kejayaan lain di masa lalu, kemegahan itu tak bertahan selamanya.

Dari Radio Revolusioner ke Reruntuhan Sunyi

Kisah jatuhnya Stasiun Radio Malabar memiliki dua versi. Yang pertama menyebut bahwa kehancuran terjadi saat Jepang datang ke Indonesia pada 1942. Para pegawai Belanda harus hengkang, dan tentara Jepang diduga menghancurkan bangunan tersebut.

Namun versi lain yang lebih sering dikutip, datang dari peristiwa besar Bandung Lautan Api. Dalam buku Jendela Bandung, Pengalaman Bersama KOMPAS karya Her Suganda, disebutkan bahwa Entang Muchtar—seorang pegawai muda PTT (Post, Telegraaf en Telefoon Dienst)—ikut dalam aksi penghancuran Stasiun Radio Malabar atas perintah Komandan Resimen Mayor Daan Yahya.

Tujuannya jelas: mencegah fasilitas penting tersebut jatuh ke tangan Sekutu pascakemerdekaan.

Dinamika penghancuran itu pun dramatis. Entang dan timnya mengamankan bagian-bagian penting dari stasiun sebelum menyulut dinamit dengan korek api besi. Saat ledakan terjadi, pasukan Belanda mengawasi dari udara. Beberapa peralatan vital kemudian dipindahkan ke lokasi-lokasi lain seperti Dayeuhkolot, Rancaekek, dan bahkan Solo.

Pasca peristiwa itu, kawasan Gunung Puntang tenggelam dalam keheningan. Selama sekitar 30 tahun, reruntuhan dibiarkan dilupakan, hingga akhirnya ditemukan kembali oleh keluarga mantan pekerja pada 1982.

Sejak saat itu, Perhutani memulai inisiatif menjadikan kawasan ini sebagai destinasi wisata sejarah. Meski tidak banyak pemugaran dilakukan, kawasan seluas 22,61 hektar tersebut mulai dikenal publik, terutama pecinta alam dan sejarah.

Fasilitas seperti warung, MCK, musala, dan area swafoto ditambahkan, namun reruntuhan dibiarkan dalam kondisi aslinya. Hal ini sengaja dilakukan agar keaslian situs tetap terjaga.

Stasiun Radio Malabar saat masih aktif. (Sumber: Wikimedia)
Stasiun Radio Malabar saat masih aktif. (Sumber: Wikimedia)

Selain bangunan kantor dan pemukiman, terdapat pula Goa Belanda yang konon dibangun sebelum Stasiun Radio Malabar. Goa ini awalnya digunakan untuk penyimpanan mesin-mesin radio dan logistik, lalu beralih fungsi menjadi tempat persembunyian saat Jepang masuk.

Hari ini, pengunjung yang menyusuri Gunung Puntang tak hanya menikmati lanskap alam yang memesona. Mereka juga diajak menyelami sejarah yang tertinggal dalam diam. Foto-foto hitam putih dari Tropenmuseum Belanda yang dipajang di kantor pengelola wisata menjadi jendela pengingat akan masa kejayaan yang pernah ada.

Tapi kisah Stasiun Radio Malabar bukan hanya soal teknologi. Ia juga tentang mimpi dan keterhubungan. Tentang orang-orang yang membelah hutan demi menghubungkan dua dunia. Tentang komunikasi sebagai jembatan rindu antara tanah jajahan dan negeri asal.

Kini, kota kecil itu memang telah hilang. Yang tersisa hanyalah puing dan cerita. Tapi mungkin, justru dalam keheningan itulah sejarah berbicara paling nyaring.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 16 Okt 2026, 20:03

KDM dan Tantangan Mengubah Empati Menjadi Kebijakan

Pemimpin dengan skor empati tinggi bisa berhasil ketika mereka membangun institusi yang mampu menerjemahkan empati menjadi kebijakan yang bermakna.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, yang akrab disapa KDM. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 18:00

Pengalaman Memandu SMP Atirah Makassar #1

Pengalaman memandu siswa kelas 8 dari SMP Atirah, Bukit Baruga, Makassar, pada tanggal 5 Oktober hingga 9 Oktober kemarin.

Pengalaman memandu siswa kelas 8 dari SMP Atirah, Bukit Baruga, Makassar, pada tanggal 5 Oktober hingga 9 Oktober kemarin. (Sumber: Malia Nur Alifa)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 16:57

Ketika Foto Menjadi Saksi Sejarah: Ray Bachtiar dan Perjalanan Dunia Visual

Fotografi menyimpan jejak sejarah dan ingatan bangsa. Talkshow “Jejak Visual” mengulas evolusi fotografi dan videografi bersama Ray Bachtiar Dradjat di Museum Mandiri, Kota Tua Jakarta.

Praktisi fotografi Ray Bachtiar Dradjat menjadi narasumber talkshow “Jejak Visual: Evolusi Fotografi dan Videografi”. (Sumber: Ray Bachtiar Dradjat)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 16:42

Menelusuri Jejak Benny Soebardja, Sang Godfather Rock Progresif Indonesia

Buku Benny Soebardja: The Progressive Years karya Zuhair Alyafie mengulas perjalanan Benny Soebardja dan perannya dalam membentuk sejarah rock progresif Indonesia.

Benny Soebardja: Perjalanan Sang Godfather Rock Progresif Indonesia (Sumber: Zuhair Alyafie)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 15:21

Peran Bank Perekonomian Rakyat Mencegah Jerat Rentenir di Bandung

Tujuan utama perbankan daerah bukan hanya menghimpun dana dan menyalurkan kredit. Keberadaannya menjaga martabat ekonomi keluarga di Bandung.

Ilustrasi pentingnya peran Bank Perekonomian Rakyat di Kota Bandung. (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 13:58

Cerita Perjalanan Menuju Palimanan dan Belajar Keberanian dari Lapak Baca Buku Gratis Cirebon

Kegiatan membuka lapak untuk membaca buku gratis mulai hadir di beberapa kota untuk meningkatkan minat literasi, begitu juga dengan Kota Cirebon.

Baca Buku Gratis di Alun-Alun Palimanan Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 11:07

Jalur Banjaran–Pangalengan Seringkali Padat: Mengapa Kemacetan Terjadi?

Kemacetan di jalur Banjaran–Pangalengan menjadi perhatian karena jalur ini digunakan oleh warga untuk beraktivitas sehari-hari sekaligus menjadi akses menuju kawasan wisata.

Dokumentasi kemacetan di daerah Pasar Banjaran.
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 10:07

SKS: Kebiasaan Buruk atau Mekanisme Bertahan Mahasiswa?

Tugas menumpuk dan tenggat mendekat membuat mahasiswa begadang demi menyelesaikan pekerjaan. Apakah SKS sekadar kebiasaan buruk atau cara bertahan di tengah tuntutan akademik?

night study (Sumber: pexels.com | Foto: Bikram Bezbaruah)
Bandung 15 Okt 2026, 19:59

Industri Hiburan Bandung Masih Bergelora, Playlist Rewind 2026 Jadi Bukti Eksistensi Kota Musik

Kota Bandung tak pernah kehilangan taji sebagai barometer industri hiburan dan kiblat festival musik Tanah Air. Denyut kreatifitas itu kini kembali terbukti lewat hadirnya Playlist Rewind 2026.

Kota Bandung tak pernah kehilangan taji sebagai barometer industri hiburan dan kiblat festival musik Tanah Air. Denyut kreatifitas itu kini kembali terbukti lewat hadirnya Playlist Rewind 2026. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 17:57

Para Insinyur Planologi, Arsitektur dan Sipil Terkemuka Yang Terlibat Pembangunan Kota Bandung dan Cimahi (Bagian 1)

Kisah insinyur planologi, arsitektur dan sipil terkemuka dalam membangun Bandung dan Cimahi. Temukan jejak sejarah, inovasi tata kota dan mahakarya ikonis mereka di sini!

Lukisan cat air Gedung Sate (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2)
Bandung 15 Okt 2026, 16:41

Menolak Lupa Rasa Rumah, 11 Tahun Warung Kopi Imah Babaturan Merawat Hangatnya Bandung

Tepat pada 15 Oktober 2026, warung kopi dan rumah makan, yakni Warung Kopi Imah Babaturan yang bersemayam di jantung Kota Bandung ini merayakan hari jadinya yang ke-11.

Pemilik Warung Kopi Imah Babaturan, yakni Mohammad Nurul Hudha dan sang istri, Anggia Bonyta. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:48

Relasi Santri dengan Indonesia

Refleksi Hari Santri Nasional 2026: menelusuri jejak Resolusi Jihad, peran ulama, dan perjuangan santri dalam mempertahankan kemerdekaan serta menjaga hubungan santri dan negara.

Relasi Santri dengan Indonesia (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:09

Ketika Pertemanan Punya Target Harian: Terhubung atau Sekadar Menjaga Api Streak TikTok?

Pernah takut api streak TikTok dengan teman terputus? Kebiasaan ini bisa menjaga komunikasi, tetapi juga terasa seperti kewajiban harian. Apakah kita benar-benar terhubung atau sekadar menjaga angka?

Fitur api streak TikTok bisa menjadi cara menyenangkan untuk menjaga komunikasi.
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:03

Pardoks 'Tidak Ada Bukti' dalam Kasus Pelecehan Seksual di Unpas

Data menunjukkan bahwa laporan palsu -- atau bahkan fitnah -- dalam kasus kekerasan dan pelecehan seksual di kampus sangat rendah, sementara underreporting sangat tinggi. Apa artinya?

Aksi mahasiswa Universitas Pasundan (Unpas) Bandung terkait dugaan kekerasan seksual oleh oknum dosen. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 12:03

Mengenal Emma Poeradiredja dan Jejak Politik Perempuan Sunda

Emma Peoradiredja, seorang tokoh perempuan sunda yang membukakan jalan berpolitik untuk perempuan di tanah sunda

Emma Poeradiredja
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 22:06

Bandung dan Cirebon Sama-Sama Minim Penerangan Lampu Jalanan

Penerangan jalan umum di wilayah Jawa Barat masih sangat minim perhatian sehingga kondisi ini bisa mengakibatkan potensi kecelakaan bagi pengguna kendaraan.

Penerangan Jalan Ahmad Yani-Pantura Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 18:01

Menyeret Emak dan Bapak Ke Pengadilan

Banyak Lansia atau orang tua yang disidangkan oleh anak kandungnya di pengadilan yang semestinya tidak terjadi peristiwa nirempati tersebut

Ruang sidang bukan tempat membalas budi orang tua. Utamakan musyawarah dan kasih sayang. (Sumber: Ilustrasi oleh Gemini AI)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 16:45

Penertiban PKL: Apakah Menuju Bandung yang lebih Ramah dengan Pejalan Kaki?

Beberapa waktu ke belakang Bandung sedang melakukan penertiban PKL di Jalan Kiaracondong dan Cihapit tentunya harapannnya pejalan kaki mendapatkan haknya kembali.

Ilustrasi Penertiban PKL. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 14:52

Momentum Memerdekakan Guru

Menjadi anomali bahwa profesi guru mendapatkan tuntutan, tetapi dalam kehidupannya masih di bawah dari harapan.

Ilustrasi guru dan siswa di ruang kelas sekolah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 13:49

Proyeksi JPO UIN Bandung: Realisasi atau Ilusi?

Sebuah kritik dan saran kepada birokrasi UIN Bandung terkait usulan pengadaan JPO di depan gerbang kampus yang berhadapan langsung dengan Jalan A.H. Nasution.

Lanskap Jalan A.H Nasution di jam aktifitas. (Sumber: Dipotret dengan ponsel pribadi. | Foto: Rifki Ahmad Ma'ruf)