Jangan Biarkan Sungai di Bandung Jadi Noda Peradaban

4 menit baca
Djoko Subinarto
Ditulis oleh Djoko Subinarto diterbitkan
Sungai Citarum jadi lautan sampah. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Restu Nugraha)
Sungai Citarum jadi lautan sampah. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Restu Nugraha)

Di banyak tempat, termasuk di Bandung, sungai adalah nadi kehidupan. Cikapundung, Citarum, dan puluhan anak sungainya bukan hanya aliran air, tapi juga aliran sejarah, budaya, dan spiritualitas.

Dalam kosmologi masyarakat Sunda, air adalah anugerah dan sungai adalah perpanjangan tangan para leluhur. Para leluhur kita meyakini sungai bukan sekadar tempat mandi atau mencuci, tapi juga ruang pertemuan sosial, sumber penghidupan, bahkan tempat berkontemplasi.

Namun, jejak sakral itu kiwari mulai terhapus. Betapa tidak. Dalam ingatan generasi modern, sungai cenderung identik dengan bau, kotoran, dan limbah berbahaya. 

Dan hal tersebut bukan sekadar terkait perubahan fisik, tapi juga terkait perubahan batin kolektif kita terhadap alam. Perubahan itu tak datang ujug-ujug dan seketika. Ia lahir dari logika pembangunan yang selama ini telah memarjinalkan peran air. 

Kota Bandung yang dulu dibangun dengan memperhatikan topografi dan aliran sungai, kini bisa dibilang berkembang serampangan. Bahkan, melupakan hukum air.

Sungai-sungai yang dulu menjadi nadi kehidupan, kini menjadi tempat sampah raksasa. Limbah domestik, limbah industri, dan aneka macam sampah mengalir tanpa ampun ke dalam tubuh air yang dulu diyakini suci. Nadi kehidupan itu kini tercemar. Dan perlahan, ia menjadi noda peradaban.

Citarum, salah satu sungai utama yang mengaliri bukan saja sebagian Bandung Raya, tetapi juga sebagian Jawa Barat, pernah dijuluki sebagai salah satu sungai terkotor di dunia. Ironisnya, ia adalah sumber air bagi jutaan warga.

Dalam tubuh Citarum, termuat ironi ekologis maupun sosial. Sungai yang seharusnya menumbu kehidupan justru melahirkan penyakit. Limbah dari pabrik-pabrik tekstil, limbah rumah tangga, dan peternakan membunuh biota air dan harapan warga.

Program Citarum Harum pun digulirkan, melibatkan tentara, relawan, dan pemerintah daerah. Tapi, problem dasarnya ternyata lebih dalam. Kita telah kehilangan relasi spiritual dengan sungai.

Padahal, relasi spiritual ini penting. Dalam budaya lokal, sungai bukan hanya bagian dari lanskap, tapi juga entitas hidup. Mengotori sungai sama dengan mencederai tubuh sendiri.

Sayangnya, kota modern tak lagi mengenal bahasa kesakralan. Dalam tata kota kita, sungai direken hanya drainase. Adapun dalam rencana pembangunan kita, sungai tak jarang hanya dianggap lahan kosong yang bisa ditutup, dijadikan jalan, bahkan ditimbun.

Baca Juga: Partisipasi Semesta Wujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua

Sementara itu, di banyak kota besar dunia, sungai direstorasi sebagai bagian dari ruang hidup bersama. Di Seoul, Korea Selatan, Sungai Cheonggye direvitalisasi, mengubah saluran air yang tertutup beton menjadi ruang publik yang hidup.

Sementara di Bandung dan sekitarnya, banyak anak sungai menghilang dari peta lantaran tertutup bangunan, diurug tanah, dan dilupakan dalam perencanaan pembangunan. Padahal, secara ekologis, sungai adalah pengatur suhu mikro. Ia penjaga kelembaban dan pengendali banjir alami. 

Maka, ketika kita menterlantarkan sungai, kita justru membuka pintu petaka. Banjir berulang yang mengepung sejumlah wilayah Bandung Raya bukan semata soal hujan yang turun deras, tapi soal sungai yang tak lagi bisa bernapas. Saluran sungai menyempit, alirannya terhambat, tubuhnya penuh luka.

Padahal, sungai juga mengandung memori kolektif. Banyak warga Bandung yang lahir dan tumbuh bersama aliran Cikapundung, misalnya, bermain di tepiannya, memancing ikan di pagi hari, bahkan jatuh cinta di dermaganya. Tapi, semua itu tinggal cerita indah kakek-buyut kita.

Ketika sungai berubah menjadi got besar, kita kehilangan bukan hanya fungsi ekologis, tapi juga identitas budaya. Sungai tak bisa dibersihkan hanya dengan dana APBD atau program berslogan indah. Ia butuh pula perubahan paradigma kita, yakni dari melihat air sebagai komoditas menjadi air sebagai entitas hidup.

Potret pipa tempat limbah wc mengalir dan berakhir di sungai Cikapundung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Romadhan)

Perubahan paradigma ini harus dimulai dari sektor pendidikan. Sekolah-sekolah bisa menjadikan sungai sebagai laboratorium hidup, tempat belajar ekosistem, sejarah, bahkan sastra mupun seni musik.

Kampus dan perguruan tinggi juga dapat turut berperan. Kajian interdisipliner soal urbanisasi, ekologi, dan air bisa menghasilkan solusi berbasis lokal yang membumi.

Tapi yang lebih penting dari semua itu adalah kesadaran kolektif warga. Tanpa partisipasi publik, sungai akan terus terasing.

Kita bersyukur komunitas warga yang peduli pada sungai-sungai di Bandung kini mulai bermunculan. Mereka melakukan bersih-bersih sungai, menanam pohon di bantaran, dan membuat kegiatan seni di tepian sungai.

Inisiatif seperti ini perlu diperkuat, diperluas, dan dimasifkan. Karena peradaban sejati lahir bukan dari pencakar langit, tapi dari bagaimana kita memperlakukan sungai.

Kota yang sehat bukan hanya kota tanpa macet, tapi juga kota yang bisa mendengar suara air. Bandung punya peluang besar untuk memperbaiki relasi sungai dan warganya. 

Letaknya yang strategis, sejarahnya yang kaya, dan kreativitas warganya adalah modal sosial yang besar. Tapi, peluang itu akan sia-sia jika kota ini terus membangun dengan logika beton dan aspal, bukan dengan logika air dan kehidupan.

Baca Juga: Serunya Pacu Kuda di Tegallega

Revitalisasi sungai tidak harus mahal. Dapat dimulai dari membuka akses publik ke sungai, membuat jalur hijau, dan melibatkan warga sebagai pengelola.

Kearifan lokal Sunda bisa menjadi landasan. Konsep cai nu kudu dihormat adalah etika ekologis yang relevan di era krisis iklim kiwari.

Sungai bukan halaman belakang kota. Ia adalah wajah kota. Kota yang membelakangi sungai pada akhirnya membelakangi kehidupan itu sendiri.

Sungai-sungai di Bandung masih mengalir, meski tersengal. Mereka sedang menunggu kita kembali, bukan sebagai penakluk, tapi sebagai sahabat sejati.

Bandung sama sekali bukan kota mati. Tapi, ia bisa menjadi kota yang membunuh dirinya sendiri jika sungai-sungai di kota ini terus diperlakukan sebagai musuh. Oleh sebab itu, mari kita menata ulang relasi kita dengan sungai. 

Pada akhirnya, sungai adalah cermin. Jika ia kotor, kita pun sedang memandangi wajah kita sendiri yang kian tercemar. Maka, jangan biarkan cermin itu kotor dan menjadi noda peradaban. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 16 Okt 2026, 20:03

KDM dan Tantangan Mengubah Empati Menjadi Kebijakan

Pemimpin dengan skor empati tinggi bisa berhasil ketika mereka membangun institusi yang mampu menerjemahkan empati menjadi kebijakan yang bermakna.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, yang akrab disapa KDM. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 18:00

Pengalaman Memandu SMP Atirah Makassar #1

Pengalaman memandu siswa kelas 8 dari SMP Atirah, Bukit Baruga, Makassar, pada tanggal 5 Oktober hingga 9 Oktober kemarin.

Pengalaman memandu siswa kelas 8 dari SMP Atirah, Bukit Baruga, Makassar, pada tanggal 5 Oktober hingga 9 Oktober kemarin. (Sumber: Malia Nur Alifa)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 16:57

Ketika Foto Menjadi Saksi Sejarah: Ray Bachtiar dan Perjalanan Dunia Visual

Fotografi menyimpan jejak sejarah dan ingatan bangsa. Talkshow “Jejak Visual” mengulas evolusi fotografi dan videografi bersama Ray Bachtiar Dradjat di Museum Mandiri, Kota Tua Jakarta.

Praktisi fotografi Ray Bachtiar Dradjat menjadi narasumber talkshow “Jejak Visual: Evolusi Fotografi dan Videografi”. (Sumber: Ray Bachtiar Dradjat)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 16:42

Menelusuri Jejak Benny Soebardja, Sang Godfather Rock Progresif Indonesia

Buku Benny Soebardja: The Progressive Years karya Zuhair Alyafie mengulas perjalanan Benny Soebardja dan perannya dalam membentuk sejarah rock progresif Indonesia.

Benny Soebardja: Perjalanan Sang Godfather Rock Progresif Indonesia (Sumber: Zuhair Alyafie)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 15:21

Peran Bank Perekonomian Rakyat Mencegah Jerat Rentenir di Bandung

Tujuan utama perbankan daerah bukan hanya menghimpun dana dan menyalurkan kredit. Keberadaannya menjaga martabat ekonomi keluarga di Bandung.

Ilustrasi pentingnya peran Bank Perekonomian Rakyat di Kota Bandung. (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 13:58

Cerita Perjalanan Menuju Palimanan dan Belajar Keberanian dari Lapak Baca Buku Gratis Cirebon

Kegiatan membuka lapak untuk membaca buku gratis mulai hadir di beberapa kota untuk meningkatkan minat literasi, begitu juga dengan Kota Cirebon.

Baca Buku Gratis di Alun-Alun Palimanan Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 11:07

Jalur Banjaran–Pangalengan Seringkali Padat: Mengapa Kemacetan Terjadi?

Kemacetan di jalur Banjaran–Pangalengan menjadi perhatian karena jalur ini digunakan oleh warga untuk beraktivitas sehari-hari sekaligus menjadi akses menuju kawasan wisata.

Dokumentasi kemacetan di daerah Pasar Banjaran.
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 10:07

SKS: Kebiasaan Buruk atau Mekanisme Bertahan Mahasiswa?

Tugas menumpuk dan tenggat mendekat membuat mahasiswa begadang demi menyelesaikan pekerjaan. Apakah SKS sekadar kebiasaan buruk atau cara bertahan di tengah tuntutan akademik?

night study (Sumber: pexels.com | Foto: Bikram Bezbaruah)
Bandung 15 Okt 2026, 19:59

Industri Hiburan Bandung Masih Bergelora, Playlist Rewind 2026 Jadi Bukti Eksistensi Kota Musik

Kota Bandung tak pernah kehilangan taji sebagai barometer industri hiburan dan kiblat festival musik Tanah Air. Denyut kreatifitas itu kini kembali terbukti lewat hadirnya Playlist Rewind 2026.

Kota Bandung tak pernah kehilangan taji sebagai barometer industri hiburan dan kiblat festival musik Tanah Air. Denyut kreatifitas itu kini kembali terbukti lewat hadirnya Playlist Rewind 2026. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 17:57

Para Insinyur Planologi, Arsitektur dan Sipil Terkemuka Yang Terlibat Pembangunan Kota Bandung dan Cimahi (Bagian 1)

Kisah insinyur planologi, arsitektur dan sipil terkemuka dalam membangun Bandung dan Cimahi. Temukan jejak sejarah, inovasi tata kota dan mahakarya ikonis mereka di sini!

Lukisan cat air Gedung Sate (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2)
Bandung 15 Okt 2026, 16:41

Menolak Lupa Rasa Rumah, 11 Tahun Warung Kopi Imah Babaturan Merawat Hangatnya Bandung

Tepat pada 15 Oktober 2026, warung kopi dan rumah makan, yakni Warung Kopi Imah Babaturan yang bersemayam di jantung Kota Bandung ini merayakan hari jadinya yang ke-11.

Pemilik Warung Kopi Imah Babaturan, yakni Mohammad Nurul Hudha dan sang istri, Anggia Bonyta. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:48

Relasi Santri dengan Indonesia

Refleksi Hari Santri Nasional 2026: menelusuri jejak Resolusi Jihad, peran ulama, dan perjuangan santri dalam mempertahankan kemerdekaan serta menjaga hubungan santri dan negara.

Relasi Santri dengan Indonesia (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:09

Ketika Pertemanan Punya Target Harian: Terhubung atau Sekadar Menjaga Api Streak TikTok?

Pernah takut api streak TikTok dengan teman terputus? Kebiasaan ini bisa menjaga komunikasi, tetapi juga terasa seperti kewajiban harian. Apakah kita benar-benar terhubung atau sekadar menjaga angka?

Fitur api streak TikTok bisa menjadi cara menyenangkan untuk menjaga komunikasi.
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:03

Pardoks 'Tidak Ada Bukti' dalam Kasus Pelecehan Seksual di Unpas

Data menunjukkan bahwa laporan palsu -- atau bahkan fitnah -- dalam kasus kekerasan dan pelecehan seksual di kampus sangat rendah, sementara underreporting sangat tinggi. Apa artinya?

Aksi mahasiswa Universitas Pasundan (Unpas) Bandung terkait dugaan kekerasan seksual oleh oknum dosen. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 12:03

Mengenal Emma Poeradiredja dan Jejak Politik Perempuan Sunda

Emma Peoradiredja, seorang tokoh perempuan sunda yang membukakan jalan berpolitik untuk perempuan di tanah sunda

Emma Poeradiredja
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 22:06

Bandung dan Cirebon Sama-Sama Minim Penerangan Lampu Jalanan

Penerangan jalan umum di wilayah Jawa Barat masih sangat minim perhatian sehingga kondisi ini bisa mengakibatkan potensi kecelakaan bagi pengguna kendaraan.

Penerangan Jalan Ahmad Yani-Pantura Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 18:01

Menyeret Emak dan Bapak Ke Pengadilan

Banyak Lansia atau orang tua yang disidangkan oleh anak kandungnya di pengadilan yang semestinya tidak terjadi peristiwa nirempati tersebut

Ruang sidang bukan tempat membalas budi orang tua. Utamakan musyawarah dan kasih sayang. (Sumber: Ilustrasi oleh Gemini AI)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 16:45

Penertiban PKL: Apakah Menuju Bandung yang lebih Ramah dengan Pejalan Kaki?

Beberapa waktu ke belakang Bandung sedang melakukan penertiban PKL di Jalan Kiaracondong dan Cihapit tentunya harapannnya pejalan kaki mendapatkan haknya kembali.

Ilustrasi Penertiban PKL. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 14:52

Momentum Memerdekakan Guru

Menjadi anomali bahwa profesi guru mendapatkan tuntutan, tetapi dalam kehidupannya masih di bawah dari harapan.

Ilustrasi guru dan siswa di ruang kelas sekolah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 13:49

Proyeksi JPO UIN Bandung: Realisasi atau Ilusi?

Sebuah kritik dan saran kepada birokrasi UIN Bandung terkait usulan pengadaan JPO di depan gerbang kampus yang berhadapan langsung dengan Jalan A.H. Nasution.

Lanskap Jalan A.H Nasution di jam aktifitas. (Sumber: Dipotret dengan ponsel pribadi. | Foto: Rifki Ahmad Ma'ruf)