Belajar Tanpa Lampu Sorot dan Menghargai Proses yang Tak Terlihat

5 menit baca
Netizen
Ditulis oleh Netizen diterbitkan
Di kampus, kita terbiasa dengan ritme yang ribut. Event ini, seminar itu, deadline sana, posting-an sini. Kita dibuat percaya bahwa sibuk adalah bukti kesuksesan. (Sumber: Pexels/Timotej Nagy)
Di kampus, kita terbiasa dengan ritme yang ribut. Event ini, seminar itu, deadline sana, posting-an sini. Kita dibuat percaya bahwa sibuk adalah bukti kesuksesan. (Sumber: Pexels/Timotej Nagy)

Ditulis oleh Brigitta Amanda Nugroho

AYOBANDUNG.ID – Saya ingat betul bagaimana aktifnya di masa SMA dengan mengikuti organisasi Majelis Musyawarah Perwakilan Kelas (MMPK) yang terlibat di berbagai kepanitiaan inti, mengawasi kinerja organisasi dan ekstrakurikuler di sekolah. 

Namun saat memasuki dunia perkuliahan, dimana semua orang begitu sibuk mengenalkan dirinya sebagai “aktivis ini”, “pengurus itu”, atau “panitia segala hal”, saya belum tahu harus aktif di mana, dan hanya bisa diam mendengarkan. 

Rasanya kecil. Tidak terlihat. Tapi anehnya, saya juga tidak terlalu ingin tampil. Saya cuma ingin belajar.

Sayangnya, belajar tidak cukup hari ini. Dunia perkuliahan telah berubah menjadi panggung. Jika kamu tidak tampil, kamu tidak ada. Mahasiswa dinilai bukan dari proses berpikir atau kedalaman pemahamannya, tetapi dari banyaknya ia muncul di media sosial, mengikuti lomba, atau aktif di organisasi.

Tentu tidak salah menjadi aktif. Namun ketika kita mulai mengukur kualitas diri dari seberapa sering kita tampil, itulah yang menjadi masalahnya. Saat kita mulai berpikir “Aku belum jadi siapa-siapa karena belum ada jabatan apa-apa.” 

Di kampus, kita terbiasa dengan ritme yang ribut. Event ini, seminar itu, deadline sana, posting-an sini. Kita dibuat percaya bahwa sibuk adalah bukti kesuksesan. Bahwa semakin padat jadwalmu, semakin “berharga” kamu sebagai mahasiswa.

Tapi nyatanya tidak semua orang cocok dengan ritme seperti itu. Ada yang memilih belajar dengan cara lain, seperti membaca perlahan, menulis diam-diam, berdiskusi kecil, atau sekadar merenung di ruang kosong perpustakaan. 

Mahasiswa-mahasiswa seperti ini jarang terlihat sehingga jarang disebut “berharga”, tetapi justru mereka yang sering memiliki pandangan tajam tentang banyak hal. Mereka hanya tidak ingin ribut.

Saya punya seorang teman, sebut saja namanya A. Ia jarang terlihat aktif di kegiatan kampus. Namun, jika diajak berdiskusi soal politik, ekonomi, bahkan filsafat, dia mampu menjawabnya secara mendalam. Ia tidak bergabung dalam organisasi, jarang terlihat nongkrong, dan tidak suka memamerkan aktivitasnya. Ia bukan tipe mahasiswa yang dikenal banyak orang, tapi saat diskusi di kelas, dosen sering menoleh padanya. Ia belajar secara diam-diam, tapi konsisten.

Si A pernah bilang sesuatu yang masih saya ingat sampai saat ini :

“Gak semua proses butuh panggung, kan? Aku memilih jalan yang sepi, tapi itu tetap jalan.”

Baca Juga: Baik Buruknya AI dari Pernyataan Gibran Rakabuming, Daya Kritis Dipertaruhkan

Masalahnya, kampus tidak selalu memberikan ruang untuk orang-orang seperti itu. Karena yang dilihat adalah bukti, bukan proses. Bukti harus bisa ditunjukkan seperti sertifikat, unggahan, apresiasi, ataupun foto-foto aktivitas.

Kita tumbuh dalam budaya yang mendorong semua hal harus terlihat. Hal ini menjadikan kita pribadi yang tidak lagi puas belajar untuk diri sendiri. Kita ingin diakui, dan dianggap keren. Perlahan kita mulai meragukan proses yang sunyi, dan merasa tidak cukup hanya karena tidak terlihat sibuk.

Padahal, tidak semua pertumbuhan harus tampil dan bersuara. Tidak semua kemajuan harus dibuktikan dengan foto dan caption panjang. Beberapa hal terbaik justru tumbuh dalam diam, seperti halnya akar. Ia bekerja keras di bawah tanah, sebelum batangnya muncul ke permukaan. Banyak hal bisa kita dengarkan dengan lebih baik dalam diam, seperti mendengarkan dosen, mendengarkan lagu, dan juga mendengarkan diri sendiri. Dalam diam, kita tidak perlu merasa harus membuktikan apa-apa. Kita hanya ingin paham, bukan tampil. Kita hanya ingin tumbuh, bukan tampil tumbuh. 

Baca Juga: Melewatkan Siang antara Pasar Rakyat dan Istana Cipanas yang Penuh Kontras

Namun diam itu sulit hari ini. Dunia sudah terlalu berisik. Kita tidak hanya hidup di kampus, tapi juga di Instagram, Twitter, bahkan Linkedln. Tempat di mana semua orang punya ideal versi dirinya masing-masing. Mahasiswa ideal, pemuda produktif, pejuang masa depan. Dan kita, yang tidak termasuk kriteria itu, mulai merasa gagal.

Saya pun begitu. Saya sempat berpikir “Apa aku pemalas?” hanya karena tidak ikut banyak kegiatan dan organisasi dan akhir-akhir ini saya lebih suka membaca sendiri di kamar, berdiam diri dengan diri sendiri, daripada ikut kegiatan. Saya mulai mengukur nilai diri saya dari seberapa sedikit yang saya capai secara sosial. Padahal, jauh di dalam, saya sedang memahami banyak hal yang sebelumnya saya abaikan. Tentang relasi, tentang batas diri, tentang hidup yang ingin saya jalani. 

Kalau kamu termasuk orang yang diam, dan kadang merasa tertinggal karena tidak punya banyak pencapaian di dunia digital, tak perlu khawatir. (Sumber: Pexels/KoolShooters)

Kadang, yang kita butuhkan bukan lagi “target”, tapi jeda.

Saya menulis ini bukan untuk menyalahkan mereka yang aktif. Saya menghargai dan menghormati semua yang rajin berkegiatan dan memberi kontribusi di banyak tempat. Tapi saya ingin juga mengingatkan, yang diam belum tentu diam-diaman.  Kadang, mereka hanya tidak ingin larut dalam keributan yang tidak mereka butuhkan. Kadang, mereka hanya ingin belajar tanpa tekanan harus terlihat sempurna. 

Bukan berarti mereka tidak tumbuh. Hanya saja, mereka tumbuh dari dalam. Mereka sedang memperkuat fondasi, bukan sibuk membangun menara. Kita terlalu sering membandingkan diri dengan bangunan yang sudah jadi, tanpa tahu fondasinya seperti apa. Padahal membangun fondasi juga butuh waktu, kesabaran, dan ketenangan. Di balik kesunyian itu, mereka membaca, berpikir, mengolah diri, dan menyiapkan langkah. Dunia mungkin tidak melihat yang diam hari ini, tapi waktu akan membuktikan bahwa pertumbuhan setiap orang tidak selalu membutuhkan panggung. Belajar dalam diam adalah keberanian untuk setia pada proses, bukan haus pada pujian.

Kalau kamu termasuk orang yang diam, dan kadang merasa tertinggal karena tidak punya banyak pencapaian di dunia digital, tak perlu khawatir. Kamu tidak sendirian. Kamu tidak kalah, bisa saja menang dengan tenang. Hari ini dunia memang berisik, tapi bukan berarti kamu harus ikut berteriak. Belajar adalah perjalanan yang sangat personal. Masing-masing individu mempunyai cara untuk menempuh tujuannya. Bila kamu memilih belajar dalam keheningan, bukan berarti kamu kalah. Kamu hanya sedang bertumbuh dengan jalur yang lain.

Dan jalur itu tetap benar, baik adanya. (*)

Brigitta Amanda Nugroho, Mahasiswa Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Sebelas Maret.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 16 Okt 2026, 18:00

Pengalaman Memandu SMP Atirah Makassar #1

Pengalaman memandu siswa kelas 8 dari SMP Atirah, Bukit Baruga, Makassar, pada tanggal 5 Oktober hingga 9 Oktober kemarin.

Pengalaman memandu siswa kelas 8 dari SMP Atirah, Bukit Baruga, Makassar, pada tanggal 5 Oktober hingga 9 Oktober kemarin. (Sumber: Malia Nur Alifa)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 16:57

Ketika Foto Menjadi Saksi Sejarah: Ray Bachtiar dan Perjalanan Dunia Visual

Fotografi menyimpan jejak sejarah dan ingatan bangsa. Talkshow “Jejak Visual” mengulas evolusi fotografi dan videografi bersama Ray Bachtiar Dradjat di Museum Mandiri, Kota Tua Jakarta.

Praktisi fotografi Ray Bachtiar Dradjat menjadi narasumber talkshow “Jejak Visual: Evolusi Fotografi dan Videografi”. (Sumber: Ray Bachtiar Dradjat)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 16:42

Menelusuri Jejak Benny Soebardja, Sang Godfather Rock Progresif Indonesia

Buku Benny Soebardja: The Progressive Years karya Zuhair Alyafie mengulas perjalanan Benny Soebardja dan perannya dalam membentuk sejarah rock progresif Indonesia.

Benny Soebardja: Perjalanan Sang Godfather Rock Progresif Indonesia (Sumber: Zuhair Alyafie)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 15:21

Peran Bank Perekonomian Rakyat Mencegah Jerat Rentenir di Bandung

Tujuan utama perbankan daerah bukan hanya menghimpun dana dan menyalurkan kredit. Keberadaannya menjaga martabat ekonomi keluarga di Bandung.

Ilustrasi pentingnya peran Bank Perekonomian Rakyat di Kota Bandung. (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 13:58

Cerita Perjalanan Menuju Palimanan dan Belajar Keberanian dari Lapak Baca Buku Gratis Cirebon

Kegiatan membuka lapak untuk membaca buku gratis mulai hadir di beberapa kota untuk meningkatkan minat literasi, begitu juga dengan Kota Cirebon.

Baca Buku Gratis di Alun-Alun Palimanan Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 11:07

Jalur Banjaran–Pangalengan Seringkali Padat: Mengapa Kemacetan Terjadi?

Kemacetan di jalur Banjaran–Pangalengan menjadi perhatian karena jalur ini digunakan oleh warga untuk beraktivitas sehari-hari sekaligus menjadi akses menuju kawasan wisata.

Dokumentasi kemacetan di daerah Pasar Banjaran.
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 10:07

SKS: Kebiasaan Buruk atau Mekanisme Bertahan Mahasiswa?

Tugas menumpuk dan tenggat mendekat membuat mahasiswa begadang demi menyelesaikan pekerjaan. Apakah SKS sekadar kebiasaan buruk atau cara bertahan di tengah tuntutan akademik?

night study (Sumber: pexels.com | Foto: Bikram Bezbaruah)
Bandung 15 Okt 2026, 19:59

Industri Hiburan Bandung Masih Bergelora, Playlist Rewind 2026 Jadi Bukti Eksistensi Kota Musik

Kota Bandung tak pernah kehilangan taji sebagai barometer industri hiburan dan kiblat festival musik Tanah Air. Denyut kreatifitas itu kini kembali terbukti lewat hadirnya Playlist Rewind 2026.

Kota Bandung tak pernah kehilangan taji sebagai barometer industri hiburan dan kiblat festival musik Tanah Air. Denyut kreatifitas itu kini kembali terbukti lewat hadirnya Playlist Rewind 2026. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 17:57

Para Insinyur Planologi, Arsitektur dan Sipil Terkemuka Yang Terlibat Pembangunan Kota Bandung dan Cimahi (Bagian 1)

Kisah insinyur planologi, arsitektur dan sipil terkemuka dalam membangun Bandung dan Cimahi. Temukan jejak sejarah, inovasi tata kota dan mahakarya ikonis mereka di sini!

Lukisan cat air Gedung Sate (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2)
Bandung 15 Okt 2026, 16:41

Menolak Lupa Rasa Rumah, 11 Tahun Warung Kopi Imah Babaturan Merawat Hangatnya Bandung

Tepat pada 15 Oktober 2026, warung kopi dan rumah makan, yakni Warung Kopi Imah Babaturan yang bersemayam di jantung Kota Bandung ini merayakan hari jadinya yang ke-11.

Pemilik Warung Kopi Imah Babaturan, yakni Mohammad Nurul Hudha dan sang istri, Anggia Bonyta. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:48

Relasi Santri dengan Indonesia

Refleksi Hari Santri Nasional 2026: menelusuri jejak Resolusi Jihad, peran ulama, dan perjuangan santri dalam mempertahankan kemerdekaan serta menjaga hubungan santri dan negara.

Relasi Santri dengan Indonesia (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:09

Ketika Pertemanan Punya Target Harian: Terhubung atau Sekadar Menjaga Api Streak TikTok?

Pernah takut api streak TikTok dengan teman terputus? Kebiasaan ini bisa menjaga komunikasi, tetapi juga terasa seperti kewajiban harian. Apakah kita benar-benar terhubung atau sekadar menjaga angka?

Fitur api streak TikTok bisa menjadi cara menyenangkan untuk menjaga komunikasi.
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:03

Pardoks 'Tidak Ada Bukti' dalam Kasus Pelecehan Seksual di Unpas

Data menunjukkan bahwa laporan palsu -- atau bahkan fitnah -- dalam kasus kekerasan dan pelecehan seksual di kampus sangat rendah, sementara underreporting sangat tinggi. Apa artinya?

Aksi mahasiswa Universitas Pasundan (Unpas) Bandung terkait dugaan kekerasan seksual oleh oknum dosen. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 12:03

Mengenal Emma Poeradiredja dan Jejak Politik Perempuan Sunda

Emma Peoradiredja, seorang tokoh perempuan sunda yang membukakan jalan berpolitik untuk perempuan di tanah sunda

Emma Poeradiredja
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 22:06

Bandung dan Cirebon Sama-Sama Minim Penerangan Lampu Jalanan

Penerangan jalan umum di wilayah Jawa Barat masih sangat minim perhatian sehingga kondisi ini bisa mengakibatkan potensi kecelakaan bagi pengguna kendaraan.

Penerangan Jalan Ahmad Yani-Pantura Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 18:01

Menyeret Emak dan Bapak Ke Pengadilan

Banyak Lansia atau orang tua yang disidangkan oleh anak kandungnya di pengadilan yang semestinya tidak terjadi peristiwa nirempati tersebut

Ruang sidang bukan tempat membalas budi orang tua. Utamakan musyawarah dan kasih sayang. (Sumber: Ilustrasi oleh Gemini AI)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 16:45

Penertiban PKL: Apakah Menuju Bandung yang lebih Ramah dengan Pejalan Kaki?

Beberapa waktu ke belakang Bandung sedang melakukan penertiban PKL di Jalan Kiaracondong dan Cihapit tentunya harapannnya pejalan kaki mendapatkan haknya kembali.

Ilustrasi Penertiban PKL. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 14:52

Momentum Memerdekakan Guru

Menjadi anomali bahwa profesi guru mendapatkan tuntutan, tetapi dalam kehidupannya masih di bawah dari harapan.

Ilustrasi guru dan siswa di ruang kelas sekolah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 13:49

Proyeksi JPO UIN Bandung: Realisasi atau Ilusi?

Sebuah kritik dan saran kepada birokrasi UIN Bandung terkait usulan pengadaan JPO di depan gerbang kampus yang berhadapan langsung dengan Jalan A.H. Nasution.

Lanskap Jalan A.H Nasution di jam aktifitas. (Sumber: Dipotret dengan ponsel pribadi. | Foto: Rifki Ahmad Ma'ruf)
Sejarah 14 Okt 2026, 11:58

Jejak LASWI Maung Bikang Asal Bandung

Di Bandung pernah ada satu pasukan perempuan yang terjun dalam medan perang di garis depan. Pasukan ini bernama LASWI

Patung LASWI di Kebonjukut, Kota Bandung (Foto: Mildan Abdalloh)